Chapter Four
Diana dan Lima Kata
POV: Cynthia
Di TRAC Tower ada aturan nggak tertulis soal kantin lantai dua puluh.
Meja-meja dekat jendela milik divisi berita, karena mereka merasa paling penting. Meja tengah milik divisi variety, karena mereka paling berisik. Meja dekat wastafel milik anak magang, karena nggak ada yang mau duduk dekat wastafel. Dan meja bundar di sudut kanan, dekat pot monstera plastik yang daunnya berdebu, adalah meja kami.
Bukan karena kami pilih. Tapi karena dua tahun lalu, waktu Diana pertama kali duduk di sana, dia bilang ke seorang staf HR yang mau ikut duduk, “Maaf, ini meja buat orang yang nggak suka basa-basi.” Staf HR itu pergi. Sejak itu, nggak ada yang berani duduk di sana kecuali kami.
Hari Senin, jam dua belas lewat sepuluh, aku duduk di meja itu bersama Yura dan Diana.
“Kamu kelihatan segar,” kata Yura, menatapku sambil membuka kotak salad.
“Aku tidur tujuh jam.”
“Tujuh jam? Kamu? Cynthia Larasati Wirawan yang dulu bilang tidur itu buat orang yang nggak punya deadline?”
“Aku berubah.”
Diana menyipitkan mata dari balik sendok nasi padangnya. “Orang nggak berubah dalam seminggu tanpa sebab. Kamu ketemu cowok?”
“Nggak.”
“Kamu ketemu cowok.”
“Aku ketemu kucing. Namanya Bu RT.”
Diana menatapku lama. Lalu menyuap rendang. “Aku nggak mau tahu.”
Yura menyembunyikan senyum di balik garpu. Dia nggak bilang apa-apa, tapi waktu aku menoleh, matanya sedang menatapku dengan cara yang sama seperti malam sandal jepit itu. Cara yang bilang aku lihat, tapi aku tunggu kamu cerita sendiri.
Aku pura-pura sibuk menuang sambal.
Jam dua belas lewat lima belas, kantin lantai dua puluh berubah jadi lokasi syuting drama Korea.
Erga Mahendra masuk.
Kemeja biru muda, lengan digulung sampai siku, jam tangan perak, rambut yang kelihatan berantakan tapi aku yakin butuh lima belas menit untuk dibikin berantakan. Dia menenteng kotak bekal warna navy.
Dan seluruh kantin, aku nggak melebih-lebihkan, seluruh kantin, melambat.
Ibu-ibu staf katering di balik etalase berhenti menyendok. Tiga perempuan dari divisi finance yang sedang antre tiba-tiba membetulkan rambut secara bersamaan, seperti penari latar. Seorang anak magang laki-laki menatap Erga dengan wajah iri yang nggak disembunyikan.
Erga berjalan ke etalase. Bu Tini, kepala katering yang usianya lima puluh lima tahun dan punya empat cucu, menyendokkan sayur lodeh ke piringnya. Lalu, tanpa diminta, dia menambahkan sepotong ayam goreng. Lalu tempe. Lalu perkedel. Lalu sambal. Lalu kerupuk.
“Bu, saya cuma pesan lodeh.”
“Udah, Mas Erga. Makan yang banyak. Mas Erga kurusan.”
“Saya nggak kurusan, Bu.”
“Kurusan. Ibu lihat dari pipinya.”
Erga menerima piring yang sekarang lebih mirip tumpeng mini dengan senyum sopan, berterima kasih, dan berjalan ke meja kami. Di belakangnya, Bu Tini menatap punggungnya dengan mata berkaca-kaca, seperti ibu yang melepas anaknya merantau.
Erga duduk di sebelah Diana. Tentu saja di sebelah Diana. Dia selalu duduk di sebelah Diana, dan Diana selalu bergeser lima senti menjauh, dan Erga selalu nggak sadar, atau pura-pura nggak sadar.
“Siang,” katanya.
Diana menatap piring Erga yang menjulang. Lalu menatap wajah Erga. Lalu mengangkat tangan kanan dan mulai menghitung pakai jari.
“Ganteng,” jari pertama, “dapat,” jari kedua, “lauk,” jari ketiga, “gratis,” jari keempat, “ketidakadilan,” jari kelima. “Struktural.”
“Itu enam kata.”
“‘Ketidakadilan struktural’ itu satu konsep. Satu konsep satu kata.”
“Itu bukan aturannya.”
“Aku yang bikin aturannya. Aku penulis naskah. Kata-kata tunduk sama aku.”
Erga menatapnya. Aku sudah lihat tatapan itu tiga malming berturut-turut, dan sekarang di bawah lampu neon kantin yang jujur, aku makin yakin. Itu bukan tatapan orang yang tersinggung. Itu tatapan orang yang baru saja mendengar lagu favoritnya diputar di radio.
“Kamu tahu nggak,” kata Erga pelan, “kamu satu-satunya orang di tower ini yang ngatain aku.”
“Terus?”
“Rasanya... segar.”
Diana menatapnya dengan horor murni. “Mas Erga, itu bukan pujian. Kalau kamu senang dikatain, itu masalah psikologis. Cari bantuan profesional.”
“Kamu mau jadi bantuan profesionalnya?”
Yura tersedak salad. Aku menendang kaki Yura di bawah meja supaya dia nggak ketawa terlalu keras. Diana menatap Erga selama tiga detik penuh tanpa berkedip, lalu kembali menyuap rendang dengan gerakan yang terlalu kuat sampai sendoknya berbunyi di piring.
Telinganya merah.
Aku melihatnya. Yura melihatnya. Satu-satunya yang nggak melihat cuma Erga, yang sedang sibuk membuka kotak bekal navy-nya.
Di dalamnya ada nasi goreng dengan telur ceplok berbentuk hati. Ada sticky note warna kuning di tutupnya.
Semangat kerjanya, Mas Erga! 💛 — Dari seseorang yang selalu lihat kamu di lift.
“Lagi?” tanya Yura.
“Hari keempat puluh tiga.” Erga menghela napas. “Aku nggak tahu siapa. Kotaknya selalu ada di mejaku jam sembilan. Kemarin isinya sushi. Minggu lalu rendang. Aku udah tanya satpam, cek CCTV, nggak ketemu.”
“Kamu makan?” tanyaku.
“Sayang kalau dibuang.”
“Kalau isinya racun?”
“Telurnya bentuk hati, Cyn. Orang yang mau ngeracunin nggak akan repot-repot bikin telur bentuk hati.”
“Itu justru ciri psikopat,” kata Diana tanpa mengangkat kepala. “Psikopat itu detail.”
Erga menatap telur hati itu dengan ragu. Lalu dengan pelan, sangat pelan, dia memotong ujungnya dan memberikannya ke Diana. “Kamu cicip duluan.”
“Kenapa aku?”
“Soalnya kamu nggak takut apa-apa.”
Diana menatap telur itu. Lalu Erga. Lalu telur itu lagi. Lalu, dengan wajah orang yang sedang menjalankan tugas negara, dia memakannya.
Kami semua menunggu.
“Kurang garam,” kata Diana akhirnya. “Penggemarmu bisa bikin bentuk hati tapi nggak bisa nakar garam. Prioritasnya salah.”
Erga tertawa. Tawa yang terlalu lepas untuk cowok yang biasanya cuma tersenyum sopan di lift. Dan Diana, yang sedang menyuap rendang, berhenti sebentar, lalu menunduk lebih dalam ke piringnya.
Jam dua belas lewat dua puluh lima, kantin lantai dua puluh mendapat kunjungan yang jauh lebih aneh dari Erga.
Salman masuk lewat pintu samping, pintu yang biasa dipakai OB, menenteng rantang tiga susun warna hijau tua. Hoodie hari ini warna abu-abu, bergambar karakter anime cewek kecil berambut merah muda yang sedang memegang kacang dengan wajah licik. Earbud di telinga kiri.
Dan di tangan kirinya, dia memegang sebuah action figure.
Figure yang sama dengan gambar di hoodie-nya. Cewek kecil berambut merah muda. Tingginya kira-kira lima belas senti.
Dia nggak langsung ke meja kami. Dia ke meja OB dulu, di pojok dekat dapur katering, tempat Pak Darto dan tiga OB lain sedang makan nasi bungkus.
“Pak Darto. Mas Ujang. Mas Fikri. Bu Yati.” Dia menyebut nama mereka satu per satu, tanpa salah. Lalu membuka susun teratas rantangnya. Isinya bakso. Banyak. “Ibu titip. Katanya kemarin kelebihan bikin.”
Bu Nur nggak pernah kelebihan bikin. Aku tahu itu sekarang. Aku dengar dari Dino bahwa Salman selalu minta ibunya bikin lebih tiap Senin, khusus buat OB lantai empat belas dan dua puluh.
Pak Darto dan teman-temannya bersorak pelan. Salman membagi bakso ke piring-piring mereka dengan gerakan yang terlatih, lalu menaruh figure cewek kecil berambut merah muda itu di tengah meja OB.
“Ini Anya,” katanya. “Dia temenin kalian makan. Dia suka kacang, tapi hari ini nggak ada kacang, jadi dia nggak akan minta.”
Mas Ujang, OB muda yang rambutnya diwarnai pirang, menatap figure itu. “Mas Salman, ini maksudnya apa?”
“Kadang orang makan sendirian itu sedih. Kalian makan berempat, tapi nggak ada salahnya ditambah satu. Biar lebih ramai.”
“Tapi dia figure, Mas.”
“Figure juga butuh teman, Jang. Di mejaku dia sendirian sama dua puluh dua figure lain. Dua puluh dua itu banyak, tapi semuanya cowok. Dia butuh suasana baru.”
Mas Ujang menatap Anya. Anya menatap Mas Ujang dengan wajah licik plastiknya.
Lalu, pelan, Mas Ujang menggeser piring baksonya sedikit ke arah Anya. “Ya udah. Kamu boleh duduk di sini.”
Bu Yati tertawa sampai menutup mulut dengan kerudung.
Salman mengangguk puas. Lalu baru dia berjalan ke meja kami, menenteng dua susun rantang yang tersisa, dan duduk di kursi kosong di sebelahku.
“Siang.”
“Kamu ninggalin figure di meja OB?” tanya Diana.
“Anya lagi magang.”
“Magang apa?”
“Magang jadi teman makan. Nanti sore aku jemput. Kalau dia betah, besok dia magang lagi.”
Diana menutup mata, menarik napas panjang, dan aku yakin dia sedang menghitung sampai sepuluh dalam hati.
Salman membuka susun rantang kedua dan menyodorkannya ke tengah meja. Isinya bakso lagi. Susun ketiga berisi sambal level sembilan dalam botol bekas selai.
“Silakan. Ibu titip buat kalian juga.”
“Bu Nur juga kelebihan bikin?” tanyaku sambil mengangkat alis.
Dia menoleh dan menatapku tepat di mata.
“Ibu selalu kelebihan bikin,” katanya tenang. “Ibu nggak bisa ngitung. Ibu jago bikin bakso, tapi nggak jago matematika. Itu kekurangan Ibu satu-satunya.”
Aku tahu dia bohong. Dia tahu aku tahu dia bohong. Dan entah kenapa, itu justru bikin aku tersenyum lebih lebar dari senyumku di layar.
Erga langsung mengambil bakso. Yura juga. Diana, sesudah pura-pura nggak tertarik selama enam detik, mengambil dua.
Aku mengambil satu, dan sebelum aku sempat menambahkan sambal, Salman menggeser botol selai berisi sambal level sembilan itu menjauh dariku.
“Kamu jangan,” katanya pelan, tanpa menoleh.
“Kenapa?”
“Tenggorokanmu baru sembuh. Suaramu baru bagus tanpa plugin. Tadi pagi aku dengar. Bagus.” Dia menyuap baksonya sendiri. “Sayang kalau dirusak sambal.”
Aku menatapnya. Dia mengunyah dengan wajah datar, menonton anime di HP yang disandarkan ke rantang.
Tadi pagi dia dengar.
Tadi pagi, jam enam, waktu aku membuka Sapa Pagi dengan suara yang untuk pertama kalinya dalam dua minggu terasa ringan karena tidur tujuh jam, dia ada di lantai empat belas, mendengarkan. Tanpa plugin. Seperti janjinya.
Pipiku panas. Aku menyalahkan bakso.
Jam dua belas lewat empat puluh, HP-ku berbunyi.
Bukan getar. Ringtone khusus. Lagu piano klasik yang aku pasang khusus untuk satu orang, supaya aku selalu tahu harus siap mental sebelum mengangkat.
Ibu.
Aku berdiri. “Bentar, ya.”
Aku berjalan ke koridor sebelah kantin, dekat jendela besar yang menghadap gedung-gedung Jakarta Selatan. Aku menarik napas, memasang senyum walaupun nggak ada yang melihat, dan mengangkat.
“Halo, Bu.”
“Cyn.” Suara Ibu. Ratna Wirawan. Suara yang dulu menyapa Indonesia setiap malam jam tujuh di program berita hiburan paling populer awal 2000-an. Suara yang masih jernih, masih tegas, masih bisa bikin punggungku lurus dalam satu suku kata. “Kamu kemarin difoto makan di pinggir jalan?”
Dadaku mengencang.
“Di mana, Bu?”
“Ada yang kirim ke grup arisan Ibu. Akun gosip. Kamu sama temanmu yang rambut pendek itu, makan gorengan di gerobak depan kantor. Kamu pakai blazer kerja. Kamu lagi ngunyah, Cyn. Mulutmu terbuka.”
Itu hari Kamis. Diana mengajakku beli bakwan di gerobak depan TRAC karena kami lapar sesudah meeting panjang. Lima menit. Kami berdiri di trotoar, makan bakwan pakai tangan, dan Diana bercerita soal produser variety yang dia sebut ikan buntal berkacamata. Aku tertawa sambil mengunyah.
Lima menit.
“Itu cuma gorengan, Bu.”
“Itu bukan soal gorengannya.” Ibu menghela napas. Napas yang sudah aku dengar ribuan kali sejak kecil. Napas yang selalu datang sebelum kalimat yang sama, dalam versi yang berbeda-beda. “Orang selalu lihat, Cyn. Satu foto jelek, satu momen nggak dijaga, satu gosip yang kebetulan pas, dan semua yang kamu bangun bisa habis. Kamu tahu itu. Kamu lihat sendiri apa yang terjadi sama Ibu.”
Aku tahu.
Aku umur sembilan tahun waktu foto itu keluar. Ibu, di sebuah restoran, dengan seorang produser yang sudah beristri. Foto itu diambil dari sudut yang membuat tangan produser itu terlihat seperti sedang menggenggam tangan Ibu, padahal, Ibu bersumpah sampai sekarang, dia cuma sedang memberikan sendok. Satu foto. Dua minggu kemudian program Ibu diganti. Tiga bulan kemudian nggak ada stasiun TV yang mau mengangkat teleponnya.
Satu foto.
“Aku ngerti, Bu.”
“Kamu cantik, Cyn. Kamu pintar. Kamu punya semua yang Ibu dulu punya, bahkan lebih. Ibu cuma nggak mau kamu kehilangan itu karena hal-hal kecil.” Suaranya melunak. Sedikit. “Makan di dalam, ya. Jangan di pinggir jalan.”
“Iya, Bu.”
“Teman-temanmu yang di kafe itu, masih?”
“Masih.”
“Yang namanya Erga itu ganteng. Ibu lihat di Instagram TRAC. Produser, kan? Dia cocok.”
“Bu, kami cuma teman.”
“Ibu cuma bilang dia cocok. Ibu nggak maksa.” Jeda. “Yang pakai baju aneh-aneh itu, siapa namanya? Yang di foto ulang tahun Diana, pakai baju bergambar kartun?”
Jantungku berhenti sebentar.
“Salman,” jawabku. “Dia teknisi audio.”
“Oh.” Satu suku kata. Datar. Tanpa penilaian, tapi juga tanpa ketertarikan. Seperti Ibu baru saja mencatat nama tukang servis AC. “Ya udah. Ibu cuma mau ngingetin. Kamu jaga diri.”
“Iya, Bu.”
Telepon ditutup.
Aku berdiri di depan jendela besar itu lama. Di bawah sana, Jakarta bergerak seperti biasa. Mobil, motor, orang-orang kecil yang berjalan di trotoar tanpa tahu ada yang memotret mereka atau nggak.
Orang selalu lihat.
Aku menarik napas. Satu. Dua. Tiga. Lalu menarik ujung bibirku ke atas, memeriksa pantulan wajahku di kaca jendela. Senyum sempurna. Alis rileks. Mata cerah.
Oke.
Aku kembali ke kantin.
Waktu aku duduk, semua orang sedang tertawa. Dino sudah datang, entah dari mana, dan sekarang sedang memperagakan sesuatu dengan dua bakso di garpu, mungkin adegan dari food vlog-nya. Erga menatap Diana. Diana menatap Dino dengan wajah aku menyesal kenal kamu. Yura tertawa tanpa suara.
Aku ikut tertawa. Tawa yang tepat. Tiga detik. Berhenti.
Lalu ada sesuatu yang digeser ke depanku.
Segelas teh manis hangat. Bukan es. Hangat, masih mengepul, di gelas kaca bergagang dari dapur katering, yang biasanya cuma dipakai Bu Tini untuk dirinya sendiri.
Aku menoleh.
Salman masih menonton anime di HP-nya. Wajahnya datar. Tangannya baru saja kembali ke rantang, seperti nggak melakukan apa-apa.
“Ini dari siapa?” bisikku.
“Bu Tini.”
“Bu Tini nggak pernah ngasih teh ke siapa-siapa.”
“Aku minta. Aku bilang ada yang tenggorokannya baru sembuh.” Dia menyuap bakso. “Aku bilang itu buat Mas Erga. Makanya dia mau.”
Aku melirik ke etalase. Bu Tini sedang menatap Erga dengan penuh kasih sayang. Aku melirik Erga. Erga sama sekali nggak tahu namanya baru saja dipakai untuk mencuri teh.
“Man,” bisikku lagi. “Kenapa?”
Dia menatap layar HP-nya, dan untuk sesaat aku kira dia nggak akan menjawab. Di anime-nya, seorang karakter sedang menangis di bawah hujan.
“Kamu tadi telepon,” katanya akhirnya, pelan, cukup pelan supaya cuma aku yang dengar. “Waktu kamu jalan ke koridor, langkahmu biasa. Waktu kamu balik, langkahmu lebih cepat dan lebih rapi.” Dia mengunyah. “Orang yang abis telepon enak, langkahnya pelan dan berantakan. Orang yang abis telepon nggak enak, langkahnya rapi. Kayak tentara.”
Aku nggak bisa bicara.
“Teh itu bukan buat tenggorokan,” tambahnya. “Teh itu buat langkahmu.”
Aku menatap teh itu. Uapnya naik pelan, menghangatkan wajahku.
Lalu aku mengangkat gelasnya dan meminumnya, pelan-pelan, sementara di sebelahku Dino menjatuhkan bakso ke kerah kemeja Erga, Diana bilang “Lima kata: itu karma buat kegantengan”, dan Yura tertawa sampai monstera plastik di belakangnya bergoyang.
Tehnya manis. Terlalu manis, sebenarnya. Bu Tini pasti menambahkan tiga sendok gula karena dia pikir itu untuk Erga.
Tapi aku menghabiskannya sampai tetes terakhir.
Jam satu kurang lima, kami bubar.
Erga menahan Diana di dekat lift. Aku memperlambat langkah dan pura-pura membaca pengumuman di papan, karena aku Cynthia dan aku profesional dalam hal pura-pura.
“Di,” kata Erga. “Boleh minta nomormu?”
“Kamu udah punya. Kita satu grup.”
“Nomor pribadi. Buat... chat pribadi.”
Diana menatapnya. Lama. Lalu mengeluarkan HP, mengetik sesuatu, dan menyodorkan layarnya ke Erga.
Erga menyalin nomor itu dengan senyum yang terlalu lebar untuk lorong kantor jam satu siang.
Lift terbuka. Diana masuk. Pintu tertutup.
Erga langsung menelepon nomor itu, tepat di depanku. Aku bisa dengar nada sambungnya. Satu. Dua.
“Halo, Kedai Ruang Tunggu, dengan Pak Hendro, ada yang bisa dibantu?”
Erga menatap HP-nya.
Aku menatap Erga.
“Halo? Mas? Mau pesan? Hari ini croffle diskon.”
Erga menutup telepon pelan-pelan. Lalu, entah kenapa, dia tertawa sendirian di lorong, menyandarkan kepala ke dinding.
“Lima kata,” gumamnya. “Dia bahkan nggak perlu ngomong.”
Aku menepuk bahunya dengan simpati, lalu berjalan ke lift berikutnya.
Di dalam lift, sendirian, aku membuka grup RUANG TUNGGU FC. Pesan terakhir dari Salman, dua menit lalu.
Salman: anya magangnya sukses
Salman: mas ujang minta dia magang lagi besok
Salman: [foto: figure Anya duduk di samping piring bakso kosong, dengan latar empat OB tersenyum lebar ke kamera]
Aku tersenyum ke layar.
Lalu, sebelum pintu lift terbuka, aku cepat-cepat menurunkan senyumku jadi senyum yang biasa. Senyum yang sudah dilatih. Senyum yang aman.
Karena di lantai dua belas, di depan pintu lift, selalu ada orang.
Dan orang selalu lihat.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata reading
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu