Chapter Twenty

Segmen Baru: ErCyn

POV: Cynthia

Semuanya dimulai dari live Instagram Dino.

Video tiga menit di malming itu, video di mana Salman menyanyi Kuch Kuch Hota Hai di atas kursi dengan hoodie kucing Bollywood, ternyata diunggah ulang oleh seseorang ke TikTok. Bukan bagian Salman menyanyi. Bagian sebelumnya. Bagian di mana kamera Dino berputar ke Erga, dan Erga melambai dengan canggung ke kamera, dan Dino bilang ini Mas Erga, yang ganteng, cewek-cewek tahan napas.

Klip tujuh detik itu ditonton dua juta kali dalam seminggu.

Komentarnya berisi hal-hal yang sudah bisa ditebak. Ini siapa??, Mas Erga kerja di mana??, TRAC kok nyembunyiin orang seganteng ini di balik layar??, Kalau Mas Erga jadi host, aku nonton TRAC tiap hari.

Hari Selasa, divisi marketing TRAC mengadakan rapat darurat.

Hari Rabu, rapat itu menghasilkan sebuah ide.

Hari Kamis, ide itu sampai ke ruang rapat Sapa Pagi di lantai dua belas, dibawa oleh Mbak Rini dari marketing dengan presentasi yang judulnya, dalam huruf kapital merah muda: JUMAT MANIS BARENG ERGA — SEGMEN BARU SAPA PAGI.

Konsepnya sederhana. Setiap Jumat, Erga akan jadi co-host di segmen terakhir Sapa Pagi. Lima belas menit. Masak bareng. Ngobrol santai. Main games ringan. Bersama pembawa acara utama Sapa Pagi.

Bersama aku.

“Chemistry,” kata Mbak Rini, menekankan kata itu sambil menunjuk slide yang berisi foto Erga dan fotoku berdampingan, diedit dengan latar belakang merah muda dan bunga-bunga. “Dua wajah paling marketable di TRAC dalam satu frame. Penonton suka itu. Data kita bilang segmen dengan dua host lawan jenis yang punya chemistry naik rating rata-rata nol koma delapan.”

Mas Teddy mengangguk-angguk. Sasa mencatat. Dua creative saling sikut dengan senyum lebar.

Aku tersenyum. Senyum yang dilatih.

“Erga udah setuju?” tanyaku.

“Udah kami kabari,” jawab Mbak Rini. “Dia agak ragu, katanya dia produser, bukan talent. Tapi Pak Wiryo udah approve. Ini cuma tiga bulan. Uji coba.”

Tiga bulan.

Aku menatap slide merah muda itu. Fotoku dan foto Erga berdampingan, dengan bunga-bunga di sekeliling kami seperti undangan pernikahan.

Lalu, entah kenapa, aku teringat basement B2 Zona C. Hoodie beruang cokelat yang memeluk toples madu. Jangan bilang siapa-siapa dulu, ya.

Nggak apa-apa.

“Oke,” kataku. “Aku siap.”


Erga menemuiku di pantry lantai dua belas jam tiga sore.

Wajahnya kusut. Rambutnya, yang biasanya berantakan dengan sengaja, sekarang berantakan dengan nggak sengaja. Dia menuang kopi sachet ke gelas kertas, lupa menambahkan air panas, dan menatap bubuk kopi kering di dasar gelas itu dengan pandangan kosong.

“Ga,” kataku. “Airnya.”

Dia menatap gelasnya. “Oh.”

Dia menuang air panas. Lalu menatapku.

“Cyn, aku nggak mau.”

“Aku tahu.”

“Aku produser. Aku kerja di belakang kamera. Aku suka kerja di belakang kamera.” Dia menyeruput kopinya, lalu meringis karena terlalu panas. “Aku nggak mau jadi talent. Aku nggak mau orang-orang di lift makin diam kalau aku masuk. Aku nggak mau dapat bekal dari empat puluh orang, bukan cuma satu.”

“Satu orang yang kasih bekal itu siapa, ngomong-ngomong, kamu udah tahu?”

“Belum. Udah hari ke-lima puluh dua.” Dia menghela napas. “Tapi itu bukan intinya.”

“Intinya apa?”

Erga menatap gelas kopinya lama. Lalu dia menatapku, dan wajahnya berubah. Lebih pelan. Lebih jujur.

“Intinya Diana,” katanya.

Aku menatapnya.

“Kalau aku sama kamu di layar tiap Jumat,” lanjutnya, “masak bareng, ketawa bareng, main games bareng, dan Mbak Rini bilang soal chemistry, chemistry, chemistry...” Dia menggeleng. “Diana bakal nonton. Diana selalu nonton Sapa Pagi di kantin jam tujuh. Dia bilang buat riset, buat lihat naskah orang lain. Dan dia bakal lihat aku sama kamu, dan dia bakal mikir...”

“Mikir kamu sama aku?”

“Dia bakal mikir aku cowok yang nembak dia pakai bunga matahari hari Sabtu, terus hari Jumat-nya ketawa-ketawa sama kamu di TV nasional.” Erga menutup wajah dengan tangan. “Ronde dua aku kalah karena parfum, Cyn. Ronde tiga aku bakal kalah karena Jumat Manis.”

Aku menatap Erga. Laki-laki yang membuat anak magang menjatuhkan nampan, yang dapat lauk tambahan di mana pun dia duduk, yang wajahnya ditonton dua juta kali dalam tujuh detik. Dan dia duduk di pantry lantai dua belas, menutup wajah dengan tangan, karena takut satu orang perempuan berbuku catatan batik akan salah paham.

“Ga,” kataku pelan. “Aku tahu kamu suka Diana.”

“Semua orang tahu aku suka Diana. Aku nembak dia di depan semua orang.”

“Iya. Dan aku yang edit pidatomu jam dua pagi, inget?” Aku tersenyum. “Aku di pihakmu. Aku nggak akan bikin ini susah. Kita kerja profesional aja. Di layar, kita co-host. Di luar layar, kita teman. Diana bakal ngerti.”

Erga menurunkan tangannya. Menatapku.

“Kamu yakin?”

“Diana itu penulis naskah, Ga. Dia tahu bedanya naskah sama kenyataan.”

Erga menatapku lama. Lalu tersenyum sedikit. Lega.

“Makasih, Cyn,” katanya. Lalu dia memiringkan kepala. “Eh, ngomong-ngomong, kamu sendiri? Nggak ada yang bakal salah paham kalau kamu sama aku di layar tiap Jumat?”

Aku membeku.

Di kepalaku, ada wajah. Wajah datar dengan telinga merah. Hoodie beruang cokelat. Satu earbud di telinga kiri. Dua ratus delapan puluh anak tangga.

Jangan bilang siapa-siapa dulu, ya.

“Nggak ada,” kataku. Senyum yang dilatih. Tiga detik. “Aku single.”

Erga mengangguk. Percaya. Tentu saja dia percaya. Kenapa nggak?

Dia pergi dengan kopi sachet di tangan, langkahnya lebih ringan dari waktu dia masuk.

Aku berdiri sendirian di pantry lantai dua belas, menatap mesin dispenser air.

Aku single.

Dua kata. Ringan. Cepat. Tanpa jeda.

Seperti preset.


Malam itu aku mengirim pesan.

Aku: man
Aku: kamu udah dengar soal segmen jumat?
Teknisi Ch. 7: udah
Teknisi Ch. 7: pak bambang udah briefing tim audio tadi sore
Teknisi Ch. 7: mic tambahan buat erga. channel 8
Aku: kamu oke?
Teknisi Ch. 7: oke kenapa
Aku: soalnya mbak rini terus-terusan bilang chemistry
Aku: dan nanti pasti ada yang ngeship
Aku: dan aku nggak bisa bilang apa-apa
Aku: soalnya kita masih rahasia

Titik-titik mengetik muncul.

Teknisi Ch. 7: cyn
Teknisi Ch. 7: kerja aja
Teknisi Ch. 7: suaramu aku mixing biar bagus
Teknisi Ch. 7: suara erga juga aku mixing biar bagus
Teknisi Ch. 7: biar orang-orang di rumah senang
Teknisi Ch. 7: itu kerjaanku. itu kerjaanmu
Teknisi Ch. 7: aku nggak apa-apa

Aku menatap tiga kata terakhir itu.

Aku nggak apa-apa.

Lalu satu pesan lagi.

Teknisi Ch. 7: lagian erga itu bukan saingan
Teknisi Ch. 7: erga itu teman yang hatinya udah dikunci sama diana pakai gembok lima kata
Teknisi Ch. 7: aku udah lihat dia lihat diana. itu bukan tatapan yang bisa dipindahin

Aku tersenyum ke layar. Dia benar. Dia selalu benar soal hal-hal seperti ini.

Tapi aku tetap membaca aku nggak apa-apa itu dua kali sebelum tidur.


Jumat pertama.

Sapa Pagi, segmen terakhir, jam tujuh lewat empat puluh lima. Set studio enam diubah jadi dapur mini dengan meja marmer palsu, kompor portabel, dan rak bumbu yang isinya cuma properti. Ada spanduk kecil di belakang meja: JUMAT MANIS BARENG ERGA.

Erga berdiri di sebelahku memakai celemek warna biru muda. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar sedikit waktu memegang spatula.

“Ga,” bisikku waktu floor director menghitung mundur. “Tarik napas.”

“Aku udah tarik napas dari jam lima.”

“Keluarin.”

“Kalau aku keluarin, aku pingsan.”

“Tiga, dua...”

Lampu merah di atas kamera menyala.

“Halo, Indonesia! Selamat datang di segmen baru Sapa Pagi, Jumat Manis!” Suaraku keluar ceria, terang, seperti matahari pagi. “Dan hari ini, saya ditemani seseorang yang mungkin udah kalian lihat di TikTok minggu ini...”

Aku menoleh ke Erga.

Erga menatap kamera. Lalu menatapku. Lalu menatap kamera lagi. Mulutnya terbuka. Nggak ada suara yang keluar.

Satu detik.

Dua detik.

Di control room, aku bisa membayangkan Mas Teddy menutup wajah dengan tangan.

Lalu Erga mengangkat spatula. Melambai ke kamera dengan spatula. Seperti melambai dengan tangan, tapi pakai spatula.

“Halo,” katanya. Suaranya naik satu oktaf. “Saya... Erga. Saya produser. Saya nggak biasa di depan kamera. Maaf. Ini spatula.”

Hening dua detik.

Lalu dari balik kamera, aku mendengar sesuatu. Suara kru. Kamerawan. Floor director. Sasa. Mereka semua tertawa. Tertawa yang ditahan, tertawa yang nggak boleh masuk mic, tapi bocor sedikit lewat bahu yang bergetar dan napas yang tersendat.

Dan aku juga tertawa. Bukan tawa yang dilatih. Tawa yang keluar begitu saja, karena Erga Mahendra baru saja memperkenalkan dirinya ke dua juta orang dengan spatula.

“Oke, Mas Erga,” kataku di antara tawa. “Spatulanya bisa ditaruh dulu. Kita belum mulai masak.”

“Oh.” Erga menatap spatula di tangannya. “Oh iya.”

Dia menaruhnya di meja. Lalu, karena gugup, dia menaruh tangannya di atas meja marmer palsu, tepat di atas tumpukan tepung terigu yang sudah disiapkan tim properti.

Puff.

Tepung mengepul. Ke wajahnya. Ke rambutnya. Ke celemek biru mudanya.

Erga berdiri di sana, wajahnya putih karena tepung, menatap kamera dengan mata berkedip-kedip.

“...Maaf,” katanya lagi.

Dan seluruh studio enam meledak.


Segmen lima belas menit itu jadi segmen paling kacau dalam sejarah Sapa Pagi.

Erga menjatuhkan telur. Dua kali. Erga salah menyalakan kompor dan apinya terlalu besar. Erga menambahkan gula, bukan garam, ke adonan pancake, lalu mencicipinya, lalu wajahnya berubah seperti orang yang baru minum air laut. Erga mencoba membalik pancake dengan gaya chef profesional, dan pancake-nya terbang ke atas, lewat kepala kami, dan mendarat di kamera dua.

Aku menyelamatkan semuanya. Aku mengambil alih kompor. Aku memperbaiki adonan. Aku membuat pancake baru sementara Erga membersihkan tepung dari wajahnya dengan tisu basah. Aku bercanda dengan kamera. Aku menenangkan Erga di sela-sela. Aku melakukan semua yang biasa aku lakukan sebagai presenter: membuat yang berantakan terlihat lucu, membuat yang memalukan terlihat manis.

Dan aku tertawa. Banyak. Lebih banyak dari biasanya di Sapa Pagi.

Bukan karena Erga. Ya, karena Erga, tapi bukan karena Erga itu. Bukan karena chemistry. Karena Erga dengan wajah penuh tepung dan pancake di kamera dua itu memang lucu, dan karena aku sudah lama nggak tertawa di layar dengan tawa yang bukan tiga detik.

Di akhir segmen, kami berdiri berdampingan di belakang meja yang berantakan, memegang piring berisi pancake yang bentuknya lebih mirip peta Kalimantan daripada lingkaran.

“Itu tadi Jumat Manis,” kataku ke kamera, tersenyum. “Sampai jumpa Jumat depan, dengan... semoga lebih sedikit tepung.”

“Maaf, Indonesia,” tambah Erga, dengan sisa tepung di alis kirinya.

Lampu merah padam.

Jeda iklan.


Studio enam masih ramai. Kru membersihkan tepung dan telur dan pancake yang menempel di kamera dua. Erga duduk di kursi di sudut, wajahnya di tangan, dikelilingi Sasa dan Mas Teddy yang menepuk-nepuk bahunya sambil tertawa.

Aku berdiri sendirian di belakang meja marmer palsu, mic clip-on masih di kerah blazer.

Aku menunduk. Mendekatkan dagu ke mic.

“Teknisi channel tujuh,” bisikku.

Di earpiece-ku: Bip. Bip.

Aku tersenyum.

“Tadi aku senyum terus, ya?” bisikku.

Bip. Bip.

“Banyak ketawa?”

Bip. Bip.

Aku menarik napas.

“Senyum tadi,” bisikku, sangat pelan, cukup pelan supaya nggak ada yang dengar di studio yang ramai itu, cukup keras untuk mic lima senti dari daguku, “buat kamera.”

Diam.

“Yang pas jeda,” lanjutku, “yang sekarang ini... itu buat kamu.”

Diam lagi. Satu detik. Dua detik.

Lalu:

Bip. Bip.

Dan satu lagi, setelah jeda yang lebih panjang:

Bip. Bip.

Dua kali dua. Empat bip.

Aku menutup mulut dengan punggung tangan. Bahuku bergetar. Di sudut studio, Sasa menoleh ke arahku dengan bingung.

“Mbak? Kenapa?”

“Nggak,” kataku dari balik tangan. “Tepung. Masuk hidung.”


Klip segmen Jumat Manis diunggah ke akun TikTok TRAC jam sebelas siang.

Jam satu siang, sudah ditonton lima ratus ribu kali.

Jam tiga sore, sejuta.

Komentarnya penuh dengan hal-hal yang sudah aku duga dan sudah aku takutkan.

YA AMPUN MEREKA LUCU BANGET

mas erga gugup bgt pas di sebelah mbak cynthia 😭😭 salting kah??

cynthia ketawanya beda bgt hari ini, biasanya kaku, ini lepas bgt

mereka cocok ga sih??

ERCYN. ERCYN. AKU NAMAIN MEREKA ERCYN.

ercyn real ga sih 👀

#ERCYN #ERCYN #ERCYN

Jam lima sore, tagar #ErCyn masuk trending nomor tujuh di X Indonesia.

Aku membaca semuanya di toilet lantai dua belas. Duduk di atas kloset tertutup. Seperti biasa.

cynthia ketawanya beda bgt hari ini, biasanya kaku, ini lepas bgt.

Mereka benar. Tawaku memang lepas. Tapi bukan karena Erga.

Karena empat bip di jeda iklan. Karena seseorang di lantai empat belas yang menaikkan fader channel tujuh dan channel delapan supaya suaraku dan suara Erga terdengar bagus, dan membalas bisikanku dengan tombol kuning. Karena aku tahu, waktu aku tertawa di layar, ada satu orang yang mendengarkan tawaku lewat headphone dan menyimpannya di folder YANG ASLI.

Tapi nggak ada yang tahu itu.

Dua juta penonton cuma melihat aku dan Erga di layar, tertawa bersama. Dan mereka menamainya ErCyn.

Dan aku nggak bisa bilang apa-apa.

Karena aku sendiri yang bilang jangan bilang siapa-siapa.


Diana nggak datang ke kantin hari itu.

Yura bilang Diana makan siang di mejanya sendiri, di lantai dua puluh dua, divisi variety, dengan pintu ruangan ditutup. Yura bilang Diana nonton Sapa Pagi jam tujuh pagi tadi di kantin seperti biasa, lalu pergi sebelum segmen Jumat Manis selesai.

“Dia bilang dia ada deadline,” kata Yura. “Tapi aku lihat dia jalan ke lift. Langkahnya cepet. Rapi.”

Kayak tentara, aku hampir bilang. Aku menelan kalimat itu.

Jam empat sore, Erga berdiri di depan pintu ruang divisi variety, lantai dua puluh dua.

Aku tahu karena aku ada di sana. Bukan menguping. Aku cuma kebetulan harus mengantar naskah ke divisi variety, dan kebetulan berdiri di balik pilar di koridor, dan kebetulan nggak bergerak selama lima menit.

Erga sudah ganti baju. Kemeja abu-abu. Rambut sudah bersih dari tepung. Dan aku bisa tahu dari jarak lima meter: dia nggak pakai parfum. Sama sekali.

Dia mengetuk pintu ruang variety. Diana membuka.

Diana menatapnya. Wajahnya datar. Buku catatan batik di tangan kirinya.

“Mas Erga.”

“Di.” Erga menarik napas. “Aku mau ngomong. Soal tadi pagi.”

“Soal Jumat Manis?” Diana mengangkat alis. “Aku nonton. Kamu jatuhin telur dua kali. Kamu masukin gula ke pancake asin. Pancake-mu terbang ke kamera dua. Itu konten yang sangat... konten.”

“Di, itu bukan...” Erga berhenti. Mulai lagi. “Itu kerjaan. Aku dipaksa marketing. Aku sama Cynthia nggak ada apa-apa. Aku suka kamu. Aku masih suka kamu. Ronde tiga. Aku nggak pakai parfum.”

Diana menatapnya.

Lalu, pelan, dia mengangkat tangan kanan.

Satu jari. “Urus.”

Dua jari. “Dulu.”

Tiga jari. “Kapalmu.”

Empat jari. “Yang.”

Lima jari. “Tenggelam.”

Dia menurunkan tangan.

“#ErCyn trending nomor tujuh, Mas,” katanya datar. “Satu Indonesia lagi jodohin kamu sama Cynthia. Ada yang bikin fan edit pakai lagu Tulus. Aku lihat. Bagus. Editing-nya rapi.” Dia mengangkat bahu. “Kamu baru aja dijadiin kapal sama dua juta orang. Kamu nggak bisa naik kapal lain sebelum kapal itu tenggelam.”

“Aku nggak naik kapal itu, Di. Aku didorong ke kapal itu.”

“Tetap aja kamu di atas kapal.”

“Di—”

“Ronde tiga, kalah.” Diana mundur selangkah. “Bukan karena parfum. Kamu nggak pakai parfum. Aku bisa cium. Makasih.” Dia diam sebentar. Suaranya turun sedikit. Sedikit sekali. “Kalah karena aku nggak mau jadi orang ketiga di kapal orang lain. Walaupun kapalnya bohongan.”

Dia menutup pintu.

Pelan. Nggak dibanting. Tapi pintu itu tertutup, dan Erga berdiri di depannya, di koridor lantai dua puluh dua, menatap pintu kayu cokelat itu.

Aku berdiri di balik pilar.

Dan aku merasakan sesuatu yang berat di dadaku. Bukan karena Erga ditolak. Erga sudah ditolak dua kali sebelumnya, dan dia selalu tertawa sesudahnya. Kali ini dia nggak tertawa.

Berat karena aku tahu kapal itu bohongan. Aku tahu. Erga tahu. Salman tahu.

Tapi aku nggak bisa bilang ke Diana. Aku nggak bisa bilang ke dua juta orang di X. Aku nggak bisa bilang ErCyn itu nggak ada, karena aku udah punya pacar, dan pacarku teknisi audio di lantai empat belas yang naik tangga dua ratus delapan puluh anak tangga tiap pagi supaya nggak satu lift sama aku.

Karena aku sendiri yang minta dia jangan bilang siapa-siapa.

Dan sekarang Diana menutup pintu di depan Erga karena kapal yang aku nggak bisa tenggelamkan.


Jam tujuh malam, basement B2.

Aku sudah mengirim pesan jam enam: b2. jam 7. bukan tebusan. cuma mau ketemu.

Salman sudah menunggu di samping Wati. Tapi bukan di pojok Zona C. Di pojok lain. Zona D, dekat pilar besar yang dicat kuning-hitam, di bawah lampu yang setengah mati.

“Kenapa pindah?” tanyaku.

“Blind spot.” Dia menunjuk ke atas. Kamera CCTV terdekat ada di pilar seberang, mengarah ke jalur keluar. “Raka udah petain. Ini satu-satunya titik di basement B2 yang nggak kena kamera mana pun. Dia bikin slide khusus. Judulnya Peta Blind Spot CCTV TRAC Tower untuk Keperluan Romantis.”

“Raka butuh hobi lain.”

“Raka bilang ini hobinya sekarang.”

Aku tersenyum. Lalu senyumku jatuh.

Salman langsung melihatnya. Tentu saja dia melihatnya. Dia selalu melihat.

“Kamu kenapa?”

“Diana nolak Erga,” kataku. “Ronde tiga. Gara-gara ErCyn.”

Salman diam.

“Dia bilang dia nggak mau jadi orang ketiga di kapal orang lain. Walaupun kapalnya bohongan.” Aku menggigit bibir. “Dan aku nggak bisa bilang ke dia kapalnya bohongan. Soalnya kalau aku bilang, aku harus bilang kenapa aku tahu kapalnya bohongan. Dan kalau aku bilang kenapa...”

“Kamu harus bilang soal aku.”

“Iya.”

Salman menatapku lama. Wajahnya datar.

“Cyn,” katanya pelan. “Kamu nggak harus—”

“Aku tahu aku nggak harus.” Aku menatap lantai beton. “Tapi rasanya kayak aku yang nenggelemin Erga. Pakai kapal bohongan. Soalnya aku terlalu takut buat bilang yang sebenarnya.”

Hening.

Dengung AC sentral. Lampu neon yang setengah mati berkedip.

Lalu Salman bilang sesuatu yang membuat aku mengangkat kepala.

“Erga bakal ronde empat,” katanya.

“Apa?”

“Erga bakal ronde empat. Terus ronde lima. Terus ronde enam.” Dia menatapku. “Aku udah lihat dia lihat Diana. Itu bukan tatapan orang yang berhenti di ronde tiga. Itu tatapan orang yang bakal terus balik ke ring sampai wasitnya capek.” Dia mengangkat bahu. “Dan Diana nutup pintu pelan. Nggak dibanting. Pintu yang ditutup pelan itu pintu yang masih bisa dibuka lagi.”

Aku menatapnya.

“Kamu tahu dari mana pintunya ditutup pelan?”

“Erga cerita. Tadi sore. Di tangga darurat lantai dua puluh. Dia duduk di situ setengah jam.” Salman diam sebentar. “Aku bawain dia bakso.”

Tentu saja.

Tentu saja dia membawakan bakso ke Erga. Ke laki-laki yang pagi tadi berdiri di sebelahku di layar nasional, yang sekarang dijodohkan denganku oleh dua juta orang, yang tagarnya trending nomor tujuh. Salman menemukannya duduk di tangga darurat dan membawakannya bakso.

Dan aku teringat pesan semalam. Erga itu bukan saingan. Erga itu teman.

Dia nggak bohong.

Dia nggak pernah bohong.

Aku melangkah ke depannya.

“Man.”

“Hm.”

Aku memegang tali hoodie-nya. Hoodie hari ini warna kuning pucat, bergambar seekor anak ayam yang memakai kacamata hitam dan berselancar di atas telur goreng. Talinya menjuntai di depan dadanya, dua tali putih dengan ujung plastik.

Aku menarik tali itu. Pelan.

Dia menunduk sedikit, mengikuti tarikan.

“Ini,” bisikku, “biar kamu nggak mikirin aku sama Erga.”

Lalu aku menciumnya.

Di bibir. Singkat. Satu detik, mungkin dua. Bibirnya hangat dan sedikit kering dan sama sekali nggak siap. Aku bisa merasakan dia membeku, seluruh badannya, seperti Wati di dua persen.

Aku menarik diri.

Salman berdiri di sana, di blind spot CCTV Zona D, di bawah lampu neon yang setengah mati, tali hoodie masih di tanganku. Matanya terbuka lebar. Mulutnya sedikit terbuka. Telinganya merah. Lehernya merah. Pipinya, yang hampir nggak pernah berubah warna, merah.

Lima detik dia nggak bicara.

Lalu, dengan suara yang sangat pelan dan sangat serius, seperti teknisi yang mencatat hasil pengukuran:

“...Ini level enam.”

Aku mengerjap. “Apa?”

“Tadi level tiga. Cium kening. Di bioskop.” Dia menatapku. Masih bengong. “Ini level enam. Kamu loncat tiga level.”

“Protes?”

Dia diam sebentar. Menatap bibirku. Menatap mataku. Menatap tali hoodie di tanganku.

“Enggak,” katanya akhirnya. “Cuma nyatet.”

Aku tertawa.

Dan dia tertawa. Tawa yang rendah dan serak, dari dadanya, yang membuat anak ayam berkacamata hitam di hoodie-nya bergetar. Dia menunduk, menyandarkan dahinya ke dahiku, dan tertawa pelan di sana, dengan napas yang hangat dan berantakan.

“Kamu jahat,” katanya.

“Kenapa?”

“Aku udah nyusun urutan. Level empat, level lima. Ada SOP-nya. Raka bikin slide.” Dahinya masih menempel di dahiku. “Kamu ngelewatin semua slide.”

“Slide-nya pakai Comic Sans?”

“...Iya.”

“Berarti nggak perlu dihormati.”

Dia tertawa lagi. Lebih keras. Dan tangannya naik, menyentuh pipiku, ibu jarinya mengusap pelan di bawah mataku.

“Cyn.”

“Hm.”

“Makasih,” katanya pelan. “Udah nggak mau aku mikirin kamu sama Erga.”

Aku menatapnya.

“Tapi aku nggak pernah mikirin kamu sama Erga,” lanjutnya. “Dari awal. Aku nggak khawatir soal itu.”

“Terus kamu khawatir soal apa?”

Dia diam.

Ibu jarinya berhenti di pipiku.

Lampu neon di atas kami berkedip. Terang. Gelap. Terang.

“Nggak ada,” katanya. Dan dia tersenyum. Senyum kecil. Senyum yang biasa. “Aku nggak khawatir soal apa-apa. Aku cuma nyatet.”

Dia mencium dahiku. Level tiga. Pelan.

Lalu dia mundur selangkah, menepuk jok Wati, dan bilang, “Ayo pulang. Wati baterainya 80 persen. Hari ini dia nggak akan mogok. Hari ini dia mau lihat kucing Kemang.”

Aku naik ke jok belakang. Melingkarkan tangan di pinggangnya. Memasukkan tanganku ke saku hoodie anak ayam berkacamata hitam.

Tangannya sudah menunggu di sana.

Tapi sepanjang jalan ke Kemang, di bawah lampu-lampu kota dan klakson Chaiyya Chaiyya di perempatan Mampang, ada satu pertanyaan yang nggak dijawab, yang menempel di belakang kepalaku seperti nada yang menggantung.

Terus kamu khawatir soal apa?

Nggak ada.

Terlalu cepat.

Terlalu ringan.

Aku menggenggam tangannya lebih erat di dalam saku hoodie, dan dia menggenggam balik. Dan aku memutuskan, lagi, untuk nggak mendengarkan.

Belum.