Chapter Twenty Five
Aku Bangga
POV: Yura
Aku mengirim pesan itu hari Kamis jam sepuluh malam, dan aku menghapusnya tiga kali sebelum menekan kirim.
Aku: man
Aku: besok bisa jemput aku di senopati?
Aku: mobilku masih di bengkel. akinya harus ganti, nunggu barang
Aku: sopirku cuti, anaknya sunat
Semua itu benar. Akinya memang harus ganti. Sopirku memang cuti. Anaknya memang sunat. Aku bahkan sudah mengirim amplop.
Tapi aku juga bisa naik taksi online. Pagi-pagi, jam tujuh, taksi online di Senopati itu gampang. Aku tahu itu. Salman pasti tahu itu juga.
Balasannya datang dalam satu menit.
Salman: bisa
Salman: jam 7.15 di depan lobby apartemenmu
Salman: wati suka senopati. kucingnya pakai kalung
Aku menatap pesan itu.
Lalu aku mengetik satu pesan lagi. Pesan yang benar-benar aku hapus lima kali.
Aku: satu lagi
Aku: boleh pinjem hoodie?
Aku: yang paling memalukan
Titik-titik mengetik muncul. Lama. Hilang. Muncul lagi.
Salman: buat apa
Aku: eksperimen sosial
Aku: aku mau tahu rasanya jadi kamu sehari
Titik-titik muncul. Hilang. Lama sekali nggak muncul lagi.
Lalu:
Salman: oke
Salman: aku bawain yang lagi cuti
Aku nggak tahu apa maksudnya yang lagi cuti.
Aku baru tahu besok paginya.
Jam tujuh lewat lima belas, Wati berhenti di depan lobby apartemenku.
Salman di atasnya. Hoodie hari ini warna cokelat susu, bergambar seekor anjing corgi yang memakai topi koki dan memegang loyang kue. Nggak ada bando telinga kucing. Aku memperhatikan itu. Satu earbud di telinga kiri.
Dia membuka jok Wati. Mengeluarkan helm merah muda dengan stiker kelinci. Lalu, dari bawah helm, mengeluarkan hoodie yang dilipat rapi.
Kuning stabilo.
Dia menyerahkannya kepadaku tanpa bilang apa-apa.
Aku membukanya. Wajah karakter anime cowok berambut biru dengan mata berbinar raksasa, mulut terbuka lebar seperti sedang berteriak. Tulisan Jepang yang nggak bisa aku baca.
Hoodie nomor tujuh.
Hoodie yang dia pakai di gala. Hoodie yang dia pakai waktu berlari enam belas lantai untuk membetulkan earpiece Cynthia. Hoodie yang membuat Mbak Vina bilang aku kira tadi ada lampu darurat nyala. Hoodie yang membuat seseorang bilang kayak maskot.
Yang lagi cuti.
Aku menatap hoodie itu. Lalu menatap Salman.
Wajahnya datar. Dia nggak menjelaskan. Dia cuma menatap jalan di depannya, seperti orang yang menunggu lampu hijau.
Aku memakainya.
Di depan lobby apartemenku. Di atas kemeja putih dan rok pensil abu-abu yang aku pakai untuk rapat redaksi jam sembilan. Hoodie itu kebesaran. Lengannya menutupi tanganku. Bagian bawahnya jatuh sampai pertengahan paha, menutupi rok pensilku sepenuhnya, sehingga aku kelihatan seperti nggak pakai bawahan.
Satpam apartemenku menatapku dengan mulut terbuka.
Aku memakai helm merah muda. Membuka kacanya ke atas. Dan naik ke jok belakang Wati.
“Siap?” tanya Salman.
“Siap.”
Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Langsung. Erat.
TRAC Tower, jam delapan lewat lima belas.
Jam paling ramai kedua di lobby, sesudah jam enam sore. Orang-orang divisi berita, divisi variety, divisi marketing, finance, HR, semua masuk bersamaan, karena kebanyakan rapat mulai jam sembilan. Lobby penuh. Pintu putar berputar tanpa henti. Antrean di depan lift mengular sampai ke resepsionis.
Wati berhenti di drop-off depan pintu putar.
Orang-orang menoleh. Tentu saja mereka menoleh. Motor listrik putih bermata anime, dengan teknisi berhoodie corgi koki di depan, dan di belakangnya...
Itu Mbak Yura?
Mbak Yura pakai hoodie apa itu?
Itu hoodie yang dipakai maskot di gala, kan? Yang kuning?
Mbak Yura sama maskot?
Aku turun dari jok. Melepas helm merah muda. Rambutku berantakan karena angin. Aku nggak merapikannya.
Aku berdiri di depan pintu putar TRAC Tower dengan hoodie kuning stabilo bergambar anime yang berteriak tolong saya, kebesaran, menutupi rok pensilku, di depan puluhan karyawan yang menatap.
Dan di balik kaca pintu putar, di dalam lobby, di dekat pilar besar, aku melihatnya.
Cynthia.
Blazer putih. Rambut masih disanggul rapi dari Sapa Pagi yang baru selesai lima belas menit lalu. Gelas kopi di tangan. Dia sedang berdiri bersama Mbak Rini, membahas sesuatu di depan kafe kecil di sudut lobby.
Dia berhenti bicara. Dia menatap ke luar. Ke drop-off. Ke Wati.
Ke aku.
Ke hoodie yang aku pakai.
Aku melihat wajahnya berubah. Bukan dramatis. Kecil. Sangat kecil. Sesuatu di sekitar matanya yang menegang. Sesuatu di bibirnya yang berhenti di tengah kata.
Dia mengenali hoodie ini.
Tentu saja dia mengenalinya.
Aku menyerahkan helm merah muda ke Salman. Dia menerimanya, memasukkannya ke jok.
Lalu aku membungkuk.
Dan aku mencium pipinya.
Pipi kiri. Cepat. Satu detik. Bibirku menyentuh kulit pipinya yang hangat dan sedikit kasar karena belum bercukur.
Lalu aku menegakkan badan.
Lobby TRAC Tower jam delapan lewat lima belas menjadi sangat, sangat sunyi.
Bukan sunyi total. Pintu putar masih berputar. Ada suara langkah kaki. Ada suara HP berdering di suatu tempat. Tapi di sekitar drop-off, di sekitar pintu putar, di sekitar Wati, semua orang berhenti.
Seorang pria dari divisi finance berhenti dengan satu kaki di dalam pintu putar, membuat pintu itu macet sebentar. Tiga perempuan dari divisi HR berhenti dengan mulut terbuka. Pak Jono di pos satpam menjatuhkan kopinya.
Salman membeku.
Seluruh badannya. Tangannya masih memegang jok Wati yang terbuka. Wajahnya masih menghadap ke arahku. Matanya membulat. Mulutnya sedikit terbuka. Seperti video yang di-pause di frame yang paling nggak terduga.
“Makasih tumpangannya,” kataku.
Suaraku tenang. Suara anchor. Suara yang membacakan berita gempa sambil studio bergetar.
“Yang barusan,” tambahku, “juga makasih. Tapi buat hal lain.”
Salman masih membeku.
Lalu, pelan-pelan, sangat pelan, dia menoleh ke Wati. Menatap lampu depannya. Stiker mata anime yang berbinar.
“...Wati,” katanya pelan. “Tadi kamu lihat?”
Wati diam.
“Jangan cerita ke siapa-siapa,” bisiknya ke Wati.
Pria finance yang terjebak di pintu putar tersedak.
Tiga perempuan HR tertawa. Pak Jono tertawa. Beberapa orang di antrean lift yang melihat dari balik kaca juga tertawa. Tawa yang kaget, yang bingung, yang nggak percaya.
Satu lobby lihat. Satu lobby dengar.
Dan Salman berbisik ke motornya, minta motornya jaga rahasia.
Aku hampir tertawa. Hampir. Tapi aku menahannya, karena aku belum selesai.
Aku berbalik. Berjalan ke pintu putar. Masuk. Pintunya berputar pelan, dan aku keluar ke dalam lobby.
Ke arah pilar besar. Ke arah kafe kecil di sudut. Ke arah perempuan berblazer putih dengan gelas kopi di tangan.
Aku berjalan melewatinya.
Aku nggak berhenti. Aku nggak menoleh. Aku cuma berjalan melewatinya, dengan hoodie kuning stabilo dan rambut berantakan dan wajah tenang, satu meter darinya.
Dari sudut mataku, aku melihat tangannya. Tangan yang memegang gelas kopi. Jari-jarinya putih. Mencengkeram gelas kertas itu terlalu keras, sampai tutup plastiknya sedikit melengkung.
Aku terus berjalan ke lift.
Dan baru di dalam lift, waktu pintunya menutup dan aku sendirian dengan enam orang asing yang semuanya menatapku diam-diam, aku menyadari bahwa tanganku sendiri gemetar.
Rapat redaksi jam sembilan, aku tetap pakai hoodie itu.
Pemimpin redaksi menatapku dari ujung meja. Lama. Dia membuka mulut, lalu menutupnya, lalu membukanya lagi.
“Yura,” katanya akhirnya. “Itu...”
“Eksperimen sosial, Pak.”
Dia menatapku lebih lama. Lalu mengangguk pelan, seperti orang yang memutuskan bahwa ada hal-hal di dunia ini yang lebih baik nggak ditanyakan, dan membuka agenda rapat.
Jam sepuluh, grup RUANG TUNGGU FC meledak.
Dino: YURA
Dino: YURA KIRANA
Dino: GUE BARU DAPET VIDEO DARI MAS UJANG YANG DAPET DARI MBAK SASA YANG DAPET DARI ANAK MAGANG HR
Dino: LO CIUM PIPI SALMAN DI DEPAN LOBBY???
Dino: PAKE HOODIE NOMOR TUJUH???
Diana: klasemen hoodie update
Diana: aku bikin kategori baru: klasemen pemakai
Diana: peringkat 1: yura kirana, hoodie nomor 7, lobby TRAC, jam 08.15
Diana: alasan: juri nggak tahu harus ngomong apa
Diana: juri cuma bisa nulis
Erga: ...
Erga: yura?
Erga: kamu oke?
Salman nggak membalas.
Cynthia nggak membalas.
Status online mereka berdua menyala. Tapi mereka diam.
Jam dua belas, aku makan siang di meja OB.
Bukan di meja bundar sudut kanan. Di meja OB, di pojok dekat dapur katering. Meja tempat Pak Darto, Mas Ujang, Mas Fikri, dan Bu Yati makan nasi bungkus setiap hari. Meja tempat figure Anya masih duduk di tengah, sudah tiga minggu magang, dengan wajah plastiknya yang licik dan tangan yang memegang kacang.
Salman sudah di sana. Membagi bakso dari rantang ke piring-piring mereka.
Dia melihatku datang. Dengan hoodie kuning stabilo. Dengan nampan berisi nasi dan sayur dari etalase Bu Tini.
Wajahnya datar. Tapi aku melihat tangannya berhenti sebentar, sendok kuah di udara.
“Boleh gabung?” tanyaku ke Pak Darto.
Pak Darto menatapku. Lalu menatap Salman. Lalu kembali menatapku, dengan wajah yang sangat bingung dan sangat sopan.
“B-boleh, Mbak Yura. Silakan.”
Mas Ujang bergeser. Bu Yati bergeser. Aku duduk di antara Mas Ujang dan figure Anya.
“Mbak Yura mau bakso?” tanya Salman. Datar.
“Mau.”
Dia menyendokkan bakso ke piringku. Tiga butir. Kuah bening. Kerupuk bawang di samping, bukan kerupuk udang.
“Makasih,” kataku.
“Hm.”
Aku makan. Mas Ujang menatapku seperti menatap selebritas yang tiba-tiba muncul di warung pinggir jalan. Bu Yati tersenyum malu-malu. Pak Darto berusaha keras untuk nggak menatap hoodie-ku, tapi gagal setiap tiga detik.
“Mbak Yura,” kata Mas Ujang akhirnya, pelan. “Hoodie-nya bagus.”
“Makasih, Mas. Ini punya Salman.”
“Iya, Mbak. Saya tahu. Mas Salman pernah pakai pas... pas...” Mas Ujang berhenti. Melirik Salman. Lalu melirik aku lagi. Wajahnya berubah, seperti orang yang baru sadar dia melangkah ke tempat yang salah.
“Pas gala,” kataku.
Mas Ujang mengangguk pelan.
Hening sebentar di meja OB.
Lalu Bu Yati, dengan suara yang sangat lembut, bilang, “Mas Salman pas gala itu lari dari lantai empat belas ke lantai tiga puluh, Mbak. Lewat tangga. Saya lagi ngepel di lantai dua puluh, saya lihat dia lewat. Cepet banget. Kayak dikejar setan.” Dia tersenyum. “Pasti ada yang penting di atas.”
Salman menatap rantangnya.
Aku menatap Salman.
“Iya,” kataku pelan. “Pasti ada yang penting.”
Malming hari Sabtu, Kedai Ruang Tunggu.
Aku datang dengan hoodie nomor tujuh. Lagi. Sengaja.
Diana menatapku dari meja pojok waktu aku masuk. Dia nggak membuka buku catatannya. Dia cuma menatapku dengan wajah yang aku nggak bisa baca.
Erga menatapku dengan alis berkerut.
Dino menatapku sambil memegang kotak martabak. Martabak manis keju cokelat. Ternyata keto-nya berakhir di hari keempat belas.
“Gue nyerah,” katanya waktu melihatku menatap kotak itu. “Tubuh gue nggak diciptakan buat keto. Tubuh gue diciptakan buat martabak. Maaf, tubuhku. Maaf, dokter. Maaf, kolesterol.” Dia menyuap sepotong. Air mata menggenang di matanya. “Tapi ini enak banget. Ya Tuhan, ini enak banget. Gue kangen.”
Itu hal paling lucu yang dikatakan siapa pun malam itu.
Nggak ada yang tertawa.
Salman datang lima menit kemudian. Hoodie warna abu-abu, polos. Tanpa gambar. Satu-satunya hoodie polos yang dia punya. Yang aku tahu, dari cerita Dino, dia pakai waktu ke bioskop di Depok.
Diana menatap hoodie polos itu. Lama.
“Nggak ada gambar,” katanya pelan.
“Lagi pengen polos,” jawab Salman.
Diana membuka buku catatannya. Menulis sesuatu. Menutupnya lagi. Nggak membacakan apa-apa.
Dan Cynthia datang terakhir.
Blazer hitam. Celana bahan. Sepatu hak sedang. Rambut tergerai rapi. Riasan sempurna.
Bukan sandal jepit biru.
Aku memperhatikan itu. Semua orang memperhatikan itu.
Dia duduk di kursi kosong satu-satunya. Di seberang Salman. Di sebelahku.
“Malam,” katanya. Senyum. Tiga detik.
“Malam,” jawab semua orang.
Pak Hendro membawakan bakso dari freezer PUNYA SALMAN. Enam mangkuk. Salman mengeluarkan toples sambal level lima dari tasnya.
Kami makan.
Nggak ada yang bicara banyak. Erga mencoba memulai obrolan soal Jumat Manis minggu depan, tapi berhenti setelah dua kalimat waktu melihat wajah Cynthia. Dino makan martabak dan bakso bergantian dengan konsentrasi yang menyedihkan. Diana menulis di buku catatannya tanpa membacakan apa-apa.
Salman menonton anime di HP yang disandarkan ke toples sambal. Tanpa suara. Tanpa earbud. Telinga kirinya masih kosong. Sudah seminggu.
Aku menatap telinga kirinya.
Lalu aku menatap sudut bibirnya. Ada sambal. Sedikit. Merah. Di sudut kiri, di tempat yang dia nggak sadar.
Aku mengulurkan tangan.
Dan dengan ibu jariku, aku menyeka sambal itu dari sudut bibirnya.
Pelan. Satu usapan. Di depan meja pojok Kedai Ruang Tunggu. Di depan Diana dan Erga dan Dino. Di depan Cynthia.
Salman membeku.
Lagi.
“Ada sambal,” kataku. “Kamu tuh makannya berantakan.”
Aku mengambil sendokku. Menyendok bakso urat dari mangkukku. Meniupnya pelan. Lalu menyodorkannya ke depan mulutnya.
“Aaa,” kataku. “Buka.”
Meja pojok hening.
Erga meletakkan sendoknya pelan-pelan. Dino berhenti mengunyah martabak di tengah gigitan. Diana mengangkat kepala dari buku catatannya, dan pulpennya berhenti di tengah huruf.
Salman menatap sendok di depan mulutnya. Lalu menatapku. Wajahnya datar, tapi matanya bilang sesuatu. Sesuatu yang memohon. Yura, jangan.
Aku nggak menurunkan sendok.
Dia menatapku lama.
Lalu, karena dia Salman, dan karena dia nggak akan pernah membuat seseorang merasa malu di depan orang lain, nggak sekali pun, bahkan sekarang, dia membuka mulutnya. Dan memakan bakso itu dari sendokku.
Pelan. Mengunyah. Menelan.
“Makasih,” katanya. Datar. Lalu, dengan suara yang sama datarnya, seperti teknisi yang memberi catatan teknis: “Tapi sendoknya nanti dicuci pakai sabun, ya. Aku habis makan level lima. Takut sendokmu ikut kepedesan.”
Dino tersedak martabak.
Dan itu, akhirnya, membuat Erga tertawa. Sedikit. Tawa yang kaget dan gugup dan nggak tahu harus ke mana.
Aku menurunkan sendokku. Menatap Salman. Dia sudah kembali menatap HP-nya. Anime di layar. Wajah datar.
Aku tahu apa yang barusan dia lakukan.
Dia makan dari sendokku supaya aku nggak malu. Lalu dia bilang soal sabun supaya semua orang tertawa. Supaya momen itu jadi lelucon, bukan jadi sesuatu yang lain.
Dia melindungiku juga.
Dari diriku sendiri.
Aku menoleh ke Cynthia.
Dia nggak makan. Dari tadi. Mangkuknya masih penuh. Sendoknya di tangan, tapi nggak bergerak. Wajahnya tenang. Senyumnya kecil. Senyum yang sopan.
Tapi matanya.
Matanya menatap sudut bibir Salman. Tempat yang tadi aku seka dengan ibu jari.
Dan aku melihat sesuatu di sana yang belum pernah aku lihat di mata Cynthia Larasati Wirawan selama dua tahun aku mengenalnya. Bukan marah. Bukan cemburu, walaupun ada cemburu di sana, aku bisa melihatnya. Sesuatu yang lebih dalam dari cemburu.
Malu.
Bukan malu karena Salman. Malu karena dirinya sendiri.
Aku mendekatkan wajahku ke telinganya. Pelan. Supaya cuma dia yang dengar. Di bawah suara Dino yang masih batuk-batuk karena martabak dan suara Erga yang menepuk punggung Dino.
“Kamu malu jalan sama dia,” bisikku.
Cynthia membeku.
Aku menarik napas.
“Aku bangga.”
Cynthia berdiri.
Kursinya berderit di lantai kayu. Keras. Semua orang menoleh.
“Toilet,” katanya. Suaranya tenang. Senyumnya tetap di wajahnya. “Bentar.”
Dia berjalan ke arah toilet di belakang kafe. Langkahnya rapi. Cepat. Teratur.
Kayak tentara.
Pintu toilet tertutup di belakangnya.
Meja pojok sunyi.
Lalu aku melihat Salman.
Dia setengah berdiri. Kursinya terdorong ke belakang. Tangannya di pinggir meja. Matanya menatap pintu toilet. Seluruh badannya condong ke arah sana, seperti orang yang mau lari.
Lalu dia berhenti.
Dia menatap pintu toilet itu. Lalu menatap meja. Lalu, pelan-pelan, dia duduk kembali. Menarik kursinya ke depan. Menatap HP-nya. Anime di layar, masih tanpa suara.
Dia nggak mengejar.
Dia memutuskan untuk nggak mengejar.
Dan aku tahu kenapa. Aku tahu, karena aku sudah mendengar dari Raka. Karena dia sudah memutuskan, sejak malam gala, bahwa yang terbaik yang bisa dia berikan ke Cynthia adalah jarak. Tiga meter. Atau lebih.
Supaya dia aman.
Supaya dia nggak perlu lagi bilang kenal juga enggak terlalu.
Diana menyusulku ke parkiran jam sepuluh lewat.
Aku pulang lebih dulu. Aku bilang ke semua orang aku capek, besok ada liputan pagi. Itu bohong. Besok hari Minggu. Nggak ada liputan.
Aku berdiri di samping taksi online yang baru datang, mau membuka pintunya.
“Yur.”
Aku menoleh.
Diana berdiri di bawah lampu parkiran. Buku catatan batik di tangan. Wajahnya, wajah yang biasanya selalu siap dengan lima kata yang tajam, sekarang kelihatan lelah.
“Kamu ngapain?” tanyanya. Pelan.
“Aku udah bilang. Aku lagi berani.”
“Itu bukan berani, Yur.” Diana menggeleng. “Aku tahu berani itu kayak apa. Berani itu Erga nembak aku pakai bunga matahari di depan semua orang, terus kalah, terus balik lagi tanpa parfum, terus kalah lagi. Itu berani. Berani itu buat diri sendiri.”
Aku diam.
“Yang kamu lakuin tadi,” lanjut Diana, “itu buat nampar orang.”
Aku menatapnya.
“Aku nggak tahu ceritanya,” kata Diana. “Aku nggak tahu apa yang terjadi sama Cynthia dan Salman. Aku nggak tahu kenapa Salman pakai hoodie polos dan nggak pakai earbud seminggu. Aku nggak tahu kenapa Cynthia pakai sepatu hak lagi.” Dia menarik napas. “Tapi aku tahu satu hal. Kamu lagi nyakitin dua orang, Yur.”
Aku menatap tanah.
“Tiga,” kata Diana pelan. “Sama kamu.”
Taksi online membunyikan klakson. Pelan. Sabar.
Aku nggak bisa bicara.
Diana melangkah ke depanku. Lalu, untuk pertama kalinya selama dua tahun aku mengenalnya, Diana Puspitasari, penulis naskah bermulut tajam yang selalu bergeser lima senti dari siapa pun, memelukku.
Pelukan yang kaku. Canggung. Seperti orang yang jarang memeluk dan nggak yakin di mana harus menaruh tangan.
Tapi pelukan.
“Lima kata,” bisik Diana di bahuku. “Aku tahu kamu suka dia.”
Lalu dia melepasku. Berbalik. Berjalan kembali ke kafe tanpa menoleh.
Aku masuk ke taksi.
Dan di jok belakang taksi online yang bau pewangi jeruk, di jalan Senopati yang lengang jam sepuluh malam, dengan hoodie kuning stabilo bergambar anime yang berteriak tolong saya, aku menangis.
Bukan menangis anchor. Menangis jelek. Menangis yang dimulai dari tenggorokan dan langsung naik ke hidung. Air mata, ingus, napas tersengal-sengal. Sopir taksinya melirik dari kaca spion, lalu diam-diam menyodorkan kotak tisu ke belakang tanpa bilang apa-apa.
Aku menangis karena Diana benar.
Aku menangis karena aku menyakiti Cynthia, sahabatku, satu-satunya orang di gedung itu yang mengerti rasanya dilihat dua juta orang tapi nggak dikenal. Aku menyakitinya dengan sengaja. Aku menyeka sambal dari bibir pacarnya, di depannya, dengan sengaja.
Aku menangis karena aku menyakiti Salman, yang harus memakan bakso dari sendokku supaya aku nggak malu, yang harus bercanda soal sabun supaya momen itu nggak berubah jadi sesuatu yang lain, yang setengah berdiri waktu Cynthia pergi ke toilet lalu duduk lagi.
Dan aku menangis karena yang ketiga.
Karena Diana benar soal yang ketiga juga.
Aku suka dia.
Aku bilang ke diri sendiri aku melakukan semua ini untuk menampar Cynthia. Supaya dia sadar. Supaya dia berhenti malu. Dan itu benar. Itu sebagian besar benar.
Tapi waktu aku mencium pipinya di depan lobby, itu bukan cuma untuk Cynthia.
Waktu aku menggenggam tangannya di kantin, dua puluh tujuh langkah dari etalase ke lift, itu bukan cuma untuk Cynthia.
Waktu aku menyeka sambal dari sudut bibirnya dengan ibu jariku, dan merasakan kulitnya hangat di bawah jariku, itu sama sekali bukan untuk Cynthia.
Taksi berhenti di depan apartemenku.
Aku turun. Hoodie kuning stabilo masih di badanku. Aku nggak melepasnya.
Di lift, sendirian, aku menatap pantulanku di dinding lift yang mengilap. Perempuan dengan mata sembap, hidung merah, rambut berantakan, dan hoodie anime yang kebesaran.
Perempuan itu bukan anchor TRAC Malam.
Perempuan itu cuma Yura.
Dan Yura jatuh cinta pada seseorang yang sudah punya orang lain. Seseorang yang menyanyi fals di lobby buat dia, yang bilang sekarang kamu Yura, yang tahu dia alergi udang karena dia menyingkirkan kerupuk ke pinggir piring.
Seseorang yang, waktu Yura menggenggam tangannya di depan satu kantin, bilang tanganmu anget.
Tapi lift-nya dekat. Untung.
Aku menutup mata di dalam lift.
Lantai dua puluh dua. Pintu terbuka. Koridor kosong. Apartemen yang belum punya gorden.
Aku masuk. Nggak menyalakan lampu. Duduk di lantai, bersandar ke pintu, memeluk lutut di dalam hoodie yang bau sabun cuci murah dan sedikit kaldu sapi.
Dan aku memutuskan sesuatu.
Kalau aku sudah menyakiti tiga orang, setidaknya aku harus jujur ke satu orang.
Aku harus bilang ke dia.
Bukan untuk menampar siapa-siapa. Bukan untuk membuat siapa-siapa sadar. Bukan untuk Cynthia.
Untuk aku.
Supaya aku bisa berhenti.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga reading
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu