Chapter Ten
Dilihat, Bukan Dikenal
POV: Yura
Aku bangun jam enam pagi tanpa alarm.
Bukan karena disiplin. Karena apartemenku di lantai dua puluh dua menghadap timur, dan aku nggak pernah sempat beli gorden yang cukup tebal. Sudah dua tahun. Setiap bulan aku bilang ke diri sendiri, bulan ini beli gorden. Setiap bulan aku lupa.
Cynthia bilang itu karena aku nggak pernah benar-benar menganggap apartemen ini rumah. Cuma tempat tidur. Tempat mandi. Tempat menaruh blazer yang dikirim tim wardrobe.
Mungkin dia benar.
Aku membuat kopi. Hitam, tanpa gula. Aku minum di dekat jendela, menatap Jakarta yang baru bangun, dan memeriksa HP.
Empat puluh dua notifikasi Instagram. Seseorang menandai aku di foto potongan layar TRAC Malam dengan takarir mbak yura cantik bgt semalem, blazernya beli dimana. Seseorang lagi menulis suaranya bikin tenang, kayak pengumuman di bandara. Seseorang lagi, dari akun tanpa foto profil, menulis sesuatu yang membuat aku langsung menekan tombol hapus dan blokir tanpa membaca sampai habis.
Aku sudah terbiasa.
Itu kalimat yang sering aku ucapkan. Aku sudah terbiasa. Cynthia juga sering mengucapkannya. Kami berdua sudah terbiasa dengan banyak hal. Dilihat. Dinilai. Dikomentari. Dipotret dari jauh. Diberi lauk tambahan di kantin. Dibiarkan duluan masuk lift oleh laki-laki yang lalu menatap punggung kami sampai pintu tertutup.
Tapi akhir-akhir ini aku mulai berpikir, terbiasa itu mungkin cuma kata lain untuk capek tapi nggak bisa berhenti.
Jam sembilan, ruang rias lantai dua belas.
Cynthia sudah di sana, duduk di kursi rias paling ujung, wajahnya masih setengah dirias sesudah Sapa Pagi, sedang menghapus foundation tebal dengan kapas. Dia masih pakai blazer siaran, tapi di bawah meja rias, kakinya memakai sandal jepit biru.
Sandal itu.
Aku sudah melihatnya tiga minggu berturut-turut. Di kafe. Di mobil. Sekarang di ruang rias. Cynthia, yang punya rak sepatu berisi empat puluh dua pasang dan pernah menolak pemotretan karena sepatunya nggak cocok dengan warna lantai studio, sekarang memakai sandal masjid lima belas ribu ke kantor.
Dan dia bersenandung.
Pelan. Sambil menghapus riasan. Nadanya aku kenal, gendang dan sitar dan suara yang naik turun seperti ombak. Lagu yang Salman nyanyikan di kafe dua minggu lalu.
Dan dia bersenandung fals.
Bukan fals karena nggak bisa. Cynthia bisa menyanyi. Dia pernah menyanyi di acara ulang tahun TRAC dan direktur utama sampai berdiri bertepuk tangan. Fals yang ini fals yang disengaja. Fals yang meleset di tempat-tempat yang sama dengan tempat Salman meleset. Kayak orang yang menghafal lagu bukan dari versi aslinya, tapi dari versi seseorang.
“Kamu nyanyi apa?” tanyaku, duduk di kursi sebelahnya.
Dia berhenti. Kapasnya berhenti di pipi. “Hm? Nggak. Nggak nyanyi apa-apa.”
“Tujhe Dekha To.”
Dia menoleh. Matanya membulat. “Kok kamu tahu judulnya?”
“Salman nyanyi itu di kafe. Dia sebut judulnya tiga kali.”
“Oh.” Dia kembali ke cermin. Menghapus foundation lebih keras dari yang perlu. “Iya. Nyangkut aja. Kayak lagu iklan.”
“Tapi kamu nyanyinya fals di tempat yang sama kayak dia.”
Cynthia membeku.
Aku menatapnya lewat cermin. Dia menatapku lewat cermin. Dua wajah setengah dirias, setengah polos, di bawah lampu rias yang terang dan jujur.
“Yura,” katanya pelan.
“Hm?”
“Kamu bisa nggak, sekali-kali, nggak nyadar sesuatu?”
Aku tersenyum. “Nggak bisa. Maaf. Aku anchor berita. Kerjaanku nyadar sesuatu.”
Dia mendengus, setengah kesal, setengah tertawa, lalu melempar kapas bekas ke arahku. Aku menangkapnya dan membuangnya ke tempat sampah.
Lalu kami diam.
Dulu, diam di antara kami itu nyaman. Kami sering duduk di ruang rias ini tanpa bicara, masing-masing sibuk dengan HP atau naskah, dan diamnya terasa seperti selimut. Dua orang yang sama-sama capek dilihat, yang nggak perlu menjelaskan apa-apa satu sama lain.
Tapi pagi ini, diamnya terasa beda.
Cynthia memegang HP di pangkuannya. Setiap beberapa detik, layarnya menyala, dan setiap kali menyala, dia menunduk, membaca sesuatu, lalu sudut bibirnya naik sedikit. Senyum kecil. Senyum yang dia sembunyikan dengan cepat, seperti anak kecil menyembunyikan permen di saku.
Aku nggak bertanya siapa.
Aku tahu siapa. Nama kontaknya terlihat sekilas waktu dia menunduk. Teknisi Ch. 7.
Dan aku nggak bertanya, karena aku sudah bertanya semalam di mobil, dan dia menjawab dengan diam. Diam yang buat aku sudah cukup jelas.
Aku senang buat dia. Sungguh. Cynthia berhak tersenyum ke HP seperti itu. Dia berhak punya seseorang yang membuatnya memakai sandal jepit ke kantor dan bersenandung fals di ruang rias.
Aku cuma nggak tahu kenapa, waktu aku melihat senyum kecil itu, aku merasa seperti orang yang berdiri di peron dan melihat kereta pergi tanpa dirinya.
“MBAK YURA! MBAK CYNTHIA!”
Pintu ruang rias terbuka keras.
Dino masuk, membawa piring kertas berisi tumpukan gorengan dan HP di tripod mini, dengan ring light yang dijepit di pinggir tripod dan sudah menyala, menyorot wajah kami seperti senter polisi.
“Pagi, guys! Episode spesial Dino Doyan: Review Gorengan Kantin TRAC Bareng Goddess!”
“Din,” kata Cynthia. “Wajahku setengah.”
“Setengah itu konsep, Cyn! Before-after dalam satu frame! Engagement-nya bakal meledak!”
“Engagement-mu bakal meledak di pengadilan.”
Dino mengabaikan ancaman itu dengan keahlian orang yang sudah diancam ribuan kali. Dia menaruh piring gorengan di meja rias, di antara palet eyeshadow dan kaleng hairspray, lalu mengarahkan kamera ke aku.
“Mbak Yura, kita mulai dari bakwan. Bakwan kantin TRAC. Legendaris. Bu Tini bikin dari jam empat pagi. Silakan dicicipi, terus kasih rating satu sampai sepuluh.”
Aku menatap bakwan itu. Lalu kamera. Lalu Dino.
Lalu, karena aku Yura Kirana dan aku pernah membacakan berita gempa sambil studio bergetar dan aku nggak berhenti di tengah kalimat, aku mengambil bakwan itu dan menggigitnya dengan anggun.
“Tekstur luarnya renyah,” kataku dengan suara anchor. “Bagian dalamnya lembut, dengan potongan kol dan wortel yang merata. Bumbunya seimbang, gurih tanpa berlebihan. Minyaknya sedikit berlebih di bagian bawah, tapi masih dalam batas wajar untuk gorengan kantin. Saya beri nilai delapan koma lima. Kembali ke studio.”
Dino menatapku dengan mata berbinar. “Mbak. Itu review gorengan terbaik dalam sejarah Indonesia.”
“Terima kasih.”
“Mbak Yura, sekarang yang ini. Udang goreng tepung.” Dia menyodorkan gorengan berbentuk lengkung dengan ekor merah mencuat. “Ini best seller.”
Aku menatap udang itu. Udang itu menatapku balik dengan ekornya.
“Din,” kata Cynthia pelan.
“Apa?”
“Yura alergi udang.”
Dino membeku. Matanya membulat. Lalu dia menarik piringnya dengan kecepatan cahaya dan menyembunyikannya di belakang punggung seperti menyembunyikan barang bukti.
“Maaf, Mbak! Maaf! Gue lupa! Padahal semalem gue sendiri yang bilang di live!”
“Nggak apa-apa,” kataku. Dan itu jujur. Aku nggak marah. Aku malah hampir tertawa melihat Dino memeluk piring udang di belakang punggungnya dengan wajah seperti kriminal.
Tapi aku juga menyadari sesuatu.
Cynthia tahu aku alergi udang. Tentu saja dia tahu. Kami sudah dua tahun makan bareng.
Tapi dia tahu karena aku pernah bilang. Bukan karena dia memperhatikan aku menyingkirkan kerupuk udang ke pinggir piring.
Dan aku nggak tahu kenapa perbedaan kecil itu terasa begitu penting pagi ini.
Jam sepuluh lewat lima puluh, aku turun ke lantai dua puluh untuk mengambil naskah dari divisi berita.
Lantai dua puluh itu lantai paling ramai di TRAC Tower. Ada divisi berita, divisi variety, ruang rapat besar, dan kantin. Di jam segini, sebelum makan siang, koridornya biasanya sepi karena semua orang sedang meeting.
Aku berjalan melewati deretan meja divisi produksi. Meja Erga ada di ujung, dekat jendela, dengan papan nama ERGA MAHENDRA — EXECUTIVE PRODUCER, TRAC PRIME yang selalu kelihatan sedikit miring karena Erga terlalu sopan untuk minta OB membetulkannya.
Dan di depan meja itu, ada Bu Tini.
Bu Tini. Kepala katering. Lima puluh lima tahun. Empat cucu. Kerudung motif bunga-bunga. Dia berdiri di depan meja Erga, menoleh ke kiri dan kanan dengan gerakan cepat seperti burung, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik celemeknya.
Kotak bekal. Warna navy.
Dia menaruhnya di atas meja Erga dengan sangat hati-hati, merapikan posisinya supaya pas di tengah, menempelkan sticky note kuning di tutupnya, lalu menepuk-nepuk kotak itu dua kali seperti menepuk kepala cucu.
Lalu dia berbalik.
Dan melihatku.
Kami saling menatap selama tiga detik penuh. Bu Tini dengan celemek dan kerudung bunga-bunga. Aku dengan map naskah di tangan.
Wajah Bu Tini berubah warna, dari kuning langsat ke merah muda ke merah tua, persis seperti wajah Dino waktu makan level sembilan.
“Mbak Yura,” bisiknya.
“Bu Tini.”
“Mbak lihat?”
“Saya lihat, Bu.”
Bu Tini menutup wajah dengan kedua tangan. “Ya Allah. Mbak, jangan bilang Mas Erga ya, Mbak. Ibu malu.”
“Bu...” Aku menatap kotak bekal itu. Lalu Bu Tini. “Empat puluh tiga hari?”
“Empat puluh enam, Mbak. Hari ini empat puluh enam.”
“Kenapa, Bu?”
Bu Tini menurunkan tangannya. Dia menatap meja Erga dengan mata berkaca-kaca.
“Mas Erga itu mirip almarhum anak Ibu, Mbak,” katanya pelan. “Yang pertama. Meninggal waktu umur dua puluh tujuh, kecelakaan motor. Dia juga dulu ganteng, sopan, tapi suka lupa makan.” Dia mengusap matanya dengan ujung kerudung. “Pertama kali Mas Erga ke kantin, Ibu lihat dia makan cuma pakai lodeh. Kurus. Ibu langsung keingetan.”
Aku nggak bisa bicara.
“Ibu nggak mau Mas Erga tahu itu dari Ibu,” lanjut Bu Tini. “Nanti dia nggak enak. Nanti dia kasihan sama Ibu. Ibu nggak mau dikasihani. Ibu cuma mau dia makan.”
“Bu,” kataku pelan. “Telurnya bentuk hati.”
“Itu buat semangat, Mbak. Anak muda kan suka yang begitu.”
“Dan sticky note-nya... dari seseorang yang selalu lihat kamu di lift?”
Bu Tini mengangguk serius. “Ibu emang selalu lihat dia di lift, Mbak. Ibu naik lift barang, dia naik lift biasa. Lift barang sama lift biasa sebelahan. Kalau pintunya kebuka barengan, Ibu bisa lihat.”
Aku menatap Bu Tini.
Lalu aku tertawa.
Aku nggak bisa menahannya. Aku tertawa sampai harus bersandar ke meja Erga, sampai map naskahku hampir jatuh, sampai Bu Tini ikut tertawa sambil menutup mulut dengan kerudung.
“Mbak Yura, jangan bilang ya,” katanya di antara tawa.
“Nggak, Bu. Rahasia aman.”
“Sumpah?”
Aku mengangkat tangan kanan. “Sumpah anchor berita. Itu lebih kuat dari sumpah pocong.”
Bu Tini menepuk lenganku dengan sayang, lalu bergegas pergi ke arah lift barang, menoleh dua kali untuk memastikan nggak ada orang lain yang melihat.
Aku berdiri di depan meja Erga, menatap kotak bekal navy itu. Sticky note kuning di tutupnya bertuliskan: Hari ini ada rendang, Mas Erga! Makan yang banyak biar kuat ngadepin dunia 💛
Aku tersenyum.
Ada empat puluh enam hari cinta di gedung ini yang nggak pernah dilihat siapa-siapa.
Dan mungkin, pikirku, ada banyak lagi.
Jam dua belas, aku naik lift dari lantai dua puluh ke lantai dua belas.
Lift-nya penuh. Jam makan siang. Delapan orang. Aku berdiri di pojok kiri belakang, map naskah di dada.
Di sebelahku, terlalu dekat, berdiri seorang laki-laki dari divisi sales. Aku tahu namanya karena dia sering muncul di acara-acara internal dan selalu berusaha mengobrol denganku di dekat meja prasmanan. Pak Gunawan. Umur empat puluhan. Parfum yang terlalu banyak. Jas yang terlalu ketat di bagian perut.
Lift itu penuh, jadi berdiri dekat itu wajar. Aku tahu. Aku sudah ratusan kali naik lift penuh.
Tapi ada dekat yang wajar, dan ada dekat yang bukan.
Bahunya menempel ke bahuku. Lalu lengannya. Lalu, waktu lift berhenti di lantai delapan belas dan dua orang keluar, ruangannya jadi lebih lega, tapi dia nggak bergeser. Malah sedikit lebih dekat.
“Mbak Yura,” katanya pelan, terlalu pelan, dengan napas yang bau kopi. “Semalam blazernya bagus. Pas banget di badan Mbak.”
Aku menatap lurus ke pintu lift. Wajahku tenang. Senyumku tipis, sopan, nggak bermakna.
Aku sudah terbiasa.
“Makasih, Pak,” jawabku.
“Mbak sering gym, ya? Kelihatan dari—”
Pintu lift terbuka di lantai tujuh belas.
Dan Salman masuk.
Hoodie warna hijau botol, bergambar kodok besar yang memakai topi petani dan memegang cangkul dengan wajah sangat serius. Earbud di telinga kiri. Rantang di tangan kanan. Dia melangkah masuk, menatap isi lift dengan cepat, satu sapuan mata dari kiri ke kanan.
Matanya berhenti di aku. Lalu di Pak Gunawan. Lalu di jarak antara kami.
Lalu dia melakukan sesuatu yang sangat aneh, bahkan untuk ukuran Salman.
Dia berjalan ke pojok kiri belakang. Ke tempat aku dan Pak Gunawan berdiri. Dan dengan gerakan yang sangat sopan, sangat pelan, sangat tidak bisa ditolak, dia menyelipkan badannya di antara kami.
Persis di antara kami. Seperti lembaran kertas yang diselipkan di antara dua buku.
Pak Gunawan terdorong mundur satu langkah. Aku terdorong ke dinding lift. Salman berdiri di tengah, menghadap pintu, dengan rantang di tangan dan kodok bertopi petani di dadanya.
“Maaf, Pak,” katanya ke Pak Gunawan dengan wajah serius. “Lift ini kebanyakan beban di sisi kiri. Saya teknisi. Saya bisa dengar kabelnya tegang. Kita harus seimbangin, Pak. Bapak boleh geser ke kanan sedikit?”
Pak Gunawan menatapnya. “Apa?”
“Kabelnya, Pak. Bunyinya nada D. Kalau lift seimbang, bunyinya nada C. Dari tadi D terus.” Salman memiringkan kepala, seolah sedang mendengarkan sesuatu. “Bahaya, Pak. Kalau kabelnya putus, kita semua jatuh tujuh belas lantai. Bapak mau jatuh tujuh belas lantai?”
Seorang perempuan dari divisi HR di depan kami mulai menoleh dengan wajah panik. Seorang cowok dari divisi IT di sebelahnya menatap langit-langit lift dengan ngeri.
Pak Gunawan menatap Salman. Lalu menatap orang-orang yang sekarang menatapnya. Lalu, pelan-pelan, dia bergeser ke pojok kanan.
Salman memiringkan kepala lagi. Mendengarkan. Lalu mengangguk puas.
“Nah. Nada C. Aman.”
Lift berhenti di lantai dua belas.
Aku keluar. Salman juga keluar. Pintu lift tertutup di belakang kami, membawa Pak Gunawan dan perempuan HR yang masih menatap langit-langit lift dengan curiga.
Aku berdiri di koridor lantai dua belas, map naskah masih di dada, jantung masih berdebar.
“Man,” kataku pelan.
“Hm.”
“Kabel lift itu beneran bunyi nada D?”
“Nggak tahu.” Dia mengangkat bahu. “Aku nggak bisa dengar kabel lift. Nggak ada orang yang bisa dengar kabel lift. Kabel lift itu ada di luar kabin, dibungkus baja, di dalam shaft.”
“Terus...”
“Terus dia bergeser.” Salman menatapku. Wajah datarnya, wajah datar yang biasa. Tapi di matanya ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang serius. “Kamu oke?”
Dua kata. Kamu oke?
Bukan kamu nggak apa-apa, kan?, yang selalu diucapkan orang dengan nada yang sudah menyiapkan jawaban nggak apa-apa. Bukan dia emang gitu orangnya, maklumin aja. Bukan kenapa kamu nggak geser?
Cuma kamu oke? Dan dia menunggu jawabannya.
“Oke,” jawabku. Lalu, karena dia masih menatapku dengan wajah serius itu, aku menambahkan dengan jujur, “Sekarang oke.”
Dia mengangguk.
“Dia sering kayak gitu?”
“Kadang. Di acara-acara internal. Di lift.” Aku mengangkat bahu, mencoba santai. “Udah biasa.”
Salman diam sebentar. Lalu dia mengangkat rantang di tangan kanannya.
“Kamu tahu menu kantin hari ini apa?”
Aku mengerjap. Pergantian topiknya terlalu mendadak. “Nggak. Apa?”
“Udang balado.” Dia menyodorkan rantang itu. “Aku bilang ke Bu Tini sisain telur balado satu, buat kamu. Pakai sambal yang sama, cuma nggak ada udangnya. Bu Tini masak terpisah. Wajan terpisah, biar nggak kena.”
Aku menatap rantang itu.
Lalu menatap Salman.
“Kamu...” Suaraku keluar lebih pelan dari yang aku mau. “Kamu ngecek menu kantin. Buat aku.”
“Aku ngecek menu kantin tiap hari. Buat semua orang.” Dia mengangkat bahu. “Pak Darto lagi jaga gula darah. Mas Raka nggak suka terong. Mas Erga alergi susu sapi, tapi dia nggak pernah bilang, makanya kadang dia mules abis makan kue di acara kantor. Bu Yati nggak bisa makan yang terlalu keras, giginya baru dicabut.”
“Kamu hafal semua itu?”
“Itu bukan hafal. Itu dengar.” Dia menyodorkan rantang lebih dekat. “Ambil. Telurnya keburu dingin.”
Aku mengambil rantang itu.
Salman mengangguk, lalu berjalan ke arah tangga darurat, karena dia selalu naik ke lantai empat belas lewat tangga. Katanya lift itu buat orang yang buru-buru, dan dia nggak pernah buru-buru.
Di ujung koridor, dia berhenti dan menoleh.
“Yura.”
“Hm?”
“Kalau dia ngelakuin itu lagi,” katanya, “kamu nggak harus terbiasa.”
Lalu dia membuka pintu tangga darurat dan menghilang.
TRAC Malam mengudara jam tujuh.
Aku membacakan berita. Inflasi. Banjir di Kalimantan. Pertandingan sepak bola. Seorang anak di Lampung yang memenangkan olimpiade sains. Aku membacakannya dengan suara yang tenang, jernih, seperti pengumuman di bandara, kata orang di Instagram. Dua juta orang menonton.
Sesudah siaran, aku duduk sendirian di ruang redaksi yang mulai kosong.
Lampu-lampu dimatikan satu per satu. Para editor pulang. Produser TRAC Malam menepuk bahuku dan bilang bagus malam ini, Yur, lalu pergi. Di layar-layar besar di dinding, kanal-kanal TRAC terus berjalan tanpa penonton di ruangan ini.
Aku membuka rantang dari Salman. Tadi siang aku nggak sempat makan, karena ada rapat redaksi mendadak.
Telur balado. Dua butir, bukan satu. Sambalnya merah, mengilap, harum bawang. Ada nasi putih di susun bawah. Dan di susun paling bawah, ada sesuatu yang membuat aku tertawa sendirian di ruang redaksi yang kosong.
Kerupuk. Kerupuk biasa. Bukan kerupuk udang.
Ditaruh di plastik kecil. Ada tulisan spidol di plastiknya: INI KERUPUK BAWANG. SUDAH DICEK. AMAN.
Aku makan pelan-pelan.
Telur baladonya sudah dingin. Tapi enak. Enak seperti makanan yang dimasak oleh orang yang tahu siapa yang akan memakannya.
HP-ku bergetar. Pesan dari Cynthia.
Cynthia: yur
Cynthia: soal yang semalam
Cynthia: pertanyaanmu
Cynthia: aku belum siap jawab
Cynthia: tapi makasih udah nanya
Aku menatap pesan itu.
Aku memikirkan Cynthia di ruang rias tadi pagi, bersenandung fals di tempat-tempat yang sama dengan Salman. Senyum kecil yang dia sembunyikan seperti permen. Sandal jepit biru di bawah meja rias.
Aku mengetik.
Aku: aku tahu
Aku: aku tunggu kok
Aku: take your time 🤍
Lalu aku menambahkan satu pesan lagi, dan menghapusnya. Lalu mengetiknya lagi. Lalu menghapusnya lagi.
Cyn, jangan sampai dia capek naik kursi.
Aku sudah bilang itu semalam. Nggak perlu diulang.
Aku menaruh HP di meja, menatap rantang hijau tua itu, dan kerupuk bawang dengan tulisan spidol SUDAH DICEK. AMAN.
Lalu aku menghitung.
Orang di gedung ini yang tahu aku alergi udang. Cynthia, karena aku pernah bilang. Diana, karena aku pernah bilang. Dino, karena semalam dia mengumumkannya ke dua ratus orang di live Instagram. Erga, mungkin, karena dia mendengar semalam. Produserku, karena ada di data kesehatan karyawan.
Dan Salman. Karena dia melihat aku menyingkirkan kerupuk udang ke pinggir piring.
Enam orang.
Lima orang tahu karena diberi tahu.
Satu orang tahu karena memperhatikan.
Aku menutup rantang itu, mencucinya di pantry redaksi, dan mengeringkannya dengan tisu supaya bisa aku kembalikan besok pagi dalam keadaan bersih.
Lalu aku pulang ke apartemen yang belum punya gorden, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku memikirkan seseorang yang bukan diriku sendiri sampai aku tertidur.
Aku belum tahu itu apa.
Aku cuma tahu, malam itu, aku nggak merasa terbiasa.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal reading
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu