Chapter Thirty Two
Naruto di Meja Bayu
POV: Cynthia
Dino bercerita seperti dia membawakan konten Dino Doyan.
Bukan karena dia nggak serius. Karena itu satu-satunya cara dia bisa bercerita soal hal-hal yang terlalu berat. Dengan suara pembawa acara. Dengan gerakan tangan. Dengan efek suara.
“Jadi gue pakai kostum badut,” katanya, duduk di anak tangga di sebelahku, kotak martabak di antara kami. “Wig pelangi. Hidung merah. Sepatu panjang setengah meter. Baju polkadot. Gue mau ke toilet, soalnya toilet bawah antre kayak antre sembako. Gue naik ke lantai empat belas. Gue buka pintu master control.”
Dia membuka pintu khayalan di udara di depannya.
“Ceklek.”
“Terus?”
“Terus gue lihat Salman lagi dipeluk anak kecil.” Dino menurunkan tangannya. Suara pembawa acaranya hilang sedikit. “Anak umur tujuh tahun. Kaus oranye. Gambar Naruto. Matanya sembap. Ingusnya meler. Dia meluk leher Salman pakai satu tangan.”
Dino diam sebentar.
“Tangan yang satu lagi,” katanya, “meluk figure Naruto.”
Aku menatapnya.
“Yang mode Sage,” kata Dino pelan. “Yang lima ratus unit. Yang Salman beli pakai gaji pertama terus makan Indomie dua minggu. Yang Pak Darto nggak berani kemoceng, cuma ditiup.” Dia menatap dinding beton. “Alasnya kosong, Cyn. Gue lihat dari pintu. Alas yang paling tinggi, yang di tengah. Kosong.”
Dino menceritakan semuanya.
Bayu yang tersesat di lift karena memencet semua tombol. Bayu yang menangis sendirian di koridor lantai empat belas, entah berapa lama, dan nggak ada satu orang pun yang lewat. Bayu yang dibilang cengeng oleh teman-temannya. Bayu yang papanya kerja di Kalimantan dan pulang tiga bulan sekali.
Bayu yang berdiri di depan figure Naruto, membaca tulisan NGGAK BOLEH PEGANG, lalu menurunkan tangannya dan bilang maaf, Om, aku nggak pegang.
“Terus Salman ambil figure-nya,” kata Dino. “Dari alas. Dia kasih ke Bayu. Dia bilang pegang. Dia bilang itu tulisan manajemen, aku manajemennya, aku yang ngizinin.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Terus dia bilang,” lanjut Dino, dan suaranya sekarang benar-benar bukan suara pembawa acara lagi, “Naruto ini udah nemenin aku empat tahun. Dari gaji pertamaku. Dia jagain aku waktu aku sendirian di ruangan ini tiap pagi jam lima. Sekarang aku udah nggak sendirian. Aku udah punya teman. Banyak.”
Dino menatapku.
“Terus dia nyebutin kita satu-satu, Cyn. Nggak pakai nama. Tapi gue tahu. Ada yang suka bakso. Itu gue. Ada yang suka ngatain hoodie-ku. Diana. Ada yang ganteng banget sampai bikin orang jatuhin nampan. Erga. Ada yang jadi badut tapi balonnya kayak sosis.” Dino menunjuk dirinya sendiri. “Gue lagi. Dua kali. Gue nggak protes.”
“Terus?”
“Terus dia bilang...” Dino diam. Menelan ludah. “Ada yang suka kedipin lampu.”
Aku berhenti bernapas.
Family Day. Panggung plaza. Mic di tanganku, fader-nya diturunkan ke nol. Teknisi channel apa pun ini. Kalau dengar, kedipin lampu meja sound-mu dua kali.
Dan lampu kecil di bawah tenda FOH. Mati. Nyala. Mati. Nyala.
“Itu lo, kan?” tanya Dino pelan. “Yang suka kedipin lampu?”
Aku nggak bisa menjawab. Aku cuma mengangguk.
Dino mengangguk balik. “Gue udah curiga,” katanya. “Dari dulu. Dari waktu dia senyum-senyum sendiri di FOH Family Day. Salman nggak pernah senyum-senyum sendiri. Paling banter dia senyum ke bakso.”
“Dia bilang ke aku,” kata Dino, “jangan bilang siapa-siapa, Din.”
“Termasuk aku?”
“Gue nanya itu juga. Termasuk Cynthia? Dia nggak jawab.” Dino menggeleng. “Tapi gue tahu jawabannya. Makanya gue simpan. Rahasia badut.”
Aku menatap tanganku. Jari-jariku yang memegang potongan martabak yang sudah dingin.
Family Day.
Sore itu, sesudah acara, aku membawakan es kelapa ke tenda FOH. Aku duduk di sebelahnya. Aku bilang mixing-mu beda dari jam dua belas, lebih pelan, kayak orang yang lagi mikirin sesuatu.
Dia bilang tadi ada anak hilang. Aku ketemu dia waktu ambil kabel.
Aku bilang syukurlah. Aku tertawa soal balon sosis rasa rubah ekor sembilan.
Dia nggak cerita soal Naruto.
Dan aku nggak bertanya.
Karena aku nggak tahu harus bertanya.
Karena aku nggak pernah melihat alas itu kosong, karena aku nggak pernah ke master control sesudah itu kecuali malam Pak Darto mengepel satu ubin tiga kali, dan malam itu aku terlalu sibuk memeluknya untuk melihat rak akrilik di belakangnya.
“Kenapa dia nggak cerita, Din?” bisikku.
Dino diam lama.
“Gue juga nanya itu,” katanya akhirnya. “Di tangga darurat. Abis kita nganter Bayu ke mamanya. Gue nanya kenapa jangan bilang siapa-siapa. Dia cuma lihat ke bawah. Ke arah plaza. Ke arah panggung.”
Dino menatapku.
“Ke arah lo, Cyn.”
Jam dua belas siang, aku membuka portal internal TRAC di laptop ruang rias.
Portal internal itu situs yang jarang dibuka orang. Isinya pengumuman HR, jadwal maintenance lift, menu kantin mingguan, dan forum karyawan yang biasanya cuma dipakai untuk menjual barang bekas atau mencari teman carpool.
Aku mengetik di kotak pencarian: Family Day.
Hasil pertama: pengumuman resmi. Foto-foto panggung. Foto lomba balap karung. Foto Dino dengan wig pelangi dan balon sosis, dengan takarir Badut kita tahun ini! Terima kasih Mas Dino!
Hasil kedua: forum karyawan. Sebuah utas. Diunggah dua hari sesudah Family Day. Oleh seorang karyawan divisi finance.
Sari Wulandari — Finance, Lt. 18
Judul utasnya: Terima kasih untuk Om Kodok dari lantai 14 dan Om Badut 🙏
Aku membukanya.
Ada foto.
Seorang anak laki-laki. Umur tujuh tahun, mungkin. Kaus oranye bergambar Naruto. Rambut sedikit berantakan. Dia duduk di lantai ruang tamu yang sederhana, bersandar ke sofa, dan dia memeluk sesuatu di dadanya dengan kedua tangan. Erat. Seperti memeluk harta karun.
Figure Naruto. Mode Sage. Mata kuning bergaris. Tangan membentuk segel. Jubah merah yang berkibar.
Dan anak itu tersenyum. Senyum yang lebar sampai ke telinga. Senyum tanpa gigi depan, karena gigi depannya baru tanggal. Senyum yang nggak berbentuk, nggak dilatih, nggak berhenti di detik ketiga.
Di bawah foto, tulisan Bu Sari.
Teman-teman TRAC, saya mau bilang terima kasih.
Waktu Family Day kemarin, anak saya Bayu (7 tahun) hilang di lift. Saya cari dari lantai 1 sampai lantai 18, hampir setengah jam. Saya panik. Saya nangis di depan satpam.
Ternyata Bayu nyasar ke lantai 14. Dia nangis sendirian di koridor. Lalu ada Om yang pakai hoodie kodok mancing, Bayu nyebutnya Om Kodok. Om Kodok duduk di lantai sejajar sama Bayu, ngajak ngobrol soal Naruto, terus kasih Bayu figure Naruto.
Saya kira itu mainan biasa. Waktu saya cek di internet, ternyata itu edisi terbatas, cuma 500 di dunia. Saya kaget. Saya mau kembalikan. Saya cari Om Kodok di lantai 14 besoknya. Ruangannya dikunci, saya cuma bisa lihat dari kaca pintu. Di rak ada tempat kosong. Di bawahnya ada tulisan: LAGI TUGAS JAGA DI TEMPAT LAIN.
Saya nggak jadi mengembalikan.
Bayu itu anak yang sering nangis. Teman-temannya di sekolah suka bilang dia cengeng. Papanya kerja di Kalimantan, jarang pulang. Sudah setahun Bayu nggak mau berangkat sekolah kalau nggak dipaksa.
Minggu lalu, Bayu bawa figure itu ke sekolah. Ada acara “Show and Tell”. Dia cerita ke teman-temannya soal Naruto yang juga cengeng waktu kecil tapi jadi Hokage. Dia cerita soal Om Kodok. Dia bilang, “Kata Om Kodok, nangis itu bukan kebalikan dari kuat. Nangis itu tanda kita masih peduli.”
Gurunya telepon saya sambil nangis.
Sejak itu, nggak ada lagi yang bilang Bayu cengeng. Bayu sekarang semangat sekolah. Tiap malam sebelum tidur, dia taruh Naruto di samping bantal. Katanya biar Naruto bisa jagain dia sampai Papa pulang.
Saya nggak tahu nama Om Kodok. Saya cuma tahu dia di lantai 14, pakai hoodie aneh, dan baik banget. Terima kasih juga untuk Om Badut (Mas Dino) yang kasih Bayu balon sosis rasa rubah ekor sembilan. Balonnya sudah meletus, tapi Bayu masih simpan karetnya.
Om Kodok, kalau baca ini: Bayu bilang terima kasih. Dan Bayu janji, kalau besar nanti, dia mau jadi orang yang ngurus suara di TV. Kayak Om.
🙏🙏🙏
Di bawah utas itu, ada dua puluh tiga komentar.
Pak Jono (Security): Itu Mas Salman bu. Orangnya memang begitu. 👍
Bu Tini (Katering): Mas Salman anak baik. Suka minta saya sisain lauk buat orang lain. 🥹
Pak Darto (OB Lt. 14): Saya yang tiap pagi bersihin figure-figure Mas Salman. Yang Naruto itu saya cuma berani tiup debunya. Sekarang alasnya kosong. Saya tetap tiup alasnya tiap pagi. Biar bersih kalau Narutonya pulang.
Mas Ujang (OB Lt. 20): Mas Salman juga titip figure Anya di meja kami. Katanya biar kami nggak makan sendirian. 😭
Raka (Master Control): Mas Salman nggak baca portal. Tapi nanti aku print-in. 🙏
Aku menutup laptop.
Toilet lantai dua belas. Bilik paling ujung. Kloset tertutup.
Tempat aku duduk sebelas menit sesudah Chef Robby memotong omonganku sembilan kali. Tempat aku membaca komentar ga level lah di akun gosip. Tempat aku membaca update ojek kantor dan merasa nggak menang.
Aku duduk di sana lagi.
Dan aku menangis.
Bukan menangis yang bisa ditahan. Menangis yang keluar dari tempat yang sangat dalam, tempat yang selama dua puluh enam tahun aku kunci rapat-rapat dengan kamera selalu nyala. Menangis yang membuat bahuku bergetar dan napasku tersengal dan riasanku luntur mengalir ke pipi dan aku nggak peduli. Aku nggak peduli ada yang dengar dari bilik sebelah. Aku nggak peduli ada yang mengetuk dinding.
Aku menangis untuk anak tujuh tahun yang tersesat di lantai empat belas dan nggak ada yang lewat.
Aku menangis untuk laki-laki berhoodie kodok mancing yang duduk di lantai sejajar dengannya.
Aku menangis untuk figure lima ratus unit yang dibeli dengan gaji pertama, yang dia lepaskan begitu saja, dalam satu tarikan napas, karena seorang anak membaca nggak boleh pegang dan minta maaf.
Aku menangis untuk Pak Darto yang tiap pagi tetap meniup debu dari alas yang kosong, biar bersih kalau Narutonya pulang.
Dan aku menangis untuk diriku sendiri.
Karena sore itu, di bawah tenda FOH, aku duduk di sebelahnya dengan es kelapa dan bilang mixing-mu lebih pelan dari biasanya. Aku mendengar ada yang beda. Aku bahkan bilang itu ke dia.
Tapi aku nggak bertanya kenapa.
Aku tertawa soal balon sosis, lalu pulang, lalu mengirim pesan jangan diledek ya, aku cuma jujur.
Dan dia membalas aku simpen.
Dia selalu menyimpan.
Folder YANG ASLI. Laci-laci di kepalanya. Rekaman channel dua belas. Preset kurang tidur. Earbud yang buat lagu. Figure di alas paling tinggi.
Dia menyimpan semuanya. Untuk orang lain.
Dan nggak pernah ada yang menyimpan apa pun untuk dia.
Aku keluar dari toilet jam satu lewat.
Mataku bengkak. Riasanku hancur. Aku nggak memperbaikinya. Aku berjalan ke lift dengan wajah seperti itu, dengan maskara yang mengalir ke pipi dan hidung merah, di koridor lantai dua belas yang ramai karena jam makan siang baru selesai.
Orang-orang menoleh.
Itu Mbak Cynthia?
Mbak Cynthia kenapa?
Ya ampun, maskaranya.
Aku masuk ke lift.
Lift-nya kosong kecuali satu orang. Perempuan berkerudung biru, sekitar empat puluh tahun, memakai lanyard karyawan dengan tulisan FINANCE. Dia menekan tombol lantai delapan belas.
Lalu dia menoleh ke arahku. Melihat wajahku. Matanya membulat sedikit.
“Mbak Cynthia?” katanya pelan. “Mbak... Mbak nggak apa-apa?”
Aku menatap lanyard-nya. Nama di sana.
SARI WULANDARI.
Aku menatap wajahnya. Wajah ibu yang setengah jam mencari anaknya dari lantai satu sampai lantai delapan belas. Wajah yang menangis di depan satpam.
“Bu Sari,” kataku. Suaraku serak. “Ibunya Bayu.”
Bu Sari mengerjap. “Mbak kenal Bayu?”
“Saya baca di portal.” Aku menelan ludah. “Om Kodok.”
Wajah Bu Sari berubah. Dari bingung ke sesuatu yang lembut.
“Mbak kenal Om Kodok?”
Aku membuka mulut. Menutupnya.
Kenal juga enggak terlalu.
Lift bergerak naik. Lantai tiga belas. Empat belas. Lima belas.
“Kenal,” kataku. Pelan. Lalu, karena kata itu terlalu kecil, karena kata itu sama sekali nggak cukup, aku mengatakannya lagi. Lebih keras. “Saya kenal dia, Bu. Saya kenal banget.”
Bu Sari menatapku lama. Lalu, pelan-pelan, seperti seorang ibu yang sudah melihat banyak hal, dia tersenyum.
“Bayu nanya terus soal Om Kodok,” katanya. “Dia mau ketemu lagi. Mau pamer Naruto-nya udah dibikinin rumah. Kardus sepatu, dia cat warna oranye, dia tempel stiker daun.” Bu Sari tertawa kecil. “Dia bilang Naruto butuh markas.”
Lift berhenti di lantai delapan belas. Pintu terbuka.
Bu Sari melangkah keluar. Lalu berhenti di ambang pintu. Menoleh ke arahku.
“Mbak,” katanya. “Kalau ketemu Om Kodok, bilangin ya. Bayu udah nggak nangis di sekolah.” Dia diam sebentar. “Tapi kemarin malam dia nangis. Waktu Papanya telepon dari Kalimantan, bilang belum bisa pulang bulan ini. Bayu nangis lama.” Bu Sari tersenyum. “Terus dia ambil Naruto dari markasnya, dia peluk, dia bilang ke saya, Ma, nggak apa-apa nangis, nanti abis ini aku lihat Naruto, terus aku inget dia juga nangis, terus dia tetep jadi Hokage.”
Pintu lift mulai menutup.
“Kalimat itu dari Om Kodok, kan?” tanya Bu Sari.
Aku mengangguk.
Pintu tertutup.
Sore itu, Ibu menelepon.
Lagu piano klasik. Ringtone khusus.
Aku sedang duduk di mobil, di basement B1, belum menyalakan mesin. Mataku masih bengkak. Aku sudah menghapus sisa maskara dengan tisu basah, tapi wajahku masih merah.
Aku menatap layar HP lama.
Lalu aku mengangkat.
“Halo, Bu.”
“Cyn! Kamu lihat nggak, Jumat Manis minggu ini trending lagi? ErCyn masuk top lima. Tante Mira kirim screenshot ke grup arisan. Semua orang bilang kalian cocok banget.” Suara Ibu ceria. Lebih ceria dari yang pernah aku dengar sejak gala. “Erga itu sopan banget, Cyn. Ibu lihat dia waktu gala. Bawa jas, rapi, ganteng. Kamu harus...”
“Bu.”
Ibu berhenti.
Aku nggak pernah memotong omongan Ibu. Nggak pernah. Dua puluh enam tahun. Aku selalu menunggu sampai Ibu selesai, lalu bilang iya, Bu.
“Bu,” kataku lagi. Pelan. “Nanti aku mau cerita sesuatu.”
Hening di seberang.
“Cerita apa?”
“Bukan sekarang.” Aku menatap dinding beton basement di depan mobil. B1 — Zona B. “Aku belum siap ceritanya. Tapi aku mau cerita. Nanti. Ke Ibu langsung. Nggak lewat telepon.”
Ibu diam lama.
“Cyn,” katanya akhirnya. Suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih hati-hati. Seperti suara Ibu dua puluh tahun lalu, di tepi tempat tidurku. “Kamu kenapa? Suaramu serak. Kamu nangis?”
“Iya, Bu.”
Aku belum pernah bilang iya ke pertanyaan itu. Ke Ibu. Seumur hidupku.
Hening lagi. Lebih lama.
“Kenapa?” tanya Ibu.
Aku menarik napas.
“Karena aku baru tahu,” kataku, “aku pernah ngomong sesuatu yang jahat ke orang yang paling baik yang pernah aku kenal. Waktu aku pikir nggak ada yang dengar.”
Ibu nggak menjawab.
“Dan ternyata dia dengar, Bu.”
Ibu nggak bilang apa-apa selama sepuluh detik.
Lalu, pelan, dengan suara yang sangat berbeda dari suara kamera selalu nyala, dia bertanya:
“Orangnya siapa, Cyn?”
Aku menatap HP di tanganku.
Lalu aku menatap kaca spion. Ke jok belakang mobilku. Ke tote bag di sana. Di dalamnya, terlipat, ada sesuatu yang aku bawa ke kantor setiap hari selama lima minggu ini, tanpa pernah aku keluarkan.
Hoodie abu-abu. Bergambar anak kecil berambut merah muda yang memegang kacang dengan wajah licik.
“Nanti, Bu,” kataku. “Aku kenalin.”
“Kenalin?”
“Ibu udah pernah lihat dia,” kataku. “Di backstage. Malam gala. Dia yang benerin earpiece-ku.”
Hening.
Lalu, sangat pelan, seperti orang yang baru menyadari sesuatu yang dia lihat tapi nggak dia perhatikan:
“Yang pakai baju kuning?”
“Iya, Bu.”
Ibu diam.
Aku menunggu. Menunggu napas panjang yang biasa datang sebelum kalimat kamera selalu nyala. Menunggu suara yang tegas dan rapi dan penuh kekhawatiran.
Napas itu nggak datang.
“Cyn,” kata Ibu akhirnya. Pelan. “Malam itu... waktu Vina nanya, terus kamu jawab...”
Ibu berhenti.
“Ibu ngangguk,” lanjutnya. Suaranya bergetar. “Ibu ngangguk ke kamu. Ibu ingat. Ibu bangga kamu jawab gitu. Ibu pikir kamu...” Dia diam. “Ibu pikir kamu ngelindungin dirimu sendiri. Kayak yang Ibu ajarin.”
Aku nggak bisa bicara.
“Dia dengar?” tanya Ibu.
“Dia dengar, Bu.”
Ibu nggak bicara lagi untuk waktu yang lama. Aku bisa mendengar napasnya di seberang. Napas yang pelan, tersendat.
Lalu, sangat pelan, Ibu bilang sesuatu yang belum pernah dia bilang ke aku seumur hidupku.
“Maaf, Cyn.”
Aku memejamkan mata.
“Ibu nggak tahu,” kata Ibu. “Ibu cuma lihat bajunya.”
“Aku juga, Bu,” bisikku. “Aku juga cuma lihat bajunya. Di depan orang-orang. Selama tiga bulan.”
Malam itu aku pulang tanpa menyalakan radio.
Di perempatan Mampang, lampu merah. Bapak ojek berkumis itu ada di sana. Dia menoleh. Melihat mobilku. Melihat wajahku yang masih bengkak.
Dia mengangguk sekali.
Aku mengangguk balik.
Di apartemen, aku nggak langsung tidur. Aku duduk di lantai kamar, bersandar ke tempat tidur, dan membuka tote bag.
Hoodie Anya. Earbud kanan di kotak putih kecil. Dan sandal jepit biru, yang sekarang aku bawa ke mana-mana.
Aku memakai hoodie itu.
Aku memasang earbud di telinga kanan.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam di Zona C, aku memutar Tujhe Dekha To.
Lalu aku membuka HP. Grup RUANG TUNGGU FC. Pesan terakhir masih dari Dino, tiga minggu lalu. Kalau nggak ada, nggak apa-apa. Gue makan bakso aja sambil nunggu.
Aku mengetik.
Aku: din
Aku: martabak darurat level 3 itu
Aku: yang buat orang yang mau ngubah sesuatu
Aku: rasanya apa?
Lima menit kemudian, Dino membalas.
Dino: level 3 bukan martabak manis
Dino: level 3 martabak telor
Dino: telor bebek. spesial. pake daging
Dino: soalnya kalau mau ngubah sesuatu, lo butuh protein
Aku tertawa ke layar. Sendirian di kamar. Di dalam hoodie Anya.
Dino: cyn
Dino: lo mau ngubah apa?
Aku menatap pertanyaan itu.
Di telinga kananku, gendang dan sitar dan suara laki-laki yang menyanyi dengan napas panjang. Lagu yang aku hafal versi falsnya.
Aku mengetik.
Aku: jaraknya
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu reading
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu