Chapter Twenty Two
Gala Tiga Puluh Lantai
POV: Cynthia
TRAC berulang tahun yang ke-dua puluh lima.
Dan untuk merayakannya, direksi memutuskan mengadakan gala di tempat yang belum pernah dipakai untuk acara resmi: rooftop lantai tiga puluh.
Rooftop yang biasanya terkunci dengan kode 1234. Rooftop tempat Salman berbaring di atas kardus kulkas dan menamai merpati Pak Haji. Rooftop tempat aku meminjam earbud yang buat lagu dan mendengar sekarang dunianya lagi kamu.
Dalam seminggu, tempat itu berubah jadi sesuatu yang nggak bisa aku kenali.
Lantai beton ditutup karpet merah marun. Unit-unit AC raksasa dibungkus kain putih dan dihiasi lampu peri, sampai mereka kelihatan seperti pilar-pilar istana. Ada panggung kecil di sisi timur, dengan latar belakang layar LED dan logo TRAC 25 berwarna emas. Ada tiga puluh meja bundar dengan taplak putih dan lilin di dalam gelas kaca. Ada bar di sisi barat. Ada kuartet gesek yang sedang check sound di sudut. Ada tenda putih besar di belakang panggung untuk backstage, dengan kaca rias, rak baju, dan kursi-kursi lipat.
Dan ada lima ratus undangan.
Direksi. Dewan komisaris. Pejabat kementerian. Pengiklan besar. Selebritas yang pernah muncul di program-program TRAC. Mantan karyawan legendaris. Wartawan dari media-media lain. Semua orang yang penting, dan semua orang yang ingin terlihat penting.
Dan dua pembawa acara.
Aku dan Erga.
Tentu saja aku dan Erga. #ErCyn sudah tiga minggu bertahan di daftar trending. Klip Jumat Manis minggu kedua, di mana Erga mencoba membuat telur dadar berbentuk logo TRAC dan hasilnya terlihat seperti amuba, ditonton tiga juta kali. Mbak Rini dari marketing hampir menangis bahagia waktu mengumumkan susunan pembawa acara gala.
“Dua puluh lima tahun TRAC,” katanya di rapat, “ditutup dengan pasangan paling ikonik TRAC tahun ini.”
Pasangan.
Erga menatap meja. Aku tersenyum.
Hari Sabtu jam lima sore, aku sudah di tenda backstage.
Gaunku warna biru tua, panjang sampai mata kaki, dengan potongan bahu terbuka dan payet halus di bagian pinggang yang berkilau setiap kali aku bergerak. Rambutku disanggul rendah dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh di pelipis. Anting berlian pinjaman dari sponsor perhiasan. Sepatu hak dua belas senti, satu senti lebih tinggi dari yang biasa, karena stylist bilang gaun ini butuh drama.
Aku menatap pantulanku di cermin rias.
Perempuan di cermin itu cantik. Sangat cantik. Perempuan yang akan berdiri di atas panggung di rooftop tiga puluh lantai, di bawah langit Jakarta yang mulai gelap, di depan lima ratus orang penting, dan nggak akan membuat satu kesalahan pun.
Perempuan di cermin itu adalah semua yang Ibu mau.
Dan malam ini, Ibu datang.
Undangan untuk Ibu datang dua minggu lalu. Dari Pak Wiryo, direktur program. Ternyata Pak Wiryo dulu kamerawan di stasiun TV tempat Ibu membawakan berita hiburan di awal 2000-an. Dia masih ingat Ibu. Dia bilang Ibu adalah presenter paling profesional yang pernah dia rekam.
Gala dua puluh lima tahun TRAC, tulisnya di kartu undangan yang dikirim ke rumah Ibu, akan terasa kurang lengkap tanpa salah satu wajah terbaik televisi Indonesia. Dan tentu, Ibu bisa menyaksikan putri Ibu membawakan acara.
Ibu meneleponku malam itu. Suaranya bergetar. Bukan karena marah. Karena sesuatu yang lain, sesuatu yang belum pernah aku dengar sejak aku umur sembilan tahun.
“Mereka ingat Ibu, Cyn,” katanya. “Dua puluh tahun. Mereka masih ingat.”
Aku nggak bisa bilang apa-apa selain iya, Bu.
Jam setengah enam, Ibu masuk ke tenda backstage.
Dia memakai kebaya modern warna hijau zamrud, rambutnya disanggul klasik, riasannya sempurna, tulang pipinya masih tinggi, punggungnya masih lurus seperti waktu dia membaca berita jam tujuh malam di TV tabung keluarga kami. Umurnya lima puluh tiga, tapi dari jauh dia kelihatan empat puluh. Beberapa kru backstage menoleh waktu dia lewat. Salah satu stylist senior berbisik ke temannya: itu Ratna Wirawan? Yang dulu itu?
Ibu mendengarnya. Aku tahu dia mendengarnya. Punggungnya makin lurus.
“Cyn.” Dia berhenti di belakangku, menatap pantulan kami berdua di cermin. Dua perempuan. Satu dengan gaun biru tua, satu dengan kebaya hijau zamrud. Wajah yang mirip. Mata yang sama. “Kamu cantik.”
“Makasih, Bu.”
Dia merapikan helai rambut yang jatuh di pelipisku. Pelan. Dengan ujung jari. Seperti dulu, waktu aku sepuluh tahun dan dia duduk di tepi tempat tidurku.
“Malam ini penting,” katanya pelan, ke pantulan wajahku. “Semua orang di dunia ini ada di atas sana. Semua yang dulu kenal Ibu. Semua yang dulu...” Dia berhenti. Menarik napas. “Malam ini, kamu tunjukin ke mereka. Bahwa nama Wirawan nggak pernah jatuh.”
“Iya, Bu.”
“Kamera selalu nyala, Cyn.”
Kalimat itu lagi.
Di cermin, aku melihat wajah Ibu waktu mengucapkannya. Bukan wajah yang keras. Wajah yang lembut. Wajah yang penuh harapan. Wajah seorang ibu yang dua puluh tahun lalu kehilangan segalanya karena satu foto, dan sekarang melihat anaknya berdiri di tempat yang dulu seharusnya jadi tempatnya.
Dan aku nggak bisa mengecewakan wajah itu.
Aku nggak bisa.
“Iya, Bu,” kataku lagi. “Kamera selalu nyala.”
Jam enam lewat dua puluh, empat puluh menit sebelum acara dimulai, earpiece-ku mati.
Aku sedang check mic bersama Erga di sisi panggung. Erga dengan jas hitam yang dijahit pas di badannya, dasi kupu-kupu, dan wajah yang pucat seperti biasa sebelum tampil. Tim audio sedang mengecek channel kami satu per satu. Aku menekan earpiece di telinga kananku, menunggu suara Raka dari booth audio di sudut rooftop.
Nggak ada suara.
Aku mengetuknya. Nggak ada apa-apa. Cuma sunyi. Bahkan desis statis biasa pun nggak ada.
“Mbak Cynthia,” kata floor manager gala, Mas Herman, yang wajahnya langsung tegang. “IFB-nya kenapa?”
“Mati, Mas.”
Mas Herman menekan tombol di HT-nya. “Booth, booth, IFB Mbak Cynthia mati.”
Suara Raka dari HT, panik: “Mas Herman, receiver belt-pack-nya kayaknya rusak. Aku nggak bisa benerin dari sini. Aku nggak tahu kenapa. Ini bukan model yang biasa, ini sewaan buat gala. Pak Bambang lagi di bawah urus link siaran. Aku telepon Mas Salman.”
Jantungku melompat.
“Mas Salman di lantai empat belas,” lanjut Raka. “Dia lagi lembur edit audio bumper gala. Lima menit dia naik.”
Lima menit.
Mas Herman membawaku kembali ke tenda backstage supaya aku nggak berdiri di sisi panggung tanpa earpiece. Aku duduk di kursi rias. Erga ikut masuk, karena IFB-nya bergantung pada sistem yang sama, dan Raka bilang lebih aman kalau dicek bersamaan.
Tenda backstage ramai. Ada Ibu, duduk di kursi lipat di sudut dengan secangkir teh dari katering, mengobrol dengan seorang mantan direktur TRAC yang ternyata juga mengenalnya dari dulu. Ada tiga stylist yang merapikan baju pengisi acara. Ada penyanyi tamu dan manajernya. Ada dua penari latar.
Dan ada Mbak Vina.
Vina Larasakti. Presenter senior TRAC, lima belas tahun di layar, pembawa acara talkshow hari Minggu yang ratingnya selalu tinggi. Rambut pendek bergelombang, gaun merah menyala, suara yang selalu sedikit terlalu keras untuk ruangan mana pun. Dia diundang sebagai pembaca doa pembukaan. Dia sedang duduk di kursi rias sebelahku, di-touch up lipstiknya oleh makeup artist, sambil mengobrol dengan siapa saja yang lewat.
“Cynthia, gaunmu cantik banget,” katanya. “Biru tua. Berani. Aku suka.”
“Makasih, Mbak.”
“Kamu sama Erga malam ini, ya?” Dia melirik Erga yang sedang berdiri di dekat pintu tenda, menatap HP dengan wajah gugup. “Aku nonton Jumat Manis. Lucu banget kalian. Erga tuh kalau di sebelah kamu kayak anak SMA.”
Aku tersenyum. Tiga detik. “Erga emang lucu, Mbak.”
“Lucu atau...” Mbak Vina mengedipkan sebelah mata.
Aku tersenyum lagi. Nggak menjawab.
Pintu tenda backstage tersibak.
Dan Salman masuk.
Dia berlari. Aku bisa tahu dari napasnya yang sedikit tersengal, dari rambutnya yang berantakan, dari keringat tipis di pelipisnya. Dia pasti naik tangga darurat dari lantai empat belas. Enam belas lantai. Lebih cepat dari lift, yang malam ini penuh tamu undangan.
Dia membawa tas peralatan kecil di tangan kanan. Satu earbud di telinga kiri.
Dan dia memakai hoodie.
Bukan hoodie biasa. Hoodie yang aku kenal. Hoodie yang pertama kali aku lihat di malming pertama yang aku ingat dengan jelas. Warna kuning stabilo. Menyala. Menyilaukan. Di bawah lampu-lampu tenda backstage yang hangat, hoodie itu bersinar seperti rambu lalu lintas.
Di dadanya, wajah karakter anime cowok berambut biru dengan mata berbinar-binar raksasa, mulut terbuka lebar seperti sedang berteriak penuh semangat. Dengan tulisan Jepang yang nggak ada satu pun dari kami bisa baca.
Hoodie nomor tujuh.
Tingkat memalukan delapan koma lima dari sepuluh. Langsung masuk tiga besar klasemen.
Seluruh tenda backstage menoleh.
Tiga stylist berhenti merapikan baju. Penyanyi tamu dan manajernya menatap hoodie itu dengan mata menyipit, seperti menatap sesuatu yang terlalu terang. Dua penari latar saling sikut. Mbak Vina menurunkan cermin kecil di tangannya.
Dan Ibu, di sudut tenda, berhenti mengobrol. Cangkir tehnya berhenti setengah jalan ke bibir. Dia menatap laki-laki berhoodie kuning stabilo yang baru masuk ke tenda backstage gala dua puluh lima tahun TRAC, di antara gaun-gaun malam dan jas-jas hitam, dengan wajah anime yang berteriak di dadanya.
Matanya menyipit.
Aku tahu tatapan itu. Aku sudah melihatnya ribuan kali sejak kecil. Tatapan yang mengukur. Yang menilai. Yang dalam satu detik memutuskan apakah sesuatu itu pantas atau nggak pantas.
Salman nggak memedulikan semua itu. Mungkin dia nggak sadar. Mungkin dia sadar dan nggak peduli. Dia berjalan lurus ke arahku.
“IFB yang mati?” tanyanya.
“Iya.”
“Belt-pack-nya?”
Aku menunjuk pinggangku. Receiver kecil berbentuk kotak hitam, dijepit di bagian belakang gaun, di balik lipatan kain.
Salman berjongkok di sebelah kursiku. Nggak bilang apa-apa lagi. Dia membuka tas peralatannya, mengeluarkan obeng kecil dan senter, dan dengan hati-hati, sangat hati-hati supaya nggak menyentuh gaunku lebih dari yang perlu, melepas receiver itu dari jepitannya.
Dia memutarnya di tangan. Mendekatkannya ke telinga kanan, telinga yang buat dunia. Mengetuknya dua kali.
“Antenanya longgar,” katanya pelan, lebih ke dirinya sendiri. “Pin konektornya bengkok. Ini sewaan murah. Pasti jatuh waktu dibongkar dari kardus.”
Dia membuka panel belakang receiver dengan obeng. Membengkokkan sesuatu dengan ujung obeng. Memasang kembali antenanya. Menutup panel.
Semua itu dia lakukan dalam waktu mungkin sembilan puluh detik, berjongkok di samping kursiku, dengan hoodie kuning stabilo, di tengah tenda backstage yang sekarang sepi karena semua orang menonton.
Lalu dia menjepit receiver itu kembali di belakang gaunku. Jari-jarinya menyentuh punggungku sebentar, di atas kain, dan aku merasakan getaran kecil naik ke tengkuk.
“Tes,” katanya ke HT di saku hoodie-nya. “Raka. Kirim tone ke IFB Mbak Cynthia.”
Di telinga kananku: bip.
Satu bunyi. Jernih. Bersih.
“Masuk,” kataku.
Salman mengangguk sekali. Berdiri. Memasukkan obeng dan senter ke tas.
“Erga,” katanya, menoleh ke pintu tenda. “Punyamu juga aku cek. Sistemnya sama.”
Erga menghampiri. Salman mengecek receiver Erga dalam tiga puluh detik. Mengencangkan antenanya. Mengangguk.
“Aman. Aku ke booth. Raka butuh bantuan, routing-nya kacau.” Dia menatapku sebentar. Satu detik. Wajahnya datar. Tapi matanya bilang sesuatu yang cuma aku yang bisa baca. Kamu cantik banget malam ini. Atau mungkin jangan gugup. Atau mungkin dua-duanya.
Lalu dia berbalik dan berjalan keluar dari tenda backstage, ke arah booth audio di sudut rooftop.
Hoodie kuning stabilo itu menghilang di balik kain tenda.
Hening sebentar di tenda.
Lalu Mbak Vina tertawa.
Tawa yang keras, sedikit terlalu keras untuk ruangan mana pun, seperti biasa. Bukan tawa jahat. Tawa orang yang baru saja melihat sesuatu yang lucu dan nggak bisa menahannya.
“Ya ampun,” katanya. “Itu siapa, Cyn? Lucu banget bajunya. Kuning banget. Aku kira tadi ada lampu darurat nyala.”
Beberapa stylist ikut tertawa. Penyanyi tamu tersenyum. Dua penari latar saling sikut lagi.
“Itu teknisi audio, Mbak,” jawab salah satu stylist.
“Oh, teknisi.” Mbak Vina menyipitkan mata ke arahku, dengan senyum jahil yang sama seperti waktu dia bilang lucu atau... tadi. “Tapi kok dia langsung ke kamu, Cyn? Kayak udah hafal. Kayak udah biasa.” Dia menurunkan suaranya, tapi suara Mbak Vina yang diturunkan masih lebih keras dari suara normal orang lain. “Itu siapa? Pacar kamu?”
Tenda backstage hening.
Semua orang menoleh ke arahku.
Tiga stylist. Penyanyi tamu dan manajernya. Dua penari latar. Makeup artist yang sedang memegang lipstik Mbak Vina. Erga, di dekat pintu, yang menatapku dengan wajah bingung.
Dan Ibu.
Ibu, di sudut tenda, dengan kebaya hijau zamrud dan cangkir teh yang masih berhenti setengah jalan. Ibu menatapku. Matanya tajam. Matanya yang sudah melihat hoodie kuning stabilo itu dan memutuskan, dalam satu detik, apakah itu pantas atau nggak pantas.
Aku tahu apa keputusannya.
Aku bisa membacanya di wajah Ibu. Di cara bibirnya menipis sedikit. Di cara dia meletakkan cangkir tehnya di tatakan dengan bunyi tik yang sangat pelan.
Kamera selalu nyala, Cyn.
Lima ratus orang penting di luar tenda. Wartawan dari media lain. Dewan komisaris. Orang-orang yang dulu mengenal Ibu. Orang-orang yang dulu menjatuhkan Ibu.
Malam ini, kamu tunjukin ke mereka. Bahwa nama Wirawan nggak pernah jatuh.
Dan di sini, di tenda backstage, di depan Mbak Vina yang suaranya selalu terlalu keras, di depan stylist-stylist yang besok akan bercerita ke stylist-stylist lain, di depan Erga yang separuh Indonesia jodohkan denganku, di depan Ibu.
Itu siapa? Pacar kamu?
Aku tertawa.
Tawa yang ringan. Tawa yang sudah aku latih sejak umur sembilan tahun. Tiga detik. Naik di awal, turun di akhir, berhenti tepat waktu.
“Bukan lah, Mbak,” kataku. “Cuma teknisi.”
Aku mengangkat bahu. Santai. Sepele. Seperti menepis debu dari gaun.
“Kenal juga enggak terlalu.”
Hening satu detik.
Lalu Mbak Vina tertawa lagi. “Ya ampun, iya lah. Masa Cynthia sama yang begitu. Aku cuma bercanda, Cyn.” Dia kembali ke cermin kecilnya. “Tapi lucu loh orangnya. Kayak maskot.”
Para stylist tertawa. Penyanyi tamu kembali ke HP-nya. Dua penari latar kembali meregangkan kaki.
Di sudut tenda, Ibu mengangkat cangkir tehnya lagi. Menyesapnya. Matanya menatapku dari balik cangkir, dan aku melihat sesuatu di sana. Bukan senyum. Lebih kecil dari senyum. Anggukan yang hampir nggak terlihat.
Bagus.
Dan Erga.
Erga di dekat pintu tenda, menatapku dengan alis berkerut. Lama. Lalu menatap ke arah pintu tenda, tempat hoodie kuning stabilo itu tadi menghilang. Lalu kembali menatapku.
Dia nggak bilang apa-apa.
Aku memutar kursi rias menghadap cermin. Menatap pantulanku. Perempuan bergaun biru tua dengan anting berlian pinjaman dan sanggul rendah dan senyum sempurna.
Perempuan itu baru saja bilang kenal juga enggak terlalu.
Ke laki-laki yang dua tahun lalu menyanyi di lift gelap supaya napasnya berhenti pendek. Yang hafal napasnya di kalimat ketiga. Yang menaruh sandal jepit di bawah meja. Yang mendorong motor dua kilometer di bawah hujan. Yang bilang aku suka kamu kayak bakso level sembilan ke dinding basement B2 Zona C. Yang naik dua ratus delapan puluh anak tangga setiap pagi.
Yang barusan berlari enam belas lantai untuk membetulkan earpiece-nya.
Perempuan di cermin itu tersenyum.
Dan aku nggak bisa menghapus senyum itu dari wajahnya, karena itu wajahku, dan aku sudah terlalu lama melatihnya.
Dia nggak dengar, kataku ke diri sendiri. Dia udah keluar tenda. Dia udah jalan ke booth. Tenda ini berisik. Dia nggak dengar.
Dan kalaupun dia dengar, dia bakal ngerti. Dia selalu ngerti. Dia bilang nggak apa-apa. Dia bilang dia nggak butuh orang lain tahu. Ini cuma kalimat. Ini cuma buat Mbak Vina. Ini cuma buat Ibu. Nanti, sesudah gala, aku jelasin.
Nanti.
Aku menyentuh mic clip-on yang baru dipasang tim audio di bagian depan gaunku. Kecil. Hitam. Dijepit di lipatan kain dekat tulang selangka. Sudah dites sepuluh menit lalu. Sudah standby.
Lampu kecil di transmitter-nya, yang dijepit di pinggang sebelah receiver IFB, berkedip hijau.
Aku nggak memperhatikan lampu itu.
Nanti aku akan memikirkan lampu itu. Sangat lama.
Jam tujuh tepat, gala dimulai.
Kuartet gesek memainkan fanfare. Lampu-lampu di rooftop meredup. Layar LED di belakang panggung menyala dengan logo TRAC 25 berwarna emas yang berputar pelan. Lima ratus orang di meja-meja bundar bertepuk tangan.
Aku berdiri di sisi panggung, di balik tirai hitam, menunggu cue. Erga di sebelahku. Mic clip-on di gaunku. Earpiece di telinga kananku, yang sekarang berfungsi sempurna.
Dari sini, aku bisa melihat booth audio di sudut rooftop. Tenda kecil dengan meja sound panjang dan lampu-lampu kecil berwarna-warni di konsol. Dua siluet di baliknya. Satu lebih kecil, Raka. Satu lebih tinggi, dengan hoodie yang bahkan dalam gelap masih kelihatan kuning.
Dia sedang memakai headphone. Kepalanya menunduk ke konsol.
Aku menunduk ke mic clip-on. Bibirku sangat dekat dengan kain gaun.
“Teknisi channel tujuh,” bisikku.
Di telinga kananku, di earpiece yang dia perbaiki sembilan puluh detik tadi, nggak ada apa-apa.
Sunyi.
Bukan sunyi statis. Bukan sunyi rusak. Sunyi yang bersih. Sunyi yang jernih. Sunyi yang berfungsi sempurna, dan memilih nggak bersuara.
Aku menunggu.
Dua detik. Tiga detik.
“Pembawa acara standby,” kata Mas Herman di earpiece. “Tiga puluh detik.”
Aku menatap booth audio. Siluet berhoodie kuning itu masih menunduk ke konsol. Nggak bergerak. Kepalanya nggak terangkat. Tangannya nggak bergerak ke mana pun.
“Teknisi channel tujuh,” bisikku lagi, lebih pelan. “Kalau dengar, ketuk dua kali.”
Sunyi.
“Dua puluh detik.”
Mungkin dia sibuk. Mungkin dia sedang membetulkan routing yang Raka bilang kacau. Mungkin channel tujuh di gala ini bukan channel tujuh. Mungkin aku channel tiga lagi, seperti di Family Day. Mungkin IFB tone di sistem sewaan ini beda tombolnya. Mungkin.
“Sepuluh detik.”
Erga melirikku. “Cyn? Kamu oke?”
“Oke.”
“Lima.”
Dan di telinga kananku:
Bip.
Bip.
Dua bunyi. Jernih. Bersih.
Tapi telat.
Telat. Dua puluh detik lebih telat dari yang seharusnya. Datang tepat di hitungan kelima, waktu aku sudah berhenti menunggu, waktu aku sudah setengah melangkah ke arah panggung.
“Empat. Tiga.”
Aku menghembuskan napas. Lag, pikirku. Sistem sewaan. Murah. Pin konektornya bengkok. Dia sendiri yang bilang.
“Dua.”
Aku menegakkan punggung. Merapikan gaun. Memasang senyum.
“Satu.”
Lampu sorot menyala.
“Selamat malam, keluarga besar TRAC, dan seluruh tamu undangan yang terhormat!”
Suaraku keluar dari speaker-speaker besar di sekeliling rooftop. Jernih. Hangat. Sempurna. Lima ratus orang bertepuk tangan. Langit Jakarta di atas kami gelap dan luas, dengan lampu-lampu gedung lain berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Aku membawakan gala itu tanpa satu kesalahan pun.
Tiga jam. Pembukaan. Doa oleh Mbak Vina. Sambutan direktur utama. Penghargaan untuk karyawan dua puluh lima tahun. Penampilan penyanyi tamu. Video perjalanan TRAC dari tahun ke tahun. Lelucon-lelucon Erga yang gugup, yang entah gimana selalu jadi lucu karena dia gugup. Tepuk tangan. Tawa. Air mata di bagian video kenangan.
Suaraku sempurna sepanjang malam. Lebih dari sempurna. Hangat di tempat yang perlu hangat. Jernih di tempat yang perlu jernih. Ada sesuatu di mixing-nya malam itu, sesuatu yang membuat suaraku terdengar lebih kaya dari biasanya, seperti ada yang menyetelnya dengan sangat teliti, fader demi fader, frekuensi demi frekuensi.
Di meja paling depan, Ibu duduk dengan punggung lurus, menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Di akhir acara, waktu aku dan Erga mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa di dua puluh lima tahun berikutnya, lima ratus orang berdiri dan bertepuk tangan.
Ibu juga berdiri.
Dan Ibu menangis.
Bukan tangis yang ditahan. Tangis yang dia biarkan keluar, di depan lima ratus orang, di depan orang-orang yang dulu mengenalnya. Air mata mengalir di pipinya yang dirias sempurna. Dan dia nggak menghapusnya.
Aku menatap Ibu dari atas panggung, dan dadaku penuh.
Lalu, di sela-sela tepuk tangan, aku menoleh ke booth audio di sudut rooftop.
Siluet berhoodie kuning masih di sana. Masih menunduk ke konsol. Masih memakai headphone.
Selama tiga jam, dia nggak mengangkat kepala sekali pun.
Aku menunggu dia mengangkat kepala. Menatap ke arah panggung. Mengedipkan lampu meja sound dua kali, seperti di Family Day.
Dia nggak mengangkat kepala.
Lampu meja sound nggak berkedip.
Lampu sorot padam. Tirai hitam menutup. Aku turun dari panggung dengan sepatu hak dua belas senti, gaun biru tua yang berkilau, dan senyum yang sudah aku pakai selama tiga jam sampai rahangku pegal.
Ibu memelukku di backstage. Erat. Masih menangis.
“Kamu sempurna, Cyn,” bisiknya. “Sempurna.”
Aku memeluk Ibu balik.
Dan dari balik bahu Ibu, lewat celah kain tenda backstage yang tersibak angin malam, aku melihat booth audio di sudut rooftop.
Kosong.
Dua siluet tadi sudah nggak ada. Konsolnya sudah dimatikan. Lampu-lampu kecil berwarna-warni di atasnya sudah padam.
Hoodie kuning stabilo itu sudah pergi.
Dan aku baru sadar, untuk pertama kalinya sejak malam pertama aku naik Wati, dia pergi tanpa bilang apa-apa.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai reading
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu