Chapter Twenty Nine
Jeda
POV: Cynthia
Dino menemukanku di parkiran basement B1 jam enam sore, dengan kotak martabak di pelukannya dan wajah seperti orang yang baru melihat hantu.
Aku baru keluar dari lift, mau ke mobil. Hari itu aku nggak ada acara apa-apa. Sudah tiga minggu aku nggak ada acara apa-apa di malam hari. Aku pulang, mandi, berbaring, menatap langit-langit, dan nggak tidur.
“Cyn,” kata Dino.
“Din? Kamu ngapain di B1? Motormu kan di—”
“Gue nyari lo.” Dia mengangkat kotak martabak. “Gue bawa martabak. Keju cokelat. Ini martabak darurat.”
“Martabak darurat?”
“Martabak yang dibeli dalam keadaan darurat. Rasanya sama, tapi energinya beda.” Dia menatapku. Wajahnya pucat. “Kita bisa ngobrol di mobil lo?”
Kami duduk di mobilku. Mesin mati. Lampu kabin menyala kuning redup. Kotak martabak terbuka di pangkuan Dino, dan dia nggak menyentuhnya.
Itu yang pertama membuatku takut. Dino nggak menyentuh martabak.
“Din,” kataku. “Kamu kenapa?”
Dia menatap martabak itu. Lalu menatapku. Lalu menatap martabak itu lagi.
“Gue tadi ke rooftop,” katanya. “Mau bikin konten. Golden hour. Makan martabak dengan latar matahari terbenam. Gue udah siapin kata pembuka. Halo guys, balik lagi sama Dino Doyan, hari ini kita makan di tempat tertinggi di TRAC Tower...”
Dia berhenti.
“Terus?” tanyaku.
“Terus gue denger Yura.”
Aku membeku.
“Dia di sisi utara. Gue di balik AC yang paling gede. Dia nggak lihat gue. Salman juga nggak.” Dino menelan ludah. “Cyn, Yura nembak Salman.”
Dunia di sekitarku menjadi sangat sunyi.
Bukan sunyi yang tenang. Sunyi yang berdengung. Seperti AC sentral di basement. Seperti layar yang mati sebelum menyala.
“Gue nggak denger semuanya,” lanjut Dino cepat. “Anginnya kenceng. AC-nya bunyi kayak pesawat. Tapi gue denger aku suka kamu. Gue denger aku tahu kalian pacaran.” Dia menatapku. “Kalian. Lo sama Salman.”
Aku nggak bisa bicara.
“Terus gue denger dia minta earbud,” lanjut Dino. “Yang kiri. Yang di kotak. Dia bilang boleh aku jadi dunianya.” Dino mengusap wajahnya dengan tangan. “Gue nggak ngerti maksudnya, Cyn. Tapi kedengarannya kayak... kayak kalimat yang lo nggak bisa tolak.”
“Terus Salman?” Suaraku keluar kecil. Sangat kecil.
“Salman ngeluarin earbud-nya dari kotak,” kata Dino. “Megang lama. Lama banget. Terus...”
Aku menahan napas.
“Terus dia pasang di kupingnya sendiri,” kata Dino. “Bukan dikasih ke Yura. Dipasang di kupingnya sendiri. Terus dia nggak ngomong apa-apa. Terus Yura bilang jangan jawab sekarang, terus Yura pergi, nangis. Gue denger dia nangis di tangga darurat lantai dua puluh sembilan. Lama.”
Aku menatap dasbor mobil.
Earbud. Di telinganya sendiri.
Sudah tiga minggu telinga kirinya kosong. Aku tahu. Aku lihat. Di kantin, di lobby dari sebelas meter, di malming waktu Yura menyeka sambal dari sudut bibirnya. Telinga kiri yang selalu punya lagu, tiga minggu kosong.
Dan hari ini, waktu Yura minta jadi dunianya, dia memasangnya lagi.
Aku nggak tahu artinya.
Aku ingin tahu artinya. Aku ingin itu berarti sesuatu yang bagus. Aku ingin itu berarti lagu yang dia pasang adalah lagu yang sama dengan yang ada di kotak putih kecil di ruang rias, yang aku putar lima menit setiap pagi sebelum tim rias datang.
Tapi aku nggak bisa tanya.
Karena untuk bertanya, aku harus mengakui. Dan aku sudah tiga minggu nggak bisa mengakui apa-apa.
“Cyn,” kata Dino pelan. “Lo pacaran sama Salman?”
Aku menatapnya.
Dino. Dino Prasetyo. Si tukang makan yang jadi badut di Family Day, yang memberi anak hilang balon sosis rasa rubah ekor sembilan, yang menangis karena martabak keto, yang selalu jadi orang pertama yang tertawa dan orang terakhir yang pulang dari malming.
Dia menatapku dengan mata yang serius. Nggak ada senyum. Nggak ada hidung badut.
Aku mengangguk.
Pelan. Sekali.
Itu pertama kalinya aku mengakui ke seseorang selain Raka, Pak Slamet, Pak Darto, Bu Nur, dan Wati.
Dan aku mengakuinya dengan anggukan. Bukan dengan kata-kata.
Dino menatapku lama.
“Kenapa rahasia?” tanyanya.
Aku membuka mulut.
Karena kerjaanku. Karena Ibu. Karena akun gosip. Karena kamera selalu nyala.
Semua jawaban itu ada di tenggorokanku. Semua jawaban yang sudah aku pakai selama sebulan. Ke diriku sendiri. Ke Salman. Ke dinding basement.
Nggak ada satu pun yang keluar.
Karena di mobil yang gelap ini, dengan Dino yang menatapku dan martabak yang belum dia sentuh, semua jawaban itu tiba-tiba terdengar seperti alasan. Seperti preset. Seperti nggak apa-apa.
“Aku nggak tahu, Din,” bisikku.
Dino diam.
Lalu dia mengambil satu potong martabak. Memakannya. Pelan. Mengunyah. Menelan.
“Oke,” katanya. Lalu dia menyodorkan kotak martabak itu kepadaku. “Makan.”
“Aku nggak lapar.”
“Martabak darurat bukan buat lapar. Martabak darurat buat hati.” Dia menyodorkannya lebih dekat. “Makan, Cyn. Satu aja.”
Aku mengambil satu potong.
Manis. Keju dan cokelat meleleh di lidah. Terlalu manis. Terlalu lembut.
Aku menangis.
Dino nggak bilang apa-apa. Dia cuma mengambil potongan kedua, memakannya, dan menunggu.
“Gue nggak akan cerita ke siapa-siapa,” katanya setelah aku berhenti menangis. “Rahasia badut.”
“Rahasia badut?”
“Rahasia yang dijaga sama orang yang mukanya selalu senyum. Karena nggak ada yang curiga sama badut.” Dia tersenyum. Senyum yang sedikit sedih. “Gue udah nyimpen satu rahasia badut buat Salman. Sekarang gue nyimpen satu buat lo.”
“Rahasia apa yang kamu simpen buat Salman?”
Dino menatapku lama.
“Nanti,” katanya. “Kalau lo udah siap. Itu bukan rahasia gue buat diceritain.”
Besoknya, aku nggak ketemu Salman sepanjang hari.
Aku tahu dia ada. Aku dengar suara IFB tone di earpiece-ku jam enam pagi, waktu floor director minta cue. Bunyi bip biasa. Bunyi teknis. Bukan bunyi yang menjawab panggilan.
Aku nggak memanggil.
Aku nggak berani memanggil.
Jam lima sore, aku melihat Yura keluar dari lift di lantai dua belas. Kaus putih, jeans, sepatu kets. Wajah tanpa riasan. Matanya merah. Di pelukannya, hoodie kuning stabilo. Dilipat rapi. Dan di tangan kirinya, selembar kertas HVS yang dilipat empat.
Dia melihatku di koridor.
Dia berhenti.
Kami saling menatap. Dua meter. Dua orang yang dua tahun duduk bersebelahan di ruang rias, yang dua minggu terakhir nggak bicara satu kata pun.
Yura nggak tersenyum. Tapi dia juga nggak membuang muka.
Dia cuma menatapku. Lama. Dengan mata yang merah dan bengkak dan, entah gimana, tenang. Lebih tenang dari yang pernah aku lihat.
Lalu dia mengangguk. Sekali. Pelan.
Dan berjalan melewatiku.
Aku nggak tahu apa arti anggukan itu.
Malam itu, aku akan tahu.
Jam tujuh, HP-ku bergetar.
Teknisi Ch. 7: b2
Teknisi Ch. 7: zona c
Teknisi Ch. 7: jam 8
Teknisi Ch. 7: kalau kamu bisa
Zona C.
Bukan Zona D, blind spot CCTV yang Raka petakan. Zona C. Tempat dia bilang aku suka kamu kayak bakso level sembilan ke dinding. Tempat aku memeluknya dari belakang dan bilang aku nambah terus. Tempat Pak Slamet memutar Chaiyya Chaiyya lewat interkom.
Aku menatap pesan itu lama.
Lalu aku berdiri. Berjalan ke loker di ruang rias. Membuka pintunya.
Di rak paling bawah, di balik sepatu hak sebelas senti yang sudah tiga minggu aku pakai lagi, ada sandal jepit biru. Lima belas ribu. Bekas label harganya sudah dicopot.
Aku menatapnya.
Lalu aku melepas sepatu hakku. Dan memakai sandal itu.
Tumitku menarik napas panjang. Seperti orang baru pulang mudik.
Basement B2. Zona C. Jam delapan.
Lampu neon berkedip. Dengung AC sentral. Bau oli dan beton basah. Mobil-mobil diparkir rapi, setengah slot kosong.
Dan di pojok paling ujung, di bawah satu-satunya lampu yang nggak berkedip, Wati.
Dan Salman.
Dia berdiri di samping Wati. Nggak duduk di jok. Berdiri. Hoodie warna hijau zaitun, bergambar seekor burung hantu yang memakai kacamata baca dan duduk di atas tumpukan buku. Satu earbud di telinga kiri.
Telinga kiri. Earbud. Ada.
Dia menoleh waktu mendengar langkahku. Plak, plak, plak. Sandal jepit di lantai beton.
Dia menatap kakiku.
Lalu dia menatap wajahku.
Dan sesuatu di wajahnya bergerak. Sesuatu yang lembut, dan sangat sedih, dan sangat cepat disembunyikan.
“Kamu pakai sandal,” katanya pelan.
“Iya.”
“Sudah tiga minggu kamu pakai sepatu hak.”
“Kamu hitung?”
“Aku dengar.” Dia menatap kakiku lagi. “Kamu jalan miring ke kiri. Tumit kananmu sakit. Kamu nggak pernah jalan miring waktu pakai sandal.”
Aku berdiri di depannya. Satu meter.
Lalu dia melangkah maju. Satu langkah. Nol meter.
Dan dia memelukku.
Pelukan itu lama.
Lebih lama dari di halte di bawah hujan. Lebih lama dari di basement waktu dia menyatakan perasaan. Lebih lama dari di master control waktu Pak Darto mengepel satu ubin tiga kali.
Dia memelukku erat. Satu tangan di punggungku, satu tangan di belakang kepalaku. Wajahnya di rambutku. Napasnya, aku bisa merasakannya, panjang dan pelan dan sedikit gemetar, seperti orang yang menarik napas sebelum menyelam ke tempat yang sangat dalam.
Aku memeluknya balik. Erat. Wajahku di dadanya, di burung hantu berkacamata baca.
Aku bisa mendengar jantungnya.
Nggak fals.
Itu yang membuatku takut. Jantungnya nggak fals. Jantungnya teratur. Pelan. Seperti metronom. Seperti jantung orang yang sudah memutuskan sesuatu.
“Man,” bisikku ke dadanya.
“Hm.”
“Kamu kenapa?”
Dia nggak menjawab. Dia cuma memelukku lebih erat sebentar. Lalu, pelan, sangat pelan, dia melepasku.
Tangannya masih di bahuku. Dia menatapku dari jarak tiga puluh senti.
“Cyn,” katanya. “Kita jeda dulu, ya.”
Aku nggak langsung mengerti.
Kata itu terlalu asing. Jeda. Kata yang aku dengar ratusan kali setiap pagi, dari floor director, dari earpiece, dari produser. Jeda iklan. Kita masuk jeda. Jeda dua menit.
Bukan kata yang diucapkan di basement B2 Zona C, di bawah lampu neon, oleh laki-laki yang barusan memelukku seolah aku bisa pecah.
“Jeda,” ulangku.
“Iya.”
“Maksudnya...” Aku menatapnya. “Maksudnya putus?”
“Bukan.” Dia menggeleng. “Jeda. Kayak iklan.”
“Kayak iklan.”
“Siarannya nggak selesai, Cyn. Cuma berhenti sebentar. Penonton masih di depan TV. Presenternya masih di sofa. Lampunya masih nyala. Cuma...” Dia mencari kata. “Cuma nggak ada yang harus on air dulu. Semua orang boleh napas.”
Aku menatapnya. Tanganku dingin.
“Kenapa?”
Dia nggak menjawab langsung.
“Gara-gara Yura?” tanyaku. Suaraku pecah. “Dino cerita. Soal rooftop. Soal aku suka kamu. Soal earbud.”
“Bukan gara-gara Yura.” Dia menatapku lurus. “Aku nolak Yura. Tadi sore. Di studio enam.”
Aku membeku.
Anggukan Yura di koridor. Mata merahnya. Hoodie kuning stabilo di pelukannya.
Dia nolak Yura.
Lega membanjiri dadaku. Begitu deras sampai aku hampir jatuh. Lalu, sedetik kemudian, lega itu tenggelam oleh sesuatu yang lain. Sesuatu yang dingin.
“Kalau bukan gara-gara Yura,” bisikku, “terus kenapa?”
Salman menatapku lama.
“Kamu capek, Cyn,” katanya.
“Aku nggak capek.”
“Kamu capek.” Suaranya pelan. Nggak membantah. Cuma menyatakan, seperti teknisi yang membaca meter sinyal. “Tiga minggu napasmu pendek di channel tujuh. Tarikan di koma sebelum Indonesia telat setengah detik. Suaramu serak di frekuensi rendah tiap pagi. Kamu jalan miring ke kiri di lobby karena tumitmu sakit. Kamu nggak sentuh salad di kantin. Kamu nggak tidur.”
Aku menatapnya.
“Itu bukan gara-gara kamu,” kataku. Suaraku keluar terlalu cepat.
“Iya,” katanya. “Bukan gara-gara aku.”
Dia diam sebentar.
“Gara-gara jaraknya.”
Aku nggak bisa bicara.
“Tiga meter di lobby,” lanjutnya pelan. “Sebelas meter kalau rame. Duduk berseberangan di kantin, bukan bersebelahan. Lift beda. Pintu tangga darurat. Resepsionis yang ditanya soal paket yang nggak ada.” Dia menatapku. “Kamu harus inget semua itu, Cyn. Tiap hari. Tiap jam. Tiap kali ada orang. Kamu harus ngitung jarak. Kamu harus ngecek siapa yang lihat. Kamu harus jaga kaca helm tetap ketutup.”
Aku menggigit bibir.
“Itu capek,” katanya. “Jaga jarak dari orang yang kamu sayang itu capek banget. Lebih capek dari naik dua ratus delapan puluh anak tangga. Aku tahu, soalnya aku naik dua ratus delapan puluh anak tangga tiap pagi, dan itu nggak ada apa-apanya dibanding lihat kamu ngitung jarak di lobby.”
“Man—”
“Kalau aku nggak di dekatmu,” katanya, “kamu nggak perlu jaga jarak.”
Basement B2 sunyi.
Lampu neon di kejauhan berkedip. Terang. Gelap. Terang.
Aku menatap laki-laki di depanku. Burung hantu berkacamata baca. Earbud di telinga kiri. Wajah datar yang aku kenal, yang aku hafal, yang aku cium di Zona D dan bilang ini level enam.
Dan aku nggak mengerti.
Aku benar-benar nggak mengerti.
Kenapa sekarang? Kenapa jeda, kalau dia baru menolak Yura? Kenapa jeda, kalau earbud-nya sudah kembali di telinganya? Kenapa jeda, kalau tiga minggu ini dia masih membalas pesanku, masih bilang kamu oke?, masih memasang kompresor di channel tujuh setiap pagi, aku tahu, aku bisa dengar suaraku sendiri di monitor dan itu bukan suara orang yang tidur tiga jam?
Apa yang berubah?
Apa yang dia tahu yang aku nggak tahu?
“Man,” kataku. “Ada sesuatu yang kamu nggak bilang.”
Dia menatapku.
Dan untuk sedetik, sepersekian detik, aku melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang retak. Sesuatu yang hampir keluar. Seperti napas yang ditahan terlalu lama dan hampir lepas.
Lalu dia tersenyum.
Senyum kecil. Senyum teknisi.
“Nggak ada,” katanya.
“Kamu bohong.”
“Aku nggak pernah bohong.”
“Kamu bohong sekarang.” Mataku panas. “Aku bisa dengar, Man. Kamu yang ngajarin aku. Nada naik. Tempo cepat. Jeda sebelum kata kunci. Kamu barusan—”
“Cyn.”
Aku berhenti.
Dia menatapku. Tangannya masih di bahuku. Dia mengusap bahuku dengan ibu jarinya. Pelan. Sekali.
“Kamu nggak salah apa-apa,” katanya. “Kamu dengar? Kamu nggak salah apa-apa. Ini bukan hukuman. Ini bukan karena kamu kurang. Ini bukan karena aku marah.”
“Terus kenapa?”
“Karena aku mau kamu tidur.”
Suaranya pecah di kata tidur. Sedikit sekali. Di frekuensi tengah. Getaran yang nggak akan disadari siapa pun.
Kecuali aku. Karena dia yang mengajariku mendengar.
“Aku mau kamu tidur delapan jam,” lanjutnya pelan. “Aku mau kamu pakai sandal ke kantor tanpa mikir siapa yang lihat. Aku mau kamu ketawa di kantin lebih dari tiga detik. Aku mau kamu nggak perlu ngitung jarak.” Dia menelan ludah. “Dan selama aku ada di sini, di jarak tiga meter, kamu nggak bisa berhenti ngitung.”
Air mata jatuh dari mataku.
“Kalau aku nggak mau?” bisikku. “Kalau aku nggak mau jeda?”
Dia menatapku lama.
“Nggak apa-apa,” katanya.
Kalimat itu.
Cepat. Ringan. Tanpa jeda.
Preset.
Dan untuk pertama kalinya, aku mendengarnya.
Bukan cuma mendengar kata-katanya. Mendengar suaranya. Mendengar frekuensinya. Mendengar apa yang ada di bawah kalimat itu, di tempat yang dulu nggak pernah aku perhatikan, karena dulu aku terlalu bahagia, atau terlalu takut, atau terlalu sibuk menghitung jarak.
Di bawah nggak apa-apa itu, ada sesuatu yang ditahan.
Sesuatu yang besar. Sesuatu yang berat. Sesuatu yang dia simpan di laci dan dia kunci, supaya aku nggak perlu membukanya.
Aku dengar itu.
Tapi aku nggak tahu apa itu.
Dan dia nggak akan bilang.
“Oke,” kataku.
Suaraku keluar datar. Dingin. Suara yang aku nggak kenal. Suara Ibu, mungkin. Suara perempuan yang pernah kehilangan segalanya dan belajar untuk nggak pernah memperlihatkan bahwa dia kehilangan apa-apa.
“Kalau itu yang kamu mau,” kataku.
Salman menatapku.
“Bukan yang aku mau,” katanya pelan. “Yang kamu butuh.”
“Kamu nggak tahu apa yang aku butuh.”
Dia diam.
Lalu dia menurunkan tangannya dari bahuku. Mundur selangkah. Satu meter.
Lalu satu langkah lagi. Dua meter.
Lalu satu lagi.
Tiga meter.
Dia berdiri di sana. Tiga meter dariku. Di samping Wati. Di bawah lampu neon yang nggak berkedip.
“Earbud-nya simpen,” katanya. “Hoodie-nya simpen. Sandal-nya simpen.”
“Kamu nggak mau dibalikin?”
“Itu bukan punyaku lagi.” Dia menatap kakiku. Sandal jepit biru. “Sandal itu udah milih kamu. Aku nggak bisa misahin kalian.”
Kalimat yang sama.
Kalimat dari malam pertama. Dari parkiran Kedai Ruang Tunggu. Dari waktu aku menenteng sepatu hak sebelas senti dan dia bilang itu napas jodoh.
Aku menangis.
Bukan menangis presenter. Menangis jelek. Menangis yang dimulai dari tenggorokan dan langsung naik ke hidung. Di basement B2 Zona C. Di tempat yang sama di mana aku bilang aku nambah terus.
Salman nggak mendekat.
Dia berdiri tiga meter jauhnya. Tangan di saku hoodie. Wajah datar.
Tapi aku bisa melihat tangannya. Di dalam saku hoodie burung hantu itu. Mengepal. Aku bisa melihat kain saku itu menegang di sekitar kepalannya.
Dia menahan diri.
Dia menahan diri untuk nggak mendekat.
Karena dia sudah memutuskan, dan dia Salman, dan Salman nggak pernah setengah-setengah.
Dia naik ke Wati.
Menyalakannya. Lampu depan menyala. Mata anime di stikernya berbinar menatapku, dan entah karena cahaya neon atau karena air mataku, mata itu kelihatan basah.
“Pulang hati-hati, Cyn,” katanya.
Wati melaju pelan.
Dia nggak membunyikan klakson.
Aku berdiri di Zona C, sendirian, di bawah lampu neon, dengan sandal jepit biru dan air mata yang nggak berhenti, dan mendengarkan suara Wati menjauh. Melewati Zona B. Zona A. Tanjakan keluar basement.
Lalu sunyi.
Kresek.
Interkom di langit-langit.
Aku mendongak.
Kresek. Kresek.
Suara Pak Slamet. Pelan. Nggak bersemangat seperti malam itu. Nggak ada Chaiyya Chaiyya. Nggak ada saya fans.
Cuma suara laki-laki berumur lima puluh tahun, satpam malam, yang selama ini menjaga gerbang dan gedung dan rahasia.
“Mbak Cynthia.”
Aku nggak menjawab. Aku nggak bisa.
“Hati-hati di jalan, Mbak.”
Jeda.
“Rekamannya... saya hapus juga, Mbak. Yang ini.”
Kresek.
Interkom mati.
Aku menyetir pulang dengan sandal jepit di kaki.
Di perempatan Mampang, lampu merah. Sembilan puluh detik.
Bapak ojek berkumis itu ada di jalur motor sebelah kanan. Seperti biasa. Dia menoleh, mencari sesuatu. Mencari motor putih bermata anime.
Lalu dia melihat mobilku. Melihat aku di balik kaca, dengan wajah basah dan rambut berantakan.
Dia nggak tahu siapa aku. Dia nggak pernah melihat wajahku, kecuali sekali, di balik kaca helm yang terbuka, di tengah dua puluh motor yang berjoget.
Tapi dia menatapku lama.
Lalu dia mengangguk sekali. Pelan.
Seperti laki-laki di warung kopi jam dua pagi, yang mengangguk ke orang asing tanpa perlu tahu ceritanya.
Lampu hijau.
Aku melaju.
Jam dua pagi, aku masih belum tidur.
Aku berbaring di kasur. Lampu mati. Hoodie Anya di badanku. Earbud kanan di telinga kananku, memutar Tujhe Dekha To.
Lalu aku berhenti memutarnya.
Aku melepas earbud itu. Memegangnya di telapak tangan. Menatapnya dalam gelap.
Satu buat dengar dunia. Satu buat lagu.
Dia memberiku yang buat lagu.
Dan malam ini, dia memasang yang lain di telinganya sendiri. Yang buat dengar dunia.
Atau mungkin bukan. Mungkin waktu dia memasang earbud itu di rooftop, di depan Yura, dia mengubah artinya. Mungkin telinga kirinya sekarang juga buat lagu. Lagu yang sama.
Aku nggak tahu.
Aku nggak tahu apa-apa.
Aku cuma tahu ada sesuatu yang dia nggak bilang. Sesuatu yang besar, yang membuatnya memutuskan bahwa yang terbaik buat aku adalah tiga meter. Bukan dari lobby. Dari dia.
Sesuatu yang membuat suaranya pecah di kata tidur.
Aku memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku kenal Salman Haikal, aku mencoba mendengar seperti dia mendengar. Aku mencoba mengingat semua nggak apa-apa-nya. Di basement Zona C, waktu aku bilang jangan bilang siapa-siapa. Di chat, waktu segmen Jumat Manis diumumkan. Di tangga darurat, malam gala, waktu dia bilang temenin ibumu, dia nunggu malam kayak gini dua puluh tahun.
Malam gala.
Dia pergi tanpa pamit malam gala.
Aku membuka mata.
Dia nggak pernah pergi tanpa pamit. Nggak pernah. Bahkan waktu Wati mogok di tengah hujan, dia pamit ke Wati.
Malam gala dia nggak mengangkat kepala sekali pun selama tiga jam. Malam gala, bip-nya telat dua puluh detik. Malam gala dia bilang besok aja, lalu nggak apa-apa, lalu turun lewat tangga darurat dan nggak muncul lagi.
Dan sejak malam gala, telinga kirinya kosong.
Aku duduk di kasur.
Jantungku berdetak. Cepat. Kacau.
Fals.
Apa yang terjadi malam gala?
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda reading
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu