Chapter Eighteen
Pengakuan di Atas Wati
POV: Cynthia
Pesan itu datang hari Kamis jam empat sore, waktu aku sedang membaca naskah segmen besok di ruang rias.
Teknisi Ch. 7: soal tebusan hoodie
Teknisi Ch. 7: wati udah rapat sama dewan direksi
Teknisi Ch. 7: tebusan bakso dibatalkan
Aku: dewan direksi siapa
Teknisi Ch. 7: pak haji, si oren, sama bu rt
Teknisi Ch. 7: rapatnya alot. pak haji abstain
Aku: terus tebusannya apa
Teknisi Ch. 7: penculiknya harus datang ke basement B2 jam 7
Teknisi Ch. 7: duduk di jok wati
Teknisi Ch. 7: 10 menit
Teknisi Ch. 7: nggak boleh ke mana-mana
Teknisi Ch. 7: itu keputusan final
Aku menatap pesan itu.
Lalu aku menatap pantulan wajahku di cermin rias. Pipiku merah. Aku belum pakai blush on.
Yura, yang duduk di kursi sebelahku dengan naskah TRAC Malam di pangkuan, melirik ke arahku lewat cermin.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Pipimu merah.”
“AC-nya panas.”
Yura menatap AC di dinding, yang suhunya delapan belas derajat dan sedang mengembuskan udara dingin langsung ke wajah kami.
Dia nggak bilang apa-apa. Dia kembali ke naskahnya.
Tapi aku melihat jarinya berhenti di tengah halaman, dan nggak bergerak lagi selama satu menit penuh.
Jam tujuh kurang lima, aku turun ke basement B2.
Aku pakai hoodie Anya.
Aku nggak merencanakannya. Tadi pagi waktu berangkat, aku memakai blazer krem dan kemeja putih untuk siaran. Lalu jam enam sore, sesudah meeting terakhir, aku masuk ke toilet lantai dua belas, mengunci pintu, dan mengganti blazerku dengan hoodie abu-abu bergambar Anya yang sudah aku bawa di tote bag sejak pagi.
Aku nggak tahu kenapa aku membawanya. Mungkin aku sudah tahu sejak pagi bahwa hari ini akan ada sesuatu.
Hoodie-nya kebesaran. Lengannya aku gulung tiga kali. Aku memakai celana bahan krem dari siaran tadi pagi dan sandal jepit biru. Aku kelihatan seperti presenter TV yang baru saja diculik oleh wibu.
Lift basement terbuka di B2.
Basement B2 jam tujuh malam itu sepi. Lampu-lampu neon di langit-langit menyala putih dingin, beberapa berkedip. Bau oli dan beton basah. Mobil-mobil diparkir rapi di garis-garis kuning, tapi setengah slot sudah kosong. Suara AC sentral berdengung dari pipa-pipa besar di langit-langit.
Dan di pojok paling ujung, di bawah satu-satunya lampu yang nggak berkedip, ada Wati.
Dan Salman.
Dia duduk di jok depan Wati, menyamping, dengan satu kaki di tanah dan satu kaki ditekuk di atas pijakan. Hoodie malam ini warna merah marun, bergambar seekor beruang cokelat yang sedang memeluk toples madu dengan wajah sangat bahagia. Satu earbud di telinga kiri. HP di tangan, layarnya mati.
Dia mengangkat kepala waktu mendengar langkahku.
Lalu dia melihat hoodie-ku.
Dan dia berhenti.
Bukan berhenti bergerak. Berhenti segalanya. Napasnya berhenti. Matanya berhenti berkedip. Tangannya yang memegang HP berhenti di udara. Seperti video yang di-pause di frame paling penting.
Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Sandal jepitku berbunyi plak, plak, plak di lantai beton yang bergema.
Aku berhenti di depan Wati.
“Penculiknya datang,” kataku.
Salman menatapku. Menatap hoodie Anya. Menatap lengan yang aku gulung tiga kali. Menatap wajahku.
“Kamu pakai,” katanya pelan.
“Kan tadi aku bilang iya.”
“Aku kira kamu bohong.”
“Aku nggak bisa bohong ke kamu jam satu pagi.”
“Ini jam tujuh malam.”
“Jam tujuh malam juga nggak bisa.” Aku menatap jok belakang Wati. “Jadi. Sepuluh menit. Di jok. Nggak boleh ke mana-mana.”
Dia masih menatapku. Lalu, pelan, dia bergeser sedikit ke depan. Memberi ruang di jok belakang.
Aku duduk.
Duduk di jok belakang Wati yang diam itu beda dari duduk di jok belakang Wati yang melaju.
Kalau Wati melaju, ada angin. Ada jalan. Ada lampu merah dan bapak-bapak ojek yang berjoget dan kucing-kucing yang membuat Wati mengerem mendadak. Ada alasan untuk memegang pinggangnya.
Kalau Wati diam di basement B2 yang sepi, nggak ada apa-apa. Cuma aku, punggung Salman di depanku, beruang cokelat yang memeluk toples madu, dan dengung AC sentral.
Aku menaruh tanganku di pangkuan. Rapi. Seperti anak sekolah di upacara bendera.
Salman duduk menghadap depan. Ke dinding beton basement. Ke tulisan B2 — ZONA C yang dicat kuning di dinding itu.
Satu menit kami nggak bicara.
Dua menit.
“Raka bikin presentasi,” kata Salman tiba-tiba. Masih menghadap dinding.
“Presentasi apa?”
“Empat puluh tujuh slide.” Dia diam sebentar. “Judulnya Strategi Pengakuan Perasaan Mas Salman: Pendekatan Berbasis Data.”
Aku menutup mulut dengan lengan hoodie.
“Ada grafik,” lanjutnya. “Ada analisis SWOT. Ada skenario A sampai F. Skenario A di rooftop waktu matahari terbenam. Skenario B di kafe pakai lagu. Skenario C di master control pakai IFB tone, tapi tiga kali bip, bukan dua. Skenario D sampai F aku nggak baca, soalnya Raka mulai pakai font Comic Sans dan aku nggak bisa menghormati presentasi yang pakai Comic Sans.”
Aku tertawa ke lengan hoodie. Bahuku bergetar sampai jok Wati ikut bergoyang.
“Terus kamu pilih skenario apa?”
“Nggak ada.” Dia menatap dinding. “Aku pilih basement. Raka bilang basement itu skenario paling jelek. Nggak romantis. Bau oli. Lampunya kedip-kedip kayak film horor.”
“Terus kenapa basement?”
Dia diam lama.
“Soalnya di sini nggak ada siapa-siapa,” katanya. “Di rooftop ada Pak Haji. Di kafe ada Dino. Di master control ada Raka. Di sini cuma ada Wati, dan Wati udah tahu dari lama.”
Aku berhenti tertawa.
“Dan soalnya,” lanjutnya, lebih pelan, “kalau di sini, kamu nggak perlu lihat sekeliling.”
Salman menarik napas.
Aku bisa mendengarnya dari jok belakang. Tarikan napas yang panjang dan sedikit gemetar, seperti orang yang mau melompat dari papan tinggi di kolam renang dan belum yakin airnya cukup dalam.
Dia masih menghadap dinding. Dia nggak menoleh. Aku cuma bisa melihat punggungnya, beruang cokelat di hoodie-nya yang terlipat sedikit di bagian bahu, dan telinganya. Telinga kirinya, dengan earbud putih.
Telinga itu merah.
“Cyn,” katanya.
“Hm.”
“Aku nggak bisa lihat kamu waktu ngomong ini. Jadi aku ngomong ke dinding. Dinding B2 Zona C. Maaf.”
“Iya,” bisikku. “Ngomong aja ke dinding. Aku dengerin.”
“Aku...” Dia berhenti. Mulai lagi. “Dua tahun lalu, di lift nomor empat, waktu lampunya mati, kamu napasnya pendek-pendek. Paling pendek di antara semua orang. Aku dengar dari pojok. Terus aku nyanyi.” Dia diam sebentar. “Sejak itu aku hafal napasmu. Aku nggak sengaja. Aku cuma... dengar. Tiap pagi. Di channel tujuh. Napasmu waktu tidur cukup. Napasmu waktu tidur tiga jam. Napasmu waktu kesal sama Chef Robby. Napasmu waktu bohong soal ojek kantor.”
Aku menahan napas.
“Napasmu sekarang juga aku dengar,” katanya. “Kamu lagi nahan napas.”
Aku mengeluarkan napasku. Pelan. Gemetar.
“Aku nggak pinter ngomong kayak gini,” lanjutnya. “Aku pinter ngomong soal frekuensi. Soal kompresor. Soal bakso. Soal kenapa Luffy pakai topi jerami. Tapi soal ini...” Dia mengangkat tangan, menyentuh dadanya, di tempat beruang cokelat memeluk toples madu. “Soal ini aku nggak punya preset.”
“Man...”
“Jadi aku pakai yang aku tahu aja.”
Dia menurunkan tangannya. Menarik napas lagi.
“Aku suka kamu,” katanya ke dinding B2 Zona C, “kayak bakso level sembilan.”
Hening.
Dengung AC sentral. Lampu neon berkedip di kejauhan.
“...Apa?” bisikku.
“Pedes,” katanya. Serius. Sangat serius. “Bikin nangis. Bikin hidung meler. Bikin keringetan dari telinga. Tiap suapan, kamu mikir ini yang terakhir, aku nggak kuat lagi.” Dia diam sebentar. “Tapi nambah terus.”
Aku menatap punggungnya.
“Itu dari anime?” tanyaku. Suaraku keluar pecah.
“Bukan.” Dia menggeleng. “Itu asli aku. Nggak ada anime yang ngebandingin cinta sama bakso. Aku udah cek. Aku nonton empat ribu episode dari dua puluh anime yang beda. Nggak ada.”
“Kamu cek?”
“Aku nggak mau plagiat.” Dia menunduk sedikit. “Ini harus punyaku. Kalimat ini harus orisinal. Soalnya kamu...” Dia berhenti. Suaranya turun. “Soalnya kamu orisinal. Kamu bukan versi mixing. Kamu rekaman pertama. Yang ada napasnya. Yang ada suara kursi berderit di belakangnya. Dan aku nggak mau ngasih kamu kalimat yang udah dipakai orang lain.”
Lalu dia diam.
Dan aku nggak bisa bicara.
Aku duduk di jok belakang motor listrik putih bermata anime, di basement B2 Zona C yang bau oli dan lampunya berkedip seperti film horor, memakai hoodie curian bergambar anak kecil yang suka kacang, dan aku nggak bisa bicara. Karena tenggorokanku penuh. Karena mataku basah. Karena dadaku melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya, sesuatu yang rasanya seperti suapan pertama level sembilan, panas dan menyakitkan dan sangat, sangat enak.
Salman masih menghadap dinding.
Dia menunggu.
Dan aku tahu, dari cara bahunya menegang di balik hoodie beruang cokelat, bahwa dia sudah siap mendengar apa pun. Dia sudah siap kalau aku bilang maaf, Man. Dia sudah siap kalau aku turun dari jok dan pergi. Dia sudah siap kalau aku bilang kita teman aja. Aku bisa mendengar kesiapan itu di punggungnya. Kesiapan orang yang sudah terbiasa menerima apa pun dengan nggak apa-apa.
Aku nggak mau dia harus siap.
Jadi aku melingkarkan tanganku di pinggangnya.
Dari belakang. Dua tangan. Lengan hoodie Anya yang kebesaran melingkar di perut beruang cokelat. Aku menempelkan pipiku di punggungnya, di antara tulang belikatnya, dan memeluknya. Erat. Lebih erat dari di halte. Lebih erat dari waktu Wati mengerem karena Bu RT.
Dia membeku. Seluruh badannya.
“Aku juga,” bisikku ke punggungnya.
Lalu, karena satu kalimat itu terasa terlalu kecil untuk semua yang ada di dadaku, aku menambahkan:
“Aku juga suka kamu kayak bakso level sembilan. Aku nangis. Hidungku meler. Aku malu. Aku mikir aku nggak kuat.” Aku memejamkan mata. “Tapi aku nambah terus, Man. Aku nambah terus.”
Punggungnya bergetar.
Awalnya aku kira dia menangis. Lalu aku dengar suaranya, rendah dan serak, dari dalam dadanya, getarannya sampai ke pipiku.
Dia tertawa.
Tawa yang pelan. Tawa yang lega. Tawa orang yang sudah menahan napas terlalu lama dan akhirnya boleh bernapas lagi.
“Kamu plagiat,” katanya di antara tawa.
“Apa?”
“Kalimat bakso itu punyaku. Kamu plagiat.”
“Aku mengutip. Dengan atribusi. Aku sebut sumbernya.”
“Kamu nggak sebut sumbernya.”
“Sumbernya kamu, Man. Aku lagi meluk sumbernya.”
Dia tertawa lagi. Lebih keras. Tangannya turun, menemukan tanganku di perutnya, dan menggenggamnya. Di luar saku hoodie, kali ini. Di tempat yang bisa dilihat siapa saja, kalau ada siapa saja di basement B2 Zona C jam tujuh malam.
Nggak ada siapa-siapa.
Cuma Wati.
Dan aku bersumpah, waktu aku membuka mata dan menatap ke depan lewat bahu Salman, lampu depan Wati yang mati itu, dengan stiker mata animenya, kelihatan seperti sedang tersenyum.
Kami duduk seperti itu lama. Lebih dari sepuluh menit. Lebih dari tebusan yang ditetapkan dewan direksi.
Salman akhirnya menoleh. Pelan. Melewati bahunya, ke arahku. Wajah kami dekat. Sangat dekat. Aku bisa melihat bulu matanya. Bisa melihat bekas jerawat kecil di pelipisnya. Bisa melihat matanya yang, di bawah lampu neon basement yang dingin, kelihatan sangat hangat.
“Jadi,” katanya pelan. “Kita...”
“Iya.”
“Iya apa?”
“Iya yang itu.”
“Yang itu apa?”
Aku memukul bahunya pelan. “Man, jangan bikin aku ngomong.”
“Aku teknisi audio. Aku butuh konfirmasi verbal. Sinyal non-verbal bisa salah diinterpretasi.”
Aku menatapnya. Dia menatapku balik dengan wajah datar yang serius, tapi sudut bibirnya bergetar karena menahan senyum.
“Kita pacaran,” kataku. Pelan. Ke wajahnya yang cuma sepuluh senti dari wajahku. “Kamu sama aku. Pacaran. Konfirmasi verbal.”
Sudut bibirnya akhirnya menyerah. Dia tersenyum. Senyum yang lebar, yang nggak pernah aku lihat di wajahnya. Bukan senyum kecil puas seperti teknisi yang menemukan frekuensi yang pas. Senyum yang besar dan konyol dan sedikit nggak percaya, seperti bocah yang baru dapat figure Naruto dari etalase kaca di Glodok.
“Diterima,” katanya. “Sinyal diterima. Jernih. Nggak ada distorsi.”
Aku tertawa. Dan dia tertawa. Dan kami tertawa berdua di atas Wati di basement B2 Zona C, dengan dengung AC sentral sebagai musik latar dan lampu neon berkedip sebagai lampu panggung.
Lalu aku berhenti tertawa.
Karena ada sesuatu yang harus aku bilang. Sesuatu yang sudah ada di kepalaku sejak aku turun dari lift tadi. Sejak sebelum itu, mungkin. Sejak ojek kantor. Sejak telepon Ibu. Sejak video sembilan belas detik di akun gosip.
“Man.”
“Hm.”
“Tapi...” Aku menarik napas. “Jangan bilang siapa-siapa dulu, ya.”
Dia diam.
“Bukan karena aku malu,” lanjutku cepat. Terlalu cepat. “Aku cuma... kamu tahu kan, kerjaanku. Ibuku. Akun-akun gosip itu. Kalau ketahuan sekarang, nanti ribet. Nanti ada yang posting. Nanti Ibu telepon. Nanti produser nanya-nanya.” Aku menggigit bibir. “Aku cuma butuh waktu. Sebentar. Buat siap-siap. Buat... cari cara ngomong yang benar.”
Salman menatapku.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu dia tersenyum. Senyum kecil. Senyum yang biasa. Senyum teknisi yang puas.
“Nggak apa-apa,” katanya.
Ringan. Cepat. Tanpa jeda.
“Beneran?”
“Beneran. Nggak apa-apa.” Dia mengangkat bahu. “Aku nggak butuh orang lain tahu. Aku udah tahu. Wati udah tahu. Itu cukup.”
Dan dia tersenyum lagi. Dan menggenggam tanganku lagi. Dan bilang sesuatu soal nanti kita bisa kencan di warung Ibu, di sana nggak ada akun gosip, cuma ada ibu-ibu arisan yang nggak tahu kamu siapa.
Aku tertawa. Aku bilang iya. Aku memeluknya lagi dari belakang.
Tapi di suatu tempat di belakang kepalaku, di tempat yang sangat kecil dan sangat sunyi, ada sesuatu yang mengganjal.
Nggak apa-apa.
Terlalu cepat.
Terlalu ringan.
Nggak ada jeda sebelum kata kunci. Nggak ada nada yang naik. Nggak ada tempo yang berubah. Semua pola kebohongan yang dia ajarkan ke aku tanpa sadar, lewat cerita-ceritanya soal master control, nggak ada di kalimat itu.
Itu bukan kebohongan.
Tapi itu juga terdengar seperti sesuatu yang sudah dia ucapkan terlalu sering. Seperti kalimat yang sudah dia latih. Seperti preset yang sudah dia simpan, yang bisa dia panggil kapan saja, dengan satu tombol, tanpa berpikir.
Aku mengabaikannya.
Aku memeluk punggungnya lebih erat, menempelkan pipiku di beruang cokelat yang memeluk toples madu, dan mengabaikan suara kecil di belakang kepalaku itu.
Malam itu, aku terlalu bahagia untuk mendengarkan.
Nanti, jauh nanti, aku akan mengingat malam ini. Aku akan mengingat nggak apa-apa yang terlalu cepat itu. Dan aku akan berharap, dengan seluruh dadaku, bahwa malam itu aku berhenti tertawa sedikit lebih lama, dan mendengarkan.
Kresek.
Suara itu datang dari langit-langit basement.
Kami berdua menoleh. Ada speaker kecil di dekat pipa AC, speaker interkom yang biasa dipakai satpam untuk pengumuman mobil plat B sekian, lampunya masih nyala.
Kresek. Kresek.
Lalu suara. Suara laki-laki. Berat. Bersemangat. Agak serak.
“Mas Salman.”
Salman membeku. Aku membeku.
“Ini Pak Slamet, Mas. Dari ruang CCTV.”
Aku menoleh ke atas. Ke pojok langit-langit basement. Ke kamera CCTV kecil berwarna hitam dengan lampu merah yang berkedip, yang dari tadi, dari tadi, mengarah lurus ke pojok B2 Zona C.
Ke Wati.
Ke kami.
“Saya cuma mau bilang,” lanjut Pak Slamet, dengan suara yang bergetar karena terharu, “selamat ya, Mas. Selamat, Mbak Cynthia.”
Lalu, dari speaker interkom itu, keluar suara lain. Tipis. Samar. Seperti dari HP yang ditaruh di dekat mic.
Gendang. Sitar.
Chaiyya Chaiyya.
Pak Slamet memutar Chaiyya Chaiyya lewat interkom basement.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Lengan hoodie Anya yang kebesaran menutupi seluruh wajahku sampai ke dahi.
“CCTV,” desisku dari balik lengan hoodie. “Man. CCTV. Ada CCTV!”
Salman menatap kamera itu. Lalu menatapku. Lalu menatap kamera itu lagi.
Lalu dia mengangkat tangan dan melambai ke kamera. Pelan. Sopan.
“Makasih, Pak,” katanya ke arah kamera.
“Sama-sama, Mas! Saya fans!”
“MAN!” Aku menarik lengannya ke bawah. “Kamu bilang di sini nggak ada siapa-siapa!”
“Aku lupa Pak Slamet.” Dia menatapku dengan wajah polos. “Pak Slamet itu bukan siapa-siapa. Pak Slamet itu Pak Slamet.”
“Dia lihat semuanya! Dia dengar semuanya!”
“CCTV basement nggak ada audionya. Dia cuma lihat.”
“Itu tetap lihat, Man!”
“Tenang, Mbak Cynthia,” kata suara Pak Slamet dari interkom, di atas lagu Chaiyya Chaiyya yang masih berputar. “Rahasia aman. Saya satpam. Satpam itu penjaga. Penjaga gerbang, penjaga gedung, penjaga rahasia. Rekaman CCTV basement B2 malam ini...” Jeda. Suara tombol ditekan. “...saya hapus. Udah. Bersih. Kayak nggak pernah ada.”
Aku menurunkan lengan hoodie dari wajahku.
“Tapi lagunya saya puter sampai habis ya, Mas, Mbak,” tambah Pak Slamet. “Ini momen bersejarah. Harus ada musiknya.”
Salman menatapku. Aku menatap Salman.
Lalu kami tertawa lagi.
Dan Chaiyya Chaiyya bergema di basement B2 yang kosong, memantul di dinding beton dan pipa-pipa AC dan mobil-mobil yang diparkir rapi, dari interkom satpam yang biasanya cuma dipakai untuk mengumumkan lampu mobil yang lupa dimatikan.
Lagu perang, kata Salman.
Malam itu, lagu itu jadi lagu yang lain.
Wati mengantarku pulang jam delapan lewat.
Kaca helmku terbuka. Hoodie Anya masih aku pakai. Kedua tanganku melingkar di pinggangnya, di dalam saku hoodie beruang cokelat, menggenggam tangannya yang sudah menunggu di sana.
Di lampu merah perempatan Mampang, Salman menekan klakson.
Bapak ojek berkumis itu ada di sana. Seperti biasa. Seperti dia memang menunggu. Dia menoleh, melihat Wati, melihat aku, melihat tanganku yang masuk ke saku hoodie Salman.
Dan dia mengacungkan dua jempol ke arah kami, sebelum mulai berjoget.
Aku nggak membuka kaca helmku lebih lebar.
Aku nggak menutupnya juga.
Aku cuma tertawa di baliknya, di tengah perempatan Mampang, di antara dua puluh motor yang berjoget Bollywood di bawah lampu merah, dengan pacar yang kemarin masih ojek kantor dan hari ini masih nggak boleh aku bilang ke siapa-siapa.
Malam itu, aku nggak memikirkan kamera.
Malam itu, aku cuma memikirkan bakso.
Dan aku nambah terus.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati reading
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu