Chapter Seven
Kamera Selalu Nyala
POV: Cynthia
Mobilku sudah keluar dari bengkel sejak hari Rabu.
Aku menulis kalimat itu di sini supaya jelas, karena nanti aku harus menjelaskan kenapa hari Selasa minggu berikutnya aku naik Wati lagi, dan aku nggak punya alasan yang bagus.
Alasan resminya: lampu check engine menyala lagi.
Alasan sebenarnya: lampu check engine nggak menyala. Aku cuma bilang ke Salman di chat jam empat sore, man, mobilku kayaknya bermasalah lagi, lalu menunggu dengan jantung berdebar seperti anak SMA yang baru mengirim surat cinta lewat teman sebangku.
Balasannya datang dua menit kemudian.
Teknisi Ch. 7: bermasalah gimana
Aku: bunyinya aneh
Teknisi Ch. 7: bunyi apa
Aku: tik tik tik
Teknisi Ch. 7: tik tik tik itu bunyi apa
Aku: ya bunyi tik tik tik
Teknisi Ch. 7: cyn aku sound engineer
Teknisi Ch. 7: kalau kamu bilang tik tik tik aku butuh frekuensi, tempo, sama sumbernya dari mana
Aku: dari mesin. tempo sedang. frekuensi menengah
Teknisi Ch. 7: oke
Teknisi Ch. 7: itu bukan masalah mobil
Teknisi Ch. 7: itu jam di dasbor
Aku: MAN
Teknisi Ch. 7: tapi kalau kamu mau bareng wati, wati mau
Teknisi Ch. 7: dia kangen
Teknisi Ch. 7: jam 8 di basement
Aku menaruh HP di meja, menutup wajah dengan kedua tangan, dan Yura, yang duduk di sebelahku di ruang rias, bertanya kenapa aku menendang-nendang kaki meja.
“Kram,” jawabku.
“Kram di kaki dua-duanya?”
“Kram simetris.”
Yura menatapku lama. Lalu kembali ke kaca rias tanpa bertanya lagi. Tapi di pantulan kaca, aku melihat sudut bibirnya naik sedikit.
Malam itu, aku membawa helm sendiri.
Bukan helm merah muda punya Wati. Helm baru. Aku beli di toko online hari Kamis, dikirim hari Sabtu, dan aku belum cerita ke siapa-siapa. Warnanya putih susu, sama seperti Wati, dengan kaca gelap. Di sampingnya aku tempel stiker kecil kelinci, karena stiker kelinci di helm merah muda itu, entah kenapa, terasa seperti punyaku.
Salman menatap helm itu waktu aku keluar dari lift basement.
“Kamu beli helm.”
“Biar nggak ngerepotin Wati.”
Dia menatap helm itu lebih lama. Lalu menatap Wati. Lalu kembali ke helm itu.
“Warnanya sama kayak Wati,” katanya pelan.
“Kebetulan.”
“Kamu tempel kelinci.”
“Kebetulan juga.”
Dia diam. Lalu, dengan wajah paling serius yang pernah aku lihat, dia menepuk jok Wati dua kali dan berbisik ke arah setangnya, “Wati, kamu punya kembaran.”
Lampu depan Wati berkedip.
Aku yakin itu karena dia baru menyalakan kunci kontak. Aku yakin. Seratus persen.
Tapi aku nggak bisa menahan senyum.
Kali ini aku nggak pakai masker. Aku nggak pakai kacamata hitam juga, karena kacamata hitam di malam hari bikin aku hampir menabrak tiang parkiran waktu itu. Aku cuma pakai helm dengan kaca gelap, jaket denim besar yang biasa aku pakai kalau mau ke supermarket tanpa dikenali, dan sandal jepit biru.
Dan kali ini, waktu Wati melaju keluar dari basement, aku langsung memegang pinggang Salman.
Bukan ujung jaket. Bukan dua jari. Pinggang.
Dia nggak bilang apa-apa. Tapi aku merasakan punggungnya menegang sebentar, lalu rileks lagi. Lalu Wati melaju, dan dia mulai bersenandung dengan suara pelan yang tenggelam di balik helm, dan aku tahu, entah dari mana aku tahu, bahwa senandung itu lebih fals dari biasanya.
Kami lewat Rasuna Said. Lewat Mampang.
Di lampu merah perempatan Mampang, sembilan puluh detik, Salman menekan klakson.
Chaiyya Chaiyya.
Dan ternyata, minggu lalu bukan kebetulan.
Bapak ojek berkumis tebal yang waktu itu sudah ada di sana, di sebelah kanan kami, seolah dia memang menunggu. Dia menoleh, melihat Wati, dan wajahnya menyala seperti anak kecil melihat tukang es krim. Lalu dia mengangkat kedua tangan dari stang.
“Masssss!” teriaknya ke Salman. “Lagi, Mas!”
Salman menekan klakson lagi.
Bapak berkumis mulai berjoget. Driver di sebelah kiri ikut. Lalu driver di belakang. Lalu tukang bajaj di jalur paling kiri, yang aku yakin minggu lalu nggak ada di sana, membunyikan klaksonnya sendiri, yang ternyata juga lagu dangdut versi elektronik, dan dua lagu itu bertabrakan di udara perempatan Mampang menjadi sesuatu yang sama sekali bukan musik tapi membuat semua orang tertawa.
Ibu-ibu di atas motor matic yang membonceng anaknya menggoyangkan bahu. Anaknya, mungkin umur enam tahun, memakai helm Doraemon, mengangkat kedua tangan ke udara seperti di konser.
Aku tertawa sampai helm baruku berembun.
Dan entah kenapa, karena malam itu aku merasa ringan dan aneh dan bahagia dengan cara yang nggak bisa aku jelaskan, aku membuka kaca helmku.
Supaya bisa melihat lebih jelas. Supaya angin malam bisa masuk. Supaya tawaku nggak terperangkap di dalam plastik.
Aku membuka kaca helmku dan tertawa lepas di tengah perempatan Mampang, di atas motor listrik putih bermata anime, sambil berpegangan pada pinggang seorang teknisi audio berhoodie, di depan dua puluh orang yang sedang berjoget Bollywood di bawah lampu merah.
Selama sembilan puluh detik itu, aku lupa siapa aku.
Lampu hijau.
Semua orang tancap gas sambil bersorak. Bapak berkumis mengacungkan jempol. Anak berhelm Doraemon melambai.
Dan di trotoar sebelah kiri, di depan sebuah warung kopi, seorang cowok berkaus hitam menurunkan HP-nya yang sejak tadi dia arahkan ke perempatan.
Aku nggak melihatnya.
Aku baru tahu keesokan paginya.
Postingan itu muncul jam enam lewat dua belas pagi, saat aku sedang membuka segmen pertama Sapa Pagi.
Aku nggak melihatnya waktu siaran. HP disimpan di loker studio. Tapi waktu jeda iklan pertama, aku melihat Mas Teddy di balik kaca control room menatap HP-nya dengan alis berkerut. Lalu dia menatapku. Lalu kembali ke HP-nya.
Waktu jeda iklan kedua, asisten produser, Sasa, masuk studio pura-pura membetulkan mic-ku, lalu berbisik, “Mbak, nanti abis siaran cek HP, ya.”
Jantungku jatuh ke perut.
Sisa siaran itu aku jalani dengan autopilot. Senyum. Tertawa tiga detik. Bertanya ke bintang tamu. Mengangguk. Membaca teleprompter. Aku melakukan semuanya dengan sempurna, karena aku Cynthia Larasati Wirawan dan aku bisa siaran langsung dengan kecoak di rambut. Tapi di dalam kepalaku, cuma ada satu kalimat yang berputar seperti lagu yang rusak.
Orang selalu lihat.
Jam delapan lewat lima, aku duduk di ruang rias dengan HP di tangan.
Akunnya bernama @tower.gossip.jkt. Seratus empat puluh ribu pengikut. Akun yang khusus membahas karyawan-karyawan stasiun TV dan perusahaan media di Jakarta Selatan. Siapa jalan sama siapa. Siapa pakai baju sama di acara yang sama. Siapa difoto keluar dari mobil siapa.
Postingannya video. Sembilan belas detik.
Perempatan Mampang, malam hari. Lampu merah. Motor-motor berjoget. Musik Bollywood delapan bit bertabrakan dengan dangdut bajaj. Kamera bergoyang, menyorot dari jauh, lalu zoom in pelan-pelan ke satu motor putih.
Ke helm putih dengan stiker kelinci.
Ke kaca helm yang terbuka.
Ke wajahku.
Gambarnya buram, karena zoom digital dari jarak dua puluh meter di malam hari. Tapi cukup jelas. Cukup jelas untuk melihat rambut panjangku keluar dari bawah helm. Cukup jelas untuk melihat aku tertawa dengan mulut terbuka lebar. Cukup jelas untuk melihat kedua tanganku melingkar di pinggang seseorang yang memakai hoodie hitam dengan gambar... aku memicingkan mata... wajah karakter anime yang sedang menangis.
Takarirnya:
GODDESS TRAC DIBONCENG OJOL?? 🛵👀 Mirip banget Mbak C dari program pagi itu loh. Tapi masa sih goddess naik motor listrik sambil joget di Mampang? Ojolnya pake hoodie anime pula 😭😭 Siapa nih yang bisa konfirmasi???
Tiga ribu empat ratus suka. Delapan ratus komentar.
Aku membaca komentarnya. Aku tahu seharusnya nggak. Aku tahu itu kesalahan pertama semua orang yang pernah viral. Tapi jempolku bergerak sendiri.
itu beneran cynthia?? kok mau naik motor gitu
wkwk ojolnya wibu bgt
mungkin lagi syuting konten
goddess juga manusia kali, lucu deh liat dia ketawa gitu
ga mungkin cynthia, cynthia mah naik alphard
itu pacarnya kali
pacar?? sama yang pake hoodie nangis??? ga level lah
ketawanya beda bgt sama di tv, lebih cakep yang ini
ojolnya bintang berapa nih wkwk
hoodie-nya beli dimana ya mau juga
Aku menggulir. Terus. Terus.
Sebagian besar komentarnya nggak jahat. Lucu, malah. Ada yang bilang aku kelihatan bahagia. Ada yang bilang mereka mau ikut joget di Mampang. Ada yang bertanya di mana beli hoodie anime itu.
Tapi mataku cuma berhenti di satu jenis komentar.
ga level lah.
pacar?? sama yang pake hoodie nangis???
masa goddess sama ojol.
Tanganku dingin.
HP-ku berbunyi. Lagu piano klasik.
Aku menatap layar. Ibu.
Aku mengangkat sebelum sempat menyiapkan diri. Itu kesalahan kedua.
“Cyn.”
“Halo, Bu.”
“Itu kamu.”
Bukan pertanyaan.
“Bu, aku bisa jelasin—”
“Ibu nggak perlu penjelasan. Ibu kenal ketawa anak Ibu.” Suaranya tenang. Terlalu tenang. Itu bukan pertanda bagus. Ibu yang marah itu berisik. Ibu yang tenang itu artinya dia sedang menyusun kalimat. “Grup arisan Ibu udah ada tiga orang yang kirim. Tante Mira nanya apa kamu lagi pacaran sama tukang ojek.”
“Dia bukan tukang ojek, Bu. Dia teman kantor. Teknisi audio. Kebetulan searah—”
“Ibu nggak peduli dia siapa.” Jeda. “Cyn, kamu buka kaca helm. Di tengah jalan. Di Jakarta. Kamu tahu berapa banyak HP yang ada di satu perempatan lampu merah?”
Aku diam.
“Ibu dulu juga mikir cuma makan malam biasa. Ibu dulu juga mikir cuma lima menit. Ibu dulu juga mikir nggak ada yang lihat.” Suaranya turun. Sedikit bergetar di ujungnya, getaran yang nggak pernah aku dengar sejak aku kecil. “Satu foto, Cyn. Satu foto dari sudut yang salah. Dan semua orang lupa Ibu pernah baca berita delapan tahun tanpa satu kali pun salah sebut nama. Yang mereka ingat cuma foto itu.”
“Aku tahu, Bu.”
“Kamu tahu. Tapi kamu tetap buka kaca helmnya.”
Aku menatap pantulan wajahku di kaca rias. Riasan siaran pagi masih menempel. Bulu mata palsu. Contour. Lipstik warna nude yang menurut tim wardrobe paling cocok untuk TV pagi.
Di layar HP di tanganku, video sembilan belas detik itu masih terbuka, dibekukan di satu frame. Aku sedang tertawa dengan mulut terbuka lebar, mata menyipit, rambut berantakan, tanpa riasan apa-apa.
Dua wajah. Dua orang yang berbeda.
“Kamera selalu nyala, Cyn,” kata Ibu pelan. “Selalu. Di mana pun kamu berada. Kamu harus hidup seperti itu. Ibu dulu nggak tahu. Kamu harus tahu.”
Kalimat itu.
Kalimat yang Ibu ucapkan pertama kali waktu aku umur sepuluh tahun, sehari sesudah kontrak terakhir Ibu diputus. Ibu duduk di tepi tempat tidurku, merapikan rambutku, dan bilang kalimat itu dengan suara yang sangat lembut, seperti dongeng sebelum tidur.
Kamera selalu nyala.
Sejak malam itu, aku nggak pernah tidur dengan mulut terbuka. Aku nggak pernah keluar rumah tanpa menyisir rambut. Aku nggak pernah tertawa lebih dari tiga detik di tempat umum.
Sampai semalam.
“Iya, Bu,” jawabku.
“Kamu harus klarifikasi. Jangan biarin gosipnya jalan sendiri.”
“Iya, Bu.”
Telepon ditutup.
Jam sembilan, ada meeting evaluasi mingguan Sapa Pagi di ruang rapat lantai dua belas.
Biasanya meeting itu cuma dihadiri tim produksi: Mas Teddy, Sasa, dua creative, satu floor director. Tapi minggu ini ada tambahan tim teknis, karena kami sedang membahas rencana ganti set studio bulan depan. Dua orang dari master control.
Pak Bambang, kepala master control, dan Salman.
Dia duduk di ujung meja paling jauh. Hoodie hitam, wajah anime menangis di dadanya. Hoodie yang sama dengan yang ada di video.
Aku nggak menatapnya waktu masuk. Aku duduk di kursiku, membuka laptop, dan menatap layar presentasi seolah slide berjudul Rencana Desain Set Baru Q3 adalah hal paling menarik yang pernah aku lihat.
Meeting berjalan dua puluh menit sebelum Mas Teddy, dengan senyum jahil yang aku tahu sudah dia tahan sejak awal, menutup laptopnya.
“Oke, sebelum lanjut,” katanya. “Aku harus nanya. Demi kesehatan mental tim. Cyn, yang di tower gossip itu kamu, kan?”
Seluruh meja menoleh ke arahku.
Sasa menahan tawa. Dua creative saling sikut. Bahkan Pak Bambang, yang biasanya cuma peduli soal frekuensi dan kabel, menurunkan kacamata dan menatapku dengan rasa ingin tahu yang nggak disembunyikan.
Dan Salman.
Aku nggak menoleh ke Salman. Tapi aku bisa merasakan dia ada di sana, di ujung meja, dengan hoodie yang sama dengan yang ada di video, dan satu earbud di telinga kiri yang aku tahu sedang memutar lagu Bollywood.
Mulutku bergerak sebelum otakku.
“Oh, itu,” kataku, sambil tertawa kecil. Tawa yang ringan, tiga detik, berhenti tepat waktu. “Iya, itu aku. Mobilku lagi bermasalah, jadi nebeng. Itu ojek kantor.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Ringan. Lancar. Kayak naskah yang sudah aku hafal.
“Ojek kantor?” ulang Mas Teddy.
“Iya. Teknisi yang kebetulan searah.” Aku melambaikan tangan, seolah itu hal yang sangat sepele. “Nggak ada apa-apa, Mas. Kebetulan aja lampu merahnya lama terus orang-orang joget. Aku ikutan ketawa.”
Kebetulan searah.
Apartemenku di Kemang. Rumah Salman di Depok. Itu nggak searah. Itu sama sekali nggak searah. Dia memutar jauh setiap kali mengantarku, dan dia bilang itu karena kucing-kucing Kemang lebih gemuk.
Sasa tertawa. “Ya ampun, Mbak. Aku kira beneran ada gosip. Tapi ojeknya lucu banget sih, Mbak, pakai hoodie anime nangis.”
Mas Teddy ikut tertawa. “Siapa sih teknisinya? Kok bisa searah sama Cynthia?”
Dan di ujung meja, Salman mengangkat tangan.
Seluruh meja menoleh ke arahnya. Melihat hoodie-nya. Wajah anime menangis di dadanya. Hoodie yang sama persis dengan yang ada di video.
Hening dua detik.
Lalu Sasa menutup mulut. Mas Teddy membuka mulut. Pak Bambang menatap Salman, menatap layar HP Sasa yang masih menampilkan video itu, lalu menatap Salman lagi, dan berkata dengan suara datar, “Man. Kamu?”
“Saya, Pak.” Salman menunjuk dadanya. “Ojek kantor. Bintang lima. Rating sempurna. Gratis air mineral kalau perjalanan lebih dari dua puluh menit.”
Ruang rapat meledak.
Mas Teddy tertawa sampai kursinya mundur. Sasa memukul-mukul meja. Dua creative menangis sambil saling memukul bahu. Pak Bambang menggeleng-gelengkan kepala, tapi bahunya bergetar.
“Wati emang mirip ojol,” lanjut Salman tenang, di tengah tawa semua orang. “Saya udah sering dikira ojol. Kemarin di Pasar Minggu ada ibu-ibu yang langsung naik ke jok belakang dan minta diantar ke Tanah Abang.”
“Terus kamu antar?” tanya Mas Teddy di antara tawa.
“Saya antar. Dia bayar pakai kerupuk.”
Aku ikut tertawa.
Aku tertawa bersama mereka, tiga detik, berhenti tepat waktu, dan menatap Salman dari seberang meja dengan senyum yang aku harap kelihatan santai.
Dia menatapku balik.
Wajahnya datar. Seperti biasa. Seperti waktu dia bilang sandal itu jodohku. Seperti waktu dia bilang dunianya lagi aku, lalu mencabut hak ciptanya.
Tapi ada sesuatu di matanya, yang cuma sebentar. Sesuatu yang aku lihat dulu sekali, di malming pertama, waktu aku menelan tawaku karena ada HP di meja dekat pintu. Ekspresi orang yang baru mengerti sesuatu, lalu menyimpannya di laci.
Lalu ekspresi itu hilang. Dan dia tersenyum kecil, ikut tertawa bersama semua orang, sambil mengacungkan dua jari ke Mas Teddy seperti bilang bintang lima, jangan lupa.
Meeting dilanjutkan.
Aku menatap slide berjudul Rencana Desain Set Baru Q3 selama sisa satu jam, dan aku nggak ingat satu pun isinya.
Siang itu, @tower.gossip.jkt mengunggah update.
UPDATE: Sumber internal TRAC konfirmasi, itu memang Mbak C, tapi cuma NEBENG OJEK KANTOR guys 😂 Teknisinya kebetulan searah. Bubar bubar, nggak ada cinlok. Tapi ojeknya tetap juara joget 🕺
Komentarnya berubah nada.
yaelah kirain
ojek kantor wkwk bisa aja
tetep lucu sih jogetnya
mbak c baik ya mau nebeng orang biasa
hoodie-nya beli dimana sih serius
Gosipnya mati dalam dua jam. Persis seperti yang Ibu mau. Persis seperti yang seharusnya aku rasakan sebagai kemenangan.
Aku membaca update itu di toilet lantai dua belas, duduk di atas kloset tertutup, dan entah kenapa aku nggak merasa menang.
mbak c baik ya mau nebeng orang biasa.
Orang biasa.
Malam itu, aku nggak minta diantar.
Aku pulang naik mobil sendiri, mobil yang mesinnya sama sekali nggak bermasalah, dan helm putih berstiker kelinci kutaruh di jok belakang. Di lampu merah perempatan Mampang, aku berhenti di jalur paling kanan.
Bapak ojek berkumis itu ada di sana. Di jalur motor. Dia sedang menatap ke kiri dan ke kanan, mencari sesuatu. Mencari motor putih bermata anime.
Wati nggak ada.
Lampu merahnya sembilan puluh detik. Nggak ada klakson Bollywood. Nggak ada yang berjoget. Bapak berkumis itu menurunkan bahunya, menghela napas, lalu menatap HP-nya dengan wajah bosan seperti semua orang lain di perempatan itu.
Lampu hijau. Semua orang pergi.
Aku sampai di apartemen jam sembilan. Mandi. Mencopot bulu mata palsu. Berbaring di kasur dengan HP di dada, seperti setiap malam akhir-akhir ini.
Chat dengan Teknisi Ch. 7 masih terbuka. Pesan terakhir dari tadi pagi, sebelum video itu muncul: wati nanya kapan kamu nebeng lagi.
Aku mengetik.
Aku: man maaf soal tadi pagi
Aku: soal ojek kantor
Aku menatap pesan itu lama sebelum mengirimnya.
Balasannya datang dalam lima detik.
Teknisi Ch. 7: maaf kenapa
Teknisi Ch. 7: aku emang ojek kantor
Teknisi Ch. 7: bintang lima
Teknisi Ch. 7: pak bambang abis meeting minta diantar ke stasiun
Teknisi Ch. 7: aku antar
Teknisi Ch. 7: dia kasih aku rating bintang lima lewat whatsapp
Teknisi Ch. 7: [foto: screenshot chat Pak Bambang yang isinya cuma lima emoji bintang dan satu emoji motor]
Aku tertawa. Sendirian di kamar. Tiga detik, empat detik, lima.
Lalu aku berhenti.
Karena di bawah foto itu, ada satu pesan lagi. Dikirim sepuluh detik kemudian, seperti dia ragu-ragu dulu sebelum menekan tombol kirim.
Teknisi Ch. 7: tapi kamu kemarin ketawanya bagus
Teknisi Ch. 7: yang di mampang
Teknisi Ch. 7: jangan sampai karena orang-orang, kamu jadi nggak ketawa kayak gitu lagi
Teknisi Ch. 7: sayang. itu ketawa terbagus di jakarta selatan
Aku menatap layar sampai lampunya padam sendiri.
Lalu aku menyalakannya lagi. Membaca ulang. Mematikannya. Menyalakannya.
Aku nggak membalas malam itu.
Aku nggak tahu harus membalas apa. Makasih terlalu kecil. Maaf sudah aku bilang. Aku juga suka ketawa kayak gitu, tapi aku takut terlalu jujur, dan aku belum siap sejujur itu.
Jadi aku mematikan lampu, memasang earbud kanan punya Salman yang sekarang tinggal di laci sebelah tempat tidurku, dan memutar Tujhe Dekha To dengan volume pelan.
Di telinga kiriku, telinga yang buat dunia, nggak ada apa-apa.
Cuma suara AC. Suara kota dari balik jendela.
Dan, entah dari mana, entah karena aku terlalu sering memikirkannya, suara samar orang yang bernyanyi fals di atas kardus kulkas, telat setengah ketukan dari lagunya.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala reading
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu