Chapter Five
Bakso Level Sembilan
POV: Salman
Sambal level sembilan buatan Ibu nggak pernah dijual.
Di papan menu Warung Bakso Bu Nur cuma ada level satu sampai lima. Level satu buat anak kecil dan orang yang baru putus cinta. Level tiga buat orang normal. Level lima buat bapak-bapak ojek yang suka pamer ke temannya.
Level enam sampai sembilan nggak ada di menu. Itu rahasia. Cuma diberikan ke orang-orang tertentu, dalam kondisi tertentu, dengan izin tertentu.
Level sembilan cuma pernah dimakan tiga orang: Bapak, aku, dan seorang bule Australia yang tersesat di Depok tahun 2019 dan sekarang mengirim kartu Natal ke Ibu setiap tahun dengan tulisan THANK YOU FOR THE SPIRITUAL EXPERIENCE.
Isinya cabai rawit merah, cabai rawit hijau, cabai setan, sedikit cabai kering yang Ibu beli dari pedagang Padang di Pasar Minggu, bawang putih goreng, dan satu bahan rahasia yang Ibu nggak pernah kasih tahu siapa-siapa. Aku pernah tanya. Ibu cuma bilang, “Dendam.”
Aku nggak tahu apakah itu bercanda.
Dan Sabtu malam ini, aku membawa satu toples penuh ke Kedai Ruang Tunggu.
Karena Dino menantangku.
“Ini pengkhianatan,” kata Pak Hendro, menatap toples sambal di tangan kananku dan rantang bakso di tangan kiri. “Ini kafe, Man. Kafe estetik. Ada majalah arsitektur di rak itu. Ada lampu Edison.”
“Pak Hendro udah ngizinin lewat WhatsApp.”
“Saya ngizinin kamu bawa bakso. Saya nggak ngizinin kamu bawa senjata kimia.”
“Ini sambal, Pak.”
“Saya bisa cium dari sini, Man. Mata saya perih.”
Si Oren, yang sedang tidur di kursi teras, membuka satu mata, mencium udara, lalu bangun dan pindah ke rumah tetangga.
Pak Hendro menatap kucingnya pergi. Lalu menatapku. Lalu menghela napas seperti bapak yang sudah ikhlas anaknya jadi seniman.
“Meja pojok,” katanya. “Jendelanya dibuka. Kalau ada pelanggan yang batuk, kamu yang tanggung jawab.”
“Siap, Pak.”
Hoodie malam ini warna oranye menyala, bergambar seorang bocah berambut runcing sedang makan ramen dengan mata berbinar dan uap mengepul dari mangkuknya. Aku pilih khusus untuk malam ini. Tema. Konsistensi. Seorang seniman harus punya konsep.
Waktu aku sampai di meja, Diana langsung membuka buku catatannya.
“Hoodie nomor dua belas,” katanya. “Oranye. Bocah makan ramen. Tematik dengan acara malam ini, yang aku apresiasi secara konseptual tapi nggak secara estetik. Tujuh dari sepuluh. Nggak masuk tiga besar karena terlalu masuk akal.”
“Kamu kecewa aku masuk akal?”
“Aku kecewa kamu bisa masuk akal tapi biasanya memilih nggak.”
Itu adalah kalimat paling dalam yang pernah Diana ucapkan kepadaku, dan aku menyimpannya di hati.
Dino sudah siap.
Dia datang lebih awal, dan dia datang membawa peralatan. Ring light kecil yang dijepit di pinggir meja. HP di tripod mini. Tisu dua bungkus. Satu kotak susu UHT satu liter. Dan handuk kecil bergambar Doraemon yang dia lingkarkan di leher seperti petinju.
“Episode spesial Dino Doyan,” katanya ke kamera, dengan suara pembawa acara yang dia latih dari YouTube. “Malam ini, gue akan menghadapi tantangan paling berbahaya dalam sejarah kuliner Depok. Sambal level sembilan. Bu Nur. Legenda.”
“Kamu ngomongnya kayak mau naik Everest,” kata Erga.
“Ini lebih bahaya dari Everest, Bro. Di Everest, lo cuma bisa mati kedinginan. Di sini, lo bisa mati kepanasan dari dalam.”
Erga mengangguk pelan, seperti mengakui logika itu. Di sebelahnya, Diana menatap Erga seperti menatap orang yang baru saja mengakui bumi itu datar.
Cynthia dan Yura datang bersamaan. Yura dengan kemeja putih dan celana kulot, rambut diikat setengah. Cynthia dengan sweater rajut krem dan rambut tergerai, dan malam ini, aku langsung tahu dari langkahnya, dia nggak pakai hak tinggi.
Aku melirik ke bawah.
Sandal jepit biru. Lima belas ribu. Bekas label harganya sudah dicopot.
Dia memakainya ke kafe. Sandal masjidku. Dengan sweater rajut yang aku yakin harganya bisa buat beli seratus pasang sandal yang sama.
Cynthia melihat aku melihat sandalnya, dan dia langsung duduk cepat-cepat, menyembunyikan kakinya di bawah meja. Wajahnya datar. Telinganya merah.
Aku nggak bilang apa-apa.
Tapi hatiku, kalau hati bisa main fader, barusan menaikkan volume semua channel sekaligus.
Aturannya sederhana.
Dua mangkuk bakso. Masing-masing lima butir bakso urat, satu bakso telur, mi kuning, bihun, sawi, dan kuah. Lalu tiga sendok makan sambal level sembilan. Bukan sendok teh. Sendok makan.
Siapa yang habis duluan, menang. Siapa yang minum susu sebelum habis, kalah. Siapa yang menangis, boleh, karena menangis itu reaksi biologis, bukan kekalahan. Itu aturanku. Dino setuju karena dia sudah tahu dia akan menangis.
Taruhannya: yang kalah traktir seluruh meja minggu depan.
Pak Hendro membawakan dua mangkuk bakso yang sudah aku panaskan di dapurnya, lalu berdiri di belakang meja dengan tangan terlipat, menonton seperti wasit tinju.
Aku menyendokkan sambal. Satu. Dua. Tiga.
Warna kuahnya berubah dari kecokelatan jadi merah tua. Lalu, kalau kamu lihat dengan teliti, ada sedikit kilau berminyak di permukaannya yang bergerak sendiri, seperti kuah itu hidup.
Yura menutup hidung. Diana mundur sepuluh senti. Erga membuka jendela lebih lebar.
Dino menatap mangkuknya.
“Man,” katanya pelan, suara pembawa acaranya hilang. “Ini kuahnya... gerak?”
“Itu minyak cabainya lagi adaptasi.”
“Adaptasi sama apa?”
“Sama kamu.”
Dino menelan ludah. Dia menatap kamera. “Kalau gue nggak selamat, tolong kasih tahu nyokap gue... gue udah makan siang.”
“Mulai,” kata Pak Hendro.
Suapan pertama, Dino masih bisa bicara.
“Oke. Oke. Ini... ini oke. Ini pedas, tapi oke. Gue bisa. Gue Dino Prasetyo. Gue pernah makan seblak level sepuluh di Bandung—”
Suapan kedua, Dino berhenti bicara.
Matanya membulat. Wajahnya berubah warna, dari kuning langsat jadi merah muda, lalu merah, lalu warna yang biasa kamu lihat di kepiting rebus. Keringat muncul di dahinya. Lalu di hidung. Lalu, entah gimana, di telinga.
“Hah,” katanya. “Hah. Hah. Hah.”
“Napas, Din,” kata Yura.
“Hah. Gue. Hah. Lagi. Hah. Napas.”
Suapan ketiga, Dino mulai menangis.
Bukan menangis biasa. Air mata mengalir deras dari kedua matanya seperti keran yang lupa ditutup, sementara wajahnya tetap berusaha tersenyum ke kamera. Kombinasi yang bikin dia kelihatan seperti peserta kontes kecantikan yang baru dengar dia kalah.
“Gue nggak apa-apa,” katanya ke kamera, sambil air matanya menetes ke kuah. “Ini air mata semangat.”
Aku sudah di suapan kesembilan.
Aku nggak bilang ini untuk pamer. Aku cuma tumbuh dengan sambal ini. Waktu umur delapan tahun, Bapak memberiku satu tetes level sembilan di ujung sendok, dan aku menangis selama satu jam, lalu minta lagi. Bapak tertawa sampai batuk. Ibu memarahi Bapak. Lalu Ibu memberiku satu tetes lagi.
Pedasnya masuk. Panasnya naik dari lidah ke langit-langit mulut, ke hidung, ke belakang mata. Ada sedikit air mata di sudut mataku. Itu normal. Itu salam.
Di layar HP yang disandarkan ke rantang, anime-ku masih berputar tanpa suara. Episode di mana karakter utamanya sedang makan ramen di kedai kecil kesukaannya, dengan wajah paling bahagia di dunia.
Aku menyuap lagi.
“Man,” kata Erga pelan. “Kamu nonton anime sambil ini?”
“Makan tanpa anime itu kayak bakso tanpa kuah.”
“Kamu nggak kepedesan?”
“Kepedesan.”
“Wajahmu datar.”
“Wajahku emang datar. Di dalam, aku lagi konser.”
Diana mengetik sesuatu di HP-nya dengan sangat cepat. Aku curiga dia sedang menulis naskah.
Di suapan kesebelas Dino, Cynthia berdiri.
Semua orang menoleh.
Dia berjalan ke dapur. Kembali tiga puluh detik kemudian membawa satu mangkuk kosong. Lalu dia mengambil rantangku, menuangkan sisa bakso cadangan ke mangkuk itu, dan, dengan gerakan yang sangat tenang, sangat anggun, seperti presenter yang sedang memperagakan cara membuat kue di segmen masak, menyendokkan sambal level sembilan.
Satu sendok. Dua. Tiga.
Meja kami membeku.
“Cyn,” kata Yura pelan. “Kamu ngapain?”
“Ikut.”
“Kamu nggak pernah makan pedas lebih dari level dua.”
“Aku berubah.”
Diana menatapnya. “Kedua kalinya minggu ini kamu bilang kamu berubah. Ini mencurigakan.”
Cynthia mengabaikan Diana. Dia duduk lagi di kursinya, menarik mangkuk itu ke depannya, lalu menatapku. Menatapku tepat di mata, dengan dagu sedikit terangkat, seperti dia sedang di panggung dan aku satu-satunya penonton.
“Tantangan tambahan,” katanya. “Kalau aku habisin ini, kamu nyanyi satu lagu. Full. Dari awal sampai akhir. Di sini.”
Pak Hendro membuat suara kecil yang terdengar seperti doa.
Aku menaruh sendokku.
“Kalau kamu nangis?”
“Aku nggak pernah nangis.”
“Semua orang nangis sama level sembilan.”
“Aku bukan semua orang.” Dia mengangkat sendok. “Aku presenter. Aku pernah siaran langsung waktu ada kecoak terbang di studio dan hinggap di rambutku. Aku nggak berhenti ngomong. Aku tetap senyum.”
“Itu legendaris,” kata Dino dengan suara serak, air mata masih mengalir. “Gue nonton itu. Kecoaknya sampe masuk frame.”
Cynthia menyuap.
Aku sudah dengar ribuan suara di headphone master control. Aku hafal suara orang yang sedang menahan batuk, menahan tawa, menahan tangis, menahan kentut. Aku tahu kalau seorang pembaca berita baru putus cinta dari caranya mengucapkan huruf R.
Tapi aku belum pernah dengar suara yang dikeluarkan Cynthia Larasati Wirawan sesudah suapan pertama bakso level sembilan.
Suaranya pelan. Sangat pelan. Seperti peluit ketel yang baru mulai mendidih.
“...iiiiii.”
Wajahnya masih tersenyum. Senyum presenter. Senyum yang dia latih sejak umur sembilan tahun. Tapi matanya sudah mulai berkaca-kaca, dan hidungnya, hidung mancung yang sering di-close up kamera pagi, mulai memerah dari ujungnya.
“Cyn,” kata Yura.
“Aku nggak apa-apa,” katanya. Suaranya naik satu oktaf. “Ini enak.”
Dia menyuap lagi.
Suapan kedua. Kali ini yang keluar bukan suara ketel, tapi napas tersengal-sengal yang patah-patah, kayak orang yang baru lari dari lantai satu ke lantai tiga puluh lewat tangga darurat. Tangan kirinya mencengkeram ujung meja. Kakinya, di bawah meja, dalam sandal jepit biruku, menghentak-hentak lantai.
“Hah,” katanya. “Hah. Ini... hah... ini bumbunya kerasa.”
“Itu namanya dendam,” kataku.
“Apa?”
“Bahan rahasia Ibu.”
Suapan ketiga, dan air matanya jatuh.
Satu tetes. Lalu dua. Lalu aliran kecil di kedua pipinya, membawa sedikit maskara. Tapi dia nggak berhenti. Dia nggak minum susu. Dia mengunyah bakso urat dengan wajah merah, mata basah, hidung meler, sambil tetap, entah gimana, mempertahankan postur duduk tegak seperti sedang membaca berita.
Di sebelahnya, Dino sudah menyerah dan meminum setengah liter susu UHT dalam satu tegukan.
“Gue kalah,” katanya parau ke kamera. “Tapi gue kalah dengan terhormat. Gue kalah dari Cynthia.”
Erga memberikan tisu ke Cynthia. Cynthia menolak dengan satu gerakan tangan anggun. Dia menyuap lagi.
Aku menonton.
Aku sudah selesai dengan mangkukku. Aku seharusnya nonton anime. Tapi aku nggak bisa lepas dari wajah Cynthia: merah, basah, berantakan, dengan rambut yang mulai menempel di pelipis karena keringat. Wajah yang nggak akan pernah muncul di layar Sapa Pagi. Wajah yang nggak pernah diizinkan keluar.
Dan dia cantik.
Aku nggak bilang ini karena aku cowok yang kebetulan naksir. Aku bilang ini sebagai teknisi. Sebagai orang yang kerjanya mendengar perbedaan antara suara yang diolah dan suara yang asli. Cynthia di layar itu cantik seperti lagu yang sudah di-mixing, di-mastering, di-autotune. Sempurna. Rapi. Nggak ada satu nada pun yang meleset.
Cynthia malam ini cantik seperti rekaman pertama. Mentah. Ada napas di sela-sela kata. Ada nada yang pecah. Ada suara kursi berderit di latar belakang.
Itu jenis rekaman yang selalu aku simpan di folder khusus. Folder yang aku namai YANG ASLI.
Butir bakso terakhir.
Cynthia menatapnya di ujung sendok. Seluruh meja menatapnya. Pak Hendro menatapnya. Dua pelanggan di meja sebelah, pasangan mahasiswa yang dari tadi diam-diam menonton, menatapnya.
Dia memasukkannya ke mulut. Mengunyah. Menelan.
Lalu, dengan napas tersengal, wajah merah, air mata mengalir, maskara luntur, dia mengangkat mangkuk itu dan meminum sisa kuahnya.
Sampai habis.
Mangkuk diletakkan di meja. Tak.
Hening.
Lalu Dino bertepuk tangan. Erga ikut. Yura berdiri sambil bertepuk. Pasangan mahasiswa di meja sebelah bersorak. Pak Hendro mengangkat kedua tangan ke udara seperti wasit yang mengumumkan pemenang KO. Bahkan Diana bertepuk tangan, walaupun cuma tiga kali dan dengan wajah yang bilang aku melakukan ini di bawah tekanan.
Cynthia menatapku dengan mata basah dan merah.
“Kamu,” katanya, suara serak, “harus nyanyi.”
Lalu aku melakukan sesuatu tanpa berpikir.
Aku mengambil tisu dari bungkus yang dibawa Dino, mencondongkan badan ke seberang meja, dan menyeka air mata di pipi kirinya. Pelan. Sekali usap.
Dia membeku.
“Ini air mata pedas,” tanyaku, “atau air mata terharu?”
Dia menatapku, dan untuk sedetik aku pikir dia akan marah. Atau menjauh. Atau melirik ke sekeliling kafe untuk memastikan nggak ada yang melihat.
Tapi dia nggak melirik ke mana-mana.
Dia tertawa.
Dan ini yang aku mau ceritakan, karena aku nggak yakin aku bisa menjelaskannya dengan benar, tapi aku mau mencoba.
Tawa Cynthia yang biasa itu bagus. Tiga detik, naik di awal, turun di akhir, berhenti tepat waktu. Seperti jingle iklan. Aku sudah dengar ratusan kali di channel tujuh. Aku bisa menggambar gelombang suaranya tanpa melihat layar.
Tapi tawa yang keluar malam ini nggak punya bentuk.
Dimulai dengan dengusan. Dengusan yang jelek, dari hidung yang masih meler. Lalu pecah jadi tawa yang terlalu keras, terlalu panjang, dengan suara tercekik di tengah karena tenggorokannya masih kepedasan. Dia menutup wajah dengan kedua tangan, tapi tawanya keluar dari sela-sela jari. Bahunya bergetar. Dia menunduk sampai dahinya hampir menyentuh meja. Dia tertawa sampai batuk, lalu tertawa karena batuk, lalu batuk karena tertawa.
Dan dia nggak berhenti di detik ketiga.
Dia nggak berhenti di detik kesepuluh.
Dia nggak melirik ke meja sebelah, ke pintu, ke HP siapa pun.
Seluruh kafe tertawa bersamanya. Bukan karena ada yang lucu. Tapi karena tawa seperti itu menular, seperti menguap.
Aku duduk kembali di kursiku, tisu masih di tangan, dan mendengarkan.
Di kepalaku, aku menekan tombol record.
Folder YANG ASLI. File baru.
Aku menamainya Cynthia — Level 9.
Lima menit kemudian, aku menepati janji.
Aku berdiri di atas kursi. Pak Hendro mematikan musik latar dan meredupkan lampu, karena Pak Hendro adalah pria yang mengerti pertunjukan. Dino mengarahkan ring light-nya ke wajahku. Erga menyalakan senter HP dan mengayunkannya seperti penonton konser.
Aku menaruh satu tangan di dada.
Lagunya Kuch Kuch Hota Hai. Lagu yang dulu Bapak putar di radio bengkelnya setiap Minggu pagi, lagu yang Ibu bilang membuatnya jatuh cinta pada Bapak, karena Bapak menyanyikannya di depan warung waktu mereka pertama kenalan. Bapak juga nyanyinya fals. Ibu bilang, justru karena fals, Ibu tahu Bapak serius. Orang yang nyanyi bagus bisa saja cuma pamer. Orang yang nyanyi fals di depan umum demi kamu, itu baru namanya berani.
Aku menyanyi.
Fals. Sangat fals. Nada pertama naik di tempat yang salah. Nada kedua turun ke tempat yang nggak ada di peta musik mana pun. Di bagian reff, aku memanjangkan satu kata sampai suaraku retak seperti engsel pintu yang nggak pernah diminyaki.
Kafe meledak.
Pasangan mahasiswa memukul-mukul meja. Pak Hendro tertawa sampai harus bersandar ke kulkas. Dino merekam sambil menangis untuk kedua kalinya malam itu, kali ini bukan karena sambal. Erga mengayunkan senter HP sampai tangannya pegal. Diana menutup telinga, tapi aku lihat dia menggumamkan nada yang benar dengan sangat pelan, seolah berusaha menyelamatkan lagunya dari aku.
Dan Yura...
Yura nggak tertawa sekeras yang lain. Dia tersenyum, menatapku, lalu menatap Cynthia, lalu kembali menatapku. Sebentar. Ada sesuatu di matanya. Seperti orang yang sedang membaca halaman buku yang menarik dan mau tahu kelanjutannya.
Aku mencatatnya. Lalu aku menyimpannya di laci, karena aku sedang sibuk.
Karena di depanku, di kursinya, dengan maskara luntur dan hidung merah dan sandal jepit masjid di kakinya, Cynthia sedang tertawa lagi.
Tawa yang sama. Tawa tanpa bentuk.
Aku menyanyi lebih keras. Lebih fals. Supaya tawa itu nggak berhenti.
Jam dua belas malam, aku sampai di rumah.
Ibu sudah tidur. Warung sudah tutup. Dapur masih berbau kaldu, seperti selalu.
Aku duduk di bangku plastik, menyandarkan HP ke botol kecap, dan menyalakan anime. Tapi aku nggak benar-benar menonton.
Aku membuka grup RUANG TUNGGU FC. Dino sudah mengunggah video. Judulnya: DINO KALAH, CYNTHIA LEGENDA, SALMAN MERUSAK BOLLYWOOD. Tiga ratus view dalam satu jam, sebagian besar dari grup keluarga Dino.
Di bawahnya ada pesan dari Cynthia, dikirim lima belas menit lalu.
Cynthia: perutku masih kebakaran
Cynthia: tapi aku nggak nyesel
Cynthia: dino jangan upload ke instagram ya plis
Cynthia: wajahku di situ kayak tomat nangis
Dino: udah di story close friend doang kok cyn
Dino: close friend gue 800 orang
Cynthia: DINO
Diana: klasemen hoodie malam ini nggak berubah tapi aku mau bikin klasemen baru: klasemen ekspresi wajah paling jujur cynthia
Diana: peringkat 1: malam ini
Diana: belum ada peringkat 2
Yura: 🤍
Erga: suara salman tadi kayak radio yang disiram air
Erga: tapi aku hafal liriknya sekarang
Aku menggulir ke atas, ke video Dino. Aku nggak menonton bagian aku menyanyi. Aku mempercepat ke bagian sebelumnya.
Di detik ke-4 menit ke-12, kamera Dino menangkap Cynthia sedang tertawa, menutup wajah dengan tangan, bahu bergetar, nggak peduli apa-apa.
Aku menghentikan videonya di situ.
Lalu aku menatap layar lama sekali.
Aku sudah lama tahu aku suka Cynthia.
Bukan sejak malam ini. Mungkin sejak dua tahun lalu, di dalam lift yang gelap, waktu tangannya gemetar dan napasnya pendek-pendek dan aku menyanyi supaya dia berhenti takut. Mungkin sejak dia pertama kali datang ke malming dan memesan matcha latte dengan nada suara yang terlalu sopan untuk kafe yang punya kucing bernama Oren. Mungkin sejak pagi-pagi di master control, waktu aku mulai hafal napasnya.
Aku sudah lama tahu. Aku cuma nggak pernah mau mikirin itu terlalu dalam.
Soalnya, Cynthia itu goddess TRAC Tower. Wajahnya di layar LED lobby. Ibunya mantan presenter terkenal. Cowok-cowok di lift berhenti bicara kalau dia masuk. Dan aku teknisi audio yang sarapan bakso, namain motornya Wati, dan pakai hoodie bergambar bocah makan ramen.
Tapi bukan itu yang bikin aku nggak mau mikirin.
Aku nggak peduli soal itu. Beneran nggak peduli. Aku nggak pernah peduli soal kata orang. Hoodie-ku, laguku, motorku. Semua orang boleh ketawa. Aku malah senang kalau mereka ketawa.
Yang bikin aku nggak mau mikirin itu cuma satu hal kecil, yang aku lihat dua minggu lalu di malming, waktu aku menyanyi dan dia hampir tertawa lepas, lalu melirik ke meja dekat pintu, dan menelan tawanya.
Dia peduli.
Dia peduli banget sama kata orang.
Dan aku nggak tahu apakah orang yang sepeduli itu bisa berdiri di sebelah orang yang sama sekali nggak peduli, tanpa salah satunya terluka.
Aku menatap layar. Cynthia di video itu masih tertawa, dibekukan di satu frame.
Lalu aku memutuskan sesuatu yang sangat dewasa dan sangat bijak.
Aku memutuskan untuk nggak memutuskan apa-apa malam ini.
Aku menutup video itu, menyalakan episode berikutnya, dan menyendok sisa kuah bakso yang sudah dingin dari panci Ibu.
Pedasnya sudah hilang.
Tapi lidahku masih ingat.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan reading
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu