Chapter Eleven

Baterai Dua Persen

POV: Cynthia

Kali ini aku nggak bohong soal mobil.

Hari Kamis jam lima sore, aku berdiri di depan pintu master control lantai empat belas. Pertama kalinya aku ke sana. Pintunya berat, dengan kaca kecil berbentuk persegi panjang di bagian atas, dan di balik kaca itu aku bisa melihat ruangan yang redup, penuh layar, dan dingin seperti kulkas.

Dan dua puluh dua action figure yang berbaris di atas rak akrilik, menatapku seperti satpam.

Aku mengetuk.

Raka yang membuka. Dia menatapku, lalu wajahnya berubah seperti orang yang melihat hantu, kalau hantunya pakai blazer dan riasan siaran pagi.

“M-Mbak Cynthia?”

“Halo. Salman ada?”

Raka menoleh ke dalam ruangan, lalu kembali menatapku, lalu menoleh lagi, seperti otaknya butuh beberapa detik untuk memproses kenyataan bahwa presenter Sapa Pagi berdiri di depan pintu master control dan menanyakan Salman.

“Mas,” panggilnya ke dalam, dengan suara bergetar. “Mas Salman. Ada... ada tamu.”

Dari dalam ruangan, terdengar suara kursi berputar.

Lalu Salman muncul di belakang Raka. Hoodie hari ini warna kuning mustard, bergambar seekor anjing shiba yang sedang memakai kacamata hitam dan duduk di atas papan selancar. Satu earbud di telinga kiri. Sendok di tangan kanan. Ada sedikit kuah bakso di sudut bibirnya.

Dia menatapku.

“Cynthia.”

“Salman.”

“Kamu di lantai empat belas.”

“Iya.”

“Nggak ada orang dari lantai dua belas ke atas yang pernah ke lantai empat belas. Kecuali Pak Bambang. Dan Pak Bambang itu nggak dihitung, dia kerja di sini.”

“Aku tahu.”

Dia menatapku lebih lama. Lalu menyeka kuah di sudut bibirnya pakai punggung tangan. “Ada yang rusak? Mic? IEM?”

“Nggak ada yang rusak.”

“Mobil?”

Aku menarik napas. Di belakang Salman, Raka berdiri kaku seperti patung. Di rak akrilik, Naruto mode Sage menatapku dengan mata kuning bergaris.

“Mobilku nggak rusak,” kataku. “Nggak ada bunyi tik-tik-tik. Nggak ada lampu check engine. Mobilku sehat walafiat.”

“Oke.”

“Aku cuma mau naik Wati.”

Hening.

Raka menatapku. Lalu menatap Salman. Lalu menatapku lagi. Lalu dia mundur pelan-pelan ke kursinya, memasang headphone, dan pura-pura sangat sibuk dengan layar yang aku yakin sedang menampilkan screensaver.

Salman nggak bilang apa-apa selama tiga detik. Wajahnya datar.

Lalu dia mengangguk sekali.

“Jam tujuh,” katanya. “Wati di basement B2. Dia pasti senang.”

Dia menutup pintu. Pelan.

Aku berdiri di koridor lantai empat belas, menatap pintu itu, dan menyadari jantungku berdetak seperti baru lari dari lobby ke lantai tiga puluh.

Lalu, dari balik pintu, samar-samar, aku dengar suara Raka.

“Mas. Mas. Itu barusan beneran Mbak Cynthia?”

“Iya.”

“Dia bilang dia mau naik Wati?”

“Iya.”

“Mas, itu kode, Mas! Itu kode!”

“Itu bukan kode. Wati emang enak dinaikin.”

“MAS.”

Aku menutup mulut dengan kedua tangan dan berjalan cepat ke tangga darurat sebelum ada yang melihat wajahku.


Jam tujuh, basement B2.

Aku membawa helm putih berstiker kelinci. Aku pakai jaket denim besar. Aku pakai sandal jepit biru.

Aku nggak pakai masker. Aku nggak pakai kacamata hitam.

Tapi kaca helmku tetap aku turunkan. Itu kompromi. Aku belum seberani itu.

Salman sudah menunggu di samping Wati. Dia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu berhenti di sandalku, dan sudut bibirnya naik sedikit.

“Langitnya mendung,” katanya.

“Aku lihat.”

“Wati nggak suka hujan.”

“Kita bisa nunggu reda.”

“Kita bisa.” Dia menepuk jok Wati. “Tapi baterainya tinggal tiga puluh persen. Aku lupa ngecas tadi siang, soalnya ada tamu yang bikin Raka histeris sampai jam lima lewat.”

“Raka histeris?”

“Dia bikin presentasi di PowerPoint. Judulnya Analisis Kode Mbak Cynthia. Ada grafik.”

Aku menutup wajah dengan helm.

“Tiga puluh persen cukup sampai Kemang,” lanjut Salman, mengabaikan penderitaanku. “Kalau lewat jalan biasa. Kalau nggak ada kucing.”

“Selalu ada kucing.”

“Itu masalahnya.”


Hujan turun di Mampang.

Bukan gerimis. Hujan Jakarta yang langsung, deras, tanpa basa-basi, seperti langit tiba-tiba ingat dia punya utang air ke kota ini dan memutuskan melunasinya sekaligus.

Salman menepi di bawah jembatan penyeberangan. Dari jok Wati dia mengeluarkan dua jas hujan. Satu jas hujan transparan miliknya, yang sudah aku lihat sebelumnya. Satu lagi, masih dalam plastik, warna kuning cerah dengan gambar kelinci.

“Ini juga punya Wati?” tanyaku.

“Ini punya kamu.” Dia menyodorkannya. “Aku beli minggu lalu. Habis kamu beli helm.”

Aku menatap jas hujan kuning berkelinci itu. Lalu menatap Salman, yang sedang memakai jas hujannya sendiri dengan wajah datar.

“Kamu beli jas hujan buat aku?”

“Helm kamu ada kelincinya. Jas hujan juga harus ada kelincinya. Konsistensi.” Dia menarik tudung jas hujannya. “Seorang seniman harus punya konsep.”

Aku memakai jas hujan kuning itu. Kebesaran. Lengannya menutupi tanganku sampai ujung jari. Aku kelihatan seperti anak TK yang mau berangkat sekolah di musim hujan.

Salman menatapku lama.

“Apa?” tanyaku.

“Nggak.” Dia membuang muka ke Wati. “Kamu kelihatan kayak... udah, lupain. Ayo jalan.”

“Kayak apa?”

“Kayak mochi rasa pisang.”

“Itu pujian?”

“Aku suka mochi,” katanya, dan menyalakan Wati sebelum aku bisa membalas.


Wati melaju di bawah hujan.

Pelan. Empat puluh kilometer per jam. Lalu tiga puluh, karena genangan. Lalu dua puluh, karena genangannya makin dalam dan Salman bilang Wati nggak bisa berenang.

“Lubang,” katanya.

Byur.

“Lubang yang tergenang. Lebih licik.”

Byur.

“Itu bukan lubang. Itu bapak-bapak naik motor yang nyipratin kita. Licik juga.”

Aku tertawa di balik helm. Hujan menampar kaca helmku sampai aku hampir nggak bisa melihat apa-apa selain punggung jas hujan transparan Salman dan cahaya lampu-lampu jalan yang buram seperti lukisan cat air.

Di layar kecil di dasbor Wati, ada angka. Persentase baterai.

28%.

Lalu 24%.

Lalu, waktu kami terjebak macet di depan Pasar Mampang selama dua puluh menit karena ada mobil mogok di tengah genangan, angka itu turun tanpa kami bergerak sama sekali.

19%.

“Man,” kataku. “Kok turun? Kita kan diam.”

“Wati lagi stres. Kalau stres, dia boros.”

“Motor nggak bisa stres.”

“Kamu pernah lihat motor dua puluh menit diam di tengah hujan, dikelilingi klakson, nggak bisa ke mana-mana?” Dia menepuk setang Wati dengan lembut. “Itu stres, Cyn. Itu trauma.”

Angka itu turun jadi 17%.

Salman membungkuk sedikit ke arah dasbor. “Wati. Tenang. Tarik napas. Kita sebentar lagi jalan.”

16%.

“Dia nggak dengar kamu,” kataku.

“Dia dengar. Dia cuma lagi marah.”


Kami akhirnya lepas dari macet dan melaju lagi.

12%. Di Kemang Raya.

9%. Di perempatan dekat Bu RT, tapi Bu RT nggak ada, mungkin berteduh, dan Salman sempat bilang “Semoga Bu RT punya payung” dengan nada khawatir yang sangat tulus.

6%. Di jalan kecil yang gelap, dua kilometer dari apartemenku.

Lalu Wati mulai mengeluarkan bunyi.

Bunyi kecil. Tit. Tit. Tit. Seperti alarm microwave yang sedih.

“Itu apa?”

“Peringatan baterai rendah.” Salman memelankan laju Wati. “Dia minta tolong.”

Tit. Tit. Tit.

4%.

“Masih dua kilometer, Man.”

“Aku tahu.”

3%.

Wati melambat sendiri. Bukan karena kucing. Kali ini karena tenaganya memang habis. Dua puluh kilometer per jam. Lima belas. Sepuluh. Lalu Wati merayap seperti siput yang kelelahan, di tengah hujan deras, di jalan kecil Kemang yang gelap dan sepi.

2%.

Lalu angka itu berkedip.

Lalu layarnya padam.

Lalu Wati berhenti.

Di tengah jalan. Di bawah hujan. Dengan lampu depan yang perlahan meredup, mata anime berbinar di stikernya kelihatan seperti sedang menangis.

Hening. Cuma suara hujan menampar aspal.

Salman turun dari Wati. Membuka kaca helmnya. Menatap Wati lama.

Lalu dia jongkok di samping roda depan, menepuk-nepuk badan Wati dengan lembut, dan bilang, dengan suara pelan yang serius, “Udah, Wati. Kamu udah berjuang. Kamu hebat.”

Aku turun dari jok. Berdiri di tengah hujan dengan jas hujan kuning berkelinci yang kebesaran.

Aku seharusnya kesal. Aku seharusnya panik. Aku seharusnya membuka aplikasi taksi online dan meninggalkan Salman bersama motornya yang sudah mati.

Tapi melihat Salman jongkok di tengah hujan, menghibur motornya seperti menghibur anak kecil yang kalah lomba, aku cuma bisa tertawa.

“Gimana sekarang?” tanyaku di antara tawa.

Salman berdiri. Memegang setang Wati. Menatap jalan yang gelap di depan kami, dua kilometer, menanjak sedikit di ujungnya.

“Kita dorong,” katanya.


Dua kilometer itu jauh.

Aku tahu dua kilometer itu jauh, tapi aku nggak pernah benar-benar tahu, karena selama dua puluh enam tahun hidupku aku belum pernah mendorong motor sejauh itu. Di bawah hujan. Pakai sandal jepit. Pakai jas hujan kuning yang lengannya kebesaran sampai aku harus menggulungnya tiga kali.

Salman memegang setang di kiri. Aku mendorong dari belakang, dua tangan di bagian belakang jok.

Wati berat. Lebih berat dari kelihatannya. Kayak marshmallow yang ternyata diisi semen.

Lima menit pertama, kami nggak bicara. Cuma suara napas, suara hujan, dan suara roda Wati yang berderit pelan di atas aspal basah.

Lalu Salman mulai bernyanyi.

Bukan bersenandung. Menyanyi. Keras. Di tengah jalan Kemang yang sepi, di bawah hujan, dengan suara yang pecah dan meleset dan bertabrakan dengan bunyi guntur.

Chaiyya Chaiyya.

“Man!” teriakku. “Kenapa nyanyi?”

“Biar Wati semangat!” teriaknya balik, nggak berhenti mendorong. “Dulu Bapak kalau dorong motor mogok, nyanyi! Katanya motor itu kayak manusia! Kalau dikasih lagu, nggak kerasa berat!”

“Itu nggak ilmiah!”

“Banyak hal penting yang nggak ilmiah!”

Dia menyanyi lagi. Lebih keras. Lebih fals. Di bagian yang seharusnya naik, suaranya turun. Di bagian yang seharusnya turun, suaranya naik sampai pecah seperti genteng yang diinjak.

Seorang bapak satpam kompleks di pos jaga sebelah kanan jalan berdiri, menatap kami dengan mulut terbuka. Seekor anjing di balik pagar rumah menggonggong, lalu berhenti, lalu melolong, seperti mencoba ikut menyanyi.

Dan aku...

Aku mulai tertawa.

Tawa yang dimulai dari perut. Naik ke dada. Keluar lewat mulut dengan suara yang jelek dan terlalu keras dan nggak berbentuk, tawa yang tenggelam di bawah hujan dan nyanyian Salman dan lolongan anjing.

Aku tertawa sampai berhenti mendorong. Sampai harus berpegangan pada jok Wati supaya nggak jatuh. Sampai air hujan masuk ke mulutku dan aku tersedak dan tertawa lagi karena tersedak. Sampai aku mendorong kaca helmku ke atas, karena tawaku butuh udara, karena hujan di wajahku terasa dingin dan bersih dan aku nggak peduli maskaraku luntur.

Nggak ada kamera di sini. Nggak ada HP. Nggak ada akun gosip. Cuma jalan gelap, hujan deras, satpam yang bingung, anjing yang melolong, motor yang mati, dan laki-laki yang menyanyi fals sekuat tenaga supaya motornya nggak sedih.

Aku nggak tahu kapan terakhir kali aku tertawa seperti itu.

Mungkin nggak pernah.

Salman menoleh ke belakang. Masih menyanyi. Matanya menatapku dari balik helm, dan dia melihat aku tertawa dengan kaca helm terbuka, rambut basah menempel di pipi, maskara mengalir seperti air mata hitam.

Dan dia berhenti menyanyi.

Bukan karena lagunya habis. Dia berhenti di tengah kalimat. Diam. Menatapku. Hujan menampar wajahnya juga, karena kaca helmnya juga terbuka.

Wajahnya nggak datar.

Untuk pertama kalinya sejak aku kenal dia, wajah Salman Haikal nggak datar. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang terbuka, terkejut, dan lembut, seperti orang yang baru mendengar lagu favoritnya diputar dari radio yang dia kira sudah rusak.

“Kenapa berhenti?” tanyaku, masih sedikit tertawa.

Dia nggak menjawab. Dia cuma menatapku sebentar lagi. Lalu dia kembali menghadap depan, mendorong Wati, dan melanjutkan lagunya.

Lebih fals dari sebelumnya.

Kayak dia sengaja. Kayak dia mau tawaku nggak berhenti.


Di pertengahan jalan, tanganku mulai dingin.

Jari-jariku keriput. Ujungnya mati rasa. Jas hujan kuning itu melindungi badanku, tapi tanganku yang mendorong jok Wati nggak terlindungi apa-apa, dan hujan Jakarta di bulan ini dinginnya menusuk.

Aku meniup jariku. Menggosoknya ke celana. Nggak membantu.

Salman berhenti mendorong.

“Kenapa?” tanyaku.

Dia menyandarkan Wati ke standar samping. Lalu berjalan ke belakang, ke tempatku berdiri, dan menatap tanganku.

“Tanganmu dingin,” katanya.

“Nggak apa-apa—”

Dia mengangkat jas hujan transparannya di bagian depan, memperlihatkan hoodie kuning mustard bergambar anjing shiba berkacamata hitam. Hoodie yang, entah gimana, masih kering di bagian dalam. Di bagian perutnya ada saku besar, saku kanguru, yang membentang dari kiri ke kanan.

“Taruh sini,” katanya, menunjuk saku itu.

Aku menatap saku itu. Lalu menatapnya.

“Saku ini anti-hujan,” lanjutnya serius. “Garansi anime.”

“Garansi anime itu apa?”

“Artinya di anime, kalau ada cowok nyuruh cewek naruh tangan di sakunya, tangannya pasti hangat. Itu hukum alam anime.” Dia diam sebentar. “Aku belum pernah ngetes di dunia nyata. Tapi aku percaya.”

Aku menatapnya. Hujan mengalir di wajahnya. Ada tetesan air di bulu matanya. Wajahnya serius, sangat serius, seperti orang yang sedang menjelaskan teori fisika kuantum dan bukan teori saku hoodie.

Pelan-pelan, aku memasukkan kedua tanganku ke saku hoodie-nya.

Hangat.

Bukan cuma hangat. Hangat yang tiba-tiba, yang langsung menjalar dari ujung jari ke pergelangan tangan ke siku ke dada. Kain hoodie-nya lembut di bagian dalam, sedikit berbulu, dan di balik kain itu ada perutnya, dan aku bisa merasakan napasnya naik turun. Lebih cepat dari seharusnya.

Lalu tangannya juga masuk ke saku itu.

Dari sisi yang lain. Tangan kanannya. Masuk pelan-pelan, seperti dia nggak yakin boleh atau nggak, lalu menemukan tanganku di dalam kegelapan saku itu.

Dan menggenggamnya.

Aku berhenti bernapas.

Kami berdiri seperti itu di tengah jalan Kemang yang gelap, di bawah hujan deras, dengan Wati yang mati tersandar di sebelah kami dan satpam kompleks yang masih menonton dari pos jaga. Dua tanganku di saku hoodie anjing shiba berkacamata hitam. Satu tangan Salman menggenggam tangan kananku di dalam saku itu, hangat, kasar di bagian telapak, seperti tangan orang yang sering memegang kabel dan fader dan sendok bakso.

“Udah hangat?” tanyanya pelan.

“...Udah.”

“Garansi anime terbukti.” Dia mengangguk sekali. Suaranya stabil. Tapi telinganya, telinga yang nggak tertutup helm sepenuhnya, merah sampai ke ujung.

Aku nggak melepas tanganku.

Dia juga nggak.


Kami nggak bisa mendorong Wati sambil gandengan di dalam saku hoodie. Itu secara fisik nggak mungkin. Kami mencobanya selama tiga meter, dan hasilnya Wati hampir jatuh ke selokan.

Jadi kami berhenti di halte.

Halte bus kecil di pinggir jalan, dengan atap seng yang berisik dan bangku besi yang dingin. Kosong. Lampunya berkedip-kedip seperti lampu di film horor.

Salman menyandarkan Wati di depan halte. Lalu duduk di bangku besi. Aku duduk di sebelahnya. Tanganku sudah keluar dari saku hoodie-nya, karena kami harus mendorong Wati ke halte, dan sekarang tanganku terasa dingin lagi. Dingin dan kosong.

Hujan masih deras. Atap seng di atas kami berbunyi seperti drum yang dipukul seribu orang.

“Aku telepon bengkel,” kata Salman, mengeluarkan HP. “Ada bengkel motor listrik di Kemang yang buka sampai jam sepuluh. Mereka bisa bawa charger portabel.”

Dia menelepon. Bicara sebentar. Menutup telepon.

“Dua puluh menit,” katanya. “Kamu bisa pesan taksi kalau mau. Dari sini ke apartemenmu tinggal satu kilometer.”

Aku menatap jalan. Satu kilometer. Taksi online bisa datang dalam lima menit. Aku bisa sampai di apartemen yang hangat, mandi air panas, ganti baju kering, dan tidur.

“Nggak,” jawabku. “Aku tunggu.”

Dia menoleh. “Kamu basah.”

“Kamu juga.”

“Aku udah biasa basah. Wati sering mogok.”

“Kalau gitu aku juga mau biasa.”

Dia menatapku lama. Lampu halte berkedip. Terang. Gelap. Terang.

Lalu aku menggigil.

Bukan menggigil dramatis. Cuma satu getaran kecil, dari bahu ke punggung, karena jas hujan kuning itu ternyata bocor di bagian leher dan air hujan merembes ke bajuku.

Salman langsung melepas jas hujannya. Lalu berdiri. Lalu mulai melepas hoodie-nya.

“Man, nggak usah—”

“Ini masih kering di dalam. Kamu pakai.”

“Terus kamu pakai apa?”

“Aku pakai kaus.” Dia menunjuk dadanya. Di balik hoodie, ada kaus hitam polos. “Kaus ini anti-dingin. Garansi—”

“Jangan bilang garansi anime.”

“Garansi Ibu. Ibu yang beli.”

Dan aku nggak tahu apa yang terjadi di kepalaku saat itu.

Mungkin karena dingin. Mungkin karena hujan. Mungkin karena aku baru saja tertawa paling lepas seumur hidupku sambil mendorong motor mati di bawah hujan, dan tanganku baru saja digenggam di dalam saku hoodie anjing shiba, dan sekarang laki-laki ini mau melepas satu-satunya pakaian kering yang dia punya supaya aku nggak kedinginan.

Mungkin karena semua itu.

Aku berdiri. Melangkah ke depannya. Menahan tangannya yang sedang menarik hoodie ke atas, supaya hoodie-nya tetap di badannya.

Lalu aku memeluknya.

Dua tangan melingkar di pinggangnya. Pipiku menempel di dadanya, di gambar anjing shiba berkacamata hitam. Jas hujan kuningku yang basah menempel di hoodie-nya yang kering, dan aku tahu aku sedang membuatnya basah juga, tapi aku nggak peduli.

Dia membeku.

Seluruh badannya berhenti. Tangannya masih di udara, setengah terangkat, seperti robot yang kehabisan baterai. Kayak Wati di dua persen.

“Dingin,” kataku, ke dadanya. Suaraku keluar teredam. “Aku cuma kedinginan.”

Itu bohong. Kami berdua tahu itu bohong.

Dan dia, yang bisa membedakan napas orang yang tidur tiga jam dan empat jam, yang bisa tahu orang abis telepon nggak enak dari cara jalannya, yang bisa dengar tawa yang ditelan dari seberang meja, pasti tahu itu bohong.

Tapi dia nggak bilang apa-apa.

Pelan-pelan, sangat pelan, tangannya turun. Satu tangan di punggungku. Satu tangan di belakang kepalaku, di atas rambut basah yang menempel di leher. Dia nggak memelukku erat. Dia memelukku seperti memegang figure Naruto edisi terbatas. Hati-hati. Seolah aku bisa pecah.

Di dadanya, di bawah pipiku, aku bisa mendengar jantungnya.

Cepat. Kacau. Nggak beraturan.

Fals.

Atap seng di atas kami berbunyi seperti drum. Lampu halte berkedip. Wati diam di depan kami, mata animenya yang sudah padam menatap ke arah jalan, seolah sengaja membuang muka untuk memberi kami privasi.

“Cyn,” katanya pelan, di atas kepalaku.

“Hm.”

“Kamu dengar jantungku?”

“Dengar.”

“Bunyinya gimana?”

Aku diam sebentar. Mendengarkan.

“Fals,” jawabku.

Dia tertawa. Pelan. Untuk pertama kalinya aku mendengar Salman tertawa dari dekat, dari dalam dadanya, getarannya sampai ke pipiku. Tawa yang rendah dan hangat dan sedikit serak.

“Iya,” katanya. “Dari tadi dia fals terus. Sejak kamu masukin tangan ke sakuku.”

Aku memejamkan mata.

Dan kami berdiri seperti itu, di halte yang lampunya berkedip-kedip, sampai mobil bengkel datang dua puluh menit kemudian. Montirnya turun, melihat kami, lalu berbalik dan pura-pura sangat sibuk dengan charger portabelnya selama lima menit penuh.


Wati hidup lagi jam sepuluh lewat.

Montirnya menancapkan charger portabel, dan dalam lima belas menit, angka di dasbor naik ke dua puluh persen. Lampu depannya menyala. Mata anime di stikernya berbinar lagi.

Salman menepuk badan Wati dengan lega. “Selamat datang kembali.”

Montirnya menatap Salman. Lalu menatapku. Lalu menatap Wati.

“Mas,” katanya. “Motornya namanya Wati?”

“Iya.”

“Lucu, Mas. Kayak nama mantan saya.”

Salman menatapnya dengan simpati yang tulus. “Turut berduka, Mas.”

Montir itu tertawa dan pergi, menolak dibayar lebih dari tarif normal, dan bilang kami pasangan paling lucu yang pernah dia tolong.

Kami nggak mengoreksinya.


Satu kilometer terakhir, Wati melaju di bawah gerimis.

Aku duduk di belakang Salman. Kaca helmku terbuka. Kedua tanganku melingkar di pinggangnya, bukan ujung jaket, bukan dua jari, bukan tiga.

Kali ini, tanganku masuk ke saku hoodie-nya dari belakang.

Dan di dalam saku itu, tangannya sudah menunggu.