Chapter Twelve
Hujan Nggak Punya Kamera
POV: Salman
Aku sampai di rumah jam sebelas lewat empat puluh.
Basah. Dari ujung rambut sampai ujung kaus kaki. Hoodie anjing shiba menempel di badan seperti kulit kedua. Sepatuku berbunyi kecipak setiap aku melangkah, seperti ada ikan kecil yang tinggal di dalamnya.
Ibu masih bangun.
Dia duduk di bangku plastik di dapur, menonton sinetron di TV kecil yang digantung di dinding, sambil mengupas bawang putih untuk besok pagi. Waktu aku masuk, dia menoleh, menatapku dari kepala sampai kaki, lalu kembali ke bawangnya.
“Wati mogok?”
“Iya, Bu.”
“Di mana?”
“Kemang.”
Ibu berhenti mengupas. Menoleh lagi. “Kemang? Ngapain kamu di Kemang? Kemang itu kebalikan arah Depok.”
“Nganter teman, Bu.”
“Teman siapa?”
“Teman kantor.”
Ibu menatapku lama. Matanya menyipit. Mata Ibu itu kayak mata elang yang sudah pensiun tapi masih bisa melihat tikus dari jarak satu kilometer.
“Kamu senyum,” katanya.
“Nggak, Bu.”
“Kamu senyum, Man. Dari pintu sampai sini, kamu senyum terus. Bajumu basah kuyup, sepatumu kayak akuarium, motormu mogok di Kemang jam sepuluh malam, dan kamu senyum.”
Aku menyentuh wajahku. Benar. Bibirku melengkung ke atas. Aku nggak sadar sejak kapan.
“Aku senyum karena Wati udah hidup lagi, Bu.”
“Bohong.”
“Beneran, Bu.”
“Kamu kalau bohong, kupingmu gerak.” Ibu menunjuk telingaku dengan pisau pengupas bawang. “Dari kecil gitu. Kupingmu gerak sedikit ke atas. Bapakmu juga gitu dulu. Waktu dia bilang ke Ibu dia nggak sengaja lewat depan warung tiap hari, kupingnya gerak kayak kuping kelinci.”
Aku memegang telingaku.
Ibu tersenyum. Lalu kembali mengupas bawang. “Mandi. Ganti baju. Nanti masuk angin. Besok kamu harus kerja.”
Aku berjalan ke kamar mandi.
Di belakangku, pelan, Ibu menambahkan, “Kalau dia anak baik, ajak ke warung.”
Aku berhenti di depan pintu kamar mandi. Nggak menoleh.
“Dia artis, Bu.”
“Artis juga makan bakso.”
Air hangat dari pemanas tua di kamar mandi cuma bertahan lima menit sebelum berubah jadi air biasa. Aku berdiri di bawahnya, membiarkan air hangat itu mengalir di kepala, dan memikirkan halte.
Tangan di saku hoodie.
Pelukan.
Dingin. Aku cuma kedinginan.
Aku sudah mendengar ribuan kebohongan di master control. Aku hafal bunyinya. Kebohongan punya pola. Biasanya nadanya sedikit lebih tinggi dari suara normal orang itu, karena otot leher menegang. Biasanya tempo bicaranya sedikit lebih cepat. Biasanya ada jeda sepersekian detik sebelum kata kunci, karena otak sedang menyusun versi alternatif dari kenyataan.
Kalimat Cynthia di halte tadi punya semua pola itu.
Nadanya naik. Temponya cepat. Ada jeda sebelum kata kedinginan.
Kebohongan yang sempurna, dalam artian teknis.
Dan itu kebohongan paling bagus yang pernah aku dengar seumur hidupku.
Air hangatnya habis. Air dingin menampar kepalaku seperti tamparan Ibu waktu aku SMP dan ketahuan bolos buat nonton anime di warnet.
Aku keluar dari kamar mandi menggigil, tapi masih tersenyum.
Kupingku pasti gerak-gerak.
Kamarku kecil. Tiga kali tiga meter. Kasur busa di lantai, lemari plastik, meja kecil dengan laptop, dan rak buku yang setengahnya berisi komik dan setengahnya lagi berisi buku-buku teknik audio peninggalan Bapak. Di dinding ada poster anime yang sudah pudar warnanya, ditempel dari zaman SMA, dan foto Bapak berdiri di depan bengkelnya dengan tangan di pinggang dan senyum lebar.
Aku duduk di kasur. Menyalakan laptop. Membuka anime.
Episode 849.
Aku menontonnya selama sebelas menit, lalu menyadari aku nggak ingat apa yang terjadi di sebelas menit itu.
Aku mundur ke awal. Menonton lagi. Tujuh menit kemudian, aku menyadari aku sedang menatap layar tapi yang ada di kepalaku bukan anime. Yang ada di kepalaku cuma suara.
Suara tawa di tengah hujan. Tawa yang jelek, terlalu keras, tersedak air hujan, lalu tertawa lagi karena tersedak.
Suara napas di dadaku. Cepat. Hangat lewat kain hoodie.
Suara fals yang dia ucapkan pelan, waktu aku tanya bunyi jantungku gimana.
Aku menutup laptop.
Lalu aku berbaring, menatap langit-langit kamar yang ada noda bekas bocor berbentuk seperti peta Kalimantan, dan menerima kenyataan.
Aku jatuh cinta sama Cynthia.
Bukan suka. Bukan naksir. Bukan kayaknya aku agak tertarik. Itu semua sudah lewat. Itu semua sudah aku rasakan sejak lama, sejak lift, sejak napas di kalimat ketiga, sejak sandal jepit, dan aku sudah menyimpannya rapi di laci.
Tapi malam ini lacinya meledak.
Dan aku nggak tahu harus ngapain dengan isinya yang berceceran di lantai.
Aku menelepon Ibu.
Iya. Ibu ada di dapur, sepuluh meter dari kamarku. Tapi aku menelepon Ibu lewat video call. Karena kalau aku keluar kamar dan ngomong langsung, Ibu bakal lihat kupingku. Dan aku nggak siap kupingku dihakimi dua kali dalam satu malam.
Ibu mengangkat di dering pertama.
Wajahnya muncul di layar, dari sudut bawah, memperlihatkan dagu dan lubang hidung dan langit-langit dapur. Ibu nggak pernah bisa memegang HP dengan benar waktu video call.
“Man? Kamu kenapa telepon? Kamu di kamar, kan?”
“Iya, Bu.”
“Ibu bisa dengar suaramu dari sini. Dindingnya tipis.”
“Aku tahu, Bu.”
“Terus kenapa telepon?”
“Biar Ibu nggak lihat kupingku.”
Hening.
Lalu Ibu tertawa. Tawa keras yang sampai kedengaran dua kali, sekali dari HP, sekali dari balik dinding.
“Ya Allah, Man. Kamu jatuh cinta, ya?”
Aku nggak menjawab.
Ibu berhenti tertawa. Wajahnya, atau lebih tepatnya dagu dan lubang hidungnya, kelihatan berubah jadi lebih lembut.
“Sama yang artis itu?”
“Iya, Bu.”
“Yang mana? Yang sering di TV pagi? Yang kamu bilang namanya Cynthia?”
Aku mengangguk. Lalu sadar Ibu nggak bisa lihat anggukanku karena kamera HP-nya menghadap langit-langit dapur.
“Iya, Bu.”
“Cantik?”
“Cantik banget, Bu.”
“Baik?”
Aku diam sebentar. Memikirkan Cynthia yang tersenyum sembilan kali ke Chef Robby. Cynthia yang memakai sandal masjid ke kantor. Cynthia yang menghabiskan level sembilan sampai kuahnya. Cynthia yang memesan teh untukku di malming pertama tanpa aku minta, cuma karena aku batuk sekali.
“Baik, Bu. Baik banget. Cuma dia... takut.”
“Takut apa?”
“Takut dilihat orang.”
Ibu diam.
“Kemarin ada yang posting video dia naik Wati. Di akun gosip. Terus dia bilang ke orang-orang kantor aku ojek kantor.”
“Terus kamu marah?”
“Nggak, Bu. Aku kan emang ojek kantor.”
“Man.”
“Iya, Bu?”
Ibu akhirnya membetulkan posisi HP-nya. Sekarang wajahnya kelihatan utuh. Rambut beruban yang diikat asal. Daster bunga-bunga. Mata yang sudah keriput di ujungnya, tapi masih tajam.
“Kamu tahu kenapa Bapakmu nyanyi fals di belakang angkot dulu?”
“Biar Ibu ketawa.”
“Bukan.” Ibu menggeleng. “Bapakmu nyanyi fals di belakang angkot, di depan orang-orang pasar, di depan sopir angkot, di depan tukang parkir, supaya Ibu tahu dia nggak malu.”
Aku diam.
“Ibu waktu itu cuma anak tukang bakso, Man. Bapakmu tukang servis yang bengkelnya sebelah warung. Teman-teman Ibu bilang dia aneh. Kerjaannya ngobrol sama radio rusak. Pakai kaus yang sama tiga hari. Ibu malu, Man. Ibu suka sama dia, tapi Ibu malu.”
“Ibu malu sama Bapak?”
“Iya.” Ibu tersenyum. Senyum yang sedih dan bahagia sekaligus. “Terus Bapakmu lari di belakang angkot D11, nyanyi lagu India fals sekeras-kerasnya, di depan semua orang. Dan Ibu mikir, orang ini nggak malu sama aku sedikit pun. Kenapa aku malu sama dia?”
Aku menatap layar.
“Ibu turun dari angkot, Man. Di depan semua orang. Terus Ibu bilang ke Bapakmu, suaramu jelek banget. Terus Bapakmu bilang, iya, tapi kamu turun.”
Aku menatap foto Bapak di dinding. Senyum lebar. Tangan di pinggang. Di depan bengkel kecil yang sekarang jadi gudang kerupuk.
“Takut dilihat orang itu nggak bisa disembuhin sama orang lain, Man,” kata Ibu pelan. “Kamu nggak bisa maksa dia berani. Kamu cuma bisa nyanyi fals di belakang angkot. Terus nunggu dia turun sendiri.”
“Kalau dia nggak turun?”
Ibu menatapku lama.
“Ya kamu terus nyanyi,” katanya. “Sampai suaramu habis. Atau sampai angkotnya berhenti.”
“Itu nggak ilmiah, Bu.”
“Banyak hal penting yang nggak ilmiah.” Ibu tersenyum. “Kalimat itu dari Bapakmu, kan? Kamu ngomong itu ke semua orang, Ibu tahu.”
Aku tertawa. Pelan.
“Udah, tidur,” kata Ibu. “Jangan begadang mikirin artis. Besok kamu harus berangkat jam lima, Wati harus dicas dulu.”
“Iya, Bu.”
“Satu lagi, Man.”
“Iya?”
“Kalau dia ke warung, jangan kasih level sembilan. Kasihan.”
“Dia udah pernah makan level sembilan, Bu. Habis. Sampai kuahnya.”
Ibu diam. Matanya membulat.
Lalu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat Ibu terkesan pada seseorang yang belum pernah dia temui.
“Ajak ke warung,” katanya tegas. “Minggu depan. Ibu mau lihat.”
Telepon ditutup.
Dari balik dinding, aku dengar Ibu bicara sendiri di dapur. “Level sembilan sampai kuahnya... ya Allah... artis...” Lalu suara bawang dicincang dengan semangat yang berlebihan.
Jam satu pagi, aku masih belum tidur.
Aku keluar kamar, pelan, melewati dapur yang sudah gelap, lalu ke halaman depan, tempat Wati diparkir di bawah atap seng kecil dengan kabel charger tertancap ke stopkontak di dinding warung.
Angka di dasbor: 61%.
Aku jongkok di samping Wati.
“Wati.”
Wati diam. Lampu indikator charging berkedip hijau pelan, seperti napas orang tidur.
“Maaf ya tadi aku lupa ngecas kamu. Kamu jadi mogok di tengah hujan. Kamu pasti malu.”
Lampu hijau berkedip.
“Tapi makasih juga.” Aku menepuk joknya. “Kalau kamu nggak mogok, aku nggak akan dorong kamu dua kilometer. Kalau aku nggak dorong kamu dua kilometer, dia nggak akan ketawa kayak gitu. Kalau dia nggak ketawa kayak gitu, tangannya nggak akan dingin. Kalau tangannya nggak dingin...”
Aku berhenti.
Lampu hijau berkedip.
“Kamu sengaja, ya?” bisikku.
Wati nggak menjawab. Wati motor.
Tapi aku menatap stiker mata anime di atas lampu depannya, yang sekarang padam karena kunci kontaknya mati, dan entah kenapa, di bawah cahaya lampu jalan yang kuning redup, mata itu kelihatan seperti sedang mengedip.
Aku menyimpan itu di laci. Laci baru. Laci yang sudah aku pasang di kepala, di sebelah laci lama yang meledak tadi.
Laci itu aku beri label: WATI TAHU SESUATU.
Jam dua lewat sepuluh, aku di kasur. Lampu mati. Satu earbud di telinga kiri, memutar Tujhe Dekha To dengan volume sangat pelan.
HP-ku bergetar.
Aku membalik badan. Layar menyala.
Cynthia: wati udah dicas?
Aku menatap pesan itu.
Jam dua pagi. Cynthia harus bangun jam tiga untuk siaran jam enam. Dia seharusnya sudah tidur dua jam yang lalu. Dia seharusnya sudah mimpi.
Dan dia mengirim pesan ke aku. Bukan makasih buat malam ini. Bukan maaf soal tadi. Bukan soal yang di halte.
Wati udah dicas?
Pertanyaan paling biasa di dunia. Pertanyaan yang bisa ditanyakan siapa saja ke siapa saja. Tapi aku membacanya tujuh kali, dan setiap kali, aku mendengar sesuatu yang berbeda di baliknya.
Pertama kali, aku dengar: aku khawatir sama motormu.
Kedua kali: aku khawatir sama kamu.
Ketiga kali: aku nggak bisa tidur.
Keempat kali sampai ketujuh kali: aku nggak bisa tidur karena kamu.
Aku mungkin salah dengar. Aku teknisi, bukan cenayang. Teks nggak punya nada. Teks nggak punya napas pendek di kalimat ketiga.
Tapi jam dua pagi itu punya nada sendiri.
Aku mengetik.
Aku: udah
Aku: 61% tadi jam 1
Aku: sekarang paling udah 70
Lalu aku menatap layar. Jempolku melayang. Aku bisa berhenti di situ. Aku bisa bilang tidur cyn, kamu harus bangun jam 3. Itu yang masuk akal. Itu yang aman.
Aku mengetik lagi.
Aku: yang punya wati yang belum
Kirim.
Tiga detik. Lima detik. Sepuluh detik.
Titik-titik mengetik muncul.
Cynthia: belum apa?
Aku: belum dicas
Aku: baterainya 2%
Cynthia: kenapa?
Aku menatap pertanyaan itu.
Kenapa?
Satu kata. Tapi aku bisa dengar dia menahan napas waktu mengetiknya. Aku bisa dengar jempolnya ragu di atas tombol kirim. Aku bisa dengar dia, di apartemennya di Kemang, di kasurnya yang aku belum pernah lihat, memeluk bantal dan menatap layar dengan jantung yang mungkin sama falsnya dengan jantungku.
Aku nggak tahu dari mana aku dengar semua itu.
Teks nggak punya suara.
Tapi aku dengar.
Aku: lagi mikirin penumpang
Kirim.
Aku langsung menaruh HP di dada, layar menghadap ke bawah, dan menatap langit-langit kamar yang ada peta Kalimantannya.
Jantungku fals. Kupingku gerak-gerak. Aku yakin, kalau ada yang melihatku sekarang, aku kelihatan seperti Dino setelah suapan ketiga level sembilan.
HP-ku bergetar.
Aku membaliknya.
Bukan teks. Foto.
Foto dari dalam kamar yang gelap, cuma diterangi lampu tidur kecil warna kuning. Fotonya buram, diambil terburu-buru. Di tengah foto, ada bantal putih. Dan di atas bantal itu, ada wajah yang ditutupi sebagian oleh bantal lain, seperti orang yang menyembunyikan muka. Cuma mata yang kelihatan. Mata yang menyipit, karena di balik bantal itu, aku yakin seratus persen, dia sedang tersenyum.
Di bawahnya, satu pesan.
Cynthia: aku tutup muka pakai bantal
Cynthia: jangan tanya kenapa
Cynthia: tidur man
Cynthia: besok aku siaran. aku mau suaraku bagus tanpa plugin
Aku: suaramu udah bagus
Aku: tapi tidur
Aku: biar besok aku bisa dengar yang asli
Cynthia: 🙈
Cynthia: salam buat wati
Cynthia: bilang makasih udah mogok
Aku menatap pesan terakhir itu lama.
Bilang makasih udah mogok.
Dia juga tahu.
Aku mematikan layar. Menaruh HP di samping bantal. Menatap gelap.
Di luar, di bawah atap seng kecil, Wati sedang mengisi baterainya sendiri dengan sabar. Di Kemang, sembilan belas kilometer dari sini, seseorang menutup muka pakai bantal.
Dan di sini, di kamar tiga kali tiga meter dengan peta Kalimantan di langit-langitnya, aku berbaring dengan satu earbud di telinga kiri yang memutar lagu Bollywood, satu telinga kanan yang mendengarkan dunia, dan jantung yang sudah fals sejak jam delapan malam tadi.
Hujan sudah reda.
Hujan nggak punya kamera. Hujan nggak punya akun gosip. Hujan nggak punya grup arisan.
Malam ini, cuma hujan yang melihat.
Dan aku harap, besok, kalau langit cerah lagi, dia masih mau memasukkan tangannya ke sakuku.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera reading
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu