Chapter Nine

Sandera

POV: Pandu

Aku tidak tidur Minggu malam.

Bukan karena takut. Baiklah, sedikit takut. Tetapi lebih karena aku tidak tahu harus berkata apa.

Aku duduk di lantai kamar kos tiga kali tiga meter, bersandar ke dinding yang catnya mengelupas, dan menulis di buku catatan. Bukan rumus. Aku menulis daftar.

Yang boleh dibilang ke Mbak Cecil:
– S2 Teknik Elektro UI. (Udah tahu.)
– Beasiswa. (Pasti udah tahu juga. Dia pasti udah lihat papan pengumuman. Dia lihat semua.)
– Kerja OB karena jamnya pasti.

Yang nggak boleh:
– Kak Tasya.
– Opa.
– Kartu akses.
– Senter.
– Jepit.
– Kenapa aku di lantai 58, bukan lantai lain.

Daftar yang tidak boleh lebih panjang daripada daftar yang boleh. Aku memandangi kedua daftar itu sampai pukul dua pagi, lalu menutup buku catatan dan berbaring di kasur busa tipis yang sudah mencetak bentuk punggungku.

Di langit-langit ada noda bekas bocor yang bentuknya mirip peta Pulau Sulawesi. Aku sudah hafal setiap lekuknya.

Sebanyak yang saya bisa.

Itulah yang kujanjikan kepadanya. Aku tidak bilang semua. Aku bilang sebanyak yang saya bisa.

Dan ia menerimanya. Ia tidak memaksa. Ia hanya berkata Senin, jam tujuh, lalu pergi dengan sepatu lima senti yang berbunyi tak-tak di ubin.

Aku memejamkan mata dan mendengarkan hujan mulai turun di atap seng kos sebelah.

Aku tidak tahu kenapa aku menghitung ketukan sepatu itu.


Pukul tujuh kurang lima, Senin pagi. Pantry lantai 58.

Aku sudah menyiapkan dua cangkir. Cangkir putih untuk kakakku, yang akan ditolak setengah jam lagi. Cangkir kaca untuk Mbak Cecil: satu sendok gula, krimer setengah.

Pintu pantry terbuka tepat pukul tujuh.

Ia masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu menguncinya. Aku mendengar bunyi klik kecil, dan entah kenapa bunyi itu membuat perutku dingin.

Hari ini ia mengenakan kemeja biru langit berlengan panjang yang digulung sampai siku, rok pensil abu-abu, dan sepatu tujuh senti yang sudah diperbaiki tukang sol. Rambutnya diikat setengah ke belakang, sisanya jatuh di bahu. Kacamata emas pucat.

Di bawah lampu pantry yang terangnya kurang ajar, ia tampak seperti foto iklan yang lupa diberi tulisan.

Aku menunduk ke cangkir kopi.

“Duduk,” katanya.

Di pantry hanya ada satu kursi, kursi plastik biru yang biasa dipakai Bang Mamat untuk makan gorengan.

“Mbak aja yang duduk.”

“Aku mau berdiri. Biar kelihatan galak.” Ia bersandar di meja pantry dengan tangan terlipat. “Duduk.”

Aku duduk. Kursi plastik itu berbunyi krek sedikit.

Dari posisi ini ia lebih tinggi daripada aku, dan aku harus mendongak untuk melihat wajahnya. Ia tahu itu, pasti tahu. Ia mengatur semuanya.

“Oke,” katanya. “Mulai.”


Aku bercerita sebanyak yang aku bisa.

Tentang SMK listrik di Depok, yang memang benar. Tentang beasiswa S1 Teknik Elektro di UI Depok, lulus cumlaude. Tentang beasiswa S2 sekarang, kelas paralel, kuliah Kamis malam dan Sabtu pagi. Tentang Prof. Harun yang galak tetapi adil. Tentang tesis mengenai manajemen termal baterai perangkat portabel di iklim tropis.

Ia mendengarkan semuanya tanpa menyela, hanya sesekali mengangguk. Matanya di balik kacamata tidak lepas dari wajahku.

“Terus kenapa OB?” tanyanya setelah aku selesai.

Ini dia.

“Jamnya pasti, Mbak,” kataku. “Masuk jam enam, pulang jam lima. Nggak ada kerjaan yang dibawa pulang. Nggak ada meeting jam sembilan malam. Nggak ada email dari bos jam sebelas malam.” Aku diam sebentar. “Kalau saya kerja jadi engineer, saya nggak bisa kuliah. Tesis saya butuh malam-malam saya.”

Itu benar, dan itu juga alasan yang kuberikan kepada Opa dua tahun lalu ketika ia bertanya kenapa aku tidak mau menjadi staf R&D.

Itu bukan alasan utama, tetapi itu juga bukan kebohongan.

Mbak Cecil menyipitkan mata.

“Itu alasan yang masuk akal,” katanya pelan.

“Iya, Mbak.”

“Terlalu masuk akal.”

Aku diam.

“Aku pernah tinggal sama orang yang alasannya selalu masuk akal,” katanya. Nadanya datar, tetapi ada sesuatu di bawahnya, seperti batu di dasar sungai yang airnya tenang. “Semua alasannya rapi, logis, nggak bisa dibantah. Dan semuanya bohong.”

Aku tidak tahu siapa yang ia maksud. Tetapi kulihat jari-jarinya, yang sedang mencengkeram lengan bajunya sendiri, sedikit mengencang.

“Saya nggak bohong, Mbak.”

“Aku tahu kamu nggak bohong.” Ia melepaskan lengan bajunya. “Tapi kamu juga nggak cerita semuanya.”

Aku tidak bisa menjawab itu.

Ia diam lama, memandangiku dari atas. Lalu ia menanyakan sesuatu yang tidak ada di daftar mana pun di buku catatanku.

“Ada orang yang kamu jaga di gedung ini?”

Jantungku berhenti sejenak.

“...Kenapa Mbak nanya gitu?”

“Karena orang yang punya IPK tiga koma sembilan enam, bisa ganti kapasitor AC server, dan bawa paku di saku, nggak bakal milih ngelap lantai di lantai 58 cuma karena jamnya pasti. Ada ratusan gedung di Jakarta yang butuh OB. Kenapa gedung ini? Kenapa lantai ini?”

Aku menatap cangkir kopi di tanganku. Permukaannya sedikit bergetar, karena tanganku gemetar.

“Ada,” kataku akhirnya. Pelan.

Ia tidak bergerak.

“Siapa?”

“Rahasia, Mbak.”

Ia diam tiga detik penuh. Lalu alisnya terangkat perlahan, seperti tirai bioskop yang naik sebelum film dimulai.

“Aku?”

Aku nyaris menumpahkan kopi.

“Bu... bukan, Mbak.”

“Oh.” Nadanya datar, terlalu datar. “Oke. Bukan aku.”

“Bukan... bukan gitu maksud saya, Mbak. Maksudnya bukan... bukan yang kayak gitu...”

“Nggak apa-apa,” katanya cepat. Ia membetulkan kacamata dengan jari telunjuk. “Aku cuma nanya. Biar jelas. Data.”

Namun ada yang berubah di wajahnya. Bukan sakit hati. Lebih seperti orang yang baru saja menginjak anak tangga yang ternyata tidak ada, kaget sebentar, lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Kemudian matanya bergeser sedikit ke kanan, ke arah lorong, ke pintu kayu besar di ujung lorong yang masih tertutup.

Aku tahu apa yang ia pikirkan. Aku bisa melihat roda-roda kecil di kepalanya berputar.

Ia mengira aku menyukai Kak Tasya.

Aku membuka mulut hendak meluruskan, lalu menutupnya lagi. Kalau aku bilang bukan, ia akan bertanya lalu siapa. Kalau ia bertanya lalu siapa, aku tidak punya jawaban yang bukan kebohongan.

Jadi aku diam, dan ia salah paham. Kubiarkan ia salah paham karena itu lebih aman.

Di bawah tulang rusukku ada rasa tidak enak. Pelan dan berat, seperti menelan obat tanpa air.


“KTP,” kata Mbak Cecil tiba-tiba.

“Maaf, Mbak?”

“KTP kamu. Mana.”

“Buat apa, Mbak?”

“Buat mastiin nama asli kamu beneran Pandu dan bukan nama samaran agen rahasia Malaysia yang nyusup ke Red Electronics.” Ia mengulurkan tangan, telapaknya menghadap ke atas. “Aku sekretaris CEO. Aku bertanggung jawab atas keamanan lantai ini.”

Itu alasan paling ngawur yang pernah kudengar. Namun tangannya tetap terulur, dan matanya tidak main-main.

Aku mengeluarkan dompet dari saku celana. Dompet kulit imitasi yang ujungnya sudah mengelupas. Kubuka perlahan, sangat hati-hati, supaya ia tidak melihat apa yang ada di balik KTP.

Kartu akses Opa. Jepit kupu-kupu biru yang sayapnya retak.

Kutarik KTP-ku keluar, lalu kututup dompet cepat-cepat.

Ia mengambil KTP itu dari tanganku, dan jarinya menyentuh jariku sebentar. Jarinya dingin, mungkin karena AC.

Ia mengamati KTP itu: nama, tempat lahir, alamat, foto yang diambil ketika aku berumur tujuh belas dengan rambut cepak dan wajah seperti tahanan.

Ia mengamatinya dua detik. Terlalu lama untuk orang yang hanya memeriksa nama.

“Aksara,” gumamnya. “Pandu Aksara. Nama yang bagus.”

“Makasih, Mbak.”

“Siapa yang ngasih?”

“Ibu saya.”

“Ibu kamu di mana sekarang?”

“Udah nggak ada, Mbak. Dari saya kecil.”

Ia terdiam. Matanya naik dari KTP ke wajahku, lalu turun lagi ke KTP. Ada sesuatu di matanya yang melunak, seperti mentega di atas roti panas.

Ia mengembalikan KTP-ku. Kali ini jarinya tidak terburu-buru, dan menyentuh telapak tanganku sedikit lebih lama daripada yang perlu.

“Oke,” katanya. “Kamu bukan agen Malaysia.”

“Makasih, Mbak.”

“Masih bisa jadi agen Singapura, sih.”

“Saya nggak bisa bahasa Singlish, Mbak.”

Ia tertawa kecil, tawa yang lolos lewat hidung sebelum sempat ditahan.


“Jadi,” katanya, kembali bersandar ke meja pantry. “Rahasia kamu.”

“Iya, Mbak.”

“S2. Beasiswa. Kapasitor. Kartu akses yang kamu ‘pinjem’. Orang yang kamu jaga di gedung ini.” Ia menghitung dengan jari. “Lima rahasia.”

“Iya, Mbak.”

“Kalau Bu Natasha tahu salah satunya, kamu tamat.”

“Iya, Mbak.”

“Kalau vendor tahu, kamu tamat.”

“Iya, Mbak.”

“Kalau Bang Mamat tahu...”

“Satu gedung tahu, Mbak. Bang Mamat itu kayak grup WhatsApp keluarga. Nggak bisa nyimpen apa-apa.”

Ia mengangguk serius, seolah aku baru saja menyampaikan analisis risiko yang valid.

“Jadi nasib kamu sekarang ada di tangan aku.”

Aku menelan ludah.

“...Iya, Mbak.”

Ia tersenyum. Bukan senyum profesional nomor tiga, bukan senyum yang ia berikan kepada direksi. Senyumnya pelan dan miring, seperti kucing yang baru menangkap cicak dan belum memutuskan apakah akan memakannya atau memainkannya dulu.

Lalu ia menurunkan kacamata satu senti dan menatapku dari atas bingkai.

Aku sudah melihat gerakan itu tiga kali. Pertama di pantry, kemudian di lift, dan sekarang.

Setiap kali, efeknya makin parah.

“Rahasiamu aman, Mas,” katanya.

Mas. Bukan kamu, bukan OB, bukan Mas OB. Hanya Mas.

“Bayarannya gampang.”

“Bayaran, Mbak?”

“Tiap pagi, kopiku kamu yang bikin.”

“Itu... itu udah kerjaan saya, Mbak.”

“Bukan kerjaan. Bayaran.” Ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan. Jaraknya tidak dekat, tetapi cukup untuk membuatku mencium parfumnya: bunga putih, sedikit kayu, dan sesuatu yang mirip hujan pertama di aspal panas. “Kerjaan itu kalau disuruh. Bayaran itu kalau kamu mau. Bedanya di niat.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Dan satu lagi.”

“Apa, Mbak?”

Ia diam sebentar, lalu mengucapkan satu kata pelan, seperti meletakkan sesuatu yang rapuh di atas meja.

“Senyum.”

Aku mengerjap.

“Tiap kamu nganter kopiku,” katanya, “kamu senyum. Senyum yang beneran. Yang kelihatan giginya. Bukan senyum miring setengah yang kamu kasih kalau kamu lagi nahan sesuatu.”

“Saya... saya nggak...”

“Kamu iya. Aku udah ngitung, empat kali. Semuanya setengah.” Ia menekan kacamatanya kembali ke atas. “Aku mau yang penuh. Itu bayarannya. Dua hal: kopi dan senyum. Tiap pagi. Sampai aku bilang lunas.”

“Kapan lunasnya, Mbak?”

“Nggak tahu.” Ia mengangkat bahu. “Mungkin nggak pernah.”

Hening.

Aku duduk di kursi plastik biru Bang Mamat, memegang cangkir kopi yang sudah dingin, memandangi sekretaris CEO paling cantik se-Sudirman. Ia baru saja menyandera lima rahasiaku dengan tebusan secangkir kopi dan sebuah senyum.

Dan sesuatu di dadaku pecah.

Bukan pecah yang menyakitkan. Pecahnya seperti gelembung sabun yang ditiup anak kecil, pelan, ringan, dan tidak bisa ditahan.

Aku tertawa.

Bukan tersenyum. Aku tertawa dari perut, tawa yang membuat bahuku berguncang dan mataku berair, yang membuat kursi plastik itu berbunyi krek krek karena tubuhku bergoyang. Tawa yang tidak kuingat kapan terakhir kali kumiliki. Mungkin ketika umurku dua belas, sebelum malam hujan itu.

“Mbak,” kataku di sela tawa. “Mbak tuh... Mbak tuh aneh.”

“Aku tahu.”

“Itu pemerasan, Mbak. Itu ada pasalnya di KUHP.”

“Laporin aja. Ke siapa? Bu Natasha?” Ia menyeringai. “Silakan.”

Aku tertawa lagi. Ia tidak tertawa, ia hanya memandangiku.

Ia memandangiku dengan cara yang aneh, seperti orang yang melihat matahari terbit untuk pertama kalinya setelah lama tinggal di kota yang langitnya selalu kelabu.

Tawaku mereda perlahan, dan pantry menjadi sunyi. Bunyi AC, bunyi kulkas, bunyi detak jam di dinding.

“Itu,” katanya pelan. “Yang kayak gitu.”

“Apa, Mbak?”

“Senyum yang penuh.” Ia mengambil cangkir kopinya dari meja dan menyesapnya. “Itu bayaran pertama. Lunas buat hari ini.”

Ia berjalan ke pintu dan membuka kuncinya. Klik.

Sebelum keluar, ia menoleh sedikit.

“Mas.”

“Iya, Mbak?”

“Orang yang kamu jaga itu...” Ia diam sebentar. Matanya kembali melirik ke arah ruangan kakakku di ujung lorong. Cepat sekali, hanya sepersekian detik, tetapi aku melihatnya. “Semoga dia tahu.”

Pintu pantry menutup.

Aku duduk lama di kursi plastik biru itu, tidak bergerak.

Semoga dia tahu.

Mbak Cecil salah paham. Ia mengira aku menaksir kakakku. Ia mengira aku OB yang jatuh cinta kepada CEO-nya, seperti di film-film.

Dan aku membiarkannya salah paham.

Rasa tidak enak di bawah tulang rusukku tadi kembali, lebih berat.


Pukul tujuh lewat dua puluh, aku mengantar kopi pertama ke ruangan kakakku.

Ia sudah duduk di balik mejanya: blazer hitam, rambut disanggul, lingkaran hitam di bawah mata yang tertutup bedak. Ia memandang cangkir yang kuletakkan di mejanya, lalu memandangku.

“Kamu kelihatan senang hari ini,” katanya.

Itu bukan pertanyaan. Nadanya datar, seperti orang membaca angka di laporan.

“Maaf, Bu?”

“Tadi saya dengar ada yang ketawa di pantry. Keras.”

Aku menunduk. “Maaf, Bu. Nggak akan terulang.”

Ia menyesap kopi itu, lalu berhenti.

Ia tidak bilang terlalu pahit. Tidak bilang ulang. Ia hanya diam dengan cangkir di depan bibirnya, memandangiku dari balik uap kopi yang tipis.

“Kamu ketawa sama siapa?”

“Sendiri, Bu.”

Bohong. Kebohongan kesekian di depan kakakku. Aku sudah berhenti menghitung.

Ia meletakkan cangkir di tatakan perlahan. Kopinya baru diminum seteguk.

“Ulang,” katanya.

“Baik, Bu.”

Aku keluar dan membawa cangkir itu kembali ke pantry. Kopi pertama ditolak lagi, seperti biasa. Seperti hari-hari lainnya.

Namun tadi, sebelum ia mengucapkan ulang, matanya tidak dingin. Ada sesuatu yang lain di sana. Bukan marah, bukan curiga, melainkan sesuatu yang lebih aneh.

Seperti orang yang berdiri di luar jendela rumah orang lain, melihat lampu menyala di dalam dan orang-orang tertawa di ruang tamu, lalu sadar bahwa ia tidak diundang.


Ketika aku lewat di depan meja Mbak Cecil dalam perjalanan kembali ke pantry, ia tidak mengangkat kepala dari laptopnya. Tetapi ia berbicara pelan, hanya untukku:

“Kopiku mana?”

“Udah di meja Mbak dari tadi.”

Ia melihat cangkir kaca di sebelah laptopnya. Isinya tinggal setengah.

“Oh,” katanya. “Iya.”

“Mbak udah minum setengah.”

“Aku tahu aku udah minum setengah, Mas.”

Telinganya merah, sedikit di ujungnya, nyaris tak terlihat di balik rambut yang jatuh di bahu.

Aku tersenyum. Bukan setengah, melainkan penuh. Yang memperlihatkan gigi.

Ia melirikku dari balik kacamata, lalu buru-buru kembali menatap laptop.

“Itu bayaran kedua,” gumamnya kepada layar. “Nggak dihitung. Kebanyakan.”

Aku berjalan ke pantry. Di sana Bang Mamat berdiri di depan kulkas, pura-pura mencari sesuatu, padahal kulkas itu hanya berisi susu UHT dan bawang bombay.

“Du.”

“Bang.”

“Tadi pantry dikunci dari dalam. Lima belas menit.”

“Iya, Bang.”

“Terus lu ketawa. Kenceng banget. Sampai kedengeran ke ruang fotokopi.”

“Iya, Bang.”

Bang Mamat menutup kulkas perlahan, lalu berbalik dan menatapku. Kumisnya tidak bergerak. Wajahnya serius, serius yang belum pernah kulihat.

“Du,” katanya. “Lu inget hukum ketiga?”

“Inget, Bang.”

“Lu udah ngelanggar?”

Aku diam.

Bang Mamat menarik napas panjang, panjang sekali, seperti orang yang menahan tangis di pemakaman. Lalu ia menepuk bahuku dua kali, berat dan pelan.

“Semoga Allah menguatkan lu, Du,” katanya. “Rudi aja nggak kuat. Lu jangan sampai jadi takmir masjid di Cianjur.”

Ia keluar dari pantry sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Aku berdiri sendirian, memandangi cangkir putih kakakku yang berisi kopi yang ditolak. Di saku seragam ada senter kuning, dan di dompet ada jepit kupu-kupu yang sayapnya retak.

Aku di sini untuk kakakku. Hanya untuk kakakku.

Kuulang kalimat itu di kepalaku tiga kali, seperti doa.

Namun ketika aku menyalakan keran untuk mencuci cangkir, aku sadar aku masih tersenyum.