Chapter Forty
Malming Ketiga Belas
POV: Salman
Aku menghitung.
Itu kebiasaan teknisi. Kalau ada pola, kamu catat. Kalau ada sesuatu yang muncul berulang, kamu tandai.
Malam ini malming ketiga belas sejak hoodie nomor tujuh.
Sejak malam aku masuk Kedai Ruang Tunggu dengan hoodie kuning stabilo bergambar anime yang berteriak tolong saya, dan Diana bilang delapan koma lima, langsung masuk tiga besar, dan aku melihat seorang perempuan berblazer menyembunyikan tumitnya yang sakit di bawah meja, dan aku keluar sebentar ke Wati untuk mengambil sandal jepit.
Tiga belas malming. Enam bulan.
Tiga belas kali duduk di meja pojok dengan bakso dari freezer Pak Hendro.
Sebenarnya bukan tiga belas. Tiga di antaranya, aku nggak datang. Aku bilang lembur. Aku duduk di atas Wati di depan warung Ibu sampai jam sembilan malam, dengan mesin mati.
Tapi Dino datang. Tiga kali. Sendirian. Dengan enam mangkuk.
Jadi tiga malming itu tetap dihitung. Karena kata Dino, malming itu bukan soal siapa yang datang. Malming itu soal siapa yang nunggu.
Hoodie malam ini warna hijau tua.
Bergambar kucing gemuk yang memakai helm samurai.
Hoodie pertama yang aku pakai ke kantor di bab yang, kalau hidupku novel, akan jadi bab dua. Hoodie yang membuat dua perempuan marketing berbisik di lift. Hoodie yang sekarang dipakai tujuh orang di divisi marketing setiap hari Jumat, dengan kode SAMURAIGEMUK, diskon dua puluh persen.
Aku memilihnya malam ini karena konsistensi. Seorang seniman harus punya konsep.
Dan karena Diana bilang, minggu lalu, di grup: Malming ke-13 aku bacakan klasemen final. Dandan yang pantas.
Waktu aku masuk kafe, mereka sudah lengkap.
Lima orang di meja pojok. Kertas RESERVED — RUANG TUNGGU FC di tengah. Bingkai foto A3 di dinding sebelah rak buku. Si Oren, yang sejak minggu lalu nggak pernah kabur lagi waktu aku datang, tidur di kursi kosong satu-satunya.
Kursiku.
Di sebelah Cynthia.
Aku berdiri di samping kursi itu. Menatap Si Oren.
“Ren,” kataku. “Itu kursiku.”
Si Oren membuka satu mata. Menatapku. Menutupnya lagi.
“Dia nggak mau pindah, Man,” kata Dino, mulut penuh martabak. “Dari jam enam. Gue udah coba bujuk pakai ikan teri. Dia makan terinya terus tidur lagi.”
Aku menatap Si Oren lebih lama.
Lalu aku mengangkatnya. Pelan. Dengan dua tangan. Seperti mengangkat figure edisi terbatas dari alasnya.
Si Oren nggak protes. Dia cuma menggeliat sedikit, lalu, waktu aku duduk di kursi itu, dia naik ke pangkuanku. Melingkar. Dan tidur lagi.
Cynthia menatap kucing di pangkuanku. Lalu menatapku.
Dan tertawa.
Dia nggak menutup mulut.
Diana berdiri jam tujuh lewat tiga puluh.
Buku catatan batik di tangan kiri. Pulpen di tangan kanan. Toples srikaya berisi bunga matahari kering di meja, di samping piringnya. Erga di sebelahnya, tanpa parfum, dengan senter HP yang sudah dinyalakan dan diarahkan ke Diana seperti lampu sorot.
Pak Hendro meredupkan lampu.
“Klasemen final,” kata Diana. “Enam bulan. Tiga belas malming. Empat puluh satu hoodie. Aku udah kerja keras. Tolong hormati.”
“Dihormati,” kata Dino, menurunkan martabaknya.
Diana membuka buku catatan. Membalik ke halaman yang ditandai pembatas berbentuk tengkorak.
“Klasemen Hoodie Salman Haikal, edisi final,” katanya. “Peringkat lima: kucing samurai. Yang malam ini dipakai. Naik dua peringkat dari sebelumnya. Alasan: ternyata hoodie ini menyebar ke seluruh divisi marketing dan sekarang Mbak Rini harus meeting dengan tujuh orang yang kelihatan kayak fan club. Juri menghormati dampak sosialnya.”
Aku mengangguk khidmat.
“Peringkat empat: bocah berkacamata bulat dengan dasi kupu-kupu merah. Pernah menyelamatkan Pak Darto di studio enam. Juri masih tersentuh. Juri masih malu karena tersentuh.”
“Peringkat tiga: hoodie polos abu-abu.” Diana menatapku tajam. “Satu-satunya hoodie tanpa gambar. Dipakai selama periode jeda. Juri memasukkannya ke tiga besar bukan karena memalukan. Karena menyedihkan. Juri nggak mau lihat hoodie itu lagi. Tolong dibakar.”
“Aku nggak bisa bakar hoodie. Itu boros.”
“Kasih ke Dino.”
“Gue nggak mau hoodie sedih,” kata Dino.
Diana membalik halaman.
“Peringkat dua,” katanya. “Kucing Bollywood. Juara bertahan selama empat bulan. Turun satu peringkat. Bukan karena kalah memalukan. Tapi karena ada hoodie lain yang...” Dia berhenti. Menatap Cynthia. “Yang punya cerita lebih panjang.”
Cynthia menatap Diana.
“Peringkat satu,” kata Diana. Suaranya berubah. Sedikit lebih pelan. “Bukan hoodie Salman.”
Meja pojok hening.
“Juri membuat keputusan kontroversial,” lanjut Diana. “Klasemen ini judulnya Klasemen Hoodie Salman Haikal. Tapi hoodie yang menang bukan hoodie yang dipakai Salman.” Dia menatap Cynthia. “Hoodie yang menang adalah hoodie yang diculik dari jok Wati. Yang dipakai di blind spot CCTV, di basement Zona C, di bawah bantal selama jeda. Yang dipakai di depan kamera Sapa Pagi. Live. Di depan dua juta orang.”
Diana menutup buku catatannya.
“Peringkat satu,” katanya. “Hoodie Anya. Dipakai Cynthia Larasati Wirawan. Di lobby TRAC Tower. Jam tujuh lewat lima puluh delapan.”
Hening.
Lalu Dino bertepuk tangan. Keras. Erga ikut. Yura ikut. Pak Hendro bersiul dari balik meja kasir.
Cynthia menutup wajah dengan dua tangan.
“Alasan juri,” lanjut Diana, di tengah tepuk tangan, “dalam lima kata.”
Dia mengangkat tangan.
Satu jari. “Hoodie.”
Dua jari. “Paling.”
Tiga jari. “Memalukan.”
Cynthia menurunkan tangannya. Menatap Diana dengan mulut terbuka.
Empat jari. “Paling.”
Lima jari. “Berani.”
Diana menurunkan tangannya. Duduk. Membuka toples srikaya, mencium bunga matahari keringnya, lalu menutupnya lagi.
“Itu enam kata,” kata Erga pelan.
“Paling memalukan, paling berani itu satu konsep,” kata Diana. “Kontradiksi yang menyatu. Jadi dua kata di tengahnya dihitung satu. Lima.”
Erga menatapnya dengan wajah orang yang sangat, sangat jatuh cinta pada aturan yang dibuat-buat.
Lalu Diana membacakan klasemen lain.
Klasemen Korban Kegantengan Erga: final, empat puluh tujuh korban. “Termasuk aku,” kata Diana datar. “Korban terakhir. Klasemen ditutup karena nggak ada lagi korban yang tersisa.”
Erga tersedak bakso.
Klasemen Porsi Dino: rekor baru, delapan mangkuk dalam satu malam, waktu Anime Night. “Juri nggak tahu apakah itu prestasi atau peringatan kesehatan.”
“Prestasi,” kata Dino.
“Peringatan,” kata Diana.
“Dua-duanya,” kata Pak Hendro dari meja kasir.
Klasemen Ekspresi Wajah Paling Jujur Cynthia. Klasemen yang dibuat sejak malming level sembilan. Yang judulnya dulu dirahasiakan.
“Peringkat tiga,” kata Diana. “Malam level sembilan. Wajah tomat nangis.”
Cynthia tertawa.
“Peringkat dua: Anime Night. Waktu Bayu buka kardus sepatu oranye. Juri nggak bisa nulis apa-apa waktu itu karena juri juga nangis.”
“Peringkat satu,” kata Diana. Dia menatap Cynthia lama. “Barusan. Lima menit lalu. Waktu Salman ngangkat Si Oren dari kursinya terus Si Oren tidur di pangkuannya. Kamu ketawa.” Diana diam sebentar. “Kamu nggak nutup mulut.”
Cynthia membeku.
Lalu dia menyentuh mulutnya. Seperti baru sadar.
“Aku nggak nutup mulut?”
“Nggak,” kata Diana. “Juri udah mengamati selama enam bulan. Tiga belas malming. Itu pertama kalinya kamu ketawa di meja ini tanpa nutup mulut, tanpa lihat sekeliling dulu.”
Meja pojok hening.
Aku menatap Cynthia.
Dia menatapku.
Lalu dia tertawa lagi. Kali ini dia sadar. Kali ini dia sengaja. Dia tertawa dengan kedua tangan di atas meja, mulut terbuka, kepala sedikit mendongak, suara yang jelek dan terlalu keras dan nggak berbentuk.
Si Oren, di pangkuanku, membuka satu mata. Menatap Cynthia. Lalu menutupnya lagi. Kayak bilang udah biasa.
Jam delapan, Yura bercerita soal Wajah Malam.
Episode pertama tayang Jumat kemarin. Narasumbernya seorang guru di pedalaman Papua yang berjalan tiga jam setiap hari ke sekolah. Yura mewawancarainya selama satu jam. Nggak membaca teleprompter. Bertanya. Mendengar. Menggali.
Ratingnya bagus. Bukan luar biasa. Bagus.
“Tapi bukan itu yang bikin aku seneng,” kata Yura. “Abis tayang, ada yang DM aku. Bukan soal blazer. Bukan soal muka.” Dia tersenyum. Kecil. Miring. “Ada guru di Lampung yang DM. Dia bilang dia nonton sambil nangis. Dia bilang dia juga jalan dua jam ke sekolah tiap hari. Dia bilang, makasih Mbak udah nanya pertanyaan yang nggak pernah ditanya orang ke saya.”
Dia menatapku.
“Kamu yang bilang,” katanya. “Di baris empat puluh satu. Aku bakal ketemu orang-orang yang mau kenal aku beneran. Banyak.”
“Kamu ketemu?”
“Aku ketemu satu,” kata Yura. “Guru di Lampung itu. Kami DM-an tiap malam sekarang. Dia ngajar matematika. Dia suka anime. Dia udah nonton Kimi ni Todoke tiga kali.”
Dino menjatuhkan sendok.
“Yur,” katanya. “Itu... itu cowok?”
Yura menatap Dino. Lalu menatap mangkuknya. Lalu, pelan-pelan, telinganya memerah.
“Dia bilang suaraku kayak pengumuman di bandara,” kata Yura pelan. “Tapi dia bilang itu pujian. Soalnya dia belum pernah naik pesawat. Dan dia selalu mau.”
Meja pojok meledak.
Dino berdiri di atas kursi. Erga bersiul. Diana menulis sesuatu di buku catatannya dengan sangat cepat. Cynthia memeluk Yura dari samping.
Dan aku, di pangkuanku Si Oren, menatap Yura dan tersenyum.
Baris empat puluh satu. Aku cuma yang pertama. Bukan yang terakhir.
Jam sembilan, Raka datang.
Dia bukan anggota malming. Tapi sejak Anime Night, dia sudah masuk grup RUANG TUNGGU FC, dan Dino bilang dia boleh datang kapan saja asal bawa martabak.
Dia bawa martabak. Dan laptop.
“Mas,” katanya, berdiri di samping meja pojok dengan wajah serius. “Aku mau presentasi.”
“Raka,” kataku. “Ini malming.”
“Lima menit, Mas. Aku janji.”
Dia membuka laptop. Memutarnya ke arah meja.
Slide pertama. Latar belakang biru tua. Judul putih.
VOLUME 8: EPILOG
Font: Calibri. (Aku sudah belajar.)
Slide kedua.
LAPORAN INSIDEN KONSOL MATI — REVISI
Di bawahnya, screenshot laporan resmi Pak Bambang ke Pak Wiryo. Yang dulu menulis tim teknis. Sekarang ada revisi. Di bawah kalimat Siaran berhasil dipertahankan oleh tim teknis master control, ada tambahan dengan huruf tebal:
Revisi (atas permintaan Direktur Program): Tim teknis yang dimaksud adalah Salman Haikal (Sound Engineer) dan Raka Aditya (Junior Audio). Salman Haikal melakukan mixing manual selama 120 menit menggunakan mixer analog cadangan. Direkomendasikan untuk penghargaan karyawan berprestasi kuartal ini.
Aku menatap slide itu.
“Pak Wiryo yang minta,” kata Raka. “Abis Anime Night. Dia nanya ke Pak Bambang siapa yang nyelamatin siaran waktu konsol mati. Pak Bambang bilang tim teknis. Pak Wiryo bilang saya mau nama.” Raka tersenyum. “Pak Bambang kasih nama, Mas.”
Aku nggak bisa bicara.
Slide ketiga.
PENGGANTIAN MIXER ANALOG CADANGAN
Status: DITOLAK.
Aku mengerjap.
“Ditolak?”
“Pak Bambang ngajuin buat beli mixer analog baru,” kata Raka. “Soalnya yang lama udah tua, pernah ditabrak troli, kenopnya pernah copot. Tapi waktu Pak Bambang nanya ke Mas Herman, ke Mas Gilang, ke tim floor, semua orang bilang jangan.” Raka menunjuk slide. “Mereka bilang mixer itu keramat, Mas. Mereka bilang mixer itu udah nyelamatin Pak Darto, udah nyelamatin Sapa Pagi, udah nyelamatin kafe. Mas Herman bilang kalau mixer itu dibuang, dia mau resign.”
“Dia nggak boleh resign,” kataku.
“Makanya nggak dibuang.” Raka tersenyum. “Sekarang mixer itu di master control. Di rak. Sebelah figure-figure Mas. Pak Darto bersihin tiap pagi. Pakai kemoceng. Bukan ditiup.”
Slide keempat.
Foto. Rak akrilik di master control. Dua puluh satu action figure. Dan di tengah, di alas paling tinggi, bukan Naruto.
Mixer portabel dua belas channel.
Ditaruh di atas alas akrilik yang dulu jadi rumah Naruto. Terlalu besar untuk alas itu, sehingga setengahnya menggantung. Dan di bawahnya, kertas baru.
BOLEH LIHAT. BOLEH PEGANG. BOLEH PAKAI KALAU DARURAT. — Tim Teknis (yang sekarang punya nama).
Aku menatap foto itu lama.
“Itu ide siapa?” tanyaku.
“Ide Pak Darto,” kata Raka. “Dia bilang alasnya kesepian. Dia tiap pagi niup alas kosong. Dia bilang capek niup udara.”
Cynthia, di sebelahku, menutup mulut dengan tangan. Lalu, ingat Diana, menurunkannya lagi.
Slide kelima. Terakhir.
Cuma tulisan. Putih di atas biru tua.
Terima kasih sudah jadi bahan presentasi saya selama 6 bulan, Mas.
Saya sudah dapat hobi lain.
Saya daftar kursus sound engineering di Jakarta Pusat. Mulai bulan depan.
Biar suatu hari, kalau Mas capek, saya yang pegang channel tujuh.
— Raka.
Raka menutup laptopnya.
Meja pojok hening.
Lalu aku berdiri. Si Oren protes, melompat ke kursi Dino. Dan aku memeluk Raka.
Raka membeku. Seperti aku, kalau dipeluk. Seperti semua orang di gedung itu, ternyata, kalau dipeluk tiba-tiba.
“Rak,” kataku.
“Iya, Mas.”
“Kamu masih butuh hobi lain.”
“Iya, Mas.”
“Tapi yang ini bagus.”
Raka menangis di bahuku. Hoodie kucing samurai basah sedikit.
Jam sepuluh, Dino minta aku menyanyi.
“Satu lagu aja, Man,” katanya. “Satuuu aja. Buat penutup klasemen.”
Aku menatap Dino. Lalu menatap Cynthia.
Minggu lalu, di meja ini, aku menyanyi dengan suara asliku. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, di depan orang selain Ibu. Dan Si Oren nggak kabur. Dan Ibu menangis di pintu dapur. Dan Cynthia mendengarkan dengan dua earbud di telinganya.
Cynthia menatapku. Menunggu.
“Yang mana?” tanyaku ke dia. Pelan. “Yang asli atau yang fals?”
Dia berpikir. Serius. Seperti orang yang ditanya soal ujian dan ingin memberikan jawaban yang benar.
“Yang asli itu buat aku,” katanya akhirnya. “Kalau cuma berdua.”
Aku menatapnya.
“Yang fals,” lanjutnya, dan dia tersenyum, “buat mereka.”
Dia menunjuk meja pojok. Dino dengan martabak. Erga dan Diana dengan toples srikaya. Yura dengan HP yang baru bergetar karena DM dari Lampung. Raka yang masih mengusap mata. Pak Hendro di balik meja kasir. Si Oren di kursi Dino.
“Mereka butuh ketawa,” kata Cynthia.
Aku berdiri.
Aku naik ke kursi.
Aku menaruh satu tangan di dada. Mengulurkan tangan lain ke lampu gantung, seperti lampu itu Shah Rukh Khan yang sedang berdiri di atas gerbong kereta.
Dan aku menyanyi.
Kuch Kuch Hota Hai.
Fals. Sangat fals. Nada pertama naik di tempat yang seharusnya turun. Nada kedua turun ke tempat yang nggak ada di peta musik mana pun. Di bagian reff, aku memanjangkan satu kata selama tujuh detik, dan di detik kelima, aku membuat suaraku pecah seperti panci jatuh.
Kafe meledak.
Dino tertawa sampai martabak menyembur. Diana menutup telinga, tapi bahunya bergetar, dan aku melihat bibirnya menggumamkan nada yang benar dengan sangat pelan. Erga mengayunkan senter HP. Yura tertawa dari hidung, lalu pecah. Raka tertawa sambil menangis. Pak Hendro tertawa sampai harus bersandar ke kulkas.
Si Oren membuka satu mata. Menatapku di atas kursi.
Lalu dia turun dari kursi Dino.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua minggu, Si Oren kabur ke rumah tetangga.
Aku tertawa di tengah lagu. Suaraku jadi makin fals.
Dan di sebelah kursiku, di meja pojok, di bawah lampu kuning, Cynthia tertawa.
Kedua tangannya di atas meja. Mulut terbuka. Kepala mendongak.
Dia nggak menutup mulut.
Dia nggak melirik ke meja dekat pintu.
Dia nggak berhenti di detik ketiga.
Malam itu, jam dua belas, aku sampai di rumah.
Ibu sudah tidur. Dapur sudah gelap. Masih bau kaldu, seperti selalu.
Aku duduk di bangku plastik. Menyandarkan HP ke botol kecap. Membuka laptop.
Bukan untuk anime.
Aku membuka Google Sheets. Spreadsheet kurikulum anime. Empat puluh satu baris.
Aku menggulir ke baris empat puluh.
Baris 40 — (kosong): Belum ketemu anime yang cocok buat orang yang suka ketawa sambil nutup mulut. Masih nyari. Nanti diisi.
Aku menatap baris itu lama.
Enam bulan aku mencari. Aku sudah menonton ratusan episode. Komedi. Romansa. Slice of life. Aku mencari anime yang bisa membuat seseorang berhenti menutup mulut waktu tertawa.
Aku nggak menemukannya.
Lalu aku menghapus isi kolom Judul. Menghapus isi kolom Genre. Menghapus Jumlah Episode dan Rating.
Aku mengetik di kolom terakhir. Kenapa harus ditonton.
Baris 40 — Nggak perlu anime lagi.
Dia udah nggak nutup mulut.
Tanggal: malming ke-13. Jam 22.14. Meja pojok, Kedai Ruang Tunggu.
Saksi: Diana (juri), Dino, Erga, Yura, Raka, Pak Hendro, Si Oren (kabur).
Aku menyimpan file itu.
Lalu aku membuka laci di kepalaku. Laci yang aku beri nama TIGA METER. Laci tempat sebelas meter di lobby, resepsionis yang ditanya soal paket, aku single, kaca helm yang terbuka di depan lobby jam enam yang bukan kaca helmnya, kenal juga enggak terlalu.
Laci itu sekarang juga berisi hal-hal lain. Orang yang aku kenal banget. Sandal jepit di lobby. Nol meter. Apa-apa, Man. Hoodie Anya di depan dua juta orang. Bip yang dibisikkan ke telinga.
Laci itu sudah nggak cocok dengan namanya.
Jadi aku mengganti namanya.
NOL METER.
Lalu aku membuka folder YANG ASLI.
File-file di sana. Cynthia — Level 9. Cynthia — Mampang. Cynthia — Hujan Kemang. Bayu — Naruto. Yura — Studio 6. Ibu — Dapur, jam 2 pagi. Si Oren — Nggak Kabur.
Aku menambahkan satu file.
Cynthia — Malming 13. Nggak nutup mulut.
Aku menutup laptop.
HP-ku bergetar.
Cynthia: man
Cynthia: udah sampe?
Aku: udah
Aku: lagi di dapur. ibu udah tidur
Cynthia: aku juga udah sampe
Cynthia: pake hoodie anya
Cynthia: masih wangi lavender dari yura
Cynthia: tapi bau kaldunya mulai nempel lagi
Cynthia: kayaknya hoodie ini emang ditakdirkan bau kaldu
Aku: semua hoodie-ku bau kaldu
Aku: itu fitur
Cynthia: 😂
Cynthia: man
Cynthia: tadi diana bilang aku nggak nutup mulut
Cynthia: aku nggak sadar
Cynthia: kamu sadar?
Aku: aku sadar dari lift
Aku: 2 tahun lalu
Aku: kamu ketawa nggak nutup mulut di lift
Aku: terus 2 tahun kamu lupa caranya
Aku: terus malam ini kamu inget lagi
Titik-titik mengetik muncul. Lama.
Cynthia: kamu yang ngingetin
Aku: wati yang ngingetin
Aku: dia mogok di 2%
Aku: dia sutradaranya
Aku: aku cuma figuran
Cynthia: kamu bukan figuran
Cynthia: kamu bukan cuma teknisi
Cynthia: kamu bukan maskot
Cynthia: kamu orang di balik layar yang udah nggak di balik layar lagi
Cynthia: dan kamu orang yang aku sayang
Aku menatap layar.
Di dapur yang gelap. Jam dua belas lewat. Dengan bau kaldu sapi dan bawang putih dan sedikit seledri.
Lalu aku mengetik. Sesuatu yang nggak pernah aku ketik ke siapa pun, karena aku selalu bilangnya ke dinding, atau ke Wati, atau dengan perbandingan bakso level sembilan.
Aku: aku juga sayang kamu, cyn
Kirim.
Bukan dari anime. Bukan dari episode tujuh. Bukan perbandingan bakso.
Punyaku. Orisinal.
Titik-titik mengetik muncul. Hilang. Muncul. Hilang.
Lalu:
Cynthia: 🙈
Cynthia: aku tutup muka pakai bantal
Cynthia: jangan tanya kenapa
Aku: nggak nanya
Aku: udah tahu
Cynthia: tidur man
Cynthia: besok sapa pagi
Cynthia: aku mau suaraku bagus tanpa plugin
Aku: suaramu udah bagus
Aku: tapi tidur
Aku: biar besok aku bisa dengar yang asli
Cynthia: kamu selalu dengar yang asli
Aku: iya
Aku: selalu
Aku mematikan lampu dapur.
Berjalan ke kamar. Tiga kali tiga meter. Kasur busa di lantai. Peta Kalimantan di langit-langit. Foto Bapak di dinding, berdiri di depan bengkel kecil dengan tangan di pinggang dan senyum lebar.
Aku berbaring.
Telinga kiriku kosong. Earbud kiri ada di Kemang, di telinga seseorang yang memakai hoodie Anya dan menutup muka pakai bantal. Earbud kanan juga.
Aku belum beli yang baru.
Mungkin nanti. Mungkin nggak.
Karena ternyata dua telinga buat dunia itu nggak berisik.
Kalau dunianya kamu.
Di luar, di bawah atap seng kecil di depan warung, Wati sedang mengisi baterainya. Lampu indikator charging berkedip hijau pelan, seperti napas orang tidur.
Aku memejamkan mata.
Dan aku bersenandung. Pelan. Ke langit-langit yang ada peta Kalimantannya.
Tujhe Dekha To.
Dengan suara asli.
Cuma buat diriku sendiri. Dan buat Bapak. Dan buat Ibu di kamar sebelah, yang aku tahu, dari napasnya yang berubah di balik dinding tipis, belum benar-benar tidur.
Ibu ikut bersenandung.
Fals.
Supaya aku tahu dia dengar.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas reading
- 41 Epilog — Level Satu