Chapter Twenty Six
Konsol Mati
POV: Salman
Sudah sebelas hari aku nggak pakai earbud.
Kotaknya masih di saku hoodie. Setiap pagi aku memasukkannya ke saku, dan setiap malam aku mengeluarkannya dan menaruhnya di samping kasur. Aku mengisi daya baterainya. Lampu indikatornya hijau. Siap pakai.
Aku nggak memakainya.
Telinga kiriku kosong. Sekarang dua-duanya buat dunia.
Dan ternyata dunia itu berisik sekali.
Aku nggak pernah sadar seberapa berisik. Selama bertahun-tahun, telinga kiriku selalu punya lagu. Gendang. Sitar. Suara laki-laki yang menyanyi dengan napas panjang. Lagu itu jadi semacam bantal. Penyeimbang. Kalau dunia di telinga kanan terlalu keras, lagu di telinga kiri membuatnya bisa ditanggung.
Sekarang nggak ada bantal.
Aku dengar semuanya. Klakson di Lenteng Agung. Mesin bajaj. Tukang parkir yang meniup peluit. Bunyi pintu lift. Bisik-bisik di lobby. Itu maskot yang dicium Mbak Yura, kan? Bunyi kemoceng Pak Darto. Bunyi kopi sachet diaduk Raka. Bunyi AC master control. Bunyi napasku sendiri.
Dan setiap pagi jam enam, lewat headphone, bunyi napas di channel tujuh.
Napasnya pendek lagi. Sudah sebelas hari. Tarikan di koma sebelum Indonesia telat setengah detik. Getaran serak di frekuensi rendah. Nada penutup kalimat turun, bukan naik.
Dia nggak tidur.
Aku memasang kompresor tipis di channel tujuh setiap pagi. Menaikkan frekuensi tengah-atas. Memotong frekuensi rendah tempat getaran itu tinggal. Menambahkan sedikit warmth.
Preset yang sama. SAPA PAGI — KURANG TIDUR.
Sebelas hari berturut-turut.
Dan sebelas hari berturut-turut, dia nggak memanggil di channel tujuh.
Hari Senin, minggu ketiga sesudah gala, jam enam lewat dua puluh tiga, jeda iklan pertama.
Aku sedang menatap konsol. Raka di sebelahku, menyeruput kopi sachet. Di layar monitor studio, Cynthia duduk di sofa set Sapa Pagi. Tim rias sudah pergi. Sasa sudah pergi.
Mic-nya masih terbuka di channel tujuh.
Aku nggak menunggu. Aku sudah berhenti menunggu sejak hari ketiga. Aku cuma menatap konsol.
Lalu suaranya masuk ke headphone.
Pelan. Sangat pelan. Lebih pelan dari biasanya.
“Teknisi channel tujuh.”
Tanganku berhenti di atas fader.
Raka menurunkan gelas kopinya pelan-pelan.
“Kalau dengar...” Dia berhenti. Aku dengar dia menelan ludah. Aku dengar napasnya, pendek, gemetar di ujung. “Kalau kamu masih dengar...”
Jari telunjukku bergerak ke tombol kuning di kanan bawah konsol. IFB TONE.
Satu senti di atasnya.
Dan di detik itu, konsol mati.
Nggak ada peringatan.
Nggak ada bunyi pop, nggak ada percikan, nggak ada asap. Konsol audio master control, konsol digital enam puluh empat channel yang sudah bekerja tujuh tahun tanpa libur, tiba-tiba mati. Layar sentuhnya hitam. Lampu-lampu kecil di fader, yang berkedip hijau seperti napas orang tidur, padam semua bersamaan. Kipas pendinginnya berhenti berdengung.
Sunyi.
Headphone-ku sunyi.
Bukan sunyi karena nggak ada yang bicara. Sunyi karena nggak ada sinyal. Sunyi yang mati.
Lalu alarm. Dari panel di dinding. Biiip. Biiip. Biiip. Lampu merah berkedip di atas pintu master control.
SIGNAL LOSS — AUDIO MAIN.
Raka berdiri dari kursinya. Gelas kopinya terguling, kopi sachet menyiram lantai.
“Mas! Mas, main audio-nya—”
“Aku tahu.”
Aku melihat layar monitor yang menampilkan feed siaran. Jeda iklan. Iklan sabun cuci piring. Iklan itu dari server playout, bukan dari konsol, jadi iklannya masih jalan dengan suara.
Tapi iklan itu tinggal empat puluh detik.
Sesudah itu, Sapa Pagi kembali.
Dan kalau konsol masih mati, dua juta orang di rumah akan melihat Cynthia membuka mulut di layar, tanpa suara. Bintang tamu bicara, tanpa suara. Musik latar, tanpa suara. Siaran langsung TV nasional, bisu, di jam paling ramai.
Tiga puluh delapan detik.
“Raka. Breaker.”
Raka berlari ke panel listrik di dinding belakang. Membuka tutupnya. “Breaker-nya nggak turun, Mas! Ini bukan listrik! Listrik masuk! Konsolnya yang mati!”
Power supply internal. Pasti. Konsol tujuh tahun. Komponen di dalamnya sudah tua. Pak Bambang sudah mengajukan penggantian dua kali tahun lalu, dua kali ditolak karena anggaran.
Tiga puluh detik.
“Konsol cadangan?” teriak Raka.
“Konsol cadangan butuh lima belas menit buat boot sama routing ulang.” Aku sudah berdiri. “Kita nggak punya lima belas menit.”
“Terus gimana, Mas?!”
Aku menatap sekeliling master control.
Rak akrilik dengan dua puluh satu figure dan satu alas kosong. Layar-layar di dinding. Lemari kabel. Meja Pak Bambang yang kosong karena dia baru datang jam tujuh.
Dan di pojok ruangan, di atas troli kecil, ditutup kain hitam berdebu.
Mixer portabel dua belas channel.
Yang tiga kenopnya pernah copot waktu ditabrak Si Cicit. Yang aku pasang lagi dalam lima menit di studio enam. Yang aku bawa ke master control sesudahnya dan nggak pernah dikembalikan ke gudang, karena aku nggak percaya gudang.
Mixer analog. Nggak butuh boot. Nggak butuh routing digital. Colok, nyalakan, jalan.
Dua puluh lima detik.
“Raka. Patch bay. Lepas semua output studio enam dari konsol. Colok ke tie line nomor tiga sampai sembilan.”
“Mas, itu—”
“Sekarang, Rak.”
Aku nggak ingat detail dua puluh lima detik itu dengan jelas.
Yang aku ingat cuma potongan-potongan. Kain hitam berdebu yang aku tarik dari mixer. Troli yang aku dorong ke tengah ruangan sampai menabrak kursi Pak Darto. Kabel-kabel yang aku cabut dari patch bay dengan tangan yang, anehnya, nggak gemetar. Raka yang berteriak tiga, empat, lima sambil mencolokkan kabel tie line di sisi lain. Lampu-lampu kecil di mixer portabel yang menyala satu per satu, hijau, kuning, hijau.
Mic Cynthia di channel satu. Mic bintang tamu di channel dua dan tiga. Musik latar di channel sepuluh, lewat kabel mini jack dari laptop Raka yang langsung memutar file dari drive. Output mixer ke tie line utama yang menuju ke encoder siaran.
Aku menaikkan fader channel satu.
Lewat headphone yang sekarang aku colok langsung ke output mixer portabel, aku dengar studio enam. Desis ruangan. Suara floor director. “Lima detik! Lima!”
Dan napas.
Napas Cynthia. Di sofa set. Pendek. Gemetar.
Dia nggak tahu konsol mati. Nggak ada yang di studio tahu. Mereka cuma tahu floor director sedang menghitung mundur.
Dia juga nggak dapat jawaban di channel tujuh.
Dia memanggil. Kalau kamu masih dengar. Dan yang dia dapat cuma sunyi.
Lagi.
“Tiga. Dua. Satu.”
Di layar monitor, lampu merah di atas kamera menyala.
“Dan kita kembali lagi di Sapa Pagi TRAC...”
Suaranya keluar dari speaker monitor di master control. Lewat mixer portabel dua belas channel yang pernah ditabrak troli, lewat kabel tie line yang dicolok Raka dengan tangan gemetar, lewat encoder, ke dua juta rumah di Indonesia.
Ada.
Suaranya ada.
Raka jatuh terduduk di lantai, di atas genangan kopi sachet, dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Dua jam berikutnya adalah dua jam paling lama dalam hidupku.
Mixer analog nggak punya preset. Nggak punya kompresor digital. Nggak punya plugin yang bisa aku pasang dengan satu klik. Nggak punya gate, nggak punya de-esser, nggak punya limiter otomatis yang menyelamatkanmu kalau bintang tamu tiba-tiba tertawa terlalu keras.
Mixer analog cuma punya tangan.
Tanganku.
Jadi aku duduk di depan mixer portabel itu dengan headphone di kepala dan kedua tangan di atas fader, dan aku melakukan semuanya sendiri. Setiap detik. Setiap kata.
Bintang tamu hari itu seorang penyanyi dangdut yang suaranya keras dan suka tertawa mendadak. Setiap kali dia tertawa, aku menurunkan fader channel dua setengah sentimeter dalam sepersekian detik, lalu menaikkannya lagi, supaya tawanya nggak pecah di speaker penonton. Setiap kali dia bernyanyi, aku memutar kenop EQ frekuensi tinggi pelan-pelan, mengikuti nadanya, supaya suaranya nggak menusuk.
Musik latar dari laptop Raka nggak punya crossfade otomatis. Setiap kali segmen berganti, aku menurunkan fader channel sepuluh dengan tangan kiri sambil menaikkan fader channel satu dengan tangan kanan. Pelan. Bersamaan. Seperti menuang air dari satu gelas ke gelas lain tanpa tumpah.
Dan suara Cynthia.
Napasnya pendek. Getaran serak di frekuensi rendah. Nada penutup kalimat yang turun.
Mixer analog nggak punya preset SAPA PAGI — KURANG TIDUR.
Jadi aku memutar kenop EQ channel satu dengan jari. Sedikit naik di frekuensi tengah-atas. Sedikit turun di frekuensi rendah. Tanpa kompresor, aku menggerakkan fader channel satu sendiri, naik-turun mengikuti setiap kalimat, setiap kata, meratakan getaran di suaranya dengan tangan, seperti mengelus punggung orang yang sedang menangis.
Dua jam.
Raka berdiri di belakangku sepanjang waktu. Mengawasi meter sinyal. Mengganti file musik di laptop. Mengangkat HT setiap kali floor director bertanya kenapa IFB nggak jalan.
“Master control, IFB mati, kami nggak bisa kasih cue ke presenter!”
“IFB lewat konsol utama,” jawab Raka ke HT. “Konsol utama lagi... maintenance. Pakai cue tangan dulu, Mas Herman. Kartu.”
“Kartu? Kayak zaman TVRI?”
“Kayak zaman TVRI, Mas.”
Di layar monitor studio, aku melihat Mas Herman berlutut di samping kamera dua, memegang papan tulis kecil dan spidol, menulis 2 MENIT dengan huruf besar-besar dan mengangkatnya ke arah Cynthia.
Cynthia membacanya. Mengangguk sedikit. Nggak berhenti bicara.
Dia nggak tahu apa yang terjadi di lantai empat belas.
Dia cuma tahu earpiece-nya sunyi. Sejak jeda iklan. Sejak dia memanggil.
Teknisi channel tujuh. Kalau kamu masih dengar.
Dan aku nggak bisa menjawab. Nggak bisa menekan tombol kuning. Tombol kuning ada di konsol yang mati.
Yang bisa aku lakukan cuma ini. Kedua tangan di atas fader. Membuat suaranya sempurna.
Supaya orang rumah nggak tahu dia capek.
Supaya dia nggak tahu konsolnya mati.
Supaya dia selamat.
Jam delapan lewat dua menit, Sapa Pagi selesai.
Lampu merah di atas kamera padam. Aku menurunkan semua fader pelan-pelan, satu per satu, sampai meter sinyal di mixer portabel diam.
Lalu aku melepas headphone. Menaruhnya di atas mixer.
Tanganku kram. Jari telunjuk kanan nggak bisa diluruskan. Bahuku kaku seperti papan. Punggungku basah oleh keringat, hoodie warna biru tua bergambar seekor kura-kura yang memakai topi astronot menempel di punggung.
Raka masih berdiri di belakangku.
Lalu dia menepuk bahuku. Pelan. Dua kali.
“Mas,” katanya. Suaranya pecah. “Mas gila.”
“Kamu juga.”
“Aku cuma colok kabel.”
“Kamu colok kabel di genangan kopi. Itu berbahaya. Kamu bisa kesetrum.”
Raka menatap lantai di bawah kakinya. Genangan kopi sachet sudah mengering jadi noda cokelat lengket. Dia menatapnya lama. Lalu tertawa. Tawa yang gemetar, lega, dan sedikit gila.
Pak Bambang sampai di master control jam delapan lewat sepuluh.
Dia melihat konsol utama yang mati. Melihat mixer portabel di tengah ruangan, di atas troli, dengan kabel-kabel yang menjuntai seperti akar pohon. Melihat noda kopi di lantai. Melihat Raka. Melihat aku.
Dia nggak bicara selama sepuluh detik.
Lalu dia menarik kursi, duduk, melepas kacamata, dan memijit pangkal hidungnya.
“Dua jam?” tanyanya.
“Dua jam, Pak.”
“Pakai ini?” Dia menunjuk mixer portabel.
“Pakai itu, Pak.”
Pak Bambang menatap mixer portabel itu. Mixer yang dia sendiri, tiga tahun lalu, bilang harus dibuang karena sudah tua. Mixer yang aku selamatkan dari gudang.
“Nggak ada yang sadar,” kata Raka cepat. “Pak, nggak ada yang sadar di rumah. Rating segmen pembuka normal. Komentar di YouTube normal. Mas Teddy nggak komplain. Mas Herman komplain soal kartu, tapi itu wajar.”
Pak Bambang mengangguk pelan. Lalu dia memakai kacamatanya lagi, mengeluarkan HP, dan mulai mengetik.
“Saya harus lapor ke Pak Wiryo,” katanya. “Insiden signal loss di siaran langsung. Prosedur.” Dia mengetik. Berhenti. Menatap layar. “Saya tulis... Insiden kerusakan konsol utama pukul 06.23. Siaran berhasil dipertahankan oleh tim teknis master control menggunakan mixer analog cadangan selama 120 menit. Tidak ada gangguan siaran yang terdeteksi penonton.”
Dia menatapku.
“Kamu mau nama kamu disebut?”
Aku menggeleng.
“Raka?”
Raka menatapku. Lalu menggeleng juga.
Pak Bambang menghela napas. “Tim teknis,” katanya. Lalu dia menekan kirim. “Kalian berdua ini. Satu kayak maskot, satu kayak asisten maskot.”
Jam sepuluh, aku masih duduk di depan mixer portabel.
Konsol utama sudah dibongkar oleh dua teknisi dari divisi engineering. Power supply internalnya hangus. Penggantinya baru bisa datang besok, dari Singapura. Sampai saat itu, kata Pak Bambang, siaran akan pakai konsol cadangan, yang sekarang sedang di-boot dan di-routing ulang oleh Raka.
Aku nggak membantu.
Aku cuma duduk.
Tanganku masih kram. Kepalaku masih penuh suara. Dua jam napas Cynthia di headphone. Dua jam tawa penyanyi dangdut. Dua jam musik latar. Dua jam fader naik-turun, naik-turun, naik-turun.
Dan di bawah semua itu, satu kalimat yang nggak bisa aku jawab.
Kalau kamu masih dengar.
HP-ku bergetar. Aku menatapnya.
Grup RUANG TUNGGU FC.
Dino: guys tadi sapa pagi aman?
Dino: soalnya mas gilang bilang di studio 6 IFB-nya mati 2 jam
Dino: floor director pake kartu tulis tangan
Dino: kayak zaman nenek gue nonton TVRI
Erga: iya aku denger juga
Erga: katanya konsol master control rusak?
Erga: man?
Aku nggak membalas.
Lalu satu pesan pribadi masuk.
Cynthia: man
Aku menatap nama itu. Nama yang sudah tiga minggu nggak muncul di chat pribadiku, kecuali satu kata: oke. Sesudah malming Yura, aku mengirim kamu oke?. Dia membalas oke. Itu saja.
Cynthia: tadi pagi earpiece aku mati 2 jam
Cynthia: mas herman pake kartu
Cynthia: kata sasa konsol kalian rusak
Titik-titik mengetik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Cynthia: tadi pas jeda iklan pertama
Cynthia: aku manggil
Cynthia: nggak ada jawaban
Cynthia: itu karena konsolnya rusak?
Aku menatap pertanyaan itu.
Aku bisa bilang iya. Itu benar. Konsolnya mati tepat waktu jariku satu senti di atas tombol kuning. Tepat waktu aku mau menjawab.
Kalau aku bilang iya, dia akan tahu aku mau menjawab.
Kalau aku bilang iya, dia akan bertanya kenapa sebelas hari sebelumnya aku nggak dengar dia, kenapa telinga kiriku kosong, kenapa aku nggak pernah mengangkat kepala di gala. Dan aku harus bilang. Soal bus lima. Soal PFL. Soal kenal juga enggak terlalu.
Dan dia akan tahu aku dengar.
Dan dia akan merasa bersalah. Dan dia akan menangis. Dan dia akan merasa harus memilih, sekarang, di depan semua orang, antara aku dan semua yang ibunya bangun untuknya. Antara hoodie kuning stabilo dan malam di mana ibunya menangis bangga di depan lima ratus orang.
Aku nggak mau dia harus memilih.
Aku mengetik.
Aku: iya konsolnya rusak
Aku: power supply-nya hangus
Aku: maaf ya
Kirim.
Titik-titik muncul. Lama.
Cynthia: tapi siaran tadi aman
Cynthia: suaraku tetap bagus
Cynthia: sasa bilang tim teknis pakai mixer cadangan
Cynthia: itu kamu?
Aku menatap layar.
Aku: tim teknis
Aku: raka sama aku sama pak bambang
Aku: kerja tim
Pak Bambang baru datang jam delapan lewat sepuluh. Dia nggak menyentuh satu fader pun.
Titik-titik muncul. Hilang. Nggak muncul lagi.
Jam dua siang, pintu master control diketuk.
Raka membukanya. Lalu berhenti. Lalu menoleh ke arahku dengan wajah yang sekarang sudah sangat terlatih membuat ekspresi Mas, ini goddess lagi.
Yura berdiri di depan pintu. Blazer krem. Rambut diikat. Dua gelas kertas di tangan, dengan uap tipis yang naik dari lubang di tutupnya.
“Raka,” katanya. “Boleh aku masuk sebentar?”
Raka menatapku. Aku mengangguk. Raka minggir, lalu, dengan kecepatan yang mencurigakan, mengambil laptop dan berkata, “Aku mau ke engineering, Mas. Cek power supply. Lama. Mungkin satu jam.” Dan dia keluar sebelum ada yang bisa bilang apa-apa.
Yura masuk. Menutup pintu.
Dia berjalan ke mejaku. Menaruh satu gelas kertas di sebelah mixer portabel yang masih di atas troli. Teh. Aku bisa mencium baunya. Teh melati, manis.
Dia nggak duduk. Dia berdiri di sebelah mixer, menatap kabel-kabel yang masih menjuntai.
“Aku lihat,” katanya.
Aku menatapnya.
“Tadi pagi. Aku datang jam tujuh. Wawancara kedua Wajah Malam. Di lantai lima belas.” Dia menyentuh salah satu fader mixer portabel. Pelan. Nggak menggerakkannya. “Aku lewat koridor ini buat ke lift barang. Kaca pintunya...” Dia menunjuk kaca kecil persegi panjang di bagian atas pintu master control. “Aku lihat kamu.”
Aku nggak bilang apa-apa.
“Dua puluh menit,” lanjutnya. “Aku berdiri di depan pintu itu dua puluh menit. Telat wawancara lima menit. Aku lihat kamu duduk di depan mixer kecil ini, dua tangan di atas, gerak terus. Kayak...” Dia mencari kata. “Kayak orang main piano. Tapi pianonya kebakaran.”
“Itu bukan piano.”
“Aku tahu.” Dia tersenyum kecil. “Aku cuma nggak punya perbandingan yang lebih bagus.”
Dia diam sebentar. Menatap mixer itu.
“Pak Bambang bilang tim teknis,” katanya. “Di laporan. Mas Teddy bilang tim teknis. Sasa bilang tim teknis. Semua orang bilang tim teknis.”
Lalu dia menoleh. Menatapku. Matanya tenang, tapi ada sesuatu di sana yang hangat dan sedikit basah.
“Aku lihat kamu,” katanya pelan. “Cuma aku yang lihat.”
Aku menatap gelas teh di sebelah mixer.
Lalu aku melakukan sesuatu yang nggak aku rencanakan.
Aku mengambil gelas teh itu. Membuka tutupnya. Meminumnya. Satu tegukan. Panas. Manis. Terlalu manis. Gulanya mungkin tiga sendok.
Dan aku nggak tahu harus ngapain dengan wajahku.
Karena dia benar. Dia lihat. Dari balik kaca kecil di pintu, dua puluh menit, dia berdiri di sana dan melihat sesuatu yang nggak ada orang lain lihat. Bukan Pak Bambang. Bukan Mas Teddy. Bukan dua juta orang di rumah.
Bukan Cynthia.
Dan rasanya aneh. Rasanya asing. Seperti radio rusak di bengkel Bapak yang tiba-tiba menangkap stasiun yang nggak pernah dia tangkap sebelumnya.
Aku sudah bertahun-tahun jadi orang yang mendengar. Yang melihat dari balik kaca. Yang tahu Pak Darto jaga gula darah dan Mas Raka nggak suka terong dan Erga alergi susu sapi. Yang menyimpan semua di folder dan laci.
Aku nggak pernah jadi yang dilihat.
“Teh-nya manis,” kataku. Suaraku keluar sedikit lebih tinggi dari biasanya.
Yura menatapku.
“Aku nggak ngomong soal kamu,” tambahku cepat. “Aku ngomong soal teh. Teh-nya. Gulanya kebanyakan. Mungkin tiga sendok. Itu nggak sehat. Pak Darto bakal marah kalau lihat.”
Yura menatapku lebih lama.
Lalu dia tertawa. Pelan. Keluar dari hidung dulu, lalu pecah sedikit. Juara dua.
“Kamu salah tingkah,” katanya.
“Aku nggak salah tingkah.”
“Kupingmu merah.”
Aku menyentuh telingaku. Panas.
“Itu AC-nya,” kataku. “AC master control nggak stabil hari ini. Konsol mati, sistemnya kacau.”
Yura nggak menjawab. Dia cuma tersenyum. Senyum kecil yang miring. Lalu dia mengambil gelas teh satunya, gelasnya sendiri, dan menyesapnya.
“Nanti sore aku boleh ngajak kamu ngobrol?” tanyanya. “Rooftop. Jam lima.”
Aku menatapnya.
Aku dengar nadanya. Ringan di permukaan. Tapi di bawahnya ada sesuatu yang naik. Bukan turun setengah langkah, seperti waktu Cynthia bohong. Naik. Seperti orang yang mau melompat dari papan tinggi.
Aku tahu apa itu.
Aku sudah tahu sejak lobby. Sejak aku nggak lepas sampai lift. Sejak sendok di depan mulutku dan ibu jari di sudut bibirku.
“Yura,” kataku pelan.
“Jam lima,” katanya. “Rooftop. Kalau kamu nggak datang, aku ngerti.”
Dia menaruh gelasnya di meja. Berjalan ke pintu. Membukanya.
Lalu berhenti. Menoleh.
“Tadi pagi,” katanya. “Dua jam itu. Suara Cynthia bagus banget. Aku dengar di HP waktu nunggu wawancara.” Dia diam sebentar. “Dia nggak tahu, kan?”
Aku nggak menjawab.
Yura menatapku lama.
“Nggak,” jawabnya sendiri, pelan. “Tentu aja dia nggak tahu.”
Pintu tertutup.
Aku duduk di master control yang sepi.
Gelas teh di tanganku. Mixer portabel di depanku. Konsol utama yang dibongkar di sebelah kiri. Rak akrilik dengan dua puluh satu figure dan satu alas kosong di sebelah kanan.
Aku mengeluarkan HP. Membuka aplikasi catatan. Catatan yang sudah ada di sana sejak minggu lalu, sejak lobby, sejak pipi kiriku dicium di depan pintu putar.
Isinya cuma satu baris.
Harus bilang ke Yura. Tapi nunggu Cynthia siap.
Aku menatap baris itu lama.
Nunggu Cynthia siap.
Siap apa? Siap bilang ke semua orang? Siap berdiri di sebelahku di lobby? Siap jalan nol meter?
Aku sudah menunggu. Sebelas hari. Tiga minggu. Sejak basement Zona C.
Dan selama aku menunggu, Yura menunggu juga. Di pintu master control, dua puluh menit. Di lobby, dengan hoodie nomor tujuh. Di kantin, dengan tangan yang bertaut.
Aku nggak bisa membuat dia menunggu lebih lama.
Aku menghapus baris itu. Mengetik yang baru.
Bilang ke Yura. Jam 5. Rooftop.
Jangan pakai “nggak apa-apa”.
Aku menatap baris kedua itu.
Lalu aku mengambil kotak charger dari saku hoodie kura-kura astronot. Membukanya. Earbud putih di dalamnya. Lampu indikator hijau.
Aku menatapnya lama.
Lalu aku menutup kotaknya lagi.
Belum.
Belum ada lagu yang cukup tenang untuk jam lima nanti.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati reading
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu