Chapter One

Hoodie Nomor Tujuh

POV: Cynthia

Ada dua hal yang aku pelajari dari empat tahun kerja di dunia televisi.

Pertama, sepatu hak sebelas senti itu didesain oleh orang yang membenci perempuan.

Kedua, kamu boleh kesakitan, tapi wajahmu nggak boleh.

Jadi Sabtu malam itu, waktu aku melangkah masuk ke Kedai Ruang Tunggu dengan kaki yang rasanya sudah dipaku ke lantai sejak jam dua siang, aku tersenyum. Senyum yang sudah aku latih di depan cermin sejak umur sembilan tahun. Senyum yang bikin kasir minimarket lupa kasih kembalian dan bikin satpam TRAC Tower lupa minta kartu akses.

Dua cowok di meja dekat pintu berhenti mengunyah. Satu lagi pura-pura lihat menu, padahal menunya kebalik.

Aku sudah terbiasa. Cantik itu kerjaan juga, cuma nggak ada slip gajinya.

“Cyn! Sini!”

Meja pojok dekat rak buku. Meja kami. Pak Hendro, pemilik kedai yang rambutnya tinggal tujuh helai tapi semangatnya kayak anak magang, sampai menempelkan kertas bertuliskan RESERVED — RUANG TUNGGU FC di atasnya tiap dua minggu sekali. Nggak ada yang tahu FC itu singkatan apa. Diana bilang “Frustrasi Club”. Dino bilang “Fried Chicken”. Pak Hendro cuma senyum.

Diana sudah duduk di sana, dengan buku catatan bersampul batik yang aku tahu isinya berbahaya.

“Kamu telat empat belas menit,” katanya tanpa angkat kepala. “Dan kamu cantik banget sampai nyebelin. Duduk.”

Itu cara Diana bilang aku kangen.

Aku duduk pelan-pelan, mendorong kakiku ke bawah meja, dan diam-diam memiringkan tumit kiri keluar dari sepatu. Rasanya kayak surga turun ke pergelangan kaki.

“Promo shoot?” tanya Yura dari kursi sebelah.

Yura Kirana. Partner duo goddess-ku, kata orang-orang TRAC, walaupun kami berdua nggak pernah minta gelar itu. Malam itu dia pakai kemeja satin warna sage dan rambut digerai, dan entah gimana dia kelihatan kayak baru turun dari majalah walaupun yang dia pegang cuma es teh manis delapan ribu.

“Dari jam sepuluh,” jawabku. “Tujuh kali ganti baju. Fotografernya minta aku loncat. Pakai hak sebelas senti, Yur. Loncat.”

“Terus kamu loncat?”

“Aku profesional.”

“Jadi loncat.”

“Tiga belas kali.”

Yura meringis, ikut kesakitan. Itu yang aku suka dari Yura. Dia nggak perlu banyak kata.

Pintu kedai terbuka. Pelayan baru, anak magang yang baru kerja seminggu, sedang membawa nampan berisi tiga gelas es kopi susu. Dia menoleh ke pintu.

Lalu nampannya miring.

Lalu dua gelas es kopi susu meluncur pelan, sangat pelan, seperti adegan slow motion di film, dan mendarat di lantai dengan bunyi prak yang memilukan.

Erga Mahendra berdiri di ambang pintu, ganteng, bingung, dan basah di bagian sepatu.

“Maaf, Mas! Maaf banget! Saya nggak lihat—”

“Santai aja,” kata Erga dengan suara lembut yang bikin anak magang itu makin gemetar. “Kamu nggak kenapa-kenapa?”

Anak magang itu menggeleng, wajahnya merah sampai telinga, lalu kabur ke dapur dan nggak keluar lagi selama satu jam.

Diana membuka buku catatannya dan menulis sesuatu. “Korban nomor tiga puluh satu sejak Januari.”

“Itu bukan salahku,” kata Erga, duduk di sebelah Diana sambil mengelap sepatu pakai tisu.

“Lima kata,” kata Diana, menghitung pakai jari. “Ganteng itu bukan prestasi, Mas.”

“Itu enam kata.”

“‘Ganteng-itu-bukan-prestasi-Mas.’ Lima. ‘Mas’ itu partikel.”

“Itu bukan partikel.”

“Di hatiku partikel.”

Erga menatapnya dengan ekspresi yang... aneh. Kayak orang yang baru dipukul dan malah mau minta dipukul lagi. Aku sudah lihat ekspresi itu tiga malming berturut-turut, dan aku mulai curiga.

“DINO, JANGAN DIABISIN DULU, KAMI BELUM PESAN!”

Itu suara Pak Hendro dari balik meja kasir. Dino Prasetyo baru masuk lewat pintu samping. Entah gimana dia sudah memegang sepiring pisang goreng yang jelas-jelas bukan pesanannya.

“Ini pemanasan, Pak,” kata Dino sambil duduk. Kursinya berderit protes. “Pemain bola aja pemanasan. Masa aku nggak boleh.”

“Kamu bukan pemain bola.”

“Aku pemain pisang.”

Diana menulis lagi. Aku nggak mau tahu dia menulis apa.

Kami tinggal menunggu satu orang.

Dan seperti biasa, kami dengar dia sebelum kami lihat dia.

Dari luar, dari arah parkiran, terdengar potongan lagu Bollywood. Bukan dari speaker. Dari klakson. Melodi Chaiyya Chaiyya versi elektronik delapan bit, cempreng, keras, dan bangga. Kucing oranye Pak Hendro yang sedang tidur di kursi teras langsung bangun, menatap ke arah parkiran dengan wajah ya ampun, dia lagi, lalu pindah tidur ke dalam.

“Wati udah datang,” kata Yura.

“Wati udah datang,” ulang Dino sambil mengangguk khidmat, kayak menyambut tamu kenegaraan.

Pintu kedai terbuka lagi.

Salman Haikal masuk, menenteng helm putih, satu earbud di telinga kiri, dan memakai hoodie yang... Tuhan.

Hoodie itu warna kuning stabilo. Di dadanya ada gambar wajah karakter anime cowok berambut biru dengan mata berbinar-binar raksasa, mulut terbuka lebar seperti sedang berteriak penuh semangat. Di bawahnya ada tulisan Jepang yang nggak ada satu pun dari kami bisa baca.

Diana menatap hoodie itu lama. Lalu dia membuka buku catatannya ke halaman yang sudah dia tandai pakai pembatas berbentuk tengkorak.

“Hoodie nomor tujuh,” katanya dengan suara penyiar olahraga. “Pendatang baru. Kuning stabilo. Wajah karakter dengan ekspresi tolong saya. Tulisan tidak terbaca. Penilaian juri: delapan koma lima dari sepuluh untuk tingkat memalukan. Langsung masuk tiga besar klasemen.”

“Makasih,” kata Salman, tulus.

“Itu bukan pujian.”

“Aku tahu. Tapi tetap makasih. Kamu udah ngeluangin waktu buat menilai. Itu bentuk perhatian.”

Diana membuka mulut, menutupnya lagi, lalu menulis sesuatu dengan sangat keras sampai pulpennya berbunyi.

Salman nggak langsung duduk. Dia jalan dulu ke meja kasir, dan kami semua tahu ritualnya.

“Pak Hendro,” katanya serius. “Si Oren lagi mood apa malam ini?”

Pak Hendro menoleh ke kucing oranye yang barusan pindah tidur. “Agak sensitif. Tadi sore ditolak kucing tetangga.”

Salman mengangguk pelan, seolah baru menerima kabar duka. Dia jongkok di depan si Oren, menatapnya serius. “Santai, Ren. Ditolak itu bukan akhir. Luffy aja ditolak berkali-kali tetap jadi kapten.”

Si Oren menatapnya. Lalu menguap tepat di wajahnya.

“Dia ngerti,” kata Salman, berdiri. “Pak, bakso satu. Yang biasa.”

Ini kafe. Kafe estetik dengan lampu kuning, rak buku, dan menu berisi matcha latte dan croffle. Kafe ini tidak menjual bakso.

Tapi Pak Hendro membuka freezer di bawah meja kasir, mengeluarkan satu kantong bakso yang sudah dibungkus rapi bertuliskan spidol PUNYA SALMAN — JANGAN DIMAKAN (DINO), dan berjalan ke dapur tanpa protes.

Aku pernah tanya ke Pak Hendro kenapa dia mau repot-repot nyimpen bakso cuma buat satu pelanggan. Dia cuma bilang, “Waktu kedai ini mau tutup tahun lalu, dia yang tiap hari datang beli kopi tiga gelas padahal dia nggak suka kopi.” Lalu dia pergi sebelum aku bisa tanya lebih lanjut.

Itulah Salman. Kamu nggak pernah tahu apa yang dia lakukan sampai kamu nggak sengaja tahu.

Dia akhirnya duduk di kursi kosong di depanku. Satu-satunya kursi kosong. Dan seperti biasa, dia menatapku tepat di mata, bukan di bibir, bukan di leher, bukan di bagian mana pun yang biasa dilihat cowok-cowok di lobby. Di mata. Kayak aku orang biasa yang mau dia ajak ngobrol soal cuaca.

Aku nggak tahu kenapa itu bikin dadaku hangat.

“Cynthia,” katanya.

“Salman.”

“Kamu kayak orang yang lagi nahan kentut.”

Seluruh meja diam.

“...Apa?”

“Wajahmu senyum, tapi alisnya kerja keras. Itu ekspresi orang nahan sesuatu.” Dia memiringkan kepala. “Kalau bukan kentut, berarti sakit.”

Dino tersedak pisang goreng. Yura menutup mulut. Diana menulis sangat cepat.

“Aku nggak nahan apa-apa,” kataku, dengan senyum yang mulai retak di pinggir.

“Oke.” Dia mengangguk, menerima jawabanku tanpa debat. Lalu dia berdiri dan jalan keluar kedai.

Kami semua menatap pintu.

“Dia marah?” tanya Erga.

“Salman nggak pernah marah,” kata Dino dengan mulut penuh. “Paling dia mau ngecek Wati. Wati kalau ditinggal lama suka ngambek.”

“Motor nggak bisa ngambek.”

“Wati bisa.”

Dua menit kemudian Salman masuk lagi, duduk lagi, dan nggak bilang apa-apa. Dia cuma mengambil sendok, mengaduk teh manis yang barusan diantar, dan menatap layar HP-nya yang sedang memutar anime tanpa suara.

Lalu aku merasakan sesuatu di bawah meja.

Sesuatu menyentuh ujung kakiku. Bukan kaki orang. Sesuatu yang lembut, karet, dan didorong pelan-pelan ke arahku pakai ujung sepatu.

Aku melirik ke bawah.

Sepasang sandal jepit. Warna biru. Masih ada bekas label harga Rp15.000 yang setengah sobek.

Aku mengangkat kepala. Salman masih menatap HP-nya, wajahnya datar seperti orang yang nggak melakukan apa-apa.

“Sepatumu kayak egrang premium,” katanya pelan, tanpa menoleh. “Itu sandal. Bersih kok. Baru dipake ke masjid sekali.”

Aku nggak tahu harus ketawa atau nangis.

“Kenapa kamu bawa sandal di motor?”

“Wati punya jok yang luas. Sayang kalau kosong.” Dia akhirnya menoleh. “Isinya sandal, jas hujan, kabel charger, sambal sachet empat puluh bungkus, dan buku mewarnai.”

“Buku mewarnai?”

“Buat kalau aku stres.”

“Kamu pernah stres?”

Dia berpikir sangat lama. “Belum. Tapi siapa tahu.”

Aku melepas sepatu hak kananku di bawah meja, pelan-pelan, sambil tetap duduk tegak supaya nggak ada yang curiga. Lalu yang kiri. Lalu aku menyelipkan kakiku ke dalam sandal jepit seharga lima belas ribu itu.

Ya Tuhan.

Rasanya kayak pulang ke rumah sesudah perang.

Aku menghela napas panjang tanpa sadar, dan waktu aku mengangkat kepala, Salman sedang menatapku. Cuma sebentar. Lalu dia kembali ke HP-nya. Tapi sudut bibirnya naik sedikit, sedikit sekali, kayak orang yang puas karena barusan menyetel volume dengan tepat.

Yura menatapku. Lalu menatap Salman. Lalu kembali menatapku. Dia nggak bilang apa-apa, tapi alisnya naik satu milimeter.

Aku pura-pura sibuk dengan menu.


Satu jam kemudian, malming sudah masuk fase paling berbahaya: fase Dino minta Salman nyanyi.

“Satu lagu aja, Man. Satuuu aja. Buat konten.”

“Kontenmu itu konten makanan.”

“Makanan plus hiburan. Diversifikasi. Kata dosen bisnisku dulu, jangan taruh semua telur di satu keranjang.”

“Kamu nggak pernah kuliah bisnis.”

“Aku nonton YouTube-nya.”

Salman menghela napas seperti seorang seniman besar yang lelah dengan permintaan publik. Dia melepas earbud dari telinga kirinya, memasukkannya ke kotak, lalu memasangnya lagi.

“Kenapa kamu cuma pakai satu?” tanya Erga, yang ternyata sudah lama penasaran. “Dari dulu aku mau nanya. Yang kanan ke mana?”

Salman menatap Erga dengan serius. Terlalu serius untuk pertanyaan soal earbud.

“Satu buat dengar dunia,” katanya, menunjuk telinga kanannya yang kosong. “Satu buat lagu.” Dia menunjuk telinga kirinya. “Kalau dua-duanya buat lagu, aku nggak bisa dengar kalau ada orang manggil. Kalau dua-duanya buat dunia...” Dia diam sebentar. “Dunia terlalu berisik. Butuh lagu buat nyeimbangin.”

Untuk sepersekian detik, meja kami hening. Bukan hening canggung. Hening yang aneh, kayak semua orang barusan dengar sesuatu yang terlalu bagus untuk diucapkan cowok berhoodie kuning stabilo.

Lalu Salman menambahkan, “Itu bukan dari anime, ya. Itu asli aku. Aku bangga.”

Dan keheningan itu pecah.

“Nyanyi, Man!” teriak Dino.

Salman berdiri. Dia menaruh satu tangan di dada, tangan lain terulur ke arah lampu gantung seolah lampu itu Shah Rukh Khan yang sedang berdiri di atas gerbong kereta. Lalu dia mulai menyanyi.

Aku pernah dengar banyak penyanyi jelek. Aku pernah jadi host lomba karaoke tujuhbelasan di Bekasi, di mana seorang bapak menyanyikan lagu dangdut dengan nada yang bikin speakernya mati sendiri.

Tapi Salman level yang berbeda.

Suaranya bukan sekadar fals. Suaranya seperti nada-nada itu sedang berkelahi satu sama lain untuk keluar duluan. Naik di tempat yang seharusnya turun. Turun di tempat yang seharusnya naik. Di bagian reff dia memanjangkan satu kata selama tujuh detik, dan di detik kelima suaranya pecah seperti panci jatuh.

Pasangan di meja dekat jendela berhenti pacaran. Si Oren keluar dari kedai. Pak Hendro mematikan musik latar, bukan untuk protes, tapi supaya bisa dengar lebih jelas, karena dia sudah tertawa sampai memegang perut.

Diana menutup telinga, tapi bahunya bergetar. Erga tertawa sampai menelungkup ke meja. Dino merekam dengan HP sambil menangis. Yura menutup wajah dengan kedua tangan dan suaranya keluar seperti balon kempes.

Dan aku...

Aku tertawa.

Tawa itu datang dari perut, naik ke dada, dan hampir keluar dari mulutku dengan suara yang nggak pernah aku izinkan keluar di depan umum, suara yang terlalu keras, terlalu jelek, terlalu bukan Cynthia Larasati Wirawan dari Sapa Pagi TRAC.

Lalu, refleks, mataku melirik ke sekeliling kedai.

Meja dekat pintu. Dua cowok tadi. Salah satunya sedang memegang HP, mengarahkannya ke Salman.

Atau ke aku?

Aku menelan tawaku. Mengubahnya jadi senyum kecil yang anggun. Menutup mulut dengan punggung tangan, pelan, seperti perempuan di iklan sabun.

Di tengah lagunya, Salman melirikku.

Cuma sedetik. Matanya bergerak dari wajahku ke meja dekat pintu, lalu kembali ke wajahku. Dan sesuatu di matanya berubah. Bukan kecewa, bukan menghakimi. Lebih seperti orang yang baru saja mengerti sesuatu dan menyimpannya di laci.

Lalu dia menyanyi lebih keras. Lebih fals. Lebih parah. Dia naik ke kursi, satu kaki di atas meja, menunjuk ke arah dua cowok di dekat pintu sambil memanjangkan nada sampai suaranya habis.

Dua cowok itu tertawa terbahak-bahak. HP-nya jatuh ke meja. Mereka nggak lagi merekam apa-apa selain diri mereka sendiri yang menangis karena tertawa.

Dan semua mata di kedai itu sekarang menatap Salman. Bukan aku.

Aku nggak tahu apakah dia sengaja.

Aku nggak tahu, malam itu, bahwa nantinya aku akan menghabiskan banyak sekali malam untuk memikirkan pertanyaan itu.


Jam sebelas lewat, kami bubar di parkiran.

Erga menawarkan diri mengantar Diana, dan Diana menolak dengan lima kata (“Aku punya kaki, Mas Erga”), lalu naik ojek online. Erga berdiri lama menatap ojek itu menghilang di tikungan. Dino pulang membawa sisa pisang goreng orang lain. Yura dijemput sopirnya.

Aku berdiri di samping mobil, masih memakai sandal jepit biru, menenteng sepatu hak di tangan kiri.

Salman sedang memasang helm di samping Wati.

Wati itu motor listrik warna putih susu, bulat, mungil, kayak marshmallow beroda. Di bagian depannya ada stiker kecil bergambar mata anime yang berbinar, ditempel tepat di atas lampu, jadi kalau lampunya nyala, Wati kelihatan seperti sedang menatapmu dengan penuh harap.

“Sandalmu,” kataku, menyodorkan kakiku sedikit, nggak tahu harus ngapain. “Aku cuci dulu nanti, terus aku balikin.”

“Nggak usah.”

“Nggak enak, Man.”

Dia menatap sandal itu. Lalu menatapku. Lalu menatap sandal itu lagi, dengan wajah orang yang sedang mempertimbangkan keputusan penting di sidang PBB.

“Sandal itu udah milih kamu,” katanya akhirnya. “Aku nggak bisa misahin kalian.”

“Sandal nggak bisa milih.”

“Tadi pas kamu pakai, kamu narik napas panjang banget. Kayak orang baru pulang mudik.” Dia menyalakan Wati. Lampu depannya menyala, dan mata anime di stiker itu berbinar menatapku. “Itu bukan napas orang yang pakai sandal biasa. Itu napas jodoh.”

Aku tertawa. Kali ini lepas, karena parkiran sepi dan lampu jalannya redup dan nggak ada siapa-siapa selain kami berdua dan seekor motor bermata anime.

Dia nggak ikut tertawa. Dia cuma menatapku tertawa, dengan wajah datar yang sama, tapi entah kenapa wajah datarnya kelihatan... puas. Seperti teknisi yang barusan dengar suara yang sudah lama dia cari.

“Pulang hati-hati, Cyn.”

Klakson Wati berbunyi. Chaiyya Chaiyya versi delapan bit. Kucing oranye di teras menatap kami dengan kebencian murni.

Lalu dia pergi.

Aku masuk ke mobil, menaruh sepatu hak sebelas senti di jok belakang. Lalu, tanpa benar-benar berpikir, aku melepas sandal jepit biru itu, memasukkannya ke dalam paper bag bekas belanja, dan menaruhnya dengan hati-hati di dalam tas tanganku.

Tas tangan seharga dua bulan gaji, berisi sandal masjid lima belas ribu.

Di lampu merah pertama, aku melirik tas itu. Lalu tertawa sendirian di dalam mobil.

Anehnya, aku nggak malu.

Belum.