Chapter Sixteen

Warung Bu Nur

POV: Cynthia

Ide itu datang dari Dino, seperti kebanyakan ide buruk yang ternyata bagus.

“Guys,” katanya di grup hari Rabu malam. “Gue punya proposal.”

Dino: malming minggu ini kita pindah lokasi
Dino: ke warung bu nur
Dino: di depok
Dino: gue udah 2 tahun makan bakso bu nur dari rantang salman tapi belum pernah ke tempat aslinya
Dino: ini kayak nonton konser lewat youtube tapi nggak pernah dateng ke stadion
Diana: depok itu jauh
Dino: depok itu deket di hati
Diana: depok itu 1 jam 15 menit di google maps
Erga: aku setuju. aku bisa bawa mobil, muat 5
Diana: kamu setuju karena kamu suka nyetir sambil dikasih lauk tambahan
Erga: itu bukan alasan
Erga: tapi itu bonus
Yura: aku ikut 🤍
Yura: aku penasaran warung yang bisa bikin level 9

Aku menatap layar.

Salman belum membalas. Status online-nya menyala, tapi dia diam.

Aku tahu kenapa. Minggu lalu, dari pesan-pesan jam dua pagi yang sekarang jadi kebiasaan kami, dia cerita bahwa ibunya minta aku datang ke warung. Ibu mau lihat orang yang habisin level sembilan sampai kuahnya, tulisnya. Tapi aku bilang nggak usah. Nanti kamu nggak enak.

Aku membalas waktu itu: kenapa nggak enak?

Dia nggak menjawab. Dia mengirim stiker kucing samurai yang sedang menutup muka.

Aku mengetik di grup.

Aku: ikut

Tiga detik kemudian.

Salman: oke
Salman: ibu bakal masak dari jam 3 pagi
Salman: siapin perut
Salman: dan jangan ada yang kaget kalau ibu nanya hal-hal aneh
Diana: hal aneh kayak apa
Salman: kayak “kamu udah nikah belum” ke orang yang baru dia kenal 5 detik
Diana: aku siap
Diana: aku akan jawab dengan 5 kata


Hari Minggu siang, mobil Erga berhenti di mulut gang dekat Stasiun Depok Lama.

Gangnya sempit. Mobil Erga nggak bisa masuk. Jadi kami parkir di depan minimarket dan berjalan kaki, berlima, menyusuri gang yang di kanan-kirinya ada rumah-rumah kecil dengan pagar besi bercat hijau, pot-pot tanaman cabai, dan anak-anak yang main layangan di atas genteng.

Aku pakai kaus putih polos, celana kain, sandal jepit biru. Rambut dikuncir. Nggak ada riasan kecuali lip balm. Aku sengaja. Aku nggak tahu kenapa aku sengaja, tapi waktu berdiri di depan cermin tadi pagi, aku menghapus foundation yang sudah setengah aku pakai, karena tiba-tiba aku nggak mau datang ke warung ibunya Salman dengan wajah Sapa Pagi.

Yura berjalan di sebelahku. Dia juga pakai kaus dan celana kain, tapi entah gimana dia tetap kelihatan seperti model katalog. Dua anak kecil yang sedang main kelereng berhenti dan menatapnya dengan mulut terbuka.

Diana berjalan di depan, memimpin dengan Google Maps. Erga di sebelahnya, membawa kantong plastik berisi buah tangan, jeruk dan kue lapis, karena Erga itu tipe orang yang selalu bawa buah tangan bahkan ke rumah teman yang dia benci.

Dino di paling belakang, sudah mengendus udara seperti anjing pelacak.

“Gue cium,” katanya. “Gue cium kaldunya. Dari sini. Lima puluh meter lagi.”

“Itu bau got, Din.”

“Itu bau kaldu yang menyamar jadi bau got.”

Dia benar.

Dua tikungan kemudian, kami sampai.

Warung Bakso Bu Nur.

Atau lebih tepatnya, kalau aku baca papan namanya yang catnya sudah luntur, Warung Bak o Bu Nu.

Warungnya kecil. Bangunan satu lantai dengan atap seng, dinding bercat kuning gading yang sudah memudar, dan etalase kaca berisi bakso-bakso yang ditumpuk seperti piramida. Ada lima meja kayu panjang dengan bangku plastik warna-warni. Ada kipas angin yang berputar pelan di langit-langit, berderit setiap putaran. Ada TV kecil di sudut yang memutar sinetron tanpa suara.

Dan di sebelah warung, ada bangunan yang lebih kecil lagi. Pintunya rolling door yang sudah berkarat. Di atasnya ada papan nama yang hampir nggak terbaca: SERVIS ELEKTRONIK PAK HAIKAL — RADIO, TV, TAPE.

Di depan rolling door itu, diparkir di bawah atap seng kecil, ada Wati. Dengan kabel charger tertancap ke stopkontak di dinding. Mata animenya menatap kami.

Dan di depan etalase warung, berdiri seorang perempuan.

Umurnya mungkin lima puluh lima. Pendek, gemuk, berdaster bunga-bunga dengan celemek bergambar ayam jago. Rambut beruban diikat asal. Kedua tangannya di pinggang. Dia menatap kami berlima satu per satu, dari kiri ke kanan, dengan mata yang tajam dan teliti, seperti satpam bandara memeriksa koper.

Lalu matanya berhenti di aku.

“Kamu,” katanya.

Aku membeku.

“Kamu yang namanya Cynthia?”

“I-iya, Bu.”

Bu Nur berjalan mendekat. Pelan. Dia berhenti tepat di depanku, mendongak sedikit karena aku lebih tinggi, dan menatap wajahku lama. Dari dahi. Ke mata. Ke hidung. Ke bibir. Ke dagu.

Lalu dia menatap kakiku.

Sandal jepit biru.

Matanya membulat sedikit. Lalu dia mendongak lagi, menatapku, dan tersenyum. Senyum yang lebar dan hangat dan sedikit nakal, senyum yang langsung aku kenali, karena aku sudah melihatnya di wajah orang lain. Di sudut bibir yang naik sedikit setiap kali seseorang nggak sengaja menunjukkan bahwa dia peduli.

“Kamu yang habisin level sembilan sampai kuahnya?”

“...Iya, Bu.”

“Nggak minum susu?”

“Nggak, Bu.”

“Nangis?”

“Nangis, Bu.”

Bu Nur mengangguk-angguk, puas, seperti juri yang baru selesai menilai penampilan finalis. Lalu dia menepuk lenganku. Keras. Dua kali.

“Bagus,” katanya. “Nangis itu wajar. Yang penting nggak berhenti.”

Lalu dia berbalik ke arah warung dan berteriak, dengan suara yang membuat burung-burung di kabel listrik terbang semua.

“MAN! TAMUMU UDAH DATANG! YANG LEVEL SEMBILAN UDAH DATANG!”


Salman keluar dari dapur di belakang warung.

Dia pakai kaus hitam polos dan celemek yang sama dengan ibunya, bergambar ayam jago, tapi ukurannya terlalu kecil sehingga celemek itu cuma menutupi setengah perutnya. Rambutnya berantakan. Ada tepung di pipinya. Satu earbud di telinga kiri.

Nggak ada hoodie.

Itu yang pertama kali aku sadari. Ini pertama kalinya aku melihat Salman tanpa hoodie anime. Dan dia kelihatan... beda. Lebih muda. Lebih biasa. Lengan kausnya pendek, dan aku bisa melihat lengannya yang ternyata berotot, mungkin karena bertahun-tahun mengangkat panci kaldu dan mendorong Wati yang mogok.

Aku menatap lengan itu dua detik terlalu lama.

Yura menyenggol pinggangku.

Aku langsung menatap atap seng.

“Kalian udah datang,” kata Salman. Lalu dia menatap Diana. “Hoodie-ku nggak ada. Kamu nggak bisa menilai hari ini.”

Diana membuka buku catatan batiknya, yang ternyata dia bawa. “Aku menilai celemek.” Dia menatap celemek ayam jago yang terlalu kecil itu. “Celemek ayam jago, ukuran anak SD, dipakai pria dewasa. Delapan dari sepuluh. Langsung masuk klasemen alternatif.”

“Klasemen alternatif itu apa?”

“Klasemen untuk kejahatan selain hoodie. Aku baru bikin. Barusan.”


Kami duduk di meja kayu panjang paling dalam, dekat kipas angin.

Bu Nur nggak menanyakan pesanan. Bu Nur nggak pernah menanyakan pesanan, kata Salman. Bu Nur cuma melihat wajahmu dan memutuskan apa yang kamu butuhkan.

Dino dapat porsi jumbo dengan tiga bakso urat tambahan dan dua telur. “Badanmu kayak orang yang belum makan dari kemarin,” kata Bu Nur.

“Aku makan, Bu. Tadi pagi. Tiga kali.”

“Tiga kali itu sarapan, belum makan.”

Dino menatap Bu Nur dengan mata berkaca-kaca, seperti orang yang akhirnya menemukan tanah air.

Erga dapat porsi biasa. Lalu Bu Nur kembali ke etalase, mengambil satu bakso urat lagi, dan menaruhnya di mangkuk Erga. Lalu satu lagi. Lalu tahu goreng. Lalu siomay.

“Bu, saya cuma—”

“Kamu kurusan.”

Diana menatap mangkuk Erga yang menggunung. Menatap Bu Nur. Menatap Erga.

“Mas Erga,” katanya datar. “Kamu itu magnet lauk. Di mana pun kamu duduk, lauk datang sendiri.”

“Itu bukan salahku.”

“Lima kata. Ganteng dapat siomay, ketidakadilan semesta.”

“Itu enam kata.”

“‘Ketidakadilan semesta’ satu konsep.”

Bu Nur, yang sedang mengelap meja sebelah, berhenti. Menoleh ke Diana. Menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Kamu,” katanya. “Kamu yang ngomongnya pedes?”

Diana mengangkat kepala. “Saya, Bu.”

“Salman cerita soal kamu.” Bu Nur melipat tangan di dada. “Katanya kamu satu-satunya orang yang berani ngatain hoodie-nya di depan mukanya.”

“Hoodie-nya pantas dikatain, Bu.”

“Ibu setuju.”

Hening.

Lalu Bu Nur dan Diana saling menatap, dua perempuan yang dalam satu detik saling mengenali sesama penganut aliran lidah tajam. Dan Bu Nur tersenyum. Diana juga, sedikit, di sudut bibirnya.

“Kamu dapat sambal level enam,” kata Bu Nur. “Level rahasia. Nggak dijual.”

“Saya merasa terhormat, Bu.”

“Jangan merasa terhormat dulu. Rasain dulu. Habis itu baru boleh terhormat.”

Dan untuk Yura, Bu Nur menaruh mangkuk bakso dengan kuah bening dan sepiring kecil kerupuk. Kerupuk bawang. Bukan kerupuk udang.

Yura menatap kerupuk itu. Lalu menatap Bu Nur.

“Salman bilang kamu alergi udang,” kata Bu Nur santai, sambil berjalan ke etalase. “Kerupuk di sini Ibu ganti semua jadi kerupuk bawang tadi pagi. Biar aman. Biar kamu nggak usah milih-milih.”

Yura menatap punggung Bu Nur lama.

Lalu menatap Salman, yang sedang menyendokkan kuah di balik etalase, nggak menoleh.

Lalu dia menunduk ke mangkuknya, dan aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang lembut dan hangat dan sedikit terlalu lama.

Aku menatap mangkukku sendiri.


Dan untukku, Bu Nur nggak menaruh mangkuk.

Bu Nur berdiri di depanku. Kedua tangannya di pinggang lagi.

“Kamu,” katanya. “Ikut Ibu ke dapur.”

Seluruh meja berhenti makan.

“Ke... dapur, Bu?”

“Iya. Kamu bantuin Ibu. Ada mangkuk numpuk dari tadi pagi, Ibu belum sempat cuci.” Dia menatapku. “Kamu bisa cuci piring?”

“Bisa, Bu.”

“Jangan bohong. Artis biasanya nggak bisa cuci piring.”

“Bisa, Bu. Waktu kos dulu saya cuci piring sendiri.”

Bu Nur menyipitkan mata. Lalu mengangguk. “Ayo.”

Aku berdiri. Diana menatapku dengan wajah semoga kamu selamat. Dino menatapku dengan wajah boleh baksomu buat aku?. Erga mengacungkan jempol. Yura cuma menatapku, diam.

Aku mengikuti Bu Nur ke dapur.


Dapur warung Bu Nur itu dapur yang paling hangat yang pernah aku masuki.

Hangat dalam artian literal. Ada tiga kompor yang menyala, dua panci kaldu raksasa yang mendidih pelan, dan satu wajan besar berisi minyak untuk menggoreng tahu. Udaranya lembap dan berbau kaldu sapi, bawang goreng, seledri, dan sesuatu yang manis yang aku nggak bisa tebak.

Dan di bak cuci besar di sudut dapur, ada tumpukan mangkuk. Banyak. Lebih banyak dari yang mungkin dipakai dalam satu pagi.

Dan di depan bak cuci itu, berdiri Salman.

Dia menoleh. Melihatku. Melihat ibunya di belakangku.

“Bu,” katanya pelan.

“Kamu cuci, dia bilas.” Bu Nur menunjuk bak cuci. “Ibu mau goreng tahu. Jangan ganggu Ibu.” Dia mengambil sodet, berbalik ke wajan, dan memunggungi kami dengan sangat sengaja, seperti sutradara yang baru selesai menyiapkan adegan dan sekarang pura-pura sibuk dengan clipboard.

Salman menatapku. Aku menatap Salman.

“Ibumu sengaja,” bisikku.

“Iya.”

“Mangkuknya sebanyak ini dari pagi?”

“Nggak.” Dia menatap tumpukan itu. “Ibu ngambil mangkuk bersih dari lemari jam sepuluh tadi, terus dicelup ke air kotor biar kelihatan kotor.”

Aku menutup mulut dengan tangan supaya nggak tertawa terlalu keras.

Dari arah wajan, tanpa menoleh, Bu Nur berkata, “Ibu bisa dengar kalian, ya.”


Kami mencuci.

Salman menyabuni. Aku membilas. Mangkuk demi mangkuk. Busa sabun cuci piring berbau jeruk nipis mengepul di permukaan air. Air keran mengalir dingin di tanganku, kontras dengan udara dapur yang panas.

Awalnya kami diam.

Lalu Salman mulai bersenandung. Pelan. Tujhe Dekha To. Fals, tentu saja, tapi fals yang pelan, fals yang dia pakai di atas kardus kulkas di rooftop. Fals cuci piring.

Aku ikut bersenandung.

Dia berhenti. Menoleh. Menatapku dengan wajah yang sedikit kaget.

Aku nggak berhenti. Aku terus bersenandung, dengan nada yang meleset di tempat-tempat yang sama dengan tempat dia meleset. Aku sudah memutar lagu itu ratusan kali sejak rooftop. Aku sudah hafal versi aslinya. Tapi yang keluar dari mulutku bukan versi aslinya.

Yang keluar versi Salman.

Dia menatapku lama. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya naik. Dan dia melanjutkan senandungnya. Kami bersenandung berdua, fals di tempat yang sama, sambil mencuci mangkuk-mangkuk yang sebenarnya sudah bersih.

Di belakang kami, suara tahu yang digoreng di wajan berhenti sebentar. Lalu lanjut lagi.


Lalu aku melakukan sesuatu yang bodoh.

Aku mengambil segenggam busa dari bak cuci. Busa putih, lembut, bau jeruk nipis. Dan dengan gerakan cepat, sebelum aku sempat berpikir, aku menempelkannya ke pipi Salman.

Plok.

Dia membeku.

Busa sabun itu menempel di pipi kirinya, putih dan mengembang seperti jenggot Santa Claus yang cuma setengah. Wajahnya datar. Dia menatapku dari balik busa itu dengan ekspresi orang yang baru dikhianati oleh sahabatnya sendiri.

Aku tertawa.

“Ada busa,” kataku di antara tawa, sambil menunjuk pipinya. “Bentar.”

Aku mengulurkan tangan. Menghapus busa itu dari pipinya dengan ujung jari. Pelan. Pipinya hangat di bawah jariku. Sedikit kasar, karena dia belum bercukur pagi ini.

“Udah,” kataku.

Lalu aku melihat masih ada sedikit busa di bawah telinganya.

“Eh, masih.” Aku mengulurkan tangan lagi. “Bentar.”

Aku menghapusnya. Jariku menyentuh daun telinganya. Telinga yang selalu mendengar segalanya, yang membedakan napas tiga jam dan empat jam, yang menangkap langkah kaki rapi seperti tentara dari balik pintu tebal.

Telinga itu merah.

Merah sampai ke ujung.

“Udah,” bisikku.

Salman nggak bergerak. Dia menatapku. Jarak wajah kami mungkin dua puluh senti. Air keran masih mengalir. Busa di bak cuci masih mengepul.

Lalu, dengan gerakan yang sangat pelan dan sangat serius, dia mengambil segenggam busa dari bak cuci.

Aku mundur selangkah. “Man. Jangan.”

Dia maju selangkah.

“Man, aku tamu.”

“Kamu yang mulai.”

“Aku tamu, Man. Tamu itu raja.”

“Raja juga bisa kena busa.”

Dia menempelkan busa itu ke hidungku.

Plok.

Aku menjerit. Bukan jeritan anggun. Jeritan yang jelek, melengking, seperti ketel yang mendidih. Busa di hidungku mengembang, masuk ke lubang hidung, dan aku bersin. Bersin yang keras dan berantakan dan sama sekali bukan bersin presenter.

Salman tertawa. Tawa yang rendah dan serak, dari dadanya, yang aku dengar pertama kali di halte. Dia tertawa sampai harus bersandar ke bak cuci.

Aku mengambil busa lagi. Dia mengambil busa lagi. Dan dalam waktu sepuluh detik, dapur warung Bu Nur berubah jadi medan perang busa jeruk nipis, dengan dua orang dewasa yang saling melempar busa sabun cuci piring dan tertawa seperti anak SD.

Lalu sebuah suara memotong.

“Uhuk.”

Batuk. Keras. Disengaja. Dari arah wajan.

Kami berhenti.

Bu Nur masih memunggungi kami, masih menggoreng tahu. Tapi bahunya bergetar.

“UHUK. UHUK.” Batuknya makin keras. Makin dramatis. Seperti batuk aktor sinetron yang mau meninggal di episode terakhir. “Uhuk. Ya Allah. Asap minyaknya. Uhuk. Ibu nggak lihat apa-apa. Uhuk. Ibu cuma batuk.”

Salman menatapku. Aku menatap Salman. Wajah kami berdua penuh busa.

Lalu kami tertawa lagi. Lebih keras. Sampai Bu Nur akhirnya berbalik, menatap kami dengan sodet di tangan dan wajah yang pura-pura galak, dan bilang, “Kalian cuci ulang semua mangkuknya. Kena busa semua.”


Setengah jam kemudian, Salman dipanggil ke depan karena Dino menumpahkan kuah ke celana Erga.

Aku tinggal sendirian di dapur dengan Bu Nur.

Bu Nur memberiku kursi plastik kecil di samping kompor dan semangkuk bakso. Bakso urat, mi kuning, sawi, dan satu sendok kecil sambal yang aku kenal dari warnanya.

“Level sembilan,” kataku.

“Satu sendok teh. Bukan sendok makan.” Bu Nur duduk di kursi plastik lain di seberangku. “Buat kenang-kenangan.”

Aku makan. Pedasnya langsung naik ke hidung. Mataku berair. Tapi aku nggak berhenti.

Bu Nur menatapku makan. Lama. Tanpa bicara.

Lalu dia menoleh ke dinding dapur. Ke sebuah foto yang ditempel di samping rak bumbu. Foto lama, warnanya sudah pudar. Seorang laki-laki muda dengan kaus putih dan celana jeans belel, berdiri di depan bengkel kecil dengan tangan di pinggang dan senyum lebar. Di belakangnya ada papan nama: SERVIS ELEKTRONIK PAK HAIKAL.

“Itu Bapaknya Salman,” kata Bu Nur.

“Mirip.”

“Mirip banget. Bapaknya juga gitu. Nggak peduli apa kata orang.” Bu Nur tersenyum. “Pakai kaus yang sama tiga hari. Ngobrol sama radio rusak. Nyanyi lagu India keras-keras di depan warung, fals semua.”

“Salman cerita soal angkot D11.”

“Oh, dia cerita?” Bu Nur tertawa. “Itu hari paling memalukan dalam hidup Ibu.”

“Tapi Ibu turun.”

“Ibu turun.” Bu Nur mengangguk. Lalu tawanya pelan-pelan reda. “Tapi kamu tahu nggak, Nak, kenapa Ibu butuh angkot itu buat turun?”

Aku menggeleng.

“Karena sebelum itu, Ibu malu.” Bu Nur menatap foto itu. “Ibu suka sama Bapaknya Salman. Dari pertama kali dia benerin radio warung Ibu dan nggak mau dibayar. Tapi Ibu malu. Teman-teman Ibu bilang dia aneh. Bilang Ibu bisa dapat yang lebih baik. Yang kerja kantoran, yang pakai kemeja.”

Aku berhenti makan.

“Jadi Ibu jaga jarak,” lanjut Bu Nur pelan. “Kalau di warung, Ibu baik sama dia. Ibu kasih bakso gratis. Ibu ketawa sama lelucon-leluconnya. Tapi kalau di pasar, kalau di depan teman-teman Ibu, Ibu pura-pura nggak kenal.” Dia menghela napas. “Dan dia nggak pernah protes. Nggak sekali pun. Dia cuma senyum, terus jalan.”

Bu Nur menoleh ke arahku.

“Orang yang nggak peduli kata orang itu, Nak,” katanya, “kadang bikin orang di sebelahnya merasa harus malu buat dia. Karena dia nggak malu. Karena dia nggak pernah malu. Jadi orang di sebelahnya yang ngerasa harus nanggung malunya.”

Aku nggak bisa bicara.

“Dan yang paling jahat,” lanjut Bu Nur, “orang yang nggak peduli kata orang itu juga biasanya nggak protes kalau dia disembunyiin. Dia bakal bilang nggak apa-apa. Dia bakal senyum. Dia bakal pergi. Dan kamu nggak akan tahu dia sakit, karena dia nggak pernah bilang dia sakit.”

Kuah bakso di mangkukku mulai dingin.

“Ibu nggak ngomong ini buat nyalahin kamu,” kata Bu Nur. Suaranya melunak. “Ibu ngomong ini karena Ibu pernah jadi kamu. Ibu cuma beruntung, Bapaknya Salman lari di belakang angkot. Nggak semua laki-laki lari di belakang angkot, Nak. Ada yang cuma senyum, terus jalan. Dan nggak balik lagi.”

Bu Nur berdiri. Mengambil mangkukku yang setengah kosong. Menuang kuah panas baru dari panci.

“Salman itu mirip Bapaknya,” katanya, menyodorkan mangkuk itu kembali. “Dia bakal lari di belakang angkot buat kamu. Dia bakal nyanyi fals di depan seluruh Jakarta buat kamu.” Bu Nur menatapku. “Tapi jangan sampai dia harus lari terlalu lama, ya. Kakinya juga bisa capek.”

Aku menerima mangkuk itu.

Kuahnya panas. Uapnya naik ke wajahku. Dan entah karena uap, entah karena sambal level sembilan satu sendok teh, entah karena hal lain, mataku basah.

“Iya, Bu,” bisikku.

Bu Nur menepuk kepalaku. Pelan. Dua kali. Seperti menepuk kepala anak sendiri.

Lalu dia berbalik ke kompor, dan bilang dengan suara yang tiba-tiba kembali keras dan galak, “Habisin. Nggak boleh ada sisa. Di warung ini, mubazir itu dosa.”


Waktu aku kembali ke meja depan, Erga sedang mengeringkan celananya dengan kipas angin. Dino sedang menghabiskan mangkuk keempatnya. Diana sedang menulis di buku catatan batik dengan wajah berkeringat, karena dia baru selesai menghabiskan sambal level enam dan sekarang, katanya, sedang merasa terhormat.

Dan Salman berdiri di balik etalase, dengan celemek ayam jago yang terlalu kecil, sedang menyendokkan kuah ke mangkuk pelanggan lain.

Tali celemeknya lepas di belakang. Menjuntai di punggungnya.

Yura berdiri dari bangkunya.

Dia berjalan ke balik etalase. Berdiri di belakang Salman. Lalu, tanpa bilang apa-apa, dia mengambil kedua ujung tali celemek itu dan mulai mengikatnya. Simpul pita. Rapi. Pelan.

“Diem,” katanya, waktu Salman mau menoleh. “Talinya kusut. Kamu tuh nggak bisa ngurus diri, ya.”

Salman berhenti. “Celemek ini emang kusut dari lahir,” katanya. “Kayak aku.”

Yura tertawa pelan. Tangannya masih di punggung Salman, merapikan simpul pita yang sudah rapi.

Dan dari arah dapur, Bu Nur muncul dengan nampan berisi tahu goreng. Dia berhenti. Menatap Yura yang berdiri di belakang Salman. Menatap tangan Yura di punggung anaknya. Lalu menatap aku, yang berdiri di dekat meja dengan mangkuk kosong di tangan.

Lalu kembali ke Yura.

“Wah,” kata Bu Nur keras, cukup keras untuk seluruh warung mendengar. “Yang ini juga cantik.”

Dia menatap Yura. Lalu menatapku. Lalu menatap Yura lagi.

“Ibu bingung,” katanya.

Mangkuk di tanganku jatuh.

PRANG.

Mangkuk melamin, untungnya. Nggak pecah. Cuma memantul dua kali di lantai semen dan menggelinding ke bawah meja Dino.

Seluruh warung menoleh ke arahku.

Dino menatap mangkuk yang menggelinding ke kakinya. Diana berhenti menulis. Erga berhenti mengeringkan celana. Yura menoleh dari balik etalase, tangannya masih di simpul pita celemek.

Dan Salman menatapku. Wajahnya datar. Tapi aku tahu dia dengar. Dia dengar semuanya. Dia dengar mangkuk itu jatuh, dan dia dengar kenapa mangkuk itu jatuh.

“Licin,” kataku. “Tanganku licin. Sabun.”

Dino memungut mangkuk itu dari kolong meja dan menyodorkannya kepadaku dengan wajah yang terlalu polos. “Licin, ya, Cyn?”

“Licin, Din.”

“Sabunnya sabun jeruk nipis, kan? Yang tadi buat perang busa?”

Aku menatapnya. “Kamu dengar?”

“Satu warung dengar, Cyn.” Dino tersenyum lebar. “Bu Nur batuknya kenceng banget.”

Dari dapur, Bu Nur batuk lagi.

“Uhuk.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.


Kami pulang jam enam sore.

Bu Nur mengantar kami sampai mulut gang, membawakan lima kantong plastik berisi bakso beku, sambal dalam botol bekas selai, dan kerupuk bawang. Dia memeluk Dino seperti memeluk anak yang baru pulang dari perang. Dia menepuk bahu Erga dan bilang makan yang banyak. Dia berjabat tangan dengan Diana seperti dua jenderal yang baru menandatangani perjanjian damai. Dia memeluk Yura dan bilang nanti datang lagi, Ibu masakin yang nggak ada udangnya.

Lalu dia berdiri di depanku.

Dia nggak memelukku. Dia cuma menatapku, lama, dengan mata elang pensiunnya. Lalu dia mengambil tanganku, menaruh sesuatu di telapaknya, dan menutup jari-jariku di atasnya.

“Rahasia,” bisiknya.

Lalu dia berbalik dan berjalan kembali ke warung, berteriak ke Salman yang masih berdiri di depan etalase, “MAN, ANTERIN TEMANMU SAMPE MOBIL! JANGAN CUMA BERDIRI KAYAK TIANG LISTRIK!”

Aku membuka tanganku.

Sebuah kertas kecil, dilipat empat. Di dalamnya, tulisan tangan Bu Nur yang besar-besar dan sedikit miring.

Bahan rahasia level 9: bukan dendam. Ibu bohong.

Bahan rahasianya sabar.

Sambal itu Ibu ulek 3 jam pakai tangan. Nggak boleh pakai blender. Kalau buru-buru, pedasnya nggak keluar.

Kamu juga jangan buru-buru. Tapi jangan kelamaan juga. Nanti cabainya busuk.

Aku melipat kertas itu lagi. Memasukkannya ke saku celana. Lalu berjalan ke mulut gang, di belakang teman-temanku, dengan Salman di sebelahku membawa lima kantong bakso beku.

Dia nggak tanya Ibu kasih apa.

Dan aku nggak cerita.

Tapi di mobil Erga, di jok belakang, di antara Yura dan Dino yang sudah tertidur dengan mulut terbuka, aku menyentuh saku celanaku sepanjang jalan pulang ke Jakarta.

Seperti memegang sesuatu yang bisa hilang kalau aku lepas.