Chapter Thirty Three
Diana Mogok
POV: Cynthia
Meja Diana ada di pojok paling belakang divisi variety, lantai dua puluh dua.
Aku belum pernah ke sana. Dua tahun kenal Diana, dua tahun malming, dua tahun makan siang di meja bundar sudut kanan, dan aku belum pernah melihat meja kerjanya. Diana selalu yang datang ke kami. Ke kantin. Ke kafe. Ke ruang rias, sesekali, kalau dia butuh pendapat soal naskah.
Kami nggak pernah datang ke dia.
Aku baru menyadari itu waktu berdiri di depan pintu kaca divisi variety jam sebelas pagi, hari Selasa, dengan dua gelas kopi di tangan dan wajah yang sudah dirias ulang supaya nggak kelihatan habis menangis dua hari berturut-turut.
Seorang creative muda di dekat pintu menatapku. “Mbak Cynthia? Cari siapa, Mbak?”
“Diana.”
Dia menunjuk ke pojok belakang. “Mbak Diana di sana, Mbak. Yang mejanya penuh kertas.”
Penuh kertas adalah pernyataan yang sangat sopan.
Meja Diana itu bukan meja. Itu benteng. Tumpukan naskah di sisi kiri, setinggi monitor. Tumpukan storyboard di sisi kanan. Sticky note warna-warni menempel di setiap permukaan yang bisa ditempeli: monitor, lampu meja, gelas pensil, bahkan di punggung kursi. Ada papan gabus kecil di dinding di belakangnya, penuh dengan potongan kertas yang ditusuk paku payung.
Dan di sudut meja, di antara tumpukan naskah dan gelas pensil, ada toples kaca bekas selai.
Di dalamnya, bunga matahari.
Kering. Kelopaknya sudah cokelat dan rapuh. Tangkainya bengkok sedikit. Tapi masih utuh, dan toplesnya bersih, seperti seseorang rajin mengelapnya.
Aku menatap bunga itu lama.
Diana duduk di balik benteng kertasnya, mengetik di laptop dengan kecepatan yang mengerikan. Kacamata di ujung hidung. Rambut pendek diikat asal dengan pensil.
Dia nggak mengangkat kepala.
“Kalau kamu ke sini buat minta maaf soal malming,” katanya sambil terus mengetik, “aku sibuk.”
Aku menaruh satu gelas kopi di atas tumpukan naskah, di satu-satunya permukaan yang rata.
“Bukan soal malming,” kataku.
Diana berhenti mengetik.
Dia mengangkat kepala. Menatapku dari balik kacamata. Menatap kopi. Menatapku lagi.
“Itu americano,” katanya.
“Tanpa gula. Ekstra panas. Kamu selalu pesan itu di kantin waktu deadline.”
Diana menatapku lebih lama.
“Kamu nggak pernah perhatiin aku pesan apa,” katanya pelan.
“Aku tahu,” kataku. “Aku baru mulai belajar.”
Kami bicara di tangga darurat lantai dua puluh dua.
Diana yang memilih tempatnya. Dia bilang divisi variety punya terlalu banyak telinga, dan setengah dari telinga itu bekerja sebagai penulis naskah, dan penulis naskah itu, katanya, pemburu dialog. Apa pun yang kami bicarakan di sana akan muncul di sketsa komedi bulan depan.
Kami duduk di anak tangga yang sama. Kopi di tangan masing-masing.
“Pak Hendro cerita,” kataku.
Diana diam.
“Soal telepon tiap Kamis. Dua tahun.” Aku menatap kopiku. “Soal kerupuk bawang buat Yura. Soal vas bunga yang jangan ditaruh di meja karena Erga pakai parfum. Soal kue ulang tahun.” Aku menelan ludah. “Soal tiramisu.”
Diana tetap diam.
“Aku kira tiramisu itu dari Pak Hendro, Di. Aku makan dua potong. Aku bilang makasih, Pak ke Pak Hendro. Pak Hendro senyum aja.”
“Pak Hendro jago nyimpen rahasia,” kata Diana. Datar.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Diana menyesap kopinya. Lama.
“Buat apa?” tanyanya. “Biar orang bilang makasih, Di? Biar aku dapat tepuk tangan?” Dia menggeleng. “Aku penulis naskah, Cyn. Kerjaanku bikin orang lain kelihatan bagus di depan kamera. Kalian yang on air. Aku yang di belakang. Itu bukan masalah. Aku suka di belakang.”
“Terus kenapa berhenti?”
Diana nggak langsung menjawab.
Dia menatap dinding beton di depan kami. Lalu menatap kopinya. Lalu menghela napas. Napas yang panjang dan lelah, napas yang nggak pernah aku dengar dari Diana, karena Diana nggak pernah capek, Diana selalu siap dengan lima kata.
“Karena aku capek,” katanya.
“Dua tahun aku telepon Pak Hendro tiap Kamis,” kata Diana pelan. “Dua tahun aku kirim pesan ke grup tiap Kamis malam. Sabtu jam tujuh, meja pojok, yang telat bayar kentang goreng. Format yang sama. Dua tahun.” Dia memutar gelas kopinya. “Nggak ada yang pernah nanya siapa yang booking meja. Nggak ada yang pernah nanya kenapa selalu ada kerupuk bawang. Nggak ada yang pernah nanya kenapa nggak pernah ada vas bunga.”
“Di—”
“Aku nggak nyalahin kalian. Serius. Aku nggak minta ditanya.” Dia menggeleng. “Tapi tiga bulan lalu, semuanya mulai aneh. Kamu tiba-tiba pakai sandal jepit, terus tiba-tiba pakai sepatu hak lagi. Salman tiba-tiba pakai bando kucing, terus tiba-tiba pakai hoodie polos. Yura tiba-tiba cium pipi orang di depan lobby. Erga tiba-tiba dijodohin satu Indonesia sama kamu.” Diana menatapku. “Dan nggak ada yang cerita apa-apa ke aku.”
Aku menunduk.
“Semua orang sibuk sama urusannya sendiri,” lanjut Diana. “Kamu sama rahasiamu. Yura sama lukanya. Erga sama kapal bohongannya. Salman sama apa pun yang bikin dia berhenti pakai earbud. Dino...” Dia diam sebentar. “Dino sama martabak, kayak biasa.”
“Dino nggak cuma sama martabak, Di.”
“Aku tahu.” Suara Diana melunak. “Sekarang aku tahu.”
Dia menatap kopinya.
“Jadi aku mikir,” katanya. “Kalau aku berhenti, ada yang nyadar nggak? Kalau aku nggak kirim pesan hari Kamis, ada yang nanya nggak? Kalau aku nggak telepon Pak Hendro, meja pojok masih ada nggak?” Dia tersenyum. Senyum yang kecil dan pahit. “Itu eksperimen. Eksperimen jahat. Aku tahu.”
“Terus hasilnya?”
Diana menatapku.
“Cuma Dino,” katanya. “Cuma Dino yang nyadar. Cuma Dino yang kirim pesan hari Rabu. Cuma Dino yang booking meja. Cuma Dino yang datang tiga kali dan makan sendirian.” Dia menelan ludah. “Aku tahu dia datang. Pak Hendro telepon aku. Tiap Sabtu malam, jam sembilan. Mbak Diana, Mas Dino sendirian lagi.”
Aku menatapnya.
“Dan kamu nggak datang?”
“Aku nggak bisa.” Suara Diana pecah. Sedikit. Di kata bisa. “Kalau aku datang, aku harus duduk di sana, di meja yang aku booking dua tahun, dan lihat empat kursi kosong. Dan aku harus terima bahwa yang bikin meja itu penuh bukan meja itu. Bukan aku. Bukan kerupuk bawang. Bukan pesan hari Kamis.” Dia memejamkan mata. “Yang bikin meja itu penuh itu kalian. Dan kalian lagi nggak ada.”
Aku nggak tahu harus bilang apa.
Jadi aku bilang yang benar.
“Di,” kataku. “Aku pacaran sama Salman.”
Diana membuka mata. Menoleh ke arahku. Lambat.
“Dari dua bulan lalu,” lanjutku. “Rahasia. Aku yang minta. Aku bilang jangan bilang siapa-siapa dulu. Aku bilang ke Erga aku single. Aku bilang ke kalian aku ada acara. Aku jalan tiga meter di depan dia di lobby.”
Diana menatapku. Wajahnya nggak berubah.
“Terus malam gala,” kataku, dan suaraku mulai bergetar, “Mbak Vina nanya dia siapa. Di depan Ibu. Di depan semua orang di backstage. Dan aku bilang...”
Aku berhenti.
Aku menarik napas.
“Aku bilang dia cuma teknisi,” kataku. “Kenal juga enggak terlalu.”
Tangga darurat sunyi.
“Dan mic-ku nyala, Di,” bisikku. “Dia dengar. Lewat headphone. Dia mute biar nggak masuk live stream. Terus dia mixing suaraku tiga jam. Biar aku sempurna. Biar Ibu bangga.”
Diana nggak bergerak.
“Terus dia minta jeda,” lanjutku. “Biar aku nggak capek jaga jarak. Dan dia nggak bilang kenapa. Dan aku baru tahu dua hari lalu. Dari Raka. Dari log audio.” Aku menutup mata. “Terus aku baru tahu kemarin, dari Dino, soal Naruto. Soal anak hilang di Family Day. Dia kasih figure paling berharganya ke anak yang nangis sendirian di koridor. Dan dia nggak cerita ke aku. Dan aku duduk di sebelahnya sore itu, bawa es kelapa, dan aku nggak nanya.”
Aku membuka mata. Menatap Diana.
“Aku nggak pernah nanya, Di,” kataku. “Ke dia. Ke kamu. Ke Dino. Aku nggak pernah nanya siapa yang booking meja. Aku nggak pernah nanya kenapa mixing-nya pelan. Aku nggak pernah nanya kenapa dia pergi tanpa pamit malam gala.” Air mataku jatuh. “Aku terlalu sibuk ngitung jarak.”
Diana menatapku lama.
Lalu dia menaruh gelas kopinya di anak tangga.
Lalu dia mengangkat tangan kanan.
Satu jari.
“Kamu.”
Dua jari.
“Bodoh.”
Aku menatapnya.
Tiga jari.
“Tapi.”
Empat jari.
“Masih.”
Lima jari.
“Bisa.”
Dia menurunkan tangannya.
“Lima kata,” katanya. “Pas. Nggak ada konsep. Nggak ada partikel.”
Aku tertawa.
Tawa yang pecah, basah, dan jelek, di tangga darurat lantai dua puluh dua. Diana menatapku tertawa sambil menangis, lalu, pelan, sudut bibirnya naik. Lalu dia ikut tertawa. Tawa Diana yang jarang, yang pendek dan kering dan keluar dari tenggorokan seperti batuk.
“Kenal juga enggak terlalu,” ulang Diana di antara tawa. Lalu dia menggeleng-gelengkan kepala. “Ya Tuhan, Cyn. Itu dialog terburuk yang pernah aku dengar. Aku penulis naskah. Aku nggak akan pernah nulis dialog sejelek itu. Penonton bakal lempar remote ke TV.”
“Aku tahu.”
“Penonton bakal bikin akun benci khusus buat karakter yang ngomong gitu.”
“Aku tahu, Di.”
“Tapi,” kata Diana, dan tawanya mereda, dan suaranya jadi pelan lagi, “karakter yang paling dibenci di episode sepuluh biasanya jadi karakter yang paling disayang di episode empat puluh. Kalau penulisnya pinter.” Dia menatapku. “Kalau karakternya mau berubah.”
Aku menatapnya.
“Kamu mau berubah?” tanyanya.
“Aku mau ngubah jaraknya,” kataku. “Aku udah bilang ke Dino. Dia bilang aku butuh martabak telor. Protein.”
Diana menatapku lama. Lalu tertawa lagi. Lebih keras.
“Dino punya sistem martabak?”
“Tiga level.”
“Ya Tuhan.” Diana menutup wajah dengan tangan. “Aku harus masukin itu ke naskah.”
Sore itu, jam empat, aku menemukan Erga di set Jumat Manis.
Bukan hari Jumat. Selasa. Tapi Erga ada di studio enam, sendirian, duduk di belakang meja marmer palsu yang dipakai untuk segmen masak, membaca naskah episode minggu depan dengan wajah orang yang sedang membaca hukuman mati.
“Ga.”
Dia mengangkat kepala. Tersenyum. Senyum lelah. “Cyn. Kamu udah baca naskah minggu depan? Kita disuruh bikin kue ulang tahun berbentuk logo TRAC. Tiga tingkat. Tiga tingkat, Cyn. Aku nggak bisa bikin telur dadar bentuk lingkaran.”
Aku duduk di kursi di seberangnya.
“Ga,” kataku. “ErCyn nggak ada.”
Erga menatapku.
“Kapalnya,” lanjutku. “ErCyn. Yang trending. Yang ada fan edit pakai lagu Tulus. Yang bikin Diana nutup pintu di depan kamu waktu ronde tiga.” Aku menarik napas. “Kapal itu nggak ada. Aku punya pacar.”
Erga terus menatapku.
“Salman,” kataku.
Erga nggak bilang apa-apa selama lima detik.
Lalu dia menaruh naskah di meja marmer palsu. Pelan. Dan menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Aku tahu,” katanya.
Aku mengerjap. “Kamu tahu?”
“Aku nggak tahu tahu. Aku curiga.” Erga mengangkat bahu. “Malam gala. Di backstage. Waktu Mbak Vina nanya, terus kamu jawab.” Dia menatapku. “Aku lihat wajahmu waktu kamu ngomong itu, Cyn. Kamu presenter. Kamu jago banget. Tapi aku produser. Aku udah tujuh tahun lihat orang bohong di depan kamera.”
Aku menunduk.
“Terus aku lihat Salman nggak pernah ngangkat kepala di booth,” lanjut Erga. “Tiga jam. Aku lihat dari panggung. Aku pikir dia lagi sibuk. Tapi Salman itu orang yang selalu ngedipin lampu meja sound kalau ada yang dia sayang lagi di panggung. Aku lihat dia ngelakuin itu buat kamu di Family Day.” Erga menghela napas. “Malam gala, lampunya nggak kedip.”
“Kenapa kamu nggak bilang apa-apa?”
“Soalnya itu bukan urusanku.” Erga tersenyum kecil. “Dan soalnya aku lagi sibuk kalah di ronde tiga gara-gara kapal yang nggak ada.”
Aku tertawa. Sedikit. Basah.
“Maaf, Ga.”
“Jangan minta maaf ke aku.” Erga mengambil naskah lagi. “Minta maaf ke Diana. Dia yang nutup pintu. Aku cuma yang berdiri di depannya.”
“Aku udah ngomong sama Diana. Tadi pagi.”
Erga berhenti. Menatapku.
“Dia...” Erga menelan ludah. “Dia nanya soal aku?”
“Nggak.”
Wajah Erga jatuh.
“Tapi di mejanya ada bunga matahari,” kataku. “Kering. Di toples bekas selai. Toplesnya bersih banget, Ga. Kayak dilap tiap hari.”
Erga membeku.
Lalu, pelan-pelan, wajahnya berubah. Dari lelah, ke bingung, ke sesuatu yang aku belum pernah lihat di wajah Erga Mahendra. Sesuatu yang seperti orang yang baru diberi tahu bahwa lotre yang dia beli dua tahun lalu ternyata menang.
“Bunga matahari yang...”
“Yang dari ronde dua,” kataku. “Yang kamu bawa pakai kemeja putih yang wangi musk.”
Erga menatap naskah di tangannya. Lalu menatap aku. Lalu menatap naskah lagi.
Lalu dia berdiri.
“Aku harus ngapain?” tanyanya. Panik. “Cyn. Aku harus ngapain sekarang?”
“Kamu bisa mulai,” kataku, “dengan ngatur malming.”
Erga mengatur malming dengan cara Erga.
Yaitu dengan spreadsheet.
Rabu pagi, dia mengirim tautan Google Sheets ke grup RUANG TUNGGU FC. Judulnya: RENCANA MALMING KEMBALI — VERSI 1 (DRAF). Ada kolom nama, kolom konfirmasi kehadiran, kolom preferensi makanan, kolom alergi, kolom transportasi, dan kolom catatan khusus.
Di kolom catatan khusus, di baris Diana, ada catatan kaki.
¹ Jangan taruh vas bunga di meja (alergi). Erga TIDAK pakai parfum (sudah dicek, hanya sabun mandi merek biasa, tanpa musk).
Diana membalas di grup satu menit kemudian.
Diana: kamu bikin spreadsheet buat malming
Erga: iya
Diana: pakai catatan kaki
Erga: iya
Diana: kamu tahu kan nggak ada orang yang bikin malming pakai catatan kaki
Erga: aku orang pertama
Erga: pionir
Diana: ...
Diana: catatan kaki nomor 1 itu
Diana: itu kamu riset sendiri?
Erga: aku tanya pak hendro
Erga: nomor yang kamu kasih ke aku dulu ternyata nomor pak hendro
Erga: aku telepon. aku bilang “pak ini erga yang dulu salah sambung”
Erga: pak hendro ketawa 5 menit
Erga: terus dia cerita semua
Erga: soal kamis. soal 2 tahun. soal kerupuk bawang. soal vas bunga.
Erga: soal tiramisu
Diana nggak membalas.
Satu menit. Dua menit. Lima menit.
Lalu:
Diana: lima kata
Diana: pak hendro nggak bisa dipercaya
Erga: itu empat kata
Diana: “pak hendro” itu satu konsep
Erga: jadi tiga kata
Diana: ya udah tiga kata
Diana: sisanya dua kata aku simpan
Diana: buat nanti
Dino membalas di bawahnya dengan tujuh belas emoji menangis, dua emoji martabak, dan satu stiker kucing samurai yang entah dari mana dia dapat.
Kamis sore, ruang rias lantai dua belas.
Yura sedang duduk di kursi rias paling ujung. Kursi yang biasa aku pakai. Dia sedang membaca naskah TRAC Malam, kacamata baca di hidung, rambut diikat. Kaus putih polos di balik kardigan.
Aku masuk. Berhenti di ambang pintu.
Yura mengangkat kepala. Menatapku lewat cermin.
Kami belum bicara sejak malming. Sejak aku bangga. Sejak anggukan di koridor. Tiga minggu. Lebih lama dari yang pernah kami nggak bicara selama dua tahun.
Aku berjalan ke kursi di sebelahnya. Duduk.
Kami menatap pantulan kami di cermin. Dua perempuan. Satu dengan blazer putih sisa Sapa Pagi. Satu dengan kardigan krem.
“Yur,” kataku.
“Hm.”
“Kamu bilang aku malu jalan sama dia.”
Yura diam.
“Kamu benar,” kataku.
Yura menurunkan naskahnya. Pelan. Menatapku lewat cermin.
“Aku juga salah, Cyn,” katanya. “Aku nampar kamu pakai cara yang jahat. Aku tahu kamu lagi sakit, dan aku tetap nampar.” Dia menelan ludah. “Diana bilang aku nyakitin tiga orang. Dia benar.”
“Kamu nyakitin aku karena aku nyakitin dia.”
“Itu bukan alasan.”
“Bukan,” aku setuju. “Tapi itu kenyataan.”
Kami diam lagi.
Lalu, di bawah meja rias, di tempat yang nggak kelihatan di cermin, tangan Yura bergerak. Ke tanganku. Jari-jarinya menyentuh jari-jariku. Ragu. Seperti orang yang nggak yakin boleh atau nggak.
Aku menggenggamnya.
Kami nggak bilang apa-apa. Kami cuma duduk di sana, di depan cermin rias, dua goddess TRAC yang dua tahun duduk bersebelahan dan tiga minggu terakhir nggak bicara, bergandengan tangan di bawah meja.
Belum selesai.
Aku tahu belum selesai. Masih banyak yang harus kami bicarakan. Soal hoodie nomor tujuh. Soal cium pipi di lobby. Soal rooftop. Soal baris empat puluh satu yang, Yura bilang ke Diana, dia simpan di dompetnya.
Tapi ini awal.
“Yur,” kataku pelan. “Dia nolak kamu karena aku?”
Yura menatapku lewat cermin. Lama.
“Dia nolak aku,” katanya, “karena dia masih nunggu kamu belajar.”
Aku memejamkan mata.
“Aku lagi belajar,” bisikku.
Yura meremas tanganku. Sekali.
“Aku tahu,” katanya. “Kelihatan kok. Kamu pakai sandal lagi.”
Aku menatap kakiku di bawah meja rias.
Sandal jepit biru.
Sabtu malam, Kedai Ruang Tunggu.
Malming pertama dalam enam minggu.
Erga datang pertama. Jam enam lewat empat puluh. Tanpa parfum. Membawa print-an spreadsheet di map plastik.
Dino datang kedua. Jam enam lewat lima puluh. Membawa tiga kotak martabak. Satu manis, satu telor, satu “darurat cadangan”.
Diana datang ketiga. Jam tujuh tepat. Dengan buku catatan batik. Dia berhenti di ambang pintu, menatap meja pojok yang sudah ditempeli kertas RESERVED — RUANG TUNGGU FC oleh Pak Hendro. Menatap Erga yang berdiri dari kursinya dengan gugup.
Lalu dia duduk. Di sebelah Erga.
Dan nggak bergeser lima senti.
Yura datang keempat. Aku kelima. Kami masuk bersama, karena kami berangkat bersama dari TRAC. Yura menyetir mobilku, karena mobilnya akhirnya keluar dari bengkel tapi sekarang bannya bocor.
Lima orang.
Kursi keenam kosong.
Salman: maaf
Salman: lembur lagi
Salman: konsol baru ada bug. harus di-update firmware-nya
Salman: selamat malming
Kami semua menatap pesan itu di HP masing-masing.
Diana menatap kursi kosong itu. Lalu menatapku.
Aku menatap kursi kosong itu juga.
“Dia nggak lembur,” kata Dino pelan.
Semua orang menoleh ke Dino.
“Raka bilang,” lanjut Dino. “Konsol barunya udah beres dari hari Rabu. Nggak ada bug. Mas Salman pulang jam lima tadi. Raka lihat dia di basement. Dia duduk di atas Wati. Lama. Nggak nyalain mesin.” Dino menatap kursi kosong. “Terus dia pulang.”
Hening di meja pojok.
“Dia nggak datang karena aku,” kataku.
“Dia nggak datang karena dia pikir kamu masih butuh jarak,” kata Yura pelan. “Dia lagi ngasih kamu jeda. Dari malming juga.”
Aku menatap kursi kosong itu.
Lalu Pak Hendro datang ke meja kami. Membawa enam mangkuk bakso. Satu dia taruh di depan kursi kosong itu, dengan sendok dan garpu dan gelas es teh manis, seperti biasa.
Lalu dia nggak kembali ke meja kasir. Dia menarik kursi dari meja sebelah dan duduk di ujung meja kami.
“Karena kalian akhirnya lengkap,” katanya, menatap kursi kosong, “hampir lengkap, saya mau bilang sesuatu.”
Dino menunduk. Dia sudah tahu. Aku juga.
“Akhir bulan ini,” kata Pak Hendro, “Kedai Ruang Tunggu saya jual.”
Erga menjatuhkan sendok. Diana berhenti menulis. Yura menutup mulut dengan tangan.
Pak Hendro menjelaskan. Sewa naik tiga puluh persen. Pelanggan sepi. Lutut yang nggak kuat. Anak di Solo.
“Saya udah tawarin ke dua calon pembeli,” katanya. “Satu mau bikin coffee shop yang ada neon-neonnya. Satu mau bikin laundry.” Dia tersenyum. “Dua-duanya nggak butuh meja pojok.”
Hening lama.
Lalu Diana menutup buku catatannya.
“Salman harus tahu,” katanya.
Semua orang menoleh ke Diana.
“Waktu kafe ini mau tutup tahun lalu, dia datang tiap hari,” kata Diana. “Beli kopi tiga gelas. Padahal dia nggak suka kopi. Pak Hendro cerita.” Dia menatap kursi kosong. “Kalau kafe ini tutup dan dia nggak tahu, dia bakal nyalahin dirinya sendiri. Dia selalu nyalahin dirinya sendiri buat hal-hal yang nggak bisa dia selamatin.”
“Gue yang bilang,” kata Dino.
Semua orang menoleh ke Dino.
“Gue yang bilang ke dia,” ulang Dino. Dia mengambil HP-nya. “Besok. Gue ke Depok. Ke warung Bu Nur. Gue bawa martabak telor.” Dia menatapku. “Level tiga. Buat yang mau ngubah sesuatu.”
Aku menatap Dino.
Lalu aku menatap mangkuk bakso di depan kursi kosong. Bakso urat. Mi kuning. Sambal level lima di toples kecil di sampingnya, yang Pak Hendro ambil dari rak, toples yang Salman tinggal di sana minggu-minggu lalu.
“Din,” kataku.
“Hm.”
“Kalau dia punya ide,” kataku pelan. “Buat nyelamatin kafe ini. Kalau dia butuh orang.”
Dino menatapku.
“Bilang ke dia,” kataku. “Aku mau bantu.”
Diana menatapku. Yura menatapku. Erga menatapku.
“Apa pun,” kataku. “Di depan siapa pun.”
Dino menatapku lama. Lalu tersenyum. Senyum Dino yang lebar, yang biasa, yang sudah enam minggu nggak muncul.
“Oke,” katanya. “Gue bilangin.”
Lalu dia membuka kotak martabak darurat cadangan. Martabak telor bebek spesial. Pakai daging.
“Protein,” katanya, menyodorkannya ke tengah meja. “Semua orang makan. Kita semua mau ngubah sesuatu.”
Kami makan.
Lima orang. Enam mangkuk. Satu kursi kosong.
Untuk pertama kalinya dalam enam minggu, mangkuk-mangkuk itu habis semua.
Kecuali satu.
Pak Hendro membungkusnya. Menaruhnya di freezer, di sebelah kantong bakso bertuliskan PUNYA SALMAN — JANGAN DIMAKAN (DINO).
Dengan tulisan spidol baru di plastiknya.
PUNYA SALMAN. NANTI DIA DATANG.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok reading
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu