Chapter Thirty Six
Ronde Terakhir
POV: Yura
Bu Tini menemuiku di pantry lantai dua puluh hari Senin, sehari sesudah Anime Night, dengan kotak bekal navy di tangan dan wajah orang yang mau menyerahkan surat pengunduran diri.
“Mbak Yura,” bisiknya, menoleh ke kiri dan kanan seperti burung. “Ibu mau minta tolong.”
“Tolong apa, Bu?”
Dia menyodorkan kotak bekal itu kepadaku.
“Hari keseratus,” katanya.
Aku menatap kotak itu. Sticky note kuning di tutupnya. Tulisan tangan Bu Tini yang besar-besar dan sedikit gemetar.
Hari ke-100. Mas Erga udah ada yang ngurus. Ibu pensiun. 💛
Aku mengangkat kepala. Menatap Bu Tini.
“Ibu lihat semalam,” katanya pelan. “Di Anime Night. Ibu jadi juri cosplay. Ibu lihat Mas Erga pegang tangan Mbak Diana waktu Mbak Cynthia ngomong di panggung. Mbak Diana nggak ngelepas.” Matanya berkaca-kaca. “Mbak Diana itu yang dulu ngatain bekal Ibu kurang garam, kan?”
“Iya, Bu.”
“Dia benar.” Bu Tini tersenyum. “Ibu emang suka kurang garam. Almarhum anak Ibu juga suka bilang gitu.”
Aku menatap kotak bekal di tanganku.
“Ibu mau Mbak Yura yang kasih,” kata Bu Tini. “Taruh di mejanya. Kayak biasa. Jam sembilan.”
“Bu,” kataku. “Mas Erga harus tahu ini dari Ibu.”
Bu Tini menggeleng cepat. “Jangan, Mbak. Ibu malu.”
“Bu.” Aku menatapnya. “Seratus hari Ibu bikinin dia makan. Seratus hari dia makan bekal Ibu dan nggak tahu siapa yang masak. Dia pernah bilang ke aku, dia nggak tahu siapa, tapi dia selalu habisin. Katanya sayang kalau dibuang. Katanya telur bentuk hati itu nggak mungkin dari orang jahat.”
Bu Tini menutup mulut dengan ujung kerudung.
“Dia pantas tahu, Bu,” kataku pelan. “Dan Ibu pantas dapat makasih.”
Bu Tini menatapku lama. Lalu, sangat pelan, dia mengangguk.
“Tapi Mbak Yura yang ngomong duluan,” katanya. “Ibu nggak sanggup.”
Malming hari Sabtu, Kedai Ruang Tunggu.
Malming pertama sesudah Anime Night. Malming pertama dengan enam kursi terisi sejak dua bulan.
Salman datang.
Dia datang paling akhir, jam tujuh lewat sepuluh. Hoodie warna kuning lemon, bergambar seekor anak kucing yang memakai helm tukang bangunan dan memegang palu. Earbud di telinga kiri. Rantang di tangan. Toples sambal level lima di tangan yang lain.
Diana membuka buku catatannya.
“Hoodie nomor empat puluh satu,” katanya. “Kucing tukang. Juri bersyukur kamu kembali ke gambar. Hoodie polos kemarin itu menghina klasemen. Delapan dari sepuluh. Bonus satu poin karena kehadiran.”
“Makasih.”
“Itu bukan pujian.”
“Aku tahu. Tapi tetap makasih.”
Salman duduk. Di kursi kosong satu-satunya.
Di sebelah Dino. Di seberang Cynthia.
Satu meter.
Aku memperhatikan mereka. Aku nggak bisa nggak memperhatikan. Aku anchor berita, kerjaanku menyadari sesuatu.
Mereka saling menatap. Sebentar. Lalu Cynthia menunduk ke mangkuknya. Salman menunduk ke HP-nya. Anime di layar. Tanpa suara.
Mereka belum kembali.
Aku tahu dari Cynthia. Kami sudah bicara. Di ruang rias, di mobil, di tangga darurat lantai dua belas. Kami bicara lebih banyak dalam lima hari ini daripada dalam dua bulan sebelumnya. Cynthia bilang dia belum minta maaf. Belum secara resmi. Dia bilang dia mau minta maaf di tempat yang terang, di depan orang, di tempat di mana Salman nggak perlu pura-pura jadi maskot.
Aku bilang itu ide yang bagus.
Aku juga bilang itu ide yang menakutkan.
Cynthia bilang, aku tahu. Makanya aku butuh waktu buat berani.
Di bawah meja, kaki Cynthia memakai sandal jepit biru.
Di bawah meja, kaki Salman, dalam sepatu kets yang solnya sudah tipis, perlahan bergeser. Lima senti. Sepuluh senti.
Ujung sepatu ketsnya menyentuh ujung sandal jepit biru.
Cynthia nggak menarik kakinya.
Aku menatap mangkuk baksoku dan tersenyum.
Erga berdiri jam delapan.
Bukan di awal malming, seperti ronde dua. Bukan di depan pintu ruangan, seperti ronde tiga. Di tengah malming, sesudah makan, waktu Dino sedang menjelaskan sistem martabak daruratnya ke Pak Hendro yang ikut duduk di ujung meja.
Erga berdiri. Kursinya berderit.
Semua orang menoleh.
Dia nggak pakai kemeja putih yang disetrika rapi. Dia pakai kaus abu-abu. Rambutnya berantakan dengan nggak sengaja. Dia nggak membawa bunga. Dia nggak membawa print-an pidato. Dia nggak membawa spreadsheet.
Dia cuma membawa toples kaca.
Toples kaca bekas selai. Kosong. Bersih. Mengilap di bawah lampu kuning kafe.
Diana menatap toples itu.
Wajahnya, wajah Diana yang biasanya selalu siap dengan lima kata, membeku.
“Di,” kata Erga.
Diana nggak menjawab.
“Aku nggak pakai parfum,” kata Erga. “Kamu bisa cium. Cuma sabun mandi. Merek biasa. Aku udah cek komposisinya, nggak ada musk, nggak ada sandalwood, nggak ada vanila.”
Pak Hendro menahan tawa di ujung meja.
“Aku juga nggak bawa catatan kaki,” lanjut Erga. “Aku nggak bawa pidato. Aku nggak bawa bunga, soalnya aku nggak tahu kamu alergi bunga atau nggak, dan aku nggak mau ambil risiko lagi.”
Dia menaruh toples kaca itu di atas meja. Di depan Diana. Di samping buku catatan batiknya.
“Cynthia bilang di mejamu ada bunga matahari,” kata Erga pelan. “Kering. Di toples bekas selai. Toplesnya bersih banget, kayak dilap tiap hari.”
Diana menatap Cynthia. Tajam.
Cynthia mengangkat kedua tangan. “Aku cuma lihat, Di. Aku nggak ngomong apa-apa ke siapa-siapa. Cuma ke Erga.”
“Itu siapa-siapa.”
“Erga itu bukan siapa-siapa. Erga itu Erga.”
Diana menatap Cynthia lebih lama. Lalu kembali menatap toples kosong di depannya.
“Ini buat apa?” tanyanya. Suaranya kecil.
“Buat bunga mataharinya,” kata Erga. “Toples yang di mejamu itu toples selai stroberi. Aku lihat dari labelnya yang belum dicopot. Toples ini...” Dia memutar toples itu sedikit, memperlihatkan label yang sudah dibersihkan setengah. “Ini toples selai srikaya. Lebih besar. Biar bunga mataharinya nggak sempit.”
Hening.
Dino, di sebelahku, menutup mulut dengan dua tangan.
“Dan juga,” kata Erga, lebih pelan, “biar nanti kalau ada bunga matahari kedua, ada tempatnya.”
Diana menatap toples itu lama.
Sangat lama.
Lalu dia mengangkat kepala. Menatap Erga. Matanya, mata Diana yang selalu tajam di balik kacamata, berkaca-kaca.
Lalu dia mengangkat tangan kanan.
Semua orang menahan napas. Pak Hendro. Dino. Cynthia. Salman, yang sudah mem-pause animenya. Aku.
Satu jari.
“Iya.”
Dua jari.
“Tapi.”
Tiga jari.
“Jangan.”
Empat jari.
“Pakai.”
Lima jari.
“Parfum.”
Dia menurunkan tangannya.
Erga menatapnya. Mulutnya terbuka. Nggak ada suara yang keluar.
“Itu...” Erga menelan ludah. “Itu jawabannya?”
“Itu lima kata,” kata Diana. “Iya itu jawabannya. Empat sisanya syarat dan ketentuan.”
Hening satu detik.
Lalu Dino berdiri dari kursinya dan berteriak, “PAK HENDRO! MATIIN MUSIKNYA! ADA PERNIKAHAN!”
“Ini bukan pernikahan, Din.”
“BELUM!”
Pak Hendro tertawa sampai harus bersandar ke kursi. Lalu dia berdiri, berjalan ke meja kasir, dan menekan tombol di remote speaker. Lagu yang keluar adalah lagu dangdut. Entah sengaja atau nggak. Lagu yang sama dengan yang diputar waktu ronde dua.
Kali ini, lagunya bukan lagu patah hati.
Lagu jatuh cinta.
Erga masih berdiri. Masih menatap Diana dengan wajah orang yang baru menang lotre dan nggak percaya tiketnya asli.
“Duduk, Mas,” kata Diana. Datar. Telinganya merah sampai ke ujung. “Kamu menghalangi pandanganku ke Salman. Aku belum selesai menilai hoodie-nya.”
Erga duduk. Di sebelah Diana.
Dan Diana, untuk pertama kalinya, bergeser.
Ke arah Erga. Lima senti.
“Satu lagi,” kata Diana.
Semua orang menoleh lagi.
Diana membuka buku catatan batiknya. Membalik halaman. Mencari sesuatu. Berhenti di satu halaman, dekat bagian belakang, yang aku lihat penuh coretan.
“Waktu kamu telepon Pak Hendro dan nanya soal Kamis,” katanya ke Erga, nggak mengangkat kepala, “aku bilang di grup aku pakai tiga kata dan nyimpen dua kata. Buat nanti.”
Erga mengangguk pelan. “Aku inget.”
Diana menutup buku catatannya. Menatap Erga.
“Ini dua kata yang aku simpan,” katanya.
Dia menarik napas.
“Aku juga.”
Erga membeku.
Diana nggak menjelaskan. Dia nggak bilang aku juga suka kamu. Dia nggak bilang aku juga udah lama. Dia cuma bilang dua kata itu, lalu mengambil toples kaca srikaya dari meja, memeluknya ke dada, dan menatap mangkuk baksonya.
Erga masih membeku.
Lalu, pelan, dia tertawa. Tawa yang pecah dan basah dan sangat bahagia. Tawa orang yang sudah kalah empat ronde dan akhirnya diberi tahu bahwa dia sudah menang sejak ronde satu.
“Kamu nyimpen itu,” katanya di antara tawa. “Kamu nyimpen dua kata itu tiga minggu.”
“Dua tahun,” gumam Diana ke mangkuk baksonya.
Erga berhenti tertawa.
“Apa?”
“Nggak.” Diana menyuap bakso. “Nggak ada apa-apa. Makan.”
Erga menatap Diana. Diana menatap bakso. Dan aku melihat, di bawah meja, tangan Erga bergerak. Mencari tangan Diana. Menemukannya.
Diana nggak menarik tangannya.
Malah, dia menggenggam balik.
Lalu giliranku.
Aku mengeluarkan kotak bekal navy dari tas.
Erga menatapnya. Wajahnya berubah. Dari bahagia, ke bingung, ke sesuatu yang kayak orang yang melihat hantu masa lalu.
“Itu...”
“Hari keseratus,” kataku. Aku menaruh kotak itu di depannya. “Aku dititipi. Dan aku juga dititipi buat ngomong sesuatu.”
Erga menatap sticky note kuning di tutupnya.
Hari ke-100. Mas Erga udah ada yang ngurus. Ibu pensiun. 💛
Dia membacanya. Lalu membacanya lagi.
“Ibu?” bisiknya.
“Bu Tini,” kataku.
Meja pojok hening.
Diana menurunkan sendoknya. Dino menurunkan martabaknya. Cynthia menutup mulut.
“Bu Tini,” ulang Erga. Pelan. “Kepala katering. Yang selalu kasih aku lauk tambahan.”
“Seratus hari, Ga,” kataku. “Tiap pagi jam sembilan. Dia naik lift barang, kamu naik lift biasa. Kalau pintunya kebuka barengan, dia bisa lihat kamu. Dari seseorang yang selalu lihat kamu di lift.”
Erga menatap kotak bekal itu.
“Kenapa?” bisiknya.
Aku menatapnya. Lalu aku menceritakan apa yang Bu Tini ceritakan ke aku, dua bulan lalu, di depan mejanya, dengan kotak navy di tangan dan ujung kerudung di matanya. Soal anak pertamanya. Ganteng, sopan, suka lupa makan. Meninggal umur dua puluh tujuh. Kecelakaan motor. Soal Erga yang pertama kali datang ke kantin dan cuma makan lodeh.
Ibu nggak mau dia tahu itu dari Ibu. Nanti dia kasihan sama Ibu. Ibu nggak mau dikasihani. Ibu cuma mau dia makan.
Erga menutup wajah dengan tangan.
Dia nggak bilang apa-apa untuk waktu yang lama. Bahunya bergetar. Diana, di sebelahnya, nggak melepas tangannya di bawah meja. Malah dia menggenggamnya lebih erat.
“Telur bentuk hati,” kata Erga akhirnya, dari balik tangannya. “Aku bilang telur bentuk hati nggak mungkin dari orang jahat.”
“Kamu benar,” kata Diana pelan.
“Dan kamu bilang kurang garam.”
“Aku juga benar.”
Erga tertawa. Basah. Dia menurunkan tangannya. Matanya merah.
“Aku harus ketemu Bu Tini,” katanya. “Senin. Jam sembilan. Aku tunggu di lift barang.”
“Dia bakal malu,” kataku.
“Biarin dia malu.” Erga menghapus matanya dengan punggung tangan. “Aku juga malu. Seratus hari aku makan masakan orang dan nggak pernah bilang makasih.”
Dia membuka kotak bekal navy itu.
Di dalamnya, nasi goreng. Telur ceplok berbentuk hati. Dan di sebelahnya, kertas kecil yang dilipat.
Erga membukanya.
Mas Erga. Ini resep nasi goreng Ibu. Kasih ke yang ngurus Mas Erga sekarang. Bilang garamnya ditambah. Ibu emang suka kurang garam. — Bu Tini
Erga menatap kertas itu. Lalu, pelan, dia menyerahkannya ke Diana.
Diana membacanya.
Lalu Diana, yang selalu punya lima kata untuk semua hal, nggak bilang apa-apa.
Dia cuma melipat kertas itu dengan sangat hati-hati, dan menyelipkannya di halaman paling belakang buku catatan batiknya.
Jam sebelas, malming selesai.
Di parkiran, aku menunggu Cynthia di samping mobilnya.
Dia keluar dari kafe paling akhir. Bersama Salman. Mereka berjalan berdua, bersebelahan, nggak terlalu dekat, nggak terlalu jauh. Mungkin satu meter. Salman membawa rantang dan toples sambal. Cynthia membawa sisa martabak yang dibungkus Dino.
Di samping Wati, mereka berhenti.
Aku nggak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku nggak mau. Aku cuma melihat Cynthia mengatakan sesuatu, dan Salman mengangguk, dan Cynthia tersenyum. Senyum yang kecil, yang dimulai dari sudut kiri bibir.
Lalu Salman naik ke Wati. Menyalakannya. Mata anime di stiker lampu depan berbinar.
Dia membunyikan klakson. Chaiyya Chaiyya. Delapan bit. Cempreng.
Pertama kalinya dalam tujuh minggu.
Si Oren, di kursi teras, membuka satu mata, menatap Wati dengan kebencian murni, lalu tidur lagi.
Wati melaju.
Cynthia berdiri di parkiran, menatap ke arah jalan sampai Wati menghilang di tikungan. Lalu dia berbalik. Melihatku.
Dia berjalan ke arahku. Berhenti di depanku.
“Yur,” katanya.
“Hm.”
“Aku mau ngomong sesuatu.”
“Aku juga.”
Kami saling menatap. Di bawah lampu parkiran yang kuning redup. Dua perempuan yang dua tahun duduk bersebelahan di ruang rias. Dua goddess TRAC, kata orang-orang. Dua anak perempuan yang dibesarkan untuk nggak pernah kelihatan rusak.
“Kamu duluan,” kata Cynthia.
Aku menarik napas.
“Aku nampar kamu,” kataku. “Di malming. Aku bangga. Aku sengaja. Aku nyeka sambal dari bibirnya di depan kamu. Aku cium pipinya di depan lobby, tahu kamu lagi lihat dari balik kaca.” Aku menelan ludah. “Aku bilang ke diriku sendiri aku ngelakuin itu supaya kamu sadar. Dan itu benar. Tapi itu juga bohong.”
Cynthia diam.
“Aku suka dia, Cyn,” kataku. “Beneran. Bukan cuma buat nampar kamu. Aku suka dia, dan aku pakai kamu sebagai alasan buat ngelakuin hal-hal yang sebenarnya aku pengen lakuin.”
Cynthia menatapku lama.
“Aku tahu,” katanya pelan.
“Kamu tahu?”
“Aku lihat wajahmu waktu kamu gandeng tangannya di kantin.” Dia tersenyum. Kecil. Sedih. “Itu bukan wajah orang yang lagi nampar. Itu wajah orang yang lagi... seneng. Seneng banget. Dan takut.”
Aku menunduk.
“Aku nggak marah soal itu, Yur,” kata Cynthia. “Aku marah soal banyak hal, waktu itu. Tapi bukan soal itu.” Dia menarik napas. “Kamu suka dia karena kamu lihat dia. Kamu lihat dia jadi tim teknis. Kamu lihat dia pura-pura jadi maskot. Kamu berdiri dua puluh menit di depan pintu master control.” Suaranya pecah. “Kamu lihat semua yang aku nggak lihat. Mana mungkin aku marah sama orang yang lihat dia?”
Aku mengangkat kepala.
“Aku nggak mau menang, Cyn,” kataku. “Dari awal. Aku nggak pernah mau menang.”
“Aku tahu.”
“Aku cuma mau kamu sadar.”
“Aku tahu.” Cynthia menatapku. Matanya basah. “Aku udah sadar. Telat. Tapi udah.”
Kami diam lagi.
Lalu Cynthia mengulurkan tangan. Ke tanganku. Bukan di bawah meja rias. Di parkiran Kedai Ruang Tunggu, di bawah lampu kuning, di depan Si Oren di kursi teras dan Pak Hendro yang sedang mencabut kertas RESERVED dari meja pojok.
Aku menggenggamnya.
“Dia nolak aku pakai rekomendasi anime,” kataku.
Cynthia tertawa. Basah. “Aku tahu. Raka cerita. Baris empat puluh satu.”
“Raka cerita semuanya?”
“Raka butuh hobi lain.”
Kami tertawa. Bersama. Di parkiran. Tawa yang pecah dan basah dan sangat, sangat lega.
“Aku udah nonton,” kataku. “Kimi ni Todoke. Sampai episode dua puluh dua.”
“Nangis?”
“Banyak.” Aku menghapus mataku. “Dia bilang aku bakal ketemu orang-orang yang mau kenal aku beneran. Banyak. Dia cuma yang pertama.”
Cynthia meremas tanganku.
“Aku mau jadi yang kedua,” katanya.
Aku menatapnya.
“Aku udah dua tahun duduk di sebelahmu, Yur,” lanjutnya. “Aku tahu kamu alergi udang karena kamu bilang. Bukan karena aku lihat. Aku nggak tahu kamu belum beli gorden. Aku nggak tahu kamu ketawa dari hidung dulu. Aku nggak tahu kamu nangis di episode tiga puluh tujuh.” Dia menelan ludah. “Aku mau belajar. Kayak aku lagi belajar soal dia. Aku mau belajar soal kamu.”
Aku nggak bisa bicara.
Jadi aku memeluknya.
Di parkiran Kedai Ruang Tunggu. Dua goddess TRAC. Berpelukan sambil menangis, dengan riasan luntur dan hidung meler, di depan Si Oren yang membuka satu mata dan menatap kami dengan wajah ya ampun, manusia.
Senin pagi, jam sembilan kurang lima.
Lift barang lantai dua puluh.
Aku nggak seharusnya ada di sana. Aku nggak ada urusan di lantai dua puluh jam sembilan pagi. Tapi Diana mengirim pesan jam delapan: Yur, lift barang lt 20 jam 9. Bawa tisu. Dan aku datang, karena Diana nggak pernah menyuruh orang bawa tisu tanpa alasan.
Diana ada di sana. Bersandar ke dinding koridor, buku catatan batik di tangan. Dino ada di sana, dengan HP yang nggak merekam. Cynthia ada di sana. Bahkan Salman ada di sana, berdiri di ujung koridor dengan rantang dan earbud.
Dan Erga berdiri di depan pintu lift barang. Kemeja biru muda. Lengan digulung. Tanpa parfum.
Jam sembilan tepat, pintu lift barang terbuka.
Bu Tini keluar. Celemek. Kerudung bunga-bunga. Troli kecil berisi termos dan kotak-kotak makanan untuk kantin.
Dia melihat Erga.
Dia berhenti.
Erga melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.
“Bu Tini,” katanya.
Bu Tini menatapnya. Wajahnya berubah warna. Dari kuning langsat, ke merah muda, ke merah tua.
“Mas Erga,” bisiknya.
Erga nggak bilang apa-apa lagi.
Dia cuma membungkuk. Dalam. Sembilan puluh derajat. Seperti Fajar membungkuk ke Pak Darto. Seperti anak yang membungkuk ke ibunya.
“Makasih, Bu,” katanya. Suaranya pecah. “Seratus hari. Makasih.”
Bu Tini menatap punggung Erga yang membungkuk.
Lalu dia menangis. Dan dia nggak menutup mulutnya dengan ujung kerudung. Dia cuma berdiri di depan lift barang, dengan troli kecil berisi termos, dan menangis, dan mengulurkan tangan, dan menepuk-nepuk punggung Erga yang membungkuk dengan tangan yang gemetar.
“Udah, udah,” katanya. “Makan yang banyak. Mas Erga kurusan.”
“Saya nggak kurusan, Bu.”
“Kurusan. Ibu lihat dari pipinya.”
Erga menegakkan badan. Lalu, tanpa bilang apa-apa, dia memeluk Bu Tini. Pelukan yang canggung, karena Erga tinggi dan Bu Tini pendek, dan troli di antara mereka. Tapi pelukan.
Di ujung koridor, Dino menangis keras.
Diana menyodorkan tisu ke Dino, lalu mengambil satu untuk dirinya sendiri.
Cynthia menggenggam tanganku.
Dan Salman, di ujung koridor, dengan rantang di tangan dan earbud di telinga kiri, menatap Erga dan Bu Tini dengan wajah datar.
Tapi aku melihatnya. Aku anchor berita. Kerjaanku menyadari sesuatu.
Dia membuka rantangnya. Dan diam-diam, mengambil sesuatu dari dalamnya, dan menaruhnya di troli Bu Tini, di sebelah termos, waktu nggak ada yang melihat.
Satu bakso urat.
Dibungkus plastik. Dengan tulisan spidol.
BUAT BU TINI. GARAMNYA PAS. — DAPUR BU NUR.
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir reading
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu