Chapter Three
Teknisi yang Tahu Aku Capek
POV: Cynthia
Tiga hari berturut-turut, suaraku bagus.
Hari Senin aku tidur tiga jam. Suaraku bagus.
Hari Selasa aku tidur empat jam, tapi semalaman mimpi dikejar sepatu hak sebelas senti yang punya kaki sendiri. Suaraku bagus.
Hari Rabu aku bangun dengan tenggorokan kayak habis menelan amplas, karena AC apartemen kusetel enam belas derajat dan aku lupa pakai selimut. Aku sudah siap minta maaf ke produser. Aku sudah menyiapkan kalimat: Mas, maaf ya, hari ini suaraku agak serak.
Lalu siaran mulai, dan suaraku keluar dari monitor studio terdengar seperti iklan madu.
Mas Teddy, produser Sapa Pagi, mengacungkan dua jempol dari balik kaca. Waktu jeda iklan, dia masuk studio dan berbisik, “Cyn, kamu tuh makin hari makin enak didenger. Serius. Rating segmen pembuka naik nol koma tiga.”
“Makasih, Mas,” kataku sambil tersenyum.
Dalam hati aku berpikir: ini nggak masuk akal.
Aku presenter. Aku tahu suaraku. Aku sudah dengar ribuan jam rekaman suaraku sendiri, dari zaman siaran radio kampus sampai sekarang. Aku tahu suaraku waktu sehat, waktu capek, waktu pilek, waktu habis nangis. Dan suara yang keluar dari monitor tiga hari ini bukan suara orang yang tenggorokannya kayak amplas.
Ada yang memperbaiki suaraku.
Pertanyaannya, siapa.
Hari Kamis aku mampir ke ruang audio studio enam, ruangan kecil di sebelah studio tempat tim floor menyimpan kabel dan mic cadangan.
“Mas Gilang, mic aku ada yang diganti?”
Mas Gilang, operator mic floor, menatapku dengan wajah orang yang tertangkap basah sedang makan gorengan di jam kerja. Dia memang sedang makan gorengan. “Nggak ada, Mbak. Masih yang sama. Sennheiser yang biasa.”
“Settingannya?”
“Settingan di sini standar, Mbak. Kalau ada perubahan karakter suara, biasanya dari master control. Lantai empat belas.”
Lantai empat belas.
Aku tahu siapa yang ada di lantai empat belas.
Tapi Salman itu orang yang menaruh sandal jepit di bawah meja dan bilang sandal itu jodohku. Orang yang ngobrol sama kucing soal patah hati. Orang yang namain motornya Wati. Dia nggak mungkin duduk di ruangan gelap jam enam pagi, mendengarkan suaraku dengan teliti, dan menyadari aku capek.
Kan?
Hari Jumat, mobilku masuk bengkel.
Bukan rusak parah. Cuma lampu check engine yang menyala sejak Selasa dan aku abaikan sampai Kamis, lalu mobilnya mulai bunyi tik-tik-tik seperti jam dinding yang sedang marah. Bengkel bilang dua hari.
Jam setengah sembilan malam, aku berdiri di lobby TRAC Tower sesudah meeting evaluasi program yang molor tiga jam, menatap aplikasi ojek online yang tarifnya naik dua kali lipat karena hujan baru reda. Waktu tunggu: dua puluh tiga menit. Lalu dua puluh delapan menit. Lalu mencari pengemudi.
Kakiku masih belum sembuh dari promo shoot minggu lalu.
Lalu, dari arah parkiran basement, terdengar klakson.
Chaiyya Chaiyya. Delapan bit. Cempreng. Bangga.
Satpam di pintu lobby menoleh dan tersenyum seperti orang yang mendengar lagu kebangsaan.
Wati muncul dari tanjakan basement dengan lampu depan menyala dan stiker mata anime berbinar di atasnya. Salman di atasnya, memakai jas hujan transparan di atas hoodie, kali ini warna merah muda dengan gambar karakter cewek berambut panjang yang sedang memegang pedang dan... sepotong mochi.
Dia berhenti tepat di depan pintu lobby. Membuka kaca helm.
“Cynthia.”
“Salman.”
“Kamu lagi nunggu ojek.”
“Kok tahu?”
“Kamu ngetuk-ngetuk layar HP pakai jempol kayak lagi main Flappy Bird. Itu ciri orang nunggu ojek yang nggak dapat-dapat.” Dia menunjuk jok belakang Wati. “Mau bareng? Apartemenmu searah sama Depok. Agak. Kalau Depok diputar sedikit.”
“Itu nggak searah, Man. Apartemenku di Kemang.”
“Kalau lewat Kemang, aku bisa lihat kucing-kucing Kemang. Kucing Kemang lebih gemuk. Wati suka.”
Aku menatap Wati. Wati menatapku balik dengan mata anime yang berbinar.
Lalu aku menatap lobby. Masih ada orang. Dua editor dari lantai dua puluh sedang menunggu jemputan. Satu resepsionis yang belum pulang. Satpam. Dan di luar, di trotoar, sekelompok anak magang yang sedang foto-foto di depan logo TRAC.
Kalau aku naik motor bareng teknisi audio berhoodie merah muda di depan lobby, besok pagi pasti ada yang ngomong.
Orang selalu lihat, Cyn. Suara Ibu. Selalu suara Ibu.
“Aku...”
Salman membuka jok Wati. Dari dalamnya, di antara jas hujan, kabel charger, dan setumpuk sambal sachet yang diikat karet, dia mengeluarkan helm kedua.
Warna merah muda. Ada stiker kelinci di sampingnya.
“Ini helm cadangan,” katanya. “Punya Wati.”
“Wati punya helm?”
“Wati punya helm buat tamu. Dia tuan rumah yang baik.” Dia menyodorkannya. “Kaca helmnya gelap. Kalau kamu pakai ini, nggak ada yang tahu itu kamu. Kamu bisa jadi siapa aja. Kamu bisa jadi Bu Tejo.”
Aku nggak tahu kenapa dia selalu tahu.
Aku nggak bilang apa-apa soal takut dilihat orang. Aku cuma diam dua detik dan melirik ke lobby. Tapi dia menangkapnya, seperti dia menangkap tumitku yang sakit di bawah meja.
Aku mengambil helm itu.
Lalu, karena aku Cynthia Larasati Wirawan dan aku nggak pernah setengah-setengah, aku juga mengeluarkan masker hitam dari tas dan kacamata hitam dari pouch kacamata. Aku memakai keduanya, lalu helm merah muda, lalu menurunkan kaca helmnya.
Salman menatapku lama.
“Kamu kayak artis lagi kabur dari KPK,” katanya.
“Diem.”
“Serius. Kalau ada yang lihat, mereka bakal mikir aku nyulik pejabat.”
“Diem, Man.”
Dia diam. Tapi bahunya bergetar.
Aku belum pernah naik motor sejak SMA.
Ibu melarang. Motor itu bahaya, Cyn. Kalau jatuh, wajahmu luka. Kalau wajahmu luka, kariermu selesai. Jadi sejak kuliah aku selalu naik mobil atau taksi, dan aku lupa rasanya angin malam Jakarta yang lembap menampar lengan, lupa rasanya lampu-lampu kota bergerak di kiri-kanan, lupa rasanya duduk dengan kaki menggantung dan tubuh condong mengikuti tikungan.
Aku juga lupa satu hal penting: harus pegangan ke mana.
Tanganku melayang di udara, ragu. Pinggang Salman ada di depanku. Terlalu dekat. Terlalu... pinggang.
“Pegangan ke jaket aja,” katanya tanpa menoleh, seolah bisa dengar tanganku ragu. “Wati suka ngerem mendadak kalau lihat kucing.”
“Kucing?”
“Nanti kamu ngerti.”
Aku memegang ujung jas hujannya. Dua jari. Sopan. Seperti memegang ujung taplak meja di acara kawinan orang.
Wati melaju.
Dan ternyata, naik Wati itu pengalaman yang nggak bisa dijelaskan dengan bahasa manusia biasa.
Pertama, Wati itu pelan. Bukan karena nggak bisa cepat, tapi karena Salman menyetirnya seperti sedang membawa kue tart. Kecepatan maksimal empat puluh kilometer per jam, dan setiap kali ada lubang, dia melambat dan bilang “Lubang” dengan nada pengumuman stasiun kereta.
“Lubang.”
Duk.
“Lubang lagi.”
Duk.
“Itu bukan lubang. Itu tutup got. Hati-hati, tutup got itu licik.”
Kedua, di lampu merah perempatan Mampang, Salman menekan klakson Wati. Bukan karena ada yang menghalangi. Lampunya merah. Semua orang berhenti.
“Kenapa kamu klakson?” bisikku dari balik masker dan helm.
“Biar mereka semangat.”
Chaiyya Chaiyya versi delapan bit berbunyi di tengah perempatan.
Hening sebentar.
Lalu seorang driver ojek online di sebelah kanan kami, bapak-bapak berkumis tebal, menoleh. Dia menatap Wati. Dia menatap Salman. Lalu, perlahan, kepalanya mulai bergerak mengikuti irama. Kiri. Kanan. Kiri. Kanan. Bahunya ikut. Dia mengangkat satu tangan dari stang dan menggerakkannya di udara dengan gaya yang jelas pernah dia pelajari dari film Bollywood tahun sembilan puluhan.
Driver di sebelah kiri ikut. Lalu driver di belakang kami. Lalu ibu-ibu di atas motor matic yang membonceng anaknya.
Selama empat puluh dua detik lampu merah perempatan Mampang, enam motor berjoget Bollywood di bawah rintik hujan yang tersisa.
Lampu hijau. Semua orang tancap gas sambil tertawa. Bapak berkumis tadi mengacungkan jempol ke Salman sebelum belok kiri.
Aku tertawa sampai helm merah mudaku berembun.
“Kamu tiap hari kayak gini?” tanyaku di antara tawa.
“Tiap lampu merah yang lebih dari tiga puluh detik,” jawabnya. “Kalau di bawah tiga puluh detik, nanggung. Orang belum sempat panas.”
Ketiga, dan ini yang paling penting, Salman nggak bohong soal kucing.
Kami sedang melaju di jalan kecil dekat Kemang, sepi, basah, lampu jalannya kuning redup. Wati sedang dalam kecepatan pesiar. Aku mulai rileks. Dua jariku di ujung jas hujan mulai longgar.
Lalu Wati berhenti.
Mendadak. Total. Tanpa peringatan.
Tubuhku terlempar ke depan, dan sebelum otakku sempat memutuskan apa pun, kedua tanganku sudah melingkar di pinggang Salman. Erat. Wajahku, atau lebih tepatnya kaca helm merah mudaku, menabrak punggungnya dengan bunyi tuk.
Di tengah jalan, tiga meter di depan roda Wati, seekor kucing abu-abu sedang duduk. Menjilati kakinya. Dengan tenang. Seperti jalan itu kamar tidurnya.
“Itu Bu RT,” kata Salman pelan.
“...Apa?”
“Kucingnya. Aku panggil dia Bu RT. Dia selalu duduk di situ jam segini. Kayak lagi ronda.”
Bu RT selesai menjilati kakinya, menatap kami dengan wajah yang sangat tidak terkesan, lalu berjalan pelan ke pinggir jalan dan menghilang di balik pagar.
Wati melaju lagi.
Aku sadar tanganku masih melingkar di pinggang Salman.
Aku juga sadar Salman nggak bilang apa-apa soal itu.
Aku juga sadar, di balik jas hujan transparan dan hoodie merah muda bergambar cewek memegang mochi, punggungnya hangat. Dan aku bisa merasakan jantungnya lewat telapak tanganku. Cepat. Lebih cepat dari kecepatan Wati.
Aku menarik tanganku pelan-pelan, kembali ke ujung jas hujan.
Tapi kali ini tiga jari.
Kami berhenti di minimarket dekat apartemenku karena baterai Wati tinggal sembilan persen.
“Dia butuh istirahat,” kata Salman, menancapkan kabel charger ke stopkontak luar minimarket yang jelas bukan untuk umum. “Lima belas menit.”
“Itu stopkontak buat kulkas es krim, Man.”
“Aku udah izin. Mas kasirnya fans Wati.”
Aku menoleh ke dalam. Mas kasir minimarket melambai ke Salman dengan semangat.
Kami duduk di bangku besi di depan minimarket. Aku masih memakai helm, masker, dan kacamata hitam, karena minimarket ini cuma dua ratus meter dari apartemenku dan setengah penghuninya tahu wajahku dari layar TV. Salman membeli dua botol teh manis dingin dan satu bungkus roti sobek rasa cokelat, lalu membaginya jadi dua dengan presisi seorang ahli bedah.
“Man,” kataku.
“Hm.”
“Kamu kerja di master control, kan?”
“Iya.”
“Kamu yang pegang audio Sapa Pagi?”
“Kadang. Gantian sama Mas Bowo.”
“Minggu ini?”
Dia menggigit roti sobeknya. Mengunyah. Lama. Terlalu lama untuk sepotong roti.
“Minggu ini aku,” jawabnya akhirnya.
Aku menatapnya dari balik kacamata hitam. Dia menatap Wati yang sedang di-charge, seolah Wati adalah film yang sangat menarik.
“Tiga hari ini suaraku bagus banget,” kataku pelan. “Padahal aku kurang tidur. Padahal tenggorokanku sakit. Produser sampai nanya aku minum apa.”
“Mungkin kamu emang bagus.”
“Man.”
Dia menghela napas. Lalu menoleh, dan menatapku dengan wajah datar yang sama seperti malam itu di parkiran. Wajah datar yang entah kenapa selalu kelihatan jujur.
“Senin kemarin,” katanya, “kamu napasnya pendek di kalimat ketiga. Sebelum kata Indonesia. Biasanya kamu tarik napas di koma sebelumnya. Senin kamu telat setengah detik.” Dia mengetuk botol teh dengan jari. “Itu napas orang yang paru-parunya masih ngantuk.”
Aku membeku.
“Selasa kamu baik, tapi di segmen kedua suaramu turun waktu ngomong sama bintang tamu yang galak itu. Chef yang nyebelin. Kamu turun setengah nada tiap dia motong omonganmu.” Dia mengambil roti lagi. “Kamu sabar banget, Cyn. Aku mau lempar dia pakai fader.”
“Rabu?”
“Rabu kamu masuk angin. AC-mu kedinginan, ya?”
Aku nggak bisa bicara.
Dua juta penonton menonton Sapa Pagi setiap pagi. Produserku sudah kerja bareng aku dua tahun. Ibuku menelepon tiap hari untuk mengomentari penampilanku. Dan nggak ada satu pun dari mereka yang pernah tahu aku capek.
Lalu cowok berhoodie mochi yang namain motornya Wati duduk di depan minimarket dan menyebutkan kapan aku kurang tidur, kapan aku sabar, kapan aku kedinginan, berdasarkan napasku.
“Kamu... dengerin aku sedetail itu?”
“Itu kerjaanku.” Dia mengangkat bahu. “Aku dengerin semua orang. Pak Darto, Mas Teddy, bintang tamu, penyanyi, pembaca berita. Semua orang punya suara yang ngomong lebih banyak dari kata-katanya.”
“Terus kamu benerin suaraku?”
Dia diam sebentar. “Aku cuma bantu dikit. Kayak nambah gula di teh.”
“Kenapa?”
Dia menatap Wati. Lalu langit yang masih mendung. Lalu kembali ke botol tehnya.
“Soalnya orang rumah nggak perlu tahu kamu capek,” katanya pelan. “Orang rumah itu bangun pagi, nyalain TV, mau lihat orang yang semangat. Mereka nggak perlu nanggung capekmu. Itu bagianku.”
Lalu, sebelum aku bisa menjawab, sebelum dadaku sempat memutuskan mau meledak atau meleleh, dia menambahkan:
“Tapi kamu tetap harus tidur. Aku nggak bisa nambal suaramu tiap hari. Plugin-nya berat. Komputer master control udah tua. Kemarin dia hang gara-gara kamu kurang tidur.”
Aku tertawa.
Kali ini aku lupa melirik sekeliling. Aku lupa ada mas kasir di dalam yang mungkin kenal wajahku. Aku lupa aku sedang di depan minimarket, dua ratus meter dari apartemen yang penuh tetangga yang menonton TV. Aku tertawa dari balik masker, balik kacamata hitam, balik helm merah muda punya Wati, dan suaraku keluar sumbang dan terlalu keras, seperti suara orang biasa yang sedang bahagia.
Salman nggak ikut tertawa. Dia cuma menatapku dari samping, sambil mengunyah roti sobek, dengan ekspresi teknisi yang barusan menemukan frekuensi yang sudah lama dia cari.
Wati mengantarku sampai drop-off basement apartemen. Aku turun dan baru melepas helm, kacamata hitam, dan masker setelah memastikan nggak ada siapa-siapa di sekitar lift.
Salman mengambil helm merah muda itu dan memasukkannya kembali ke jok Wati, di sebelah setumpuk sambal sachet.
“Makasih, Man.”
“Makasih ke Wati.”
Aku menatap Wati. Wati menatapku dengan mata anime berbinar.
“Makasih, Wati,” kataku. Dan aku nggak percaya aku benar-benar bilang terima kasih ke motor.
Salman mengangguk puas, seolah aku baru lulus ujian. Lalu dia menyalakan Wati dan pergi. Chaiyya Chaiyya bergema di basement, memantul di dinding beton, dan satpam apartemen yang sedang setengah tidur di pos terbangun dengan kaget.
Jam sebelas malam, aku berbaring di kasur dengan rambut masih setengah basah dan HP di atas dada.
Aku membuka chat pribadi dengan Salman. Isinya cuma tiga pesan sejak dua tahun lalu. Pertama: man, jaketmu ketinggalan di kafe. Kedua: happy birthday!! Ketiga: stiker kucing samurai yang dia kirim hari Senin di grup, yang entah kenapa aku teruskan ke chat pribadi tanpa alasan.
Aku mengetik.
Aku: makasih ya buat tadi
Aku: dan buat suaraku
Aku: salam buat wati
Aku mematikan layar. Menyalakannya lagi. Mematikannya lagi.
Lima menit kemudian, HP-ku bergetar.
Bukan pesan teks. Voice note. Tiga detik.
Aku memutarnya.
Chaiyya Chaiyya. Delapan bit. Klakson Wati.
Lalu, di detik terakhir, sangat pelan, nyaris tenggelam, suara Salman: “Wati bilang sama-sama.”
Lalu pesan teks menyusul.
Salman: tidur cyn
Salman: besok aku nggak pake plugin
Salman: biar kamu tau rasanya suara kamu yang asli kalau tidur cukup
Salman: pasti lebih bagus dari yang aku tambal
Aku menutup wajah dengan bantal.
Lalu aku memutar voice note itu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Lalu, karena aku sudah dewasa dan nggak ada yang melihat, sekali lagi.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua minggu, aku tidur tujuh jam.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek reading
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu