Chapter Thirty Seven

Lift Nomor Empat

POV: Salman

Dua tahun lalu, hari Selasa, jam sembilan lewat dua belas malam, listrik di TRAC Tower padam.

Bukan padam total. Lampu-lampu darurat langsung menyala di koridor dan tangga. Server siaran langsung pindah ke UPS. Genset utama di basement menyala dalam tiga puluh detik, seperti yang seharusnya.

Tapi ada satu hal yang nggak berjalan seperti seharusnya.

Lift nomor empat.

Genset cadangan untuk lift nomor empat, belakangan aku tahu, sudah rusak sejak dua bulan sebelumnya, dan laporan perbaikannya tertahan di meja seseorang di divisi GA. Jadi waktu listrik padam, lift-lift lain berhenti di lantai terdekat dan membuka pintu. Lift nomor empat berhenti di antara lantai dua puluh dua dan dua puluh tiga.

Dan nggak membuka apa-apa.

Lampunya mati. Kipasnya mati. Tombol-tombolnya mati. Cuma ada satu lampu darurat kecil di langit-langit, warna oranye pucat, yang cahayanya nggak cukup untuk melihat wajah orang di sebelahmu.

Di dalam lift itu, ada enam orang.


Aku ingat semuanya.

Aku nggak tahu kenapa aku ingat semuanya. Aku teknisi audio. Aku ingat suara, bukan wajah. Tapi malam itu, aku ingat semuanya. Seolah otakku tahu, bahkan waktu itu, bahwa ini adalah rekaman yang nanti akan aku putar berulang-ulang.

Aku berdiri di pojok kanan belakang. Hoodie warna abu-abu, bergambar seekor tupai yang memakai topi koboi. Rantang kosong di tangan. Earbud di telinga kiri, memutar Tujhe Dekha To. Aku baru pulang lembur. Mau turun ke basement, ke Wati.

Di pojok kiri belakang, ada laki-laki tinggi berkemeja putih dan dasi yang sudah dilonggarkan. Wajahnya ganteng dengan cara yang membuat orang menoleh dua kali. Dia memegang map tebal di dada. Erga. Waktu itu aku belum tahu namanya. Waktu itu dia baru tiga bulan di TRAC, masih produser junior, masih belum tahu bahwa seluruh kantin akan memberinya lauk tambahan.

Di depan Erga, ada perempuan berambut pendek dengan kacamata dan buku catatan bersampul batik. Dia sedang menulis sesuatu waktu lift berhenti, dan pulpennya masih di atas kertas waktu lampu padam. Diana.

Di sebelahku, laki-laki gemuk berkaus hitam dengan bungkus keripik singkong di tangan. Dia sedang mengunyah waktu lift berhenti. Dia terus mengunyah sesudahnya, karena, katanya belakangan, kalau gue panik, gue makan, dan kalau gue makan, gue nggak panik. Dino.

Di tengah lift, perempuan tinggi berblazer abu-abu dengan rambut digerai. Wajahnya tenang. Postur tegak. Seperti orang yang terlatih untuk nggak pernah kelihatan rusak, bahkan di lift yang mati. Yura. Waktu itu dia masih anchor pengganti, membacakan berita di akhir pekan.

Dan di pojok kanan depan, paling dekat dengan pintu, perempuan bergaun merah muda dengan ID card karyawan baru yang masih kaku di lehernya.

Cynthia.

Satu bulan di TRAC. Presenter baru Sapa Pagi, waktu itu masih co-host, masih belajar. Rambutnya disanggul, sedikit berantakan karena sudah malam. Sepatu hak sepuluh senti.

Dia yang pertama.

Lima detik sesudah lift berhenti, waktu semua orang masih diam, masih menunggu lampu menyala lagi, aku dengar napasnya.

Pendek.

Bukan pendek seperti orang yang kaget. Pendek seperti orang yang paru-parunya tiba-tiba lupa caranya bekerja. Tarikan yang cepat. Hembusan yang lebih cepat. Lalu tarikan lagi, sebelum hembusan sempat selesai.

Aku melepas earbud dari telinga kiri.

Karena aku butuh dua telinga untuk dunia.


“Halo?” kata Erga. “Ada yang bisa dengar? Kita terjebak.”

Dia menekan tombol interkom darurat. Nggak ada bunyi. Interkom-nya juga mati.

“HP,” kata Diana. “Ada sinyal?”

Semua orang mengeluarkan HP. Cahaya layar menerangi wajah-wajah di dalam lift. Wajah-wajah asing.

“Nggak ada,” kata Yura. Tenang. “Lift ini di dalam shaft beton. Sinyalnya nggak tembus.”

“Berarti kita nunggu,” kata Erga.

“Berapa lama?”

“Nggak tahu.”

Dan napas di pojok kanan depan makin pendek.

Aku bisa melihatnya sekarang, sedikit, dari cahaya HP Dino. Perempuan bergaun merah muda itu berdiri dengan punggung menempel ke dinding lift. Tangannya mencengkeram pegangan besi di dinding. Matanya terbuka lebar. Bibirnya bergerak, tanpa suara, seperti menghitung.

“Mbak?” kata Dino, yang paling dekat dengannya selain aku. “Mbak nggak apa-apa?”

Dia nggak menjawab. Napasnya makin cepat.

“Mbak?”

“A-aku...” Suaranya keluar pecah. “Aku nggak bisa... napas...”

Lift itu tiba-tiba terasa sangat kecil.

Yura bergerak ke arahnya. Pelan. Tenang. “Mbak, tarik napas. Pelan-pelan.”

“Nggak bisa,” bisik Cynthia. “Nggak bisa, nggak bisa, sempit, gelap, aku—”

Aku nggak tahu kenapa aku melakukannya.

Mungkin karena Bapak. Bapak dulu selalu bilang, kalau radio rusak, kasih dia frekuensi yang bersih. Kasih dia sesuatu untuk ditangkap. Radio yang panik itu radio yang kehilangan sinyal.

Mungkin karena di telinga kiriku, sebelum aku melepasnya, ada lagu yang masih bergema.

Aku mulai menyanyi.


Tujhe Dekha To.

Pelan. Sangat pelan. Di pojok kanan belakang lift yang gelap.

Dengan suara asliku.

Aku harus menjelaskan ini, karena nggak ada yang tahu, kecuali Ibu. Bapak tahu, tapi Bapak sudah nggak ada.

Aku bisa menyanyi.

Bukan bisa menyanyi seperti orang yang suka karaoke. Bisa menyanyi seperti Bapak. Bapak yang dulu menyanyi di depan warung, yang Ibu bilang suaranya bisa bikin burung-burung di kabel listrik berhenti berkicau untuk mendengarkan. Bapak yang mengajariku menyanyi sebelum dia mengajariku membedakan kapasitor dan resistor. Suara itu juga frekuensi, Man. Kalau kamu ngerti frekuensi, kamu ngerti suara. Kalau kamu ngerti suara, kamu bisa nyanyi.

Aku ngerti frekuensi.

Jadi aku menyanyi dengan benar. Setiap nada tepat. Setiap tarikan napas di tempat yang seharusnya. Rendah dan hangat di bagian awal, naik pelan-pelan di bagian tengah, tinggi dan jernih di bagian reff, seperti orang yang memanggil seseorang dari seberang sungai.

Lift itu hening.

Bukan hening yang tenang.

Hening yang berat.

Aku merasakannya bahkan sebelum lagunya sampai di tengah. Lima orang di dalam lift itu berhenti bergerak. Berhenti bicara. Berhenti mengunyah keripik. Mereka diam, mendengarkan, di bawah lampu darurat oranye pucat.

Dan napas di pojok kanan depan nggak melambat.

Malah makin cepat.

Lalu, di tengah reff, waktu suaraku naik paling tinggi, Dino berbisik.

“Mas,” katanya pelan, dengan mulut penuh keripik. “Suaranya bagus banget.”

Aku terus menyanyi.

“Tapi kok kayak lagu terakhir di film kapal tenggelam,” lanjut Dino, suaranya bergetar. “Yang dinyanyiin pas kapalnya udah mau masuk air. Gue jadi makin takut, Mas.”

Aku berhenti.

Dan di kegelapan, aku mendengar Cynthia terisak.


Dino benar.

Aku menyadarinya di detik itu, di lift yang gelap, dengan suara isak perempuan bergaun merah muda di pojok kanan depan.

Suara yang bagus bikin orang diam.

Suara yang bagus bikin orang mendengarkan. Bikin orang khidmat. Bikin orang merasa sedang menyaksikan sesuatu yang penting, sesuatu yang serius, sesuatu yang, kalau kamu sedang terjebak di lift gelap di antara lantai dua puluh dua dan dua puluh tiga, terdengar seperti lagu perpisahan.

Suara yang bagus bikin orang takut, kalau orang itu sudah takut.

Aku menatap pojok kanan depan. Siluet gaun merah muda yang gemetar. Napas yang pendek, makin pendek.

Lalu aku memutuskan sesuatu.

Aku menarik napas. Panjang.

Dan aku menyanyi lagi.

Lagu yang sama. Tujhe Dekha To.

Tapi kali ini, aku menyanyikannya dengan sengaja salah.

Bukan sedikit salah. Sangat salah. Nada pertama naik di tempat yang seharusnya turun. Nada kedua turun ke tempat yang nggak ada di peta musik mana pun. Aku memanjangkan satu kata selama tujuh detik, dan di detik kelima, aku sengaja membuat suaraku pecah seperti panci jatuh. Aku menyanyi terlalu keras. Aku menyanyi dengan vibrato yang berlebihan, seperti penyanyi dangdut yang kesurupan.

Di lift yang gelap. Di depan lima orang asing.

Hening satu detik.

Lalu Dino tertawa.

Keripik singkong menyembur dari mulutnya. Dia tertawa sampai terbatuk, lalu tertawa karena terbatuk, lalu terbatuk karena tertawa.

“MAS!” katanya di antara tawa. “Mas, itu kenapa?! Tadi bagus banget!”

Aku nggak berhenti. Aku menyanyi lebih keras. Lebih fals. Aku menambahkan gerakan tangan, walaupun nggak ada yang bisa lihat di kegelapan.

Lalu Diana, dari pojok kiri depan, dengan suara yang tajam dan datar:

“Mas. Tolong. Itu pelanggaran hak asasi telinga.”

Erga, di belakang Diana, tertawa. Tawa sopan yang tiba-tiba pecah jadi tawa yang nggak sopan.

“Aku serius,” lanjut Diana. “Aku penulis naskah. Aku tahu dialog yang menyakitkan. Itu bukan dialog. Itu penyiksaan.”

Erga tertawa lebih keras. Dia harus bersandar ke dinding lift.

Lalu Yura.

Yura, di tengah lift, yang dari tadi tenang dan diam, tiba-tiba ikut menyanyi. Lagu yang sama. Dia nggak tahu liriknya. Dia cuma menyanyikan nadanya, dengan suara yang bagus, suara yang rendah dan sedikit serak, berusaha mengikuti melodi yang benar.

Seperti orang yang berusaha menyelamatkan lagu dari aku.

Dan aku menyanyi lebih fals, supaya kontrasnya makin tajam. Yura menyanyi lebih benar. Aku makin salah. Yura makin keras. Kami bertabrakan di udara lift yang gelap, satu suara bagus dan satu suara mengerikan, berebut lagu yang sama.

Dino terjatuh ke lantai lift karena tertawa.

Dan di pojok kanan depan...

Aku dengar.

Napasnya berubah.

Dari pendek-pendek, ke tersendat, ke sesuatu yang lain. Sesuatu yang dimulai dari dengusan. Dengusan yang jelek, dari hidung yang meler karena tadi menangis.

Lalu pecah.

Tawa.

Cynthia tertawa.

Di pojok kanan depan lift yang mati, dengan punggung menempel ke dinding dan tangan masih mencengkeram pegangan besi, dengan air mata yang belum kering di pipinya, dia tertawa. Tawa yang jelek. Tawa yang terlalu keras. Tawa yang nggak berbentuk, nggak dilatih, nggak berhenti di detik ketiga.

Tawa yang, dua tahun kemudian, akan aku dengar lagi di Kedai Ruang Tunggu, sesudah dia menghabiskan level sembilan sampai kuahnya.

Aku menyanyi sampai lagu habis.

Fals sampai nada terakhir.

Dan waktu aku berhenti, lift itu nggak hening lagi.

Lift itu penuh tawa.


Kami terjebak tiga jam.

Tiga jam di lift gelap di antara lantai dua puluh dua dan dua puluh tiga. Teknisi gedung baru bisa membuka pintu jam dua belas lewat lima belas, dengan linggis dan senter dan wajah yang sangat minta maaf.

Tapi tiga jam itu nggak terasa seperti tiga jam.

Dino membagikan keripik singkongnya. Satu bungkus, dibagi enam. Lalu dia mengeluarkan bungkus kedua dari tasnya. Lalu bungkus ketiga. Ternyata Dino selalu membawa tiga bungkus keripik ke mana pun, buat keadaan darurat. Itu pertama kalinya aku mendengar Dino memakai kata darurat untuk makanan.

Diana mengeluarkan senter kecil dari tasnya, dan dengan senter itu dia membuka buku catatan batiknya dan menulis nama kami satu per satu. Supaya kalau kita mati, ada yang tahu siapa aja yang ada di sini, katanya. Erga bilang kita nggak akan mati. Diana bilang itu kata semua orang di film sebelum mereka mati. Erga tertawa lagi.

Yura bercerita soal berita yang dia bacakan minggu itu. Soal anak di Papua yang berjalan dua jam ke sekolah. Suaranya tenang, seperti suara anchor, dan entah kenapa, di lift yang gelap, suara itu membuat semua orang merasa aman.

Erga bercerita soal map tebal di dadanya. Proposal program pertamanya. Dia takut proposal itu ditolak. Diana membacanya dengan senter, sepuluh menit, lalu bilang halaman tiga terlalu panjang, halaman tujuh bagus, buang halaman sembilan. Erga menatapnya seperti menatap malaikat.

Dan Cynthia.

Cynthia duduk di lantai lift di sebelahku, sesudah napasnya kembali normal, dengan sepatu hak dilepas dan kaki diluruskan.

“Makasih,” bisiknya.

“Buat apa?”

“Nyanyiannya.” Dia menatapku di kegelapan. “Yang fals.”

“Yang pertama nggak?”

Dia diam sebentar.

“Yang pertama bagus banget,” katanya pelan. “Tapi bikin aku takut. Kayak... kayak itu lagu buat orang yang mau pergi.”

Aku diam.

“Yang fals,” lanjutnya, “bikin aku ketawa. Bikin aku lupa aku lagi di lift.” Dia tersenyum. Aku nggak bisa melihatnya, tapi aku dengar senyumnya. Senyum punya bunyi. Napas yang sedikit lebih panjang di ujung kalimat. “Kamu sengaja, ya? Yang fals?”

Aku nggak menjawab.

Dia nggak bertanya lagi.

Dan aku memutuskan sesuatu malam itu, di lantai lift nomor empat, di sebelah perempuan bergaun merah muda yang kakinya lecet karena sepatu hak sepuluh senti.

Suara asliku bikin orang diam.

Suara falsku bikin orang ketawa.

Dan aku lebih suka orang ketawa.

Sejak malam itu, aku nggak pernah menyanyi dengan suara asliku lagi. Di depan siapa pun. Kecuali Ibu, di dapur, kadang-kadang, waktu Ibu kangen Bapak.


Jam dua belas lewat dua puluh, kami keluar dari lift.

Di koridor lantai dua puluh dua, di bawah lampu darurat, Diana membuka buku catatannya dan berkata, “Kita harus bikin grup.”

“Grup apa?” tanya Erga.

“Grup WhatsApp. Biar kalau kita terjebak lagi, kita bisa saling kabarin.”

“Kita nggak akan terjebak lagi.”

“Itu kata semua orang di film sebelum mereka terjebak lagi.”

Diana membuat grup itu malam itu juga, di koridor. Dia menamainya LIFT 4 SURVIVORS.

Dua minggu kemudian, Dino mengusulkan kita makan bareng. Di kafe kecil dekat TRAC yang Dino temukan waktu mencari tempat makan yang buka sampai malam. Kafe yang punya kucing oranye dan pemilik yang rambutnya tinggal tujuh helai.

Kami makan bareng.

Dua minggu kemudian lagi, kami makan bareng lagi.

Sebulan kemudian, Diana mengubah nama grup itu jadi RUANG TUNGGU FC.

Nggak ada yang tahu FC itu singkatan apa.

Diana bilang Frustrasi Club. Dino bilang Fried Chicken. Erga bilang Friendship Committee. Yura bilang Final Cut. Cynthia bilang Film Club.

Aku nggak pernah bilang apa-apa.

Tapi di kepalaku, sejak malam itu, FC itu selalu Fals Club.


Malam ini, dua tahun kemudian, jam dua pagi, HP-ku bergetar.

Aku belum tidur. Aku sedang berbaring di kasur busa di kamar tiga kali tiga, menatap peta Kalimantan di langit-langit, dengan earbud di telinga kiri memutar lagu yang sama.

Pesan dari Cynthia.

Bukan teks. Pesan suara.

Bukan suaranya. Forward. Dari grup RUANG TUNGGU FC. Pesan suara yang dikirim dua tahun lalu, tanggal yang sama dengan malam lift nomor empat, jam dua belas lewat dua puluh dua. Dua menit sesudah kami keluar dari lift.

Pengirimnya Yura.

Aku menatap pesan itu.

Aku nggak tahu pesan itu ada.

Aku menekan play.

Suara lift. Gelap. Bergema. Desis statis dari mic HP yang terlalu dekat dengan sesuatu.

Lalu suara.

Suara laki-laki. Rendah. Hangat. Menyanyi.

Tujhe Dekha To.

Dengan suara asli.

Setiap nada tepat. Setiap tarikan napas di tempat yang seharusnya. Naik pelan-pelan di bagian tengah. Tinggi dan jernih di bagian reff.

Suaraku.

Dari dua tahun lalu. Dari lift nomor empat. Sebelum Dino bilang kayak lagu terakhir di film kapal tenggelam.

Rekaman itu berhenti di tengah reff. Tepat sebelum Dino berbisik.

Di bawah pesan suara itu, ada teks dari Yura. Dua tahun lalu. Yang nggak pernah aku baca, karena dua menit sesudahnya, Dino membanjiri grup dengan empat puluh tujuh stiker dan meme soal keripik singkong.

Yura (2 tahun lalu): aku rekam diem-diem tadi
Yura (2 tahun lalu): yang pertama
Yura (2 tahun lalu): sebelum dia sengaja fals
Yura (2 tahun lalu): sayang kalau nggak ada yang nyimpen

Aku menatap pesan itu.

Lalu HP-ku bergetar lagi.

Cynthia: man
Cynthia: aku scroll grup sampai paling atas
Cynthia: 2 tahun
Cynthia: butuh 40 menit
Cynthia: dino ngirim terlalu banyak stiker

Aku tersenyum ke layar.

Cynthia: ini kamu?

Aku menatap pertanyaan itu lama.

Lalu aku mengetik.

Aku: iya

Titik-titik mengetik muncul. Hilang. Muncul.

Cynthia: aku inget
Cynthia: di lift
Cynthia: kamu nyanyi bagus banget
Cynthia: terus aku makin takut
Cynthia: terus kamu nyanyi fals
Cynthia: terus aku ketawa

Cynthia: aku pikir yang bagus itu cuma imajinasiku
Cynthia: soalnya sejak itu kamu nggak pernah nyanyi bagus lagi
Cynthia: 2 tahun
Cynthia: di malming, di lobby, di hujan kemang, di dapur bu nur
Cynthia: selalu fals

Cynthia: kenapa?

Aku menatap pertanyaan itu.

Lalu aku menjawab. Jujur. Karena jam dua pagi punya aturan sendiri, dan di jam dua pagi, aku nggak bisa bohong ke dia.

Aku: soalnya suara itu bikin kamu diam
Aku: yang fals bikin kamu ketawa
Aku: aku lebih suka kamu ketawa

Lama nggak ada balasan.

Satu menit. Dua menit. Lima menit.

Aku menatap layar. Status online-nya masih menyala. Titik-titik mengetik muncul, hilang, muncul, hilang. Berkali-kali. Seperti orang yang mengetik sesuatu, menghapusnya, mengetik lagi.

Lalu, akhirnya:

Cynthia: dua tahun kamu nyanyi fals
Cynthia: di depan semua orang
Cynthia: dibilang maskot. dibilang aneh. dikatain
Cynthia: buat aku ketawa

Cynthia: dan aku bilang kamu cuma teknisi

Aku menatap pesan itu.

Aku: cyn
Aku: nggak ap—

Aku berhenti.

Aku menatap tiga huruf yang sudah aku ketik. Nggak ap—

Jangan bilang nggak apa-apa. Aku udah belajar dengar.

Aku menghapusnya.

Huruf demi huruf.

Lalu aku menatap kotak teks yang kosong.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku nggak punya preset.

Jadi aku mengetik yang benar.

Aku: iya
Aku: itu sakit

Kirim.

Aku menaruh HP di dada. Menatap peta Kalimantan.

Itu pertama kalinya aku bilang itu. Ke siapa pun. Bahkan ke Ibu, di dapur, di depan mangkuk bakso level satu, aku nggak bilang itu. Ibu cuma lihat kupingku. Ibu cuma bersenandung lebih keras.

Itu sakit.

Dua kata. Nggak ada konsep. Nggak ada partikel.

HP di dadaku bergetar.

Cynthia: makasih udah bilang

Cynthia: aku tahu itu susah buat kamu
Cynthia: bilang sakit
Cynthia: kamu orang yang selalu bilang nggak apa-apa

Cynthia: aku juga
Cynthia: kita berdua

Aku membaca pesan itu. Lalu membacanya lagi.

Cynthia: man
Cynthia: aku mau dengar suara itu sekali lagi
Cynthia: bukan rekaman. langsung

Aku: sekarang?

Cynthia: bukan sekarang
Cynthia: nanti
Cynthia: kalau aku udah jalan di sebelahmu

Aku membeku.

Kalau kamu udah berani jalan di sebelahku.

Kalimatku. Di bioskop setengah kosong di Depok. Di bawah cahaya biru credit roll. Waktu dia bertanya sepuluhnya apa.

Dia ingat.

Titik-titik mengetik muncul lagi.

Cynthia: besok pagi
Cynthia: lobby
Cynthia: jam 8 lewat 10

Aku: abis sapa pagi?

Cynthia: pas sapa pagi
Cynthia: segmen terakhir
Cynthia: jangan tanya kenapa

Cynthia: satu lagi

Cynthia: jangan lewat tangga darurat
Cynthia: naik lift

Aku menatap layar.

Lalu aku menatap telinga kiriku di pantulan layar yang gelap. Earbud putih. Lagu yang sama.

Aku: lift nomor berapa?

Titik-titik mengetik muncul. Lama.

Cynthia: empat

Aku tertawa.

Sendirian. Di kamar tiga kali tiga. Jam dua pagi. Tawa yang rendah dan serak, dari dada, yang membuat HP di atas dadaku bergetar.

Dari balik dinding, aku dengar Ibu, yang ternyata belum tidur, yang ternyata dari tadi mendengar, bergumam:

“Kupingnya gerak lagi itu pasti.”

Aku menyentuh telingaku.

Panas.

Dan bergerak. Sedikit. Ke atas.

Bukan karena aku bohong.

Karena aku senang.

Ternyata kupingku juga gerak kalau aku senang. Ibu nggak pernah bilang soal itu. Mungkin Ibu nggak tahu.

Atau mungkin Ibu tahu, dan Ibu cuma menunggu sampai aku menemukannya sendiri.