Chapter Thirty Five
Anime Night
POV: Cynthia
Jam tiga sore, hari Sabtu, Kedai Ruang Tunggu sudah bukan Kedai Ruang Tunggu.
Halaman parkir depan, yang biasanya cuma muat delapan mobil dan satu Wati, sekarang ditutup tenda putih besar pinjaman dari divisi outside broadcast TRAC. Pak Bambang yang meminjamkannya. Dia bilang tenda itu nganggur sejak liputan banjir bulan lalu, dan dia lebih suka tenda itu dipakai untuk bakso dan kartun daripada dimakan tikus di gudang.
Di bawah tenda, ada layar proyektor besar yang digantung di rangka besi. Di depannya, tiga puluh kursi plastik warna-warni pinjaman dari Bu Tini, yang ternyata punya akses ke gudang perlengkapan katering seluruh gedung.
Di dalam kafe, meja-meja digeser ke pinggir. Rak buku tetap di tempatnya, karena Pak Hendro bilang rak buku itu jiwa kafe ini dan nggak boleh disentuh. Di dinding sebelah rak buku, ada layar kedua. Lebih kecil. Proyektor portabel milik Raka.
Dan di pojok kanan halaman, di bawah tenda kecil berwarna merah yang ditulisi spidol besar-besar POJOK TANTANGAN — LEVEL 9 — BU NUR, ada meja panjang dengan tiga panci kaldu raksasa, satu toples kaca berisi sambal merah tua yang berkilau, dan seorang perempuan pendek gemuk berdaster bunga-bunga dan celemek ayam jago, berdiri dengan kedua tangan di pinggang seperti jenderal yang menunggu pasukan.
“Ibu udah masak dari jam dua pagi,” kata Bu Nur waktu aku menghampirinya. “Lima ratus mangkuk. Ibu bawa pakai mobil bak Pak RT.”
“Bu, lutut Ibu—”
“Lutut Ibu baik.” Dia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu berhenti di kakiku.
Sandal jepit biru.
Bu Nur tersenyum. Senyum yang lebar dan nakal.
“Bagus,” katanya. “Sandalnya bahagia.”
Diana membuat rundown setebal dua belas halaman.
Dia menyerahkannya kepadaku jam empat, di dalam kafe, sambil berdiri di depan rak buku dengan buku catatan batik di tangan kirinya dan pulpen di tangan kanan.
“Segmen satu, pembukaan. Kamu. Lima menit,” katanya cepat. “Segmen dua, nonton bareng episode pilihan. Salman yang pilih. Dua puluh empat menit. Segmen tiga, karaoke Bollywood. Pak Slamet dan Pak Jono. Mereka minta jadi pembuka karaoke. Mereka udah latihan seminggu. Aku nggak tahu mereka latihan apa, tapi Pak Jono kirim video ke aku jam tiga pagi, dan aku sekarang trauma.”
“Trauma kenapa?”
“Kamu bakal lihat.” Diana membalik halaman. “Segmen empat, lomba cosplay. Kategori dewasa dan anak. Jurinya Bu Tini, Pak Darto, dan Raka. Raka minta jadi juri. Dia bilang dia butuh pengalaman menilai sesuatu selain font.”
“Segmen lima?”
“Tantangan level sembilan Bu Nur. Berlangsung sepanjang malam di pojok kanan. Kamu cuma umumin pemenangnya.” Diana menatapku dari balik kacamata. “Dan segmen penutup. Jam sebelas. Kamu. Bebas.”
“Bebas?”
“Aku nggak nulis naskah buat segmen penutup.” Diana menutup buku catatannya. “Itu bagianmu. Aku cuma penulis naskah. Ada hal-hal yang nggak bisa ditulis.”
Aku menatapnya.
“Di,” kataku. “Kamu tahu aku mau ngomong apa?”
“Aku nggak tahu,” jawab Diana. “Dan aku nggak mau tahu. Aku mau dengar bareng semua orang.”
Yura menjual tiket dalam lima hari.
Lima ratus empat puluh tiket.
Dia mengunggah satu foto di Instagram-nya hari Senin malam. Foto meja pojok Kedai Ruang Tunggu, dengan kertas RESERVED — RUANG TUNGGU FC, enam mangkuk bakso, dan sandal jepit biru di bawah salah satu kursi. Fotonya diambil Dino minggu lalu, waktu malming. Aku nggak tahu Dino memotretnya.
Takarirnya pendek.
Tempat ini menyimpan banyak hal. Termasuk aku, dua tahun ini. Sabtu depan, bantu kami menyimpan tempat ini. Anime Night di Kedai Ruang Tunggu. Link di bio. 🤍
Empat puluh ribu pengikut yang selama dua tahun cuma berkomentar soal blazer Yura tiba-tiba punya kegunaan.
Seratus tiket habis dalam satu jam.
Lalu akun-akun lain mengunggah ulang. Akun fanbase Yura. Akun Dino Doyan. Akun TikTok TRAC, yang dikelola Mbak Rini, yang ternyata, sesudah dibujuk Erga, bersedia mempromosikan acara nonprofit demi konten yang authentic. Bahkan akun @tower.gossip.jkt, akun yang dulu mengunggah video Mampang dengan takarir GODDESS TRAC DIBONCENG OJOL, mengunggah ulang dengan takarir ANIME NIGHT DI KAFE DEKAT TRAC TOWER, KATANYA ADA OJEK KANTOR BINTANG LIMA 🛵⭐.
Aku membaca takarir itu di toilet lantai dua belas, hari Rabu.
Dan aku nggak merasa takut.
Aku tertawa.
Jam lima sore, orang-orang mulai datang.
Aku berdiri di depan pintu kafe, di samping Pak Jono yang menjaga pintu masuk dengan seragam satpam yang disetrika rapi dan bando telinga kucing yang, katanya, dipinjam dari Salman. Aku memakai kaus putih, jeans, kardigan krem, dan sandal jepit biru. Rambutku diikat kuda. Riasanku tipis.
Bukan riasan Sapa Pagi.
Orang pertama yang datang adalah dua perempuan dari divisi marketing. Aku mengenali mereka. Mereka yang dulu sering berbisik di lift kalau Salman lewat dengan hoodie anehnya. Yang tawanya selalu naik di ujung, tawa orang yang mengejek tapi merasa sopan karena berbisik.
Dua-duanya memakai hoodie.
Hoodie hijau tua. Bergambar kucing gemuk memakai helm samurai.
Aku menatap hoodie itu.
“Mbak Cynthia!” kata salah satunya, tersenyum lebar. “Kami beli pakai kode SAMURAIGEMUK. Diskon dua puluh persen. Mas Salman yang kasih tahu kodenya, dulu, di lift.”
“Kami penasaran,” kata yang satu lagi. “Kami beli bulan lalu. Ternyata hoodie-nya enak banget. Bahannya tebal. Anget. Kami pakai tiap hari Jumat sekarang.”
“Teman-teman divisi kami juga beli,” tambah yang pertama. “Sekarang ada tujuh orang di marketing yang punya hoodie kucing samurai. Mbak Rini marah. Katanya divisi marketing kelihatan kayak fan club.”
Aku tertawa.
Mereka masuk, membayar tiket ke Pak Jono yang memeriksa nama mereka di daftar spreadsheet Erga dengan keseriusan petugas imigrasi, dan langsung menuju pojok tantangan Bu Nur.
Lalu yang lain mulai berdatangan.
Mas Teddy dan istrinya. Sasa, dengan pacarnya yang memakai kostum karakter anime berambut putih. Mas Gilang, operator mic, dengan istri dan dua anak kembar yang memakai cosplay kembar. Mas Herman, floor manager, yang pernah menuduh Pak Darto, membawa kue lapis sebagai buah tangan dan langsung mencari Pak Darto untuk menyerahkannya.
Fajar, anak magang wardrobe yang dulu menabrak mixer dengan Si Cicit, yang sekarang sudah lulus magang dan diterima kerja kontrak. Dia datang memakai cosplay lengkap: jubah hitam dengan awan merah. Dia membungkuk sembilan puluh derajat waktu melihat Pak Darto.
Bu Ratih dari HR. Pak Wiryo, direktur program, yang datang memakai kemeja batik dan wajah yang sedikit bingung, seperti orang yang nggak yakin apakah dia salah masuk acara. Dia berdiri di depan layar proyektor selama sepuluh menit, menonton potongan anime, lalu tiba-tiba duduk dan nggak bergerak lagi sampai jam sembilan.
Anak-anak magang dari divisi HR, yang dulu menonton Rendy pergi dari lobby dengan HP di tangan.
Orang-orang yang nggak aku kenal sama sekali. Pengikut Yura. Penonton Dino Doyan. Mahasiswa yang melihat promosi di TikTok. Seorang bapak-bapak yang datang sendirian, memakai kaus bergambar karakter anime dari tahun sembilan puluhan, yang bilang ke Pak Jono dia sudah tiga puluh tahun nonton anime sendirian dan baru kali ini ada acara nonton bareng di Jakarta Selatan yang tiketnya termasuk bakso.
Dan bapak ojek berkumis tebal.
Dari perempatan Mampang.
Dia berdiri di depan pintu kafe dengan jaket ojek online dan helm di tangan, menatapku. Dia nggak kenal aku. Dia cuma pernah melihat wajahku sekali, di balik kaca helm yang terbuka, di tengah dua puluh motor yang berjoget.
“Mbak,” katanya. “Ini acara yang ada motor putih bermata kartun itu?”
“Iya, Pak.”
“Saya lihat di TikTok.” Dia tersenyum. Kumisnya bergerak. “Saya mau beli tiket. Saya kangen joget di lampu merah. Udah enam minggu dia nggak klakson.”
Aku menatap bapak itu lama.
Lalu aku membelikannya tiket dari dompetku sendiri.
Salman ada di meja sound.
Di pojok tenda putih, di belakang deretan kursi plastik, ada meja lipat dengan mixer portabel dua belas channel. Mixer yang pernah ditabrak Si Cicit. Mixer yang dia pakai untuk mixing dua jam waktu konsol mati. Dia membawanya dari master control, karena, katanya, mixer ini udah terbukti tahan banting.
Dia memakai hoodie.
Warna oranye. Bergambar bocah berambut runcing yang sedang makan ramen dengan mata berbinar dan uap mengepul dari mangkuknya.
Hoodie nomor dua belas. Yang dia pakai di malming bakso level sembilan. Malam di mana aku menghabiskan sambal sampai kuahnya, dan dia menyeka air mataku dengan tisu, dan bertanya ini air mata pedas atau air mata terharu.
Aku tahu dia memilihnya dengan sengaja.
Dia nggak menatapku waktu aku lewat di depan tenda. Dia sedang sibuk dengan kabel. Earbud di telinga kiri. Headphone tergantung di leher.
Tapi waktu aku sudah lewat tiga langkah, aku mendengar sesuatu.
Klik. Klik.
Lampu meja kecil yang dijepit di pinggir mixer. Mati. Nyala. Mati. Nyala.
Aku nggak menoleh.
Aku nggak perlu menoleh.
Aku cuma tersenyum, dan terus berjalan, dan senyum itu bukan senyum yang dilatih.
Jam tujuh tepat, aku naik ke panggung kecil di depan layar proyektor.
Panggung itu sebenarnya cuma dua palet kayu yang ditumpuk dan ditutup karpet merah marun, karpet sisa gala yang entah gimana diselamatkan Raka dari gudang. Tingginya mungkin dua puluh senti. Tapi waktu aku berdiri di atasnya, dengan mic di tangan, menatap tenda putih yang penuh orang, aku merasa lebih tinggi dari rooftop lantai tiga puluh.
Tiga ratus orang di bawah tenda. Lebih banyak lagi di dalam kafe, menonton dari layar kedua. Lebih banyak lagi di halaman samping, berdiri antre di pojok tantangan Bu Nur.
Mic di tanganku. Mic handheld. Bukan clip-on. Nggak ada transmitter yang lampunya berkedip hijau di pinggangku tanpa aku sadari.
Aku tahu persis mic ini nyala.
“Selamat malam, semuanya!”
Suaraku keluar dari speaker-speaker di sudut tenda. Jernih. Hangat.
Aku nggak tahu apakah dia memasang kompresor di channel-ku malam ini. Aku nggak tahu apakah dia menaikkan frekuensi tengah-atas. Aku tidur delapan jam semalam. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan. Dan suaraku, di speaker itu, terdengar seperti suaraku sendiri.
Tanpa plugin.
“Selamat datang di Anime Night, di Kedai Ruang Tunggu!”
Tepuk tangan. Sorakan. Seseorang di barisan belakang meniup terompet tahun baru yang entah dari mana dia dapat.
“Malam ini,” lanjutku, “kalian bukan cuma datang buat nonton anime dan makan bakso. Malam ini kalian datang buat nyelamatin tempat ini.” Aku menunjuk ke kafe di belakang tenda. Ke lampu kuning hangat. Ke rak buku. Ke Si Oren yang tidur di kursi teras, nggak terganggu sama sekali oleh tiga ratus orang. “Kafe ini milik Pak Hendro. Dua puluh tahun. Dan dua tahun terakhir, kafe ini juga punya enam orang yang tiap dua minggu duduk di meja pojok dan nggak pernah tahu kenapa mereka bisa barengan.”
Aku melihat mereka di barisan depan. Dino, dengan ring light di tangan, siap merekam. Erga, dengan print-an spreadsheet. Diana, dengan buku catatan batik, duduk di sebelah Erga, bahu bersentuhan. Yura, dengan kardigan dan senyum kecil yang miring.
Dan di belakang tenda, di meja sound, satu siluet berhoodie oranye.
“Malam ini,” kataku, “kalian jadi bagian dari meja itu.”
Segmen dua, nonton bareng.
Salman memilih episode yang nggak aku duga. Bukan episode pertarungan. Bukan episode sedih. Episode di mana karakter utama dan teman-temannya duduk di atas kapal, di tengah laut, di bawah langit malam, dan makan bersama. Dua puluh empat menit makan, tertawa, bercanda, dan nggak ada yang terjadi.
Tiga ratus orang di bawah tenda menontonnya dalam diam.
Lalu, di menit kesembilan belas, waktu karakter utama mengangkat gelasnya dan bilang sesuatu soal teman-temannya, aku melihat Pak Wiryo, direktur program TRAC, mengusap matanya dengan ujung kemeja batik.
Segmen tiga, karaoke Bollywood.
Diana benar. Aku trauma.
Pak Slamet dan Pak Jono naik ke panggung palet kayu memakai kostum yang mereka sewa dari toko kostum di Pasar Baru. Kemeja putih berkilau dengan kerah lebar. Celana panjang warna emas. Selendang merah di leher. Dan, untuk Pak Jono, kumis palsu yang lebih tebal dari kumisnya sendiri.
Lagunya Chaiyya Chaiyya.
Tentu saja Chaiyya Chaiyya.
Mereka menari. Atau lebih tepatnya, mereka melakukan sesuatu yang mungkin mereka anggap menari. Pak Slamet bergerak seperti orang kesetrum, persis seperti yang Pak Jono bilang. Pak Jono bergerak seperti orang kesemutan, persis seperti yang Pak Slamet bilang. Di tengah lagu, mereka mencoba melakukan gerakan berputar bersamaan, dan Pak Jono berputar ke kanan sementara Pak Slamet berputar ke kiri, dan mereka bertabrakan, dan kumis palsu Pak Jono jatuh ke lantai.
Tenda meledak.
Tiga ratus orang tertawa sampai kursi plastik berderit. Anak kembar Mas Gilang jatuh dari kursi. Bapak ojek berkumis dari Mampang berdiri dan ikut berjoget di lorong antara kursi. Dua perempuan marketing dengan hoodie kucing samurai merekam sambil menangis.
Dan Salman, di meja sound, tertawa.
Aku melihatnya dari panggung. Tawa yang rendah dan serak, dari dadanya, yang aku dengar pertama kali di halte di bawah hujan. Dia menunduk di atas mixer, bahunya bergetar, satu tangan menutup mulut.
Lalu, tanpa sengaja, mungkin, dia mengangkat kepala.
Dan menatapku.
Dari belakang tenda. Dari jarak dua puluh meter. Di bawah lampu-lampu kecil yang digantung di rangka tenda.
Dia menatapku sambil tertawa.
Aku menatapnya balik.
Lalu dia buru-buru menunduk lagi ke mixer, dan aku buru-buru menatap Pak Slamet yang sedang memungut kumis palsu Pak Jono dari lantai, dan aku tahu, dari jarak dua puluh meter, bahwa telinganya merah.
Segmen empat, lomba cosplay.
Pemenang kategori dewasa: Mas Ujang, OB lantai dua puluh, dengan cosplay Naruto yang terdiri dari wig kuning dari Pasar Baru, jaket oranye pinjaman dari tukang parkir, dan ikat kepala yang dibuat dari kaleng sarden yang dipotong dan dipaku ke pita hitam. Raka, sebagai juri, memberinya nilai sepuluh dengan catatan kreativitas material di atas rata-rata. Bu Tini memberinya nilai sepuluh dengan catatan ganteng. Pak Darto memberinya nilai sepuluh tanpa catatan, karena Pak Darto menangis.
Lalu kategori anak.
Ada delapan anak di barisan depan panggung. Kembar Mas Gilang dengan cosplay kembar. Anak perempuan dengan kostum kucing. Anak laki-laki dengan kostum robot dari kardus.
Dan satu anak laki-laki, tujuh tahun, dengan kaus oranye bergambar Naruto dan ikat kepala logam bersimbol daun, yang membawa kardus sepatu yang dicat oranye dan ditempeli stiker-stiker daun.
Bu Sari berdiri di belakangnya, memegang bahunya.
“Nama kamu siapa, Dik?” tanyaku dari panggung.
“Bayu,” katanya. Suaranya kecil.
“Bayu cosplay jadi siapa?”
“Naruto,” katanya. Lalu dia membuka kardus sepatu oranye itu. Pelan. Dengan dua tangan. Seperti membuka peti harta karun.
Di dalamnya, di atas alas yang dibuat dari kain flanel hijau, berdiri sebuah action figure.
Naruto. Mode Sage. Mata kuning bergaris. Tangan membentuk segel. Jubah merah yang berkibar.
“Ini markasnya,” kata Bayu, menunjuk kardus itu. “Naruto lagi tugas jaga. Jagain aku sampai Papa pulang.”
Aku membeku di atas panggung.
Tiga ratus orang di bawah tenda menatap kardus sepatu oranye itu. Sebagian besar nggak tahu apa-apa. Sebagian kecil, yang pernah membaca utas Bu Sari di portal internal TRAC, mulai berbisik.
Dan di belakang tenda, di meja sound, aku melihat Salman berdiri.
Dia melepas headphone dari lehernya. Menaruhnya di atas mixer. Berjalan ke depan, melewati deretan kursi plastik, melewati Pak Wiryo yang masih mengusap mata, melewati dua perempuan marketing dengan hoodie kucing samurai.
Dia berhenti di depan Bayu.
Bayu menoleh. Melihat hoodie oranye bergambar bocah makan ramen. Mendongak. Melihat wajah Salman.
Matanya membulat.
“OM KODOK!”
Bayu melompat. Kardus sepatu di tangan kanannya, figure di dalamnya bergoyang. Dia memeluk pinggang Salman dengan satu tangan. Erat. Sangat erat.
Salman berjongkok. Sejajar dengan Bayu. Seperti di koridor lantai empat belas.
“Halo, Bayu.”
“Om Kodok, hoodie-nya beda!”
“Kodoknya lagi libur. Gantian sama bocah ramen.”
Bayu tertawa. Lalu dia mengangkat kardus sepatu itu ke depan wajah Salman. “Om, lihat! Naruto udah punya markas! Aku cat sendiri! Mama yang bantu tempel stiker!”
Salman menatap kardus itu. Menatap figure di dalamnya.
Lama.
“Bagus banget, Bayu,” katanya pelan. “Markasnya lebih bagus dari rak akrilik.”
“Om kangen Naruto?”
Salman diam sebentar. Lalu tersenyum.
“Om kangen,” katanya. “Tapi Om lebih senang dia di sini. Sama kamu.”
Bayu menatapnya. Lalu, dengan keseriusan anak tujuh tahun, dia bilang, “Om, kalau Om kangen, Om boleh main ke rumahku. Naruto boleh dilihat. Boleh dipegang juga.”
Salman menatap Bayu.
Lalu dia menunduk. Dan aku, dari atas panggung yang tingginya dua puluh senti, melihat bahunya bergetar sedikit.
Tiga ratus orang di bawah tenda diam.
Lalu Bu Sari, di belakang Bayu, menutup mulut dengan tangan. Lalu Bu Tini, di meja juri. Lalu Pak Darto, yang memang sudah menangis sejak Mas Ujang. Lalu dua perempuan marketing. Lalu Mas Herman. Lalu Pak Wiryo, untuk ketiga kalinya malam itu.
Dan aku, di atas panggung, dengan mic di tangan, menangis.
Di depan tiga ratus orang. Dengan mic yang aku tahu persis menyala.
Aku nggak menyembunyikan wajahku.
“Pemenang kategori anak,” kataku ke mic, dengan suara yang pecah dan basah dan sama sekali nggak sempurna, “Bayu. Dengan Naruto dan markasnya.”
Tenda meledak dalam tepuk tangan.
Jam sepuluh lewat lima belas, Erga naik ke panggung dengan print-an spreadsheet di tangan.
Dia membisikkan sesuatu ke telingaku. Aku menatapnya. Dia mengangguk. Matanya berkaca-kaca.
Aku mengangkat mic.
“Semuanya,” kataku. “Mas Erga baru dapat laporan dari bagian tiket.”
Tenda hening.
“Target malam ini lima ratus tiket,” kataku. “Buat nutup kenaikan sewa Kedai Ruang Tunggu selama satu tahun.” Aku menatap Erga. Dia menunjuk angka di spreadsheet-nya dengan jari gemetar.
“Malam ini,” kataku, “terjual lima ratus delapan puluh tiga tiket.”
Hening satu detik.
Lalu tenda itu, tiga ratus orang di bawahnya, dan dua ratus lagi di dalam kafe dan di halaman samping, meledak dalam sorakan yang membuat Si Oren, yang sejak jam lima sore tidur dengan nyenyak di kursi teras, akhirnya bangun, menatap ke arah tenda dengan wajah ya ampun, kalian lagi, dan pindah ke rumah tetangga.
Pak Hendro berdiri di ambang pintu kafe.
Dia memegang HP. Di layar HP-nya, video call. Seorang laki-laki umur tiga puluhan, dengan latar belakang ruang tamu yang sederhana. Anaknya. Dari Solo.
Pak Hendro menangis.
Dia nggak menyembunyikannya. Dia berdiri di ambang pintu kafe yang dua puluh tahun dia jaga, memegang HP, menangis dengan bahu bergetar, sementara anaknya di layar bilang sesuatu yang nggak bisa aku dengar dari panggung.
Lalu Pak Hendro mengangkat HP itu tinggi-tinggi. Mengarahkannya ke tenda. Ke tiga ratus orang. Ke layar proyektor. Ke Bu Nur di pojok tantangan. Ke Pak Slamet dan Pak Jono yang masih memakai celana emas. Ke Mas Ujang dengan ikat kepala kaleng sarden. Ke Bayu dengan kardus sepatu oranye.
Supaya anaknya bisa lihat.
Supaya anaknya tahu, kafe ayahnya masih punya orang.
Lalu Pak Hendro menurunkan HP, mendengarkan sesuatu, mengangguk, dan berteriak ke arah tenda dengan suara serak:
“SATU TAHUN LAGI!”
Jam sebelas.
Segmen penutup.
Diana menatapku dari barisan depan. Dia menutup buku catatan batiknya. Menaruhnya di pangkuan. Melipat tangan.
Itu bagianmu. Ada hal-hal yang nggak bisa ditulis.
Aku naik ke panggung palet kayu.
Tenda masih penuh. Nggak ada yang pulang. Tiga ratus orang duduk di kursi plastik, berdiri di lorong, bersandar di rangka tenda. Mangkuk-mangkuk bakso kosong di bawah kursi. Hoodie kucing samurai. Cosplay kaleng sarden. Celana emas. Kardus sepatu oranye.
Aku mengangkat mic.
“Terima kasih,” kataku. “Buat semua yang datang. Buat Pak Hendro. Buat Bu Nur, yang masak lima ratus mangkuk dari jam dua pagi.”
Tepuk tangan. Bu Nur, di pojok tantangan, mengangkat sodet ke udara seperti mengangkat piala.
“Buat Diana, yang nulis rundown dua belas halaman dan dua tahun diam-diam telepon Pak Hendro tiap Kamis.”
Diana menutup wajah dengan buku catatan batik. Erga di sebelahnya tersenyum lebar.
“Buat Erga, yang bikin spreadsheet tiket pakai catatan kaki.”
Tawa. Erga mengangkat print-an spreadsheet-nya dengan bangga.
“Buat Yura, yang jual lima ratus delapan puluh tiga tiket dari empat puluh ribu pengikut yang selama dua tahun cuma nanya blazernya beli di mana.”
Tawa lagi. Yura tersenyum. Senyum kecil yang miring. Dia menatapku dan mengangguk sekali.
“Buat Dino,” kataku, dan suaraku bergetar sedikit, “yang tiga kali datang ke meja pojok sendirian, pesan enam mangkuk, dan nggak pernah berhenti nunggu.”
Dino, di barisan depan, dengan ring light di tangan, berhenti merekam. Menurunkan HP-nya. Menatapku.
Lalu dia menutup wajah dengan tangan.
“Buat Raka, Pak Slamet, Pak Jono, Pak Darto, Mas Ujang, Bu Tini, Pak Bambang yang minjemin tenda.” Aku menarik napas. “Buat semua orang yang datang malam ini dan bikin meja pojok itu jadi meja untuk lima ratus delapan puluh tiga orang.”
Tepuk tangan panjang.
Aku menunggu sampai tepuk tangan itu reda.
Lalu aku menurunkan mic sedikit. Menunduk. Mendekatkan bibirku ke mic, sangat dekat, sampai suaraku keluar setengah berbisik dari speaker-speaker di seluruh tenda.
“Dan...”
Tenda hening.
Aku menatap ke belakang tenda. Ke meja sound. Ke siluet berhoodie oranye di balik mixer portabel dua belas channel.
Dia sudah memakai headphone lagi. Kepalanya menunduk ke mixer. Seperti malam gala.
Aku menarik napas.
“Teknisi channel tujuh,” bisikku ke mic.
Suaraku memenuhi tenda. Pelan. Setengah berbisik. Tapi setiap orang di bawah tenda itu bisa mendengarnya.
Tiga ratus orang saling menoleh. Bingung. Teknisi channel tujuh? Seseorang berbisik ke sebelahnya. Seseorang lain mengangkat bahu.
Tapi di barisan depan, Diana menurunkan buku catatannya. Erga meraih tangan Diana tanpa menoleh, dan Diana membiarkannya. Yura menutup mulut dengan tangan. Dino mengangkat HP-nya lagi, pelan, dan menekan tombol rekam.
Dan di meja juri, Raka berdiri.
Aku menatap meja sound di belakang tenda.
“Kalau dengar,” bisikku, “ketuk dua kali.”
Hening.
Tenda itu benar-benar hening. Tiga ratus orang diam. Kipas angin portabel di sudut tenda berdengung. Di kejauhan, klakson mobil di jalan raya. Si Oren mengeong sekali dari rumah tetangga.
Di meja sound, siluet berhoodie oranye nggak bergerak.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Kepalanya masih menunduk.
Aku menunggu.
Aku sudah pernah menunggu dua puluh enam detik di sisi panggung gala, dengan gaun biru tua dan earpiece yang sunyi. Aku tahu rasanya.
Empat detik.
Lima detik.
Lalu dia mengangkat kepala.
Dia menatapku. Dari belakang tenda. Dari jarak dua puluh meter. Di bawah lampu-lampu kecil di rangka tenda.
Tangannya bergerak ke mixer.
Mixer portabel dua belas channel nggak punya tombol IFB tone. Nggak punya tombol kuning di kanan bawah. Nggak punya tombol oranye di kiri atas.
Tapi mixer itu punya tone generator. Fungsi kecil untuk mengetes speaker, yang menghasilkan bunyi bip dengan frekuensi seribu hertz. Fungsi yang biasanya cuma dipakai teknisi sebelum acara, untuk memastikan semua speaker menyala.
Dan output mixer itu tersambung ke speaker-speaker di seluruh tenda.
Dia menekan tombolnya.
BIP.
Keras. Jernih. Dari setiap speaker di setiap sudut tenda. Memantul di kain tenda putih, di rangka besi, di kursi-kursi plastik, di dinding kafe.
BIP.
Dua kali.
Tenda nggak langsung bereaksi.
Tiga ratus orang menatap ke belakang tenda, ke meja sound, ke laki-laki berhoodie oranye yang barusan membunyikan dua bip keras dari semua speaker. Lalu menatap ke panggung, ke aku, yang berdiri dengan mic di tangan dan air mata mengalir di pipi.
Mereka nggak mengerti.
Sebagian besar dari mereka nggak mengerti.
Tapi Dino mengerti. Dino berdiri dari kursinya dan bertepuk tangan. Sendirian. Keras.
Lalu Erga. Lalu Diana, yang masih memegang tangan Erga, bertepuk tangan dengan satu tangan di pahanya. Lalu Yura.
Lalu Raka, di meja juri, bertepuk tangan sambil menangis. Lalu Pak Darto. Lalu Pak Slamet dan Pak Jono, yang masih memakai celana emas. Lalu Bu Nur, di pojok tantangan, mengangkat sodet ke udara.
Lalu tiga ratus orang yang nggak mengerti, tapi melihat orang-orang yang mengerti bertepuk tangan, dan melihat perempuan di atas panggung menangis dengan mic di tangan, dan melihat laki-laki berhoodie oranye di belakang tenda yang wajahnya, dari jarak dua puluh meter, bahkan di bawah lampu tenda yang redup, kelihatan merah sampai ke leher.
Mereka ikut bertepuk tangan.
Aku menatapnya.
Dia menatapku.
Dua puluh meter.
“Yang punya ide malam ini,” kataku ke mic. Suaraku pecah. “Yang pinjem mixer yang pernah ditabrak troli. Yang milih episode makan malam di atas kapal. Yang nyanyi fals di lobby buat orang yang nggak bisa nyanyi sendiri. Yang...”
Aku berhenti. Menarik napas.
“Salman Haikal,” kataku. “Teknisi audio. Lantai empat belas.”
Aku menurunkan mic.
Aku nggak bilang dia orang yang aku sayang. Belum. Ada hal-hal yang nggak boleh dikatakan di bawah tenda, di parkiran kafe, di tempat yang gelap.
Aku sudah terlalu lama mengatakan hal-hal penting di tempat gelap.
Jam dua belas kurang sepuluh, acara selesai.
Orang-orang pulang. Pelan-pelan. Membawa sisa bakso dalam kantong plastik dari Bu Nur. Membawa foto-foto. Membawa hoodie kucing samurai yang sudah bau kaldu.
Aku menemukan Salman di parkiran samping kafe. Di samping Wati.
Dia sedang menggulung kabel. Pelan. Satu putaran. Dua putaran. Mixer portabel sudah dimasukkan ke troli, ditutup kain hitam. Headphone di leher. Earbud di telinga kiri.
Aku berhenti tiga meter darinya.
Dia mengangkat kepala.
“Cynthia.”
“Salman.”
Kami saling menatap. Tiga meter. Di bawah lampu jalan yang kuning redup. Di samping motor listrik putih bermata anime.
“Aku tahu,” kataku. “Soal gala.”
“Raka butuh hobi lain.”
“Raka udah punya hobi. Dia bikin slide.” Aku tersenyum. Sedikit. “Volume enam. Pakai Comic Sans. Dia bilang maaf ke kamu soal font-nya.”
Salman diam. Lalu, pelan, sudut bibirnya naik.
“Comic Sans itu kejahatan,” katanya.
“Aku tahu. Raka juga tahu. Dia nangis waktu nunjukin ke aku.”
Salman menatap kabel di tangannya.
“Man,” kataku. “Aku mau minta maaf.”
“Kamu nggak perlu—”
“Aku perlu.” Aku menatapnya. “Aku perlu banget. Tapi aku nggak mau minta maaf di sini.”
Dia mengangkat kepala.
“Kenapa?”
Aku menatap parkiran samping kafe. Gelap. Sepi. Cuma lampu jalan yang kuning redup dan Wati dan kami berdua. Nggak ada orang. Nggak ada kamera. Nggak ada akun gosip.
Tempat yang sempurna untuk minta maaf.
Tempat yang sempurna untuk mengatakan sesuatu yang penting tanpa ada yang tahu.
“Karena di sini masih gelap,” kataku pelan. “Masih parkiran. Masih nggak ada yang lihat.” Aku menelan ludah. “Aku udah terlalu lama ngomong hal-hal penting di tempat yang nggak ada yang lihat, Man. Di basement. Di blind spot CCTV. Di bioskop setengah kosong di Depok. Di master control yang pintunya dikunci.”
Salman menatapku. Lama.
“Dan hal paling jahat yang pernah aku omongin,” lanjutku, “aku omongin di tempat yang aku kira nggak ada yang dengar.”
Hening.
“Jadi kalau aku minta maaf,” kataku, “aku mau minta maaf di tempat yang terang. Di depan orang. Di tempat yang kamu nggak harus pura-pura jadi maskot.”
Salman nggak bilang apa-apa.
Dia cuma menatapku, dari tiga meter, dengan wajah datar yang aku kenal. Dengan telinga yang, di bawah lampu jalan kuning, merah.
Lalu dia mengangguk.
Sekali. Pelan.
“Oke,” katanya.
Bukan nggak apa-apa.
Oke.
Bu Nur menemukanku sebelum aku sampai di mobil.
Dia masih memakai celemek ayam jago. Sodet masih di tangan. Wajahnya berkeringat, rambutnya berantakan, dan dia kelihatan seperti perempuan yang baru saja memasak lima ratus delapan puluh tiga mangkuk bakso dalam satu malam, karena memang begitu.
“Kamu,” katanya. “Kamu lupa sesuatu.”
“Apa, Bu?”
“Pojok tantangan. Level sembilan.” Bu Nur menunjuk tenda merah kecil di pojok halaman. “Hadiahnya foto bareng orang pertama yang habisin level sembilan sampai kuahnya.”
“Siapa yang menang, Bu?”
“Nggak ada. Tiga puluh tujuh orang coba. Nggak ada yang habis. Dino nangis lagi. Teman kantormu yang galak itu, yang pakai buku batik, dia habis setengah terus bilang dia merasa terhormat terus berhenti.” Bu Nur menatapku. “Jadi pemenangnya tetap yang lama.”
Aku menatapnya.
“Kamu,” kata Bu Nur. “Kamu pemenang. Dari dulu. Kamu yang pertama.”
Dia mengeluarkan HP dari saku celemeknya. Memegangnya dengan cara Bu Nur memegang HP: miring, terlalu tinggi, setengah menghadap langit.
“Foto,” katanya.
Aku tertawa.
Bu Nur berdiri di sebelahku. Mengangkat HP. Kamera depan. Dia memotret kami berdua, dengan sudut yang sangat buruk, yang memperlihatkan lubang hidung kami dan langit-langit tenda dan setengah kepala Wati di latar belakang.
“Bagus,” kata Bu Nur, menatap hasilnya dengan puas.
Lalu dia mendekatkan wajahnya ke telingaku. Berbisik.
“Ibu udah ulek sambalnya tiga jam,” bisiknya. “Sabar. Nggak pakai blender.”
Aku menatapnya.
“Udah siap,” kata Bu Nur pelan. “Jangan kelamaan. Nanti cabainya busuk.”
Lalu dia menepuk kepalaku. Pelan. Dua kali.
Dan berjalan kembali ke tenda merahnya, berteriak ke Salman di parkiran samping dengan suara yang membuat burung-burung di kabel listrik terbang semua:
“MAN! ANGKAT PANCINYA! JANGAN CUMA BERDIRI KAYAK TIANG LISTRIK!”
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night reading
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu