Chapter Eight
Namanya Pak Darto
POV: Salman
Cynthia nggak membalas pesanku.
Aku tahu, karena aku mengecek HP empat belas kali sebelum tidur. Lalu tiga kali waktu bangun jam dua pagi untuk minum. Lalu sekali lagi jam lima, waktu Ibu menaruh mangkuk bakso di depanku dan bilang, “Kamu ngapain lihat HP terus kayak nunggu pengumuman CPNS?”
Dua centang biru. Dibaca jam sembilan lewat dua belas malam. Nggak ada balasan.
Aku nggak marah. Aku harus jelaskan ini dengan benar, karena orang-orang suka salah paham soal aku. Aku nggak marah soal ojek kantor. Aku memang mengantar dia pakai Wati. Wati memang mirip ojol. Aku memang bintang lima. Semua yang dia bilang di ruang rapat itu secara teknis benar.
Yang aku pikirkan bukan kalimatnya.
Yang aku pikirkan itu suaranya waktu mengucapkan kalimat itu.
Aku dengar dari ujung meja. Nadanya ringan, lancar, tawanya tiga detik, berhenti tepat waktu. Tapi di ujung kata kantor, ada sesuatu yang turun setengah langkah. Sedikit. Kayak orang yang menginjak anak tangga yang ternyata lebih rendah dari yang dia kira.
Itu bukan suara orang yang bohong ke orang lain.
Itu suara orang yang bohong ke dirinya sendiri.
Aku menyimpan itu di laci. Laciku mulai penuh. Aku harus beli laci baru.
Ibu menepuk kepalaku pakai sendok sayur. “Makan. Baksonya dingin.”
Aku makan. Hoodie hari ini warna cokelat muda, bergambar bocah kecil berkacamata bulat dengan dasi kupu-kupu merah, sedang menunjuk ke depan dengan wajah serius.
Aku nggak tahu kenapa aku pilih hoodie itu pagi ini.
Nanti siang, aku akan tahu.
Masalahnya mulai jam sebelas.
Aku sedang di master control, makan sisa bakso sarapan sambil mengecek jadwal siaran sore, waktu radio HT di meja berbunyi.
“Master control, master control, ini floor studio enam. Ada yang bisa naik? Mixer portabel rusak.”
Suara Mas Herman, floor manager studio enam. Suaranya tegang. Ada nada tinggi di ujung kalimat, nada orang yang sedang marah tapi berusaha terdengar profesional.
Raka menoleh ke arahku. “Mas, studio enam kan lagi kosong. Siapa yang pakai mixer portabel?”
“Nggak ada,” jawabku. “Itu mixer cadangan. Aku taruh di sana dari Jumat buat promo TRAC Malam hari ini.”
Aku turun.
Studio enam itu studio kecil yang biasa dipakai untuk rekaman promo dan bumper. Lantainya hitam, dindingnya hitam, lampunya digantung di rangka besi di langit-langit. Di pojok dekat pintu, di atas meja lipat, ada mixer portabel dua belas channel yang aku siapkan Jumat sore.
Sekarang mixer itu miring.
Satu kaki meja lipatnya patah. Mixer-nya melorot ke samping, dan tiga kenop di channel sembilan sampai sebelas copot, tergeletak di lantai seperti gigi yang tanggal.
Mas Herman berdiri di depannya, tangan di pinggang. Di sebelahnya, dua kru floor dan seorang asisten produser. Dan di depan mereka, berdiri dengan kepala tertunduk dan kedua tangan memegang gagang pel, ada Pak Darto.
“Saya nggak tahu, Mas,” kata Pak Darto pelan. Suaranya gemetar. “Saya cuma ngepel. Waktu saya masuk, mejanya udah kayak gitu.”
“Pak, cuma Bapak yang ada di sini dari jam sembilan,” kata Mas Herman. “Saya lihat sendiri Bapak keluar dari studio ini bawa pel.”
“Saya masuk jam sepuluh lewat, Mas. Bukan jam sembilan.”
“Pak, kalau Bapak nyenggol pakai gagang pel, bilang aja. Nggak apa-apa—” Mas Herman berhenti. Menarik napas. “Maksud saya, kalau Bapak ngaku, kita bisa urus baik-baik. Tapi kalau nggak ngaku, ini harus dilaporin ke GA. Mixer ini harganya belasan juta.”
Pak Darto mengangkat kepala. Wajahnya pucat. Matanya merah.
Aku kenal wajah itu. Wajah orang yang sedang menghitung. Menghitung berapa bulan gajinya. Menghitung uang sekolah anaknya yang baru keterima SMA negeri. Menghitung apa yang harus dia bilang ke istrinya kalau gajinya dipotong.
“Mas Salman,” bisiknya waktu melihatku. “Sumpah, Mas. Saya nggak nyentuh.”
Aku menatap Pak Darto.
Aku teringat setiap pagi di master control. Kemoceng yang berhenti satu senti dari figure Naruto. Napas yang ditahan. Fuuuh. Mundur selangkah. Laki-laki ini nggak berani menyentuh figure plastik setinggi dua puluh senti karena takut harus ganti.
Laki-laki ini nggak mungkin menyenggol mixer dua belas channel lalu pergi diam-diam.
Lalu aku melihat sesuatu di sudut studio, di balik rangka lampu.
Yura.
Dia duduk di kursi tinggi di area green screen, sudah dalam riasan lengkap, blazer hitam, rambut disanggul rapi. Dia pasti sedang menunggu rekaman promo TRAC Malam, yang seharusnya mulai jam sebelas. Dia menatap kejadian ini tanpa bicara, dengan wajah yang tenang tapi alis yang sedikit berkerut.
Dia menatapku. Aku menatapnya.
Lalu aku menoleh ke Mas Herman.
“Mas,” kataku. “Boleh kasih saya lima belas menit?”
Aku tahu ini kedengarannya aneh, tapi aku harus jelaskan sesuatu soal kebiasaanku.
Setiap kali aku memasang mixer di studio mana pun, aku menyalakan fungsi rekam di channel terakhir. Channel dua belas. Aku sambungkan ke satu mic ambient kecil yang aku tempel di bawah meja, menghadap ke ruangan. Rekamannya masuk ke kartu memori di dalam mixer. Kualitasnya jelek, tapi cukup.
Raka pernah tanya kenapa. Aku bilang, “Buat jaga-jaga.”
“Jaga-jaga apa, Mas?”
“Jaga-jaga kalau ada yang butuh didengar.”
Raka bilang aku paranoid. Pak Bambang bilang aku boros kartu memori. Tapi selama empat tahun, rekaman channel dua belas sudah tiga kali menyelamatkan orang. Satu kali kru yang dituduh telat masuk cue, padahal sinyalnya yang telat. Satu kali penyanyi tamu yang dituduh lip sync, padahal dia nyanyi beneran, cuma terlalu bagus. Dan satu kali Pak Bambang sendiri, yang dituduh lupa matiin mic waktu ngomongin direktur, padahal yang lupa matiin mic itu direkturnya.
Aku berjongkok di depan mixer yang miring. Mencabut kartu memori kecil dari slotnya. Masih utuh.
Aku berdiri, mengeluarkan laptop dari tas, dan memasang headphone.
Mas Herman menatapku. “Man, kamu ngapain?”
Aku nggak menjawab. Aku membuka file rekaman, mencari timestamp, dan mulai mendengar.
Lalu, karena aku sedang memakai hoodie bocah berkacamata bulat dengan dasi kupu-kupu merah, dan karena aku sudah menonton anime itu sejak kelas tiga SD, dan karena Pak Darto sedang gemetar dan aku mau dia berhenti gemetar, aku melakukan sesuatu yang mungkin akan aku sesali seumur hidup.
Aku mengangkat jari telunjuk ke udara.
“Pelakunya,” kataku dengan suara rendah dan dramatis, “ada di antara kita.”
Hening.
Dua kru floor saling pandang. Asisten produser menutup mulut. Mas Herman menatapku seperti menatap orang gila.
Di kursi green screen, Yura menunduk. Bahunya bergetar.
Pak Darto berhenti gemetar. Dia cuma menatapku dengan wajah bingung total.
Bagus. Bingung lebih baik daripada takut.
“Jam sembilan lewat tiga menit,” kataku, memutar laptop supaya semua orang bisa melihat gelombang suaranya di layar. Aku mencabut headphone dan memutar suaranya lewat speaker laptop. “Dengar.”
Dari speaker keluar suara samar ruangan kosong. Dengung AC. Lalu, pelan tapi jelas:
Ciiit. Ciiit. Ciiit.
“Ini suara roda troli,” kataku. “Troli wardrobe. Bukan troli sembarangan. Troli nomor tiga, yang roda kiri depannya bengkok sejak acara tujuh belasan tahun lalu. Aku kasih nama dia Si Cicit.”
“Kamu kasih nama ke troli?” tanya Mas Herman.
“Aku kasih nama ke semua yang aku temui lebih dari dua kali. Si Cicit lewat depan master control tiap hari jam delapan. Bunyinya khas. Nada E, agak flat.”
Dari speaker, ciiit-ciiit itu makin keras. Mendekat. Lalu:
BRAK.
Suara benturan keras. Lalu suara logam beradu. Lalu benda kecil jatuh ke lantai, satu, dua, tiga. Kenop.
Lalu suara orang. Laki-laki. Muda. Panik.
“Aduh. Aduh, mampus. Aduh.”
Lalu langkah kaki. Cepat. Menjauh. Diikuti ciiit-ciiit-ciiit yang juga menjauh, lebih cepat dari sebelumnya.
Lalu sunyi.
Aku menggeser timeline. “Sekarang, jam sepuluh lewat delapan menit.”
Dari speaker keluar suara lain. Langkah kaki pelan. Suara ember diletakkan di lantai. Lalu suara pel yang digosokkan ke lantai, srek, srek, srek. Dan di atas suara pel, ada suara orang bersiul.
Lagu dangdut. Nadanya naik-turun dengan semangat, sedikit meleset di beberapa tempat.
“Ini Pak Darto,” kataku. “Pak Darto selalu siul lagu Rhoma Irama kalau ngepel. Nada A, tempo seratus dua puluh. Satu jam lebih lima menit sesudah suara benturan.”
Siulan itu berhenti tiba-tiba.
“Astagfirullah... ini kenapa...”
Suara Pak Darto. Kaget. Lalu langkah kakinya mendekati mixer. Lalu berhenti. Lalu hening lama. Lalu langkah kakinya mundur, pelan, seperti orang yang takut menyentuh sesuatu yang bukan miliknya.
Aku menghentikan rekamannya.
Studio enam sunyi.
Pak Darto menatap laptop itu. Matanya berkaca-kaca. Mulutnya terbuka, tapi nggak ada suara yang keluar.
Mas Herman menatap laptop itu juga. Lalu menatap Pak Darto. Wajahnya pelan-pelan berubah, dari marah jadi bingung jadi sesuatu yang kelihatan seperti malu.
“Troli wardrobe nomor tiga,” kata Mas Herman pelan. “Jam sembilan tadi... siapa yang bawa?”
Salah satu kru floor, cowok muda dengan lanyard magang, wajahnya putih seperti kertas.
Fajar. Anak magang wardrobe. Umur dua puluh satu. Masuk dua bulan lalu.
Aku kenal suaranya. Dia yang tadi bilang aduh mampus.
Fajar mengaku dalam tiga puluh detik. Dia menangis dalam empat puluh detik.
Dia bilang dia buru-buru membawa kostum Mbak Vina untuk rekaman talkshow di studio tujuh. Dia telat. Dia lewat jalan pintas lewat studio enam. Si Cicit belok sendiri ke kiri, seperti biasa, dan menabrak meja lipat. Dia panik. Dia takut. Dia magang, dan dia pikir kalau ketahuan merusak alat belasan juta, dia nggak akan dapat surat rekomendasi buat kampusnya. Jadi dia lari.
“Saya mau ngaku, Mas,” katanya terisak ke Mas Herman. “Saya mau ngaku abis rekaman Mbak Vina. Tapi tadi saya lihat Pak Darto dimarahin, terus saya makin takut...”
Mas Herman menghela napas panjang. Dia menatap Fajar. Lalu dia menatap Pak Darto.
Aku melihat dia sedang berpikir. Berapa harga mixer itu. Prosedur GA. Laporan insiden. Anak magang yang menangis. Dan OB yang sudah dia tuduh di depan orang-orang.
“Mas Herman,” kataku.
Dia menoleh.
“Mixer-nya nggak rusak berat.” Aku berjongkok lagi, memungut tiga kenop yang tergeletak di lantai, dan menunjukkannya. “Kenopnya cuma copot. Nggak patah. Potensiometernya masih utuh, aku udah cek dari suara di rekaman, nggak ada bunyi crack listrik. Kaki mejanya yang patah, tapi meja lipat ini harganya seratus lima puluh ribu, dan gudang punya dua puluh cadangan.”
“Jadi?”
“Jadi kenopnya aku pasang lagi. Lima menit. Nggak perlu laporan GA.”
Mas Herman menatapku lama.
“Tapi,” lanjutku, dan aku berdiri, menatap Fajar. “Ada satu hal yang harus dibayar.”
Fajar menegang. “Berapa, Mas? Saya... saya bisa nyicil...”
“Bakso.” Aku menunjuk Pak Darto. “Pak Darto suka bakso urat. Pakai mi kuning, tanpa bihun, sambal level tiga. Sama es teh manis, gulanya sedikit, soalnya dia lagi jaga gula darah.” Aku menatap Fajar. “Kamu traktir dia makan siang. Hari ini. Terus kamu minta maaf. Langsung, ke mukanya. Pakai kalimat lengkap, bukan maaf ya, Pak sambil lalu.”
Fajar menatapku. Lalu menatap Pak Darto. Lalu, pelan, dia berjalan ke depan Pak Darto, membungkuk dalam-dalam, dan bilang, dengan suara pecah, “Pak Darto, saya minta maaf. Saya yang nabrak mejanya. Saya takut, jadi saya kabur. Gara-gara saya, Bapak dimarahin. Saya minta maaf, Pak.”
Pak Darto menatap anak muda itu.
Lalu dia menangis.
Bukan menangis sedih. Menangis lega. Menangis orang yang sudah menahan napas selama satu jam dan akhirnya boleh bernapas lagi. Dia menarik Fajar ke dalam pelukan, menepuk-nepuk punggungnya dengan tangan yang masih memegang gagang pel, dan bilang, “Udah, udah. Nggak apa-apa, Nak. Yang penting ngaku. Yang penting ngaku.”
Mas Herman membuang muka, mengusap hidung. Dua kru floor pura-pura membetulkan kabel. Asisten produser terang-terangan menangis.
Dan aku berjongkok di depan mixer, memasang kenop satu per satu, karena aku nggak tahu harus melakukan apa dengan wajahku.
Lima menit kemudian, mixer-nya kembali berdiri di atas meja lipat baru. Aku menyalakannya, mengetes setiap channel, menaikkan fader satu per satu. Semua lampunya hijau.
Mas Herman menepuk bahuku. “Man. Makasih. Dan... maaf. Aku harusnya nggak langsung nuduh.”
“Bilangnya ke Pak Darto, Mas.”
Dia mengangguk, lalu berjalan ke Pak Darto. Aku nggak dengar apa yang dia bilang, karena telinga kananku, yang buat dunia, sengaja aku palingkan.
Beberapa hal nggak perlu didengar. Beberapa hal cukup terjadi.
Studio enam mulai kosong. Fajar dan Pak Darto pergi bersama ke kantin, Fajar masih sesenggukan dan Pak Darto masih menepuk-nepuk punggungnya. Kru floor kembali ke posisi. Rekaman promo TRAC Malam akan dimulai sepuluh menit lagi.
Aku sedang menggulung kabel waktu seseorang berdiri di depanku.
Sepatu hak hitam. Celana bahan hitam. Blazer hitam. Aku mendongak.
Yura.
Dia berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, menatapku. Dari dekat, dengan riasan siaran lengkap dan lampu studio di belakangnya, dia kelihatan seperti lukisan. Yura memang selalu kelihatan seperti lukisan. Orang-orang di lift berhenti bicara kalau dia masuk, sama seperti kalau Cynthia masuk.
Tapi ekspresinya sekarang bukan ekspresi lukisan. Ekspresinya seperti orang yang baru selesai membaca buku dan masih memikirkan halaman terakhirnya.
“Kamu selalu ngerekam semua?” tanyanya.
“Cuma yang mungkin dibutuhin orang.”
“Kenapa?”
Aku menggulung kabel. Satu putaran. Dua putaran. “Soalnya orang kayak Pak Darto itu nggak punya suara di gedung ini. Kalau Mas Herman bilang A, orang percaya A. Kalau Pak Darto bilang B, orang mikir dia bohong. Bukan karena Pak Darto pembohong. Tapi karena dia pakai seragam OB.” Tiga putaran. “Jadi aku simpan suaranya. Buat jaga-jaga.”
Yura diam.
“Dan pelakunya ada di antara kita?” tanyanya. Suaranya datar, tapi ujung bibirnya bergerak.
Aku menunjuk hoodie-ku. Bocah berkacamata bulat dengan dasi kupu-kupu merah.
“Kostum,” kataku. “Kalau udah pakai kostum, harus total.”
Yura menatap hoodie itu. Lalu, untuk pertama kalinya selama dua tahun aku kenal dia, Yura Kirana, anchor TRAC Malam, goddess TRAC nomor dua, perempuan yang selalu kelihatan tenang dan elegan dan nggak pernah tertawa lebih keras dari suara gelas yang diletakkan di meja, tertawa.
Keras.
Bukan tawa yang dilatih. Tawa yang keluar dari hidung dulu, lalu pecah, lalu dia harus menutup mulut dan membungkuk sedikit supaya riasannya nggak luntur.
“Maaf,” katanya di antara tawa. “Maaf. Itu... tadi itu... pelakunya ada di antara kita... ya Tuhan, Man. Mas Herman wajahnya kayak orang lihat hantu.”
“Mas Herman perlu sedikit kejutan dalam hidupnya.”
Yura tertawa lagi. Lalu berhenti. Lalu menatapku lagi, dengan mata yang masih berair karena tertawa.
“Kamu baik banget, ya,” katanya pelan.
“Itu bukan baik,” jawabku. “Itu teknis.”
“Teknis?”
“Iya. Ada data, ada analisis, ada kesimpulan. Teknis.”
“Terus traktir bakso? Bakso urat tanpa bihun, sambal level tiga, es teh gula sedikit soalnya dia jaga gula darah?” Dia mengangkat alis. “Itu juga teknis?”
Aku membuka mulut. Lalu menutupnya.
Yura tersenyum. Bukan senyum anchor. Senyum yang kecil, sedikit miring, dan menurutku agak menyebalkan karena dia baru saja menang.
“Kamu tahu nggak,” katanya, “dari semua orang di tower ini, cuma kamu yang manggil aku Yura.”
“Itu namamu.”
“Semua orang manggil aku Mbak Yura. Atau Mbak Anchor. Atau Mbak yang di TRAC Malam itu.” Dia mengangkat bahu. “Kamu manggil aku Yura. Kayak manggil Pak Darto, Pak Darto. Kayak manggil Si Cicit, Si Cicit.”
“Kamu mau aku panggil Mbak Yura?”
“Nggak.” Dia menggeleng cepat. “Nggak. Jangan.”
“Mbak Yura, standby lima menit!” teriak floor director dari seberang studio.
Yura menoleh, mengangguk, lalu kembali menatapku.
“Man.”
“Hm.”
“Nanti kalau aku butuh didengar,” katanya, setengah bercanda, setengah nggak, “channel dua belas-mu masih ada tempat?”
Aku menatapnya.
Aku dengar nadanya. Ringan di permukaan, tapi di bawahnya ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang turun setengah langkah, sama seperti suara Cynthia waktu bilang ojek kantor. Aku belum tahu itu apa. Aku belum punya cukup data.
“Channel dua belas selalu ada tempat,” jawabku. “Kartu memorinya enam puluh empat giga.”
Dia tersenyum lagi. Lalu berbalik, berjalan ke area green screen, dan dalam lima langkah, punggungnya kembali tegak, bahunya kembali rapi, langkahnya kembali menjadi langkah anchor TRAC Malam.
Aku mengambil tas laptop dan keluar dari studio enam.
Jam tiga sore, grup RUANG TUNGGU FC ramai.
Ternyata Mas Herman cerita ke seseorang, yang cerita ke orang lain, yang cerita ke Dino, yang cerita ke semua orang.
Dino: MAN LO JADI DETEKTIF CONAN DI STUDIO 6???
Dino: “PELAKUNYA ADA DI ANTARA KITA”
Dino: gue denger dari mbak sasa yang denger dari mas gilang yang denger dari mas herman langsung
Dino: katanya lo pake hoodie conan juga
Diana: hoodie conan masuk klasemen langsung peringkat 2
Diana: bukan karena memalukan
Diana: karena kontekstual
Erga: pak darto gimana? dia ok?
Salman: ok. lagi makan bakso sama fajar
Salman: fajar nambah 2 porsi buat permintaan maaf
Salman: pak darto bilang itu bakso terenak yang pernah dia makan di kantin
Salman: padahal itu bakso kantin biasa
Yura: dia nyebut channel 12 nya kayak nyebut nama anak
Yura: btw aku lihat langsung tadi. aku saksi
Yura: salman beneran ngangkat jari telunjuk kayak gini ☝️
Dino: HAHAHAHAHAHA
Erga: 😂😂😂
Diana: aku mau itu di naskah variety bulan depan
Diana: royalti 0 rupiah
Aku menggulir ke bawah.
Cynthia belum muncul di grup. Status online-nya terakhir jam dua belas siang.
Aku meletakkan HP, menatap layar-layar master control yang memutar siaran sore, dan berpikir mungkin dia sedang sibuk. Mungkin dia sedang meeting. Mungkin dia sedang di ruang rias.
Mungkin dia masih nggak tahu harus bilang apa ke ojek kantornya.
HP-ku bergetar.
Bukan grup. Chat pribadi.
Cynthia: man
Cynthia: aku dengar soal pak darto
Cynthia: dari yura
Cynthia: dia cerita panjang banget. dia ketawa sampai batuk di ruang rias. aku belum pernah lihat yura ketawa kayak gitu
Lalu jeda. Titik-titik mengetik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Aku menatapnya selama satu menit penuh, seperti menonton loading episode anime yang internetnya lambat.
Cynthia: soal yang semalam
Cynthia: yang kamu bilang
Cynthia: ketawa terbagus di jakarta selatan
Cynthia: itu serius?
Aku menatap pertanyaan itu.
Aku teringat tawanya di perempatan Mampang. Kaca helm terbuka. Rambut keluar dari bawah helm. Tangan melingkar di pinggangku. Suara yang nggak berbentuk, nggak dilatih, nggak berhenti di detik ketiga.
Lalu aku teringat tawanya di ruang rapat. Tiga detik. Rapi. Ojek kantor.
Dua tawa. Dua orang yang berbeda. Dan aku cuma punya satu folder bernama YANG ASLI.
Aku mengetik.
Salman: serius
Salman: aku udah survei
Salman: aku dengerin ribuan ketawa tiap minggu di master control. presenter, bintang tamu, penonton studio, pak bambang kalau lagi nonton video kucing
Salman: yang di mampang itu juara 1
Salman: juara 2 ketawamu waktu level 9
Salman: juara 3 ketawa yura tadi siang. dia baru masuk klasemen hari ini
Titik-titik mengetik muncul lagi.
Cynthia: yura masuk klasemen??
Salman: pendatang baru
Salman: kayak hoodie
Cynthia: ...
Cynthia: oke
Cynthia: tapi aku tetep juara 1 kan
Salman: juara 1 dan 2
Salman: kamu menguasai podium
Cynthia: 😤
Cynthia: bagus
Cynthia: pertahankan
Aku menatap emoji itu. Emoji wajah mengembuskan uap dari hidung, emoji yang biasa dipakai orang kalau sedang kesal.
Atau cemburu.
Aku nggak tahu. Aku belum punya cukup data.
Tapi aku membuka laciku, laci yang mulai penuh, dan menyimpan emoji itu di sana. Di samping ojek kantor. Di samping napas pendek di kalimat ketiga. Di samping tawa yang ditelan di malming pertama.
Lalu aku menutup laci, memasang lagu Bollywood di earbud kiri, dan kembali bekerja.
Di rak akrilik, Naruto mode Sage menatapku dengan mata kuning bergaris.
Di sebelahnya, ada satu tempat kosong. Anya masih magang di meja OB.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto reading
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu