Chapter Twenty Four

Makin Aneh

POV: Yura

Senin pagi sesudah gala, Salman datang ke kantor memakai bando telinga kucing.

Aku melihatnya jam delapan lewat sepuluh, di lobby, waktu aku turun dari mobil sopirku yang sudah sembuh dari demam. Lobby sedang ramai. Jam masuk kantor. Orang-orang berkemeja dan berblazer mengalir dari pintu putar ke lift.

Dan di tengah arus itu, berjalan Salman.

Hoodie warna merah muda menyala, bergambar seekor unicorn yang memakai kacamata hitam dan mengendarai skuter. Bando telinga kucing warna hitam dengan bulu-bulu halus di ujungnya. Speaker kaleng di tangan kiri, memutar lagu Bollywood dengan volume yang terlalu keras untuk jam delapan pagi. Helm Wati di siku kanan.

Dan dia bernyanyi.

Bukan bersenandung. Bernyanyi. Di tengah lobby. Fals.

Orang-orang menoleh. Beberapa tertawa. Beberapa menggeleng. Seorang ibu dari divisi finance menutup mulut sambil menahan senyum. Pak Jono di pos satpam mengangkat jempol.

Salman berjalan ke lift sambil menyanyi, menyapa semua orang yang dia lewati.

“Pagi, Bu Wulan! Pagi, Mas Bimo! Pagi, Pak Jono! Pagi, kucing!”

Kucing putih di pos satpam menatapnya dengan wajah datar.

Aku berdiri di dekat pintu putar dan menatapnya.

Itu Salman. Salman yang biasa. Salman yang pakai hoodie aneh, yang nyanyi fals, yang menyapa kucing. Nggak ada yang baru dari itu.

Tapi ada yang beda.

Aku nggak bisa menjelaskannya waktu itu. Aku cuma tahu ada yang beda, seperti waktu kamu masuk ke ruangan yang kamu kenal dan semua barangnya masih di tempat yang sama, tapi satu lukisan di dinding sedikit miring.

Salman biasanya aneh dengan tenang. Aneh dengan cara yang nggak butuh penonton. Dia pakai hoodie kucing samurai karena dia suka kucing samurai, bukan supaya orang lihat. Dia nyanyi fals di malming karena Dino minta. Dia menyapa kucing karena dia memang menganggap kucing itu teman.

Pagi ini, dia aneh dengan keras.

Seperti orang yang memastikan semua orang melihat.


Di depan lift, ada rombongan tamu.

Lima orang berjas gelap, dengan lanyard tamu berwarna biru. Dari kementerian, aku tahu, karena aku membaca jadwal kunjungan di grup redaksi semalam. Mereka datang untuk rapat soal program edukasi. Pak Wiryo menyambut mereka di depan lift, dengan senyum direktur dan jabat tangan yang mantap.

Salman sampai di depan lift.

Speaker kalengnya masih memutar Bollywood. Bando telinga kucingnya masih di kepala.

Pak Wiryo menoleh. Wajahnya berubah sebentar, seperti orang yang baru sadar ada sesuatu yang bisa merusak momen penting. Lalu dia tersenyum, senyum yang sedikit terlalu lebar.

“Ah, ini Mas Salman,” katanya ke tamu-tamunya. “Tim audio kami.”

Salah satu tamu, bapak-bapak berkacamata dengan rambut beruban, menatap Salman dari bando sampai sepatu kets. Lalu tersenyum sopan dan mengulurkan tangan.

Salman menjabat tangannya. Lalu, dengan senyum lebar dan suara keras yang terdengar sampai ke pintu putar, dia berkata:

“Selamat pagi, Pak! Saya Salman. Cuma teknisi!”

Bapak berkacamata itu tertawa. Tamu-tamu lain ikut tertawa. Pak Wiryo tertawa, sedikit gugup.

“Cuma teknisi,” ulang Salman, ke tamu berikutnya, sambil menjabat tangannya juga. “Nggak penting. Jangan dipikirin. Anggap aja saya maskot.”

Lebih banyak tawa.

Lift terbuka. Rombongan tamu masuk bersama Pak Wiryo. Salman nggak ikut masuk. Dia berdiri di depan lift yang menutup, melambai ke tamu-tamu itu dengan tangan yang memegang speaker kaleng.

Lalu dia berbalik ke arah tangga darurat. Dan senyumnya hilang.

Hilang begitu saja. Seperti lampu yang dimatikan.

Cuma sedetik. Aku menangkapnya dari pintu putar, dua puluh meter jauhnya, karena kebetulan aku sedang menatapnya. Lalu dia membuka pintu tangga darurat dan menghilang.

Aku berdiri di lobby lama.

Cuma teknisi.

Anggap aja saya maskot.

Aku nggak tahu kenapa dua kalimat itu terasa seperti kerikil di sepatu.


Selasa siang, kantin lantai dua puluh.

Meja bundar sudut kanan. Aku, Diana, Dino. Erga nggak ada, karena dia sedang rapat Jumat Manis bersama tim marketing. Cynthia juga nggak ada, untuk alasan yang sama.

Mereka rapat di meja panjang dekat jendela. Erga. Cynthia. Mbak Rini dari marketing. Sasa. Dua creative. Semua dengan laptop terbuka dan piring makan siang yang setengah tersentuh.

Dino sedang makan telur rebus dengan wajah orang yang dihukum.

“Hari kesembilan,” katanya. “Hari kesembilan keto. Gue mulai lupa rasa nasi. Tadi malam gue mimpi nasi. Nasinya nggak ngomong. Nasinya cuma diam. Lihatin gue. Itu lebih seram dari martabak.”

Diana menatap telur rebus itu. “Kamu kelihatan kurusan sedikit.”

Dino mengangkat kepala. Matanya berbinar. “Serius?”

“Dua gram. Mungkin.”

Dino kembali ke telurnya dengan wajah hancur.

Lalu musik.

Dari arah etalase katering. Lagu Bollywood. Gendang dan sitar. Keras.

Seluruh kantin menoleh.

Salman berdiri di depan etalase, di sebelah Bu Tini, dengan speaker kaleng di atas meja etalase dan rantang di tangan. Hoodie hari ini warna hijau neon, bergambar seekor brokoli yang memakai jubah pahlawan super dan berpose terbang. Bando telinga kucing masih di kepala, entah kenapa.

Dan dia mulai berjoget.

Sendirian. Di depan etalase. Di tengah kantin yang penuh.

Joget Bollywood. Tangan diangkat ke langit, diputar pelan, kepala bergoyang ke kiri dan ke kanan, pinggul bergerak dengan cara yang membuat Bu Tini menutup mulut dengan sendok sayur. Dia berputar. Dia menunjuk ke langit-langit. Dia menaruh satu tangan di dada dan mengulurkan tangan lain ke arah etalase, ke arah tumpukan perkedel, seolah perkedel itu adalah kekasih yang menunggu di ujung padang bunga.

Kantin meledak.

Orang-orang tertawa. Beberapa merekam dengan HP. Anak-anak magang di meja dekat wastafel bertepuk tangan mengikuti irama. Bu Tini tertawa sampai harus berpegangan ke etalase.

Dino menurunkan telur rebusnya. “Man kenapa?”

“Nggak tahu,” kata Diana pelan. Matanya menyipit. “Dia nggak biasanya joget tanpa diminta.”

Aku nggak menjawab. Aku menatap Salman.

Lalu aku menatap meja panjang dekat jendela.

Meja rapat Jumat Manis. Erga menatap Salman dengan alis berkerut. Mbak Rini tertawa sambil menunjuk. Sasa merekam dengan HP. Dua creative saling sikut.

Dan Cynthia.

Cynthia duduk di ujung meja, membelakangi jendela. Laptop terbuka di depannya. Garpu di tangan kanannya, di atas piring salad yang belum dia sentuh.

Dia menatap Salman.

Wajahnya tenang. Senyumnya kecil. Senyum yang sopan, senyum yang dipakai orang waktu melihat sesuatu yang lucu tapi nggak terlalu lucu.

“Itu maskot yang di gala, kan?” kata Mbak Rini, cukup keras untuk aku dengar dari meja kami. “Yang hoodie kuning? Ya ampun, dia lucu banget. Kita harus pakai dia buat konten.”

Cynthia tertawa.

Tiga detik. Naik di awal, turun di akhir, berhenti tepat waktu.

Lalu dia kembali menatap laptopnya.

Dan Salman, di depan etalase, memutar badannya ke arah meja panjang dekat jendela. Masih berjoget. Masih tersenyum lebar. Masih dengan bando telinga kucing dan brokoli berjubah pahlawan di dadanya.

Lalu dia berjoget lebih heboh.

Lebih keras. Lebih aneh. Dia jongkok dan berdiri bergantian seperti per. Dia melambai ke seluruh kantin seperti kontestan kecantikan. Dia menarik Bu Tini untuk ikut berjoget, dan Bu Tini, dengan kerudung bunga-bunga dan celemek, ikut menggoyangkan bahu sambil tertawa.

Kantin makin meledak.

Dan aku melihatnya.

Aku melihatnya karena aku anchor berita, dan kerjaanku menyadari sesuatu.

Setiap kali kepala Cynthia bergerak, setiap kali dia menoleh sedikit ke arah etalase, Salman berjoget lebih heboh. Setiap kali Mbak Rini atau Sasa atau siapa pun di meja itu menyebut Salman, Salman memastikan dia jadi yang paling aneh di ruangan. Paling memalukan. Paling nggak mungkin.

Paling nggak mungkin jadi pacar seseorang yang duduk di meja itu.

Dia nggak sedang bersenang-senang.

Dia sedang membangun tembok.

Dari dirinya sendiri.


Aku menemukan Raka di pantry lantai empat belas jam tiga sore.

Aku nggak pernah ke lantai empat belas sebelumnya, kecuali hari aku membawa bakso Pak Kumis. Tapi hari ini aku naik tangga darurat, karena aku tahu Salman akan ada di master control dan aku nggak mau bertemu Salman. Aku mau bertemu Raka.

Raka sedang menyeduh kopi sachet. Dia menoleh, melihatku, dan wajahnya berubah. Bukan wajah kaget seperti biasa, wajah yang bilang goddess di lantai empat belas lagi. Wajah yang lain. Wajah orang yang sudah menunggu seseorang datang dan bertanya.

“Mbak Yura,” katanya pelan.

“Raka.” Aku menutup pintu pantry. “Salman kenapa?”

Raka menatap gelas kopinya.

“Dia makin aneh, Raka,” lanjutku. “Kamu lihat sendiri. Bando kucing. Joget di kantin. Cuma teknisi ke tamu kementerian. Itu bukan Salman. Salman aneh, tapi bukan aneh yang kayak gini. Ini aneh yang... sengaja.”

Raka nggak menjawab.

“Sejak gala,” kataku. “Aku hitung. Sejak gala.”

Raka menatapku. Lama. Matanya merah sedikit di pinggir, seperti orang yang kurang tidur. Atau orang yang menahan sesuatu terlalu lama.

“Mbak,” katanya. “Aku nggak boleh cerita.”

“Siapa yang larang?”

“Nggak ada yang larang. Mas Salman nggak bilang apa-apa. Tapi...” Dia menggeleng. “Itu bukan ceritaku, Mbak.”

“Raka.” Aku melangkah lebih dekat. “Kamu tahu kenapa aku ke sini? Bukan karena aku kepo. Aku anchor berita, aku bisa kepo dari mana aja. Aku ke sini karena kemarin aku lihat Salman bilang anggap aja saya maskot ke tamu kementerian, terus pas dia balik badan, senyumnya mati kayak lampu dicabut colokannya. Dan nggak ada orang lain yang lihat. Cuma aku.”

Raka diam.

“Dia pernah jadi orang yang lihat aku waktu nggak ada orang lain yang lihat,” kataku pelan. “Di lobby. Waktu Rendy narik tanganku. Semua orang nunduk. Dia yang nyanyi.”

Raka menutup mata.

Lalu, pelan, seperti bendungan yang retak, dia bicara.


Dia cerita soal bus lima. Soal live stream pre-show yang nggak sengaja terbuka. Soal PFL channel tujuh. Soal Mbak Vina dan pertanyaannya.

Itu siapa? Pacar kamu?

Dia cerita soal Salman yang menekan mute sebelum Cynthia menjawab. Sebelum. Supaya apa pun jawabannya, nggak ada empat belas ribu orang yang dengar.

Lalu dia cerita soal jawabannya.

Bukan lah, Mbak. Cuma teknisi. Kenal juga enggak terlalu.

Aku berdiri di pantry lantai empat belas yang kecil dan berbau kopi sachet, dan aku nggak bisa bergerak.

“Mas Salman nggak ngomong apa-apa, Mbak,” kata Raka. Suaranya pecah. “Dia cuma bilang nggak apa-apa. Terus dia mixing tiga jam. Tiga jam, Mbak, dia nggak angkat kepala. Suara Mbak Cynthia malam itu bagus banget. Paling bagus yang pernah aku dengar. Mas Salman yang bikin. Sambil...” Raka berhenti. Menyeka hidung dengan punggung tangan. “Sambil tangannya gemetar. Aku lihat. Waktu Mbak Cynthia manggil di channel tujuh sebelum naik panggung, Mas Salman nggak bisa pencet tombol. Tangannya gemetar. Dia nunggu sampai hitungan lima. Baru pencet.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Mereka...” Aku menelan ludah. “Mereka pacaran?”

Raka menatapku. Lalu mengangguk.

“Rahasia, Mbak. Dari sebulan lalu. Mbak Cynthia yang minta. Jangan bilang siapa-siapa dulu.” Dia menatap gelas kopinya yang sudah dingin. “Mas Salman bilang nggak apa-apa.”

Tentu saja.

Tentu saja dia bilang nggak apa-apa.

“Raka,” kataku pelan. “Cynthia tahu Salman dengar?”

“Nggak, Mbak.” Raka menggeleng. “Mbak Cynthia nggak tahu mic-nya ke bus lima. Nggak tahu Mas Salman dengar lewat PFL. Mbak Cynthia kira Mas Salman udah keluar tenda dan nggak dengar apa-apa.”

“Dan Salman nggak bilang?”

“Mas Salman nggak akan bilang, Mbak.” Raka menatapku. “Mbak kenal Mas Salman. Dia nggak akan pernah bilang.”


Aku turun ke lantai dua belas lewat tangga darurat.

Aku nggak langsung ke ruang rias. Aku berhenti di bordes antara lantai tiga belas dan dua belas. Duduk di anak tangga. Memeluk lutut.

Aku nggak menangis. Aku jarang menangis. Ibuku bilang mata bengkak butuh tiga jam untuk ditutupi concealer. Kami punya ibu yang mirip, Cynthia dan aku. Mungkin itu kenapa kami jadi duo goddess. Dua anak perempuan yang dibesarkan untuk nggak pernah kelihatan rusak.

Tapi aku duduk di sana lama.

Dan aku marah.

Bukan marah yang panas. Marah yang dingin. Marah yang pelan-pelan naik dari perut ke dada, seperti air pasang.

Aku marah ke Cynthia.

Bukan karena dia pacaran sama Salman. Aku nggak punya hak marah soal itu. Dan sebagian dari diriku, sebagian besar, ikut bahagia waktu aku melihat dia memakai sandal jepit biru ke kantor dan bersenandung fals di ruang rias.

Aku marah karena dia punya sesuatu yang aku nggak punya.

Seseorang yang menyanyi fals di lobby buat dia. Yang naik dua ratus delapan puluh anak tangga supaya dia nggak perlu satu lift. Yang menekan mute sebelum dia menjawab, supaya apa pun jawabannya, nggak ada yang dengar. Yang mengubah suaranya jadi sempurna sambil tangannya gemetar.

Dan dia bilang kenal juga enggak terlalu.

Dan dia bahkan nggak tahu dia sudah bilang itu ke orang yang mendengar.

Aku menatap tanganku.

Lalu aku teringat sesuatu yang Salman bilang di lobby, malam Rendy. Waktu dia berdiri di depanku dengan hoodie ayam jago, menutupi wajahku dari kamera anak-anak magang.

Orang kayak dia itu butuh sepi. Lobby yang penuh orang tapi semua orang nunduk.

Dan aku menyadari, di tangga darurat lantai tiga belas, bahwa Salman sekarang sedang melakukan hal yang sama untuk Cynthia.

Bikin rame.

Bikin dirinya sendiri jadi yang paling aneh, paling memalukan, paling maskot. Supaya nggak ada orang yang pernah curiga bahwa laki-laki berbando telinga kucing yang joget di depan perkedel itu adalah pacar goddess Sapa Pagi.

Supaya Cynthia aman.

Supaya Cynthia nggak perlu bilang kenal juga enggak terlalu lagi, karena nggak akan ada lagi yang bertanya.

Dia sedang melindunginya.

Dengan cara menghapus dirinya sendiri.


Rabu siang, kantin lantai dua puluh.

Musik Bollywood.

Aku sudah menunggunya.

Salman berdiri di depan etalase lagi. Hoodie hari ini warna kuning telur, bergambar seekor anak bebek yang memakai mahkota raja dan duduk di atas tumpukan roti. Speaker kaleng di atas etalase. Bando telinga kucing.

Dia mulai berjoget.

Meja panjang dekat jendela. Rapat Jumat Manis lagi. Cynthia di ujung meja. Erga. Mbak Rini. Sasa.

Mbak Rini tertawa. “Ya ampun, maskot kita lagi!”

Aku berdiri.

Diana menatapku. “Yur?”

Aku nggak menjawab. Aku melangkah dari meja bundar sudut kanan, melewati meja-meja divisi berita, melewati meja-meja divisi variety, melewati meja anak-anak magang dekat wastafel. Lurus ke arah etalase. Ke arah Salman.

Kantin mulai menyadari. Kepala-kepala menoleh. Bukan ke Salman. Ke aku.

Itu Mbak Yura?

Mbak Yura mau ngapain?

Aku sampai di depan etalase. Di depan Salman.

Dia berhenti berjoget. Menatapku. Tangannya masih di udara, setengah jalan memutar, seperti video yang di-pause.

“Yura?”

Aku nggak bilang apa-apa.

Aku mengangkat tanganku. Ke udara. Memutarnya pelan. Seperti dia.

Lalu aku berjoget.

Di depan etalase katering kantin lantai dua puluh TRAC Tower. Di depan Bu Tini. Di depan anak-anak magang. Di depan divisi berita yang selama dua tahun melihatku sebagai anchor TRAC Malam yang selalu tenang, selalu elegan, nggak pernah tertawa lebih keras dari suara gelas yang diletakkan di meja.

Aku berjoget Bollywood.

Tangan di udara. Kepala bergoyang. Pinggul bergerak dengan cara yang, aku yakin, sangat jelek, karena aku belum pernah berjoget Bollywood seumur hidupku, karena satu-satunya referensiku adalah Salman di lobby malam itu dan Pak Slamet yang menirukan gerakan Shah Rukh Khan.

Kantin hening sedetik.

Lalu meledak.

Bukan tawa mengejek. Tawa yang kaget. Tawa yang nggak percaya. Seseorang bersiul. Seseorang berteriak MBAK YURA!. Anak-anak magang di dekat wastafel berdiri dari kursi mereka dan bertepuk tangan. Bu Tini menjatuhkan sendok sayur.

Salman menatapku. Wajahnya, untuk sedetik, nggak datar. Matanya membulat. Mulutnya sedikit terbuka.

“Kamu ngapain?” bisiknya di bawah musik.

“Kalau mau aneh,” kataku, sambil terus berjoget, “jangan sendirian.”

Dia menatapku.

“Capek,” tambahku.

Aku menatap matanya. Dan aku tahu dia mengerti. Aku melihatnya di matanya, sesuatu yang bergerak di sana, sesuatu yang retak sedikit, seperti tembok yang ditekan dari sisi yang nggak dia duga.

Lalu aku melakukan hal kedua.

Aku mengulurkan tangan. Dan menggenggam tangannya.

Bukan pergelangan. Tangan. Jari-jariku menyelip di antara jari-jarinya. Bertaut.

Dan aku berjalan.

Aku menariknya dari depan etalase. Melewati meja-meja. Melewati anak-anak magang yang masih bertepuk tangan. Melewati divisi berita yang menatap kami dengan mulut terbuka.

Melewati meja panjang dekat jendela.

Aku nggak menoleh ke meja itu. Tapi dari sudut mataku, aku melihatnya. Mbak Rini yang berhenti tertawa. Sasa yang menurunkan HP-nya. Erga yang menatap kami dengan wajah bingung, lalu menatap Cynthia.

Dan Cynthia.

Garpu di tangan kanannya berhenti. Di udara. Setengah jalan dari piring salad ke mulutnya. Nggak bergerak.

Dia menatap tangan kami. Jari-jariku dan jari-jari Salman. Bertaut. Di tengah kantin lantai dua puluh. Di depan semua orang.

Aku nggak berhenti berjalan.

Aku menarik Salman keluar dari pintu kantin, ke koridor lantai dua puluh, dan musik Bollywood dari speaker kaleng yang masih tertinggal di etalase pelan-pelan memudar di belakang kami.


Koridor lantai dua puluh sepi. Jam makan siang. Semua orang di kantin.

Aku masih menggenggam tangannya.

Salman berjalan di sebelahku. Nggak menarik tangannya. Nggak juga menggenggam balik. Tangannya cuma ada di sana, di dalam genggamanku, longgar, seperti tangan orang yang nggak tahu harus ngapain.

“Yura,” katanya.

“Aku nggak lepas sampai lift,” kataku. “Biar satu tower lihat.”

Dia diam.

Kami berjalan. Langkah demi langkah. Melewati ruang rapat. Melewati papan pengumuman. Melewati meja Erga yang papan namanya selalu miring.

“Tanganmu anget,” kata Salman akhirnya. Pelan.

Aku menoleh ke arahnya. Jantungku berdebar. Bodoh. Aku tahu. Tapi berdebar.

“Tapi lift-nya dekat,” lanjutnya. Dia menatap ujung koridor, ke deretan pintu lift yang mengilap. “Untung.”

Aku tertawa. Tawa yang pecah, keluar dari hidung dulu, tapi kali ini nggak lepas. Kali ini tawanya sedikit basah di ujung.

Untung.

Karena lift-nya dekat. Karena dia bisa melepas tanganku tanpa harus melepas tanganku.

Kami sampai di depan lift. Aku berhenti. Dia berhenti.

Aku masih menggenggam tangannya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kenapa apa?”

“Kenapa kamu bikin diri kamu makin aneh?”

Dia diam.

“Bando kucing. Joget di depan perkedel. Cuma teknisi ke tamu kementerian. Anggap aja saya maskot.” Aku menatapnya. “Kamu nggak kayak gini, Man. Kamu aneh, tapi kamu nggak pernah... maksa aneh.”

Salman menatap pintu lift. Pantulan kami berdua di permukaannya yang mengilap. Perempuan berblazer abu-abu. Laki-laki berhoodie kuning telur dan bando telinga kucing. Tangan bertaut di antara mereka.

“Biar orang nggak salah paham,” katanya.

“Salah paham soal apa?”

“Biar nggak ada yang mikir orang kayak aku bisa...” Dia berhenti.

“Bisa apa?”

Dia nggak menjawab.

“Bisa sama Cynthia,” kataku.

Salman menoleh ke arahku. Cepat. Matanya membulat sedikit.

“Raka cerita,” kataku pelan. “Semuanya. Bus lima. PFL. Mbak Vina. Jawabannya.”

Dia menatapku lama.

Lalu dia menghela napas. Napas yang panjang dan lelah.

“Raka butuh hobi lain,” gumamnya.

“Kamu nggak marah?”

“Ke Raka?”

“Ke Cynthia, Man.”

Dia diam.

Pintu lift di depan kami terbuka. Kosong. Menunggu.

Salman menatap lift yang kosong itu.

“Dia nggak salah,” katanya akhirnya. Suaranya pelan. Datar. Tanpa jeda. “Aku emang cuma teknisi.”

Dan dia melepas tanganku.

Pelan. Hati-hati. Seperti melepas figure Naruto dari alasnya. Jari-jarinya keluar dari jari-jariku satu per satu.

Lalu dia masuk ke lift. Berdiri di dalamnya. Menekan tombol lantai empat belas.

Dia, yang selalu naik tangga darurat. Yang bilang lift itu buat orang yang buru-buru. Yang naik dua ratus delapan puluh anak tangga setiap pagi.

Dia naik lift.

Karena dia mau pergi secepat mungkin.

Pintu lift mulai menutup.

“Man,” kataku.

Dia menatapku dari dalam lift.

“Kamu bukan cuma apa-apa,” kataku. “Nggak pernah.”

Pintu lift menutup.

Di permukaannya yang mengilap, aku melihat pantulanku sendiri. Perempuan berblazer abu-abu, sendirian di depan lift, tangan kanannya masih sedikit terangkat, jari-jarinya masih sedikit terbuka, seperti masih menggenggam sesuatu yang sudah pergi.


Aku kembali ke kantin lima menit kemudian.

Meja panjang dekat jendela sudah bubar. Rapat Jumat Manis sudah selesai. Mbak Rini dan Sasa sudah pergi. Erga sudah pergi.

Cynthia masih di sana.

Duduk sendirian di ujung meja. Laptop sudah ditutup. Piring salad masih di depannya, masih belum disentuh. Garpunya tergeletak di sebelah piring.

Dia menatap jendela. Ke luar. Ke gedung-gedung Jakarta Selatan yang abu-abu di bawah langit siang yang terlalu terang.

Dia nggak menoleh waktu aku berjalan melewatinya.

Aku nggak berhenti.

Aku kembali ke meja bundar sudut kanan. Diana menatapku dengan wajah yang belum pernah aku lihat. Bukan wajah jaksa. Bukan wajah juri klasemen. Wajah orang yang khawatir.

“Yur,” katanya pelan. “Kamu ngapain tadi?”

Aku duduk. Mengambil sendok. Menatap nasi di piringku yang sudah dingin.

“Aku lagi berani, Di,” kataku.

Diana menatapku lama.

“Berani buat siapa?”

Aku nggak menjawab.

Karena aku nggak tahu jawabannya.

Aku mau bilang buat Salman. Buat laki-laki yang membangun tembok dari dirinya sendiri, supaya seseorang yang malu jalan di sebelahnya bisa aman di balik tembok itu. Aku mau bilang aku menggenggam tangannya di depan satu kantin supaya dia tahu ada orang yang nggak malu. Supaya dia nggak harus jadi maskot sendirian.

Aku mau bilang buat Cynthia. Supaya dia melihat. Supaya dia sadar apa yang dia punya, apa yang dia sembunyikan, apa yang dia bilang kenal juga enggak terlalu. Supaya dia merasakan, sedikit saja, garpu yang berhenti di udara.

Tapi waktu aku menatap nasi dingin di piringku, dan merasakan telapak tanganku yang masih hangat, yang masih ingat bentuk jari-jari yang bertaut di sana selama dua puluh tujuh langkah dari kantin ke lift...

Aku nggak yakin jawabannya cuma dua itu.

Dan itu yang membuat aku takut.