Chapter Two
Wati Bukan Nama Mantan
POV: Salman
Ada tiga pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang kepadaku.
Pertama: “Itu hoodie beli di mana?”
Kedua: “Kamu nyanyi fals itu sengaja?”
Ketiga, dan ini juara bertahan selama empat tahun berturut-turut: “Wati itu nama mantan, ya?”
Jawabannya bukan. Wati bukan nama mantan. Aku nggak punya mantan bernama Wati. Aku bahkan nggak punya mantan, kecuali kamu menghitung Hinata dari Naruto yang aku tinggalkan waktu SMP karena aku pindah hati ke Mikasa, lalu aku tinggalkan Mikasa karena dia terlalu fokus sama Eren. Itu bukan mantan. Itu evolusi.
Wati itu dari White. Putih. Motornya putih.
Waktu aku beli dia empat tahun lalu, aku berdiri di depan dealer selama dua puluh menit memikirkan nama. Orang-orang namain motor mereka “Si Hitam”, “Si Merah”, “Black Panther”. Aku mau sesuatu yang jujur. Motorku putih, jadi aku panggil dia White. Tapi White kedengarannya terlalu dingin, kayak nama villain. Jadi aku Indonesia-kan sedikit biar akrab.
White. Waiti. Wati.
Ibu bilang itu nama paling bodoh yang pernah dia dengar, dan Ibu pernah dengar tetangga namain anaknya Pentium Sanjaya.
Tapi Wati suka namanya. Aku tahu karena sejak hari itu, dia nggak pernah mogok di jalan menanjak.
Di jalan datar sering. Di jalan menanjak nggak pernah. Wati punya prinsip.
Jam lima pagi, aku sarapan bakso.
Ini bukan kebiasaan sehat. Aku tahu. Tapi warung Ibu buka jam enam, dan jam lima adalah waktu di mana kuahnya baru matang, baksonya baru diangkat, dan seluruh rumah berbau kaldu sapi dan bawang goreng. Kalau kamu tumbuh besar di rumah yang baunya seperti itu tiap pagi, kamu nggak akan pernah bisa sarapan roti tawar dengan tenang. Roti tawar terasa seperti pengkhianatan.
Aku duduk di bangku plastik di dapur. Mangkuk bakso di depanku. HP disandarkan ke botol kecap, memutar episode 847 dari anime yang sudah aku tonton sejak kelas dua SD. Satu earbud di telinga kiri.
“Sambalnya jangan level sembilan pagi-pagi, Man,” kata Ibu tanpa menoleh dari panci. “Nanti perutmu demo di kantor.”
“Ini level tujuh, Bu.”
“Itu level sembilan. Ibu dengar dari suara sendoknya.”
Aku menatap mangkukku. Itu memang level sembilan.
Ibu itu Bu Nur. Pemilik Warung Bakso Bu Nur di gang dekat stasiun Depok Lama, yang tulisan papan namanya sudah luntur jadi Warung Bak o Bu Nu. Ibu bisa tahu sambal level berapa dari bunyi sendok, tahu kuah kurang garam dari baunya, dan tahu aku belum tidur dari cara aku menarik kursi.
Aku dapat telinga ini dari Ibu. Dan dari Bapak.
Bapak dulu tukang servis elektronik. Radio, TV tabung, tape kaset. Bengkelnya di sebelah warung. Waktu aku kecil, Bapak sering menyuruhku duduk di sebelahnya, menyalakan radio rusak, dan bertanya, “Bunyinya sakit di mana, Man?”
Aku jawab, “Di yang ngung-ngung itu, Pak.”
Bapak tersenyum dan bilang, “Pinter. Itu kapasitornya. Barang rusak itu selalu ngomong. Kita cuma harus mau dengar.”
Bapak sudah nggak ada. Bengkelnya sekarang jadi tempat Ibu menyimpan kerupuk. Tapi kalimat itu masih ada di kepalaku setiap hari.
Barang rusak selalu ngomong.
Orang juga.
“Man.”
“Ya, Bu.”
“Hoodie-mu hari ini apa?”
Aku menunjuk dadaku. Hoodie hijau tua bergambar kucing gemuk yang sedang memakai helm samurai.
Ibu menatapnya lama. Lalu menghela napas seperti ibu yang sudah ikhlas.
“Kamu tahu nggak, Man, anak Bu Sri yang seumuran kamu udah jadi manajer bank.”
“Aku tahu, Bu.”
“Pakai kemeja tiap hari. Rapi.”
“Dia kelihatan capek, Bu. Waktu lebaran kemarin aku salaman sama dia, tangannya dingin. Suaranya kayak radio yang kapasitornya mau habis.”
Ibu diam. Lalu dia menambahkan satu bakso urat ke mangkukku, yang adalah cara Ibu bilang ya udah, terserah kamu, Ibu sayang kamu.
Perjalanan dari Depok ke TRAC Tower di Jakarta Selatan memakan waktu satu jam lima belas menit kalau naik Wati, atau satu jam empat puluh menit kalau Wati sedang melihat kucing.
Wati suka kucing. Setiap kali ada kucing di pinggir jalan, Wati melambat. Aku nggak pernah menginjak rem. Wati melambat sendiri. Aku sudah bawa dia ke bengkel tiga kali, dan tiga kali montirnya bilang nggak ada masalah dengan remnya.
Montir terakhir menatapku dan bilang, “Mas, mungkin motornya emang suka kucing.”
Aku memberinya tip dua puluh ribu karena dia orang pertama yang mengerti.
Pagi ini Wati melambat empat kali. Kucing belang di Lenteng Agung. Kucing hitam di Pasar Minggu. Kucing oranye di perempatan Kalibata, yang aku sapa karena mirip si Oren. Dan kucing putih di depan gerbang TRAC Tower, yang setiap pagi duduk di pos satpam seperti pegawai tetap.
“Pagi, Mas Salman!” sapa Pak Jono, satpam pagi. Dia melirik hoodie-ku. “Hari ini kucing samurai, ya?”
“Namanya Nyanko-sensei versi samurai, Pak. Edisi kolaborasi.”
“Bagus, Mas. Kayak cucu saya.”
“Cucu Bapak pakai helm samurai?”
“Cucu saya gemuk.”
Aku memutuskan itu pujian.
Lobby TRAC Tower jam tujuh pagi itu kayak akuarium yang diisi ikan-ikan mahal. Semua orang rapi. Kemeja disetrika. Blazer warna pastel. Parfum yang baunya mahal tapi bikin hidung bersin. Di dinding ada layar LED raksasa yang memutar promo program-program TRAC, dan di salah satu slide ada wajah Cynthia dengan senyum sempurna dan tulisan SAPA PAGI TRAC — Mulai Harimu Bersama Cynthia.
Aku berdiri di depan lift dengan hoodie kucing samurai, helm masih di tangan, dan satu earbud.
Dua perempuan dari divisi marketing berdiri di sebelahku. Salah satunya melirik hoodie-ku, lalu berbisik ke temannya sesuatu yang diakhiri dengan tawa kecil.
Aku nggak dengar kalimatnya. Earbud kiriku sedang memutar lagu. Tapi telinga kananku, yang buat dunia, dengar nadanya. Nada tawa yang ujungnya naik. Nada orang yang sedang mengejek tapi merasa sopan karena berbisik.
Aku menoleh ke mereka.
“Ini kucing samurai,” kataku, menunjuk dada. “Kalau kalian mau beli, ada di toko online. Diskon dua puluh persen kalau pakai kode SAMURAIGEMUK.”
Mereka menatapku. Wajah mereka berubah dari mengejek jadi bingung jadi sesuatu yang mirip penasaran.
“Beneran ada diskonnya?” tanya yang satu, pelan.
“Beneran. Aku nggak dapat komisi. Aku cuma mau kucing ini tersebar ke seluruh dunia.”
Lift terbuka. Aku masuk. Mereka masuk. Selama dua belas lantai, nggak ada yang bicara, tapi waktu pintu terbuka di lantai dua belas, salah satu dari mereka mengeluarkan HP dan mengetik sesuatu. Aku melihat dari pantulan pintu lift: samurai gemuk hoodie.
Kemenangan kecil. Aku nggak butuh orang suka hoodie-ku. Aku cuma lebih suka orang bingung daripada orang mengejek. Orang bingung masih bisa jadi teman. Orang mengejek biasanya cuma butuh kesempatan untuk bingung.
Master control di lantai empat belas itu tempat favoritku di seluruh dunia, setelah warung Ibu dan jok Wati.
Ruangannya dingin. Lampunya redup. Dindingnya penuh layar yang menampilkan semua kanal TRAC sekaligus. Di tengah ada konsol audio raksasa dengan ratusan fader, tombol, dan lampu kecil warna hijau, kuning, merah, seperti kokpit pesawat luar angkasa.
Dan di ujung mejaku, berbaris rapi di atas rak akrilik, adalah anak-anakku.
Dua puluh tiga action figure. Luffy dalam pose Gear Five. Gojo dengan penutup mata setengah terbuka. Anya dari Spy x Family sedang memegang kacang. Hinata Shoyo melompat dengan bola voli. Totoro kecil yang aku beli di Bandung. Kucing samurai yang sama dengan hoodie-ku.
Dan di tengah-tengah, di atas alas akrilik khusus yang lebih tinggi dari yang lain, berdiri satu figure Naruto dalam mode Sage, mata kuning-oranye bergaris, tangan membentuk segel, jubah merah berkibar.
Edisi ulang tahun ke-20. Cuma lima ratus unit di seluruh dunia. Aku beli pakai gaji pertamaku empat tahun lalu, dan sisanya aku pakai makan Indomie selama dua minggu.
Ada kertas kecil yang aku tempel di bawah alasnya: BOLEH LIHAT. NGGAK BOLEH PEGANG. — Manajemen.
“Pagi, Mas Salman.”
Pak Darto, OB lantai empat belas, masuk dengan kemoceng dan wajah yang selalu tersenyum seperti orang yang baru dapat THR.
“Pagi, Pak Darto. Gimana anak Bapak? Udah keterima SMA?”
“Udah, Mas! Negeri! Alhamdulillah.” Wajahnya bersinar. “Kemarin dia bilang mau jadi kayak Mas Salman.”
“Jangan, Pak. Nanti dia nyanyi fals.”
“Dia bilang mau jadi orang yang ngurus suara di TV.”
Aku tersenyum. “Itu boleh.”
Pak Darto mulai bersih-bersih. Dia menyapu lantai, mengelap layar, membersihkan konsol dengan kuas kecil yang aku belikan khusus karena kemoceng biasa bisa menggeser fader. Lalu dia sampai di rak figure.
Ini ritual kami setiap pagi, dan aku nggak akan pernah bosan menontonnya.
Pak Darto mengangkat kemocengnya dengan sangat pelan, seperti ahli bedah. Dia membersihkan figure-figure lain dengan gerakan biasa. Luffy, Gojo, Anya, beres. Lalu dia sampai di Naruto.
Dia berhenti. Menahan napas. Mengarahkan kemoceng ke Naruto, tapi berhenti satu senti sebelum menyentuh. Lalu dia meniup debunya. Pelan. Dari jarak aman.
Fuuuh.
Lalu dia mundur selangkah, mengangguk puas, dan lanjut ke meja sebelah.
“Pak,” kataku. “Itu boleh dikemoceng, kok. Yang nggak boleh itu dipegang.”
“Saya takut, Mas.” Pak Darto menatap Naruto seperti menatap guci peninggalan kerajaan. “Kalau jatuh, saya harus kerja berapa tahun buat ganti?”
“Kayaknya dua tahun, Pak.”
“Mending saya tiup aja, Mas.”
Jam enam pagi, Sapa Pagi TRAC mengudara.
Aku menyalakan semua kanal audio studio enam. Mic presenter di channel tujuh. Bintang tamu di channel delapan dan sembilan. Musik latar di sebelas. Ambiens studio di empat belas. Raka, juniorku yang baru setahun kerja, duduk di sebelahku dengan headphone setengah terpasang dan wajah orang yang belum minum kopi.
Di layar utama, Cynthia muncul.
Blazer putih. Rambut dicepol rapi. Senyum yang kayak papan reklame: terang, sempurna, kelihatan dari jarak satu kilometer.
“Selamat pagi, Indonesia! Ketemu lagi bersama saya, Cynthia, di Sapa Pagi TRAC...”
Aku menaikkan fader channel tujuh.
Lalu aku dengar.
Di kalimat ketiga, napasnya pendek. Bukan banyak, cuma sepersekian detik terlalu cepat sebelum kata Indonesia. Di frekuensi rendah ada sedikit getaran serak, yang biasanya muncul kalau pita suara belum cukup istirahat. Dan di akhir kalimat, nadanya turun setengah langkah, padahal dia biasanya menutup kalimat pembuka dengan nada naik.
Itu suara orang yang tidur tiga jam.
Mungkin kurang. Mungkin dia baru pulang dari promo shoot sampai larut, lalu bangun jam tiga untuk make up. Mungkin kakinya masih sakit karena loncat tiga belas kali pakai hak sebelas senti.
Di layar, wajahnya sempurna. Senyumnya sempurna. Nggak ada satu pun dari dua juta penonton di rumah yang akan tahu dia capek dari wajahnya.
Tapi mereka bisa tahu dari suaranya. Mungkin nggak sadar. Mungkin cuma merasa “kok Cynthia hari ini agak lain”. Tapi telinga manusia itu lebih jujur dari mata. Telinga selalu tahu.
Aku membuka plugin di layar kecil sebelah konsol. Memasang kompresor tipis di channel tujuh, rasio rendah supaya nggak kedengaran dipaksa. Menaikkan sedikit frekuensi tengah-atas supaya suaranya terdengar lebih segar. Memotong sedikit frekuensi rendah tempat getaran serak itu tinggal. Lalu menambahkan sedikit warmth, sedikit saja, seperti menambahkan satu sendok gula di teh yang kurang manis.
Di monitor, suara Cynthia keluar lagi.
“...dan pagi ini kita akan ngobrol bareng chef muda yang lagi viral karena...”
Lebih ringan. Lebih terang. Kayak orang yang tidur delapan jam dan sarapan buah.
Raka melepas headphone-nya. “Mas, ngapain?”
“Mixing.”
“Itu bukan mixing standar. Itu... Mas ngapain ke channel tujuh?”
“Suaranya lagi kurang tidur.” Aku menggeser fader setengah milimeter. “Mic itu jujur, Rak. Kadang terlalu jujur. Kita yang harus bohong sedikit.”
Raka menatapku seperti menatap Pak Darto yang meniup debu Naruto.
“Mas, itu bukan SOP. Kalau Pak Bambang tahu kita ngubah karakter suara presenter tanpa request, nanti kita ditegur.”
“Nggak apa-apa.”
“Mas, serius—”
“Nggak apa-apa, Rak.” Aku menatap layar. Cynthia sedang tertawa dengan tawa yang sudah dia latih ribuan kali, tawa yang selalu berhenti tepat di detik ketiga. “Orang rumah nggak boleh dengar dia capek.”
Raka diam lama. Lalu dia memasang headphone-nya lagi dan menggumamkan sesuatu yang kedengarannya seperti bucin teknis.
Aku pura-pura nggak dengar. Telinga kananku dengar. Tapi aku pura-pura.
Jam delapan, Sapa Pagi selesai.
Aku mematikan kompresor di channel tujuh, menyimpan preset-nya dengan nama SAPA PAGI — KURANG TIDUR, dan bersandar di kursi sambil makan sisa bakso yang aku bawa dari rumah di dalam rantang. Iya, aku bawa bakso ke kantor. Iya, ruangan master control jadi bau kaldu. Iya, Pak Bambang sudah menegur tiga kali. Iya, Pak Bambang juga ikut makan dua kali.
Grup WhatsApp RUANG TUNGGU FC berbunyi.
Cynthia: guys aneh deh
Cynthia: aku cuma tidur 3 jam semalem
Cynthia: tapi tadi tim aku bilang suaraku on air bagus banget
Cynthia: produser sampe nanya aku pake vitamin apa 😭
Dino: vitamin B
Dino: B for bakso
Diana: atau kamu emang nggak pernah capek karena kamu bukan manusia, kamu iklan
Yura: syukurlah 🤍 jangan lupa tidur siang cyn
Erga: mungkin karena kamu bahagia?
Diana: mas erga diem
Erga: aku cuma nebak
Diana: tebakanmu jelek
Aku menatap layar HP lama.
Jempolku melayang di atas papan ketik. Aku bisa ngetik itu aku. Aku bisa ngetik kamu napasnya pendek di kalimat ketiga, jadi aku benerin. Aku bisa ngetik tidur, Cyn, aku nggak bisa nambal suaramu tiap hari.
Tapi kalau aku ngetik itu, dia akan tahu ada orang yang dengar dia capek. Dan aku sudah cukup lama mengenal Cynthia untuk tahu bahwa satu-satunya hal yang lebih dia takutkan daripada capek adalah ketahuan capek.
Jadi aku cuma mengirim satu stiker. Kucing gemuk pakai helm samurai, sedang mengacungkan jempol.
Cynthia: man itu stiker apaan 😭
Cynthia: kayak hoodie kamu hari ini
Cynthia: wait kamu pake hoodie itu ke kantor??
Aku mengirim foto selfie dari bawah, memperlihatkan hoodie kucing samurai, dengan latar dua puluh tiga figure dan rantang bakso.
Diana: klasemen hoodie update: kucing samurai masuk peringkat 4
Diana: turun satu peringkat karena kucingnya terlalu imut, kurang memalukan
Dino: MAN BAKSO LU TINGGAL BERAPA
Yura: 😂😂
Cynthia: aku ketawa di toilet kantor gara-gara foto kamu
Cynthia: ada yang ngetok nanya aku kenapa
Aku menaruh HP di meja, menatap layar-layar mati di depanku, dan tersenyum sendirian di ruangan yang dingin dan bau kaldu.
Raka melirikku dari kursinya. “Mas senyum-senyum sendiri.”
“Aku lagi mikirin bakso.”
“Mas nggak pernah senyum kayak gitu kalau mikirin bakso.”
“Ini bakso spesial.”
Di rak akrilik, Naruto mode Sage menatapku dengan mata kuning bergaris. Kalau figure bisa ngomong, aku yakin dia akan bilang sesuatu yang bijak, seperti ninja-ninja di anime yang selalu punya kalimat bagus tentang tekad dan perasaan.
Tapi figure nggak bisa ngomong.
Jadi aku menyalakan episode 848 dan menghabiskan baksoku.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan reading
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu