Chapter Twenty One
Tiga Meter dari Lift
POV: Salman
Aku mulai menghitung tanpa sadar.
Itu kebiasaan teknisi. Kalau ada pola, kamu catat. Kalau ada frekuensi yang muncul berulang, kamu tandai. Kamu nggak harus melakukan apa-apa dengan catatan itu. Kamu cuma mencatat, karena suatu hari mungkin kamu butuh.
Senin. Lobby, jam lima empat puluh. Cynthia masuk dari pintu putar. Aku masuk dari tangga darurat. Dia melihatku, tersenyum kecil, lalu jalan ke lift. Jarak terdekat kami: sebelas meter.
Selasa. Kantin, jam dua belas. Meja bundar sudut kanan. Dia duduk di sebelah Yura. Aku duduk di seberang, sesuai SOP. Kaki kami bersentuhan di bawah meja selama dua puluh tiga menit. Di atas meja, dia nggak menatapku sekali pun.
Rabu. Koridor lantai dua belas, jam tiga. Aku mengantar mic cadangan ke studio enam. Dia keluar dari ruang rias bersama Sasa. Kami berpapasan. Dia menatap lurus ke depan. Aku menatap lurus ke depan. Waktu kami lewat bersebelahan, jari kelingkingnya menyentuh jari kelingkingku. Sepersekian detik. Lalu dia terus berjalan, dan tertawa pada sesuatu yang Sasa bilang.
Kamis. Lobby, jam tujuh malam. Aku menunggu di dekat tangga darurat, mau turun ke basement. Dia keluar dari lift bersama Mbak Rini dari marketing, membahas segmen Jumat Manis minggu depan. Dia melihatku. Lalu dia berhenti, bilang sesuatu ke Mbak Rini, dan berjalan ke arah yang berlawanan. Ke resepsionis. Pura-pura menanyakan paket.
Tujuh menit kemudian, dia muncul di basement B2. Di blind spot Zona D. Memelukku dari belakang sampai Wati hampir jatuh dari standarnya.
Polanya jelas.
Di tempat yang ada orang, aku tiga meter. Minimal. Di tempat yang nggak ada orang, aku nol meter.
Aku nggak keberatan.
Itu harus aku jelaskan dengan benar, karena aku tahu kedengarannya seperti aku keberatan. Aku nggak. Aku sudah bilang ke Cynthia di basement Zona C: aku nggak butuh orang lain tahu. Aku sudah tahu. Wati sudah tahu. Itu cukup.
Dan itu benar. Kebanyakan hari, itu benar.
Aku cuma mencatat. Karena itu kebiasaan teknisi.
Dan karena, Selasa sore minggu lalu, di tangga darurat lantai dua puluh, waktu aku membawakan bakso untuk Erga yang duduk sendirian sesudah ronde tiga, Erga mengatakan sesuatu yang belum bisa aku masukkan ke laci mana pun.
“Untung Cynthia single,” katanya, sambil menyuap bakso dengan wajah lesu. “Bayangin kalau dia punya pacar, Man. Pacarnya pasti makan hati tiap Jumat, lihat aku jatuhin telur di sebelah dia. Kasihan.”
Aku nggak menjawab. Aku cuma menyodorkan sambal.
Cynthia single.
Dia pasti bilang itu ke Erga. Waktu Erga tanya. Mungkin di pantry. Mungkin di set. Mungkin di tempat yang ada orang lain.
Aku nggak marah. Aku sudah bilang nggak apa-apa. Aku yang setuju. Aturan satu, jangan bilang siapa-siapa. Kalau Erga tanya dan dia bilang aku punya pacar, Erga pasti tanya siapa. Dan jawabannya aku. Dan itu melanggar aturan satu.
Jadi dia bilang single. Itu logis. Itu sesuai SOP.
Tapi waktu aku pulang malam itu, Ibu menatapku dari balik panci kaldu dan bertanya, “Kenapa kupingmu diam aja dari tadi?”
“Maksudnya, Bu?”
“Biasanya kalau kamu pulang abis ketemu dia, kupingmu gerak-gerak kayak antena. Hari ini diam.”
Aku menyentuh telingaku.
Diam.
Hari Jumat, jam lima sore, Dino datang ke master control membawa kotak bekal transparan berisi telur rebus, alpukat, dan sesuatu yang kelihatan seperti rumput.
“Keto,” katanya, dengan wajah orang yang baru kehilangan anggota keluarga. “Hari kedua.”
“Kenapa keto?”
“Dokter bilang kolesterol gue tinggi. Gue harus diet.” Dia duduk di kursi abu-abu Pak Darto, menatap telur rebus itu dengan kebencian murni. “Tadi malam gue mimpi dikejar martabak. Martabaknya ngomong. Martabaknya bilang Dino, kenapa kamu ninggalin aku.”
“Martabaknya rasa apa?”
“Keju cokelat. Yang paling setia.” Dino menggigit telur rebus. Mengunyah. Menelan. Matanya berkaca-kaca. “Man. Ini nggak ada rasanya. Telur rebus itu makanan orang yang udah menyerah sama hidup.”
Raka, dari pojok ruangan, menyodorkan sachet garam. Dino menerimanya dengan dua tangan, seperti menerima obat dari dokter.
“Gue kuat,” katanya, menaburkan garam ke telur. “Gue Dino Prasetyo. Gue pernah makan level sembilan.”
“Kamu kalah di level sembilan,” kataku.
“Gue kalah dengan terhormat.”
Jam enam kurang lima belas, aku turun ke lobby.
Bukan ke basement. Ke lobby. Karena tadi siang Pak Jono, satpam pagi, menitipkan bungkusan nasi uduk untuk Pak Slamet, satpam malam, dan aku janji mengantarnya. Pak Jono dan Pak Slamet itu sahabat sejak SMP, tapi shift mereka nggak pernah bertemu, jadi mereka berkomunikasi lewat titipan. Nasi uduk. Pisang goreng. Kadang surat. Aku pernah tanya isi suratnya. Pak Slamet bilang itu rahasia laki-laki. Aku curiga isinya jadwal pertandingan bola.
Lobby jam enam kurang lima belas itu ramai. Jam pulang kantor. Orang-orang mengalir dari lift ke pintu putar seperti air dari keran yang dibuka penuh. Kemeja, blazer, tas laptop, HP di tangan.
Aku menyerahkan nasi uduk ke Pak Slamet. Pak Slamet menerimanya dengan haru.
“Jono masih inget aku suka sambel kacang,” katanya, membuka bungkusannya sedikit dan mengintip ke dalam.
“Dia bilang jangan lupa minum obat darah tinggi, Pak.”
Pak Slamet mendengus. “Dia yang darah tinggi. Dia nonton bola sambil teriak-teriak.”
Lalu seseorang memanggilku dari belakang.
“Man!”
Aku menoleh.
Yura berjalan ke arahku dari arah lift. Blazer hitam, kemeja putih, tas kerja di bahu. Wajahnya sedikit lelah, tapi senyumnya terang. Di belakangnya, di depan lift, banyak orang yang menoleh mengikuti langkahnya, seperti bunga matahari mengikuti matahari.
“Kamu mau pulang?” tanyanya.
“Mau ke basement. Wati di B2.”
“Wati lewat Senopati?”
Aku berpikir. “Wati lewat mana aja kalau ada kucing.”
Yura tertawa. Lalu dia menggigit bibir, sedikit ragu, gerakan yang jarang aku lihat dari Yura. “Sopirku demam. Dari tadi pagi. Dia nggak bisa jemput. Aku udah coba pesan taksi online, tapi jam segini...” Dia mengangkat HP-nya. Layar aplikasi taksi menampilkan mencari pengemudi dengan animasi kaca pembesar yang berputar-putar. “Udah dua puluh menit.”
“Mobilmu sendiri?”
“Mogok. Aki-nya soak. Lagi di bengkel.”
Aku menatapnya. Lalu menatap aplikasi itu.
“Boleh nebeng?” tanya Yura. “Sampai Senopati aja. Nanti aku bayar pakai bakso.”
“Bakso Pak Kumis?”
“Bakso apa aja yang kamu mau.”
“Wati nggak minta bayaran,” kataku. “Wati suka tamu.”
Aku menyerahkan helm merah muda dari jok Wati ke Yura.
Itu helm cadangan. Punya Wati. Helm untuk tamu. Helm yang dipakai Cynthia malam pertama dia naik Wati, sebelum dia membeli helm putih berstiker kelinci sendiri.
Aku nggak memikirkannya waktu menyerahkannya. Itu cuma helm. Satu-satunya helm cadangan yang aku punya.
Yura memakainya. Helm merah muda dengan stiker kelinci di samping. Dia memasang tali dagunya, lalu membuka kaca helmnya ke atas.
Dia nggak menurunkannya.
Dia nggak pakai masker. Dia nggak pakai kacamata hitam. Dia nggak menunggu sampai basement atau gang sepi. Kami di depan lobby, karena Yura bilang malas turun ke B2 dan aku bisa menjemputnya di drop-off depan. Jadi aku membawa Wati naik dari basement, memutar ke depan, dan berhenti di depan pintu putar.
Jam enam. Jam paling ramai.
Yura naik ke jok belakang.
Di depan lobby TRAC Tower. Di depan puluhan karyawan yang keluar dari pintu putar. Di depan Pak Slamet yang sedang memegang nasi uduk. Di depan layar LED raksasa di dinding lobby yang sedang memutar promo TRAC Malam dengan wajah Yura sendiri, tersenyum tenang, sepuluh meter tingginya.
Orang-orang menoleh.
Aku bisa mendengar mereka. Telinga kananku, yang buat dunia, menangkap semuanya. Bisik-bisik. Itu Mbak Yura? Naik motor? Sama siapa? Itu yang hoodie anime itu, kan? Yang ojek kantornya Mbak Cynthia? Kok Mbak Yura juga?
Yura mendengarnya juga. Aku tahu. Aku bisa merasakan dia mendengarnya, dari cara dia diam sebentar di jok belakang.
Lalu dia melingkarkan tangannya di pinggangku.
Bukan ujung jaket. Bukan dua jari. Pinggang. Langsung. Erat. Tanpa ragu.
“Kalau Wati ngerem mendadak,” katanya, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar pintu putar, “aku pegangan di sini aja, ya.”
Aku menatap lurus ke depan.
Di depan Wati, di dekat pos satpam, duduk seekor kucing putih. Kucing yang setiap pagi duduk di pos Pak Jono seperti pegawai tetap. Kucing itu sekarang sedang menjilati kakinya di tengah jalur drop-off.
“Wati cuma ngerem kalau lihat kucing,” kataku.
Yura menoleh ke depan. Melihat kucing putih itu.
“Itu kucing,” kataku. “Pegangan.”
Dia tertawa. Tawa yang keras, keluar dari hidung dulu, lalu pecah. Juara tiga di klasemen, yang mungkin sekarang naik ke juara dua. Tangannya di pinggangku makin erat.
Dan di depan lobby TRAC Tower, jam enam sore, di depan puluhan orang dan layar LED raksasa dan Pak Slamet yang memegang nasi uduk, Yura Kirana tertawa dengan kaca helm terbuka di atas motor listrik putih bermata anime.
Kucing putih itu akhirnya pindah ke pinggir. Wati melaju pelan.
Di kaca spion kiri Wati, aku melihat sesuatu.
Pintu kaca lobby. Di baliknya, di dekat pilar besar di tengah lobby, berdiri seseorang. Blazer krem. Rambut panjang. Gelas kopi di tangan kanan.
Cynthia.
Dia berdiri diam. Gelas kopinya di udara, setengah jalan ke bibir, tapi nggak bergerak. Dia menatap ke luar, ke drop-off, ke Wati, ke Yura yang tertawa dengan kaca helm terbuka dan tangan melingkar di pinggangku.
Dia nggak tersenyum.
Wajahnya nggak marah. Nggak sedih. Wajahnya diam. Wajah orang yang sedang melihat sesuatu yang sangat sederhana dan sangat jelas, dan baru menyadari bahwa dia sendiri nggak pernah melakukannya.
Lalu Wati berbelok ke jalan raya, dan kaca spion kehilangan sudutnya, dan pintu kaca lobby menghilang.
Perjalanan ke Senopati dua puluh lima menit.
Yura banyak bicara. Soal TRAC Malam. Soal casting host Wajah Malam yang diulang, yang panelnya sekarang tiga orang dari TRAC, dan dia sudah dipanggil wawancara kedua minggu depan. Soal episode empat puluh tujuh anime yang sedang dia tonton dari spreadsheet, di mana ada karakter yang mati dan dia menangis di kamar mandi apartemennya yang belum punya gorden.
Aku mendengarkan. Aku menjawab. Aku menekan klakson di perempatan Mampang, dan bapak ojek berkumis itu berjoget, lalu menatap Yura di jok belakang dengan wajah bingung, lalu menatapku dengan wajah yang lebih bingung lagi.
Aku pura-pura nggak lihat.
Di depan apartemen Yura di Senopati, dia turun. Melepas helm merah muda. Menyerahkannya kembali.
“Makasih, Man.”
“Bilang makasihnya ke Wati.”
Dia menatap Wati. “Makasih, Wati.” Lalu dia menatapku lagi. Lama. Ada sesuatu di matanya yang aku nggak bisa baca dengan jelas, karena lampu lobby apartemennya terlalu terang di belakangnya. “Man.”
“Hm.”
“Tadi, di depan lobby. Cynthia lihat.”
Aku diam.
“Kamu tahu dia lihat,” kata Yura. Bukan pertanyaan.
“Aku lihat dari spion.”
Yura mengangguk pelan. Lalu dia tersenyum, senyum kecil yang miring. Tapi senyumnya nggak sampai ke mata.
“Kamu tahu nggak,” katanya, “aku nggak pernah lihat Cynthia naik Wati tanpa helm kaca gelap. Nggak sekali pun. Bahkan di video gosip yang di Mampang itu, dia baru buka kaca helmnya di tengah lampu merah. Bukan di depan lobby.”
Aku nggak menjawab.
“Aku cuma bilang,” lanjutnya pelan. “Aku nggak bilang apa-apa. Aku cuma bilang.”
Dia berbalik dan berjalan masuk ke lobby apartemennya.
Aku duduk di atas Wati di depan apartemen Yura, di Senopati, lama. Helm merah muda di pangkuanku. Stiker kelinci di sampingnya.
Lalu HP-ku bergetar.
Cynthia: man
Cynthia: kamu masih di jalan?
Aku: di senopati. abis nganter yura. sopirnya demam
Cynthia: oh
Cynthia: oke
Dua centang biru. Titik-titik mengetik muncul. Hilang. Muncul. Hilang.
Cynthia: jam 8 kamu masih di kantor?
Aku menatap jam di HP. Tujuh lewat lima.
Aku: bisa balik
Cynthia: master control
Cynthia: kosong kan jam segini?
Aku: raka pulang jam 7. pak bambang jam 6
Aku: kosong
Cynthia: oke
Cynthia: aku ke sana
Master control jam delapan malam itu tempat yang paling sunyi di TRAC Tower.
Layar-layar di dinding masih menyala, memutar siaran malam. TRAC Prime di kanal satu. Film India yang di-dubbing di kanal dua, yang entah kenapa selalu jadi film India setiap Jumat malam, dan aku curiga Pak Bambang sengaja menjadwalkannya. Iklan sabun di kanal tiga. Tapi semua tanpa suara. Konsol audio diam. Lampu-lampu kecil di fader berkedip hijau pelan, seperti napas orang tidur.
Pintu diketuk. Dua kali.
Aku membukanya.
Cynthia masuk tanpa bicara. Dia menutup pintu di belakangnya. Mengunci. Lalu dia berdiri di sana, di ambang pintu, membelakangi kaca kecil persegi panjang, dan menatapku.
Dia masih pakai blazer krem dari siaran pagi. Riasannya sudah sedikit luntur. Rambutnya diikat asal.
“Hai,” katanya pelan.
“Hai.”
Diam.
Aku menunggu. Aku sudah belajar, dari dua tahun mendengarkan napasnya di channel tujuh, bahwa Cynthia butuh beberapa detik sebelum mengatakan sesuatu yang penting. Napasnya akan berubah dulu. Tarikannya akan lebih panjang. Lalu dia akan bicara.
Napasnya berubah. Tarikannya lebih panjang.
Tapi dia nggak bicara.
Dia berjalan ke arahku. Tiga langkah. Berhenti di depanku. Menatap hoodie-ku. Hoodie hari ini warna ungu muda, bergambar seekor kucing gemuk yang sedang tidur di atas tumpukan buku dengan gelembung zzz di atas kepalanya.
Lalu dia memelukku.
Erat. Wajahnya di dadaku, di atas kucing tidur. Kedua tangannya di punggungku, mencengkeram kain hoodie. Dia memelukku seperti orang yang takut sesuatu akan hilang kalau dia melepasnya.
Aku memeluknya balik. Pelan. Satu tangan di punggungnya. Satu tangan di belakang kepalanya.
“Kamu kenapa?” tanyaku.
“Nggak.” Suaranya teredam di dadaku. “Nggak apa-apa.”
Aku menatap layar-layar di dinding di atas kepalanya. Film India di kanal dua. Seorang perempuan berlari di padang bunga kuning, gaunnya berkibar, menuju seorang laki-laki yang membuka kedua lengannya.
Nggak apa-apa.
Itu kalimatku.
Dan sekarang aku mendengarnya dari sisi yang lain. Aku mendengar bagaimana bunyinya. Cepat. Ringan. Tanpa jeda. Dan di bawahnya, di frekuensi yang hampir nggak terdengar, ada sesuatu yang ditahan.
Jadi itu bunyinya.
Aku nggak bilang apa-apa soal itu. Aku cuma memeluknya lebih erat.
Dia mengangkat kepala setelah beberapa menit.
Matanya sedikit merah. Bukan menangis. Belum. Tapi hampir.
“Man,” katanya.
“Hm.”
“Yura pakai helm pink.”
Aku diam sebentar. “Itu helm cadangan. Cuma itu yang ada.”
“Aku tahu.” Dia menggigit bibir. “Aku tahu itu helm cadangan. Aku nggak marah. Aku cuma...” Dia berhenti. “Kaca helmnya kebuka.”
“Iya.”
“Di depan lobby.”
“Iya.”
“Jam enam. Jam paling rame.”
“Iya.”
Dia menatapku. Lama.
“Aku nggak pernah buka kaca helm di depan lobby,” katanya pelan. Dan aku dengar suaranya turun setengah langkah di kata pernah, seperti orang yang menginjak anak tangga yang ternyata lebih rendah.
Aku nggak menjawab. Aku nggak tahu harus menjawab apa. Nggak apa-apa sudah dia pakai. Aku nggak keberatan itu benar, tapi bukan itu yang dia butuhkan sekarang.
Jadi aku melakukan yang aku tahu.
Aku menunduk. Dan aku menciumnya.
Kali ini aku yang mulai. Bukan dia yang menarik tali hoodie. Aku menunduk, pelan, memberinya waktu untuk mundur kalau dia mau. Dia nggak mundur. Dia mengangkat dagunya sedikit, dan bibir kami bertemu.
Lebih lama dari di Zona D. Lebih pelan. Dia menggenggam hoodie-ku di bagian dada, tepat di atas kucing tidur, dan aku bisa merasakan jari-jarinya gemetar sedikit lewat kain.
Di layar kanal dua, perempuan bergaun itu sampai di pelukan laki-laki di padang bunga kuning. Musiknya pasti naik, tapi aku nggak bisa dengar, karena konsol mati.
Aku cuma dengar napasnya.
Dan napas itu, untuk pertama kalinya sejak dia masuk ruangan, tenang.
Ceklek.
Bunyi kunci pintu.
Kami berdua membeku.
Ceklek. Ceklek. Lalu bunyi kartu akses ditempel ke panel. Bip. Lampu hijau.
Pintu master control terbuka.
Pak Darto berdiri di ambang pintu. Seragam OB biru. Ember di tangan kiri. Gagang pel di tangan kanan. Wajahnya, yang selalu tersenyum seperti orang yang baru dapat THR, membeku di tengah senyum.
Dia melihat kami.
Cynthia dengan blazer krem, wajahnya sepuluh senti dari wajahku, kedua tangannya mencengkeram hoodie kucing tidurku. Aku dengan satu tangan masih di pinggangnya.
Tiga detik nggak ada yang bergerak.
Lalu Pak Darto menurunkan pandangannya. Ke lantai. Pelan-pelan, sangat pelan, dia meletakkan ember di lantai. Mencelupkan pel ke ember. Memerasnya. Lalu dia mulai mengepel.
Lantai tepat di depan kakinya. Di ambang pintu.
“Saya nggak lihat apa-apa, Mas,” katanya, menatap lantai dengan sangat serius. “Saya ngepel.”
Srek. Srek. Srek.
Cynthia melepas hoodie-ku. Mundur selangkah. Wajahnya merah sampai ke leher.
“P-Pak Darto,” katanya. “Saya... ini... saya cuma mau ngambil...”
“Saya ngepel, Mbak,” ulang Pak Darto, nggak mengangkat kepala. “Saya nggak dengar juga. Saya fokus. Ini lantai kotor banget.”
Dia mengepel tempat yang sama. Ambang pintu. Satu kotak ubin.
Srek. Srek. Srek.
Lalu dia mencelupkan pel ke ember lagi. Memerasnya. Dan mengepel kotak ubin yang sama.
Srek. Srek. Srek.
Lalu, untuk ketiga kalinya, dengan konsentrasi seorang ahli bedah, kotak ubin yang sama.
Srek. Srek. Srek.
Cynthia menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku menatap Pak Darto. Pak Darto menatap ubin itu. Ubin itu sekarang adalah ubin paling bersih di seluruh TRAC Tower.
“Pak,” kataku. “Ubinnya udah bersih.”
“Belum, Mas.” Pak Darto mengangkat pel. Mengamati ubin itu dengan mata menyipit. “Ada noda.”
“Itu motif ubinnya, Pak.”
Pak Darto menatap ubin itu lebih lama. Lalu mengangguk. “Iya, Mas. Motif.” Dia memasukkan pel ke ember. Mengangkat ember. Mundur selangkah ke koridor. “Saya ke lantai lima belas dulu, Mas. Lantai lima belas juga kotor. Saya ngepelnya lama. Mungkin satu jam.”
“Pak Darto—”
“Satu jam, Mas.” Dia menatapku sebentar, dan aku melihat sudut bibirnya bergetar menahan senyum. “Kalau ada yang tanya, saya di lantai lima belas. Dari tadi. Nggak pernah ke sini.”
Dia menutup pintu.
Pelan.
Kami mendengar langkahnya menjauh di koridor. Lalu suara ember yang diletakkan di depan lift. Lalu, samar, suara siulan. Lagu Rhoma Irama. Nada A. Tempo seratus dua puluh.
Cynthia menurunkan tangannya dari wajah. Menatapku.
Lalu kami tertawa. Bersamaan. Keras. Cynthia tertawa sampai harus bersandar ke konsol, dan sikunya menekan salah satu fader, dan tiba-tiba speaker monitor di dinding menyala dengan suara film India dari kanal dua, musik orkestra yang menggelegar, dan dia menjerit kecil dan buru-buru menurunkan fader itu lagi, dan kami tertawa lebih keras.
“Pak Darto,” katanya di antara tawa. “Ya Tuhan. Pak Darto.”
“Dia bakal jaga rahasia.”
“Aku tahu dia bakal jaga rahasia.” Dia mengusap air mata di sudut matanya. “Dia ngepel satu ubin tiga kali, Man. Tiga kali.”
“Itu ubin paling beruntung di gedung ini.”
Dia tertawa lagi.
Dan di tengah tawa itu, aku menatapnya. Rambutnya berantakan. Riasannya luntur. Matanya basah karena tertawa, bukan karena hal lain. Tangannya menutup mulut, tapi tawanya keluar dari sela-sela jari, nggak berbentuk, nggak dilatih, nggak berhenti di detik ketiga.
Di sini, dia tertawa seperti ini.
Di master control yang pintunya dikunci. Di blind spot CCTV Zona D. Di bioskop setengah kosong di Depok. Di dapur warung Ibu.
Di sini, dia nol meter.
Dan aku menyimpan tawa itu di folder YANG ASLI, di samping semua tawanya yang lain. Tawa level sembilan. Tawa di perempatan Mampang. Tawa di bawah hujan Kemang.
Lalu aku membuka laci yang lain. Laci yang belum punya nama. Laci tempat aku menyimpan sebelas meter di lobby, kaki yang bersentuhan di bawah meja kantin tapi mata yang nggak menatapku sekali pun, kelingking yang menyentuh kelingking sepersekian detik di koridor, resepsionis yang ditanya soal paket yang nggak ada, aku single di pantry.
Dan sekarang, kaca helm yang terbuka di depan lobby jam enam. Bukan kaca helmnya.
Aku menyimpan semuanya di sana.
Aku nggak memberi laci itu nama.
Kalau aku memberinya nama, aku harus membacanya.
Cynthia pulang jam sembilan. Naik mobilnya sendiri. Dia bilang dia nggak mau aku mengantar, karena aku sudah ke Senopati dan bolak-balik, dan Wati pasti capek.
“Wati nggak pernah capek.”
“Kamu yang capek,” katanya. Lalu dia mencium pipiku. Cepat. Di ambang pintu master control. Lalu dia melihat ke kanan dan kiri koridor, memastikan nggak ada siapa-siapa, dan berjalan cepat ke lift.
Aku berdiri di ambang pintu.
Di ujung koridor, lift terbuka. Dia masuk. Sebelum pintunya tertutup, dia melambai.
Lalu dia hilang.
Aku masuk kembali ke master control. Duduk di kursiku. Menatap konsol yang mati. Menatap rak akrilik dengan dua puluh satu figure dan satu alas kosong yang bertuliskan LAGI TUGAS JAGA DI TEMPAT LAIN.
HP-ku bergetar.
Bukan Cynthia. Yura.
Yura: man
Yura: makasih buat tadi
Yura: wati juga. bilangin
Yura: btw aku mau nanya
Yura: spreadsheet kamu baris 40
Yura: “buat orang yang suka ketawa sambil nutup mulut”
Yura: itu buat siapa?
Aku menatap pesan itu lama.
Lalu aku mengetik.
Aku: buat semua orang yang ketawa sambil nutup mulut
Kirim.
Titik-titik mengetik muncul. Lama. Lalu hilang. Lalu muncul lagi.
Yura: oke
Yura: tapi kamu tahu kan
Yura: aku ketawa nggak pernah nutup mulut
Yura: aku ketawa dari hidung dulu, terus pecah
Yura: kamu yang bilang. juara 3
Aku menatap layar.
Aku: sekarang juara 2
Aku: tadi di depan lobby naik ke juara 2
Titik-titik muncul. Hilang. Nggak muncul lagi.
Aku menaruh HP di meja.
Di layar kanal dua, film India sudah selesai. Credit roll berjalan. Nama-nama dalam huruf Hindi naik pelan dari bawah ke atas, seperti nama-nama di film anime yang ditonton Cynthia di dalam hoodie-ku.
Aku memasang earbud di telinga kiri. Memutar Tujhe Dekha To.
Lalu aku memutarnya lagi. Dan lagi.
Sampai Pak Darto kembali dari lantai lima belas, satu jam kemudian, tepat waktu, dan mengetuk pintu dua kali sebelum masuk.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift reading
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu