Chapter Thirty One

Log Audio

POV: Cynthia

Raka menyiapkan presentasi.

Tentu saja dia menyiapkan presentasi.

Jam sembilan lewat lima, aku mengetuk pintu master control. Raka membukanya dengan wajah orang yang nggak tidur semalaman, laptop di pelukan, dan di belakangnya, di layar besar di dinding yang biasanya menampilkan siaran kanal tiga, ada slide.

Latar belakang biru tua. Judul putih besar.

VOLUME 6: KRONOLOGI MALAM GALA (DATA MENTAH, TANPA OPINI)

Lalu aku membaca tulisan di bawahnya, lebih kecil.

Font: Comic Sans (maaf, Mas Salman, ini darurat, aku nggak sempat ganti)

Aku menatap slide itu.

Raka menatap slide itu.

“Maaf, Mbak,” katanya. “Aku bikin jam tiga pagi. Tanganku gemetar. Aku nggak sanggup milih font.”

Aku nggak bisa tertawa. Aku mau, tapi aku nggak bisa. Tenggorokanku terlalu penuh.

“Nggak apa-apa,” kataku. Lalu berhenti.

Nggak apa-apa.

Aku menatap Raka. Raka menatapku. Dan aku tahu dia juga mendengarnya. Kalimat yang sama. Yang selama tiga bulan ini diucapkan oleh orang yang kursinya sekarang kosong di sebelah Raka.

“Maksudku,” kataku pelan, “font-nya nggak masalah. Tunjukin aja.”


Master control pagi itu sepi.

Salman libur, seperti kata Raka. Shift-nya ditukar dengan Mas Bowo, yang sedang di ruang engineering mengurus kalibrasi konsol utama yang baru dipasang. Pak Bambang belum datang. Cuma Raka. Dan dua puluh satu action figure di rak akrilik.

Dan satu alas kosong.

Aku melihatnya dari ambang pintu. Alas akrilik paling tinggi, di tengah rak, tempat Naruto mode Sage biasa berdiri dengan mata kuning bergaris dan jubah merah yang berkibar. Kosong.

Di bawahnya, sticky note kuning ditempel di atas kertas lama.

LAGI TUGAS JAGA DI TEMPAT LAIN. — Manajemen.

Aku berhenti.

Coba lihat. Lihat alasnya.

Suara Dino. Semalam. Di parkiran Kedai Ruang Tunggu.

“Raka,” kataku. “Naruto-nya ke mana?”

Raka menatap alas kosong itu. Lalu menatapku.

“Itu bukan cerita aku, Mbak,” katanya pelan. “Itu Mas Dino yang lihat. Aku cuma tahu ujungnya.”

“Ujungnya apa?”

Raka diam sebentar.

“Ujungnya, Mas Salman nggak pernah beli figure baru buat gantiin,” katanya. “Dan dia nggak pernah cerita ke siapa-siapa. Termasuk Mbak.”

Aku menatap sticky note itu.

Lagi tugas jaga di tempat lain.

“Nanti,” kata Raka. “Mbak tanya Mas Dino. Sekarang...” Dia menunjuk layar. Ke judul dengan font Comic Sans. “Sekarang ini dulu, Mbak. Kalau aku nunda lagi, aku nggak akan berani.”

Aku duduk di kursi. Bukan kursi Salman. Kursi abu-abu yang sedikit miring. Kursi Pak Darto.

Raka menekan tombol di laptop.


Slide dua.

TIMELINE MALAM GALA — 18:20 s.d. 22:02

Tabel. Jam di kolom kiri. Kejadian di kolom kanan. Diketik rapi, seperti laporan insiden.

18:20 — IFB Mbak Cynthia mati. Pin konektor receiver bengkok.

18:24 — Mas Salman ditelepon. Naik dari lantai 14 ke lantai 30 lewat tangga darurat. 16 lantai. Waktu tempuh: 3 menit 40 detik. (Rata-rata orang normal: 7 menit.)

18:28 — Mas Salman sampai di backstage. Perbaikan receiver: 1 menit 30 detik.

18:30 — Mas Salman ke booth audio. Menemukan routing error (kesalahan Raka). Channel 3 (Erga) dan Channel 7 (Mbak Cynthia) ter-assign ke Bus 5.

Bus 5 = feed live stream pre-show TRAC Digital (YouTube + Instagram). Penonton saat itu: 14.208 orang.

Aku membaca baris itu.

Lalu membacanya lagi.

“Bus lima,” kataku pelan.

“Itu salah aku, Mbak.” Suara Raka bergetar. “Aku yang salah routing. Waktu mic check. Aku nggak sengaja assign mic Mbak sama Mas Erga ke bus lima. Jadi apa pun yang ditangkap mic Mbak di backstage...” Dia menelan ludah. “Masuk ke live stream. Ke empat belas ribu orang.”

Aku menatap layar.

Di backstage. Mic clip-on di gaunku. Dipasang tim audio jam enam lewat sepuluh. Lampu kecil di transmitter-nya berkedip hijau.

Aku nggak memperhatikan lampu itu.

Kamera selalu nyala, Cyn.

Raka menekan tombol lagi.


Slide tiga.

18:31:07 — Mas Salman memasang headphone. Mengaktifkan PFL Channel 7 (mendengar langsung mic Mbak Cynthia, sebelum fader).

18:31:22 — Suara di PFL Channel 7: Mbak Vina bertanya.

Lalu, di bawahnya, satu kotak dengan garis tebal.

18:31:24 — Mas Salman menekan MUTE di Bus 5, Channel 7.

Catatan: MUTE ditekan 2 detik SEBELUM Mbak Cynthia menjawab.

Aku menatap kotak itu.

“Sebelum,” kataku.

“Sebelum, Mbak.” Raka mengangguk. “Aku duduk di sebelahnya. Aku lihat. Begitu Mbak Vina nanya itu siapa, pacar kamu, Mas Salman langsung pencet. Dia nggak nunggu Mbak jawab. Dia nggak tahu Mbak mau jawab apa.”

“Kenapa?”

Raka menatapku lama.

“Waktu itu aku juga nanya, Mbak. Nggak keras. Dalam hati.” Dia menggeleng. “Terus aku sadar. Kalau Mbak jawab iya, dan itu masuk stream, dunia Mbak meledak malam itu. Di depan ibu Mbak. Di depan lima ratus orang. Di depan semua akun gosip yang lagi nonton. Kalau Mbak jawab bukan...”

Dia berhenti.

“Mas Salman nggak mau ada yang dengar dua-duanya,” katanya pelan. “Dia mute biar apa pun jawabannya, cuma dia yang dengar.”

Aku menutup mulut dengan tangan.


“Raka,” bisikku. “Rekamannya ada?”

Raka diam.

“Raka.”

“Ada, Mbak.” Dia menatap laptopnya. “PFL nggak masuk ke stream. Tapi konsol sewaan itu nyimpen log semua bus monitor. Otomatis. Ke server TRAC.” Dia menelan ludah. “Aku udah unduh. Tadi malam. Abis Mbak chat.”

“Puter.”

“Mbak—”

“Puter, Raka.”

Raka menatapku lama. Lalu, pelan, dia mengklik sebuah file di laptopnya. Waveform muncul di layar besar. Garis-garis hijau yang naik turun.

Dia menekan play.

Speaker monitor di dinding master control menyala.

Suara tenda backstage. Riuh. Hairspray. Hak sepatu di lantai kayu. Gelak tawa stylist.

Lalu suara Mbak Vina. Dekat. Terlalu keras, seperti biasa.

“Ya ampun. Itu siapa, Cyn? Lucu banget bajunya. Kuning banget. Aku kira tadi ada lampu darurat nyala.”

Aku memejamkan mata.

“Tapi kok dia langsung ke kamu, Cyn? Kayak udah hafal. Kayak udah biasa. Itu siapa? Pacar kamu?”

Hening sepersekian detik di rekaman.

Lalu tawaku.

Aku mendengar tawaku sendiri keluar dari speaker monitor master control. Tawa tiga detik. Naik di awal, turun di akhir, berhenti tepat waktu. Tawa yang aku latih sejak umur sembilan tahun. Tawa yang selama dua tahun, setiap pagi, masuk ke headphone laki-laki yang duduk di kursi kosong di sebelah Raka.

Lalu suaraku.

“Bukan lah, Mbak. Cuma teknisi.”

Jeda.

“Kenal juga enggak terlalu.”

Raka menekan pause.

Master control sunyi.


Aku nggak menangis.

Itu yang aneh. Aku sudah menangis banyak minggu ini. Di basement Zona C. Di mobil. Di meja pojok Kedai Ruang Tunggu di depan lima mangkuk bakso dingin. Aku pikir air mataku sudah habis.

Tapi yang aku rasakan sekarang bukan sedih.

Aku mendengar suaraku sendiri dari luar. Dari speaker. Seperti penonton di rumah mendengar suaraku. Seperti dia mendengar suaraku.

Dan aku mendengar bunyinya.

Nadanya naik di kata bukan. Temponya cepat. Ada jeda sepersekian detik sebelum kenal, waktu otakku sedang menyusun versi alternatif dari kenyataan.

Kebohongan yang sempurna, dalam artian teknis.

Dia yang mengajariku mendengar itu. Di minimarket depan apartemenku, sambil makan roti sobek. Di chat jam dua pagi. Di basement Zona C, waktu dia bilang kamu lagi nahan napas. Tanpa sadar, selama tiga bulan, dia mengajariku mendengar seperti dia mendengar.

Dan sekarang aku mendengar.

Dan yang aku dengar adalah perempuan yang terdengar persis seperti Ibu.

Bukan suaranya. Suara Ibu lebih rendah, lebih tegas. Tapi caranya. Cara tawa itu berhenti tepat di detik ketiga. Cara kalimat itu diucapkan ringan, seperti menepis debu. Cara perempuan di rekaman itu memilih kamera daripada laki-laki yang barusan berlari enam belas lantai untuknya.

Ibu dua puluh tahun lalu dihancurkan oleh satu foto. Oleh orang-orang yang memilih gosip daripada kebenaran. Oleh dunia yang lebih peduli pada sudut kamera daripada siapa Ibu sebenarnya.

Dan malam gala, di depan Ibu, aku melakukan hal yang sama.

Ke orang lain.

Aku memilih sudut kamera.


“Masih ada, Mbak,” kata Raka pelan.

Aku membuka mata.

“Slide empat,” katanya. “Tapi kalau Mbak mau berhenti dulu...”

“Lanjut.”

Raka menekan tombol.

18:59:41 — IFB return Channel 7: Mbak Cynthia memanggil. “Teknisi channel tujuh.”

18:59:48 — Panggilan kedua. “Kalau dengar, ketuk dua kali.”

19:00:07 — IFB tone ditekan 2x.

Catatan: Jeda 26 detik dari panggilan pertama.

“Dua puluh enam detik,” kataku.

“Aku lihat tangannya, Mbak.” Suara Raka pecah. “Waktu Mbak manggil pertama kali, Mas Salman langsung gerakin tangan ke tombol IFB. Tombolnya warna oranye, di kiri atas, dia udah nyari dari waktu ngetes earpiece Mbak, soalnya dia tahu Mbak pasti manggil sebelum naik panggung.” Raka menelan ludah. “Terus tangannya berhenti. Satu senti di atas tombol. Gemetar.”

Aku menatap Raka.

“Gemetar banget, Mbak. Kayak orang kedinginan. Dia narik tangannya. Ngepalin. Buka lagi. Dia tarik napas. Aku dengar dia tarik napas, panjang banget, tiga kali.” Raka menghapus matanya dengan punggung tangan. “Terus waktu Mas Herman bilang lima, dia pencet. Dua kali. Nggak meleset.”

Lag, pikirku malam itu. Sistem sewaan. Murah. Pin konektornya bengkok.

Bukan lag.

Tangannya gemetar.

Dia menunggu sampai tangannya berhenti gemetar, supaya bip-nya nggak meleset. Supaya aku naik panggung dengan bunyi yang benar di telingaku.

Supaya aku nggak goyah.

Sesudah dia mendengar kenal juga enggak terlalu.


Slide lima.

19:00 – 22:02 — Mas Salman mixing gala. 3 jam 2 menit.

Catatan Raka: Mas Salman tidak mengangkat kepala satu kali pun selama acara. Tidak minum. Tidak bicara kecuali instruksi teknis. Kompresor Channel 7 diatur manual setiap segmen. EQ Channel 7 disesuaikan 47 kali (aku hitung dari log). Suara Mbak Cynthia malam itu adalah mixing terbaik yang pernah aku dengar di TRAC.

Waktu video kenangan TRAC tahun 2003 diputar (ada ibu Mbak Cynthia di video itu), suara Mbak pecah di kata “kenangan”. Mas Salman langsung naikin frekuensi tinggi supaya pecahnya kedengaran kayak haru, bukan kayak nangis.

Aku nggak bisa membaca lagi.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

Di gala, di atas panggung, di depan lima ratus orang dan Ibu yang menangis bangga, suaraku sempurna. Lebih dari sempurna. Hangat di tempat yang perlu hangat. Jernih di tempat yang perlu jernih. Ada sesuatu di mixing-nya malam itu, pikirku waktu itu, sesuatu yang membuat suaraku terdengar lebih kaya dari biasanya.

Empat puluh tujuh kali.

Empat puluh tujuh kali dia menyesuaikan suaraku, dengan kepala menunduk, dengan tangan yang mungkin masih gemetar, sesudah aku bilang dia cuma teknisi.

Supaya Ibu bisa menangis bangga.

Supaya aku sempurna.


“Mbak.”

Aku menurunkan tanganku.

Raka sudah menutup laptopnya. Layar besar di dinding kembali menampilkan siaran kanal tiga, iklan sabun cuci piring, tanpa suara.

“Satu lagi, Mbak,” katanya. “Bukan dari gala.”

Aku menunggu.

“Konsol mati,” kata Raka. “Tiga minggu lalu. Waktu Sapa Pagi. Mbak manggil di channel tujuh. Kalau kamu masih dengar.”

Aku menatapnya.

“Konsolnya mati jam enam dua puluh tiga lewat empat belas detik,” kata Raka. “Mbak manggil jam enam dua puluh tiga lewat sembilan detik. Mas Salman udah gerakin tangan ke tombol kuning.” Raka menunjuk konsol utama yang baru, di tempat konsol lama dulu berada. “Satu senti. Aku lihat lagi. Satu senti, Mbak. Terus semuanya mati.”

Aku nggak bisa bicara.

“Dua jam itu,” lanjut Raka, “bukan tim teknis. Pak Bambang baru datang jam delapan lewat sepuluh. Aku cuma colok kabel. Yang mixing dua jam pakai mixer analog yang dulu ditabrak troli, pakai tangan, tanpa preset, tanpa kompresor, itu Mas Salman.” Raka menatap mixer portabel di pojok ruangan, masih di atas troli, masih ditutup kain hitam. “Suara Mbak waktu itu bagus banget. Padahal Mbak nggak tidur. Aku tahu Mbak nggak tidur, soalnya Mas Salman bilang. Dia nggak bilang ke Mbak. Dia bilang ke mixer-nya. Dia nggak tidur lagi. Sambil muter kenop EQ.”

Aku menatap mixer portabel itu.

Lalu aku menatap kursi kosong di sebelah Raka.

Lalu aku menatap alas kosong di rak akrilik, dengan sticky note kuning yang bilang lagi tugas jaga di tempat lain.

Itu kamu? tanyaku di chat, hari itu, sesudah konsol mati.

Tim teknis. Raka sama aku sama Pak Bambang. Kerja tim.

Dia bohong.

Dia nggak pernah bohong. Dia bilang dia nggak pernah bohong soal burung, soal bakso, soal apa pun.

Tapi dia bohong ke aku. Soal itu.

Supaya aku nggak tahu dia masih ada di sana.

Supaya aku nggak merasa bersalah karena jeda.


“Raka,” kataku pelan. “Kenapa kamu tunjukin ini?”

Raka diam lama.

“Soalnya Mas Salman nggak akan pernah tunjukin, Mbak,” katanya akhirnya. “Nggak akan pernah. Dia bakal nyimpen ini di laci. Dia punya laci di kepalanya, Mbak, aku tahu, dia pernah cerita. Dia nyimpen semuanya di sana. Dan dia nggak pernah buka.”

Raka menatapku.

“Dan aku udah tiga bulan lihat dia nyimpen,” katanya. Suaranya pecah. “Aku lihat dia naik tangga dua ratus delapan puluh anak tangga tiap pagi biar nggak satu lift sama Mbak. Aku lihat dia joget di depan perkedel pakai bando kucing biar orang nggak curiga. Aku lihat dia nggak pakai earbud tiga minggu. Aku lihat dia mixing suara Mbak tiap pagi pakai preset kurang tidur, padahal kalian lagi jeda, padahal Mbak nggak manggil.” Raka mengusap hidung. “Aku cuma junior, Mbak. Aku cuma bisa bikin slide. Tapi aku nggak bisa lihat dia nyimpen terus.”

Aku berdiri.

Kakiku gemetar. Aku harus memegang pinggir meja konsol supaya nggak jatuh.

“Dia tahu kamu tunjukin ke aku?”

“Belum, Mbak.” Raka menunduk. “Nanti aku bilang. Dia bakal bilang Raka butuh hobi lain. Terus dia bakal maafin aku. Dia selalu maafin.”

Tentu saja.

Tentu saja dia akan memaafkan.


Aku keluar dari master control jam sepuluh lewat lima.

Aku nggak ke ruang rias. Aku nggak ke lift. Aku berjalan ke tangga darurat, membuka pintunya, dan duduk di anak tangga pertama.

Tangga darurat lantai empat belas. Tangga yang dia naiki setiap pagi. Dua ratus delapan puluh anak tangga. Demi cinta, katanya, sambil bercanda.

Aku duduk di sana dan menatap dinding beton di depanku.

Lalu aku mengeluarkan HP.

Bukan untuk menelepon Salman. Aku nggak bisa menelepon Salman. Aku nggak tahu harus bilang apa. Maaf terlalu kecil. Aku tahu terlalu tiba-tiba. Kenapa kamu nggak bilang terlalu nggak adil, karena aku tahu kenapa dia nggak bilang. Aku tahu, sekarang. Aku tahu semuanya.

Aku membuka galeri foto.

Menggulir ke atas. Jauh. Ke tahun-tahun lalu. Ke foto-foto yang aku simpan di folder tersembunyi, yang aku nggak pernah tunjukkan ke siapa-siapa.

Foto Ibu.

Foto dari tahun 2003. Screenshot dari arsip digital sebuah tabloid gosip. Foto yang buram, diambil dari balik jendela restoran. Ibu dengan rambut pendek dan blus putih, duduk di meja. Di seberangnya, seorang laki-laki berjas. Tangan laki-laki itu terulur ke arah Ibu. Dari sudut kamera itu, tangannya kelihatan seperti sedang menggenggam tangan Ibu.

Ibu bersumpah dia cuma memberikan sendok.

Aku menatap foto itu.

Dua puluh tahun Ibu hidup dengan foto itu. Dua puluh tahun Ibu mengajariku kamera selalu nyala. Dua puluh tahun aku tumbuh dengan satu ketakutan: bahwa satu momen, satu sudut, satu foto yang salah bisa menghancurkan segalanya.

Dan aku begitu takut kamera menangkap sesuatu yang salah tentang aku, sampai aku sendiri yang mengatakan sesuatu yang salah tentang orang lain.

Mic-nya nyala.

Kameranya nyala.

Ibu benar. Kamera selalu nyala.

Tapi Ibu salah soal yang satu ini. Yang perlu aku takuti bukan kamera.

Yang perlu aku takuti adalah apa yang aku katakan waktu aku pikir nggak ada yang dengar.


Aku duduk di tangga darurat lantai empat belas sampai jam sebelas.

Lalu HP-ku bergetar.

Dino: cyn
Dino: raka udah cerita?
Aku: udah
Dino: semuanya?
Aku: soal gala. soal konsol mati
Aku: din
Aku: naruto-nya ke mana?

Titik-titik mengetik muncul. Hilang. Muncul.

Dino: lo di mana
Aku: tangga darurat lantai 14
Dino: gue ke sana
Dino: gue bawa martabak
Dino: ini martabak darurat level 2

Aku: martabak darurat ada levelnya?

Dino: level 1 buat putus cinta
Dino: level 2 buat yang baru tahu sesuatu yang nggak bisa diubah
Dino: level 3 buat yang mau ngubah sesuatu
Dino: lo sekarang level 2
Dino: nanti gue cerita naruto, lo naik ke level 3

Aku menatap layar.

Lalu, untuk pertama kalinya hari itu, aku tertawa.

Satu kali. Pecah. Basah.

Di tangga darurat yang sepi, di antara lantai empat belas dan lantai tiga belas, dengan dinding beton dan lampu neon dan bau debu, aku tertawa sambil menangis, karena Dino Prasetyo punya sistem tingkatan martabak darurat, dan entah gimana, itu hal paling masuk akal yang aku dengar sepanjang pagi.

Sepuluh menit kemudian, pintu tangga darurat di lantai empat belas terbuka.

Dino muncul. Kotak martabak di tangan. Napas terengah-engah karena naik dari lantai dua puluh lewat tangga.

Dia duduk di anak tangga di sebelahku. Membuka kotak martabak. Keju cokelat.

Dia nggak bilang apa-apa dulu. Dia cuma menyodorkan satu potong.

Aku memakannya.

Lalu Dino menarik napas, menatap dinding beton di depan kami, dan mulai bercerita.

“Family Day,” katanya. “Lantai empat belas. Ada anak kecil. Namanya Bayu.”