Chapter Thirty Eight
Hoodie di Lobby
POV: Cynthia
Aku mengajukan proposal itu ke Mas Teddy hari Kamis jam sepuluh pagi, di ruang rapat lantai dua belas, dengan slide yang aku buat sendiri semalam.
Bukan pakai Comic Sans. Pakai Calibri. Aku sudah belajar.
SEGMEN BARU SAPA PAGI: ORANG DI BALIK LAYAR
Konsepnya sederhana. Setiap minggu, di lima menit terakhir Sapa Pagi, presenter akan memperkenalkan satu orang yang bekerja di balik layar TRAC. Kamerawan. Penata rias. Floor director. Satpam. OB. Teknisi. Orang-orang yang setiap hari membuat siaran ini berjalan, tapi nggak pernah dilihat dua juta penonton di rumah.
“Episode pertama,” kataku, “langsung dari lobby. Live. Kamera portabel, mic wireless. Jam delapan kurang lima sampai jam delapan.”
Mas Teddy menatap slide itu lama.
“Episode pertama siapa?” tanyanya.
Aku menatapnya.
“Sound engineer master control,” kataku.
Mas Teddy diam. Sasa, di sebelahnya, menurunkan pulpen pelan-pelan. Dua creative saling pandang.
Mas Teddy sudah nonton video Anime Night. Semua orang di TRAC sudah nonton video Anime Night. Dino mengunggahnya ke Dino Doyan dengan judul ANIME NIGHT: MALAM DI MANA SEMUA ORANG NANGIS (TERMASUK DIREKTUR). Dua ratus ribu penonton dalam tiga hari. Bagian Teknisi channel tujuh, kalau dengar, ketuk dua kali dipotong dan diunggah ulang oleh akun-akun lain, dan sekarang ada orang-orang di TikTok yang membuat video sambil berbisik ke mic HP mereka teknisi channel tujuh, tanpa tahu apa artinya.
Mas Teddy menatapku dengan wajah yang sangat, sangat hati-hati.
“Cyn,” katanya pelan. “Ini segmen tentang orang di balik layar. Atau segmen tentang kamu?”
Aku menatap slide di layar.
“Dua-duanya, Mas,” kataku jujur. “Aku nggak mau bohong soal itu.”
Mas Teddy menatapku lebih lama.
Lalu dia tersenyum. Senyum yang pelan, yang aku belum pernah lihat di wajah produserku selama dua tahun.
“Rating segmen penutup kita turun dua minggu ini,” katanya. “Penonton bosan sama Jumat Manis. Kapal ErCyn-nya kelihatan nggak ada chemistry lagi. Mbak Rini lagi panik.” Dia menutup laptopnya. “Kamu punya lima menit. Jumat ini.”
“Jumat?” Sasa menoleh. “Mas, Jumat itu jadwal Jumat Manis.”
“Jumat Manis dibatalkan,” kata Mas Teddy. “Erga udah minta mundur dari minggu lalu. Katanya dia mau balik ke belakang kamera.” Dia menatapku. “Katanya, dan aku kutip, kapalnya udah tenggelam, penumpangnya mau pulang.”
Rabu malam, Yura datang ke apartemenku.
Pertama kalinya dia ke apartemenku. Dua tahun, dan kami nggak pernah saling berkunjung. Selalu ruang rias. Selalu kantin. Selalu kafe.
Dia berdiri di depan pintu dengan paper bag di tangan.
“Buat besok,” katanya.
Aku membuka paper bag itu.
Di dalamnya, dilipat rapi, wangi lavender, ada hoodie kuning stabilo. Wajah karakter anime cowok berambut biru dengan mata berbinar raksasa dan mulut terbuka lebar, berteriak.
Hoodie nomor tujuh.
Aku menatap Yura.
“Dia kasih ke aku,” kata Yura. “Di studio enam. Dia bilang aku peringkat satu klasemen pemakai, jadi aku harus pegang piala.” Dia tersenyum kecil. Miring. “Tapi aku pikir, piala itu harusnya dikembalikan ke pemilik aslinya. Di hari yang tepat.”
“Kamu mau aku kasih ke dia?”
“Nggak.” Yura menggeleng. “Dino yang kasih. Besok pagi. Jam tujuh. Di basement. Aku udah atur.” Dia menatapku. “Kamu pakai yang lain.”
“Yang lain?”
Yura menatap ke dalam apartemenku. Ke kamar. Ke tempat tidur. Ke bantal, di mana, aku yakin, dia bisa melihat ujung hoodie abu-abu yang menyembul dari bawahnya.
“Yang kamu curi,” katanya.
Jumat pagi, jam lima lewat empat puluh, aku masuk lobby TRAC Tower dari pintu putar.
Blazer putih untuk siaran. Kemeja biru muda. Celana bahan krem.
Sandal jepit biru.
Pak Jono di pos satpam menatap kakiku. Lalu menatap wajahku. Lalu tersenyum lebar.
“Pagi, Mbak Cynthia! Sandalnya bagus!”
“Makasih, Pak.”
Di tote bag-ku, terlipat, ada hoodie abu-abu.
Sapa Pagi berjalan seperti biasa.
Jam enam, aku membuka acara. Suaraku keluar dari monitor studio. Jernih. Ringan. Aku tidur tujuh jam semalam. Aku nggak tahu apakah ada kompresor di channel tujuh pagi ini. Aku nggak tahu siapa yang duduk di kursi master control.
Jam enam lewat dua puluh tiga, jeda iklan pertama.
Aku menunduk ke mic clip-on di kerah blazerku.
“Teknisi channel tujuh,” bisikku.
Bip. Bip.
Lalu, sesudah jeda yang pendek:
Bip.
Satu lagi. Sendiri.
Aku tersenyum.
Aku tahu siapa yang menekannya. Bukan Salman. Salman nggak di master control pagi ini; Raka bilang Salman minta tukar shift, katanya ada urusan jam delapan. Yang menekan tombol kuning pagi ini Raka.
Dan Raka menekan tiga kali. Dua, lalu satu.
Iya. Tapi.
Aku tahu artinya. Raka mengirim pesan ke aku semalam, jam sebelas, satu kalimat: mbak, besok aku yang pegang ch 7, aku udah latihan bip, artinya “iya, tapi jangan nangis sebelum jam 8”.
Aku menutup mulut dengan punggung tangan supaya nggak tertawa di set.
Jam tujuh lewat lima puluh, segmen terakhir.
Floor director menghitung mundur. Lampu merah di atas kamera dua menyala. Aku menatap lensa.
“Pemirsa, sebelum Sapa Pagi hari ini berakhir, kami punya segmen baru.”
Aku berdiri dari sofa set.
Aku melepas blazer putih. Menaruhnya di sandaran sofa. Kru di balik kamera menatapku dengan bingung. Sasa, di balik kaca control room, menutup mulut dengan tangan.
Aku membuka tote bag yang sudah aku taruh di balik sofa sejak pagi.
Dan aku memakai hoodie itu.
Di depan kamera dua. Live. Di depan dua juta penonton.
Hoodie abu-abu. Kebesaran. Lengannya menutupi tanganku sampai ke ujung jari. Bagian bawahnya jatuh sampai pertengahan paha. Di dadanya, anak kecil berambut merah muda yang memegang kacang dengan wajah licik.
“Segmen ini namanya Orang di Balik Layar,” kataku ke kamera, sambil menggulung lengan hoodie tiga kali. “Dan untuk episode pertama, kita nggak di studio.”
Kamerawan portabel, Mas Bimo, sudah berdiri di pintu studio dengan kamera di bahu. Mas Gilang di sebelahnya, memegang receiver mic wireless. Mereka sudah tahu. Mas Teddy sudah briefing mereka kemarin.
“Ikut saya,” kataku ke kamera.
Dan aku berjalan keluar dari studio enam.
Koridor lantai dua belas. Kamera portabel di belakangku. Mic wireless di kerah hoodie Anya, menggantikan mic clip-on.
Orang-orang di koridor menoleh. Penata rias. Kru. Sasa yang keluar dari control room dan berlari di belakang Mas Bimo.
“Tiap pagi,” kataku ke kamera, sambil berjalan cepat ke lift, “kalian dengar suara saya. Kalian lihat wajah saya. Tapi suara itu nggak sampai ke rumah kalian sendirian.”
Lift. Aku menekan tombol turun. Pintu terbuka. Aku masuk. Mas Bimo masuk, kamera di bahu. Mas Gilang masuk.
Lift nomor dua. Bukan nomor empat.
“Ada yang ngatur volume suara saya,” lanjutku, di dalam lift, ke lensa kamera. “Ada yang benerin earpiece saya kalau rusak. Ada yang nambal suara saya kalau saya kurang tidur, biar kalian di rumah nggak dengar saya capek.”
Lantai sebelas. Sepuluh. Sembilan.
“Ada yang, waktu konsol utama mati di tengah siaran, nyelamatin Sapa Pagi selama dua jam pakai mixer analog yang pernah ditabrak troli.” Aku menelan ludah. “Dan nggak ada yang tahu. Di laporan, namanya cuma tim teknis.”
Lantai lima. Empat. Tiga.
“Pagi ini,” kataku, “saya mau kalian kenal dia.”
Lantai satu.
Pintu lift terbuka.
Lobby TRAC Tower, jam tujuh lewat lima puluh tiga.
Jam paling ramai.
Orang-orang mengalir dari pintu putar ke lift. Kemeja. Blazer. Tas laptop. Kopi di tangan. Layar LED raksasa di dinding memutar siaran Sapa Pagi. Live. Dan di layar itu, sepuluh meter tingginya, ada wajahku sendiri.
Bukan wajah yang tersenyum sempurna di sofa set.
Wajahku di lift, barusan. Dengan hoodie abu-abu kebesaran. Rambut sedikit berantakan karena memakai hoodie terburu-buru.
Orang-orang di lobby berhenti.
Satu per satu. Lalu banyak. Lalu hampir semua. Mereka menoleh dari layar LED ke lift yang baru terbuka, ke aku yang keluar dari lift dengan kamerawan dan teknisi mic di belakang, memakai hoodie anime dan sandal jepit.
Itu Mbak Cynthia?
Itu live?
Kok pakai hoodie?
Itu hoodie yang... kayak punya maskot?
Aku berjalan ke tengah lobby. Ke pilar besar. Ke tempat aku dulu berdiri dengan gelas kopi di tangan dan menatap Yura naik Wati dengan kaca helm terbuka.
Mas Bimo mengikutiku dengan kamera.
Aku melihat mereka di antara kerumunan. Mbak Rini dari marketing, dengan wajah panik dan HP di telinga. Mbak Vina, dengan gaun hijau zamrud dan rambut pendek bergelombang, yang kebetulan sedang lewat untuk taping talkshow-nya dan sekarang berhenti di tengah lobby dengan cermin kecil di tangan.
Erga, di dekat resepsionis, dengan kemeja biru muda tanpa parfum, menatapku dan mengangguk sekali.
Dan di balik pilar sebelah, setengah bersembunyi, tiga orang. Diana dengan buku catatan batik. Yura dengan kardigan krem. Dino dengan HP yang sudah merekam.
Pak Jono di pos satpam berdiri. Melepas topinya. Memegangnya di dada.
Aku menatap jam dinding di atas resepsionis.
Jam tujuh lewat lima puluh enam.
Lalu aku menatap ke deretan lift. Ke lift paling ujung. Lift yang dua tahun lalu berhenti di antara lantai dua puluh dua dan dua puluh tiga.
Lift nomor empat.
Lampu indikator di atas pintunya bergerak. B2. B1. 1.
Ting.
Pintu lift nomor empat terbuka.
Dan Salman keluar.
Dia memakai hoodie kuning stabilo. Menyala. Menyilaukan. Di bawah lampu-lampu lobby dan cahaya pagi dari pintu putar, hoodie itu bersinar seperti rambu lalu lintas.
Di dadanya, wajah karakter anime cowok berambut biru dengan mata berbinar raksasa, mulut terbuka lebar, berteriak.
Hoodie nomor tujuh.
Hoodie yang dia pakai waktu berlari enam belas lantai ke backstage gala. Hoodie yang membuat Mbak Vina bilang aku kira tadi ada lampu darurat nyala. Hoodie yang membuat seseorang bilang kayak maskot.
Earbud di telinga kiri. Helm Wati di siku. Wajahnya datar.
Dia melangkah keluar dari lift.
Lalu dia berhenti.
Karena dia melihat lobby. Melihat kerumunan yang berhenti. Melihat layar LED raksasa di dinding, yang sekarang, karena Mas Bimo sudah memutar kamera ke arah lift, menampilkan wajahnya sendiri. Sepuluh meter tingginya. Hoodie kuning stabilo. Wajah datar. Telinga yang mulai memerah.
Dan melihat aku.
Di tengah lobby. Di samping pilar besar. Dengan hoodie Anya.
Dia menatapku.
Lama.
Aku menatapnya balik.
Lalu aku mengangkat tangan, menyentuh mic wireless di kerah hoodie, dan berbicara. Ke kamera. Ke lobby. Ke dua juta orang di rumah. Ke laki-laki di depan lift nomor empat.
“Pemirsa,” kataku. “Ini Salman Haikal.”
“Sound engineer master control TRAC,” lanjutku. Suaraku keluar dari speaker-speaker lobby, karena Mas Gilang, atas permintaanku, sudah menyambungkan mic wireless ke sistem PA lobby. Suaraku juga keluar dari layar LED raksasa di dinding, dari siaran live, dengan jeda sepersekian detik, sehingga ada gema. Suaraku bertabrakan dengan suaraku sendiri.
“Empat tahun di TRAC,” kataku. “Tiap pagi jam lima dia di lantai empat belas. Dia yang pegang channel tujuh. Channel tempat suara saya masuk. Dua tahun dia dengerin napas saya tiap pagi. Dia tahu kapan saya kurang tidur. Dia tahu kapan saya kedinginan. Dia tahu kapan saya bohong.”
Lobby hening.
“Dia yang nyelamatin Sapa Pagi waktu konsol mati,” lanjutku. “Dua jam. Pakai tangan. Dia yang nyelamatin anak tujuh tahun yang hilang waktu Family Day, dan kasih anak itu barang paling berharga yang dia punya. Dia yang nyanyi fals di tengah lobby ini, di tempat ini, waktu ada orang yang narik tangan teman saya dan semua orang nunduk.”
Dari balik pilar, aku mendengar Yura terisak.
“Dia yang punya ide Anime Night,” kataku. “Yang nyelamatin kafe tempat saya dan teman-teman saya dua tahun jadi diri sendiri.”
Salman masih berdiri di depan lift nomor empat. Nggak bergerak. Wajahnya datar. Tapi aku bisa melihat tangannya, di sisi badannya. Mengepal. Membuka. Mengepal.
Aku menarik napas.
“Dan dua bulan lalu,” kataku, “di malam gala dua puluh lima tahun TRAC, di backstage, di depan Mbak Vina dan Ibu saya dan banyak orang lain...”
Aku menatap Mbak Vina di tengah kerumunan. Dia membeku. Cermin kecil di tangannya berhenti di udara.
“Ada yang nanya ke saya dia siapa,” kataku. “Dan saya bilang...”
Suaraku pecah.
Aku nggak memperbaikinya.
“Saya bilang dia cuma teknisi,” kataku. “Kenal juga enggak terlalu.”
Lobby TRAC Tower menjadi sangat, sangat sunyi.
Bukan sunyi orang-orang yang pura-pura nggak lihat. Sunyi orang-orang yang melihat dengan sangat jelas.
“Mic saya nyala malam itu,” kataku. “Dan dia dengar.”
Aku menatap Salman.
Dua puluh meter. Dari pilar besar di tengah lobby ke pintu lift nomor empat.
“Saya bohong,” kataku. Ke mic. Ke kamera. Ke dia. “Malam itu saya bohong. Saya bohong karena saya takut. Saya takut sama kamera. Saya takut sama akun gosip. Saya takut sama apa kata orang, kalau goddess Sapa Pagi jalan sama cowok yang pakai hoodie anime dan namain motornya Wati.”
Aku menatap layar LED di dinding. Wajahku sendiri, sepuluh meter tingginya. Mata basah. Hidung merah. Hoodie Anya kebesaran.
“Ibu saya dulu presenter,” kataku. “Kariernya hancur karena satu foto. Sejak kecil, Ibu ngajarin saya satu hal. Kamera selalu nyala.”
Aku menatap lensa kamera Mas Bimo.
Aku tahu Ibu sedang menonton. Aku sudah meneleponnya semalam. Bu, besok nonton Sapa Pagi. Segmen terakhir. Jangan ganti channel.
“Ibu benar,” kataku ke lensa. “Kamera selalu nyala.”
Aku menarik napas.
“Biar aja kameranya nyala.”
Lalu aku berjalan.
Dari pilar besar di tengah lobby. Ke arah lift nomor empat.
Satu langkah. Sandal jepit di lantai marmer. Plak.
Dua langkah. Plak.
Mas Bimo mengikutiku dengan kamera. Mas Gilang mengikutiku dengan receiver. Kerumunan di lobby membuka jalan, seperti air yang dibelah.
Sepuluh meter.
Lima meter.
Tiga meter.
Aku berhenti.
Tiga meter. Jarak aman. Kata Raka. Kata WHO waktu pandemi. Jarak yang aku jaga di lobby ini, di kantin, di koridor, di eskalator bioskop di Depok, selama dua bulan.
Salman menatapku dari tiga meter.
“Aku pernah jalan tiga meter di depanmu,” kataku. Bukan ke mic lagi. Ke dia. Tapi mic-nya masih nyala, dan aku tahu, dan aku nggak peduli. “Di lobby ini. Tiap pagi.”
Aku melangkah.
Dua meter.
“Dia bukan cuma teknisi,” kataku. Ke lobby. Ke kamera. Ke dua juta orang. Ke Ibu.
Satu meter.
“Dia orang yang aku sayang.”
Nol meter.
Aku memeluknya.
Di depan lift nomor empat. Di tengah lobby TRAC Tower. Jam tujuh lewat lima puluh delapan. Di depan kamera portabel Mas Bimo dan layar LED raksasa dan dua juta penonton Sapa Pagi dan ratusan karyawan yang berhenti di tengah perjalanan ke lift.
Aku memeluknya.
Kedua tanganku melingkar di pinggangnya. Wajahku di dadanya. Di wajah karakter anime berambut biru yang berteriak dengan mata berbinar raksasa. Hoodie kuning stabilo itu wangi lavender. Yura mencucinya dengan pelembut. Di bawah wangi lavender, ada bau lain. Sabun cuci murah. Sedikit kaldu sapi. Sedikit karet dari kabel.
Bau Salman.
Dia membeku.
Seluruh badannya. Seperti Wati di dua persen. Seperti Pak Darto di depan Naruto. Seperti malam di basement Zona C, waktu aku memeluknya dari belakang dan bilang aku juga.
“Nol meter,” bisikku ke dadanya.
Aku bisa mendengar jantungnya.
Fals.
Sangat fals. Kacau. Nggak beraturan. Seperti orkestra yang semua pemainnya lupa partitur.
Lalu, pelan, sangat pelan, tangannya turun. Helm Wati jatuh dari sikunya ke lantai marmer. Tok. Dia nggak memungutnya. Satu tangan di punggungku. Satu tangan di belakang kepalaku.
Dia memelukku balik.
Erat.
Bukan seperti memegang figure edisi terbatas. Bukan hati-hati. Bukan seolah aku bisa pecah.
Erat seperti orang yang sudah dua bulan menahan diri, dan akhirnya nggak perlu lagi.
Lobby meledak.
Bukan tepuk tangan dulu. Suara pertama yang aku dengar adalah suara Dino, dari balik pilar, berteriak dengan suara pembawa acara lima kali lebih keras dari suara manusia normal:
“AKHIRNYAAAA!”
Lalu tepuk tangan.
Dari Pak Jono di pos satpam, yang masih memegang topinya di dada. Dari Erga di dekat resepsionis. Dari Diana dan Yura di balik pilar. Dari dua perempuan marketing yang kebetulan lewat, yang hari ini Jumat, jadi mereka memakai hoodie kucing samurai. Dari karyawan-karyawan yang nggak aku kenal. Dari anak-anak magang. Dari kru Sapa Pagi yang berdiri di belakang Mas Bimo.
Dari Mbak Vina.
Mbak Vina, dengan gaun hijau zamrud dan cermin kecil di tangan, yang dua bulan lalu bertanya itu siapa, pacar kamu. Dia berdiri di tengah kerumunan, menatap kami, dan pelan-pelan, dia mulai bertepuk tangan. Lalu lebih keras. Lalu dia berteriak, dengan suara yang selalu sedikit terlalu keras untuk ruangan mana pun:
“YA AMPUN, CYN! KENAPA NGGAK BILANG DARI DULU?! DIA LUCU BANGET!”
Aku tertawa ke dada Salman. Basah.
Dan Erga, dari dekat resepsionis, mengangkat tangan dan berbicara cukup keras untuk ditangkap mic wireless-ku:
“Pemirsa, sebagai informasi, kapal ErCyn resmi tenggelam pagi ini. Semua penumpang selamat. Penumpangnya ganti kapal.”
Diana, di balik pilar, menutup wajah dengan buku catatan batik. Tapi bahunya bergetar.
Aku mengangkat kepala.
Salman menatapku dari jarak sepuluh senti. Wajahnya nggak datar. Untuk kedua kalinya sejak aku kenal dia, wajahnya nggak datar. Matanya basah. Telinganya merah. Lehernya merah. Pipinya merah.
“Cyn,” katanya pelan.
“Hm.”
“Kamu turun.”
Aku mengerjap. “Turun?”
“Dari angkot.” Dia tersenyum. Senyum yang besar dan konyol dan sedikit nggak percaya. Senyum yang sama dengan di basement Zona C, waktu aku bilang konfirmasi verbal. “Nanti Ibu yang cerita. Ibu pasti mau cerita.”
“Aku udah tahu sedikit.” Aku menatapnya. “Bu Nur bilang Bapak nyanyi fals di belakang angkot D11. Di depan satu pasar.”
“Iya.”
“Terus Ibu turun.”
“Iya.”
“Terus Ibu bilang apa?”
Salman menatapku lama. Lalu tertawa. Pelan. Dari dadanya. Getarannya sampai ke tanganku yang masih melingkar di pinggangnya.
“Ibu bilang suaramu jelek banget,” katanya.
Aku menatapnya.
Lalu aku tertawa. Keras. Di tengah lobby. Dengan mic yang nyala. Tawa yang nggak berbentuk, nggak dilatih, nggak berhenti di detik ketiga.
“Suaramu jelek banget, Man,” kataku di antara tawa.
Dia menatapku. Matanya berbinar. Seperti mata anime di stiker lampu depan Wati.
“Iya,” katanya. “Tapi kamu turun.”
“Mbak Cynthia! Tiga puluh detik!”
Suara Sasa. Di earpiece portabel yang Mas Gilang pasang di telingaku. Panik.
“Kita harus tutup! Tiga puluh detik! Mbak, tutup acaranya!”
Aku melepas pelukan. Sedikit. Satu tanganku masih di pinggang Salman. Aku menoleh ke kamera Mas Bimo.
Mas Bimo, aku baru sadar, menangis. Kamera di bahunya bergetar sedikit.
“Pemirsa,” kataku ke lensa. Suaraku pecah dan basah dan sama sekali nggak sempurna. “Itu tadi Orang di Balik Layar. Episode pertama.”
Aku menatap Salman. Dia menatapku.
“Sampai jumpa besok pagi,” kataku. “Dari lobby. Dari saya.” Aku menarik napas. “Dan dari orang di balik layar, yang mulai hari ini, nggak di balik layar lagi.”
Lampu merah di atas kamera Mas Bimo padam.
“Clear,” kata Sasa di earpiece. Lalu, sesudah jeda: “Mbak. Ya Tuhan. Mbak.”
Aku masih berdiri di depan lift nomor empat.
Salman masih berdiri di depanku.
Lobby masih ramai. Orang-orang masih bertepuk tangan, masih merekam, masih saling berbisik. Dino sudah keluar dari balik pilar dan sekarang memeluk Pak Jono, yang memeluk balik dengan topi masih di tangan. Mbak Vina sedang menelepon seseorang dengan suara yang terlalu keras. Erga memungut helm Wati dari lantai marmer dan menyodorkannya ke Salman, dengan wajah orang yang menyerahkan cincin di pernikahan.
Lalu Salman menunduk sedikit. Mendekatkan bibirnya ke telingaku. Ke telinga kanan. Telinga yang ada earpiece portabelnya.
Dan dia berbisik:
“Bip.”
Lalu:
“Bip.”
Aku menutup mulut dengan lengan hoodie Anya. Bahuku bergetar.
“Itu apa?” bisikku.
“Konfirmasi verbal,” katanya. “Kamu nggak manggil di channel tujuh. Tapi aku jawab aja. Biar lengkap.”
Aku menatapnya.
“Teknisi channel tujuh,” bisikku. “Kalau dengar...”
Dia tersenyum.
“Aku selalu dengar,” katanya.
HP-ku bergetar di saku celana.
Lagu piano klasik. Ringtone khusus.
Aku menatap layar. Ibu.
Aku menatap Salman. Dia menatap layar HP-ku. Lalu menatapku. Lalu mengangguk pelan.
Aku mengangkat.
“Halo, Bu.”
Hening di seberang. Lama.
Lalu suara Ibu. Bukan suara kamera selalu nyala. Bukan suara yang tegas dan rapi. Suara yang serak. Suara orang yang baru menangis.
“Cyn,” kata Ibu. “Ibu nonton.”
“Iya, Bu.”
“Ibu nonton dari awal. Dari kamu pakai hoodie di studio.” Ibu diam. Aku mendengar dia menarik napas. Tersendat. “Kamu pakai sandal jepit, Cyn. Di TV nasional.”
“Iya, Bu.”
“Ibu dulu nggak pernah berani pakai sandal jepit di depan kamera.” Suara Ibu pecah. “Dua puluh tahun Ibu takut. Dan kamu... kamu pakai hoodie anime dan sandal jepit dan meluk tukang... meluk teknisi audio di tengah lobby, di depan dua juta orang.”
“Maaf, Bu.”
“Jangan minta maaf.”
Aku membeku.
“Jangan minta maaf ke Ibu,” kata Ibu. Suaranya bergetar, tapi keras. “Ibu yang harus minta maaf. Ibu yang ngajarin kamu takut. Ibu yang ngangguk waktu kamu bilang cuma teknisi.” Ibu terisak. “Cyn. Bawa dia ke rumah. Minggu ini. Ibu mau minta maaf langsung. Ke mukanya.”
Aku menatap Salman.
Dia mendengar. Tentu saja dia mendengar. Telinga kanannya buat dunia, dan dunia sekarang cuma sepuluh senti dari HP-ku.
“Bu,” kataku. “Dia suka bakso.”
Hening.
Lalu, pelan, dari seberang telepon, aku mendengar sesuatu yang belum pernah aku dengar dari Ibu sejak aku umur sembilan tahun.
Ibu tertawa.
Bukan tawa tiga detik. Tawa yang pecah, basah, nggak berbentuk. Tawa yang keluar dari tempat yang sangat dalam, yang sudah dua puluh tahun dikunci.
“Ibu nggak bisa masak bakso, Cyn.”
“Aku tahu, Bu.”
“Ibu cuma bisa masak sayur asem.”
“Dia pasti suka sayur asem, Bu.”
Salman, sepuluh senti dari HP-ku, mengangguk dengan sangat serius.
“Dia ngangguk, Bu,” kataku. “Dia bilang dia suka sayur asem.”
Ibu tertawa lagi.
Dan aku berdiri di tengah lobby TRAC Tower, di depan lift nomor empat, memakai hoodie anime curian dan sandal jepit lima belas ribu, dengan satu tangan memegang HP yang tersambung ke Ibu yang tertawa, dan satu tangan lagi di pinggang laki-laki berhoodie kuning stabilo yang telinganya merah.
Di layar LED raksasa di dinding lobby, Sapa Pagi sudah selesai. Sekarang iklan. Iklan sabun cuci piring.
Tapi orang-orang masih menatap ke arah lift nomor empat.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh enam tahun, aku nggak peduli siapa yang lihat.
Aku cuma peduli siapa yang aku lihat.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby reading
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu