Chapter Forty One
Epilog — Level Satu
POV: Cynthia
Satu tahun kemudian, Ibu makan bakso level satu di Warung Bak o Bu Nu.
Papan namanya masih luntur. Bu Nur menolak mengecatnya ulang. Katanya, pelanggan yang beneran pelanggan nggak perlu baca papan nama.
Hari Minggu. Jam sebelas siang. Warung ramai. Lima meja kayu panjang penuh. Kipas angin berderit di langit-langit. TV kecil di sudut memutar sinetron tanpa suara.
Dan di meja paling dalam, dekat dapur, Ibu duduk di bangku plastik warna hijau.
Ratna Wirawan. Lima puluh empat tahun. Mantan presenter berita hiburan paling populer awal 2000-an. Kebaya rumah warna biru muda. Rambut disanggul sederhana. Wajah tanpa riasan.
Ibu sudah tiga bulan nggak pakai riasan kalau ke warung.
“Di sini panas,” katanya waktu pertama kali datang, setahun lalu, dengan foundation tebal dan contour sempurna. “Foundation-nya luntur. Ibu kelihatan kayak lilin meleleh.”
Bu Nur menatapnya waktu itu. Lalu menyodorkan tisu. “Hapus aja, Bu. Di sini nggak ada kamera.”
Ibu menatap tisu itu lama. Lalu menghapusnya.
Sejak itu, Ibu datang tiap dua minggu. Hari Minggu, karena hari Sabtu malam milik kami di Kedai Ruang Tunggu. Ibu duduk di meja paling dalam. Bu Nur duduk di seberangnya kalau warung sedang sepi. Mereka mengobrol soal hal-hal yang nggak pernah aku dengar Ibu obrolkan dengan siapa pun. Soal tahun sembilan puluhan. Soal laki-laki yang mereka sukai waktu muda. Soal anak-anak mereka.
Soal takut.
Bu Nur pernah cerita ke aku, di dapur, sambil mengulek sambal: “Ibumu itu sebenarnya lucu, Nak. Lucu banget. Dia cuma lupa caranya.”
Hari ini, Ibu menatap mangkuk di depannya.
Bakso urat. Mi kuning. Sawi. Kuah bening. Dan satu sendok teh sambal warna merah muda pucat, hampir oranye.
Level satu.
“Ini yang buat anak kecil?” tanya Ibu.
“Sama orang yang baru putus cinta,” kata Bu Nur dari balik etalase.
“Ibu nggak dua-duanya.”
“Bu Ratna udah putus sama sesuatu,” kata Bu Nur santai, menyendokkan kuah ke mangkuk pelanggan lain. “Anak Ibu yang bilang. Sama takut. Dua puluh tahun. Itu putus yang paling lama yang pernah Ibu dengar.”
Ibu menatap Bu Nur. Lalu tersenyum. Senyum yang aneh dan baru, senyum yang sedikit miring. Senyum yang, aku perhatikan setahun ini, makin sering muncul.
Ibu menyuap.
Satu suap.
Lalu Ibu berhenti.
Matanya berair.
“Ini pedes,” katanya.
“Itu level satu, Bu,” kata Salman, yang duduk di sebelahku di seberang Ibu, dengan hoodie warna biru muda bergambar seekor ikan pari yang memakai topi baret dan memegang kuas lukis.
“Ibu tahu ini level satu.” Ibu mengusap matanya. “Ibu nggak pernah makan pedes. Dua puluh tahun. Ibu takut bibir Ibu bengkak di depan kamera.”
Ibu menyuap lagi.
Matanya makin berair. Hidungnya mulai merah dari ujung. Napasnya sedikit tersengal.
Lalu Ibu tertawa.
Bukan tawa tiga detik. Tawa yang dimulai dengan dengusan dari hidung yang mulai meler. Lalu pecah. Tawa yang jelek, terlalu keras, dengan air mata yang mengalir karena pedas dan sesuatu yang lain. Ibu menutup mulut dengan tangan.
Lalu Ibu melirik ke sekeliling warung. Refleks. Ke meja-meja lain. Ke pelanggan-pelanggan yang nggak kenal dia.
Lalu Ibu berhenti melirik.
Dan menurunkan tangannya dari mulut.
Dan terus tertawa.
Aku menatap Ibu. Salman menatap Ibu. Bu Nur, di balik etalase, berhenti menyendok kuah dan menatap Ibu.
Lalu Bu Nur tersenyum. Lebar. Nakal.
“Nah,” kata Bu Nur. “Itu baru Bu Ratna.”
Bayu datang ke TRAC Tower hari Selasa.
Bu Sari membawanya. Liburan sekolah. Bayu sekarang delapan tahun. Gigi depannya sudah tumbuh. Dia lebih tinggi. Dia nggak pakai kaus Naruto lagi. Dia pakai kaus bergambar karakter anime lain, bocah berambut runcing yang makan ramen, yang sama dengan hoodie oranye nomor dua belas.
“Om Kodok yang rekomendasiin,” katanya ke Pak Jono di pos satpam. “Lewat spreadsheet. Baris empat puluh dua. Khusus buat aku.”
Di tangannya, kardus sepatu oranye. Sudah sedikit penyok di ujung. Stiker-stiker daun di sampingnya sudah pudar. Dan di dalamnya, di atas alas kain flanel hijau, Naruto mode Sage.
“Naruto udah tugas jaga setahun,” kata Bayu ke Pak Darto di koridor lantai empat belas, waktu Pak Darto berjongkok sejajar dengannya. “Papa udah pulang. Papa pindah kerja ke Jakarta. Sekarang Papa di rumah tiap hari.”
Pak Darto menatap figure di kardus sepatu itu. Lalu menatap Bayu.
“Jadi Narutonya mau pulang?” tanya Pak Darto pelan. “Ke alasnya?”
Bayu menggeleng.
“Naruto mau ketemu Om Kodok,” katanya. “Terus mau ketemu alasnya. Sebentar. Terus balik lagi ke markas.” Dia menatap Pak Darto dengan keseriusan anak delapan tahun. “Kata Papa, Naruto boleh tinggal sama aku. Soalnya Om Kodok yang kasih. Kata Papa, barang yang dikasih dengan tulus itu nggak boleh dikembaliin. Nanti yang ngasih sedih.”
Pak Darto menatap Bayu lama.
Lalu dia menangis. Lagi. Pak Darto selalu menangis. Mas Ujang bilang Pak Darto sudah menangis empat puluh tiga kali tahun ini, dan Mas Ujang menghitungnya di buku catatan kecil karena terinspirasi Diana.
Salman keluar dari master control.
Dia melihat Bayu. Bayu melihatnya.
“OM KODOK!”
Bayu berlari. Kardus sepatu di tangan. Memeluk pinggang Salman.
Salman berjongkok. Sejajar dengan Bayu. Seperti di koridor ini, setahun lalu.
“Halo, Bayu.”
“Om, Naruto mau ketemu alasnya!”
Salman menatap kardus sepatu itu. Lalu menatap pintu master control di belakangnya. Lalu tersenyum.
Mereka masuk berdua. Aku mengikuti dari belakang. Bu Sari dan Pak Darto di ambang pintu.
Rak akrilik masih di tempat yang sama. Dua puluh tiga figure sekarang. Anya sudah pulang dari magang di meja OB, dengan alasan, kata Mas Ujang, dia udah lulus magang, sekarang dia karyawan tetap. Satu figure baru: kucing samurai, hadiah dari tujuh orang di divisi marketing.
Dan di tengah, di alas paling tinggi, mixer portabel dua belas channel. Setengahnya menggantung di luar alas.
BOLEH LIHAT. BOLEH PEGANG. BOLEH PAKAI KALAU DARURAT. — Tim Teknis (yang sekarang punya nama).
Bayu menatap mixer di atas alas itu.
“Om,” katanya. “Itu bukan Naruto.”
“Itu mixer,” kata Salman. “Dia juga pahlawan. Dia nyelamatin siaran TV dua jam.”
Bayu menatap mixer itu dengan rasa hormat yang baru.
Lalu dia membuka kardus sepatu. Mengeluarkan Naruto. Pelan. Dengan dua tangan. Dan menaruhnya di atas mixer portabel. Di atas fader-fader. Di tengah.
Naruto mode Sage. Berdiri di atas mixer yang pernah ditabrak troli. Di atas alas paling tinggi. Di master control lantai empat belas.
“Sebentar aja,” kata Bayu ke figure itu. “Abis ini kita pulang.”
Salman menatap Naruto di atas mixer itu.
Lalu dia mengambil HP. Memotretnya.
Aku tahu dia akan menyimpannya di folder YANG ASLI.
Jumat sore, ada wartawan di depan lobby TRAC Tower.
Bukan akun gosip. Wartawan beneran. Dari majalah gaya hidup. Mereka sedang membuat liputan soal Orang di Balik Layar, segmen Sapa Pagi yang sudah setahun tayang dan sudah memperkenalkan lima puluh dua orang. Kamerawan. Penata rias. Satpam. OB. Tukang parkir. Bu Tini. Pak Darto, yang menangis di episode itu. Raka, yang sekarang sudah lulus kursus dan memegang channel tujuh setiap hari Senin dan Kamis.
Episode itu, kata majalah itu, menaikkan rating segmen penutup Sapa Pagi empat poin. Rekor sejak program itu dibuat.
Mereka mau memotret presenternya.
Dan orang di balik layar yang pertama.
Aku berdiri di depan pintu putar. Blazer biru tua. Rambut dikuncir. Sandal jepit biru, yang sudah setahun dan mulai tipis di bagian tumit, tapi aku nggak mau ganti.
Salman berdiri di sebelahku. Hoodie kuning stabilo. Hoodie nomor tujuh. Yang sekarang, kata Diana, sudah dipensiunkan dari klasemen dan dipajang di Hall of Fame. Hall of Fame itu adalah gantungan baju di belakang pintu kamar Salman. Tapi Salman memakainya hari ini karena fotografernya minta.
“Bisa lebih dekat?” kata fotografernya. “Mbak Cynthia, Mas Salman. Lebih dekat.”
Kami saling menatap.
Lalu Salman melangkah ke sampingku. Nol meter. Bahu kami bersentuhan.
Klik. Klik. Klik.
“Bagus. Satu lagi. Bisa sama motornya?”
Fotografernya menunjuk Wati.
Wati diparkir di drop-off depan pintu putar. Motor listrik putih. Bulat. Mungil. Kayak marshmallow beroda. Stiker mata anime di atas lampu depannya, yang sudah diganti sekali karena yang lama mengelupas, berbinar di bawah matahari sore.
Salman naik ke jok depan.
Aku naik ke jok belakang.
Aku mengambil helm putih berstiker kelinci dari jok. Memakainya. Memasang tali dagunya.
Lalu, tanpa berpikir, karena setahun sudah membuat ini jadi kebiasaan, aku membuka kaca helmnya ke atas.
Sepenuhnya.
Di depan lobby TRAC Tower. Jam lima sore. Jam pulang kantor. Di depan wartawan dan fotografer dan puluhan karyawan yang keluar dari pintu putar. Di depan layar LED raksasa di dinding lobby, yang sedang memutar promo Orang di Balik Layar dengan wajahku dan wajah Salman.
Nggak pakai masker.
Nggak pakai kacamata hitam.
Nggak pakai kaca helm gelap.
Kedua tanganku melingkar di pinggangnya. Masuk ke saku hoodie kuning stabilo.
Tangannya sudah menunggu di sana.
Klik. Klik. Klik.
“Sempurna,” kata fotografernya.
Salman menoleh ke belakang. Ke arahku. Lewat bahunya.
“Nggak sempurna,” katanya. “Hidungmu ada bekas sambal.”
Aku membeku.
“Dari tadi siang,” lanjutnya serius. “Kamu makan bakso Pak Kumis di kantin. Level empat yang niatnya level sembilan. Ada sambal di ujung hidung. Dari jam satu.”
“Man.”
“Aku nggak bilang. Soalnya kamu kelihatan lucu.”
Aku menyeka hidungku dengan punggung tangan. Fotografernya masih memotret. Wartawannya mencatat sesuatu dengan wajah bingung.
Dan aku tertawa.
Di depan lobby. Di atas Wati. Dengan kaca helm terbuka dan bekas sambal di hidung.
Nggak nutup mulut.
Salman menyalakan Wati.
Lampu depannya menyala. Mata anime di stikernya berbinar.
Dia menekan klakson.
Chaiyya Chaiyya. Delapan bit. Cempreng. Bangga.
Pak Jono di pos satpam mengangkat jempol. Kucing putih di pos satpam menatap kami dengan wajah datar. Dua perempuan marketing yang baru keluar dari pintu putar, memakai hoodie kucing samurai karena hari ini Jumat, melambai.
Wati melaju pelan dari drop-off. Melewati pos satpam. Melewati gerbang.
Ke jalan raya. Ke Rasuna Said. Ke Mampang, di mana, aku tahu, di lampu merah sembilan puluh detik, ada bapak ojek berkumis tebal yang menunggu. Yang setahun ini sudah jadi teman. Yang namanya ternyata Pak Hardi, yang punya tiga cucu, yang datang ke Anime Night kedua bulan lalu dengan istrinya dan mereka berdua berjoget di bawah tenda sampai jam satu pagi.
Lalu ke Kemang. Lewat jalan kecil tempat Bu RT duduk, yang sekarang punya tiga anak kucing, yang Salman beri nama Pak RW, Bu Lurah, dan Pak Camat. Lewat minimarket tempat Wati pernah dicas di stopkontak kulkas es krim. Lewat halte bus kecil dengan atap seng dan lampu yang masih berkedip-kedip.
Lalu ke Depok. Ke warung Bu Nur. Di mana Ibu, setiap Jumat sore sekarang, menunggu di meja paling dalam dengan Bu Nur, mengobrol soal takut dan laki-laki yang mereka sukai waktu muda, dan mencoba level dua.
Di jok belakang Wati, dengan kaca helm terbuka, aku memasukkan satu earbud ke telinga kiriku.
Yang satu lagi, aku masukkan ke telinga kiri Salman. Dari belakang. Dengan dua jari. Pelan.
Dia nggak menoleh. Tapi aku merasakan punggungnya rileks.
Satu buat aku.
Satu buat kamu.
Dunia di telinga kanan. Klakson, angin, mesin Wati yang berdengung pelan.
Lagu di telinga kiri. Gendang. Sitar. Suara laki-laki yang menyanyi dengan napas panjang, memanggil seseorang dari seberang sungai.
Dan di bawah keduanya, dari jok depan, samar, nyaris tenggelam di angin sore Jakarta:
Senandung.
Fals.
Sengaja.
Supaya aku ketawa.
Dan aku ketawa.
TAMAT
- 1 Hoodie Nomor Tujuh
- 2 Wati Bukan Nama Mantan
- 3 Teknisi yang Tahu Aku Capek
- 4 Diana dan Lima Kata
- 5 Bakso Level Sembilan
- 6 Satu buat Lagu
- 7 Kamera Selalu Nyala
- 8 Namanya Pak Darto
- 9 Klasemen Bulan Ini
- 10 Dilihat, Bukan Dikenal
- 11 Baterai Dua Persen
- 12 Hujan Nggak Punya Kamera
- 13 Lobby, Jam Sembilan Malam
- 14 Rekaman di Telinga Kiri
- 15 Family Day
- 16 Warung Bu Nur
- 17 Erga Ditolak, Ronde Dua
- 18 Pengakuan di Atas Wati
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Segmen Baru: ErCyn
- 21 Tiga Meter dari Lift
- 22 Gala Tiga Puluh Lantai
- 23 Channel Tujuh, Mute
- 24 Makin Aneh
- 25 Aku Bangga
- 26 Konsol Mati
- 27 Yura Bilang Duluan
- 28 Ditolak dengan Lembut
- 29 Jeda
- 30 Meja untuk Enam
- 31 Log Audio
- 32 Naruto di Meja Bayu
- 33 Diana Mogok
- 34 Ruang Tunggu Dijual
- 35 Anime Night
- 36 Ronde Terakhir
- 37 Lift Nomor Empat
- 38 Hoodie di Lobby
- 39 Lagu yang Asli
- 40 Malming Ketiga Belas
- 41 Epilog — Level Satu reading