Chapter Six

Satu buat Lagu

POV: Cynthia

Chef galak itu datang lagi hari Kamis.

Namanya Chef Robby. Dia punya restoran fine dining di Senopati, punya tiga ratus ribu pengikut di Instagram, dan punya kebiasaan memotong omongan presenter perempuan setiap kali presenter itu belum selesai bicara. Dua minggu lalu dia jadi bintang tamu di Sapa Pagi. Penontonnya suka dia, karena dia ganteng dan galak, dan entah kenapa kombinasi itu laku di TV pagi. Jadi produser mengundangnya lagi.

Dalam empat belas menit segmen masak, dia memotong omonganku sembilan kali.

“Jadi Chef, untuk bumbunya—”

“Nanti dulu. Lihat ini dulu.”

“Kalau penonton di rumah nggak punya—”

“Semua orang punya. Jangan bikin alasan.”

“Chef, kita masuk ke—”

“Belum. Saya belum selesai.”

Aku tersenyum sembilan kali. Aku tertawa kecil dua kali, tawa yang ringan, yang bilang ke penonton aduh Chef ini lucu ya, padahal di dalam kepalaku aku sedang membayangkan menuang kuah kaldunya ke sepatu kulitnya yang mengilap.

Di kalimat terakhir, waktu dia mengambil sendok dari tanganku dan bilang, “Biar saya aja, nanti kamu salah,” ke depan kamera, aku masih tersenyum.

Dua juta orang menonton aku tersenyum.

Lalu jeda iklan. Lalu segmen penutup. Lalu lampu studio padam, dan aku masih tersenyum sampai aku masuk toilet, mengunci pintu, dan duduk di atas kloset tertutup selama sebelas menit tanpa bergerak.

Aku nggak menangis. Aku jarang menangis. Ibu bilang menangis bikin mata bengkak, dan mata bengkak butuh tiga jam untuk ditutupi concealer.

Aku cuma duduk. Napasku pendek-pendek. Tanganku dingin.

Waktu aku keluar dari toilet, HP-ku bergetar. Satu pesan, dari nomor yang sekarang sudah aku simpan dengan nama yang aku ganti tiga kali minggu ini. Pertama Salman. Lalu Salman (Wati). Sekarang Teknisi Ch. 7.

Teknisi Ch. 7: dia motong 9 kali
Teknisi Ch. 7: aku hitung
Teknisi Ch. 7: yang ke-7 aku hampir naikin feedback mic dia biar dia kaget
Teknisi Ch. 7: tapi nanti yang kaget penonton
Teknisi Ch. 7: jadi aku cuma nurunin volume dia 2 desibel tiap dia motong kamu
Teknisi Ch. 7: penonton nggak sadar. tapi suaramu jadi selalu lebih keras dari dia

Aku berdiri di koridor lantai dua belas, menatap layar.

Lalu satu pesan lagi.

Teknisi Ch. 7: rooftop jam 5. aku bawa bakso. bukan level 9


Rooftop TRAC Tower ada di lantai tiga puluh.

Secara resmi, rooftop itu tertutup untuk karyawan. Ada tulisan AREA TERBATAS — HANYA UNTUK PETUGAS di pintunya, dan pintunya terkunci kode. Secara tidak resmi, setengah karyawan TRAC tahu kodenya, karena kodenya 1234 dan petugas gedung yang memasangnya sudah pensiun tiga tahun lalu tanpa sempat menggantinya.

Aku belum pernah naik.

Aku keluar dari lift barang, karena lift barang lebih sepi, naik satu lantai lewat tangga darurat, mengetik 1234, dan mendorong pintu besi berat itu.

Angin.

Angin sore Jakarta di ketinggian tiga puluh lantai itu beda dari angin di bawah. Lebih kencang. Lebih bersih. Bau knalpot dan gorengan hilang, diganti bau besi panas dan sedikit hujan yang belum turun. Langit di barat sudah mulai oranye, dan gedung-gedung di sekitar TRAC kelihatan seperti mainan yang diatur seseorang di atas karpet abu-abu.

Dan di tengah rooftop, di antara dua unit AC raksasa yang berdengung, ada Salman.

Dia sedang berbaring. Di atas kardus.

Kardus bekas kemasan kulkas, dibentangkan rata di lantai beton seperti tikar piknik. Di sebelahnya ada rantang dua susun, termos kecil, dan HP yang disandarkan ke helm Wati, memutar anime. Hoodie hari ini warna biru langit dengan gambar awan-awan kecil yang punya wajah. Dia menatap langit dengan satu earbud di telinga kiri, kaki disilangkan, dengan ekspresi orang yang sedang berlibur di Bali.

“Kamu tiduran di kardus,” kataku.

Dia menoleh tanpa bangun. “Ini bukan kardus. Ini sofa.”

“Itu kardus kulkas, Man.”

“Kulkas dua pintu. Kardusnya lebar. Premium.” Dia menepuk sisi kosong di sebelahnya. “Duduk. Tamu dapat bagian yang ada gambar logonya. Itu bagian VIP.”

Aku menatap kardus itu. Aku menatap rok pensilku. Aku menatap sekeliling: nggak ada siapa-siapa. Cuma AC, langit, dan seekor merpati abu-abu yang sedang mondar-mandir di pinggir pagar pembatas.

Aku duduk di bagian VIP.

“Itu Pak Haji,” kata Salman, menunjuk merpati itu.

“Kenapa Pak Haji?”

“Dia selalu ke sini tiap jam lima. Kayak mau salat Asar. Tepat waktu. Nggak pernah telat.”

Pak Haji menatap kami, berkukur dua kali, lalu melanjutkan mondar-mandirnya.

“Kamu kasih nama semua hewan?”

“Cuma yang aku temui lebih dari dua kali.” Dia bangun, duduk bersila, lalu membuka rantangnya. Bakso. Kuahnya bening, bau kaldu dan seledri. “Level satu. Buat anak kecil dan orang yang baru putus cinta.”

“Aku nggak baru putus cinta.”

“Kamu baru dipotong omongannya sembilan kali. Itu masuk kategori yang sama.”

Aku tertawa. Pendek. Lalu berhenti, karena ternyata tenggorokanku masih sesak.

Salman menyodorkan mangkuk plastik dan sendok. Lalu dia nggak bilang apa-apa lagi. Dia nggak nanya kamu kenapa, nggak bilang jangan dipikirin, nggak bilang dia emang nyebelin. Dia cuma kembali menatap HP-nya dan mulai makan baksonya sendiri, membiarkan aku makan dalam diam.

Aku makan.

Kuahnya hangat. Baksonya lembut. Angin bertiup, menerbangkan anak rambut ke wajahku, dan aku nggak membetulkannya.

Lima menit kemudian, napasku sudah nggak pendek lagi.


“Man.”

“Hm.”

“Dua desibel itu kelihatan nggak sih di TV?”

“Nggak kelihatan. Kedengaran.” Dia menyeruput kuah. “Tapi cuma sedikit. Kayak orang yang ngomongnya agak jauh dari mic. Penonton nggak akan mikir oh ini disengaja. Mereka cuma akan mikir kok suara chef ini kalah sama Cynthia.”

“Itu nggak SOP, kan?”

“Banyak hal yang aku lakuin bukan SOP.” Dia mengangkat bahu. “SOP itu dibuat buat situasi normal. Chef Robby bukan situasi normal. Chef Robby itu bencana alam.”

Aku tertawa lagi. Kali ini lebih panjang.

“Kalau ketahuan?”

“Pak Bambang nggak akan tahu. Pak Bambang nggak bisa bedain dua desibel. Pak Bambang pernah ngira suara feedback itu suara burung.” Dia diam sebentar. “Terus dia nyari burungnya ke seluruh studio.”

“Ketemu?”

“Ketemu. Pak Haji. Masuk lewat ventilasi.”

Aku menoleh ke Pak Haji, yang sekarang bertengger di pagar pembatas dan menatap kami dengan wajah polos.

“Kamu bohong.”

“Aku nggak pernah bohong soal burung.”

Aku nggak tahu dia bohong atau nggak. Tapi waktu aku melihat Pak Haji lagi, merpati itu memalingkan muka, seperti tersangka yang ketahuan.


Matahari turun pelan-pelan.

Langit berubah dari oranye ke merah muda ke ungu. Lampu-lampu gedung di sekitar kami mulai menyala satu per satu, seperti orang-orang yang bangun tidur. Di bawah sana, Jalan Rasuna Said sudah jadi sungai lampu merah dan putih yang bergerak lambat.

Salman sudah selesai makan. Dia berbaring lagi di kardus, satu tangan di belakang kepala, menatap langit. Satu earbud di telinga kiri, memutar sesuatu yang bisa aku dengar samar-samar, karena volumenya terlalu keras untuk ukuran manusia normal. Gendang. Sitar. Suara laki-laki yang menyanyi dengan napas panjang.

Aku masih duduk di bagian VIP, memeluk lutut.

“Man.”

“Hm.”

“Kenapa cuma satu?”

Dia menoleh. “Apanya?”

“Earbud-nya. Kamu udah jelasin ke Erga waktu itu. Satu buat dengar dunia, satu buat lagu. Tapi...” Aku mencari kata. “Kenapa yang buat lagu selalu yang kiri?”

Dia diam lama. Merpati di pagar berkukur.

“Soalnya jantung di kiri,” katanya akhirnya. “Lagu itu buat jantung. Dunia itu buat otak. Otak ada di tengah, tapi aku anggap aja di kanan, biar seimbang.”

“Itu nggak ilmiah.”

“Banyak hal penting yang nggak ilmiah.”

Lalu dia melakukan sesuatu yang membuat dadaku berhenti sebentar.

Dia melepas earbud dari telinga kirinya sendiri. Earbud yang selama dua tahun hampir nggak pernah aku lihat lepas dari telinganya lebih dari lima detik. Lagu Bollywood itu sekarang terdengar kecil dan jauh dari benda putih mungil di telapak tangannya. Lalu dia menyodorkannya kepadaku.

“Satu buat dengar dunia,” katanya pelan. “Satu buat lagu.” Dia menggoyangkan earbud itu sedikit. “Pinjem dulu yang lagu.”

Aku menatap earbud itu.

Itu cuma earbud. Barang elektronik kecil seharga mungkin tiga ratus ribu. Aku punya AirPods Pro di tas yang harganya sepuluh kali lipat. Aku sudah ratusan kali memakai in-ear monitor di studio yang dibuat khusus untuk bentuk telingaku.

Tapi entah kenapa, waktu aku mengambil earbud itu dari telapak tangannya, rasanya seperti menerima sesuatu yang jauh lebih berat.

Aku memasangnya di telinga kananku.

Musik masuk.

Gendang. Sitar. Lalu suara laki-laki itu, menyanyikan sesuatu yang aku nggak mengerti satu kata pun, tapi nadanya naik dan turun seperti ombak, seperti orang yang sedang memanggil seseorang dari seberang sungai.

“Ini lagu apa?”

“Tujhe Dekha To.” Dia menatap langit. “Dari film yang Ibu tonton dua puluh kali. Bapak bilang film itu yang bikin Ibu mau dinikahin. Soalnya di film itu cowoknya ngejar ceweknya sampai ke kereta yang udah jalan.”

“Bapakmu ngejar ibumu ke kereta?”

“Bapak ngejar Ibu ke angkot. Ke angkot D11. Angkotnya udah jalan. Bapak lari di belakang sambil nyanyi lagu ini.” Dia diam sebentar. “Fals.”

“Terus?”

“Angkotnya berhenti. Bukan karena Ibu. Karena sopirnya ketawa sampai nggak bisa nyetir.”

Aku tertawa sampai earbud di telinga kananku hampir jatuh. Salman menahannya dengan satu jari, refleks, dan ujung jarinya menyentuh pipiku. Sebentar. Lalu dia menarik tangannya lagi, seperti nggak terjadi apa-apa.

Aku pura-pura nggak merasakan apa-apa.

Pipiku pura-pura nggak panas.


Kami duduk seperti itu lama.

Aku di bagian VIP, dia di bagian kardus biasa. Lalu entah sejak kapan, aku juga berbaring. Mungkin karena leherku pegal. Mungkin karena langit di atas sudah gelap dan bintang pertama muncul di antara awan. Mungkin karena Salman berbaring dan berbaring di sebelah orang yang berbaring terasa wajar.

Bahu kami bersentuhan.

Bahu hoodie biru langit dengan awan berwajah, dan bahu blazer putih yang aku pakai ke siaran tadi pagi.

Dia nggak bergeser. Aku juga nggak.

Lagunya berganti. Masih Bollywood. Masih gendang dan sitar. Lalu, pelan, sangat pelan, cuma cukup keras untuk telinga kiriku yang tanpa earbud, Salman mulai menyanyi mengikuti lagu. Lagu yang sekarang cuma bisa aku dengar, bukan dia. Dia menyanyikannya dari hafalan, telat setengah ketukan dari yang ada di telingaku.

Fals.

Tentu saja fals.

Tapi bukan fals yang biasa. Bukan fals yang keras dan heboh yang dia keluarkan di kafe sambil berdiri di atas kursi. Fals yang ini pelan, setengah berbisik, seperti orang yang bersenandung sambil mencuci piring. Nadanya meleset, tapi melesetnya lembut. Melesetnya lucu dengan cara yang bikin kamu tersenyum, bukan tertawa.

Aku menutup mata.

Di telinga kananku, suara penyanyi asli yang sempurna. Di telinga kiriku, suara Salman yang meleset ke mana-mana. Dua suara itu bertabrakan di dalam kepalaku dan entah gimana, hasilnya bukan kacau.

Hasilnya kayak... rumah.

“Man.”

“Hm.”

“Terus kamu dengar apa sekarang? Kalau yang buat lagu aku pinjem.”

Dia berhenti menyanyi.

Aku membuka mata dan menoleh. Dia sedang menatap langit, wajahnya disinari cahaya biru dari layar HP dan sedikit oranye dari lampu gedung sebelah.

“Dunia,” katanya.

“Dunia apa? Di sini cuma ada AC sama Pak Haji.”

Dia menoleh. Menatapku. Jarak wajah kami mungkin tiga puluh senti. Mungkin kurang.

“Sekarang dunianya lagi kamu,” katanya.

Jantungku berhenti.

Benar-benar berhenti. Aku yakin. Kalau ada dokter di rooftop itu, dia pasti akan memanggil ambulans.

Aku menatapnya. Dia menatapku. Angin bertiup. Pak Haji berkukur. Lagu Bollywood di telinga kananku sampai di bagian reff, di mana suara penyanyinya naik tinggi, setinggi gedung tiga puluh lantai.

Lalu Salman berkedip, seperti baru sadar sesuatu.

“...Eh,” katanya. “Itu dari anime.”

“...Apa?”

“Kalimat barusan. Itu dari anime. Episode tujuh.” Dia mengerutkan dahi, berpikir serius. “Atau delapan. Tapi aku yakin episode tujuh. Yang pemeran utamanya duduk di atap sama cewek yang dia suka, terus ceweknya nanya, terus dia jawab gitu.” Dia mengangguk. “Iya. Episode tujuh. Aku nggak plagiat, aku cuma... terinspirasi. Hak cipta kalimatnya bukan punyaku.”

Aku menatapnya.

Aku menatap cowok berhoodie awan berwajah yang barusan bilang kalimat paling indah yang pernah diucapkan siapa pun kepadaku, lalu langsung mencabut haknya karena takut melanggar hak cipta.

Dan aku tertawa.

Aku tertawa sampai berguling ke samping dan hampir jatuh dari kardus ke beton. Aku tertawa sampai earbud di telingaku copot dan Salman harus menangkapnya sebelum menggelinding ke saluran air. Aku tertawa sampai Pak Haji terbang ketakutan ke gedung sebelah.

“Kenapa ketawa?” tanyanya, dengan wajah benar-benar bingung. “Aku kan jujur.”

“Itu masalahnya,” kataku di antara tawa. “Kamu terlalu jujur.”

“Itu jelek?”

Aku berhenti tertawa. Menatapnya. Menatap wajah datarnya yang serius, alisnya yang sedikit berkerut karena khawatir kejujurannya salah.

“Nggak,” jawabku pelan. “Itu bagus.”

Dia menatapku sebentar. Lalu mengangguk, puas, seperti orang yang baru mendapat konfirmasi bahwa mixing-nya sudah benar.

Lalu dia memasangkan kembali earbud itu ke telinga kananku. Dengan dua jari. Pelan. Hati-hati. Seperti memasang figure Naruto edisi terbatas di atas alasnya.

“Lagunya belum habis,” katanya.


Jam tujuh lewat, kami turun.

Aku turun duluan, lewat tangga darurat, lalu lift barang, lalu koridor lantai dua belas, lalu lift biasa ke lobby. Salman turun lima belas menit kemudian. Itu ideku. Aku bilang ke dia, biar nggak ada yang mikir aneh-aneh. Dia cuma mengangguk dan bilang, oke, tanpa bertanya apa-apa, seolah itu permintaan yang sangat wajar.

Aku nggak memikirkannya terlalu dalam waktu itu.

Nanti aku akan memikirkannya. Sangat dalam.

Di lobby, aku bertemu Mas Teddy, produserku, yang baru keluar dari meeting.

“Cyn! Kamu belum pulang?”

“Baru selesai rekap, Mas.”

“Kamu kelihatan seger. Tadi pagi abis Chef Robby, aku kira kamu bakal bete seharian.” Dia mengerutkan dahi. “Eh, kamu tahu nggak, tadi pagi suara Chef Robby kok kecil ya? Di monitor kayak dia jauh dari mic. Padahal clip-on-nya udah dipasang bener.”

Aku tersenyum. Senyum yang dilatih. Senyum yang aman.

“Mungkin chef-nya kebanyakan ngomong, Mas. Mic-nya capek.”

Mas Teddy tertawa dan menepuk bahuku. “Bisa aja kamu.”

Aku masuk ke mobil yang sudah keluar dari bengkel kemarin. Aku menyalakan mesin. Lalu aku menyadari sesuatu.

Di telinga kananku, masih ada earbud putih itu.

Aku lupa mengembalikannya.

Aku mengambil HP dan mengetik.

Aku: man earbud kamu kebawa aku
Aku: besok aku balikin

Balasannya datang dalam sepuluh detik.

Teknisi Ch. 7: nggak usah
Teknisi Ch. 7: aku masih punya pasangannya. yang kanan
Teknisi Ch. 7: sekarang aku pake yang kanan di telinga kiri. lagu nggak bisa bedain kiri kanan
Teknisi Ch. 7: yang itu lebih betah di kamu

Aku: earbud nggak bisa betah, man

Teknisi Ch. 7: sandal juga nggak bisa milih
Teknisi Ch. 7: tapi kamu masih pake sandalnya kan

Aku menatap kakiku. Di bawah pedal gas, di atas karpet mobil, sandal jepit biru lima belas ribu itu masih terselip. Aku memakainya untuk menyetir sejak minggu lalu. Lebih enak dari sepatu mana pun.

Aku menaruh HP di dasbor, menyalakan musik dari Spotify lewat earbud kanan itu, lalu sadar aku nggak punya satu pun lagu Bollywood di playlist-ku.

Di lampu merah pertama, aku mencari Tujhe Dekha To.

Lalu aku memutarnya dua belas kali sampai rumah.