Chapter Twenty Eight
Ditolak dengan Lembut
POV: Salman
Malam itu aku menelepon Ibu dari kamar lagi.
Iya. Ibu sepuluh meter dari kamarku, di dapur, mengupas bawang. Tapi aku menelepon lewat video call, karena aku belum siap kupingku dihakimi secara langsung.
Ibu mengangkat di dering pertama. Kamera HP-nya menghadap langit-langit dapur lagi. Dagu dan lubang hidung.
“Man. Kamu kenapa telepon lagi? Kamu sakit?”
“Nggak, Bu.”
“Terus?”
Aku diam sebentar. Menatap peta Kalimantan di langit-langit kamar.
“Bu. Gimana caranya nolak orang baik?”
Hening di seberang.
Lalu kamera HP Ibu bergerak. Pelan-pelan. Dari langit-langit dapur, ke lampu neon, ke rak bumbu, sampai akhirnya wajah Ibu muncul utuh di layar. Ibu jarang berhasil memegang HP dengan benar. Kalau dia berhasil, artinya dia serius.
“Siapa?” tanya Ibu.
“Teman.”
“Yang mana? Yang alergi udang?”
Aku menatap layar. “Kok Ibu tahu?”
“Ibu lihat dia ngiket tali celemekmu.” Ibu menghela napas. “Perempuan nggak ngiket tali celemek laki-laki kalau cuma teman, Man. Ibu udah lima puluh lima tahun. Ibu tahu.”
Aku diam.
“Dia nembak kamu?”
“Iya, Bu.”
“Di mana?”
“Rooftop.”
“Kamu jawab apa?”
“Aku belum jawab. Dia minta aku jawab besok. Dia bilang dia mau pulang dulu, nangis dulu.”
Ibu menatapku lama di layar. Lalu dia menaruh pisau pengupas bawang.
“Anak pinter,” katanya pelan. Bukan ke aku. Ke Yura. “Dia tahu dia butuh nangis dulu sebelum dengar jawabannya. Itu anak pinter, Man.”
“Iya, Bu.”
“Kamu sayang dia?”
Aku memikirkan pertanyaan itu dengan serius. Karena Ibu bertanya dengan serius.
Aku memikirkan Yura di lobby malam Rendy, gemetar, tertawa sambil menangis. Yura di kursi Pak Darto, menangis di episode tiga karena karakter kecil topinya hampir dirusak. Yura yang berjoget Bollywood di depan perkedel, dengan gerakan paling jelek yang pernah aku lihat, supaya aku nggak aneh sendirian. Yura yang berdiri dua puluh menit di depan pintu master control dan telat wawancara.
Aku lihat kamu. Cuma aku yang lihat.
“Sayang, Bu,” jawabku. “Tapi bukan yang itu.”
Ibu mengangguk pelan.
“Kalau gitu jangan bohong ke dia,” katanya. “Dan jangan pakai nggak apa-apa.”
Aku menatap Ibu.
“Ibu dengar kamu ngomong nggak apa-apa ke Ibu minggu lalu,” lanjutnya. “Kupingmu gerak. Ibu nggak bilang apa-apa waktu itu. Tapi Ibu dengar.” Dia diam sebentar. “Kalimat itu kalimat orang yang lagi nyimpen sesuatu, Man. Orang yang nolak pakai nggak apa-apa itu sebenarnya lagi minta orang yang ditolak buat nyimpen sesuatu juga.”
“Terus pakai apa, Bu?”
“Pakai kata yang bikin dia pulang dengan kepala tegak.” Ibu mengambil pisau pengupas bawang lagi. “Perempuan yang berani bilang duluan itu jarang, Man. Jangan bikin dia nyesel berani.”
Besoknya aku mengirim pesan ke Yura jam dua siang.
Aku: studio 6
Aku: jam 5
Aku: kosong. nggak ada jadwal rekaman
Aku: kalau kamu udah siap
Balasannya datang tiga menit kemudian.
Yura: udah nangis
Yura: semalam dua jam
Yura: tadi pagi setengah jam lagi di mobil
Yura: supirku nyodorin tisu nggak ngomong apa-apa. aku kasih dia bonus
Yura: udah siap
Yura: jam 5
Studio enam jam lima sore itu gelap.
Cuma lampu kerja yang menyala, lampu-lampu kecil di rangka besi di langit-langit yang biasanya dipakai kru saat persiapan. Cahayanya kuning redup. Lantai hitam. Dinding hitam. Green screen di pojok, digulung setengah.
Meja lipat di dekat pintu. Meja lipat baru, yang menggantikan meja lipat yang kakinya patah waktu ditabrak Si Cicit.
Aku datang sepuluh menit lebih awal. Duduk di kursi tinggi di area green screen, kursi yang dulu diduduki Yura waktu dia menunggu rekaman promo dan melihatku mengangkat jari telunjuk ke udara.
Pelakunya ada di antara kita.
Aku tersenyum sendiri di studio yang gelap.
Lalu aku mendengar sesuatu.
Bunyi kecil. Seperti laptop yang dibuka. Dari balik green screen yang digulung setengah.
Aku menoleh.
“Raka.”
Hening.
“Raka. Aku dengar kipas laptopmu. Laptopmu kipasnya bunyi nada F kalau prosesornya berat. Kamu lagi buka PowerPoint.”
Hening dua detik.
Lalu green screen itu bergerak. Dan Raka muncul dari baliknya, perlahan, dengan laptop di pelukan dan wajah orang yang tertangkap basah mencuri mangga tetangga.
“Mas,” katanya. “Aku cuma... dokumentasi.”
“Dokumentasi apa?”
Raka memutar laptopnya. Slide. Latar belakang biru tua. Judul: VOLUME 5: SITUASI KRITIS — PROTOKOL PENOLAKAN YANG BERMARTABAT.
“Ada dua puluh tiga slide, Mas,” katanya pelan. “Aku riset semalam. Ada data dari jurnal psikologi. Ada contoh dari drama Korea. Ada skenario A sampai—”
“Raka.”
“Iya, Mas.”
“Keluar.”
Raka menatapku. Lalu menatap laptopnya. Lalu, dengan wajah yang sangat terluka, dia menutup laptop itu dan berjalan ke pintu studio.
Di ambang pintu, dia berhenti.
“Mas,” katanya tanpa menoleh. “Slide sembilan belas bagus. Soal jangan pakai kalimat yang bikin dia ngerasa salah karena udah suka.”
Lalu dia keluar.
Aku menatap pintu yang tertutup.
Slide sembilan belas.
Aku nggak membacanya. Tapi aku menyimpannya di laci.
Yura datang jam lima tepat.
Dia nggak pakai blazer. Kaus putih polos. Celana jeans. Sepatu kets. Rambut diikat rapi. Wajahnya tanpa riasan, kecuali sedikit pelembap bibir. Matanya masih sedikit bengkak di bagian bawah, sedikit merah di pinggir.
Dan di tangannya, dilipat rapi, hoodie kuning stabilo.
Hoodie nomor tujuh.
Dia berjalan ke arahku. Berhenti di depan kursi tinggi. Menyodorkan hoodie itu.
“Udah aku cuci,” katanya. “Pakai pelembut. Yang wangi lavender. Maaf kalau kamu nggak suka lavender.”
Aku menatap hoodie itu. Terlipat sempurna, seperti baru keluar dari toko. Wajah karakter anime berambut biru yang berteriak tolong saya menghadap ke atas, dengan mata berbinar raksasanya.
Aku nggak mengambilnya.
“Simpen,” kataku.
“Apa?”
“Simpen aja. Kamu peringkat satu klasemen pemakai. Kata Diana.” Aku menatapnya. “Peringkat satu harus pegang piala.”
Yura menatapku. Lalu menatap hoodie itu. Lalu, pelan-pelan, dia menariknya kembali ke dadanya. Memeluknya.
“Oke,” bisiknya.
Dia duduk di kursi tinggi lain, di seberangku. Jarak kami satu setengah meter. Di bawah lampu kerja kuning yang redup, di studio yang gelap dan sunyi.
Dia menatapku. Menunggu.
Aku menarik napas.
Aku sudah latihan juga. Semalam, sesudah telepon Ibu. Di kamar tiga kali tiga meter dengan peta Kalimantan di langit-langit. Aku latihan ke dinding, karena aku sudah terbiasa bicara ke dinding.
Tapi waktu aku membuka mulut di studio enam, di depan Yura yang memeluk hoodie nomor tujuh, aku lupa semua yang aku latih.
Jadi aku mulai dari yang aku tahu.
“Kemarin di rooftop,” kataku, “kamu bilang aku nggak pernah pura-pura.”
Yura mengangguk.
“Aku mau jujur soal itu,” lanjutku. “Kamu salah.”
Dia mengerjap.
“Aku pura-pura,” kataku. “Tiga minggu ini aku pura-pura. Bando kucing itu pura-pura. Joget di depan perkedel itu pura-pura. Cuma teknisi ke tamu kementerian itu pura-pura. Anggap aja saya maskot. Semua itu pura-pura.” Aku menatap tanganku. “Aku pura-pura aneh, supaya nggak ada yang curiga aku bisa jadi pacar seseorang yang nggak mau orang tahu dia pacaran sama aku.”
Yura diam.
“Dan kamu lihat,” lanjutku. “Kamu satu-satunya yang lihat aku pura-pura. Kamu lihat dari lobby, waktu senyumku mati sesudah tamu kementerian masuk lift. Kamu lihat di kantin. Kamu nggak cuma lihat, kamu ikut. Kamu joget di sebelahku supaya aku nggak aneh sendirian.” Aku menatapnya. “Kamu gandeng tanganku sampai lift.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Itu hal paling berani yang pernah orang lakuin buat aku,” kataku pelan. “Kamu tahu itu? Selama dua puluh delapan tahun. Ibu pernah nyuapin aku level sembilan waktu aku umur delapan. Bapak pernah ngajak aku duduk di bengkel dan nanya bunyinya sakit di mana. Pak Darto pernah nyimpen kursi favoritnya buat aku kalau aku kecapekan. Dino pernah jadi badut buat anak yang nggak dia kenal karena aku minta.” Aku diam sebentar. “Tapi nggak ada yang pernah joget Bollywood di depan perkedel buat aku. Di depan satu kantin. Dengan gerakan sejelek itu.”
Yura tertawa. Satu kali. Basah. Keluar dari hidung dulu.
“Gerakanku jelek banget, ya?” tanyanya.
“Paling jelek yang pernah aku lihat,” jawabku jujur. “Pak Slamet lebih bagus.”
Dia tertawa lagi. Air mata jatuh dari sudut matanya. Dia nggak menghapusnya.
“Yura,” kataku.
Dia menatapku.
“Aku nggak bisa jadi dunianya kamu,” kataku.
Dia nggak bergerak. Matanya basah. Napasnya tertahan.
“Bukan karena kamu kurang,” lanjutku. Pelan. Hati-hati. Seperti memasang figure di alasnya. “Bukan karena kamu nggak cantik, atau nggak pinter, atau nggak baik. Kamu semua itu. Kamu lebih dari semua itu. Kamu orang pertama yang lihat aku waktu aku jadi tim teknis. Kamu orang pertama yang bilang cuma aku yang lihat dan aku percaya.”
Aku menarik napas.
“Tapi kamu pantas dapat orang yang nggak perlu kamu ajarin cara bangga,” kataku.
Yura menatapku.
“Kamu bilang aku bangga ke dia,” lanjutku. “Di malming. Aku dengar. Aku nggak harusnya dengar, tapi telinga kananku buat dunia, dan dunia waktu itu cuma satu meter dari aku.” Aku menatap lantai hitam studio. “Kamu bangga jalan sama aku. Kamu bangga pakai hoodie-ku. Kamu bangga gandeng tanganku di kantin. Kamu nggak perlu diajarin itu. Kamu udah bisa.”
“Terus?” bisiknya.
“Terus kamu pantas dapat orang yang juga udah bisa. Yang bangga jalan sama kamu dari hari pertama. Yang nggak perlu kamu tampar dulu supaya dia sadar. Yang nggak perlu kamu tungguin di depan pintu dua puluh menit.” Aku mengangkat kepala. Menatapnya. “Dan orang itu bukan aku.”
Yura menutup mulut dengan tangan.
“Soalnya aku,” kataku pelan, “masih nunggu orang lain belajar.”
Studio enam sunyi.
Lampu kerja kuning berdengung samar di rangka besi di langit-langit. Di luar, di koridor, terdengar langkah kaki seseorang yang lewat, lalu menghilang.
Yura menangis.
Bukan menangis anchor. Bukan menangis yang ditahan. Menangis yang dia biarkan keluar, di kursi tinggi di area green screen, memeluk hoodie nomor tujuh yang wangi lavender. Bahunya bergetar. Napasnya tersengal. Air mata mengalir dan jatuh ke wajah karakter anime berambut biru yang berteriak di hoodie itu.
Aku nggak mendekat.
Aku nggak menyentuhnya. Aku nggak memeluknya. Aku tahu, kalau aku memeluknya sekarang, itu akan jadi pelukan yang salah. Pelukan yang memberinya harapan yang baru saja aku ambil.
Jadi aku cuma duduk di kursi tinggi di seberangnya. Satu setengah meter. Dan menunggu.
Seperti menunggu lagu selesai.
Lima menit kemudian, tangisnya mereda.
Yura menghapus wajahnya dengan lengan kausnya. Menarik napas panjang. Lalu menatapku dengan mata yang merah dan bengkak dan, entah gimana, masih tenang.
“Kamu nggak bilang nggak apa-apa,” katanya.
“Ibu bilang jangan.”
Dia tertawa. Kecil. “Ibumu pinter.”
“Ibu bilang kamu pinter. Soalnya kamu minta waktu buat nangis dulu.”
Yura tertawa lagi. Lalu diam. Menatap hoodie di pelukannya.
“Man,” katanya. “Kamu masih nunggu dia.”
“Iya.”
“Sesudah kenal juga enggak terlalu.”
“Iya.”
“Sesudah dia pakai sepatu hak lagi ke malming. Sesudah dia bilang aku single ke Erga. Sesudah dia nggak tahu kamu yang nyelamatin siarannya dua jam pakai mixer yang pernah ditabrak troli.”
Aku diam.
“Kamu masih belain dia,” bisiknya.
“Selalu,” kataku.
Yura menatapku lama.
Lalu, pelan, sudut bibirnya naik. Senyum kecil yang miring. Senyum yang bukan senyum anchor.
“Dia beruntung banget,” katanya. “Dan dia bodoh banget.”
“Dia nggak bodoh.”
“Dia bodoh, Man. Aku sahabatnya. Aku boleh bilang dia bodoh.” Dia menghapus pipinya sekali lagi. “Aku bakal bilang ke mukanya nanti. Kalau dia udah sadar.”
Aku mengeluarkan sesuatu dari saku hoodie.
Hoodie hari ini warna hijau zaitun, bergambar seekor burung hantu yang memakai kacamata baca dan duduk di atas tumpukan buku. Di saku kanguru-nya, selain kotak charger earbud, ada selembar kertas HVS yang dilipat empat.
Aku menyodorkannya ke Yura.
Dia mengambilnya. Membukanya.
Itu print-an dari Google Sheets. Spreadsheet kurikulum anime. Tapi cuma satu baris. Baris baru, yang aku tambahkan tadi pagi jam empat, sesudah nggak bisa tidur.
Baris 41.
Judul: Kimi ni Todoke.
Genre: Romance, slice of life, drama.
Jumlah episode: 38.
Rating Salman: 9/10.
Kenapa harus ditonton: Soalnya ini soal cewek yang dilihat semua orang tapi nggak ada yang kenal. Semua orang salah paham sama dia. Terus pelan-pelan, dia ketemu orang-orang yang mau kenal dia beneran. Bukan cuma satu. Banyak. Teman-teman yang tahu dia suka apa, takut apa, ketawanya kayak gimana.
Kamu bakal ketemu orang-orang kayak gitu juga, Yura. Banyak. Aku cuma yang pertama. Bukan yang terakhir.
Cocok buat: orang yang ketawa dari hidung dulu, terus pecah. Orang yang berani joget di depan perkedel buat temennya. Orang yang paling berani di gedung ini.
Yura membaca baris itu.
Lalu membacanya lagi.
Lalu dia menutup wajah dengan kertas itu dan menangis lagi. Tapi kali ini, di tengah tangisnya, dia tertawa. Tawa dari hidung yang pecah, dan tangis yang basah, keluar bersamaan, bertabrakan di udara studio enam yang gelap.
“Ini curang,” katanya dari balik kertas. “Kamu nggak boleh nolak orang terus ngasih rekomendasi anime yang bikin nangis.”
“Itu bukan bikin nangis. Itu bikin seneng.”
“Itu bikin nangis, Man.”
“Episode dua puluh dua bikin nangis,” aku mengakui. “Siapin tisu.”
Dia menurunkan kertas itu. Menatapku dengan wajah basah dan merah dan berantakan, dan tertawa.
Juara dua di klasemen.
Mungkin sekarang juara dua bersama.
Satu hal lagi.
Aku menunggu sampai tangisnya benar-benar reda. Sampai dia melipat kertas baris empat puluh satu dan memasukkannya ke saku celananya. Sampai dia berdiri dari kursi tinggi, hoodie nomor tujuh di pelukannya, siap pergi.
“Yura.”
Dia menoleh.
“Jangan nampar dia lagi,” kataku pelan. “Buat aku.”
Yura diam.
“Dia udah cukup sakit,” lanjutku. “Aku dengar napasnya tiap pagi. Di channel tujuh. Sudah tiga minggu napasnya pendek. Dia nggak tidur. Dia pakai sepatu hak lagi, tapi kakinya sakit, aku bisa dengar dari langkahnya di lobby, dia jalan agak miring ke kiri.” Aku menatap lantai. “Dia nggak perlu ditampar. Dia udah tertampar sendiri. Tiap hari. Sama dirinya sendiri.”
Yura menatapku lama.
“Kamu tahu semua itu dari napasnya?”
“Aku tahu semua orang dari napasnya.”
Dia mengangguk pelan.
“Oke,” katanya. “Aku berhenti. Bukan buat kamu. Buat dia.” Dia diam sebentar. “Dan buat aku. Diana bilang aku nyakitin tiga orang. Aku mau berhenti nyakitin yang ketiga.”
Dia berjalan ke pintu studio.
Lalu berhenti lagi. Berbalik.
“Man.”
“Hm.”
“Earbud-nya.” Dia menunjuk telinga kiriku. Earbud putih, yang kemarin aku pasang lagi di rooftop. Yang sejak kemarin nggak aku lepas. “Kamu pasang lagi.”
“Iya.”
“Lagunya masih sama?”
Aku mendengarkan. Gendang. Sitar. Suara laki-laki yang menyanyi dengan napas panjang.
“Masih sama,” kataku.
Yura tersenyum. Lalu membuka pintu studio dan keluar ke koridor.
Pintu tertutup.
Aku duduk sendirian di studio enam yang gelap.
Lima menit kemudian, pintu studio terbuka lagi.
Raka mengintip ke dalam. Melihat aku sendirian di kursi tinggi. Lalu masuk pelan-pelan, laptop di pelukan.
“Mas,” katanya. “Aku boleh nanya?”
“Kamu udah dengar semuanya dari balik pintu, kan?”
Raka diam. Lalu mengangguk.
“Kamu mau nanya apa?”
Raka menatapku lama.
“Mas,” katanya akhirnya. “Kalau Mas masih nunggu Mbak Cynthia belajar...” Dia menelan ludah. “Gimana kalau Mbak Cynthia nggak pernah belajar? Gimana kalau dia terus jaga jarak tiga meter. Terus. Selamanya. Gimana kalau Mas nunggu sampai Mas capek?”
Aku nggak menjawab.
Aku menatap green screen yang digulung setengah. Menatap meja lipat baru di dekat pintu. Menatap lampu kerja kuning di rangka besi.
Kalau dia nggak turun? tanyaku ke Ibu di malam hujan itu. Kalau angkotnya nggak berhenti?
Ya kamu terus nyanyi, kata Ibu. Sampai suaramu habis. Atau sampai angkotnya berhenti.
Tapi Ibu juga bilang sesuatu yang lain, malam sesudah teman-temanku pulang dari warung, sambil mencuci panci: Ibu udah bilang ke dia, Man. Jangan sampai kamu harus lari terlalu lama. Kakimu juga bisa capek.
Aku nggak takut kakiku capek.
Aku takut kakinya yang capek.
Kaki yang jalan miring ke kiri di lobby karena sepatu hak. Kaki yang dulu memakai sandal jepit biru dan menarik napas panjang seperti orang baru pulang mudik. Kaki yang sekarang harus terus menjaga jarak tiga meter. Sebelas meter di lobby. Kantin. Koridor. Lift. Setiap hari. Setiap saat. Setiap kali ada orang.
Itu pasti capek.
Menjaga jarak dari seseorang yang kamu sayang itu pasti capek sekali. Lebih capek dari naik dua ratus delapan puluh anak tangga. Lebih capek dari mendorong motor dua kilometer di bawah hujan. Lebih capek dari mixing dua jam dengan tangan di atas mixer analog.
Dan selama aku ada di dekatnya, dia harus terus melakukannya.
“Rak,” kataku.
“Iya, Mas.”
“Slide sembilan belas. Yang soal jangan pakai kalimat yang bikin orang ngerasa salah.”
“Iya, Mas?”
“Ada slide soal kebalikannya?” Aku menatapnya. “Soal gimana caranya ngasih orang istirahat, tanpa bikin dia ngerasa ditinggal?”
Raka menatapku lama.
Lalu dia membuka laptopnya. Menggulir slide. Berhenti. Menatap layar lama.
“Nggak ada, Mas,” katanya pelan. “Aku nggak pernah riset soal itu.”
Dia menutup laptopnya.
“Soalnya,” tambahnya, lebih pelan lagi, “aku nggak pernah kepikiran ada orang yang mau ngelakuin itu.”
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut reading
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu