Chapter Thirty Nine
Lagu yang Asli
POV: Cynthia
Salman makan tiga piring sayur asem di rumah Ibu.
Itu hari Kamis malam, enam hari sesudah lobby. Rumah Ibu di Bintaro, rumah kecil dengan pagar putih dan taman yang Ibu rawat sendiri sejak kontraknya diputus dua puluh tahun lalu. Ruang tamunya penuh foto. Foto Ibu di studio TV tahun sembilan puluhan. Foto Ibu dengan piala penghargaan presenter terbaik. Foto aku umur lima tahun dengan gaun merah muda, berdiri di depan kamera mainan.
Salman datang memakai kemeja.
Kemeja putih. Disetrika. Kancingnya dikancingkan sampai leher, terlalu rapat, membuatnya kelihatan seperti anak SMA yang mau wawancara beasiswa. Celana bahan hitam. Sepatu pantofel yang aku yakin dia pinjam dari Erga, karena kebesaran setengah nomor.
Nggak ada hoodie.
Aku menatapnya di depan pagar rumah Ibu. “Man. Kamu pakai kemeja.”
“Ibu bilang aku harus sopan.”
“Ibumu atau ibuku?”
“Dua-duanya.” Dia menarik kerah kemejanya. “Ibuku bilang pakai kemeja. Ibumu bilang di telepon kemarin, jangan pakai baju yang terlalu terang, nanti tetangga mikir ada lampu darurat nyala.”
Aku menatapnya.
“Ibuku bilang gitu?”
“Itu bercanda,” kata Salman. “Kayaknya. Aku nggak yakin. Nadanya datar. Nada orang yang bercanda dan nada orang yang serius itu bedanya di frekuensi tengah-atas, dan sinyal telepon Ibu-mu jelek, frekuensi tengah-atasnya kepotong.”
Aku tertawa sampai harus berpegangan ke pagar.
Lalu pintu rumah terbuka. Ibu berdiri di ambang pintu. Kebaya rumah warna krem. Rambut disanggul sederhana. Wajah tanpa riasan.
Aku belum pernah melihat Ibu tanpa riasan di depan tamu.
Ibu menatap Salman. Dari ujung rambut sampai ujung sepatu pantofel pinjaman.
Lalu matanya berhenti di kerah kemeja yang dikancingkan terlalu rapat.
“Kamu nggak nyaman pakai itu,” kata Ibu.
Salman diam. Lalu, dengan jujur: “Nggak, Bu.”
“Buka kancing atasnya.”
Salman menatap Ibu. Menatap aku. Lalu, pelan, membuka kancing paling atas.
“Satu lagi,” kata Ibu.
Dia membuka satu lagi.
Ibu mengangguk. Lalu menatap Salman lebih lama. Lama sekali. Dan aku melihat sesuatu di wajah Ibu yang aku nggak kenal. Sesuatu yang lembut. Sesuatu yang malu.
“Ibu minta maaf,” kata Ibu.
Di ambang pintu. Sebelum Salman sempat melangkah masuk. Sebelum sayur asem. Sebelum basa-basi.
“Malam gala,” lanjut Ibu, “Ibu lihat bajumu. Ibu nggak lihat kamu. Ibu ngangguk waktu anak Ibu bilang kamu cuma teknisi.” Suara Ibu bergetar. “Ibu ngajarin dia takut. Ibu ngajarin dia lihat baju, bukan orang. Ibu...”
“Bu,” kata Salman.
Ibu berhenti.
“Ibu nggak perlu minta maaf,” kata Salman pelan. “Ibu cuma takut.”
Ibu menatapnya.
“Takut itu bukan salah, Bu,” kata Salman. “Ibu pernah kehilangan semuanya karena satu foto. Wajar Ibu takut. Wajar Ibu mau anak Ibu aman.” Dia diam sebentar. “Ibu saya juga dulu takut. Takut jalan sama Bapak saya di pasar. Soalnya Bapak saya aneh. Pakai kaus yang sama tiga hari. Ngobrol sama radio rusak.”
Ibu nggak bilang apa-apa.
“Tapi Ibu saya turun dari angkot,” lanjut Salman. “Dan anak Ibu juga udah turun. Di depan dua juta orang.” Dia tersenyum kecil. “Jadi Ibu nggak usah minta maaf lagi. Kita semua udah turun.”
Ibu menatapnya lama.
Lalu Ibu menangis. Di ambang pintu. Dengan kebaya rumah dan wajah tanpa riasan.
Dan Ibu memeluknya.
Salman membeku. Seperti biasa. Tangannya di udara, setengah terangkat. Lalu, pelan, turun. Satu tangan di punggung Ibu. Menepuk pelan. Dua kali.
Seperti Bu Nur menepuk kepalaku.
Dan sesudah itu, Salman makan tiga piring sayur asem. Ibu menambahkan nasi setiap kali piringnya kosong. Ibu menambahkan ikan asin. Ibu menambahkan sambal terasi, yang Salman bilang level empat, dan Ibu bertanya level empat itu apa, dan Salman menjelaskan sistem level sambal Bu Nur selama sepuluh menit, dan Ibu mendengarkan dengan serius, sangat serius, seperti mendengarkan wawancara dengan narasumber penting.
Di akhir makan malam, Ibu bilang, “Minggu depan Ibu mau ke warung ibumu.”
Salman menatapnya.
“Ibu mau coba level satu,” kata Ibu. “Buat orang yang baru putus cinta, kan? Kata kamu tadi.”
“Iya, Bu. Sama buat anak kecil.”
“Ibu bukan dua-duanya.” Ibu tersenyum. Senyum yang aneh dan baru, senyum yang sedikit miring. “Tapi Ibu baru putus sama sesuatu. Sama rasa takut yang udah dua puluh tahun.” Dia menatapku. “Itu juga putus, kan?”
Malming hari Sabtu, Kedai Ruang Tunggu.
Kertas RESERVED — RUANG TUNGGU FC di meja pojok. Si Oren di kursi teras. Lampu kuning hangat. Rak buku.
Dan di dinding sebelah rak buku, sesuatu yang baru.
Bingkai foto. Besar. Foto dari Anime Night. Foto tiga ratus orang di bawah tenda putih, dengan layar proyektor di belakang, dan Pak Slamet dan Pak Jono dengan celana emas di depan, dan Mas Ujang dengan ikat kepala kaleng sarden, dan Bayu dengan kardus sepatu oranye.
Di bawahnya, tulisan tangan Pak Hendro di kertas karton.
KEDAI RUANG TUNGGU. SATU TAHUN LAGI. (MUNGKIN LEBIH.)
Dan di sebelah bingkai itu, satu bingkai lagi. Lebih kecil.
Screenshot. Dari layar LED raksasa lobby TRAC Tower. Siaran Sapa Pagi. Dua orang berpelukan di depan lift. Satu dengan hoodie kuning stabilo. Satu dengan hoodie abu-abu bergambar anak kecil berambut merah muda.
Di bawahnya, nggak ada tulisan. Nggak perlu.
Aku menatap bingkai itu lama.
“Pak Hendro yang pasang,” kata Dino di sebelahku. “Dia minta gue print. Ukuran A3. Gue bilang A3 itu besar, Pak. Dia bilang kalau kecil nanti nggak kelihatan dari meja pojok.”
Kami lengkap.
Enam kursi. Enam orang.
Diana dengan buku catatan batik dan toples kaca srikaya berisi bunga matahari kering, yang sekarang dia bawa ke mana-mana karena, katanya, bunganya butuh udara segar. Erga di sebelahnya, tanpa parfum, dengan tangan di bawah meja menggenggam tangan Diana. Yura, dengan kardigan krem dan senyum kecil yang miring dan berita bahwa dia resmi terpilih jadi host Wajah Malam, mulai tayang bulan depan. Dino, dengan tiga kotak martabak: manis, telor, dan satu yang dia sebut martabak perayaan level empat, yang ternyata martabak manis dan telor dijadikan satu. “Itu nggak ada,” kata Diana. “Sekarang ada,” kata Dino. “Gue penciptanya.”
Dan Salman.
Hoodie warna ungu terong. Bergambar seekor kucing gemuk berkumis tipis yang memakai sherwani emas dan berpose seperti bintang film Bollywood, satu tangan di dada, satu tangan terulur ke langit, dengan latar belakang air mancur dan bunga-bunga.
Kucing Bollywood.
Peringkat satu klasemen. Tak terkalahkan.
Diana nggak membuka buku catatannya waktu Salman masuk. Dia cuma menatap hoodie itu, lama, lalu bilang, “Selamat datang kembali, juara bertahan.”
“Makasih.”
“Itu bukan pujian.”
“Aku tahu. Tapi tetap makasih.”
Dia duduk di sebelahku.
Bukan di seberang. Bukan satu meter. Di sebelah. Bahu kami bersentuhan.
Di bawah meja, sandal jepit biruku menyentuh sepatu ketsnya yang solnya sudah tipis.
Di atas meja, tangannya menggenggam tanganku.
Di depan semua orang.
Dan nggak ada yang menulis apa pun di buku catatan.
Jam sembilan, malming masuk fase berbahaya.
Fase Dino minta Salman menyanyi.
“Satu lagu aja, Man,” kata Dino. “Satuuu aja. Buat konten. Buat perayaan.”
Salman menatap Dino.
Lalu dia menatapku.
Aku menatapnya balik.
Aku mau dengar suara itu sekali lagi. Bukan rekaman. Langsung. Nanti. Kalau aku udah jalan di sebelahmu.
Dia ingat. Aku bisa melihatnya di matanya. Dia ingat.
Salman berdiri.
Dino bersorak. Erga menyalakan senter HP. Yura menutup mulut, karena Yura tahu. Yura yang merekamnya dua tahun lalu, di lift nomor empat, diam-diam, karena sayang kalau nggak ada yang nyimpen.
Tapi Salman nggak naik ke kursi.
Itu yang pertama aku sadari. Dia nggak naik ke kursi. Dia nggak menaruh satu tangan di dada dan mengulurkan tangan lain ke lampu gantung seperti Shah Rukh Khan di atas gerbong kereta. Dia nggak mengeluarkan speaker kaleng dari saku hoodie.
Dia cuma berdiri di samping meja pojok. Tangan di sisi badan.
Lalu dia menoleh ke meja kasir.
“Pak Hendro,” katanya. “Boleh matiin musiknya? Sama lampunya, diredupin sedikit?”
Pak Hendro, yang sudah dua tahun mengerti pertunjukan, mematikan musik latar dan meredupkan lampu tanpa bertanya.
Kafe jadi temaram. Cuma lampu-lampu kuning kecil di atas rak buku yang menyala.
Pasangan mahasiswa di meja dekat jendela berhenti mengobrol. Dua bapak-bapak di meja tengah, pelanggan baru sejak Anime Night, menurunkan cangkir kopi mereka. Si Oren, di kursi teras, membuka satu mata.
Salman melepas earbud dari telinga kirinya.
Memasukkannya ke saku hoodie.
Lalu dia menarik napas.
Dan dia menyanyi.
Aku sudah mendengar rekaman itu.
Empat puluh kali, mungkin. Sejak jam dua pagi hari Rabu, waktu aku menggulir grup RUANG TUNGGU FC sampai paling atas dan menemukan pesan suara dari Yura. Aku memutarnya di mobil. Di ruang rias, lima menit sebelum siaran. Di kasur, di dalam hoodie Anya, dengan earbud kanan.
Aku pikir aku sudah tahu suaranya.
Aku nggak tahu apa-apa.
Rekaman dari mic HP di dalam lift gelap dua tahun lalu itu seperti foto hitam putih yang buram. Kamu bisa melihat bentuknya. Kamu bisa menebak warnanya.
Tapi kamu nggak bisa merasakan matahari.
Tujhe Dekha To.
Dari dada laki-laki berhoodie kucing Bollywood ungu terong, berdiri di samping meja pojok Kedai Ruang Tunggu, di bawah lampu kuning temaram.
Rendah dan hangat di bagian awal. Setiap nada di tempatnya. Setiap tarikan napas di koma yang benar. Suara yang nggak keras, nggak dipaksa, nggak pamer. Suara yang cuma ada, seperti air yang mengalir di tempat yang memang seharusnya dia mengalir.
Kafe itu diam.
Bukan diam canggung. Bukan diam yang berat, seperti di lift. Diam yang lain. Diam orang-orang yang tiba-tiba berhenti bernapas karena takut napas mereka mengganggu.
Pasangan mahasiswa di dekat jendela saling menggenggam tangan. Dua bapak-bapak di meja tengah menatap Salman dengan mulut sedikit terbuka. Pak Hendro di balik meja kasir berdiri diam, kain lap di tangan, nggak bergerak.
Dino berhenti mengunyah martabak.
Itu yang membuatku sadar ini serius. Dino berhenti mengunyah martabak.
Erga menurunkan senter HP-nya pelan-pelan. Diana menutup buku catatannya dan memeluknya ke dada, di sebelah toples srikaya. Yura menangis. Pelan. Tanpa suara. Dengan senyum di bibirnya.
Lalu suaranya naik.
Bagian tengah. Pelan-pelan. Seperti orang yang berjalan mendaki bukit, satu langkah, satu langkah, nggak terburu-buru.
Dan dia menatapku.
Sambil menyanyi, dia menatapku. Dari satu meter. Di bawah lampu kuning temaram. Dengan wajah yang nggak datar. Dengan mata yang basah. Dengan telinga yang merah.
Dan aku mengerti, untuk pertama kalinya, kenapa Dino bilang suara ini kayak lagu terakhir di film kapal tenggelam.
Bukan karena sedih.
Karena jujur.
Suara ini terlalu jujur. Suara ini nggak punya tempat bersembunyi. Nggak ada fals untuk ditertawakan. Nggak ada kekonyolan untuk dijadikan tameng. Nggak ada hoodie kucing Bollywood yang bisa mengalihkan perhatian. Cuma suara laki-laki yang menyanyikan lagu cinta, dengan benar, ke perempuan yang dia sayang, di depan semua orang.
Dua tahun lalu, di lift yang gelap, suara ini bikin aku takut.
Karena dua tahun lalu, aku belum siap mendengar sesuatu yang sejujur ini.
Bagian reff.
Suaranya naik tinggi. Jernih. Seperti orang yang memanggil seseorang dari seberang sungai.
Dan aku mendengar sesuatu di belakangku.
Bunyi kursi plastik.
Aku menoleh.
Di pintu dapur kafe, berdiri seseorang yang aku nggak tahu sejak kapan ada di sana. Perempuan pendek gemuk berdaster bunga-bunga dan celemek ayam jago.
Bu Nur.
Dia datang malam ini membawa bakso untuk Pak Hendro, Dino bilang tadi. Bakso level satu sampai sembilan, dalam termos-termos besar, sebagai hadiah untuk satu tahun lagi.
Dia berdiri di pintu dapur. Tangan di dada. Matanya menatap anaknya yang sedang menyanyi.
Dan Bu Nur menangis.
Bukan tangis yang ditahan. Tangis yang dia biarkan keluar, dengan mulut sedikit terbuka dan bahu bergetar. Tangis seorang perempuan yang tiga puluh tahun lalu mendengar suara yang persis seperti ini, dari laki-laki yang berlari di belakang angkot D11.
Laki-laki yang nyanyinya fals.
Tapi yang, kata Bu Nur ke Salman, ke Salman saja, dulu sekali, kalau cuma berdua di depan warung jam dua pagi, nyanyinya seperti ini.
Salman menyanyikan baris terakhir.
Pelan. Turun. Seperti air yang sampai di muara.
Lalu dia berhenti.
Kafe tetap diam.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Lalu, dari kursi teras, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah dua tahun malming.
Si Oren mengeong.
Satu kali. Pelan. Panjang.
Dan Si Oren nggak pindah ke rumah tetangga.
Si Oren, yang selama dua tahun selalu kabur setiap kali Salman menyanyi, yang selalu menatap Salman dengan kebencian murni setiap kali klakson Wati berbunyi, turun dari kursi teras. Berjalan masuk ke kafe. Melewati meja-meja. Melewati Pak Hendro di balik kasir.
Dan duduk di kaki Salman.
Di atas sepatu ketsnya yang solnya sudah tipis.
Dan mulai mendengkur.
Kafe meledak.
Bukan tepuk tangan. Tawa. Tawa yang basah, yang pecah di tengah tangis. Dino tertawa sampai martabak perayaan level empat jatuh ke lantai. Erga tertawa sambil memeluk Diana. Diana tertawa dengan wajah di toples srikaya. Yura tertawa dari hidung dulu, lalu pecah. Pak Hendro tertawa sampai harus bersandar ke kulkas. Bu Nur tertawa sambil menangis di pintu dapur.
Dan Salman menatap kucing di kakinya.
“Ren,” katanya pelan. “Kamu nggak kabur.”
Si Oren mendengkur lebih keras.
“Dua tahun kamu kabur,” kata Salman. “Sekarang kamu nggak kabur.”
Dia mendongak. Menatapku.
“Kamu juga,” katanya pelan.
Lalu dia merogoh saku hoodie.
Mengeluarkan earbud. Earbud kiri. Earbud yang dia lepas sebelum menyanyi.
Dia menatapnya di telapak tangannya. Lama.
Lalu dia mengulurkannya ke aku.
Aku menatap earbud itu. Lalu menatapnya.
“Man,” kataku pelan. “Aku udah punya yang kanan. Yang buat lagu.”
“Iya.”
“Ini yang kiri. Yang kamu pakai. Yang...” Aku berhenti. “Kalau kamu kasih ini ke aku, kamu nggak punya apa-apa.”
“Aku punya.” Dia tersenyum. Senyum kecil. Yang dimulai dari sudut kiri bibir. “Dua telinga buat dunia.”
Aku menatapnya.
“Satu buat dengar dunia,” katanya pelan. Dia menunjuk telinga kanannya. Lalu dia menaruh earbud kiri itu di telapak tanganku. Menutup jari-jariku di atasnya.
“Satu buat kamu.”
Aku nggak bisa bicara.
Di sekeliling kami, kafe sunyi lagi. Dino menutup mulut dengan dua tangan. Yura menangis lebih keras. Diana memeluk toples srikaya lebih erat. Erga mencium kepala Diana, di depan semua orang, dan Diana nggak menghindar.
Aku menatap earbud di telapak tanganku.
Lalu aku memasangnya. Di telinga kiriku.
Earbud kanan di telinga kanan. Earbud kiri di telinga kiri. Sepasang. Lengkap. Untuk pertama kalinya.
Nggak ada lagu yang diputar. HP-nya di saku Salman, dan dia nggak menyalakan apa-apa.
Tapi aku mendengar sesuatu.
Sunyi. Sunyi yang lembut. Sunyi yang penuh. Dan di baliknya, sangat samar, dengkuran Si Oren di kaki Salman, dan napas Salman sendiri, satu meter dariku, panjang dan pelan.
“Terus kamu dengar apa?” bisikku. “Kalau dua-duanya aku pakai?”
Salman menatapku.
“Kamu,” katanya.
“Cyn,” katanya lagi. Pelan. “Nanti, kalau kamu masih takut kamera kadang-kadang. Kalau kamu masih jalan tiga meter sesekali, karena kebiasaan. Kalau kamu masih ngecek siapa yang lihat sebelum ketawa.”
Aku menatapnya.
“Nggak ap—”
“Apa-apa.”
Dia berhenti.
Aku menatapnya. Mataku basah. Earbud di dua telingaku.
“Apa-apa, Man,” kataku. “Semua yang soal kamu, buat aku itu apa-apa.” Aku menelan ludah. “Jangan bilang nggak apa-apa lagi ke aku. Nggak usah. Kalau kamu sakit, bilang sakit. Kalau kamu capek, bilang capek. Kalau aku jalan tiga meter lagi, tarik tanganku.” Air mataku jatuh. “Kamu udah dua tahun nyimpen semuanya. Folder YANG ASLI. Laci. Rekaman channel dua belas. Kamu nyimpen semua orang. Sekarang biar aku yang nyimpen kamu.”
Salman menatapku.
Lama.
Lalu dia menunduk.
Dan dia menciumku.
Di meja pojok Kedai Ruang Tunggu. Di bawah lampu kuning temaram. Di depan Dino dan Erga dan Diana dan Yura. Di depan Pak Hendro dan Bu Nur. Di depan pasangan mahasiswa dan dua bapak-bapak dan bingkai foto A3 di dinding.
Ciuman yang singkat. Satu detik. Dua detik. Bibirnya hangat dan sedikit asin, karena dia juga menangis.
Lalu dia menarik diri. Sepuluh senti.
Dan kafe meledak dalam sorakan.
Dino berdiri di atas kursinya, persis seperti Salman dulu, dan berteriak, “PAK HENDRO! MATIIN MUSIKNYA! INI BENERAN PERNIKAHAN!”
“MUSIKNYA UDAH MATI, DIN!”
“NYALAIN LAGI TERUS MATIIN LAGI!”
Bu Nur bertepuk tangan dari pintu dapur dengan sodet di satu tangan.
Dan Diana membuka buku catatannya. Pertama kalinya malam itu. Menulis sesuatu dengan cepat. Lalu menutupnya, dan menatap kami berdua, dan mengangkat tangan kanan.
Satu jari. “Akhirnya.”
Dua jari. “Level.”
Tiga jari. “Berapa.”
Empat jari. “Ini.”
Lima jari. “Sekarang?”
Salman menatapku. Aku menatapnya.
“Ini belum,” kataku pelan. Hanya ke dia.
Dia mengerjap.
“Belum level sepuluh,” kataku. “Di bioskop kamu bilang, sepuluhnya nanti. Kalau aku udah berani jalan di sebelahmu.”
“Kamu udah.”
“Aku tahu.” Aku tersenyum. “Tapi level sepuluh nggak di kafe. Di depan Dino.”
Dino, di atas kursinya, berhenti bersorak. “Kenapa nggak di depan gue?”
“Karena kamu bakal ngerekam, Din.”
Dino menatap HP di tangannya, yang memang sedang merekam. Lalu menurunkannya pelan-pelan dengan wajah sangat tersinggung.
Jam sebelas, kami naik Wati.
Aku di jok belakang. Helm putih berstiker kelinci. Kaca helm terbuka. Kedua tanganku melingkar di pinggangnya, masuk ke saku hoodie kucing Bollywood. Tangannya sudah menunggu di sana.
Earbud di dua telingaku. Dan sekarang, di kafe tadi, sebelum pergi, dia menyalakan lagu di HP-nya. Tujhe Dekha To. Versi asli. Masuk ke dua telingaku sekaligus.
Tapi di bawah lagu itu, karena mic earbud punya fungsi transparency, aku masih bisa mendengar dunia. Angin malam. Klakson. Mesin Wati yang berdengung pelan.
Dan Salman, di depanku, yang bersenandung. Mengikuti lagu.
Dengan suara aslinya.
Pelan. Di balik helm. Hampir tenggelam di angin.
Tapi aku dengar.
Lampu merah perempatan Mampang. Sembilan puluh detik.
Bapak ojek berkumis tebal itu ada di sana. Jalur kanan. Seperti biasa. Seperti dia memang menunggu.
Dia menoleh. Melihat Wati.
Dan wajahnya menyala. Seperti anak kecil melihat tukang es krim. Seperti orang yang tujuh minggu menunggu dan akhirnya yang ditunggu datang.
Lalu dia melihat aku. Di jok belakang. Kaca helm terbuka. Tangan di saku hoodie Salman.
Dia mengenaliku. Aku tahu dia mengenaliku. Dia datang ke Anime Night. Aku membelikannya tiket.
Dia mengacungkan dua jempol.
Salman menekan klakson.
Chaiyya Chaiyya. Delapan bit. Cempreng. Bangga.
Bapak berkumis itu mengangkat kedua tangan dari stang. Dan berjoget.
Driver di sebelah kiri ikut. Driver di belakang. Tukang bajaj di jalur paling kiri membunyikan klakson dangdutnya. Ibu-ibu di atas motor matic menggoyangkan bahu.
Dan aku, di jok belakang Wati, di tengah perempatan Mampang, melepas tanganku dari saku hoodie Salman.
Mengangkat kedua tangan ke udara.
Dan berjoget.
Dengan kaca helm terbuka. Dengan wajah yang aku tahu sedang direkam oleh setidaknya tiga HP di perempatan itu. Dengan tawa yang keluar nggak berbentuk dan nggak berhenti di detik ketiga.
Salman menoleh ke belakang. Melihatku berjoget di jok Wati.
Dan dia tertawa. Keras. Lepas. Dari dadanya.
Lampu hijau.
Semua orang tancap gas sambil bersorak. Bapak berkumis itu mengacungkan jempol sekali lagi, lalu belok kiri, dan aku melihat dia mengusap matanya dengan lengan jaket ojeknya.
Wati nggak ke Kemang.
Salman membelokkannya ke gedung parkir sebuah mal di Kemang Raya. Mal yang sudah tutup. Gedung parkir lima lantai yang setengah kosong di jam sebelas malam.
Wati naik. Lantai satu. Dua. Tiga. Empat.
Lantai lima. Atap. Terbuka. Nggak ada atap di atasnya. Cuma langit.
Salman memarkir Wati di pojok paling ujung, dekat pagar pembatas. Dari sana, Jakarta Selatan kelihatan seperti lautan lampu. Kuning. Putih. Merah. Bergerak pelan. Di kejauhan, menjulang di antara gedung-gedung lain, aku bisa melihat siluet TRAC Tower. Tiga puluh lantai. Dengan lampu merah kecil berkedip di puncaknya.
Rooftop lantai tiga puluh. Tempat aku pertama kali meminjam earbud yang buat lagu.
Salman mematikan Wati. Lampu depannya padam. Mata anime di stikernya meredup.
Kami nggak turun dari jok.
Aku masih di belakang. Dia masih di depan. Lagu masih mengalir di dua telingaku, pelan.
Dia menoleh ke belakang. Pelan. Melewati bahunya. Ke arahku.
Wajah kami dekat. Sangat dekat. Aku bisa melihat bulu matanya. Bisa melihat bekas jerawat kecil di pelipisnya. Bisa melihat matanya yang, di bawah langit Jakarta yang nggak pernah benar-benar gelap, kelihatan sangat hangat.
“Cyn,” katanya.
“Hm.”
“Sepuluhnya.”
Aku tersenyum.
“Di sini?” bisikku.
“Di sini nggak ada siapa-siapa,” katanya. “Tapi bukan karena kamu takut dilihat. Aku tahu kamu nggak takut lagi.” Dia diam sebentar. “Di sini nggak ada siapa-siapa karena aku yang mau nggak ada siapa-siapa. Sekali ini aja. Aku egois.”
Aku menatapnya.
“Kamu nggak pernah egois,” bisikku.
“Makanya sekali ini.”
Aku turun dari jok belakang. Berdiri di samping Wati. Dia juga turun. Berdiri di depanku.
Nol meter.
Aku mengangkat tangan. Memegang tali hoodie kucing Bollywood, dua tali putih dengan ujung plastik, seperti di blind spot Zona D.
Tapi kali ini aku nggak menariknya.
Kali ini dia yang menunduk.
Pelan. Memberiku waktu untuk mundur kalau aku mau.
Aku nggak mundur.
Dan dia menciumku.
Bukan satu detik. Bukan dua detik. Bukan ciuman singkat di kafe di depan Dino yang sedang merekam. Bukan level enam yang aku curi di basement.
Ciuman yang lama. Pelan. Dalam. Tangannya di pipiku, ibu jarinya mengusap di bawah mataku. Tanganku di dadanya, mencengkeram kucing Bollywood. Ciuman yang rasanya seperti suapan pertama level sembilan. Panas. Bikin napas hilang. Bikin mata basah. Bikin aku mikir aku nggak kuat dan sekaligus jangan berhenti.
Lagu di dua telingaku sampai di bagian reff. Suara penyanyi aslinya naik tinggi. Jernih.
Aku nggak mendengarnya.
Aku cuma mendengar jantungnya. Di bawah tanganku. Di balik kucing Bollywood.
Fals.
Sangat, sangat fals.
Waktu akhirnya kami berhenti, aku nggak bisa bernapas.
Dia juga nggak. Dahinya menempel di dahiku. Napasnya hangat dan berantakan. Kami berdiri seperti itu di atap gedung parkir lantai lima, di samping Wati yang lampunya mati, di bawah langit Jakarta, dengan TRAC Tower berkedip di kejauhan.
“Man,” bisikku.
“Hm.”
“Ini level sepuluh?”
Dia diam sebentar. Napasnya masih berantakan. Lalu dia tertawa. Pelan. Dari dadanya. Getarannya sampai ke dahiku.
“Ini level sepuluh,” katanya.
Aku tertawa.
Dan dia tertawa.
Dan di samping kami, Wati, motor listrik putih bermata anime, yang mogok di dua persen di tengah hujan Kemang supaya kami harus mendorongnya dua kilometer, yang lampunya berkedip waktu Salman bilang Wati, kamu punya kembaran, yang matanya ditutup tisu waktu hoodie Anya diculik dari dalam joknya, diam di bawah langit.
Lampu depannya mati.
Tapi aku bersumpah, waktu aku menoleh dan menatap stiker mata anime di atas lampu itu, di bawah cahaya kota yang nggak pernah benar-benar gelap, mata itu sedang mengedip.
Satu kali.
Seperti orang yang bilang akhirnya.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli reading
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu