Chapter Twenty Seven
Yura Bilang Duluan
POV: Yura
Aku sampai di rooftop jam lima kurang sepuluh.
Kodenya masih 1234. Bahkan sesudah gala dua puluh lima tahun, sesudah lima ratus tamu penting, sesudah direksi dan dewan komisaris dan pejabat kementerian berdiri di sini dengan gaun dan jas, nggak ada yang mengganti kode pintu rooftop. Aku menganggap itu sebagai semacam keajaiban kecil. Atau kelalaian besar. Mungkin dua-duanya.
Rooftop sudah kembali seperti semula.
Karpet merah marun sudah digulung. Kain putih dan lampu peri di unit-unit AC sudah dicopot. Panggung sudah dibongkar. Meja-meja bundar sudah diangkut. Yang tersisa cuma lantai beton abu-abu, unit-unit AC raksasa yang berdengung, pagar pembatas besi, dan langit.
Langit sore Jakarta. Oranye di barat, ungu di timur, dan di antaranya, gradasi yang nggak punya nama.
Aku berdiri di dekat pagar sisi utara.
Seekor merpati abu-abu bertengger tiga meter dariku. Dia menatapku. Aku menatapnya. Dia berkukur dua kali, seperti bertanya kamu siapa.
“Halo,” kataku. “Kamu Pak Haji, ya?”
Merpati itu memiringkan kepala.
“Salman cerita soal kamu. Katanya kamu selalu ke sini jam lima. Kayak mau salat Asar.”
Pak Haji berkukur lagi. Lalu membuang muka, menatap ke arah gedung sebelah, seperti nggak tertarik.
Aku tersenyum. Dia memang persis seperti yang Salman ceritakan.
Lalu aku menarik napas. Panjang. Kayak mau baca berita panjang.
Aku sudah latihan. Semalam, di apartemen yang belum punya gorden, di depan cermin kamar mandi. Aku latihan seperti latihan membaca berita. Kalimat pembuka. Isi. Penutup. Aku tahu apa yang mau aku bilang. Aku tahu urutannya.
Aku juga tahu, dari dua tahun membaca teleprompter, bahwa naskah yang paling bagus pun bisa hancur di detik pertama siaran.
Pintu rooftop terbuka jam lima tepat.
Salman keluar. Hoodie hari ini masih yang tadi pagi, warna biru tua bergambar kura-kura yang memakai topi astronot. Ada noda cokelat kecil di lengan kirinya. Kopi sachet, aku tebak, dari genangan di lantai master control.
Dan dia membawa kertas.
Tiga lembar kertas HVS, di-print, di-staples di pojok kiri atas. Dia memegangnya dengan dua tangan, seperti memegang laporan penting.
Dia berjalan ke arahku. Berhenti dua meter di depanku. Menatapku dengan wajah datar yang serius.
“Aku udah siapin,” katanya.
Aku mengerjap. “Siapin apa?”
Dia menyodorkan kertas itu. “Rekomendasi.”
Aku mengambilnya. Membaca halaman pertama. Judulnya, dengan font Calibri ukuran enam belas, dicetak tebal:
REKOMENDASI ANIME LANJUTAN UNTUK YURA KIRANA (SETELAH SELESAI KURIKULUM 40 JUDUL) — VERSI 1
Di bawahnya, tabel. Dua puluh judul. Kolom genre, jumlah episode, rating, dan kenapa harus ditonton.
Aku menatap kertas itu.
Lalu aku menatap Salman.
“Man,” kataku pelan. “Kamu kira aku ngajak kamu ke rooftop buat minta rekomendasi anime?”
Dia menatapku. Lalu menatap kertas itu. Lalu menatapku lagi. Wajahnya datar, tapi aku melihat sesuatu bergerak di matanya. Sesuatu yang kayak orang yang baru sadar dia salah membaca cue.
“Kamu bilang mau ngobrol,” katanya. “Kamu udah episode berapa?”
“Seratus dua belas.”
“Terus kamu pasti mulai bingung mau lanjut ke mana. Orang yang udah lewat episode seratus biasanya krisis eksistensial. Mereka mikir apakah aku harus terus atau berhenti.” Dia menunjuk kertas di tanganku. “Halaman dua ada diagram alur. Kalau kamu suka drama, ke kiri. Kalau kamu suka aksi, ke kanan. Kalau kamu nggak yakin, ke tengah. Tengah itu slice of life. Aman.”
Aku menatap halaman dua.
Ada diagram alur. Dengan kotak-kotak dan panah-panah. Digambar dengan tangan, di-scan, lalu di-print. Di kotak paling bawah, ada gambar kecil seekor kucing yang memakai topi wisuda, dengan gelembung bicara: SELAMAT, KAMU SUDAH WIBU.
Aku tertawa.
Aku nggak bisa menahannya. Tawa itu keluar dari hidung dulu, lalu pecah. Aku tertawa sampai harus memegang pagar pembatas, sampai kertas itu bergetar di tanganku, sampai Pak Haji terbang ke pagar yang lebih jauh dengan wajah tersinggung.
Salman menatapku tertawa dengan wajah bingung.
“Kenapa ketawa?” tanyanya. “Diagram alurnya salah?”
“Nggak,” kataku di antara tawa. “Diagram alurnya bagus. Diagram alurnya paling bagus sedunia.”
“Terus kenapa?”
Aku berhenti tertawa. Pelan-pelan. Menegakkan badan. Melipat kertas itu dua kali dan memasukkannya ke saku blazer, dengan hati-hati, seperti menyimpan sesuatu yang berharga.
Karena memang berharga.
“Karena,” kataku, “aku latihan semalam. Di depan cermin. Kalimat pembuka, isi, penutup. Kayak latihan baca berita.” Aku menatapnya. “Dan kamu datang bawa diagram alur kucing wisuda. Naskahku hancur di detik pertama.”
Dia diam.
Dan aku melihat dia mengerti. Pelan-pelan. Seperti radio yang pelan-pelan menangkap sinyal dari stasiun yang jauh. Wajahnya tetap datar, tapi bahunya menegang sedikit di balik hoodie kura-kura astronot.
“Yura,” katanya.
“Biarin aku ngomong dulu, Man.”
Aku berbalik. Menghadap pagar. Menatap langit.
Bukan karena aku nggak berani menatapnya. Aku berani. Aku sudah mencium pipinya di depan lobby jam delapan lewat lima belas. Aku sudah menggenggam tangannya di depan satu kantin. Aku sudah menyeka sambal dari sudut bibirnya di depan sahabatku sendiri.
Tapi aku menghadap pagar karena aku teringat cerita Raka. Cerita yang Raka nggak seharusnya ceritakan, tapi dia ceritakan waktu kami berdua minum kopi sachet di pantry lantai empat belas minggu lalu, sesudah Bus Lima.
Mas Salman nembak Mbak Cynthia sambil ngadep dinding basement, Mbak. Dinding B2 Zona C. Katanya dia nggak bisa lihat Mbak Cynthia waktu ngomong.
Jadi aku menghadap langit. Langit sore Jakarta yang oranye dan ungu dan nggak punya nama.
Biar adil.
“Kamu tahu,” kataku, “aku udah dua tahun jadi anchor TRAC Malam. Dua juta orang lihat aku tiap malam. Aku punya empat puluh ribu pengikut di Instagram. Ada orang yang bikin akun fanbase buat aku. Ada yang bikin fan edit pakai lagu-lagu galau. Ada yang tiap malam komen mbak yura cantik banget, blazernya beli di mana.”
Pak Haji berkukur dari pagar yang jauh.
“Dan nggak ada satu pun dari mereka yang tahu aku alergi udang,” lanjutku. “Nggak ada yang tahu aku belum beli gorden dua tahun. Nggak ada yang tahu aku nangis di kamar mandi waktu nonton episode tiga puluh tujuh. Nggak ada yang tahu aku ketawa dari hidung dulu, terus pecah.”
Aku menarik napas.
“Kamu tahu semuanya.”
Hening. Cuma dengung unit AC.
“Aku nggak suka kamu karena kamu nolong aku di lobby,” kataku. “Aku tahu itu yang orang bakal pikir. Oh, Yura suka Salman karena Salman nyelamatin dia dari Rendy. Kayak putri yang jatuh cinta sama ksatria. Bukan itu.” Aku menggeleng. “Banyak orang nolong aku. Satpam nolong aku. HR nolong aku. Pak Wiryo nolong aku. Aku nggak jatuh cinta sama Pak Wiryo.”
Di belakangku, aku mendengar sesuatu. Suara kecil. Seperti orang yang menahan tawa lewat hidung.
Aku tersenyum ke langit.
“Aku suka kamu,” kataku, “karena kamu nggak pernah pura-pura.”
Diam.
“Kamu pakai hoodie kucing samurai karena kamu suka kucing samurai. Kamu nyanyi fals karena kamu mau orang ketawa. Kamu kasih nama ke merpati dan troli dan kucing tetangga karena kamu beneran nganggap mereka teman. Kamu bilang itu bukan baik, itu teknis padahal kamu barusan nyelamatin Pak Darto.” Aku menelan ludah. “Kamu nggak pernah pura-pura jadi sesuatu yang bukan kamu. Dan di gedung ini, Man, di gedung tiga puluh lantai yang isinya orang-orang yang tiap hari pura-pura, termasuk aku, terutama aku, itu jarang banget.”
Angin bertiup. Rambutku yang diikat lepas sebagian.
“Waktu kamu bilang sekarang kamu Yura di lobby,” lanjutku, suaraku mulai bergetar, “itu pertama kalinya dalam dua tahun ada orang yang bilang aku boleh berhenti pura-pura.”
Aku berbalik.
Salman berdiri di tempat yang sama. Dua meter dariku. Tangan di saku hoodie. Wajah datar.
Tapi dia nggak menatap kertas-kertas atau lantai atau langit. Dia menatapku. Lurus. Dengan mata yang tenang, dan sangat, sangat serius.
“Aku tahu,” kataku. “Aku tahu soal Cynthia. Raka cerita. Aku tahu kalian pacaran. Aku tahu soal bus lima. Aku tahu soal kenal juga enggak terlalu.”
Dia nggak bergerak.
“Aku tahu kamu kasih dia earbud yang kanan.” Aku menatap telinga kirinya. Kosong. Sudah dua minggu kosong. “Yang buat lagu. Aku lihat di ruang rias. Dia simpan di kotak kecil warna putih. Dia pakai tiap pagi sebelum siaran, sebelum tim rias datang, cuma lima menit. Terus dia simpan lagi.”
Salman menatapku.
“Kamu kasih dia yang buat lagu,” kataku pelan. “Jadi aku tahu aku nggak bisa minta yang itu.”
Aku melangkah satu langkah. Sekarang jarak kami satu meter.
“Tapi kamu masih punya yang satu lagi.”
Aku menatap saku hoodie-nya. Ke tonjolan kecil persegi di balik kain. Kotak charger earbud. Yang aku tahu, dari cara dia menyentuh sakunya setiap beberapa menit selama dua minggu ini, selalu dia bawa.
“Yang kiri,” kataku. “Yang sekarang ada di kotak. Yang dua minggu nggak kamu pakai.”
Satu langkah lagi. Setengah meter.
“Kamu bilang satu buat dengar dunia, satu buat lagu.” Aku mendongak, menatap wajahnya. “Kalau yang buat lagu udah kamu kasih ke dia, yang tersisa itu yang buat dengar dunia.”
Aku menarik napas. Napas terakhir. Napas sebelum lampu merah di atas kamera menyala.
“Boleh aku jadi dunianya?”
Salman nggak menjawab.
Dia menatapku lama. Sangat lama. Matahari di belakangku turun sedikit lagi, dan cahaya oranye di wajahnya berubah jadi merah muda.
Lalu tangannya bergerak.
Keluar dari saku hoodie. Memegang kotak charger earbud yang putih dan kecil. Dia membukanya. Klik.
Earbud putih di dalamnya. Satu. Yang kiri. Lampu indikator hijau di kotak.
Dia mengeluarkannya. Memegangnya di antara ibu jari dan telunjuk. Menatapnya.
Lama.
Aku menatapnya juga. Earbud kecil itu, di ujung jarinya, di bawah langit sore yang berubah warna.
Jantungku berdetak. Satu. Dua. Tiga. Aku menghitungnya. Kebiasaan anchor. Menghitung detik sebelum cue.
Empat. Lima. Enam.
Lalu, pelan, sangat pelan, Salman mengangkat earbud itu.
Bukan ke arahku.
Ke telinganya sendiri.
Telinga kiri. Telinga yang dua minggu kosong. Dia memasangnya di sana. Mendorongnya pelan dengan ujung jari sampai pas. Lalu dia mengetuknya dua kali. Menyalakannya.
Aku bisa mendengar samar-samar. Gendang. Sitar. Suara laki-laki yang menyanyi dengan napas panjang.
Tujhe Dekha To.
Lagu yang sama. Masih lagu yang sama.
Dia menatapku. Earbud di telinga kirinya. Lagu di telinga kirinya. Dunia di telinga kanannya.
Dan dia nggak bilang apa-apa.
Aku menatapnya.
Aku nggak tahu apa yang aku harapkan. Mungkin aku berharap dia menyerahkan earbud itu kepadaku. Mungkin aku berharap dia bilang iya. Mungkin aku berharap dia bilang nggak, dengan jelas, supaya aku bisa menangis dan selesai.
Tapi dia nggak melakukan semua itu.
Dia cuma memasang earbud itu kembali ke telinganya sendiri. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu. Untuk pertama kalinya sejak gala.
Dan memutar lagu yang sama.
Dan aku mengerti.
Aku mengerti, karena aku sudah dua tahun duduk di sebelah Cynthia di ruang rias. Karena aku tahu lagu apa yang dia senandungkan fals di tempat-tempat yang sama. Karena aku tahu kotak putih kecil yang dia buka setiap pagi selama lima menit.
Lagu itu bukan sembarang lagu.
Lagu itu lagu mereka berdua.
Dan sesudah dua minggu diam, sesudah kenal juga enggak terlalu, sesudah bus lima dan tangan gemetar dan tiga jam tanpa mengangkat kepala, waktu seseorang menawarkan diri untuk jadi dunianya, Salman memilih memasang lagu itu lagi.
Jawabannya bukan nggak.
Jawabannya lebih jujur dari nggak.
Jawabannya: aku masih di sana.
“Oke,” bisikku.
Suaraku pecah di tengah kata. Aku nggak memperbaikinya.
Salman membuka mulut.
“Jangan,” kataku cepat. “Jangan jawab sekarang. Jangan bilang maaf. Jangan bilang nggak apa-apa.” Aku menggeleng. Rambutku yang lepas berantakan di pipi. “Aku nggak mau dengar itu sekarang. Aku baru... aku baru ngomong. Biarin aku pulang dulu. Biarin aku nangis dulu. Besok. Besok kamu boleh jawab.”
Dia menatapku.
Lalu dia mengangguk. Pelan. Sekali.
Aku berbalik. Berjalan ke pintu rooftop.
Di tengah jalan, aku berhenti. Menoleh.
Dia masih berdiri di dekat pagar sisi utara. Tangan di saku hoodie kura-kura astronot. Earbud di telinga kiri. Langit sore di belakangnya, oranye jadi merah muda jadi ungu. Pak Haji sudah kembali ke pagar di dekatnya, bertengger tiga meter dari bahunya, seperti menemani.
“Man,” panggilku.
Dia menatapku.
“Diagram alurnya,” kataku. Suaraku masih pecah, tapi aku memaksa sudut bibirku naik. “Aku pilih yang ke kiri. Drama.”
Dia diam sebentar. Lalu, untuk pertama kalinya sejak dia naik ke rooftop, wajahnya bergerak. Sudut bibirnya naik. Sedikit sekali.
“Ke kiri bagus,” katanya. “Banyak tisu.”
Aku tertawa. Satu kali. Basah.
Lalu aku membuka pintu rooftop dan turun ke tangga darurat, dan di bordes lantai dua puluh sembilan, sendirian, aku duduk di anak tangga dan menangis sampai tiga lembar kertas HVS di saku blazerku kusut karena aku memeluk lututku terlalu erat.
Yang aku nggak tahu waktu itu, dan baru aku dengar dari Dino sendiri berminggu-minggu kemudian, sambil dia memeluk kotak martabak dan minta maaf berkali-kali:
Di sudut rooftop sisi timur, di balik unit AC raksasa yang paling besar, ada orang lain.
Dino Prasetyo. Dengan HP di tripod mini dan ring light yang belum dinyalakan. Dia naik ke rooftop jam lima kurang lima, lewat tangga darurat di sisi lain, karena dia mau membuat konten golden hour untuk Dino Doyan. Konten makan martabak di rooftop dengan latar matahari terbenam. Dia sudah membeli martabak manis keju cokelat. Dia sudah menyiapkan kata pembuka.
Dia nggak sempat menyalakan kamera.
Karena waktu dia sampai di balik unit AC dan mau memasang tripod, dia mendengar suara. Suaraku. Dari sisi utara. Aku suka kamu karena kamu nggak pernah pura-pura.
Dino membeku.
Dan dia mendengar. Nggak semuanya. Angin rooftop kencang, dan unit AC di depannya berdengung seperti pesawat mau lepas landas. Dia cuma menangkap potongan-potongan.
Aku suka kamu. Itu dia dengar jelas.
Aku tahu kalian pacaran. Itu juga.
Lalu banyak kata yang hilang ditelan angin dan dengung AC, kata-kata yang menurut Dino kedengarannya seperti istilah teknis, bus, PFL, sesuatu yang dia kira bahasa master control dan nggak dia pedulikan.
Lalu, jelas lagi: Boleh aku jadi dunianya?
Dia melihat Salman memasang earbud di telinganya sendiri.
Dia melihat aku turun ke tangga darurat.
Dia duduk di balik unit AC selama dua puluh menit sesudahnya, memeluk kotak martabak keju cokelat yang sudah dingin, nggak tahu harus ngapain dengan semua yang dia dengar.
Lalu dia mengeluarkan HP. Membuka chat pribadi.
Bukan ke Salman.
Ke Cynthia.
Dia mengetik. Menghapus. Mengetik. Menghapus. Lima kali.
Lalu dia menekan kirim.
Dino: cyn
Dino: lo di mana?
Dino: gue harus ngomong sesuatu
Dino: penting
Dino: ini soal yura
Dino: sama salman
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan reading
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu