Chapter Fifteen
Family Day
POV: Salman
Family Day TRAC Tower diadakan setahun sekali, hari Sabtu terakhir bulan Agustus.
Ini hari di mana gedung tiga puluh lantai yang biasanya diisi orang-orang berblazer dan berkemeja berubah jadi taman bermain raksasa. Plaza depan lobby dipasangi panggung. Halaman parkir dipasangi tenda-tenda kuliner. Lantai satu sampai lima dibuka untuk tur studio. Rooftop lantai tiga puluh, yang biasanya terkunci dengan kode 1234, dibuka resmi dan dipasangi balon-balon dan perosotan tiup.
Karyawan membawa anak, suami, istri, orang tua, keponakan, tetangga. Ada lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba mewarnai. Ada pertunjukan sulap. Ada badut.
Tahun ini, badutnya Dino.
“Ini sukarela,” kata Dino waktu aku menemukannya jam tujuh pagi di belakang panggung, sedang dipakaikan kostum badut warna-warni oleh dua staf HR. “Gue daftar sendiri. Gue mau kasih kebahagiaan ke anak-anak.”
“Kamu dapat uang saku?”
“Dapat makan siang gratis tiga kali.”
“Tiga kali?”
“Gue negosiasi.”
Dia memakai wig keriting warna pelangi, hidung merah bulat, baju kebesaran motif polkadot, dan sepatu badut yang panjangnya hampir setengah meter. Di pinggangnya tergantung kantong berisi balon-balon panjang tipis yang belum ditiup.
“Kamu bisa bikin binatang dari balon?” tanyaku.
“Gue nonton tutorial YouTube semalam. Empat jam.”
“Dan?”
Dia mengambil satu balon, meniupnya dengan pompa kecil, lalu memelintirnya dengan tangan yang terlalu yakin. Satu putaran. Dua. Tiga. Balon itu berdecit. Lalu dia mengangkat hasilnya dengan bangga.
“Anjing,” katanya.
Aku menatapnya. Itu balon panjang yang dipelintir tiga kali di tengah. Itu nggak terlihat seperti anjing. Itu terlihat seperti tiga sosis yang disambung.
“Itu sosis, Din.”
“Ini anjing.”
“Itu sosis yang lagi antre.”
Dino menatap balonnya. Lalu membuat satu lagi. Lebih cepat, lebih yakin. Empat putaran. “Jerapah.”
Empat sosis yang disambung.
“Kucing.”
Dua sosis dan satu sosis kecil.
“Gajah.”
Lima sosis, dan satu yang meledak di tengah jalan, membuat salah satu staf HR menjerit.
Dino menatap tumpukan sosis balon di depannya. Lalu menatapku dengan hidung merah bulat dan wajah putus asa.
“Man,” katanya. “Kayaknya tutorialnya bohong.”
“Mungkin kamu harus ganti nama. Jangan bilang anjing. Bilang sosis rasa anjing.”
Dino berpikir lama. Lalu wajahnya cerah. “Konsep.”
Aku bertugas di FOH, front of house, meja sound di bawah tenda kecil di depan panggung plaza. Pak Bambang di master control lantai empat belas, menangani siaran langsung ke kanal digital TRAC. Raka bertugas di rooftop, menangani sound untuk perosotan tiup dan lomba anak-anak.
Dan pembawa acara panggung utama Family Day tahun ini, dari jam sembilan sampai jam tiga, adalah Cynthia.
Dia naik ke panggung jam sembilan tepat. Bukan blazer siaran. Kaus putih dengan logo Family Day TRAC, celana jeans, rambut dikuncir kuda, sneakers putih. Riasan tipis. Dia kelihatan sepuluh tahun lebih muda dari di layar Sapa Pagi, dan sepuluh kali lebih cantik, dan aku harus menatap meja sound selama tiga detik untuk mengingat fader mana yang channel mic-nya.
“Selamat pagi, keluarga besar TRAC!”
Suaranya keluar dari speaker-speaker besar di sisi panggung, memenuhi plaza. Anak-anak di depan panggung bersorak. Bapak-bapak bertepuk tangan. Ibu-ibu mengangkat HP untuk merekam.
Aku menaikkan sedikit frekuensi tengah di channel mic-nya. Bukan karena suaranya kurang bagus. Karena plaza itu terbuka, dan suara di ruang terbuka butuh sedikit dorongan supaya sampai ke tenda kuliner paling belakang.
Itu alasan teknis.
Aku juga menaikkannya karena aku suka suaranya dan aku mau seluruh plaza mendengarnya dengan jelas.
Itu bukan alasan teknis.
Jam sepuluh lewat lima belas, ada jeda di panggung. Pertunjukan sulap mau mulai, dan pesulapnya sedang menyiapkan merpati di belakang panggung. Merpati itu, aku curiga, Pak Haji yang dipinjam tanpa izin.
Cynthia berdiri di sisi panggung, mic di tangan, menunggu. Mic-nya masih menyala di meja sound, tapi aku sudah menurunkan fader channel itu ke nol, jadi suaranya nggak keluar ke speaker. Cuma masuk ke headphone monitor-ku.
Dia menunduk sedikit. Mendekatkan mic ke bibir.
“Teknisi channel tujuh,” bisiknya.
Aku tersenyum ke meja sound.
“Eh...” Dia berhenti. “Di sini channel berapa, ya?”
Aku melihat label di fader-nya. Channel tiga.
“Teknisi channel... apa pun ini,” lanjutnya. “Kalau dengar, aku nggak punya earpiece hari ini. Jadi...” Dia memiringkan kepala, berpikir. “Kedipin lampu meja sound-mu dua kali.”
Aku menatap lampu meja kecil yang dijepit di pinggir meja sound, lampu LED putih yang dipakai supaya aku bisa membaca label fader di bawah tenda yang agak gelap.
Aku mematikannya. Menyalakannya. Mematikannya. Menyalakannya.
Di sisi panggung, Cynthia menoleh ke arah tenda FOH. Matanya menemukan lampu itu. Lalu menemukan aku.
Dan di depan tiga ratus orang di plaza, di depan anak-anak yang sedang duduk bersila menunggu pesulap, di depan bapak-bapak yang memegang balon dan ibu-ibu yang memegang HP, dia tersenyum.
Senyum kecil yang dimulai dari sudut kiri bibir.
Cuma sebentar. Lalu dia membuang muka, berdeham, dan mengangkat mic. Aku menaikkan fader channel tiga.
“Oke, adik-adik! Siap lihat sulap?!”
“SIAAAP!”
Pesulapnya naik ke panggung. Merpatinya keluar dari topi. Merpati itu terbang lurus ke arah tenda FOH, mendarat di atas meja sound, menatapku dengan mata bulat yang sangat familier, dan berkukur dua kali.
Itu Pak Haji.
Aku yakin itu Pak Haji.
Jam sebelas, aku harus naik ke lantai empat belas.
Raka menelepon dari rooftop. Kabel speaker untuk perosotan tiup putus, digigit anak kecil. Dia butuh kabel cadangan, dan semua kabel cadangan ada di lemari master control.
Aku menitipkan meja sound ke Mas Gilang, yang sedang libur tapi datang ke Family Day bawa istri dan dua anak kembar. Lalu aku masuk lobby, naik tangga darurat, karena lift penuh anak-anak yang menekan semua tombol dari lantai satu sampai tiga puluh sekaligus.
Tangga darurat sepi. Lantai demi lantai. Bau beton dingin.
Lantai empat belas.
Aku mendorong pintu tangga darurat ke koridor.
Dan di koridor itu, di depan pintu master control, duduk seorang anak kecil.
Umurnya mungkin enam atau tujuh tahun. Laki-laki. Kaus oranye dengan gambar karakter anime berambut kuning runcing dan ikat kepala logam bersimbol daun. Celana pendek. Sepatu dengan lampu kelap-kelip di bagian tumit.
Dia duduk di lantai, bersandar ke dinding, memeluk lutut. Dan dia menangis.
Bukan menangis keras. Menangis pelan. Menangis yang sudah lama, yang sudah melewati tahap teriak-teriak dan sekarang tinggal isak kecil yang patah-patah, dengan bahu naik turun dan hidung meler dan mata yang sudah sembap.
Aku berhenti.
Dia mengangkat kepala, melihatku, dan langsung menunduk lagi. Menyembunyikan wajahnya di lutut.
Aku jalan pelan ke arahnya. Bukan langsung mendekat. Aku jalan ke dinding di seberang koridor, dua meter darinya, dan duduk di lantai. Bersila. Sejajar dengan dia.
Aku nggak bilang apa-apa.
Lima detik. Sepuluh. Lima belas.
Isaknya pelan-pelan melambat. Dia mengintip dari balik lutut. Menatapku. Menatap hoodie-ku, yang hari ini warna hijau lumut, bergambar seekor katak kecil yang memakai topi jerami dan sedang menangkap ikan dengan wajah serius.
“Kodok,” katanya pelan, suaranya serak karena menangis.
“Iya,” jawabku. “Namanya Pak Kodok. Dia lagi mancing.”
“Kodok nggak mancing.”
“Kodok yang ini mancing. Dia kodok spesial.”
Anak itu menatap hoodie-ku lebih lama. Lalu, pelan-pelan, mengangkat kepala dari lututnya.
“Nama kamu siapa?” tanyaku.
“...Bayu.”
“Bayu umur berapa?”
“Tujuh.”
“Bayu ke sini sama siapa?”
Bibirnya bergetar. “Sama Mama. Tapi Mama hilang.”
Aku mengangguk serius. “Mama hilang di mana?”
“Di lift.” Dia mengusap hidung dengan punggung tangan. “Aku pencet-pencet tombol. Terus pintunya ketutup. Terus Mama nggak ada. Terus liftnya naik terus. Terus aku keluar. Terus aku nggak tahu ini di mana.” Isaknya naik lagi. “Aku nggak tahu jalan pulang.”
“Oke.” Aku mengangguk lagi. “Bayu tahu nama Mama?”
“Mama.”
“Nama lengkapnya?”
Dia berpikir keras. Alisnya berkerut. “Mama Sari.”
“Mama Sari kerja di sini?”
“Iya. Di lantai delapan belas. Ngitung uang.”
Divisi finance. Lantai delapan belas. Aku menyimpan informasi itu.
“Oke, Bayu. Kita cari Mama Sari bareng-bareng. Tapi sebelum itu...” Aku menunjuk kausnya. “Kamu suka Naruto?”
Bayu menunduk, menatap kausnya. Gambar bocah berambut kuning runcing dengan ikat kepala logam. Lalu dia mengangguk. Pelan. Malu-malu.
“Kamu suka Naruto kenapa?”
Dia diam lama. Tangannya memainkan ujung kaus.
“Soalnya Naruto juga sering diledekin,” katanya pelan. “Kayak aku.”
Aku diam.
“Temen-temen di sekolah bilang aku cengeng,” lanjutnya. Suaranya kecil. “Soalnya aku sering nangis. Kalau jatuh, nangis. Kalau dimarahin guru, nangis. Kalau kalah main, nangis.” Dia mengusap matanya lagi. “Tadi aku juga nangis. Padahal Mama bilang aku udah gede.”
“Bayu.”
Dia mengangkat kepala.
“Kamu tahu nggak,” kataku, “Naruto waktu kecil juga cengeng?”
Matanya membulat. “Masa?”
“Beneran. Di episode pertama, dia nangis. Di episode-episode awal, dia sering nangis. Dia nangis waktu nggak punya teman. Dia nangis waktu diledekin. Dia nangis waktu gagal ujian.” Aku mengangkat jari, menghitung. “Dia nangis waktu temannya pergi. Dia nangis waktu gurunya meninggal. Dia nangis waktu...”
“Terus dia jadi Hokage.”
“Terus dia jadi Hokage.” Aku mengangguk. “Nangis itu bukan kebalikan dari kuat, Bayu. Nangis itu cuma tanda kamu masih peduli. Orang yang nggak pernah nangis itu biasanya bukan kuat. Biasanya cuma udah capek.”
Bayu menatapku. Lama.
Lalu dia menoleh ke pintu master control di sebelahnya. Ke kaca persegi panjang kecil di bagian atas pintu. Dari posisi duduknya di lantai, dia nggak bisa melihat ke dalam. Tapi dia berdiri. Berjinjit. Menempelkan wajah ke kaca.
Dan dia melihatnya.
Aku tahu dia melihatnya, karena seluruh badannya berhenti. Isaknya berhenti. Napasnya berhenti. Matanya membulat seperti dua kelereng.
“Om,” bisiknya. “Om. Itu... itu Naruto.”
Aku membuka pintu master control dengan kartu akses.
Bayu masuk pelan-pelan, seperti masuk ke museum. Matanya menyapu ruangan yang redup, layar-layar besar di dinding, konsol raksasa dengan ratusan tombol dan lampu kecil. Lalu matanya berhenti di rak akrilik.
Dua puluh tiga action figure. Dua puluh dua, sebenarnya. Anya masih magang di meja OB.
Dan di tengah, di atas alas tinggi, Naruto mode Sage.
Bayu berjalan ke rak itu. Berdiri di depannya. Menatap Naruto dengan wajah yang aku kenal, karena wajah itu adalah wajahku sendiri dua puluh tahun lalu, waktu Bapak membawaku ke toko mainan di Glodok dan aku melihat figure pertamaku di etalase kaca.
“Om,” bisik Bayu, nggak menoleh. “Ini punya Om?”
“Iya.”
“Ini Naruto yang mode Sage. Yang matanya kuning. Yang waktu lawan Pain.”
“Iya.”
“Aku nonton episode itu tiga kali. Sama Papa.”
Aku diam.
“Papa kerja di Kalimantan,” lanjut Bayu, masih menatap figure itu. “Pulangnya tiga bulan sekali. Kalau Papa pulang, kami nonton Naruto bareng. Papa yang beliin aku kaus ini.” Dia menyentuh kausnya. “Papa bilang, kalau Papa nggak ada, aku harus kuat kayak Naruto.”
Bayu mengulurkan tangan. Ke arah figure itu. Jari-jarinya berhenti satu senti dari jubah merah yang berkibar.
Lalu dia melihat kertas kecil di bawah alas.
Dia membacanya pelan, dengan cara anak tujuh tahun membaca, satu kata demi satu kata, bibir bergerak tanpa suara.
BOLEH. LIHAT. NGGAK. BOLEH. PEGANG.
Tangannya turun.
“Maaf, Om,” katanya. “Aku nggak pegang.”
Dan di detik itu, aku memutuskan sesuatu.
Aku nggak memikirkannya lama. Aku nggak menghitung harganya, nggak mengingat dua minggu makan Indomie, nggak memikirkan lima ratus unit di seluruh dunia. Aku cuma melihat anak tujuh tahun yang dibilang cengeng oleh teman-temannya, yang papanya kerja tiga bulan sekali di Kalimantan, yang tersesat di gedung tiga puluh lantai, yang berdiri di depan figure Naruto dan membaca tulisan nggak boleh pegang lalu menurunkan tangannya dan minta maaf.
Anak yang menangis sendirian di koridor selama entah berapa lama, dan nggak ada satu orang pun yang lewat.
Aku berjalan ke rak akrilik.
Aku mengangkat Naruto dari alasnya.
Ringan. Lebih ringan dari yang aku ingat. Empat tahun aku cuma melihatnya. Empat tahun Pak Darto cuma meniup debunya. Empat tahun nggak ada yang menyentuhnya, bahkan aku sendiri.
Aku berjongkok di depan Bayu. Menyodorkan figure itu.
“Pegang,” kataku.
Bayu menatapku. Menatap figure itu. Menatap kertas NGGAK BOLEH PEGANG.
“Tapi, Om, tulisannya—”
“Itu tulisan manajemen. Aku manajemennya. Aku yang ngizinin.”
Bayu mengulurkan kedua tangannya. Pelan. Gemetar. Seperti menerima sesuatu yang bisa pecah kalau dia salah bernapas.
Aku menaruh Naruto di telapak tangannya.
Bayu menatap figure itu. Mata kuning bergaris. Tangan yang membentuk segel. Jubah merah yang berkibar. Lalu dia memeluknya. Ke dadanya. Ke kaus oranye bergambar Naruto yang dibelikan papanya dari Kalimantan.
Dan dia tersenyum.
Senyum anak tujuh tahun yang ingusan, matanya masih sembap, pipinya masih basah, tapi senyumnya lebar sampai ke telinga. Senyum yang nggak berbentuk, nggak dilatih, nggak berhenti di detik ketiga.
Aku punya folder YANG ASLI.
Aku menyimpan senyum itu di sana.
“Bayu,” kataku.
“Hm?”
“Naruto ini udah temenin aku empat tahun. Dari gaji pertamaku. Dia jagain aku waktu aku sendirian di ruangan ini tiap pagi jam lima.”
Bayu menatapku, masih memeluk figure itu.
“Sekarang aku udah nggak sendirian,” lanjutku. Aku nggak tahu kenapa aku bilang itu. Itu keluar begitu saja. “Aku udah punya teman. Banyak. Ada yang suka bakso, ada yang suka ngatain hoodie-ku, ada yang ganteng banget sampai bikin orang jatuhin nampan, ada yang jadi badut tapi balonnya kayak sosis. Ada yang...” Aku berhenti. “Ada yang suka kedipin lampu.”
Bayu nggak mengerti. Tapi dia mendengarkan dengan serius, seperti anak kecil yang tahu dia sedang diberi tahu sesuatu yang penting walaupun dia belum mengerti.
“Jadi Naruto udah selesai tugasnya jagain aku,” kataku. “Sekarang dia butuh tugas baru.”
“Tugas baru?”
“Jagain kamu.” Aku menunjuk figure di pelukannya. “Kalau temen-temenmu bilang kamu cengeng, kamu lihat dia. Kalau Papa lagi di Kalimantan dan kamu kangen, kamu lihat dia. Kalau kamu nangis, nggak apa-apa nangis, terus abis itu kamu lihat dia, dan kamu ingat dia juga nangis, dan dia tetap jadi Hokage.”
Bayu menatapku. Lalu menatap figure itu. Lalu menatapku lagi.
“Ini... buat aku?”
“Buat kamu.”
“Beneran?”
“Beneran.”
“Tapi ini kan punya Om. Ini kan yang paling tinggi. Yang di tengah.”
“Yang paling tinggi harus jagain yang paling butuh.” Aku mengangkat bahu. “Itu aturan ninja.”
Bayu menatap figure itu lama. Lalu, tiba-tiba, dia memelukku.
Satu lengan memeluk Naruto, satu lengan memeluk leherku. Wajahnya yang basah menempel di bahu hoodie Pak Kodok. Dia memelukku erat, erat sekali, dengan kekuatan anak tujuh tahun yang ternyata lebih kuat dari kelihatannya.
“Makasih, Om,” bisiknya di bahuku.
Aku menepuk punggungnya pelan.
Dan di belakangku, pintu master control terbuka.
“Man, Mas Gilang bilang lo ke atas, gue mau numpang toilet, toilet bawah antre kayak antre sembako—”
Dino berdiri di ambang pintu. Wig keriting pelangi. Hidung merah bulat. Baju polkadot. Sepatu badut setengah meter. Di tangan kirinya, setumpuk balon sosis.
Dia melihat Bayu memelukku. Dia melihat rak akrilik. Dia melihat alas tinggi di tengah rak.
Kosong.
Lalu dia melihat figure di pelukan Bayu.
Wajah Dino berubah. Dari bingung, ke kaget, ke sesuatu yang sangat serius, yang belum pernah aku lihat di wajah Dino selama dua tahun aku kenal dia. Bahkan di balik hidung merah bulat dan wig pelangi.
“Man,” katanya pelan.
“Din.”
“Itu...”
“Iya.”
“Itu yang lima ratus unit.”
“Iya.”
“Yang lo beli pakai gaji pertama. Yang lo makan Indomie dua minggu. Yang Pak Darto nggak berani sentuh pakai kemoceng.”
“Iya.”
Dino menatapku lama. Lalu menatap Bayu, yang sekarang sudah melepas pelukannya dan menatap badut di pintu dengan mata bulat penuh kekaguman.
“Om badut,” bisik Bayu.
Dino menatap anak itu. Menatap kaus Naruto-nya. Menatap mata sembapnya, hidung merahnya yang meler, senyumnya yang lebar.
Lalu Dino, dengan gerakan yang sangat cepat, sangat profesional, mengambil satu balon sosis dari tumpukan di tangannya dan menyodorkannya ke Bayu.
“Ini,” katanya dengan suara badut yang cempreng. “Rubah ekor sembilan.”
Bayu menatap balon itu. Tiga sosis yang disambung.
“...Ini sosis, Om.”
“Ini sosis rasa rubah ekor sembilan.”
Bayu menatap balon itu lama. Lalu tertawa. Tawa anak kecil yang melengking, yang memantul di dinding-dinding master control dan membuat layar-layar di dinding kelihatan lebih terang.
Kami turun bersama. Dino menggandeng tangan kiri Bayu. Aku menggandeng tangan kanannya. Bayu memeluk Naruto dengan tangan kanan sambil memegang balon sosis rubah ekor sembilan di tangan kiri, jadi sebenarnya kami menggandeng pergelangan tangannya.
Lantai delapan belas. Divisi finance. Kosong, karena hari Sabtu. Tapi di dekat lift, ada seorang ibu berkerudung biru yang sedang bicara dengan dua satpam, wajahnya pucat, HP di tangan, suaranya pecah.
“...tujuh tahun, Pak, kaus oranye, Naruto, tadi di lift, saya cuma noleh sebentar—”
“MAMA!”
Bayu melepas tangan kami dan berlari.
Ibu berkerudung biru itu berbalik. Melihat anaknya berlari ke arahnya, memeluk figure dan balon sosis. Dan dia berlutut di lantai koridor, membuka kedua lengannya, dan menangkap Bayu dalam pelukan yang begitu erat sampai balon sosisnya meletus.
DOR.
Nggak ada yang peduli. Ibu itu menangis. Bayu menangis. Satpam membuang muka. Dino, di balik wig pelangi dan hidung merah, mengusap matanya dengan lengan baju polkadot.
“Bayu ke mana aja, Nak? Mama cari dari lantai satu sampai sini, Mama naik-turun—”
“Aku ke lantai empat belas, Ma. Ketemu Om Kodok.” Bayu menunjuk aku. “Om Kodok kasih aku Naruto.”
Ibu itu, Bu Sari, mengangkat kepala. Menatapku. Menatap figure di pelukan anaknya. Menatapku lagi.
“Mas,” katanya, masih terisak. “Ini... ini apa? Ini mainan Mas? Bayu, kembaliin, Nak, itu punya Om—”
“Nggak usah, Bu,” kataku. “Itu buat Bayu.”
“Tapi, Mas—”
“Itu bukan mainan, Bu. Itu penjaga.” Aku menatap Bayu. “Bayu tahu tugasnya.”
Bayu mengangguk serius. Lalu mengangkat figure itu tinggi-tinggi, seperti mengangkat piala. “Jagain aku kalau Papa di Kalimantan!”
Bu Sari menatap anaknya. Lalu menatapku. Dan dia nggak bilang apa-apa lagi. Dia cuma menutup mulut dengan tangan, dan matanya berkaca-kaca lagi.
Di tangga darurat, dalam perjalanan kembali ke plaza, Dino berhenti di bordes lantai sepuluh.
Dia melepas hidung merah bulatnya. Memegangnya di tangan. Menatapku.
“Man.”
“Hm.”
“Lo gila.”
“Iya.”
“Itu harganya berapa sekarang? Di marketplace?”
Aku diam sebentar. “Kemarin aku cek. Lima belas juta.”
Dino menatapku. Lama. Hidung merah bulat di tangannya.
“Lima belas juta,” ulangnya pelan. “Lo kasih ke anak yang baru lo kenal sepuluh menit.”
“Dia nangis sendirian di koridor, Din. Nggak tahu berapa lama. Nggak ada yang lewat.” Aku bersandar ke dinding tangga. “Lagian figure itu udah empat tahun cuma dilihat. Barang yang cuma dilihat itu sedih. Sekarang dia dipeluk. Dia pasti lebih bahagia.”
“Lo ngomongin figure kayak ngomongin orang.”
“Semua yang aku temui lebih dari dua kali, aku anggap orang.”
Dino diam. Lalu, pelan-pelan, dia tertawa. Tawa yang pelan, serak, dan sedikit basah.
“Man,” katanya. “Gue boleh cerita ke yang lain? Ke grup? Ini... ini harus diceritain, Man. Ini lebih gila dari Conan di studio enam.”
“Jangan.”
“Kenapa?”
Aku menatap tangga di bawah kami. Lantai sembilan. Lantai delapan. Terus turun ke plaza, ke panggung, ke perempuan berkaus putih dan rambut dikuncir kuda yang sedang memegang mic dan menunggu lampu meja sound berkedip.
“Jangan bilang siapa-siapa, Din,” kataku.
“Termasuk Cynthia?”
Aku nggak menjawab.
Dino menatapku lama. Lalu dia memasang lagi hidung merahnya. Membetulkan wig pelanginya. Mengangkat tumpukan balon sosis.
“Oke,” katanya. “Rahasia badut.”
“Rahasia badut itu apa?”
“Rahasia yang dijaga sama orang yang mukanya selalu senyum. Karena nggak ada yang curiga sama badut.” Dia menepuk bahuku. “Gue simpen, Man. Sampai lo sendiri yang mau cerita.”
Jam tiga sore, Family Day selesai.
Cynthia menutup acara dengan suara yang sudah sedikit serak karena enam jam bicara. Anak-anak pulang membawa balon, hadiah lomba, dan wajah yang dicat. Panggung mulai dibongkar.
Aku sedang menggulung kabel di tenda FOH waktu seseorang menaruh sesuatu di meja sound.
Es kelapa muda. Di gelas plastik, dengan sedotan dan potongan daging kelapa yang mengapung.
Aku mendongak.
Cynthia berdiri di depan tenda, kaus Family Day-nya sudah sedikit kusut, kuncir kudanya sudah sedikit longgar, keringat tipis di pelipisnya. Dia memegang gelas es kelapa satu lagi di tangan kirinya.
“Buat teknisi channel tiga,” katanya.
“Makasih.”
Dia nggak langsung pergi. Dia masuk ke bawah tenda, duduk di kursi lipat di sebelahku, dan menyeruput es kelapanya. Kami duduk berdua di bawah tenda FOH yang setengah dibongkar, menatap plaza yang mulai kosong.
Lima menit kami nggak bicara.
Lalu Cynthia menoleh. Menatapku dari samping.
“Kamu kenapa?”
“Hm?”
“Dari jam dua belas, mixing-mu beda.” Dia menyeruput es kelapa lagi. “Nggak jelek. Cuma... lebih pelan. Kayak orang yang lagi mikirin sesuatu.”
Aku menatapnya.
Dia bisa dengar.
Dia bisa dengar mixing-ku. Dari atas panggung, dengan mic di tangan, di depan tiga ratus orang. Dia bisa dengar bahwa fader-ku bergerak lebih pelan dari biasanya.
“Tadi ada anak hilang,” kataku. “Di lantai empat belas. Aku ketemu dia waktu ambil kabel.”
“Oh!” Matanya membulat. “Terus? Udah ketemu mamanya?”
“Udah.”
“Syukurlah.” Dia menghela napas lega. Lalu tersenyum. “Kamu yang nemuin?”
“Dino juga.”
“Dino? Pakai kostum badut?”
“Pakai kostum badut. Dia kasih anaknya balon sosis rasa rubah ekor sembilan.”
Cynthia tertawa. Tawa yang lepas, karena plaza sudah sepi dan nggak ada orang di sekitar tenda FOH. Juara dua di klasemen, mungkin. Atau juara satu baru.
Aku nggak cerita soal Naruto.
Aku nggak tahu kenapa. Mungkin karena aku nggak mau dia mikir aku melakukannya supaya kelihatan baik. Mungkin karena hal-hal seperti itu nggak perlu diceritakan. Mungkin karena Bayu dan Naruto sekarang punya cerita mereka sendiri, dan cerita itu bukan punyaku lagi.
Atau mungkin karena aku nggak mau dia lihat alas kosong di tengah rak akrilikku, dan tahu bahwa ada bagian dari diriku yang ternyata bisa aku berikan begitu saja.
Karena kalau dia tahu itu, dia mungkin akan bertanya-tanya apa lagi yang bisa aku berikan begitu saja.
Dan jawabannya mungkin akan membuat dia takut.
Malam itu, jam sembilan, aku kembali ke master control.
Bukan untuk kerja. Shift-ku sudah selesai. Aku cuma mau mengambil rantang yang ketinggalan.
Ruangannya gelap. Cuma layar-layar di dinding yang menyala, memutar siaran malam TRAC tanpa penonton. Rak akrilik di ujung mejaku disinari cahaya biru dari layar.
Dua puluh satu figure. Anya masih magang di meja OB.
Dan satu alas kosong di tengah.
Kertas kecil masih menempel di bawahnya. BOLEH LIHAT. NGGAK BOLEH PEGANG. — Manajemen.
Aku menatap alas kosong itu lama.
Lalu aku mengambil pulpen dari meja. Merobek sedikit dari sticky note kuning di samping konsol. Dan menulis.
Aku menempelkannya di atas kertas lama, menutupi tulisan NGGAK BOLEH PEGANG.
LAGI TUGAS JAGA DI TEMPAT LAIN.
— Manajemen.
Aku menatap tulisan itu.
Lalu aku mengambil rantangku, mematikan lampu meja, dan menutup pintu master control.
Di tangga darurat, dalam perjalanan turun ke basement, HP-ku bergetar.
Cynthia: man
Cynthia: tadi aku lupa bilang
Cynthia: makasih udah kedipin lampu
Cynthia: 6 jam di panggung, aku capek banget
Cynthia: tapi tiap aku lihat ke tenda kamu, aku jadi semangat lagi
Cynthia: jangan diledek ya. aku cuma jujur
Aku berhenti di bordes lantai lima.
Aku: nggak diledek
Aku: aku simpen
Cynthia: simpen di mana?
Aku menatap pertanyaan itu.
Aku: di folder
Aku: namanya YANG ASLI
Titik-titik mengetik muncul. Hilang. Muncul. Hilang.
Lalu satu pesan.
Cynthia: aku ada di folder itu?
Aku tersenyum ke layar. Di tangga darurat yang sepi, di antara lantai lima dan lantai empat, di gedung tiga puluh lantai yang sudah setengah gelap.
Aku: kamu yang paling banyak di folder itu
Lalu aku memasukkan HP ke saku, dan turun ke basement, ke Wati yang menunggu di B2 dengan baterai sembilan puluh persen dan mata anime yang berbinar dalam gelap.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day reading
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu