Chapter Twenty Three

Channel Tujuh, Mute

POV: Salman

Booth audio gala ada di sudut barat daya rooftop, di bawah tenda kecil berwarna hitam, dua puluh lima meter dari tenda backstage.

Waktu aku sampai di sana, Raka sedang menatap konsol sewaan dengan wajah orang yang baru disuruh menjinakkan bom.

“Mas,” katanya, bahkan sebelum aku sempat menaruh tas. “Routing-nya kacau. Ini konsol bukan yang biasa kita pakai. Menunya beda. Aku nggak ngerti bus mana yang ke mana.”

Aku menatap konsol itu. Konsol digital tiga puluh dua channel, merek yang jarang dipakai di Indonesia. Layar sentuh kecil di tengahnya menampilkan matriks routing yang berwarna-warni seperti peta MRT Tokyo.

“Tadi aku mic check semua pembawa acara,” lanjut Raka cepat, “terus aku mau balikin semua ke bus PA utama, tapi aku nggak sengaja assign ke bus lima juga, dan bus lima itu...” Dia menunjuk sebuah label di layar. “Bus lima itu feed ke live stream pre-show TRAC Digital, Mas. Yang lagi tayang sekarang. Yang nampilin suasana rooftop sebelum acara.”

Aku menatap layar.

Channel tiga, Erga. Channel tujuh, Cynthia. Dua-duanya menyala hijau di kolom bus lima. Fader-nya di posisi nol, unity gain. Terbuka penuh.

Artinya, apa pun yang ditangkap mic Erga dan mic Cynthia saat ini sedang mengalir langsung ke live stream TRAC Digital. Ke YouTube. Ke Instagram. Ke empat belas ribu orang yang sedang menonton suasana rooftop gala dua puluh lima tahun TRAC dari HP mereka, menunggu acara dimulai.

“Raka,” kataku.

“Iya, Mas.”

“Mic mereka lagi di backstage.”

“Iya, Mas. Makanya aku panik. Dari tadi yang masuk stream cuma suara ribut-ribut tenda. Stylist, orang ngobrol. Untung nggak jelas. Tapi...”

Aku memasang headphone.

Aku menekan tombol PFL di channel tujuh. Pre-fader listen. Supaya aku bisa mendengar apa yang ditangkap mic Cynthia, langsung, di headphone-ku, tanpa melewati fader.

Suara tenda backstage masuk ke telingaku.

Suara orang mengobrol. Suara hairspray. Suara hak sepatu di lantai kayu. Lalu suara Mbak Vina, yang selalu sedikit terlalu keras untuk ruangan mana pun, dekat sekali dengan mic Cynthia karena dia duduk di kursi rias sebelahnya.

“Ya ampun. Itu siapa, Cyn? Lucu banget bajunya. Kuning banget. Aku kira tadi ada lampu darurat nyala.”

Itu aku.

Itu hoodie-ku. Hoodie nomor tujuh. Yang aku pakai hari ini karena Diana pernah bilang hoodie itu masuk tiga besar, dan aku pikir hoodie tiga besar cocok dipakai di hari yang penting. Hari ulang tahun TRAC. Hari di mana Cynthia akan berdiri di atas panggung di rooftop tempat aku meminjamkannya earbud yang buat lagu.

Aku menatap konsol.

“Tapi kok dia langsung ke kamu, Cyn? Kayak udah hafal. Kayak udah biasa.”

Jari telunjukku bergerak ke kolom bus lima. Ke tombol kecil di sebelah channel tujuh, yang bertuliskan MUTE.

“Itu siapa? Pacar kamu?”

Aku menekan tombol itu.

Sebelum dia menjawab.

Lampu kecil di tombol itu menyala merah. Channel tujuh, bus lima, terputus. Apa pun yang dikatakan Cynthia setelah detik ini, nggak akan sampai ke empat belas ribu orang di live stream. Nggak akan sampai ke YouTube. Nggak akan sampai ke Instagram. Nggak akan sampai ke akun gosip mana pun yang sedang merekam layar.

Aku menekannya sebelum dia menjawab, karena aku nggak tahu dia akan menjawab apa.

Kalau dia bilang iya, dan itu masuk stream, dunianya akan meledak malam ini. Di malam yang paling penting buat dia. Di depan ibunya. Di depan lima ratus orang. Di depan semua akun gosip yang menunggu.

Kalau dia bilang bukan...

Aku nggak mau ada yang dengar itu juga.

Jadi aku mute.

Supaya apa pun jawabannya, cuma aku yang dengar.


Di headphone, lewat PFL, suara itu tetap masuk.

Tawanya dulu.

Tawa yang ringan. Tawa yang aku hafal. Tiga detik. Naik di awal, turun di akhir, berhenti tepat waktu. Tawa yang aku dengar ribuan kali di channel tujuh setiap pagi jam enam. Tawa Sapa Pagi. Tawa papan reklame.

Lalu suaranya.

“Bukan lah, Mbak. Cuma teknisi.”

Jeda. Sepersekian detik. Suara kain gaun bergerak, mungkin bahunya terangkat.

“Kenal juga enggak terlalu.”


Aku nggak tahu berapa lama aku duduk di sana tanpa bergerak.

Mungkin dua detik. Mungkin dua puluh.

Yang aku tahu, di headphone-ku, tenda backstage terus berbunyi. Mbak Vina tertawa. “Ya ampun, iya lah. Masa Cynthia sama yang begitu.” Para stylist tertawa. Suara cangkir teh diletakkan di tatakan. Tik.

“Tapi lucu loh orangnya. Kayak maskot.”

Dan aku mendengarkan semuanya.

Karena itu kerjaanku. Mendengarkan.

Aku sudah mendengarkan ribuan suara di headphone ini. Aku tahu bunyi kebohongan. Nadanya sedikit lebih tinggi. Temponya sedikit lebih cepat. Ada jeda sepersekian detik sebelum kata kunci.

Kalimat itu punya semua pola itu.

Nadanya naik. Temponya cepat. Ada jeda sebelum kenal.

Kebohongan yang sempurna, dalam artian teknis.

Dan itu kebohongan paling buruk yang pernah aku dengar seumur hidupku.

Bukan karena aku nggak tahu itu bohong. Aku tahu. Aku tahu dia bohong, sama seperti aku tahu dia bohong waktu bilang aku cuma kedinginan di halte. Aku tahu di balik kalimat itu ada perempuan yang hafal lagu Tujhe Dekha To dengan fals di tempat yang sama denganku. Yang menyimpan hoodie Anya di bawah bantal. Yang bilang aku nambah terus, Man ke punggungku di basement.

Tapi waktu dia bohong di halte, dia bohong supaya bisa memelukku.

Malam ini, dia bohong supaya nggak perlu.


“Mas.”

Suara Raka. Dari sebelahku. Pelan.

Aku menoleh.

Raka juga memakai headphone. Headphone kedua yang tersambung ke bus monitor yang sama. Wajahnya pucat. Matanya menatapku dengan sesuatu yang belum pernah aku lihat di wajah Raka. Bukan rasa penasaran yang biasa. Bukan semangat orang yang membuat empat puluh tujuh slide.

Itu tatapan orang yang baru melihat temannya tertabrak, dan nggak tahu harus lari ke mana.

“Mas,” katanya lagi. “Itu...”

“Nggak apa-apa.”

Kalimat itu keluar sendiri. Cepat. Ringan. Tanpa jeda.

Preset.

Raka menatapku. “Mas, itu jelas apa-apa.”

“Bus lima udah aku mute. Kamu benerin routing Erga juga. Channel tiga. Lepas dari bus lima.” Aku menatap konsol. “Abis itu kita cek ulang semua bus sebelum jam tujuh. Tinggal tiga puluh menit.”

“Mas—”

“Rak.” Aku nggak menoleh. “Tolong.”

Raka diam. Lalu, pelan, dia menunduk ke konsol, mencari channel tiga di layar sentuh, dan melepas assign-nya dari bus lima.

Aku melepas headphone sebentar. Menatap ke luar booth. Ke rooftop yang mulai dipenuhi tamu. Gaun-gaun malam. Jas-jas hitam. Lilin-lilin di dalam gelas kaca. Lampu-lampu peri di AC raksasa yang dibungkus kain putih.

Ke unit AC di sudut timur laut. Yang sekarang dibungkus kain putih dan lampu peri, tapi di bawahnya, aku tahu, ada lantai beton tempat aku pernah membentangkan kardus kulkas dua pintu.

Ke pagar pembatas di sisi utara. Tempat Pak Haji bertengger setiap jam lima.

Malam ini Pak Haji nggak ada. Terlalu ramai. Terlalu terang.

Aku memasang headphone lagi.


Jam tujuh kurang dua menit.

Semua bus sudah benar. Routing sudah rapi. Channel tiga dan channel tujuh ke PA utama. Bus lima cuma menerima ambient rooftop, nggak ada mic pembawa acara. Raka sudah mengeceknya tiga kali. Aku sudah mengeceknya lima kali.

Di layar monitor kecil di sebelah konsol, ada feed dari kamera yang menyorot sisi panggung. Aku bisa melihatnya di sana. Di balik tirai hitam. Gaun biru tua. Sanggul rendah. Anting berlian yang berkilau di bawah lampu kerja.

Dia cantik.

Aku nggak bisa berhenti memikirkan itu. Bahkan sekarang. Bahkan sesudah kenal juga enggak terlalu. Dia cantik dengan cara yang membuat aku harus menatap konsol selama tiga detik untuk mengingat fader mana yang channel-nya.

Channel tujuh.

Lalu, di headphone, lewat jalur IFB return yang menangkap suara mic clip-on-nya sebelum masuk konsol, suaranya masuk. Pelan. Setengah berbisik.

“Teknisi channel tujuh.”

Aku menatap tombol kuning di konsol.

Konsol sewaan ini juga punya tombol IFB tone. Warnanya bukan kuning, tapi oranye. Letaknya bukan di kanan bawah, tapi di kiri atas. Tadi waktu mengetes earpiece-nya, aku sudah mencarinya, karena aku tahu dia akan memanggil. Dia selalu memanggil sebelum naik panggung.

Jariku bergerak ke tombol oranye itu.

Lalu berhenti. Satu senti di atasnya.

Tanganku gemetar.

Aku menatap tanganku sendiri. Gemetar. Jari telunjuk, jari tengah, ibu jari. Gemetar seperti tangan Pak Darto waktu mau mengemoceng Naruto. Gemetar seperti tangan Bayu waktu menerima figure itu dariku.

Aku nggak bisa menekannya dengan tangan gemetar.

Kalau aku menekannya sekarang, mungkin jariku meleset. Mungkin aku menekan tiga kali, bukan dua. Mungkin aku menekan terlalu lama, dan bunyinya panjang, dan dia akan mendengar bunyi panjang itu sebagai sesuatu yang bukan iya.

Dan dia akan naik ke panggung, di depan lima ratus orang dan ibunya, dengan bunyi yang salah di telinganya.

Aku menarik tanganku. Mengepalkannya. Membukanya.

“Teknisi channel tujuh. Kalau dengar, ketuk dua kali.”

Suaranya lebih pelan. Ada getar kecil di frekuensi tengah. Getar orang yang mulai ragu.

Di layar monitor, dia menatap ke arah booth. Ke arahku. Dari balik tirai hitam, dua puluh lima meter jauhnya. Aku bisa melihat matanya mencari.

Aku menunduk. Menatap konsol. Menatap tanganku.

Tarik napas, kataku ke diri sendiri, seperti yang aku bilang ke Yura di lobby. Tarik napas dulu.

Aku menarik napas.

“Pembawa acara standby. Tiga puluh detik.”

Lagi.

“Dua puluh detik.”

Satu lagi. Yang panjang. Kayak mau baca berita panjang.

“Sepuluh detik.”

Aku mengangkat tangan. Masih gemetar. Sedikit.

“Lima.”

Aku menekan tombol oranye.

Bip.

Dua kali.

Bip.

Bersih. Nggak meleset. Nggak terlalu lama.

Di layar monitor, dia menghembuskan napas. Bahunya turun sedikit. Lalu dia menegakkan punggung, merapikan gaun, dan memasang senyum.

“Empat. Tiga. Dua. Satu.”

Lampu sorot menyala.

“Selamat malam, keluarga besar TRAC, dan seluruh tamu undangan yang terhormat!”

Suaranya keluar dari speaker-speaker di seluruh rooftop.

Jernih. Hangat. Sedikit bergetar di kata malam, getaran yang nggak akan disadari siapa pun.

Kecuali aku.

Aku menaikkan sedikit frekuensi tengah-bawah di channel tujuh. Menambahkan sedikit warmth. Memasang kompresor tipis, rasio rendah, untuk meratakan getaran itu.

Supaya nggak ada yang dengar dia gugup.

Supaya dia sempurna.


Tiga jam.

Aku nggak mengangkat kepala sekali pun.

Itu bukan keputusan. Itu terjadi begitu saja. Aku menunduk ke konsol, ke layar sentuh, ke fader-fader, dan setiap kali aku merasa kepalaku mau terangkat, setiap kali aku merasa mataku mau mencari ke arah panggung, aku menemukan sesuatu untuk dikerjakan.

Ada feedback kecil di mic penyanyi tamu, frekuensi dua koma lima kilohertz. Aku memotongnya.

Ada dengung samar dari kabel lampu peri yang terlalu dekat dengan kabel mic di sisi panggung. Aku memasang gate.

Ada suara angin yang masuk ke mic Erga setiap kali dia menoleh ke kanan. Aku menaikkan high-pass filter.

Ada suara Cynthia.

Suara Cynthia selama tiga jam. Pembukaan. Memperkenalkan Mbak Vina untuk doa. Memperkenalkan direktur utama. Membacakan nama-nama karyawan dua puluh lima tahun, satu per satu, dengan nada yang hangat di setiap nama, seolah setiap nama itu orang yang dia kenal. Bercanda dengan Erga. Tertawa, tawa tiga detik, tepat waktu. Memperkenalkan video kenangan TRAC dengan suara yang sedikit bergetar, karena di video itu ada potongan siaran berita hiburan tahun 2003, dengan wajah perempuan berambut pendek yang tersenyum tenang ke kamera.

Ratna Wirawan. Ibunya.

Di bagian itu, suara Cynthia pecah sedikit. Satu kata. Kenangan.

Aku memperbaikinya. Aku menaikkan sedikit frekuensi tinggi, sedikit sekali, supaya pecahnya nggak kedengaran pecah, tapi kedengaran seperti haru.

Aku membuat suaranya sempurna.

Fader demi fader. Frekuensi demi frekuensi. Selama tiga jam, aku mencurahkan semua yang aku tahu, semua yang Bapak ajarkan di bengkel kecil di sebelah warung, semua yang aku pelajari dari dua tahun mendengarkan napasnya di channel tujuh, ke suara perempuan yang bilang dia nggak terlalu kenal aku.

Karena itu kerjaanku.

Karena orang rumah, lima ratus orang di rooftop dan empat belas ribu di live stream, nggak boleh dengar dia gugup. Nggak boleh dengar dia pecah. Nggak boleh dengar dia capek.

Itu bagianku.

Raka nggak bicara sepanjang acara. Sesekali aku merasakan dia menatapku dari samping. Tapi dia nggak bicara. Dia cuma mengerjakan bagiannya. Mic penyanyi. Mic sambutan. Playback video. Dan satu kali, waktu acara masuk jeda dan lampu sorot meredup, dia mendorong gelas air mineral pelan-pelan ke dekat tanganku.

Aku nggak minum.

Tapi aku menghargai gelasnya.


Jam sepuluh lewat dua menit.

“Terima kasih, dan sampai jumpa di dua puluh lima tahun berikutnya!”

Tepuk tangan. Lima ratus orang berdiri. Aku menurunkan fader channel tujuh pelan-pelan, mengikuti tepuk tangan, sampai suaranya hilang dan yang tersisa cuma suara orang-orang bersorak di bawah langit Jakarta.

Lampu sorot padam.

Aku melepas headphone.

Lalu, tanpa benar-benar memutuskan, tanganku naik ke telinga kiri. Ke earbud putih yang dari tadi memutar lagu dengan volume sangat pelan di bawah headphone, lagu yang nggak aku dengar sama sekali selama tiga jam, karena headphone menutupinya.

Tujhe Dekha To.

Aku melepasnya.

Memasukkannya ke kotak charger. Menutup kotaknya. Klik.

Telinga kiriku kosong. Untuk pertama kalinya, sejak entah kapan.

Satu buat dengar dunia. Satu buat lagu.

Malam ini, aku nggak butuh lagu.

Malam ini, lagu juga terlalu berisik.


Raka mematikan konsol tanpa aku minta.

Dia menggulung kabel. Memasukkan headphone ke kotak. Menyusun mic di koper. Semua tanpa bicara. Aku duduk di kursi lipat di balik meja sound, menatap rooftop yang pelan-pelan kosong. Para tamu turun ke lift. Kru katering mengangkut piring-piring. Kuartet gesek memasukkan biola ke kotak.

Di tenda backstage, lewat celah kain yang tersibak angin, aku melihatnya. Gaun biru tua. Dipeluk oleh seorang perempuan berkebaya hijau zamrud yang menangis.

Aku berdiri.

“Rak,” kataku. “Aku duluan.”

Raka menatapku. Wajahnya masih pucat.

“Mas,” katanya. “Log-nya.”

“Log apa?”

“Log konsol. Konsol sewaan ini nyimpen log otomatis. Semua routing, semua mute, semua PFL. Sama rekaman bus monitor. Ke server TRAC. Itu SOP vendor buat acara besar.” Dia menelan ludah. “Rekaman PFL channel tujuh dari jam enam lewat tiga puluh, Mas. Ada di situ. Termasuk yang di tenda.”

Aku menatap konsol yang sudah mati.

“Bisa dihapus?”

“Nggak bisa, Mas. Otomatis. Masuk server pusat. Butuh akses admin IT buat hapus.” Raka diam sebentar. “Mas mau aku minta ke IT?”

Aku diam lama.

Kalau Raka minta ke IT, IT akan bertanya kenapa. Raka akan harus menjelaskan. Dan menjelaskan berarti seseorang lagi akan tahu.

“Biarin,” kataku.

“Tapi, Mas—”

“Nggak ada yang bakal buka log audio gala, Rak. Itu folder yang cuma dibuka kalau ada komplain. Nggak akan ada komplain. Acaranya sempurna.” Aku mengambil tas peralatanku. “Biarin aja di sana. Nanti juga ketimpa log acara lain.”

Raka menatapku. Lalu, pelan, mengangguk.

Aku berjalan ke tangga darurat.

Tiga puluh lantai.


Aku turun lewat tangga darurat. Nggak lewat lift. Lift penuh tamu gala yang turun ke lobby, dan aku nggak mau masuk ke lift penuh orang berjas dan bergaun dengan hoodie kuning stabilo bergambar anime yang berteriak tolong saya.

Kayak maskot.

Bukan karena aku malu.

Aku nggak pernah malu.

Aku cuma nggak mau dia, kalau kebetulan masuk ke lift yang sama, harus berdiri tiga meter dariku di depan lima ratus orang penting. Aku nggak mau dia harus pura-pura nggak terlalu kenal aku dua kali dalam satu malam.

Tiga puluh lantai. Empat ratus delapan puluh anak tangga. Aku menghitungnya.

Di bordes lantai empat belas, aku berhenti. Menatap pintu tangga darurat yang menuju koridor master control.

Aku nggak masuk.

Di lantai lima, HP-ku bergetar.

Cynthia: man
Cynthia: kamu di mana?
Cynthia: aku nyariin di booth. kosong
Cynthia: ibu nangis tadi. ibu bilang aku sempurna
Cynthia: makasih buat mixing-nya. suaraku tadi bagus banget. aku dengar di monitor
Cynthia: kamu ke mana?

Aku menatap layar di tangga darurat yang sepi, di antara lantai lima dan lantai empat, di gedung yang malam ini merayakan dua puluh lima tahun.

Aku mengetik.

Aku: pulang duluan
Aku: wati capek
Aku: kamu tadi sempurna

Kirim.

Titik-titik mengetik muncul. Lalu:

Cynthia: kok nggak pamit?
Cynthia: aku pengen ketemu sebentar
Cynthia: di b2?

Aku menatap pesan itu.

Aku teringat basement B2 Zona C. Hoodie Anya. Aku nambah terus, Man. Lalu Zona D, blind spot CCTV. Tali hoodie yang ditarik. Ini level enam.

Aku teringat semuanya.

Lalu aku mendengar lagi, di kepalaku, tanpa headphone, tanpa PFL, tanpa konsol. Tawa tiga detik. Bukan lah, Mbak. Cuma teknisi. Kenal juga enggak terlalu.

Aku mengetik.

Aku: besok aja ya
Aku: kamu pasti capek
Aku: ibumu pasti mau ngajak makan
Aku: temenin ibumu malam ini
Aku: dia nunggu malam kayak gini 20 tahun

Kirim.

Lalu, sebelum dia membalas, sebelum titik-titik mengetik muncul, aku menambahkan satu pesan lagi.

Aku: nggak apa-apa

Aku memasukkan HP ke saku dan turun empat lantai terakhir tanpa melihatnya lagi.


Wati menunggu di basement B2.

Bukan di Zona C. Bukan di Zona D. Aku memarkirnya pagi tadi di Zona A, dekat pintu keluar, karena Zona C dan D penuh mobil tamu gala.

Aku menyalakannya. Lampu depannya menyala. Mata anime di stikernya berbinar menatapku.

“Pulang, Wat,” kataku.

Wati melaju keluar dari basement.

Jakarta jam sepuluh malam masih ramai. Lampu-lampu jalan. Klakson. Asap knalpot. Aku melaju di jalur kiri, empat puluh kilometer per jam, tanpa lagu di telinga kiri.

Lampu merah perempatan Mampang.

Sembilan puluh detik.

Bapak ojek berkumis itu ada di sana. Jalur sebelah kanan. Seperti biasa. Seperti dia memang menunggu. Dia menoleh ke kiri, melihat Wati, dan wajahnya menyala seperti anak kecil melihat tukang es krim.

Dia mengangkat kedua tangan dari stang. Siap berjoget.

Aku menatap tombol klakson Wati.

Aku nggak menekannya.

Sepuluh detik. Dua puluh detik.

Bapak berkumis itu menatapku. Menunggu. Tangannya masih di udara. Lalu, pelan-pelan, tangannya turun. Dia menatap wajahku di balik kaca helm, dan aku nggak tahu apa yang dia lihat di sana, tapi wajahnya berubah. Senyumnya hilang. Diganti sesuatu yang lain. Sesuatu yang kayak orang yang mengerti.

Dia nggak berjoget.

Dia cuma mengangguk sekali ke arahku. Pelan. Seperti laki-laki yang mengangguk ke laki-laki lain di warung kopi jam dua pagi, tanpa perlu tahu ceritanya.

Lampu hijau.

Semua orang pergi.


Ibu masih bangun waktu aku sampai.

Dia duduk di bangku plastik di dapur, menonton sinetron tanpa suara, mengupas bawang putih untuk besok. Dia menoleh waktu aku masuk.

“Gimana galanya?”

“Bagus, Bu.”

“Dia gimana?”

“Sempurna, Bu. Dia sempurna.”

Ibu menatapku. Lama. Matanya, mata elang pensiun, berhenti di wajahku. Lalu turun ke hoodie kuning stabilo-ku. Lalu naik lagi.

Lalu berhenti di telinga kiriku.

Kosong.

“Earbud-mu mana?”

“Di kotak, Bu.”

“Kamu nggak pernah lepas earbud.”

“Malam ini lepas.”

Ibu menaruh pisau pengupas bawang di meja.

“Kamu gimana, Man?”

Aku menatap Ibu.

“Nggak apa-apa, Bu,” kataku.

Ibu nggak menjawab. Dia cuma menatapku.

Lalu matanya bergerak sedikit. Ke telingaku. Ke dua telingaku, kiri dan kanan.

Aku nggak bisa melihat telingaku sendiri. Tapi aku bisa merasakannya. Panas. Dan bergerak. Sedikit. Ke atas. Seperti kuping kelinci. Seperti kuping Bapak waktu bilang dia nggak sengaja lewat depan warung tiap hari.

Ibu nggak bilang apa-apa soal itu.

Dia berdiri. Berjalan ke panci kaldu yang masih hangat di atas kompor. Mengambil mangkuk. Menuang kuah. Menambahkan bakso urat, mi kuning, sawi. Lalu, dari toples kecil di rak bumbu, dia mengambil satu sendok teh sambal.

Bukan sambal merah tua level sembilan. Sambal merah muda pucat. Hampir oranye.

Level satu.

Buat anak kecil dan orang yang baru putus cinta.

Dia menaruh mangkuk itu di depanku. Lalu duduk di bangku plastik di sebelahku. Nggak di seberang. Di sebelah.

Aku menatap mangkuk itu.

“Bu, aku nggak putus.”

“Ibu tahu.”

“Terus kenapa level satu?”

Ibu nggak menjawab. Dia cuma mengambil pisau pengupas bawang lagi, dan bawang putih, dan mulai mengupas lagi. Pelan. Di sebelahku.

Lalu dia bersenandung.

Pelan. Fals. Nadanya meleset di tempat-tempat yang aku hafal, karena itu tempat-tempat yang sama di mana Bapak dulu meleset.

Tujhe Dekha To.

Aku menatap mangkuk bakso level satu itu.

Lalu aku makan.

Satu suap. Dua suap. Kuahnya hangat. Baksonya lembut. Pedasnya hampir nggak terasa, cuma sedikit hangat di ujung lidah, seperti selimut tipis.

Di suapan ketiga, aku berhenti.

Karena ada sesuatu yang jatuh ke kuah.

Satu tetes. Bening. Dari arah wajahku.

Aku menatapnya. Tetesan itu mengambang sebentar di permukaan kuah, membuat lingkaran kecil, lalu menghilang.

Lalu satu lagi.

Aku nggak bersuara. Aku nggak terisak. Bahuku nggak bergetar. Wajahku datar. Seperti biasa.

Tapi tetesan itu terus jatuh. Satu. Satu lagi. Satu lagi. Ke kuah bakso level satu, di dapur warung Ibu yang bau kaldu sapi dan bawang putih, di sebelah Ibu yang mengupas bawang sambil bersenandung fals.

Ibu nggak menoleh.

Ibu nggak bilang apa-apa.

Dia cuma terus mengupas bawang. Terus bersenandung. Dan waktu dia sampai di bagian lagu yang Bapak dulu selalu meleset paling parah, bagian reff, bagian di mana nadanya seharusnya naik tinggi, Ibu menyanyikannya sedikit lebih keras.

Lebih fals.

Supaya suara di sebelahnya nggak kedengaran.

Aku menghabiskan bakso itu. Sampai kuahnya. Karena di warung ini, mubazir itu dosa.

Lalu aku masuk ke kamar, berbaring di kasur busa di lantai, menatap peta Kalimantan di langit-langit, dan membuka laci di kepalaku. Laci yang belum punya nama. Laci tempat sebelas meter di lobby, dan resepsionis yang ditanya soal paket, dan aku single, dan kaca helm yang terbuka di depan lobby jam enam yang bukan kaca helmnya.

Aku memasukkan satu hal lagi ke sana.

Kenal juga enggak terlalu.

Lalu, untuk pertama kalinya, aku memberi laci itu nama.

TIGA METER.

Aku nggak membacanya.

Aku cuma memberinya nama, supaya kalau suatu hari aku butuh, aku tahu harus mencari di mana.