Chapter Seventeen
Erga Ditolak, Ronde Dua
POV: Cynthia
Erga Mahendra menyiapkan pidato.
Aku tahu ini karena dia mengirimkannya ke aku hari Kamis jam sebelas malam, dengan pesan: Cyn, tolong review. Kamu presenter, kamu ngerti soal penyampaian.
Pidatonya dua halaman.
Dua halaman Microsoft Word, font Times New Roman ukuran dua belas, spasi satu setengah. Ada judulnya: Penyampaian Perasaan kepada Diana Puspitasari (Draf 4). Ada pembukaan, isi, dan penutup. Ada catatan kaki. Ada catatan kaki, Ya Tuhan, yang menjelaskan bahwa kalimat kamu satu-satunya yang membuatku merasa dilihat bukan sebagai wajah terinspirasi dari obrolan malming tanggal sekian.
Aku membacanya di kasur, sambil menutup mulut dengan bantal supaya tetangga nggak dengar aku tertawa.
Lalu aku membacanya lagi, dan berhenti tertawa.
Karena di balik semua kekakuan itu, di balik catatan kaki dan spasi satu setengah, pidato itu jujur. Sangat jujur. Erga menulis bahwa sejak kecil dia selalu dipuji karena wajahnya, dan nggak pernah ada yang bertanya dia suka buku apa. Erga menulis bahwa Diana adalah orang pertama yang mengatainya, dan rasanya seperti dibangunkan dari tidur panjang. Erga menulis bahwa dia sudah menghitung: Diana bergeser lima senti menjauh setiap kali dia duduk di sebelahnya, dan dia mau suatu hari Diana berhenti bergeser.
Aku membalas.
Aku: ga, ini bagus
Aku: tapi kepanjangan
Aku: diana itu orang 5 kata
Aku: kalau kamu ngomong 2 halaman, dia bakal pingsan atau kabur
Aku: potong jadi 1 paragraf
Aku: dan HAPUS catatan kakinya
Erga: catatan kakinya penting
Erga: biar dia tahu aku serius
Aku: erga
Aku: nggak ada orang di dunia ini yang nembak pake catatan kaki
Erga: aku orang pertama
Erga: pionir
Aku menyerah.
Malming hari Sabtu, Kedai Ruang Tunggu.
Hoodie Salman malam ini warna biru elektrik, bergambar seekor ikan mas koki yang memakai kacamata renang dan sedang mengangkat barbel. Diana menilainya tujuh koma lima dari sepuluh, dengan catatan juri bingung ikan butuh kacamata renang untuk apa. Salman menjelaskan bahwa ikan itu sedang latihan untuk lomba renang antar-ikan, dan kacamata itu untuk gaya. Diana menulis jawaban yang lebih bodoh dari pertanyaannya di buku catatannya dan menurunkan nilai jadi tujuh.
Erga datang terakhir. Itu nggak biasa. Erga selalu datang lebih awal, karena Erga orang yang menghargai waktu dan nggak suka membuat orang menunggu.
Dia datang dengan kemeja putih yang disetrika rapi. Rambut yang sepertinya dia potong tadi siang. Dan setangkai bunga.
Satu tangkai. Bunga matahari. Dibungkus kertas cokelat dengan pita rafia.
Dia berdiri di ambang pintu kafe, memegang bunga matahari itu, dan seluruh kafe menoleh. Pak Hendro berhenti membuat kopi. Si Oren berhenti menjilati kaki. Anak magang baru, bukan yang menjatuhkan nampan, yang lain lagi, menatap Erga dengan mulut terbuka dan menjatuhkan sendok.
Ting.
Diana, yang sedang membaca klasemen di buku catatannya, mengangkat kepala.
Dia melihat Erga. Dia melihat bunga matahari. Dia melihat kemeja putih yang disetrika.
Wajahnya nggak berubah. Tapi tangannya, yang memegang pulpen, berhenti di tengah huruf.
Erga berjalan ke meja kami. Dia nggak duduk. Dia berdiri di samping kursi Diana, memegang bunga itu dengan dua tangan, seperti pengantin pria yang memegang mahar.
Dino menurunkan kentang gorengnya. Yura menurunkan gelasnya. Salman mem-pause animenya, yang adalah tanda bahwa dia menganggap ini peristiwa yang sangat penting.
Aku menahan napas.
“Di,” kata Erga.
Diana menatapnya. “Mas Erga.”
Erga menarik napas panjang. Aku melihatnya menutup mata sebentar. Aku tahu dia sedang mengingat pidatonya. Satu paragraf. Tanpa catatan kaki. Aku sudah mengeditnya sendiri hari Jumat jam dua pagi, di sela-sela chat dengan Teknisi Ch. 7.
Erga membuka mata.
“Di,” katanya. “Sejak kecil, orang selalu muji wajahku. Nggak pernah ada yang nanya aku suka buku apa. Kamu satu-satunya orang yang ngatain aku. Dan setiap kali kamu ngatain aku, aku ngerasa kayak dibangunin dari tidur yang panjang banget. Aku udah hitung, setiap kali aku duduk di sebelahmu, kamu geser lima senti. Aku mau suatu hari kamu berhenti geser.” Dia menyodorkan bunga matahari itu. “Aku suka kamu. Mau jalan sama aku?”
Kafe hening.
Bahkan musik latar Pak Hendro, entah kenapa, berhenti. Aku melirik ke meja kasir. Pak Hendro sedang memegang remote speaker, jempolnya di tombol pause, matanya terpaku ke meja kami seperti menonton final sepak bola.
Diana menatap bunga matahari itu.
Lama.
Lalu dia menatap Erga. Lalu, pelan-pelan, dia mengangkat tangan kanan.
Satu jari.
“Aku,” katanya.
Dua jari.
“Udah.”
Tiga jari.
“Tahu.”
Empat jari.
“Soal.”
Lima jari.
“Lima senti.”
Dia menurunkan tangannya.
Erga menatapnya. “Itu... itu jawabannya?”
“Itu bukan jawaban. Itu informasi.” Diana menatap bunga matahari itu lagi. “Aku geser lima senti bukan karena aku nggak suka kamu duduk di sebelahku, Mas. Aku geser lima senti karena kamu wangi banget, dan aku alergi parfum yang ada musk-nya.”
Hening.
Erga menatap Diana. Lalu menunduk, mencium kerah kemejanya sendiri.
“Ini musk?”
“Itu musk. Ditambah sandalwood. Dan sesuatu yang manis kayak vanila. Aku bersin tiga kali tiap malming gara-gara kamu, dan kamu nggak pernah sadar karena kamu sibuk dikasih lauk.”
“Aku... aku nggak tahu.”
“Aku tahu kamu nggak tahu. Itu sebabnya aku geser. Bukan sebabnya aku nolak.”
Erga mengangkat kepala. Matanya berbinar sedikit. “Jadi kamu nggak nolak?”
Diana mengambil bunga matahari itu dari tangannya. Menatapnya. Mencium baunya. Lalu menaruhnya di samping buku catatan batiknya.
“Aku nolak,” katanya.
Wajah Erga jatuh.
“Ronde dua,” lanjut Diana. “Kamu kalah ronde dua. Karena kamu nembak pakai parfum yang bikin aku bersin. Itu strategi yang jelek, Mas. Itu kayak ngajak orang alergi kucing ke pet shop.” Dia membuka buku catatannya ke halaman kosong dan menulis sesuatu. “Ronde tiga, kalau kamu mau, kamu datang tanpa parfum.”
Erga menatapnya.
Lalu dia tertawa. Tawa yang pelan, lega, dan sedikit sedih, seperti orang yang baru kalah lomba tapi dikasih tahu dia boleh ikut lagi tahun depan.
“Oke,” katanya. “Ronde tiga. Tanpa parfum.”
“Dan tanpa catatan kaki.”
Erga membeku. Lalu menoleh ke aku dengan wajah yang bilang kamu cerita?
Aku mengangkat kedua tangan. “Aku nggak cerita!”
“Dia nggak cerita,” kata Diana tanpa mengangkat kepala dari buku catatannya. “Kamu nge-print draf satu di printer lantai dua puluh. Lupa ambil. Aku yang nemu. Aku baca sampai catatan kaki nomor tujuh.”
Erga menutup wajah dengan kedua tangan.
Dino tertawa sampai kentang gorengnya muncrat. Yura menunduk ke meja, bahunya bergetar. Pak Hendro menekan tombol play lagi di remote speaker, dan dari speaker kafe keluar lagu yang, entah sengaja atau nggak, adalah lagu patah hati dangdut.
Salman menatap Erga dengan simpati yang mendalam. Lalu dia mengulurkan tangan, menepuk bahu Erga, dan bilang dengan suara pelan yang serius, “Bro. Bunga mataharinya bagus. Dia simpan.”
Erga mengangkat wajahnya dari balik tangan. Menatap bunga matahari yang sekarang tergeletak di samping buku catatan batik Diana.
Diana nggak menyingkirkannya. Bunga itu tetap di sana sepanjang malam.
Dan waktu malming selesai, aku melihat Diana memasukkannya ke tas dengan hati-hati, batangnya dibungkus tisu supaya nggak patah.
Satu jam kemudian, giliran Yura yang mengejutkan semua orang.
Kami sedang di fase obrolan santai sesudah makan. Salman sedang menjelaskan ke Dino kenapa karakter favoritnya di anime yang sedang dia tonton memakai topi jerami, dan Dino sedang menjelaskan balik kenapa topi jerami itu nggak praktis untuk dipakai makan bakso. Erga masih menatap bunga mataharinya di dekat Diana dengan wajah melankolis.
Lalu Yura berdeham.
“Man.”
Salman menoleh.
“Aku udah hafal lagunya,” kata Yura.
“Lagu apa?”
“Tujhe Dekha To.” Yura tersenyum kecil. “Aku belajar minggu ini. Liriknya. Pengucapannya. Aku nonton video tutorialnya di YouTube. Ada orang India yang ngajarin bahasa Hindi.”
Seluruh meja menoleh ke Yura.
Aku juga.
Aku menatap Yura, yang duduk dengan punggung tegak dan wajah tenang seperti biasa, dan bilang dia sudah belajar lagu itu. Lagu yang aku putar dua belas kali di mobil malam itu. Lagu yang aku senandungkan di ruang rias dengan fals di tempat yang sama dengan Salman. Lagu yang aku nyanyikan berdua dengannya di dapur Bu Nur, sambil mencuci mangkuk yang sebenarnya sudah bersih.
“Kamu belajar bahasa Hindi?” tanya Dino.
“Dikit. Cukup buat satu lagu.” Yura menatap Salman. “Duet, yuk.”
Salman menatapnya. Wajahnya datar.
“Kamu fals,” lanjut Yura, dengan senyum kecil yang miring. “Aku yang nutupin. Deal?”
Hening dua detik.
Lalu Dino berdiri dari kursinya. “PAK HENDRO! MATIIN MUSIKNYA! ADA KONSER!”
Pak Hendro meredupkan lampu, karena Pak Hendro pria yang mengerti pertunjukan. Dino memasang ring light. Erga menyalakan senter HP dan mengayunkannya.
Yura berdiri di samping meja. Salman berdiri di sebelahnya. Salman mengeluarkan speaker kaleng dari saku hoodie ikan mas koki, speaker yang sama yang dia pakai di lobby waktu itu, dan memutar versi instrumental lagu itu.
Gendang. Sitar.
Yura mulai menyanyi.
Dan Ya Tuhan, suaranya bagus.
Bukan bagus biasa. Bagus seperti penyanyi yang sudah latihan. Suaranya rendah, tenang, sedikit serak di ujung, seperti suara yang biasa membacakan berita tapi ternyata menyimpan lagu di dalamnya. Pengucapan Hindinya nggak sempurna, tapi nadanya pas. Setiap nada. Naik di tempat yang seharusnya naik. Turun di tempat yang seharusnya turun.
Lalu bagian Salman.
Salman membuka mulut dan menyanyi, dan suaranya keluar lebih fals dari yang pernah aku dengar. Lebih fals dari di atas kursi kafe. Lebih fals dari di tengah hujan Kemang. Lebih fals dari di lobby TRAC. Suaranya pecah di setiap kata, meleset ke arah yang bahkan nggak ada di tangga nada mana pun, seperti kucing yang ekornya terinjak pintu lalu mencoba menyanyikan lagu nasional.
Pak Hendro tersedak kopinya sendiri. Si Oren kabur. Dino terjatuh dari kursi karena tertawa.
Lalu Yura menyanyi lagi. Bagus. Lalu Salman. Fals. Lalu Yura. Bagus. Lalu Salman. Lebih fals.
Dan aku mengerti apa yang dia lakukan.
Dia sengaja.
Dia sengaja menyanyi lebih fals dari biasanya, supaya suara Yura terdengar lebih bagus. Supaya kontrasnya tajam. Supaya di akhir lagu, waktu semua orang bertepuk tangan, tepuk tangan itu untuk Yura. Bukan untuk lelucon. Untuk Yura yang belajar bahasa Hindi selama seminggu, yang berani berdiri di kafe dan menyanyi lagu India di depan teman-temannya.
Dia melakukan yang sama seperti di malming pertama. Jadi yang paling aneh. Supaya orang lain bisa bersinar.
Lagu selesai.
Kafe meledak dalam tepuk tangan. Pasangan di meja sebelah berdiri. Pak Hendro bersiul. Dino bertepuk tangan sambil masih tergeletak di lantai. Erga dan Diana bertepuk tangan bersamaan, dan bahu mereka bersentuhan, dan Diana nggak bergeser.
Yura membungkuk. Wajahnya merah sedikit. Senyumnya lebar, bukan senyum anchor, senyum orang yang baru saja melakukan sesuatu yang berani dan ternyata berhasil.
Dia menoleh ke Salman. Salman menunjuk Yura dengan kedua tangan, seperti pembawa acara yang memperkenalkan bintang utama. Tepuk tangan makin keras.
Dan aku bertepuk tangan juga.
Pelan.
Paling pelan di antara semua orang di kafe itu.
Tanganku bergerak, tapi rasanya seperti tangan orang lain. Tepuk. Tepuk. Tepuk. Aku tersenyum, senyum yang sudah aku latih sejak umur sembilan tahun, dan aku bertepuk tangan, dan nggak ada satu pun yang aku rasakan di dadaku yang ada hubungannya dengan senyum itu.
Aku nggak bisa menyanyi seperti itu.
Maksudku, aku bisa menyanyi. Aku pernah menyanyi di ulang tahun TRAC. Tapi aku nggak bisa berdiri di kafe di depan semua orang dan menyanyi lagu India dengan suara yang jujur, dengan pengucapan Hindi yang dipelajari seminggu, dengan wajah merah dan senyum lebar, tanpa melirik sekeliling dulu untuk memastikan nggak ada HP yang merekam.
Aku nggak bisa melakukan apa yang baru saja Yura lakukan.
Yura berani.
Dan aku cuma bisa bertepuk tangan. Pelan.
Malming selesai jam sebelas.
Di parkiran, semua orang berpencar. Erga mengantar Diana, dan kali ini Diana nggak menolak. Dia cuma bilang buka jendela, aku nggak mau bersin, dan masuk ke mobil Erga dengan bunga matahari di tasnya. Yura dijemput sopirnya. Dino bilang dia mau beli martabak dulu di ujung jalan.
Aku berdiri di samping mobilku.
Salman berdiri di samping Wati, lima meter jauhnya, memasang helm.
Aku menatap jok Wati. Jok yang berisi sandal, jas hujan, kabel charger, sambal sachet empat puluh bungkus, buku mewarnai, speaker kaleng. Dan, aku tahu karena aku melihat Salman menaruhnya di sana tadi sebelum masuk kafe, hoodie cadangan. Hoodie yang dia pakai minggu lalu. Warna abu-abu, bergambar karakter anime cewek kecil berambut merah muda yang sedang memegang kacang dengan wajah licik.
Hoodie Anya.
Aku nggak tahu kenapa aku melakukannya. Mungkin karena aku masih memikirkan tepuk tanganku yang paling pelan. Mungkin karena aku iri pada keberanian Yura dan nggak tahu harus melakukan apa dengan rasa iri itu. Mungkin karena aku mau sesuatu yang bisa aku pegang. Sesuatu yang punya Salman. Sesuatu yang bukan earbud atau sandal jepit, tapi sesuatu yang lebih besar, lebih hangat, yang bisa aku peluk.
Waktu Salman berjalan ke ujung parkiran untuk membuang sampah bungkus kerupuk ke tempat sampah, aku berjalan ke Wati.
Joknya nggak dikunci. Jok Wati nggak pernah dikunci. Wati percaya sama manusia, kata Salman suatu kali.
Aku membukanya. Hoodie Anya terlipat rapi di atas jas hujan. Aku mengambilnya. Menyembunyikannya di balik jaket denimku. Menutup jok Wati.
Lalu aku berjalan cepat kembali ke mobilku, jantung berdebar seperti maling ayam.
Salman kembali dari tempat sampah. Menatapku. Aku melambai dengan senyum yang sangat santai dan sangat nggak bersalah.
“Pulang hati-hati, Cyn.”
“Kamu juga, Man.”
Dia menyalakan Wati. Lalu berhenti. Menoleh ke arahku. Matanya menyipit sedikit.
Aku menahan napas.
“Cyn.”
“Hm?”
Dia mematikan Wati lagi. Turun. Berjalan ke arahku, lima meter yang terasa sangat panjang, dan berhenti di depan pintu mobilku. Helm masih di kepala, kacanya terbuka.
“Aku mau ngomong sesuatu,” katanya. “Soal halte. Soal saku. Soal...”
Jantungku berhenti.
Hoodie Anya di balik jaketku terasa sangat tebal dan sangat mencurigakan.
“Soal—”
“MARTABAAAAK!”
Dino muncul dari ujung jalan, berlari kecil dengan dua kotak martabak di tangan, wajah berbinar seperti orang yang baru menemukan harta karun. “Guys! Gue beli dua! Satu manis keju cokelat, satu telor bebek spesial! Masih anget! Siapa mau?”
Salman menatap Dino. Aku menatap Dino. Dino menatap kami berdua, berdiri berhadapan di samping mobil dengan jarak setengah meter, dan wajahnya pelan-pelan berubah dari berbinar ke bingung ke horor.
“Oh,” katanya. “Oh nggak. Oh, gue ganggu, ya?”
“Nggak,” kata kami berdua bersamaan.
“Gue ganggu.” Dino mundur selangkah. Lalu satu langkah lagi. Lalu dia menyodorkan dua kotak martabak itu ke kami. “Ini. Ambil. Dua-duanya. Ini permintaan maaf. Gue pergi. Gue nggak lihat apa-apa. Gue pulang.” Dia menaruh kotak martabak di kap mobilku dan berlari ke arah ojeknya. “LANJUTIN AJA, GUYS!”
Hening.
Salman menatap dua kotak martabak di kap mobilku. Lalu menatapku. Lalu menarik napas, dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang tadinya terbuka pelan-pelan menutup lagi, rapi, seperti laci.
“Nanti aja,” katanya. “Martabaknya keburu dingin.”
Dia mengambil kotak martabak telor, menyerahkan yang manis kepadaku, lalu kembali ke Wati.
Wati melaju. Klakson Chaiyya Chaiyya. Si Oren, yang sudah kembali dari pelariannya, menatap kami dengan kebencian murni.
Aku masuk ke mobil dan memeluk hoodie Anya di dadaku sampai lampu merah pertama.
Jam satu pagi, aku berbaring di kasur.
Lampu tidur kuning menyala. AC dua puluh empat derajat, karena sekarang aku sudah belajar. Earbud kanan punya Salman di telinga, memutar Tujhe Dekha To versi asli, versi yang nggak ada falsnya.
Dan aku memakai hoodie Anya.
Kebesaran. Lengannya menutupi tanganku sampai ujung jari. Bagian bawahnya sampai ke paha. Baunya bau Salman. Bukan parfum. Salman nggak pakai parfum. Bau sabun cuci baju yang murah, sedikit kaldu sapi, sedikit karet dari kabel, dan sesuatu yang hangat yang aku nggak bisa jelaskan.
Aku mengangkat tangan kananku. Lengan hoodie menjuntai kosong melewati jari-jariku.
Aku memotretnya. Cuma ujung lengan hoodie. Abu-abu, dengan sedikit gambar rambut merah muda Anya yang kelihatan di pinggir frame.
Lalu aku mengirimnya.
Aku: [foto: ujung lengan hoodie abu-abu]
Aku: hoodie-mu diculik
Aku: tebusannya bakso
Aku langsung menaruh HP di dada, layar menghadap ke bawah, dan menutup wajah dengan bantal.
Satu menit. Dua menit.
HP bergetar.
Aku membaliknya.
Teknisi Ch. 7: [foto]
Foto Wati. Di bawah atap seng kecil di depan warung Bu Nur, dengan kabel charger tertancap. Lampu depannya menyala. Dan di atas lampu depan itu, di atas stiker mata anime yang berbinar, ada selembar tisu. Ditempel pakai selotip. Menutupi mata Wati.
Seperti orang yang menutup mata karena sedih.
Teknisi Ch. 7: wati sedih
Teknisi Ch. 7: dia nggak bisa lihat
Teknisi Ch. 7: soalnya sahabatnya diculik dari dalam joknya sendiri
Teknisi Ch. 7: dia merasa gagal jadi satpam
Aku tertawa ke bantal.
Aku: maaf wati
Aku: tapi penculiknya bakal jaga sahabatmu baik-baik
Teknisi Ch. 7: wati tanya
Teknisi Ch. 7: penculiknya pake hoodienya sekarang?
Aku menatap pertanyaan itu.
Jempolku melayang di atas papan ketik. Aku bisa bohong. Aku bisa bilang nggak, aku simpan di lemari. Aku bisa bilang nggak, aku cuci dulu.
Tapi jam satu pagi punya aturan sendiri. Dan di jam satu pagi, aku nggak bisa bohong ke Salman.
Aku: iya
Titik-titik mengetik muncul. Hilang. Muncul. Hilang. Muncul.
Lama.
Lalu:
Teknisi Ch. 7: oke
Teknisi Ch. 7: wati udah nggak sedih
Teknisi Ch. 7: dia buka tisunya
Teknisi Ch. 7: [foto: Wati tanpa tisu, mata anime berbinar di bawah lampu jalan]
Teknisi Ch. 7: tebusannya bakso level berapa?
Aku: level 9
Aku: biar aku nangis lagi
Aku: kamu kan suka lihat aku nangis kepedesan
Teknisi Ch. 7: aku nggak suka lihat kamu nangis
Teknisi Ch. 7: aku suka lihat kamu ketawa abis nangis
Teknisi Ch. 7: beda
Aku membaca pesan itu. Lalu membacanya lagi. Lalu memeluk lutut di dalam hoodie Anya yang kebesaran, di bawah lampu tidur kuning, dengan Tujhe Dekha To di telinga kanan.
Aku: man
Aku: tadi yura nyanyinya bagus ya
Aku nggak tahu kenapa aku mengirim itu. Itu keluar begitu saja. Pertanyaan yang sudah menempel di tenggorokanku sejak aku bertepuk tangan paling pelan di kafe.
Titik-titik mengetik muncul.
Teknisi Ch. 7: bagus
Teknisi Ch. 7: nadanya pas semua
Teknisi Ch. 7: pengucapan hindinya 70%
Teknisi Ch. 7: dia latihan serius
Aku menatap layar. Dadaku mengencang.
Lalu satu pesan lagi.
Teknisi Ch. 7: tapi
Lalu titik-titik mengetik. Lama sekali. Lebih lama dari yang pernah aku lihat.
Lalu titik-titik itu hilang.
Dan nggak muncul lagi.
Aku menatap layar sampai lampunya padam sendiri. Tapi. Satu kata. Nggak ada lanjutannya.
Tapi apa?
Aku menyalakan layar lagi. Masih tapi. Masih nggak ada lanjutan. Status online-nya sudah mati.
Aku tertidur jam dua lewat, di dalam hoodie Anya, dengan HP di dada dan satu kata yang menggantung di kepalaku seperti nada yang belum selesai.
Hari Senin, jam enam lewat dua puluh empat, jeda iklan pertama Sapa Pagi.
Aku duduk di sofa set. Tim rias sudah pergi. Sasa sudah pergi. Floor director sedang bicara dengan kamerawan di sisi lain studio.
Aku menunduk ke mic clip-on di kerah blazerku.
“Teknisi channel tujuh.”
Bip. Bip.
Aku menarik napas.
“Yura...” Aku berhenti. Menelan ludah. “Yura suaranya bagus, ya.”
Diam sebentar. Satu detik. Dua detik.
Bip. Bip.
Iya.
Dadaku turun sedikit. Tentu saja. Tentu saja iya. Suara Yura memang bagus. Aku sendiri yang bertepuk tangan, walaupun paling pelan.
Lalu, satu detik kemudian:
Bip.
Satu bip lagi. Terpisah. Sendirian.
Aku membeku.
Bip bip artinya iya. Bip artinya nggak. Itu yang sudah kami sepakati tanpa pernah menyepakatinya.
Tapi bip bip, lalu bip?
Iya. Tapi nggak.
Iya. Tapi.
Aku menatap lurus ke kamera yang belum menyala, ke lensa hitam yang besar dan kosong, dan aku merasa ada sesuatu yang naik dari perutku ke dada ke tenggorokan ke wajah.
Lalu HP di saku blazerku bergetar. Sekali.
Aku nggak boleh membuka HP di set. Itu aturan. Aturan yang aku sendiri tegakkan selama dua tahun.
“Lima belas detik!”
Aku mengeluarkan HP. Menunduk. Membaca di balik meja set, di mana kamera nggak bisa melihat.
Teknisi Ch. 7: semalam aku ketiduran pas ngetik
Teknisi Ch. 7: lanjutannya
Teknisi Ch. 7: tapi suara yang aku hafal cuma satu
Teknisi Ch. 7: dan suara itu tiap pagi bilang selamat pagi indonesia, tarik napasnya di koma sebelum indonesia
“Sepuluh detik!”
Aku memasukkan HP ke saku.
Merapikan blazer. Menegakkan punggung. Menatap kamera.
“Lima, empat, tiga...”
Lampu merah di atas kamera menyala.
“Dan kita kembali lagi di Sapa Pagi TRAC...”
Suaraku keluar dari monitor studio. Aku bisa mendengarnya. Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, suaraku bergetar sedikit di kata kembali. Getaran kecil, di frekuensi tengah, yang nggak akan disadari dua juta penonton di rumah.
Tapi satu orang di lantai empat belas pasti sadar.
Dan aku nggak peduli dia sadar.
Malah, untuk pertama kalinya, aku mau dia sadar.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua reading
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu