Chapter Thirty Four

Ruang Tunggu Dijual

POV: Salman

Raka mengirim pesan itu hari Minggu jam enam pagi.

Aku sedang sarapan bakso di dapur. Episode 912 di HP yang disandarkan ke botol kecap. Earbud di telinga kiri. Ibu di depan kompor, menggoreng tahu untuk warung.

HP bergetar.

Raka: mas
Raka: aku harus ngaku sesuatu
Raka: aku udah nahan dari selasa
Raka: aku nggak bisa tidur
Raka: mbak cynthia minta ketemu hari minggu kemarin. abis sapa pagi. waktu mas libur
Raka: dia nanya apa yang terjadi malam gala
Raka: aku tunjukin log audio-nya mas
Raka: semuanya
Raka: bus 5. PFL. mute. IFB yang telat 26 detik. mixing 3 jam. konsol mati. mixer analog
Raka: maaf mas
Raka: aku bikin slide. pakai comic sans. aku nggak sempat ganti

Aku berhenti mengunyah.

Sendok di tanganku berhenti di udara, setengah jalan dari mangkuk ke mulut. Kuah bakso menetes kembali ke mangkuk. Tik. Tik.

Ibu menoleh dari kompor.

“Kenapa, Man?”

Aku nggak menjawab.

Aku membaca pesan Raka lagi. Satu baris. Dua baris. Sampai comic sans.

Lalu aku mengetik.

Aku: raka butuh hobi lain

Kirim.

Titik-titik mengetik muncul langsung.

Raka: mas marah?
Aku: nggak
Raka: mas bohong. kupingnya pasti gerak
Aku: kamu nggak bisa lihat kupingku dari chat
Raka: bu nur pernah cerita ke aku pas aku ke warung bulan lalu
Raka: katanya kalau mas bohong kupingnya gerak kayak kelinci

Aku menyentuh telingaku.

Panas.

Aku: aku nggak marah rak
Aku: beneran
Aku: kamu ngelakuin yang kamu pikir benar
Raka: terus mas kenapa?

Aku menatap pertanyaan itu.

Terus mas kenapa?

Aku nggak tahu jawabannya. Aku tahu aku nggak marah. Aku nggak pernah bisa marah ke Raka, yang menyodorkan gelas air mineral di tengah gala tanpa bilang apa-apa, yang mencolokkan kabel tie line di genangan kopi.

Tapi ada sesuatu di dadaku. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang bukan marah.

Takut.

Aku: dia gimana?
Raka: nangis mas
Raka: lama
Raka: terus dia duduk di tangga darurat lt 14. 1 jam
Raka: terus mas dino datang bawa martabak
Raka: terus mas dino cerita soal naruto

Aku menaruh HP di meja.

Ibu sudah mematikan kompor. Dia berdiri di depanku, sodet di tangan, menatapku.

“Man.”

“Dia tahu, Bu,” kataku.

“Siapa?”

“Cynthia.” Aku menatap mangkuk bakso. “Dia tahu semuanya. Soal gala. Soal mic. Soal Naruto.”

Ibu diam.

“Aku nggak mau dia tahu,” lanjutku pelan. “Kalau dia tahu, dia bakal merasa bersalah. Dia bakal nangis. Dia bakal datang ke aku karena merasa bersalah.” Aku menelan ludah. “Aku nggak mau dia datang karena bersalah, Bu. Aku mau dia datang karena...”

Aku berhenti.

Karena apa?

Karena dia berani? Karena dia nggak capek lagi? Karena dia sudah selesai menghitung jarak?

“Man,” kata Ibu.

Aku menatapnya.

Ibu menaruh sodet di meja. Duduk di bangku plastik di seberangku. Mengambil sendok dari mangkukku, menyendok kuah, dan mencicipinya. Seperti juri.

“Kurang garam,” katanya.

“Itu bakso Ibu.”

“Ibu tahu. Pagi ini Ibu kurang konsentrasi.” Dia menaruh sendok. “Gara-gara anak Ibu kemarin malam pulang jam lima, terus duduk di atas Wati di depan warung sampai jam sembilan, nggak nyalain mesin, nggak masuk rumah.”

Aku diam.

“Ibu lihat dari jendela,” kata Ibu. “Empat jam, Man. Kamu duduk di atas motor mati. Malam Minggu. Waktu teman-temanmu malming.” Ibu menatapku. “Kamu bilang ke mereka kamu lembur?”

“Iya, Bu.”

“Kupingmu gerak waktu ngetik?”

“Ibu nggak bisa lihat kupingku waktu aku ngetik.”

“Ibu nggak perlu lihat.” Ibu menghela napas. “Man. Kamu inget angkot D11?”

“Inget, Bu.”

“Kamu inget Ibu bilang apa? Kalau dia nggak turun?”

“Terus nyanyi. Sampai suara habis. Atau sampai angkotnya berhenti.”

“Iya.” Ibu mengangguk. “Tapi Ibu nggak bilang soal satu hal.”

Aku menunggu.

“Bapakmu nggak peduli Ibu turun karena apa,” kata Ibu pelan. “Waktu Ibu turun dari angkot itu, Ibu turun karena malu. Malu sama diri sendiri. Malu karena laki-laki itu nyanyi fals di depan seluruh pasar demi Ibu, dan Ibu masih duduk diam di dalam angkot.” Ibu tersenyum. “Itu bukan alasan yang bagus, Man. Itu bukan alasan yang romantis. Ibu turun karena merasa bersalah.”

Aku menatapnya.

“Tapi Bapakmu nggak peduli,” lanjut Ibu. “Dia nggak nanya kamu turun karena apa. Dia cuma bilang suaramu jelek banget waktu Ibu bilang suaranya jelek. Terus dia bilang iya, tapi kamu turun.” Ibu mengambil tanganku di atas meja. Tangannya hangat dan kasar, tangan yang tiga puluh tahun mengulek sambal. “Biar dia datang karena apa pun, Man. Karena bersalah, karena berani, karena kangen, karena malu. Biar aja. Yang penting angkotnya berhenti.”


Jam sepuluh pagi, Dino datang ke warung.

Dia naik ojek online dari Tebet. Turun di mulut gang. Berjalan kaki sampai warung, membawa kantong plastik besar berisi dua kotak martabak.

Dia berdiri di depan etalase warung, menatapku yang sedang menyendokkan kuah ke mangkuk pelanggan.

“Man,” katanya.

“Din.”

“Gue bawa martabak telor.” Dia mengangkat kantong plastiknya. “Level tiga.”

“Level tiga itu apa?”

“Buat orang yang mau ngubah sesuatu.” Dino menatapku. “Lo butuh protein.”

Ibu muncul dari dapur. Melihat Dino. Wajahnya langsung cerah seperti melihat anak yang pulang dari perantauan.

“Dino! Ya Allah, kamu kurusan!”

“Nggak, Bu. Saya gendutan. Keto saya gagal.”

“Kurusan. Ibu lihat dari pipinya.” Ibu menarik Dino ke meja paling dalam, mendudukkannya di bangku plastik, dan dalam tiga puluh detik, ada mangkuk bakso jumbo di depannya dengan tiga bakso urat tambahan dan dua telur. “Makan. Abis itu baru ngomong.”

Dino menatap mangkuk itu. Lalu menatap Ibu. Matanya berkaca-kaca.

“Bu,” katanya. “Saya boleh tinggal di sini?”

“Nggak boleh. Kamarnya cuma dua.”

“Saya tidur di gudang kerupuk aja, Bu.”

Ibu menatap Dino lama. “Kamu serius?”

“Nggak, Bu.” Dino menyendok bakso. “Tapi saya mempertimbangkan.”


Dino bercerita sambil makan.

Soal malming kemarin. Lima orang. Satu kursi kosong. Erga yang mengatur dengan spreadsheet dan catatan kaki. Diana yang duduk di sebelah Erga dan nggak bergeser lima senti. Yura yang menyetir mobil Cynthia karena ban mobilnya sendiri bocor.

Cynthia.

“Dia pakai sandal, Man,” kata Dino. “Sandal jepit biru. Yang dari lo.”

Aku menatap Dino.

“Dia duduk di sebelah Yura. Mereka gandengan tangan di bawah meja. Gue lihat. Gue kan duduk di seberang. Mereka kira gue nggak lihat. Gue badut, Man. Badut lihat semuanya.”

Aku nggak bilang apa-apa.

“Terus Pak Hendro ngumumin,” kata Dino. Dia menaruh sendok. Suaranya berubah. “Kafe dijual, Man. Akhir bulan ini.”

Aku membeku.

Dino menceritakan semuanya. Sewa naik tiga puluh persen. Pelanggan sepi. Lutut Pak Hendro. Anak di Solo. Dua calon pembeli. Satu mau bikin coffee shop neon. Satu mau bikin laundry.

“Dua-duanya nggak butuh meja pojok,” kata Dino pelan. “Kata Pak Hendro.”

Aku menatap etalase warung. Bakso-bakso yang ditumpuk seperti piramida. Kipas angin yang berderit. TV kecil yang memutar sinetron tanpa suara.

Kedai Ruang Tunggu.

Meja pojok dekat rak buku. Kertas RESERVED — RUANG TUNGGU FC. Si Oren di kursi teras. Freezer di bawah meja kasir dengan kantong bakso bertuliskan PUNYA SALMAN — JANGAN DIMAKAN (DINO).

Tempat Cynthia pertama kali memakai sandal jepit di bawah meja dan menarik napas panjang seperti orang baru pulang mudik.

Tempat dia menghabiskan level sembilan sampai kuahnya dan tertawa tanpa bentuk.

Tempat aku berdiri di atas kursi dan menyanyi fals supaya dua cowok di meja dekat pintu menatapku, bukan dia.

Tempat kami jadi kami.

“Tahun lalu kafe itu juga mau tutup,” kataku pelan.

“Gue tahu. Pak Hendro cerita. Lo beli kopi tiga gelas tiap hari.” Dino menatapku. “Padahal lo nggak suka kopi.”

“Kopinya pahit.”

“Terus kenapa beli?”

“Biar Pak Hendro punya pelanggan.” Aku mengangkat bahu. “Tiga gelas sehari, dua puluh hari kerja sebulan. Enam puluh gelas. Itu nggak banyak. Tapi itu cukup buat Pak Hendro mikir masih ada yang datang.”

Dino menatapku lama.

“Lo minum enam puluh gelas kopi sebulan yang lo nggak suka,” katanya pelan, “biar satu orang tua nggak ngerasa ditinggal.”

“Raka yang minum dua gelas. Aku cuma satu.”

“Tetep aja, Man.”


Aku memikirkannya sepanjang siang.

Sambil melayani pelanggan warung. Sambil mencuci mangkuk. Sambil menonton Ibu mengulek sambal di cobek besar dengan gerakan yang sabar dan teratur, tiga jam, nggak pakai blender.

Enam puluh gelas kopi sebulan nggak akan cukup kali ini. Kenaikan sewa tiga puluh persen. Pelanggan sepi. Lutut Pak Hendro.

Kafe itu butuh lebih dari pelanggan setia. Kafe itu butuh orang-orang yang belum pernah datang. Butuh kerumunan. Butuh malam di mana pemilik gedung, kalau dia lewat, bisa melihat kafe itu penuh dan berpikir oh, tempat ini masih hidup.

Dan Pak Hendro butuh alasan untuk bertahan satu tahun lagi. Alasan yang lebih kuat dari lutut yang sakit dan anak di Solo yang menunggu.

Aku menatap TV kecil di sudut warung.

Sinetron sudah selesai. Sekarang ada film. Film India yang di-dubbing. Seorang laki-laki berdiri di atas gerbong kereta, menari dengan tangan terentang, di depan kerumunan orang yang ikut menari di bawahnya.

Lalu aku menatap HP-ku. Galeri foto. Foto-foto dari Family Day. Bayu dengan Naruto. Dino dengan balon sosis. Kerumunan di plaza depan panggung.

Lalu foto dari malming bulan-bulan lalu. Diana dengan buku catatan batik, membacakan klasemen. Kucing Bollywood di hoodie-ku.

Lalu aku menatap rak di kamarku, yang bisa aku lihat dari pintu dapur yang terbuka. Rak buku setengah komik, setengah buku teknik audio Bapak. Dan di atasnya, poster anime yang pudar dari zaman SMA.

“Din,” kataku.

Dino, yang sedang makan mangkuk ketiganya, mengangkat kepala.

“Kalau kita bikin acara,” kataku. “Di kafe.”

“Acara apa?”

“Malam anime.”

Dino menatapku.

“Nonton bareng,” lanjutku. “Pakai proyektor. Layar di dinding sebelah rak buku. Orang boleh datang pakai cosplay. Ada karaoke Bollywood. Ada bakso.” Aku menoleh ke Ibu di depan cobek. “Bakso Ibu.”

Ibu berhenti mengulek.

“Tiket masuk,” lanjutku, “seratus ribu. Termasuk satu mangkuk bakso sama satu minuman dari kafe. Kalau kita bisa jual... berapa...” Aku menghitung di kepala. Kenaikan sewa tiga puluh persen. Sewa kafe ukuran itu di Jakarta Selatan. “Lima ratus tiket. Itu cukup buat nutup kenaikan sewa setahun.”

“Lima ratus orang?” Dino menatapku. “Man. Kafe itu muat empat puluh orang. Itu pun kalau Si Oren dikeluarin.”

“Nggak harus sekaligus.” Aku berpikir. “Dari sore sampai tengah malam. Bergiliran. Halaman parkirnya bisa dipakai. Kita pasang tenda. Layar kedua di luar.”

“Siapa yang mau datang?”

Aku menatapnya.

“Orang-orang TRAC,” kataku.


Dino diam lama.

Lalu dia tersenyum. Pelan. Senyum yang dimulai dari sudut bibir dan merambat sampai ke mata.

“Orang-orang TRAC,” ulangnya. “Orang-orang yang dulu ketawa lihat hoodie lo di lift.”

“Iya.”

“Orang-orang yang bilang lo maskot.”

“Iya.”

“Lo mau undang mereka?”

“Mereka suka ketawa,” kataku. “Biar mereka ketawa di kafe Pak Hendro. Bayar seratus ribu. Dapat bakso.”

Dino tertawa. Keras. Sampai mangkuk ketiganya hampir tumpah.

“Man,” katanya di antara tawa. “Lo mau jadiin diri lo sendiri sebagai jualan.”

“Itu bukan jualan. Itu konten.”

“Itu konten!” Dino menunjukku dengan sendok. “Lo ngomong kayak gue!”

Lalu dia berhenti tertawa. Menatapku. Serius.

“Butuh MC,” katanya.

“Nanti aku cari.”

“Nggak usah dicari.” Dino menaruh sendoknya. “Udah ada yang mau.”

Aku menatapnya.

“Semalam,” kata Dino pelan, “di malming. Sesudah Pak Hendro ngumumin. Cynthia bilang ke gue. Kalau lo punya ide buat nyelamatin kafe, kalau lo butuh orang...” Dino menatapku lurus. “Dia mau bantu. Apa pun. Di depan siapa pun.”

Warung sunyi.

Ibu berhenti mengulek. Kipas angin berderit. Di TV, laki-laki di atas gerbong kereta masih menari.

“Dia bilang itu?” tanyaku. Suaraku keluar lebih pelan dari yang aku mau.

“Persis kayak gitu. Di depan siapa pun.” Dino diam sebentar. “Dia ngomong itu di depan Diana, Erga, Yura, sama Pak Hendro. Nggak bisik-bisik. Nggak pakai jarak tiga meter.”

Aku menatap mangkuk bakso di meja. Mangkuk Dino. Sisa kuahnya yang sudah dingin.

Di depan siapa pun.

“Kalau dia jadi MC,” kataku pelan, “dia harus berdiri di depan orang-orang TRAC. Di acara aku. Pakai mic. Nyebut namaku.”

“Iya.”

“Mbak Rini bakal datang. Mbak Sasa. Mas Teddy. Akun gosip mungkin juga.”

“Mungkin.”

“Ibunya mungkin dengar.”

“Mungkin.”

Aku menatap Dino.

“Kenapa dia mau?” tanyaku.

Dino menatapku lama. Lalu dia mengambil kotak martabak telor dari kantong plastik. Membukanya. Menyodorkannya ke arahku.

“Tanya sendiri,” katanya. “Abis makan protein.”


Aku makan satu potong martabak telor.

Ibu duduk di sebelahku. Dino di seberang. Kami bertiga di meja paling dalam warung, di bawah kipas angin yang berderit, dengan film India yang masih menari tanpa suara di TV.

“Man,” kata Ibu.

“Hm.”

“Kalau kamu bikin acara,” kata Ibu, “Ibu yang masak.”

“Bu, lima ratus mangkuk.”

“Ibu pernah masak delapan ratus mangkuk. Waktu hajatan RT tahun 2015. Sendirian. Bapakmu cuma bantu ngangkat panci.” Ibu menatapku. “Lima ratus mangkuk itu pemanasan.”

“Bu, lutut Ibu—”

“Lutut Ibu masih lebih kuat dari lutut pemilik kafe itu.” Ibu melipat tangan di dada. “Dan Ibu punya syarat.”

Aku menunggu.

“Ibu mau ada pojok tantangan,” kata Ibu. “Level sembilan. Siapa yang habis sampai kuahnya, dapat hadiah.”

“Hadiah apa, Bu?”

Ibu tersenyum. Senyum yang lebar dan nakal. Senyum yang aku kenal, karena itu senyum yang sama dengan senyumku sendiri, kata semua orang, waktu aku sedang merencanakan sesuatu yang aneh.

“Foto bareng yang pertama kali habisin level sembilan sampai kuahnya,” kata Ibu.

Dino tersedak martabak.

“Bu,” kataku.

“Ibu mau lihat dia lagi,” kata Ibu santai, sambil berdiri dan berjalan kembali ke cobeknya. “Yang kemarin nyuci mangkuk sama kamu terus perang busa. Ibu belum sempat bilang ke dia sesuatu.”

“Bilang apa, Bu?”

Ibu mengambil ulekan. Mulai mengulek lagi. Pelan. Teratur.

“Rahasia,” katanya. “Kayak bahan sambal.”


Senin pagi, grup RUANG TUNGGU FC meledak.

Bukan karena aku. Karena Dino.

Dino: GUYS
Dino: RAPAT DARURAT
Dino: SALMAN PUNYA IDE BUAT NYELAMATIN KAFE
Dino: ANIME NIGHT
Dino: NONTON BARENG + COSPLAY + KARAOKE BOLLYWOOD + BAKSO BU NUR
Dino: TIKET 100RB
Dino: TARGET 500 TIKET
Dino: SABTU DEPAN
Dino: SIAPA MAU BANTU
Erga: aku
Erga: aku bikin spreadsheet
Diana: jangan pakai catatan kaki
Erga: sedikit aja
Diana: ...
Diana: aku bikin naskah acaranya
Diana: rundown. segmen. transisi
Diana: gratis. royalti 0 rupiah
Yura: aku urus tiket sama promosi 🤍
Yura: aku punya 40rb follower yang selama ini nggak pernah aku pakai buat apa-apa
Yura: sekarang mereka ada gunanya

Lalu, satu menit kemudian, pesan dari nomor yang nggak ada di grup.

Raka. Yang baru saja dimasukkan ke grup oleh Dino.

Raka: halo semua
Raka: aku raka. master control
Raka: aku udah bikin presentasi
Raka: volume 7: anime night — logistik, teknis, dan manajemen risiko
Raka: 58 slide
Raka: font calibri. aku udah belajar

Dino: RAKA LO BIKIN 58 SLIDE DALAM SEMALAM??
Raka: aku nggak tidur mas
Raka: aku merasa bersalah. aku butuh pelampiasan

Lalu pesan-pesan lain mulai masuk dari nomor-nomor yang juga baru dimasukkan Dino.

Pak Slamet (Satpam): Saya ikut Mas. Saya bisa jaga parkir. Saya juga bisa joget.
Pak Jono (Satpam): Saya juga ikut. Saya jaga pintu masuk. Saya lebih bisa joget dari Slamet.
Pak Slamet (Satpam): Jono jogetnya kayak orang kesetrum.
Pak Jono (Satpam): Kamu jogetnya kayak orang kesemutan.
Pak Darto (OB Lt 14): Saya bantu bersih-bersih Mas. Sama bawa kursi.
Mas Ujang (OB Lt 20): Saya mau cosplay Mas! Saya udah lama pengen cosplay! Saya mau jadi yang rambut kuning itu!
Bu Tini (Katering): Ibu bisa bantu masak. Ibu bawa kerupuk.
Bu Tini (Katering): Kerupuk bawang. Bukan udang. Ibu udah tahu.

Aku menatap grup itu.

Grup yang tiga minggu lalu sepi. Yang isinya cuma pesan Dino hari Rabu dan nggak ada balasan.

Sekarang penuh.

Dan aku menggulir ke bawah, terus, melewati pesan Pak Slamet dan Pak Jono yang sekarang saling menghina gaya joget masing-masing, melewati Mas Ujang yang mengirim foto rambut kuning dari toko wig di Pasar Baru, melewati Raka yang mengirim tautan presentasi lima puluh delapan slide.

Sampai di pesan terakhir.

Dari satu nomor. Yang sudah enam minggu nggak mengirim apa-apa ke grup ini selain maaf dan ada acara.

Cynthia: aku jadi MC

Aku menatap pesan itu.

Tiga kata.

Lalu satu pesan lagi.

Cynthia: kalau salman setuju

Grup hening.

Pak Slamet dan Pak Jono berhenti saling menghina. Mas Ujang berhenti mengirim foto wig. Raka berhenti mengirim tautan. Dino, Erga, Diana, Yura, semua diam.

Semua orang menunggu.

Aku menatap layar HP lama.

Lalu aku menatap telinga kiriku di pantulan layar yang gelap. Earbud putih. Lagu yang sama. Masih lagu yang sama.

Aku nggak tahu harus berpikir apa.

Kalau dia jadi MC karena merasa bersalah, aku nggak mau.

Kalau dia jadi MC karena Raka menunjukkan log audio dan Dino menceritakan Naruto, aku nggak mau.

Kalau dia jadi MC karena dia pikir dia berutang sesuatu ke aku, aku nggak mau.

Lalu aku teringat Ibu. Di meja dapur. Tangan yang hangat dan kasar di atas tanganku.

Biar dia datang karena apa pun, Man. Yang penting angkotnya berhenti.

Aku mengetik.

Aku: setuju

Kirim.

Grup meledak.

Dino mengirim empat puluh emoji. Pak Slamet mengirim video dirinya berjoget di pos satpam. Raka mengirim slide baru, judulnya SLIDE 59: MC SUDAH DIKONFIRMASI. Erga mengirim spreadsheet yang diperbarui. Diana mengirim satu pesan:

Diana: lima kata
Diana: akhirnya ada yang turun angkot

Aku menatap pesan Diana.

Aku nggak pernah cerita soal angkot ke Diana.

Aku menoleh ke dapur. Ibu sedang mengulek sambal di cobek, membelakangiku. Bahunya bergetar sedikit.

“Bu,” panggilku.

“Hm?”

“Ibu cerita soal angkot ke Diana?”

Ibu nggak menoleh. Dia terus mengulek. Pelan. Teratur.

“Ibu cerita ke semua orang yang datang ke warung ini,” katanya. “Ke Dino. Ke Yura. Ke Diana. Ke Erga. Ke Raka bulan lalu.” Dia diam sebentar. “Ke Cynthia juga. Di dapur. Waktu kalian perang busa.”

Aku membeku.

“Ibu bilang ke dia,” lanjut Ibu, “Ibu pernah jadi dia. Ibu pernah malu. Ibu pernah pura-pura nggak kenal Bapakmu di pasar.” Ibu berhenti mengulek. “Ibu bilang, jangan sampai kamu harus lari terlalu lama.”

Ibu akhirnya menoleh. Menatapku dari depan cobek.

“Dia lagi turun, Man,” katanya pelan. “Pelan-pelan. Angkotnya udah melambat.”


Malam itu, jam sebelas, HP-ku bergetar.

Bukan grup. Chat pribadi.

Cynthia: man

Aku menatap nama itu. Enam minggu. Enam minggu sejak kamu oke? dan oke.

Cynthia: makasih udah setuju

Aku mengetik. Menghapus. Mengetik. Menghapus.

Kamu nggak perlu jadi MC karena merasa bersalah.

Hapus.

Raka cerita kamu udah lihat log-nya.

Hapus.

Kamu nggak berutang apa-apa ke aku.

Hapus.

Akhirnya:

Aku: kenapa kamu mau?

Titik-titik mengetik muncul. Lama. Hilang. Muncul. Hilang. Muncul.

Lalu:

Cynthia: karena aku presenter
Cynthia: kerjaanku berdiri di depan orang dan bilang “ini orang yang harus kalian kenal”
Cynthia: aku udah 4 tahun ngelakuin itu buat chef, penyanyi, pejabat, artis
Cynthia: ke orang-orang yang aku nggak kenal

Jeda.

Cynthia: aku belum pernah ngelakuin itu buat orang yang aku kenal banget

Aku membaca pesan itu.

Lalu membacanya lagi.

Orang yang aku kenal banget.

Lalu satu pesan lagi masuk.

Cynthia: dan jangan bilang nggak apa-apa
Cynthia: aku udah belajar dengar
Cynthia: kamu yang ngajarin

Aku menaruh HP di dada.

Menatap peta Kalimantan di langit-langit kamar.

Di telinga kiri, earbud. Lagu yang sama. Gendang. Sitar. Suara laki-laki yang menyanyi dengan napas panjang, memanggil seseorang dari seberang sungai.

Di telinga kanan, dunia. Kipas angin. Suara jangkrik dari halaman. Suara Ibu di dapur, mencuci panci, bersenandung fals.

Dan di dada, di bawah HP, jantungku.

Fals.

Pertama kalinya dalam enam minggu.

Aku nggak membalas malam itu.

Aku nggak perlu. Aku sudah bilang setuju.

Tapi aku membuka laci di kepalaku. Laci yang aku beri nama TIGA METER. Laci tempat sebelas meter di lobby, resepsionis yang ditanya soal paket, aku single, kaca helm yang terbuka di depan lobby yang bukan kaca helmnya, kenal juga enggak terlalu.

Aku menatap laci itu.

Lalu, untuk pertama kalinya, aku memasukkan sesuatu yang lain ke sana. Sesuatu yang bukan luka.

Orang yang aku kenal banget.

Laci itu sekarang terasa sedikit lebih ringan.