Chapter Thirty

Meja untuk Enam

POV: Cynthia

Malming pertama sesudah jeda dibatalkan hari Kamis.

Nggak ada yang secara resmi membatalkannya. Itu yang aneh. Biasanya, setiap Kamis malam sebelum malming, Diana mengirim pesan ke grup dengan format yang sama selama dua tahun: Sabtu jam 7. Meja pojok. Yang telat bayar kentang goreng. Lalu semua orang membalas dengan stiker, emoji, atau, dalam kasus Salman, foto Wati dengan takarir wati hadir.

Kamis itu, Diana nggak mengirim pesan.

Jumat pagi, grup masih sepi.

Jumat siang, Dino yang mengirim.

Dino: guys sabtu jadi kan?
Dino: jam 7?
Erga: aduh din
Erga: sabtu ini aku ada shooting jumat manis spesial
Erga: episode ulang tahun TRAC digital. sampai malem
Erga: maaf ya
Yura: aku izin dulu ya din
Yura: lagi butuh waktu sendiri
Yura: maaf 🤍
Salman: lembur
Salman: konsol utama baru dateng dari singapura. harus dipasang
Salman: maaf din

Aku menatap grup itu dari kasur, di apartemenku, dengan hoodie Anya yang sudah aku pakai tiga malam berturut-turut tanpa dicuci.

Aku harus menjawab.

Aku ada acara. Itu bohong. Aku nggak ada acara apa-apa. Aku cuma nggak bisa duduk di meja pojok Kedai Ruang Tunggu di seberang Salman, di jarak satu meter, dengan sandal jepit di kakiku dan Yura di sebelahku dan Diana yang menatap kami semua dengan wajah yang tahu terlalu banyak.

Aku nggak bisa.

Aku: maaf din, aku ada acara

Diana nggak membalas sama sekali.

Lima menit kemudian, Dino mengirim satu pesan.

Dino: oke
Dino: nggak apa-apa guys
Dino: next time


Malming kedua dibatalkan dua minggu kemudian.

Kali ini Dino mengirim pesan hari Rabu. Lebih awal. Seperti dia berharap kalau dia bertanya lebih awal, orang-orang punya waktu lebih banyak untuk memutuskan datang.

Dino: guys sabtu ini malming ya
Dino: gue udah booking meja pojok
Dino: pak hendro bilang dia bakal nyiapin bakso dari freezer salman
Dino: masih ada 3 kantong

Nggak ada yang membalas sampai Jumat.

Lalu Erga: maaf din, aku harus ke Bandung, nenekku sakit. Itu benar. Aku tahu, karena Erga bercerita di set Jumat Manis dengan mata merah.

Lalu Yura: din aku masih belum bisa. maaf.

Lalu Salman: lembur. Satu kata.

Lalu aku: maaf. Juga satu kata. Tanpa alasan. Aku sudah kehabisan alasan.

Diana nggak membalas. Lagi.

Dino membalas setengah jam kemudian.

Dino: oke
Dino: 👍


Malming ketiga.

Aku nggak membaca pesan Dino. Aku melihat notifikasinya muncul di layar hari Rabu, dan aku membiarkannya. Aku nggak membukanya. Aku nggak membalas.

Aku tahu isinya. Aku tahu Dino akan menulis guys sabtu ini malming. Aku tahu orang-orang akan membalas dengan alasan. Aku tahu Diana nggak akan membalas.

Dan aku tahu aku akan menulis maaf.

Jadi aku nggak membukanya. Karena kalau aku nggak membukanya, aku nggak perlu menulis maaf. Dan kalau aku nggak menulis maaf, aku nggak perlu merasakan apa yang aku rasakan setiap kali menulisnya.

Itu logika yang sangat bodoh.

Tapi sudah lima minggu sejak jeda, dan aku sudah berhenti mengharapkan logikaku sendiri masuk akal.


Lima minggu.

Lima minggu aku nggak memanggil di channel tujuh.

Lima minggu aku membuka Sapa Pagi jam enam dengan suara yang, setiap pagi, terdengar lebih bagus dari yang seharusnya. Aku nggak tidur. Aku tahu aku nggak tidur. Tapi suaraku di monitor terdengar seperti orang yang tidur delapan jam.

Aku tahu kenapa.

Preset SAPA PAGI — KURANG TIDUR. Kompresor tipis. Frekuensi tengah-atas dinaikkan. Frekuensi rendah dipotong.

Dia masih melakukannya.

Lima minggu jeda. Lima minggu tiga meter. Lima minggu dia nggak bicara padaku kecuali selamat pagi, Mbak Cynthia di koridor dengan nada sopan seorang teknisi kepada presenter.

Dan setiap pagi, jam enam, dia masih menambal suaraku.

Aku nggak tahu harus merasa apa soal itu. Kadang aku merasa marah. Kalau dia masih peduli, kenapa jeda? Kadang aku merasa hangat, seperti menemukan selimut di tempat yang nggak terduga. Kadang aku cuma merasa capek.

Dan setiap pagi, sesudah siaran, aku membuka kotak putih kecil di loker ruang rias. Earbud kanan. Aku menatapnya. Lalu menutupnya lagi.

Aku belum memakainya sejak malam di Zona C.


Hari Sabtu malam ketiga itu, jam delapan, aku menyetir tanpa tujuan.

Aku nggak tahu kenapa aku keluar. Aku sudah mandi, sudah pakai piyama, sudah berbaring di kasur dengan hoodie Anya. Lalu jam tujuh lewat empat puluh lima, tiba-tiba aku bangun. Ganti baju. Kaus, jeans, sandal jepit biru. Ambil kunci mobil.

Aku menyetir.

Melewati Kemang. Melewati jalan kecil tempat Bu RT biasa duduk, yang malam itu kosong. Melewati minimarket tempat Wati pernah dicas di stopkontak kulkas es krim. Melewati halte bus kecil dengan atap seng dan lampu yang berkedip-kedip, tempat aku pernah bilang dingin, aku cuma kedinginan.

Lalu, tanpa benar-benar memutuskan, aku belok ke jalan yang menuju Kedai Ruang Tunggu.

Aku nggak mau masuk. Aku cuma mau lewat. Aku cuma mau melihat jendelanya. Lampu kuning hangatnya. Rak bukunya. Mungkin si Oren di kursi teras.

Aku cuma mau melihat.

Aku memelankan mobil di depan kafe.

Lampunya menyala. Kuning hangat. Si Oren tidur di kursi teras, seperti biasa. Lewat jendela kaca besar, aku bisa melihat ke dalam. Meja-meja. Rak buku. Pasangan mahasiswa di meja dekat jendela, yang aku nggak kenal.

Dan meja pojok.

Ada orang di meja pojok.

Aku menghentikan mobil.


Dino duduk sendirian di meja pojok.

Kertas RESERVED — RUANG TUNGGU FC masih ditempel di atas meja. Kertas yang sama, yang Pak Hendro tempel setiap dua minggu sekali selama dua tahun.

Dan di atas meja, ada enam mangkuk bakso.

Enam.

Satu di depan Dino. Lima di sekeliling meja, di depan lima kursi kosong. Masing-masing dengan sendok, garpu, dan gelas es teh manis. Uap tipis masih naik dari beberapa mangkuk. Yang lain sudah nggak mengepul. Sudah dingin.

Dino sedang makan baksonya sendiri. Pelan. Sendok demi sendok. Matanya menatap HP yang disandarkan ke toples sambal di tengah meja. Layarnya gelap. Nggak menyala.

Dia nggak sedang merekam.

Dia cuma makan. Sendirian. Di meja untuk enam.

Aku duduk di mobil, di depan kafe, dengan mesin masih menyala dan tangan di setir, dan aku nggak bisa bernapas.


Aku masuk.

Pintu kafe berbunyi klinting. Pak Hendro di balik meja kasir mengangkat kepala. Melihatku. Wajahnya berubah, dari datar ke terkejut ke sesuatu yang lega dan sedih sekaligus.

Dino nggak menoleh. Dia masih menatap HP yang gelap.

Aku berjalan ke meja pojok. Berhenti di samping kursi kosong di seberangnya.

Kursiku. Kursi yang biasa aku duduki. Di depannya, mangkuk bakso yang sudah dingin. Dan di samping mangkuk itu, ada tisu yang dilipat dua, ditegakkan seperti kartu nama di acara pernikahan.

Ada tulisan di tisu itu. Spidol hitam. Tulisan tangan Dino yang besar dan miring.

CYNTHIA. (Nggak habis. Mubazir. Kasih ke Salman.)

Aku menatap tisu itu.

Lalu aku menatap mangkuk-mangkuk lain.

Di depan kursi Salman: SALMAN. (Level 5. Nonton anime. Jangan ganggu.)

Di depan kursi Diana: DIANA. (Sambal level 6. Merasa terhormat.)

Di depan kursi Erga: ERGA. (Lauk tambahan. Jangan pakai parfum.)

Di depan kursi Yura: YURA. (Kerupuk bawang. BUKAN UDANG. SUDAH DICEK. AMAN.)

Aku menutup mulut dengan tangan.

Dino akhirnya menoleh. Melihatku. Sendoknya berhenti di udara.

“Cyn?”

Aku nggak bisa bicara.

Dino menatapku lama. Lalu menatap tisu-tisu di depan mangkuk-mangkuk itu. Lalu kembali menatapku. Wajahnya berubah merah. Bukan merah karena level sembilan. Merah karena malu.

“Ini...” Dia menurunkan sendoknya. “Ini bukan... ini bukan aneh-aneh, Cyn. Ini cuma... gue cuma...”

“Kamu datang tiap malming?” bisikku.

Dino diam.

“Tiga kali?”

Dia menatap mangkuknya. Mengangguk pelan.

“Pak Hendro tetep nyiapin meja,” katanya. “Tiap dua minggu. Dia tempel kertas reserved-nya. Dia keluarin bakso dari freezer Salman.” Dino mengangkat bahu. “Gue nggak tega ngebatalin meja, Cyn. Pak Hendro udah siap-siap. Gue nggak tega bilang nggak usah, Pak, nggak ada yang datang.”

Aku duduk di kursiku. Pelan. Di depan mangkuk bakso yang sudah dingin dan tisu bertuliskan namaku.

“Terus kenapa enam mangkuk?”

Dino menatap mangkuk-mangkuk itu.

“Soalnya kalau gue pesen satu,” katanya pelan, “rasanya kayak malming beneran udah nggak ada.”


Pak Hendro datang ke meja kami lima menit kemudian. Membawa teko teh panas dan dua gelas baru. Dia menaruhnya di meja, lalu, nggak seperti biasanya, dia nggak kembali ke meja kasir.

Dia menarik kursi. Kursi Diana. Dan duduk.

“Mbak Cynthia,” katanya. “Akhirnya ada yang datang.”

“Maaf, Pak.”

“Jangan minta maaf ke saya.” Dia menuang teh ke gelas. “Minta maaf ke Mas Dino. Dia yang tiga kali duduk di sini sendirian. Makan enam mangkuk. Satu dimakan, lima dibawa pulang. Bungkus. Katanya mubazir.”

Dino menunduk.

“Lima mangkuk?” Aku menatap Dino. “Kamu bawa pulang lima mangkuk bakso?”

“Gue kasih ke satpam kompleks,” gumamnya. “Ke tukang parkir. Ke ojol yang mangkal di depan kos. Mereka seneng.” Dia diam sebentar. “Mubazir itu dosa, Cyn. Bu Nur yang bilang.”

Aku menatap Dino. Dino Prasetyo. Yang selalu tertawa paling keras di malming. Yang selalu pulang paling akhir. Yang membuat konten makan dengan suara pembawa acara lima kali lebih keras dari suara manusia normal.

“Din,” kataku pelan. “Kamu oke?”

Dino menatap mangkuknya lama.

Lalu dia tertawa. Tawa yang pendek dan kering. Tawa yang bukan tawa.

“Lo tahu nggak, Cyn,” katanya, “kenapa gue bikin Dino Doyan?”

Aku menggeleng.

“Keluarga gue di Medan,” katanya. “Bapak, Ibu, tiga adik. Gue merantau ke Jakarta lima tahun lalu. Kerja di TRAC. Kos sendirian di Tebet. Kamar tiga kali tiga, kayak kamarnya Salman, tapi nggak ada ibunya yang masak bakso di sebelah.”

Dia memutar sendok di mangkuknya.

“Tahun pertama gue makan sendirian tiap malam. Nasi bungkus di kamar kos. Nonton YouTube. Terus suatu malam gue iseng, gue rekam diri gue makan. Ngomong ke kamera kayak ngomong ke orang. Halo guys, malam ini gue makan nasi padang. Dan rasanya...” Dia berhenti. “Rasanya kayak makan sama orang. Walaupun nggak ada yang nonton. Walaupun cuma kamera.”

Aku nggak bisa bicara.

“Terus gue ketemu kalian,” lanjut Dino. “Di lift nomor empat. Dua tahun lalu. Terus ada malming. Terus gue nggak perlu kamera lagi.” Dia menatap meja untuk enam. Lima kursi kosong. Lima mangkuk dingin. “Gue nggak perlu ngomong ke kamera, soalnya gue punya kalian buat diajak ngomong.”

Dia mengangkat kepala. Menatapku. Matanya merah.

“Gue tahu gue cuma Dino, Cyn. Gue tahu gue yang tukang makan. Yang lucu. Yang kalau ada apa-apa, nggak ada yang cerita ke gue duluan, soalnya gue kan cuma Dino. Gue nggak apa-apa soal itu. Gue suka jadi yang lucu.” Suaranya pecah. “Tapi gue yang paling ketawa di meja ini, Cyn. Dan gue juga yang paling takut ditinggal.”


Aku menangis.

Di meja pojok Kedai Ruang Tunggu. Di depan Pak Hendro dan Dino dan lima mangkuk bakso dingin dan tisu-tisu bertuliskan nama.

Dino ikut menangis. Bukan menangis badut. Menangis jelek, dengan hidung meler dan bahu bergetar.

Pak Hendro mendorong kotak tisu ke tengah meja. Lalu, karena kotak tisu itu habis, dia mengambil tisu-tisu yang ditegakkan di depan mangkuk-mangkuk. Tisu bertuliskan SALMAN. Tisu bertuliskan DIANA. Dan menyodorkannya ke kami.

Aku menghapus air mataku dengan tisu bertuliskan ERGA (Lauk tambahan. Jangan pakai parfum.).

Dino menghapus ingusnya dengan tisu bertuliskan YURA (Kerupuk bawang. BUKAN UDANG. SUDAH DICEK. AMAN.).

Lalu kami menatap tisu-tisu itu.

Lalu, entah kenapa, kami tertawa.

Tawa yang basah. Tawa yang pecah di tengah tangis. Dino tertawa sampai harus memegang meja. Aku tertawa sampai tisu Erga robek di tanganku. Pak Hendro menatap kami berdua, menggeleng-gelengkan kepala, dan sudut bibirnya bergetar.

“Kalian ini,” katanya. “Kayak anak-anak saya.”


Sesudah tawa reda, Pak Hendro bicara lagi.

“Mbak Cynthia tahu nggak, siapa yang tiap Kamis telepon saya buat booking meja ini?”

Aku menggeleng. “Dino?”

“Bukan. Mas Dino baru booking tiga kali ini.” Pak Hendro menuang teh lagi. “Dua tahun. Tiap Kamis, jam delapan malam, telepon saya. Satu orang. Selalu sama.”

Dia menatapku.

“Mbak Diana.”

Aku membeku.

“Dia telepon tiap Kamis,” lanjut Pak Hendro. “Dia bilang, Pak, Sabtu jam tujuh, meja pojok, enam orang. Tolong siapin bakso Salman dari freezer. Tolong taruh kerupuk bawang buat Yura. Tolong jangan taruh vas bunga di meja, Erga bawa parfum, nanti saya bersin. Dia hafal semua. Dia yang ngatur.” Pak Hendro tersenyum. “Waktu Mas Erga ultah, dia yang telepon saya minta saya siapin kue. Waktu Mbak Yura ultah, dia yang minta saya putar lagu kesukaan Mbak Yura pas Mbak Yura masuk. Waktu Mbak Cynthia ultah...”

“Kue tiramisu,” bisikku. “Tahun lalu. Ada tiramisu di meja. Aku kira dari Pak Hendro.”

“Dari Mbak Diana.” Pak Hendro mengangguk. “Dia yang bayar. Dia bilang jangan bilang siapa-siapa.”

Aku menatap kursi Diana. Kursi yang sekarang diduduki Pak Hendro.

Diana. Diana Puspitasari. Yang selalu bilang aku nggak pernah dilihat, jadi aman. Yang selalu bergeser lima senti. Yang menulis klasemen hoodie dengan kejam dan nggak pernah sekali pun lupa membacakannya.

Yang selama dua tahun diam-diam menelepon Pak Hendro tiap Kamis.

Lalu aku teringat sesuatu.

“Pak,” kataku. “Nomor yang Diana kasih ke Erga.”

Pak Hendro menatapku.

“Waktu Erga minta nomor Diana di depan lift,” lanjutku pelan, “Diana kasih nomor Bapak.”

Pak Hendro diam sebentar. Lalu tertawa. Tawa yang keras dan tulus.

“Ya Allah,” katanya. “Iya. Mas Erga pernah telepon saya, terus bingung, terus nutup. Saya kira salah sambung.” Dia menggeleng-gelengkan kepala. “Mbak Diana kasih nomor saya. Soalnya itu nomor yang paling sering dia telepon. Nomor yang paling dia hafal.”

Dino tertawa sambil masih menangis. “Dia kasih nomor Pak Hendro. Ke Erga. Soalnya dia lebih hafal nomor tukang bakso daripada nomornya sendiri.”

“Saya bukan tukang bakso,” kata Pak Hendro. “Saya pemilik kafe estetik.”

“Yang jual bakso, Pak.”

“Yang nyimpen bakso. Beda.”


Lalu Pak Hendro berhenti tertawa.

Dia menatap kami berdua. Lalu menatap sekeliling kafenya. Lampu kuning. Rak buku. Majalah arsitektur. Kucing di teras.

“Mas Dino, Mbak Cynthia,” katanya pelan. “Saya mau bilang sesuatu. Tadinya saya mau bilang ke kalian berenam. Tapi kalian cuma berdua yang datang. Jadi saya bilang ke kalian aja dulu.”

Aku menatapnya. Dino menatapnya.

“Akhir bulan ini,” kata Pak Hendro, “Kedai Ruang Tunggu saya jual.”

Hening.

Dino menjatuhkan sendok.

“Kenapa, Pak?” bisikku.

Pak Hendro menghela napas. Napas yang panjang dan lelah, napas laki-laki berumur enam puluh dua tahun yang sudah terlalu lama menahannya.

“Sewa naik,” katanya. “Pemilik gedung mau naikin tiga puluh persen tahun depan. Kafe ini nggak kuat. Pelanggan sepi. Anak-anak muda sekarang lebih suka kafe yang ada di Instagram, yang lampunya neon, yang kopinya pakai susu oat.” Dia menatap rak bukunya. “Dan lutut saya juga udah nggak kuat. Tiap pagi naik turun tangga ke gudang, tiap malam berdiri di balik kasir. Anak saya di Solo minta saya pindah ke sana. Dia bilang, Pak, udah, istirahat.”

“Tapi, Pak—”

“Waktu kafe ini mau tutup tahun lalu,” lanjut Pak Hendro, “Mas Salman datang tiap hari. Beli kopi tiga gelas, padahal dia nggak suka kopi. Dia bilang, Pak, kafe ini harus tetap buka, soalnya kalau tutup, kami nggak punya tempat buat jadi kami.” Pak Hendro tersenyum. Senyum yang sedih. “Itu yang bikin saya bertahan setahun lagi. Tapi tahun ini...”

Dia menatap meja untuk enam. Lima kursi kosong.

“Tahun ini kalian juga nggak datang,” katanya pelan. “Jadi saya pikir, mungkin kalian udah punya tempat lain buat jadi kalian.”


Aku menatap meja itu.

Enam mangkuk. Lima dingin, satu setengah dimakan. Lima tisu bertuliskan nama, sekarang kusut dan basah karena dipakai menghapus air mata. Kertas RESERVED — RUANG TUNGGU FC di tengah meja.

Lalu aku menatap mangkukku.

Bakso urat. Mi kuning. Sawi. Kuah yang sudah dingin dan sedikit berminyak di permukaannya.

CYNTHIA. (Nggak habis. Mubazir. Kasih ke Salman.)

Aku mengambil sendok.

Dan aku makan.

Bakso yang dingin. Kuah yang dingin. Mi yang sudah lembek. Aku makan semuanya. Pelan. Sendok demi sendok. Sementara Dino dan Pak Hendro menatapku tanpa bicara.

Aku menghabiskannya. Sampai kuahnya. Sampai mangkuknya kosong.

Lalu aku menaruh sendok di dalam mangkuk kosong itu. Ting.

“Habis,” kataku.

Dino menatap mangkukku.

“Nggak ada yang buat Salman,” kataku. Suaraku pecah. “Aku habisin sendiri.”


Aku pulang jam sebelas.

Dino mengantarku sampai mobil. Di parkiran, sebelum aku masuk, dia berhenti.

“Cyn.”

“Hm.”

“Rahasia badut yang gue simpen buat Salman.” Dia menatapku. “Belum saatnya gue cerita. Tapi gue mau bilang satu hal.”

Aku menunggu.

“Lo tahu figure Naruto di master control? Yang di tengah? Yang paling tinggi?”

“Yang boleh lihat, nggak boleh pegang?”

“Iya.” Dino diam sebentar. “Lo pernah lihat lagi akhir-akhir ini?”

Aku berpikir. Aku nggak pernah masuk master control lagi sejak malam Pak Darto mengepel satu ubin tiga kali. Lima minggu lebih.

“Nggak,” jawabku.

Dino mengangguk pelan.

“Coba lihat,” katanya. “Kapan-kapan. Lihat alasnya.”

Lalu dia berbalik dan berjalan ke motornya, dan aku berdiri di samping mobilku, di bawah lampu parkiran Kedai Ruang Tunggu, dengan sandal jepit biru dan perut penuh bakso dingin.


Di mobil, aku nggak langsung menyalakan mesin.

Aku duduk di sana. Menatap jendela kafe. Pak Hendro sedang mencabut kertas RESERVED — RUANG TUNGGU FC dari meja pojok. Melipatnya. Memasukkannya ke saku celemek.

Lalu dia mematikan lampu.

Kafe gelap.

Aku mengambil HP. Membuka grup RUANG TUNGGU FC. Pesan Dino hari Rabu yang nggak aku buka. Aku membukanya sekarang.

Dino: guys sabtu ini malming
Dino: gue tahu kalian sibuk
Dino: gue tahu ada apa-apa yang gue nggak ngerti
Dino: tapi gue tetep datang
Dino: meja pojok, jam 7
Dino: kalau ada yang mau datang, gue di sana
Dino: kalau nggak ada, nggak apa-apa
Dino: gue makan bakso aja sambil nunggu

Di bawahnya, nggak ada balasan. Dari siapa pun.

Aku menatap pesan itu lama.

Nggak apa-apa.

Dino juga bilang itu.

Semua orang yang aku sayang bilang itu. Salman. Dino. Bahkan aku sendiri, di master control, ke dada Salman, waktu aku melihat Yura naik Wati dengan kaca helm terbuka.

Nggak apa-apa.

Dan semuanya bohong.

Aku menutup grup itu.

Lalu aku membuka chat lain. Chat yang belum pernah aku buka sebelumnya. Nomor yang aku simpan dari grup Analisis Kode Mbak Cynthia yang ternyata nggak sengaja aku masuki waktu Raka salah add, dua bulan lalu, dan aku keluar dalam lima detik, tapi nomornya sudah tersimpan.

Raka (Master Control).

Aku mengetik.

Aku: raka
Aku: ini cynthia
Aku: maaf ganggu malem-malem

Aku menatap layar. Jam sebelas lewat lima belas. Mungkin dia sudah tidur.

Dua centang biru. Langsung.

Titik-titik mengetik muncul.

Raka: mbak cynthia?
Raka: iya mbak, belum tidur
Raka: ada apa mbak?

Aku menarik napas.

Lalu aku menanyakan pertanyaan yang sudah lima minggu menempel di belakang kepalaku. Pertanyaan yang muncul pertama kali jam dua pagi, sesudah jeda, waktu aku duduk di kasur dan jantungku fals.

Aku: apa yang terjadi malam gala?

Dua centang biru.

Titik-titik mengetik nggak muncul.

Satu menit. Dua menit. Lima menit.

Lalu, akhirnya:

Raka: mbak
Raka: besok bisa ke master control?
Raka: jam 9 pagi. abis sapa pagi
Raka: mas salman libur besok. shift-nya ganti
Raka: aku tunjukin

Aku: tunjukin apa?

Raka: log audio gala, mbak

Lalu satu pesan lagi.

Raka: maaf mbak
Raka: harusnya dari dulu