Chapter Fourteen

Rekaman di Telinga Kiri

POV: Salman

Jam lima lewat lima puluh pagi, aku duduk di kursi master control dengan dua hal di kepala.

Pertama: rekaman dua menit empat puluh detik di HP-ku, yang harus aku bawa ke HR jam sepuluh.

Kedua: foto buram mata yang menyipit di balik bantal, yang aku buka sebelas kali sejak jam dua pagi.

Aku nggak tahu yang mana yang membuatku nggak tidur. Mungkin dua-duanya. Mungkin satu bikin aku marah dan satu bikin aku senyum, dan dua perasaan itu saling mendorong di dalam kepalaku seperti dua lagu yang diputar bersamaan di dua channel berbeda tanpa mixing.

Raka masuk jam lima lewat lima puluh lima, membawa dua gelas kopi sachet dan laptop di ketiak.

“Pagi, Mas.”

“Pagi, Rak.”

Dia menaruh kopi di mejaku. Lalu membuka laptopnya. Lalu memutar layarnya ke arahku.

Slide pertama, latar belakang biru tua, huruf putih besar: ANALISIS KODE MBAK CYNTHIA — VOLUME 2.

“Rak.”

“Mas, dengerin dulu. Ini penting.” Dia menekan tombol. Slide kedua: sebuah grafik garis. Sumbu X bertuliskan Hari. Sumbu Y bertuliskan Frekuensi Mbak Cynthia Lewat Depan Master Control. Garisnya naik tajam di minggu terakhir. “Mas lihat ini? Minggu lalu nol. Minggu ini empat kali. Empat kali, Mas. Lantai dua belas ke lantai empat belas itu nggak searah ke mana-mana. Toilet ada di lantai dua belas. Pantry ada di lantai dua belas. Dia nggak punya alasan ke sini.”

“Mungkin dia olahraga. Naik tangga.”

“Mbak Cynthia nggak naik tangga, Mas. Mbak Cynthia pakai hak sebelas senti.”

“Sekarang pakai sandal.”

Raka menatapku. Lalu menekan tombol lagi. Slide ketiga, judulnya BUKTI B: SANDAL. Ada foto. Buram, diambil dari jauh, jelas dari pantulan kaca lift. Kaki seseorang berdiri di lobby, memakai sandal jepit biru di bawah celana bahan krem.

“Rak, kamu motret kaki orang?”

“Demi ilmu pengetahuan, Mas.”

“Itu creepy.”

“Mas sendiri yang bilang, kalau ada orang yang ngeluangin waktu buat menilai, itu bentuk perhatian.”

Aku menatap Raka. Raka menatapku. Di rak akrilik, Naruto menatap kami berdua.

“Kamu dengar itu dari mana?”

“Dari Mbak Diana. Mbak Diana cerita ke Mbak Sasa. Mbak Sasa cerita ke Mas Gilang. Mas Gilang cerita ke aku.” Raka menyeruput kopinya. “Gedung ini kecil, Mas. Gosip itu kayak sinyal wifi. Nembus tembok.”


Jam enam, Sapa Pagi mengudara.

Aku menaikkan fader channel tujuh. Suara Cynthia masuk.

“Selamat pagi, Indonesia...”

Napasnya cukup. Tarikannya di koma sebelum Indonesia, tepat waktu. Nada penutup kalimatnya naik. Nggak ada getaran serak di frekuensi rendah.

Dia tidur.

Mungkin cuma tiga jam, dari jam dua lewat sampai jam lima. Tapi tiga jam yang dalam. Tiga jam yang nyenyak. Aku bisa dengar bedanya. Tiga jam tidur orang yang gelisah dan tiga jam tidur orang yang menutup muka pakai bantal sambil tersenyum itu bunyinya beda.

Aku nggak memasang plugin.

Aku cuma duduk dan mendengarkan.

Raka melirikku. “Mas senyum lagi.”

“Aku lagi dengerin mixing.”

“Mas nggak mixing apa-apa. Fader-nya diam semua.”

“Itu namanya mixing minimalis.”


Jam enam lewat dua puluh tiga, jeda iklan pertama.

Di layar monitor studio, Cynthia duduk di sofa set Sapa Pagi, menunggu segmen berikutnya. Tim rias masuk untuk merapikan rambutnya. Floor director bicara sesuatu ke headset-nya. Kamera-kamera diarahkan ke posisi baru.

Mic Cynthia masih terbuka di channel tujuh. Nggak disiarkan, karena jalur on air sedang diisi iklan, tapi masih masuk ke konsol. Ke headphone-ku.

Aku dengar suara tim rias menyisir rambutnya. Suara Sasa membacakan cue segmen berikutnya. Suara Cynthia bilang makasih, Mbak dengan nada yang sopan.

Lalu tim rias pergi. Sasa pergi. Floor director sedang bicara dengan kamerawan di sisi lain studio.

Dan Cynthia, sendirian di sofa, dengan mic clip-on di kerah blazernya, menunduk sedikit.

Bibirnya bergerak.

Suaranya masuk ke headphone-ku. Pelan. Sangat pelan. Setengah berbisik, terlalu pelan untuk didengar siapa pun di studio, tapi cukup keras untuk mic yang dipasang lima senti dari dagunya.

“Teknisi channel tujuh.”

Aku membeku.

“Kalau dengar...” Dia menelan ludah. Aku dengar itu juga. “Ketuk earpiece-ku dua kali.”

Raka menoleh ke arahku. Dia juga pakai headphone. Dia juga dengar.

Matanya membulat. Mulutnya membentuk satu kata tanpa suara. MAS.

Tanganku bergerak sebelum otakku.

Di konsol, ada tombol kecil warna kuning, di bagian kanan bawah, berlabel IFB TONE. Tombol itu mengirim bunyi bip pendek ke earpiece presenter, biasanya dipakai untuk memberi tanda waktu kalau komunikasi suara nggak bisa dipakai. Satu bip artinya tiga puluh detik lagi. Dua bip artinya siap, masuk.

Aku menekannya dua kali.

Bip.

Bip.

Di layar monitor, Cynthia mengangkat kepala.

Dia nggak menoleh ke kamera. Dia nggak menoleh ke mana-mana. Dia cuma duduk di sofa set, di bawah lampu studio yang terang, dan tersenyum.

Bukan senyum presenter. Bukan senyum papan reklame. Senyum yang kecil, yang dimulai dari sudut kiri bibir dan pelan-pelan merambat ke kanan, seperti orang yang baru dapat pesan dari seseorang dan berusaha menahannya di depan umum, tapi gagal.

Lalu dia menunduk lagi. Bibirnya bergerak lagi.

“Semalam aku nggak tidur,” bisiknya ke mic. “Gara-gara bantal.”

Aku menekan tombol kuning satu kali.

Bip.

Satu bip. Artinya, dalam bahasa yang belum pernah kami sepakati tapi entah kenapa langsung kami pahami, aku juga.

Dia menutup mulut dengan punggung tangan. Bahunya bergetar sedikit.

“Sepuluh detik!” teriak floor director di studio.

Cynthia menurunkan tangannya. Merapikan blazer. Menegakkan punggung. Dan dalam tiga detik, senyum kecil itu hilang, digantikan senyum papan reklame yang sempurna.

“Dan kita kembali lagi di Sapa Pagi TRAC...”

Aku bersandar di kursi.

Di sebelahku, Raka melepas headphone-nya pelan-pelan. Menatapku. Lalu menatap tombol kuning di konsol. Lalu kembali menatapku.

“Mas,” bisiknya. “Itu barusan—”

“Itu IFB tone.”

“Mas pakai IFB tone buat—”

“Buat komunikasi teknis.”

“Semalam aku nggak tidur gara-gara bantal, Mas. Itu komunikasi teknis?”

“Bantal itu masalah teknis. Kualitas tidur presenter memengaruhi kualitas suara. Itu tanggung jawab master control.”

Raka menatapku lama sekali.

Lalu dia membuka laptopnya, membuat slide baru, dan mengetik judulnya dengan huruf kapital semua: VOLUME 3: CHANNEL TUJUH.


Jam sepuluh, ruang HR lantai sembilan.

Bu Ratih, kepala HR, duduk di balik meja dengan kacamata baca di ujung hidung. Di sebelahnya, Pak Wiryo, direktur program, dengan wajah yang sudah tegang sebelum aku sempat duduk. Di ujung meja, staf legal yang namanya aku nggak tahu, dengan notebook dan pulpen.

Yura duduk di kursi sebelahku.

Aku nggak memintanya datang. Dia datang sendiri. Dia muncul di depan pintu HR jam sembilan lima puluh, dengan blazer abu-abu dan wajah yang tenang, dan bilang, “Ini soal aku. Aku harus ada.”

Aku mengangguk. Dia benar.

“Mas Salman,” kata Bu Ratih. “Mbak Yura. Silakan.”

Aku menaruh HP di tengah meja. Membuka file rekaman. Menekan play.

Dua menit empat puluh detik.

Suaranya jelek. Mic TWS bukan mic studio. Ada desis angin dari AC lobby. Ada bunyi langkah kakiku sendiri di awal, dan bunyi pintu tangga darurat yang terbuka. Tapi suara Rendy jelas. Terlalu jelas.

“...host sama produser harus klop. Harus saling kenal. Luar dalam.”

“...saya nginep di hotel dekat sini malam ini... di kamar juga bisa. Lebih tenang...”

“Badan secantik ini sayang kalau cuma buat baca berita. Mbak bisa dapat lebih. Saya bisa kasih lebih. Asal Mbak juga mau kasih sedikit.”

“Mbak, jangan buru-buru gitu dong. Kita belum selesai ngomong.”

Lalu Chaiyya Chaiyya. Volume maksimal. Suaraku sendiri, fals, mengerikan, memenuhi ruang HR lantai sembilan.

Pak Wiryo tersentak. Staf legal menjatuhkan pulpen. Bu Ratih menurunkan kacamata, menatapku, lalu kembali ke HP.

Lalu suaraku lagi, tenang. “Tadi Bapak ngomong apa ke Mbak Yura? Ulang dong, biar semua dengar.”

Lalu suara Rendy, terbata-bata. Lalu langkah kaki yang menjauh. Lalu bunyi duk kecil dari arah pintu putar, waktu dia tersandung.

Rekaman selesai.

Ruang HR sunyi.

Bu Ratih melepas kacamatanya pelan-pelan. Menaruhnya di meja. Lalu menatap Yura.

“Mbak Yura,” katanya, suaranya lembut. “Ini bukan pertama kalinya, ya?”

Yura diam. Tangannya di pangkuan, saling menggenggam. Aku bisa dengar napasnya. Pendek. Ditahan.

“Ada pesan-pesan, Bu,” katanya akhirnya. “Tiga minggu. Jam sebelas malam. Saya simpan screenshot-nya.”

“Kenapa nggak lapor dari awal?”

“Karena...” Yura berhenti. Menatap tangannya. “Karena saya pikir saya bisa mengatasinya sendiri. Karena saya pikir itu cuma pesan. Karena saya pikir, kalau saya lapor, saya yang akan kelihatan bermasalah. Kandidat host yang bikin ribut.”

“Karena udah terbiasa,” kataku.

Yura menoleh ke arahku. Matanya basah sedikit. Lalu dia mengangguk.

Bu Ratih menatap Pak Wiryo. Pak Wiryo menatap staf legal. Staf legal sedang menulis sangat cepat.

“Lentera Sinema itu partner produksi,” kata Pak Wiryo pelan. “Kontraknya untuk satu musim Wajah Malam. Penandatanganannya bulan depan.”

“Kontraknya belum ditandatangani, Pak?” tanyaku.

“Belum.”

“Bagus.”

Pak Wiryo menatapku. Lalu, entah kenapa, dia tersenyum. Senyum lelah yang tipis.

“Mas Salman,” katanya. “Kamu rekam ini pakai TWS?”

“Iya, Pak.”

“Kenapa kamu nyalain rekaman?”

Aku mengangkat bahu. “Buat jaga-jaga, Pak.”

“Jaga-jaga apa?”

“Jaga-jaga kalau ada yang butuh didengar.” Aku menatap Yura. Lalu kembali ke Pak Wiryo. “Orang kayak Mbak Yura itu dilihat dua juta orang tiap malam, Pak. Tapi waktu dia ditarik tangannya di lobby, nggak ada yang dengar. Semua orang nunduk.” Aku mengetuk HP di meja. “Jadi aku yang dengar.”

Pak Wiryo diam lama.

Lalu dia mengambil pulpen dari meja, menulis sesuatu di notebook-nya, dan merobek halamannya. Menyerahkannya ke Bu Ratih.

“Satu,” katanya. “Rendy Sasongko dilarang masuk area TRAC Tower. Berlaku hari ini. Bu Ratih tolong koordinasi sama security. Pak Slamet dan semua satpam harus dapat fotonya.”

Bu Ratih mengangguk.

“Dua. Kerja sama dengan Lentera Sinema untuk Wajah Malam ditunda. Saya akan bicara langsung dengan direktur Lentera hari ini. Kalau mereka mau lanjut, Rendy nggak boleh ada di proyek ini. Dan kalau mereka nggak mau ganti produser, kita cari PH lain.” Dia menatap staf legal. “Kontrak PH Rendy dengan kita untuk proyek-proyek lain, cek semua. Yang sudah jalan, selesaikan sesuai kontrak. Yang belum, jangan diperpanjang.”

Staf legal menulis dengan kecepatan yang mengerikan.

“Tiga.” Pak Wiryo menatap Yura. “Mbak Yura, proses casting host Wajah Malam akan diulang dari awal. Dengan panel yang terdiri dari tiga orang dari TRAC. Bukan satu orang dari PH. Dan nama Mbak tetap ada di daftar.”

Yura menatapnya.

“Bukan karena kasihan,” tambah Pak Wiryo. “Karena dari awal, nama Mbak memang paling kuat. Saya yang usulin.”

Yura menunduk. Bahunya bergetar sedikit. Lalu dia mengangkat kepala, dan wajahnya sudah kembali tenang, kembali menjadi wajah anchor TRAC Malam.

“Terima kasih, Pak.”

“Terima kasihnya ke Mas Salman.” Pak Wiryo menatapku. Lalu dia menatap hoodie-ku, yang hari ini warna biru dongker, bergambar seekor pinguin yang memakai helm proyek dan membawa obeng. Dia menatapnya cukup lama. “Dan Mas Salman... ini pertanyaan pribadi, nggak usah dijawab kalau nggak mau. Kenapa lagunya Chaiyya Chaiyya?”

“Itu lagu perang, Pak.”

Pak Wiryo mengangguk pelan, seperti mengerti, walaupun aku yakin dia sama sekali nggak mengerti.

Bu Ratih menahan senyum di balik kacamatanya.


Di luar ruang HR, di koridor lantai sembilan, Yura berhenti.

Dia berdiri di depanku, membelakangi jendela. Cahaya pagi dari luar membuat siluetnya kelihatan seperti lukisan.

“Man.”

“Hm.”

“Makasih.”

Aku menatapnya. Dia menatapku dengan mata yang masih sedikit merah di pinggirnya.

“Bilang makasihnya ke Wati,” kataku.

“Kenapa ke Wati?”

“Kalau Wati nggak diparkir di basement B2, aku nggak akan lewat tangga darurat. Kalau aku nggak lewat tangga darurat, aku nggak akan lihat. Kalau aku nggak lihat...” Aku mengangkat bahu. “Wati itu sutradaranya. Aku cuma figuran.”

Yura menatapku lama.

Lalu dia tertawa. Tawa yang sama dengan yang aku dengar di studio enam. Keras, keluar dari hidung dulu, lalu pecah. Juara tiga di klasemen.

“Oke,” katanya di antara tawa. “Nanti aku bilang makasih ke Wati.”


Jam tiga sore, master control.

Aku sedang menonton episode 851 sambil mengecek jadwal siaran malam waktu pintu diketuk.

Raka membukanya. Lalu membeku. Lagi.

“M-Mbak Yura?”

Yura berdiri di depan pintu master control, membawa kantong plastik besar berisi dua mangkuk styrofoam yang mengepul, ditutup plastik wrap. Bau kaldu sapi dan cabai langsung menyerbu masuk ke ruangan dingin itu.

“Halo, Raka. Salman ada?”

Raka menoleh ke arahku dengan wajah yang bilang Mas, ini udah dua goddess dalam satu minggu, aku nggak kuat.

Aku berdiri. “Yura.”

“Aku bawa bakso.” Dia mengangkat kantong plastiknya. “Ucapan terima kasih. Buat kamu. Bakso Pak Kumis, depan Pasar Mampang. Katanya paling pedas se-Jakarta Selatan. Aku minta level paling tinggi.”

Aku menatap kantong itu. Mengendus.

“Itu level empat,” kataku.

Yura mengerjap. “Apa?”

“Dari baunya. Cabai rawit merah, nggak ada cabai setan. Minyaknya kurang. Itu level empat kalau di warung Ibu.” Aku diam sebentar. “Tapi niatnya level sembilan. Aku hargai niatnya.”

Yura menatapku. Lalu tertawa lagi. “Ya ampun. Kamu bisa ngukur level sambal dari bau?”

“Ibu bisa ngukur dari bunyi sendok. Aku masih belajar.”

Dia masuk. Raka bergeser ke pojok ruangan dengan gerakan seperti orang yang sedang menyaksikan peristiwa bersejarah dan nggak mau mengganggu.

Yura menaruh dua mangkuk bakso di mejaku, di samping rantang, di depan rak akrilik. Dia menatap figure-figure itu satu per satu. Luffy. Gojo. Totoro. Hinata Shoyo. Naruto mode Sage, di atas alas tinggi, dengan kertas kecil di bawahnya: BOLEH LIHAT. NGGAK BOLEH PEGANG.

“Yang itu spesial, ya?” tanyanya, menunjuk Naruto.

“Gaji pertama.”

Dia mengangguk. Nggak menyentuh. Cuma melihat. Lalu matanya pindah ke laptopku, yang masih memutar anime tanpa suara.

“Ini lagi nonton apa?”

“Episode 851.”

“Dari 851?”

“Dari 1. Aku udah nonton dari kelas dua SD.”

Yura menatap layar. Di sana, seorang bocah berambut runcing sedang berdiri di atas kapal, mengangkat tangan ke langit, berteriak sesuatu dengan wajah penuh tekad.

“Kayaknya seru,” katanya pelan. Lalu, tanpa menunggu persetujuan, dia menarik kursi di sebelah mejaku, kursi abu-abu yang sudah agak miring, dan duduk di sana. Membuka tutup salah satu mangkuk bakso. Mengambil sendok plastik. “Ini episode berapa yang bagus buat mulai? Aku mau nonton dari awal.”

“Dari awal itu seribu seratus episode.”

“Nggak apa-apa.” Dia menyuap bakso. Lalu menatapku dari kursi abu-abu itu, dengan senyum kecil yang miring. “Tapi sama kamu. Biar ada yang jelasin.”

Aku menatapnya.

Di pojok ruangan, Raka menjatuhkan gelas kopi sachet.

“Boleh,” kataku akhirnya. “Tapi kursi itu punya Pak Darto kalau sore.”

“Punya Pak Darto?”

“Pak Darto istirahat di situ jam setengah empat. Itu kursi favoritnya. Dia bilang kursi itu satu-satunya kursi di gedung ini yang nggak bunyi kalau diduduki.” Aku menunjuk jam dinding. Jam tiga lewat dua puluh lima. “Lima menit lagi dia datang. Nanti kamu dipungut sewa.”

“Sewa?”

“Pak Darto itu kejam soal kursi.”

Yura tertawa. Dan tepat waktu, seperti sudah diatur sutradara, pintu master control terbuka.

Pak Darto masuk dengan kemoceng di tangan dan senyum lebar. Lalu dia melihat Yura duduk di kursinya. Senyumnya membeku.

“M-Mbak Yura?”

“Halo, Pak Darto.”

Pak Darto menatap Yura. Menatap kursinya. Menatap mangkuk bakso di meja. Menatapku. Lalu, dengan wajah orang yang sedang menghadapi pilihan paling sulit dalam hidupnya, dia berdiri tegak.

“Mbak,” katanya serius. “Itu kursi saya.”

“Maaf, Pak.” Yura berdiri dengan sigap. “Berapa sewanya, Pak?”

Pak Darto menatap mangkuk bakso kedua yang masih tertutup. Lama.

“Satu bakso, Mbak,” katanya akhirnya. “Satu bakso, Mbak boleh duduk sampai jam empat.”

Yura membuka mangkuk kedua, mengambil satu bakso dengan sendok plastik, dan menaruhnya di tutup styrofoam. Menyerahkannya ke Pak Darto dengan dua tangan, seperti menyerahkan upeti ke raja.

Pak Darto menerimanya dengan khidmat. Lalu mundur ke pojok, duduk di kursi lipat dekat Raka, dan makan bakso itu dengan wajah paling bahagia di dunia.

Yura duduk kembali di kursi abu-abu. Menatapku. Menahan tawa.

Aku menekan play di laptop. Mundur ke episode satu.


Kami menonton tiga episode.

Yura bertanya banyak hal. Kenapa bocah itu badannya bisa memanjang. Kenapa topinya penting. Kenapa semua orang di laut mau jadi bajak laut kalau bajak laut itu kriminal. Aku menjelaskan semuanya dengan serius, karena pertanyaan-pertanyaan itu memang serius, dan karena aku sudah menunggu dua puluh tahun untuk ada orang yang bertanya.

Dia tertawa di tempat-tempat yang lucu. Dia diam di tempat-tempat yang sedih. Di episode ketiga, waktu seorang karakter kecil menangis karena topinya hampir dirusak, Yura menutup mulut dan matanya berkaca-kaca.

“Ini kartun, Yura.”

“Diam. Aku lagi emosional.”

Aku diam.

Lalu, di tengah episode ketiga, sesuatu bergerak di pinggir penglihatanku.

Kaca kecil di pintu master control. Kaca persegi panjang di bagian atas pintu.

Ada seseorang di baliknya.

Cuma sebentar. Mungkin dua detik. Rambut panjang. Blazer krem. Sesuatu di tangan, mungkin gelas, mungkin kantong kecil. Wajah yang menatap ke dalam ruangan, ke arah mejaku, ke arah Yura di kursi abu-abu dan aku di sebelahnya dan dua mangkuk bakso di depan kami.

Lalu wajah itu menghilang.

Aku nggak melihatnya dengan jelas. Kacanya kecil dan lampu koridor terang. Tapi aku dengar sesuatu. Bukan lewat telinga. Lewat telinga kanan yang buat dunia, dari balik pintu yang tebal.

Langkah kaki.

Langkah kaki yang menjauh dari pintu master control. Langkah yang rapi. Cepat. Teratur.

Kayak tentara.

Aku berhenti mengunyah.

“Kenapa?” tanya Yura.

“Nggak apa—” Aku berhenti. Menelan bakso. “Nggak. Lanjut.”

Yura menatapku sebentar, lalu kembali ke layar.

Aku menatap pintu itu.

Lalu aku membuka laciku. Laci yang mulai penuh. Dan menyimpan langkah kaki itu di sana. Di sebelah ojek kantor. Di sebelah emoji wajah mengembuskan uap.


Besok paginya, jam enam lewat dua puluh enam, jeda iklan pertama Sapa Pagi.

Studio sepi. Tim rias sudah pergi. Floor director di sisi lain. Cynthia duduk sendirian di sofa set, dengan mic clip-on di kerah blazer.

Aku menunggu.

Suaranya masuk ke headphone-ku. Pelan.

“Teknisi channel tujuh.”

Aku menekan tombol kuning dua kali. Bip. Bip.

Dia diam sebentar. Aku dengar napasnya. Satu tarikan. Lalu keluar pelan.

“Bakso dari Yura...” Dia berhenti. Aku dengar dia menelan ludah. “Enak?”

Aku menatap tombol kuning itu.

Bakso Pak Kumis, depan Pasar Mampang. Level empat yang niatnya level sembilan. Kuahnya bagus. Baksonya kenyal. Uratnya cukup. Kalau dinilai dari skala bakso Jakarta Selatan, bakso itu enak. Tujuh dari sepuluh.

Tapi aku dibesarkan di dapur yang baunya kaldu sapi setiap jam lima pagi. Aku sarapan bakso Bu Nur sejak umur empat tahun. Lidahku sudah dikalibrasi seperti mic studio, dan standarnya bukan bakso Jakarta Selatan.

Standarnya bakso Ibu.

Jadi aku menjawab dengan jujur. Karena aku nggak pernah bohong soal bakso, sama seperti aku nggak pernah bohong soal burung.

Aku menekan tombol kuning satu kali.

Bip.

Satu bip. Nggak.

Di layar monitor, Cynthia mengangkat kepala.

Dia nggak tersenyum. Nggak langsung. Dia cuma duduk diam di sofa set, menatap lurus ke depan, ke kamera yang belum menyala. Lalu, pelan-pelan, seperti es yang mencair di bawah matahari pagi, sudut kiri bibirnya mulai naik.

Lalu dia menunduk lagi ke mic.

“Bagus,” bisiknya.

Satu kata.

Lalu dia menegakkan punggung, merapikan blazer, dan menunggu floor director menghitung mundur.

Aku bersandar di kursi.

Di sebelahku, Raka melepas headphone pelan-pelan.

“Mas,” katanya.

“Hm.”

“Bakso Pak Kumis itu enak, Mas. Aku ikut makan sisa kemarin. Itu enak.”

“Dibanding bakso Ibu, nggak.”

“Mas, itu bukan pertanyaannya. Pertanyaannya enak atau nggak, bukan dibanding bakso Ibu enak atau nggak.”

“Semua bakso di dunia ini dibandingin sama bakso Ibu, Rak. Itu hukum alam.”

Raka menatapku lama. Lalu dia membuka laptopnya, membuka presentasi VOLUME 3: CHANNEL TUJUH, dan menambahkan satu slide baru.

Judulnya: BUKTI C: MAS SALMAN NGGAK SADAR APA YANG BARUSAN DIA LAKUIN.

Aku nggak tahu apa maksudnya.

Tapi di layar monitor, Cynthia sedang membuka segmen kedua Sapa Pagi, dan suaranya pagi itu terdengar lebih ringan dari biasanya. Lebih terang. Kayak orang yang tidur delapan jam dan sarapan buah.

Aku nggak memasang plugin apa pun.