Chapter Nineteen
Pacar Rahasia
POV: Cynthia
Pacaran diam-diam ternyata butuh aturan.
Aku nggak tahu ini sebelumnya. Aku belum pernah pacaran diam-diam. Pacarku yang terakhir, waktu kuliah, adalah ketua BEM yang suka mengunggah foto kami berdua di Instagram dengan takarir panjang soal partner in crime. Semua orang tahu. Bahkan dosen pembimbingku tahu. Waktu kami putus, dosen pembimbingku memberiku nilai A untuk bab tiga skripsi dengan catatan semangat ya.
Jadi pada hari Jumat, sehari sesudah basement B2 Zona C, aku mengirim pesan ke Salman.
Aku: man kita butuh aturan
Teknisi Ch. 7: aturan apa
Aku: aturan pacaran rahasia
Teknisi Ch. 7: oke
Teknisi Ch. 7: raka udah bikin
Aku: RAKA TAHU???
Teknisi Ch. 7: raka tahu dari sebelum aku tahu
Teknisi Ch. 7: dia yang bikin 47 slide
Teknisi Ch. 7: sekarang dia bikin volume 4
Teknisi Ch. 7: [file: VOLUME_4_SOP_PACARAN_RAHASIA_MAS_SALMAN_FINAL_FIX_v3.pptx]
Aku membukanya di toilet lantai dua belas.
Tiga puluh dua slide. Font Calibri, karena Salman sudah melarang Comic Sans. Latar belakang biru tua dengan logo TRAC di pojok kanan bawah, seolah ini dokumen resmi perusahaan.
Slide satu: SOP PACARAN RAHASIA — MAS SALMAN & MBAK C (NAMA DISAMARKAN DEMI KEAMANAN).
Slide dua: PIHAK YANG MENGETAHUI: (1) Raka, (2) Wati, (3) Pak Slamet, (4) Bu Nur (estimasi 95%), (5) Pak Haji (status: tidak dapat dikonfirmasi).
Slide tiga: ATURAN 1 — JARAK DI AREA PUBLIK. Minimal 3 meter. Alasan: jarak 3 meter adalah jarak di mana dua orang tidak terlihat ‘bersama’ di mata pengamat awam. Sumber: Riset Raka (observasi 4 hari di lobby).
Slide empat: ATURAN 2 — LIFT. Tidak boleh naik lift yang sama. Kalau terpaksa, berdiri di sudut berlawanan. Kalau lift penuh, Mas Salman naik tangga darurat.
Slide lima: ATURAN 3 — KANTIN. Duduk di meja berbeda. Kalau di meja yang sama (karena meja bundar sudut kanan = meja geng), duduk berseberangan, bukan bersebelahan. Dilarang berbagi makanan. Dilarang tukar sambal.
Slide enam: ATURAN 4 — KODE KOMUNIKASI. Channel 7 + IFB tone (sudah berjalan, efektif). Grup WhatsApp: dilarang membalas pesan satu sama lain secara langsung dalam 5 menit pertama. Biarkan orang lain membalas duluan. Sumber: Riset Raka (pola chat 47 pasangan rahasia di TRAC Tower, data 2019–2025).
Aku berhenti membaca.
Aku: man
Aku: raka punya data 47 pasangan rahasia di TRAC???
Teknisi Ch. 7: iya
Teknisi Ch. 7: aku juga baru tahu
Teknisi Ch. 7: gedung ini ternyata sinetron
Aku: siapa aja
Teknisi Ch. 7: dia nggak mau kasih tahu
Teknisi Ch. 7: katanya kode etik
Aku menutup presentasi itu. Lalu membukanya lagi, karena aku penasaran slide tiga puluh dua.
Slide tiga puluh dua: PENUTUP. Semoga hubungan ini langgeng. Kalau putus, tolong jangan pas jadwal siaran pagi, nanti Mas Salman nge-mixing sambil nangis dan hasilnya kurang optimal. — Raka.
Aku menutup mulut dengan tangan dan tertawa di toilet sampai seseorang di bilik sebelah mengetuk dinding.
Aturan satu, jarak tiga meter di area publik, ternyata yang paling susah.
Senin pagi, jam lima lewat empat puluh, aku masuk lobby TRAC Tower dari pintu putar. Masih gelap di luar. Lobby sepi, cuma ada satpam pagi Pak Jono dan dua kru Sapa Pagi yang sedang menurunkan peralatan dari mobil.
Dan Salman.
Dia baru masuk dari pintu tangga darurat yang menuju basement. Hoodie hari ini warna hijau limau, bergambar seekor siput yang memakai helm balap dan duduk di atas skateboard dengan wajah sangat percaya diri. Helm Wati di siku. Rantang di tangan.
Kami saling melihat dari dua sisi lobby.
Dia berhenti. Aku berhenti.
Tiga meter. Aku menghitung di kepala. Dia sekitar sepuluh meter. Aman.
Dia berjalan ke arah lift. Aku berjalan ke arah lift. Kami berjalan sejajar, dua sisi lobby, seperti dua kereta di rel yang berbeda.
Lift terbuka.
Aku masuk. Dia berhenti di depan pintu lift. Menatapku. Menatap lift. Menatap Pak Jono di pos.
Lalu dia berbalik dan berjalan ke tangga darurat.
Aturan dua.
Pintu lift tertutup. Aku naik sendirian ke lantai dua belas. Di pantulan pintu lift yang mengilap, aku melihat wajahku sendiri tersenyum.
HP-ku bergetar.
Teknisi Ch. 7: lantai 14 lewat tangga itu 280 anak tangga
Teknisi Ch. 7: aku hitung
Teknisi Ch. 7: demi cinta
Teknisi Ch. 7: kalau aku pingsan di lantai 9, tolong kirim bakso
Aku: kamu emang selalu naik tangga
Aku: kamu bilang lift itu buat orang buru-buru
Teknisi Ch. 7: iya
Teknisi Ch. 7: tapi hari ini rasanya beda
Teknisi Ch. 7: hari ini 280 anak tangga itu ada alasannya
Aku menekan HP ke dadaku. Pintu lift terbuka di lantai dua belas. Sasa berdiri di depan pintu, menatapku dengan bingung.
“Mbak? Kok peluk HP?”
“Dingin,” kataku. “HP-nya dingin.”
Aturan tiga, kantin, gagal di hari pertama.
Bukan karena kami. Karena Dino.
Jam dua belas lewat sepuluh, meja bundar sudut kanan. Aku duduk di kursi biasa. Yura di sebelahku. Diana di seberangku. Erga datang dan duduk di sebelah Diana, dan Diana, aku perhatikan, nggak bergeser. Erga hari ini nggak pakai parfum. Aku bisa tahu, karena dia nggak wangi apa-apa. Dia cuma wangi sabun.
Salman datang terakhir. Dia menaruh rantang di meja dan duduk di kursi di seberangku. Berseberangan. Bukan bersebelahan. Sesuai SOP.
Lalu Dino datang.
Dino menatap kursi-kursi yang tersisa. Ada satu, di sebelahku. Dan satu, di sebelah Salman. Dino menatap keduanya. Lalu, dengan logika yang hanya Dino yang mengerti, dia menarik kursi di sebelahku, memindahkannya ke sebelah Salman, lalu menarik kursi di sebelah Salman, memindahkannya ke sebelahku.
Hasilnya sama. Dua kursi kosong. Satu di sebelahku, satu di sebelah Salman.
Lalu Dino duduk di kursi yang di sebelah Salman.
Lalu dia berdiri lagi.
“Man, tukeran kursi,” katanya. “Gue mau duduk di situ.”
Salman menatapnya. “Kenapa?”
“Kursi itu deket jendela. Gue mau konten. Cahaya alami. Golden hour.”
“Ini jam dua belas siang, Din. Bukan golden hour. Ini noon hour.”
“Noon hour juga konten.”
Salman menatapku dari seberang meja. Aku menatapnya balik. SOP aturan tiga, duduk berseberangan. Kalau dia tukar kursi dengan Dino, dia akan duduk di kursi kosong satu-satunya.
Di sebelahku.
“Din,” kataku, “kamu bisa duduk di sebelahku aja, cahayanya sama.”
“Nggak sama, Cyn. Sebelahmu ada pot monstera. Monsteranya berdebu. Nggak estetik.”
Dino menarik Salman berdiri, mendorongnya ke kursi kosong di sebelahku, lalu duduk di kursi Salman yang di seberang dengan wajah puas.
Salman duduk di sebelahku.
Bahu kami bersentuhan.
Aku menatap mangkukku. Dia menatap rantangnya. Kami berdua diam, kaku, seperti dua patung lilin yang kebetulan dipajang bersebelahan di museum.
Diana menatap kami berdua dari seberang meja. Matanya menyipit.
“Kalian kenapa?” tanyanya.
“Kenapa apa?”
“Kalian duduk kayak orang lagi di upacara bendera. Tegak. Kaku. Nggak gerak.”
“Aku pegal,” kataku.
“Aku juga,” kata Salman bersamaan.
Diana menatap kami lebih lama. Lalu membuka buku catatan batiknya dan menulis sesuatu.
Aku nggak mau tahu dia menulis apa.
Di bawah meja, kaki Salman menyentuh kakiku. Pelan. Ujung sepatu ketsnya menyentuh ujung sandal jepitku.
Aku nggak menarik kakiku.
Dia juga nggak.
Kami makan seperti itu, bahu bersentuhan, kaki bersentuhan, wajah lurus ke depan, sementara Dino merekam konten noon hour dan Erga bercerita soal rapat produksi dan Diana menulis di buku catatannya dengan kecepatan yang mencurigakan.
Yura nggak bicara banyak siang itu.
Aku baru sadar belakangan.
Rabu malam, grup RUANG TUNGGU FC berbunyi.
Yura: man makasih spreadsheet-nya!!
Yura: udah episode 40 🏴☠️
Yura: ternyata seru banget. aku nangis di episode 37
Dino: spreadsheet apaan
Yura: salman bikinin aku kurikulum anime
Yura: 40 judul. ada kolom genre, jumlah episode, rating, sama “kenapa harus ditonton”
Yura: kolom terakhir yang paling bagus. dia nulis alasan personal tiap judul
Dino: MAN LO BIKININ YURA SPREADSHEET???
Dino: GUE MINTA REKOMENDASI ANIME 2 TAHUN LALU LO CUMA BILANG “NONTON NARUTO”
Salman: kamu nanya pas lagi makan
Salman: aku nggak bisa bikin spreadsheet sambil makan
Dino: LO SELALU MAKAN
Salman: itu masalahnya
Erga: aku mau juga dong man
Salman: oke. link-nya sama
Salman: aku bikin buat semua orang yang nanya. pak darto juga punya. dia udah episode 200
Diana: pak darto episode 200??
Salman: pak darto nonton pas jam istirahat. 3 episode sehari. konsisten. aku bangga
Lalu Salman mengirim tautan Google Sheets.
Aku menatap tautan itu.
Nggak ada yang mengirim pesan langsung kepadaku. Nggak ada yang bertanya Cyn, mau juga? Aku juga nggak bertanya. Aku nggak bisa bertanya. Kalau aku bertanya di grup, man aku mau juga dong, semua orang akan melihat. Diana akan menulis sesuatu di buku catatannya. Dino akan bilang wah, Cyn juga? dengan nada yang terlalu polos.
Dan Yura...
Yura akan menatapku dengan matanya yang tenang itu.
Aku nggak bertanya.
Tapi jam sebelas malam, waktu grup sudah sepi, aku membuka tautan itu.
Google Sheets. Empat puluh baris. Kolom-kolomnya rapi: Judul, Genre, Jumlah Episode, Rating Salman (1–10), Kenapa Harus Ditonton.
Aku menggulir kolom terakhir.
Baris 1 — Naruto: Soalnya dia juga diledekin waktu kecil, tapi dia nggak pernah nyerah. Cocok buat orang yang pernah merasa nggak dilihat.
Baris 7 — Haikyu: Soalnya ini soal orang pendek yang mau terbang. Cocok buat orang yang dibilang nggak bisa.
Baris 12 — Spy x Family: Soalnya ini soal keluarga yang semuanya pura-pura, tapi pelan-pelan jadi beneran. Cocok buat orang yang capek pura-pura.
Baris 23 — Your Lie in April: Soalnya ini soal orang yang berhenti main musik karena takut, terus ketemu orang yang bikin dia berani lagi. Siapin tisu. Banyak.
Aku membaca semuanya. Empat puluh baris. Satu per satu. Setiap kalimat di kolom terakhir itu terdengar seperti Salman. Pendek. Jujur. Sedikit aneh. Dan selalu, selalu, tentang orang lain.
Cocok buat orang yang...
Lalu aku sampai di baris empat puluh.
Baris 40 — (kosong): Belum ketemu anime yang cocok buat orang yang suka ketawa sambil nutup mulut. Masih nyari. Nanti diisi.
Aku membaca baris itu lama.
Lalu aku menatap kolom Diisi Oleh di pojok kanan atas spreadsheet, kolom yang mencatat siapa yang terakhir mengedit dokumen.
Salman Haikal — 23:47 kemarin.
Kemarin. Jam sebelas empat puluh tujuh. Sesudah dia mengantarku pulang dari Kemang. Sesudah dia bilang tidur cyn di chat.
Dia menambahkan baris empat puluh sesudah itu.
Aku menutup laptopku.
Aku nggak tahu apakah baris empat puluh itu untukku. Mungkin bukan. Mungkin itu untuk orang lain. Banyak orang yang ketawa sambil menutup mulut.
Tapi aku tidur malam itu dengan perasaan seperti orang yang baru membaca surat yang nggak dialamatkan kepadanya, tapi ditulis dengan tulisan tangan yang sangat dia kenal.
Kencan pertama kami, kalau bisa disebut kencan, terjadi hari Sabtu.
Bukan malming. Malming minggu depan. Ini Sabtu yang lain. Sabtu yang kosong.
Salman memilih bioskop di sebuah mal kecil di Depok. Bukan mal besar. Mal yang lantai tiganya setengah kosong, yang eskalatornya sering mati, yang bioskopnya cuma punya tiga studio dan kursinya masih yang model lama dengan busa yang sudah tipis.
“Di sini nggak ada yang kenal kamu,” katanya waktu menjemputku di stasiun Depok Baru. “Rata-rata penontonnya anak SMA sama bapak-bapak yang kabur dari istrinya.”
“Kamu sering ke sini?”
“Tiap ada film anime yang tayang. Aku sendirian. Nggak ada yang mau nemenin.”
“Dino?”
“Dino nonton film apa aja sambil makan. Dia pernah makan nasi padang di bioskop. Pakai tangan. Waktu adegan sedih.”
Aku tertawa. Kaca helmku terbuka.
Filmnya film anime. Aku nggak tahu judulnya. Salman sudah menjelaskannya dua kali di jalan, tapi aku nggak bisa menangkap nama Jepangnya. Yang aku tahu, film itu soal dua orang yang bertukar badan dan saling mencari, dan menurut Salman, film itu penghancur hati kelas berat dan aku harus siapin mental.
Kami duduk di barisan paling belakang, pojok kiri. Studio hampir kosong. Cuma ada enam orang lain: dua pasangan anak SMA di barisan depan, dan dua bapak-bapak di tengah yang duduk berjauhan, masing-masing sendirian, seperti dua orang yang memang kabur dari istrinya.
Aku memakai hoodie. Bukan hoodie Anya, yang aku simpan di bawah bantal. Hoodie Salman yang lain, yang dia pinjamkan khusus untuk hari ini. Warna hitam, bergambar seekor kucing hitam yang sedang menunggang sapu terbang dengan wajah mengantuk. Kebesaran. Tudungnya aku tarik sampai menutupi dahi.
Di kegelapan bioskop, di barisan paling belakang, aku menurunkan tudungnya.
Salman menatapku dari kursi sebelah. Wajahnya disinari cahaya biru dari layar.
“Kenapa?” bisikku.
“Nggak,” bisiknya balik. “Hoodie itu lebih cocok sama kamu daripada sama aku.”
“Itu pujian?”
“Itu pengamatan teknis.”
Film itu memang penghancur hati.
Di menit keenam puluh, aku sudah menggigit bibir. Di menit ketujuh puluh lima, aku sudah memeluk lengan Salman. Di menit kesembilan puluh, waktu dua tokoh utamanya akhirnya bertemu di puncak gunung saat matahari terbenam, dan mereka cuma punya beberapa detik, dan salah satu dari mereka menulis sesuatu di telapak tangan yang lain, dan tulisannya bukan nama...
Aku menangis.
Bukan menangis cantik. Menangis jelek. Menangis yang dimulai dari tenggorokan dan langsung naik ke hidung. Air mata, ingus, napas tersengal-sengal. Di bioskop. Di depan Salman.
Dan karena aku Cynthia, dan karena dua puluh enam tahun aku dilatih untuk nggak pernah memperlihatkan wajah seperti itu ke siapa pun, refleksku langsung bekerja.
Aku menyembunyikan wajahku.
Bukan di tangan. Di hoodie.
Aku menarik kerah hoodie kucing penyihir itu ke atas, sampai menutupi mulut dan hidung. Lalu, karena itu belum cukup, aku menarik tudungnya ke depan, sampai menutupi mata. Lalu, karena itu masih belum cukup, karena aku masih bisa merasakan air mata mengalir dan napasku masih tersengal dan aku masih takut seseorang, siapa pun, bahkan bapak-bapak yang kabur dari istrinya, menoleh dan melihat wajahku...
Aku menyusupkan kepalaku ke dalam hoodie.
Bukan hoodie-ku. Hoodie dia.
Salman memakai hoodie lain hari itu, warna abu-abu tua, polos tanpa gambar, satu-satunya hoodie polos yang aku pernah lihat dia pakai. Dan hoodie itu besar, dengan kerah yang longgar.
Aku menyusupkan kepalaku ke dalam kerah hoodie itu. Ke dadanya. Seperti kura-kura yang masuk ke tempurung orang lain.
Salman membeku.
Lalu, pelan-pelan, dia menarik kerah hoodie-nya lebih lebar. Memberi ruang. Supaya kepalaku bisa masuk lebih dalam. Supaya aku bisa bersembunyi sepenuhnya, di dalam kain abu-abu yang hangat dan berbau sabun cuci murah dan sedikit kaldu sapi, di dadanya, di tempat yang gelap dan sunyi dan nggak ada kamera.
Aku menangis di sana. Di dalam hoodie-nya. Di dadanya.
Dan dia diam. Satu tangannya di punggungku, di atas hoodie kucing penyihir. Menepuk pelan. Teratur. Seperti metronom.
Di layar, film terus berjalan. Musik orkestra naik. Anak-anak SMA di barisan depan juga menangis, aku bisa dengar dari tempat persembunyianku. Salah satu bapak-bapak di tengah mengeluarkan saputangan.
Lalu filmnya selesai. Lampu studio masih padam. Credit roll mulai berjalan di layar, dengan lagu penutup yang lembut.
Aku masih di dalam hoodie-nya.
Aku nggak mau keluar.
Lalu aku merasakan sesuatu.
Di atas kepalaku. Di dahiku. Lewat kain abu-abu yang tipis.
Sesuatu yang hangat. Pelan. Sebentar.
Bibir.
Dia mencium dahiku. Lewat hoodie-nya sendiri. Satu kecupan pelan di atas kain, di tempat yang dia tebak adalah dahiku, karena dia nggak bisa melihat. Tebakannya tepat.
Aku berhenti menangis.
Pelan-pelan, aku mengeluarkan kepalaku dari kerah hoodie-nya. Rambutku berantakan. Wajahku basah dan merah dan pasti jelek sekali. Aku menatapnya dari jarak sepuluh senti, di bawah cahaya biru credit roll.
Dia menatapku balik. Wajahnya datar. Tapi telinganya merah. Merah sekali. Bahkan di bawah cahaya biru, aku bisa melihatnya.
“Tadi itu,” bisikku, “apa?”
Dia diam sebentar. Lalu, dengan suara yang sangat serius, seperti sedang menjelaskan preset mixing:
“Kata anime, cium kening itu level tiga dari sepuluh.”
Aku mengerjap.
“Level tiga?”
“Level satu itu pegangan tangan. Level dua itu peluk. Level tiga cium kening.” Dia menghitung pakai jari. “Kita udah level satu di saku hoodie. Level dua di halte. Ini level tiga.”
Aku menatapnya.
“Terus,” bisikku, “sepuluhnya apa?”
Dia menatapku lama. Cahaya credit roll bergerak di wajahnya, nama-nama Jepang yang naik pelan dari bawah ke atas.
“Nanti,” katanya.
“Kapan?”
Dia diam lagi. Lebih lama. Lalu dia tersenyum. Senyum kecil. Senyum yang lembut, tapi ada sesuatu di ujungnya yang nggak bisa aku baca. Sesuatu yang sedikit jauh.
“Kalau kamu udah berani jalan di sebelahku,” katanya.
Lampu studio menyala.
Terang. Tiba-tiba. Menyilaukan.
Anak-anak SMA di depan berdiri. Bapak-bapak di tengah melipat saputangan. Petugas bioskop masuk dengan sapu.
Dan aku, refleks, tanpa berpikir, menarik tudung hoodie kucing penyihir ke atas kepalaku lagi. Menunduk. Berdiri. Berjalan ke pintu keluar dengan langkah cepat.
Tiga meter di depan Salman.
Aku baru sadar di eskalator.
Aku berhenti. Menoleh ke belakang.
Salman berdiri di ujung atas eskalator, tiga meter di belakangku. Tangan di saku hoodie abu-abu. Wajah datar. Dia nggak mempercepat langkahnya untuk menyusulku. Dia cuma berdiri di sana, membiarkan eskalator membawanya turun, menjaga jarak tiga meter.
Sesuai SOP.
Dia menatapku. Tersenyum kecil. Lalu mengangkat tangan dan melambai, pelan, seperti orang yang melambai ke kenalan dari jauh.
Aku menatapnya.
Kalau kamu udah berani jalan di sebelahku.
Eskalator membawaku turun. Membawanya turun juga. Tiga meter. Konstan. Nggak lebih dekat, nggak lebih jauh.
Di lantai dasar mal yang setengah kosong, aku menunggunya. Dia sampai. Berdiri di sebelahku. Kami berjalan keluar mal berdampingan, karena di Depok nggak ada yang kenal aku, karena mal ini setengah kosong, karena di sini aturan satu nggak berlaku.
Tapi kalimat itu terus menggema di kepalaku sepanjang jalan ke parkiran.
Kalau kamu udah berani.
Dia nggak bilang kalau kita udah siap go public. Dia nggak bilang kalau situasinya udah aman. Dia nggak bilang kalau kamu udah ngomong ke ibumu.
Dia bilang kalau kamu udah berani.
Seolah dia tahu, dari awal, bahwa masalahnya bukan situasi. Bukan Ibu. Bukan akun gosip.
Masalahnya aku.
Senin pagi, lobby TRAC Tower, jam lima lewat empat puluh lima.
Aku masuk dari pintu putar. Salman masuk dari pintu tangga darurat basement. Kami saling melihat dari dua sisi lobby.
Aku berjalan ke lift.
Dia berjalan ke tangga darurat.
Di tengah lobby, di bawah layar LED raksasa yang memutar promo Sapa Pagi dengan wajahku tersenyum sempurna, aku berhenti sebentar. Menatap layar itu. Menatap wajahku sendiri yang sepuluh meter tingginya.
Kamera selalu nyala.
Suara Ibu. Selalu suara Ibu.
Aku menoleh ke tangga darurat. Salman sudah menghilang di baliknya. Dua ratus delapan puluh anak tangga.
Aku masuk ke lift. Sendirian.
HP-ku bergetar.
Teknisi Ch. 7: tadi kamu berhenti di tengah lobby
Teknisi Ch. 7: 3 detik
Teknisi Ch. 7: lihat layar
Aku: kamu lihat?
Teknisi Ch. 7: aku selalu lihat
Teknisi Ch. 7: dari tangga darurat. pintunya ada kacanya
Aku: man
Teknisi Ch. 7: hm
Aku: maaf ya. soal 3 meter
Teknisi Ch. 7: kenapa maaf
Teknisi Ch. 7: 3 meter itu jarak aman
Teknisi Ch. 7: kata raka
Teknisi Ch. 7: kata WHO juga waktu pandemi
Aku tertawa. Di lift. Sendirian.
Lalu pesan berikutnya masuk.
Teknisi Ch. 7: lagian aku udah biasa jalan di belakang
Teknisi Ch. 7: dari belakang aku bisa lihat kamu jalan
Teknisi Ch. 7: kamu jalannya bagus
Teknisi Ch. 7: kayak lagu yang temponya pas
Pintu lift terbuka di lantai dua belas.
Aku keluar. Tersenyum. Senyum yang dilatih, untuk Sasa dan tim rias dan floor director yang menunggu di koridor.
Di dalam, di balik senyum itu, ada kalimat yang terus berputar.
Aku udah biasa jalan di belakang.
Dia bilang itu seperti hal yang lucu. Seperti hal yang manis.
Dan aku membacanya seperti itu. Lucu. Manis.
Aku belum belajar membaca kalimat-kalimat Salman yang lain. Kalimat-kalimat yang dia ucapkan ringan, cepat, tanpa jeda, seperti preset yang sudah disimpan terlalu lama.
Nggak apa-apa.
Aku udah biasa.
Kalimat-kalimat yang bunyinya seperti tawa, tapi frekuensinya, kalau aku mau mendengarkan dengan teliti, kalau aku mau sedikit saja belajar mendengar seperti dia mendengar, sama dengan frekuensi orang yang sedang menahan sesuatu.
Pagi itu aku nggak mendengarkan.
Pagi itu aku cuma membuka Sapa Pagi dengan suara yang bagus. Tanpa plugin.
“Selamat pagi, Indonesia...”
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia reading
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu