Chapter Thirty Seven
Sepatu Baru
POV: Cecil
“Chief Technology Officer.”
Nat mengucapkan tiga kata itu pelan-pelan, satu per satu, seperti meletakkan tiga kartu As di meja judi.
Senin pagi pukul delapan, ruang CEO lantai 58. Aku berdiri di sudut dekat pot monstera, yang ajaibnya masih hidup setelah disiram kopi delapan bulan lalu, dan kini malah menumbuhkan dua daun baru. Tablet di dada, posisi profesional. Tetapi telingaku melebar seperti antena parabola.
Nat duduk di kursinya. Di depan mejanya, di kursi tamu, duduk seorang laki-laki berkemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, dengan celana kain hitam. Di saku kemejanya menonjol sebuah senter kuning.
Di meja Nat ada map kulit cokelat tebal berisi kontrak kerja, struktur gaji, opsi saham, mobil dinas, dan ruangan di lantai 57 dengan jendela yang menghadap Bundaran HI.
“CTO Red Electronics,” ulang Nat. “Gaji tiga kali lipat CTO sebelumnya. Opsi saham. Mobil dinas. Kamu pegang seluruh R&D. Yudhis lapor ke kamu. Dia udah setuju. Dia malah nangis bahagia.”
Pandu memandangi map itu. Ia tidak membukanya, hanya memandanginya.
“Kak,” katanya pelan. “Kontrak Lentera.”
“Kakak tahu kontrak Lentera.”
“Syarat nomor dua. Inventor nggak menerima posisi apa pun di Red Electronics maupun Redcliff Group.”
“Kakak tahu syarat nomor dua. Kakak yang tanda tangan.” Nat mencondongkan badan ke depan. “Tapi itu syarat yang kamu bikin waktu kamu masih nyembunyiin diri. Sekarang kamu nggak perlu nyembunyiin diri lagi. Kontraknya bisa diamandemen. Pak Bayu udah siapin drafnya.”
Pandu tidak menjawab.
Ia memandangi map kulit cokelat itu lama. Lalu ia menggeser map itu perlahan kembali ke arah kakaknya, hanya lima senti, tetapi cukup.
“Makasih, Kak,” katanya. “Tapi nggak.”
Nat menatap adiknya.
Aku pernah melihat wajah itu. Wajah Nat ketika seorang investor menolak tawaran yang menurutnya mustahil ditolak. Wajahnya kaget dan tersinggung, lalu diam sebentar sambil menghitung ulang, lalu menyiapkan argumen kedua.
“Kenapa?” tanya Nat.
“Karena aku nggak mau kerja buat Kakak.”
Nat berkedip.
“Aku mau kerja sama Kakak,” lanjut Pandu, pelan dan hati-hati. “Bukan buat Kakak. Kalau aku jadi CTO, Kakak bos aku. Setiap rapat, Kakak di kepala meja, aku di samping. Setiap keputusan, Kakak yang tanda tangan terakhir.” Ia tersenyum kecil. “Delapan bulan aku jadi bawahan Kakak, Kak. Itu cukup.”
Hening.
Aku menahan napas di sudut ruangan.
Nat memandangi adiknya lama. Lalu, perlahan, ujung bibirnya naik setengah milimeter.
“Terus kamu mau ngapain?”
“Lab,” kata Pandu. “Di Depok, deket panti. Ada tanah kosong di belakang gang yang dijual. Udah aku cek, harganya masuk akal.” Ia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sebuah foto: tanah kosong penuh ilalang dengan pohon mangga di pojoknya. “Aku mau bangun Lab Lentera. Riset termal, baterai, energi terbarukan. Masih jual lisensi ke Red Electronics, tetep eksklusif. Tapi labnya punya sendiri.”
“Dan siapa yang kerja di sana?”
“Anak-anak panti.”
Nat diam.
“Yang udah lulus SMA dan mau kuliah,” lanjut Pandu. “Mereka kerja paruh waktu di lab, aku yang biayain kuliahnya. Kayak...” Ia berhenti sebentar. “Kayak Kakak Asuh, tapi mereka tahu siapa yang ngebiayain. Dan mereka tahu mereka bisa balik ke panti kapan aja buat makan siang.”
Ruangan itu sunyi.
Aku memandang Nat. Nat memandang adiknya, dan matanya basah.
“Kamu,” kata Nat. Suaranya serak. “Kamu nolak jadi CTO perusahaan dua puluh tiga triliun buat bangun lab di tanah ilalang di belakang gang panti?”
“Iya, Kak.”
“Itu keputusan bisnis paling bego yang pernah Kakak denger.”
“Iya, Kak.”
Nat berdiri. Ia berjalan mengitari meja, berhenti di depan adiknya, lalu merapikan kerah kemejanya yang sebenarnya tidak miring.
“Red Electronics investasi,” katanya. “Tiga puluh persen. Bukan buat kontrol. Buat Kakak bisa dateng ke lab kamu tiap hari Sabtu, tanpa diundang, bawa roti sobek Ci Lan.”
Pandu mendongak dan menatap kakaknya.
“Lima belas persen, Kak.”
“Dua puluh lima.”
“Dua puluh, dan Kakak bawa teh manis juga.”
Nat menatap adiknya. Lalu ia mengulurkan tangan.
“Deal.”
Mereka berjabat tangan, CEO Red Electronics dan pendiri Lab Lentera, di ruang CEO lantai 58.
Aku, di sudut ruangan dengan tablet di dada, menangis pelan-pelan.
Sepatunya masih yang itu.
Sudah empat bulan ia bukan OB lagi. Ia sudah lulus cum laude, punya apartemen di lantai 41, dan punya rencana membangun lab di Depok dengan investasi dua puluh persen dari Red Electronics.
Tetapi sepatunya masih sepatu kerja hitam yang seperti dibeli di pasar, yang solnya diam-diam kuganti tiga bulan lalu. Solnya sudah menipis lagi. Kalau ia berjongkok, terlihat bagian tumit yang mulai mengelupas.
Kamis sore, aku pergi ke Grand Indonesia.
Aku tidak pernah membelikan laki-laki sepatu. Ayahku punya puluhan sepatu kulit Italia yang semuanya dijual untuk membayar utang. Mantan-mantanku, dua laki-laki yang sama-sama punya mobil, membeli sepatu sendiri. Mereka tidak pernah butuh kubelikan apa-apa.
Aku berdiri di toko sepatu kulit di lantai tiga, di depan rak sepatu laki-laki, dan tidak tahu harus memilih yang mana.
“Buat suami, Bu?” tanya pramuniaga.
“Pacar,” kataku. Lalu aku diam. “Calon... pokoknya buat dia.”
“Ukurannya, Bu?”
“Empat puluh dua,” kataku tanpa berpikir.
Pramuniaga itu tersenyum. “Ibu hafal ukurannya.”
Aku memang hafal. Aku melihat nomor di bagian dalam sepatunya ketika ia melepas sepatu untuk memijat pergelangan kaki di tangga darurat, pada malam ulang tahunnya. Sekretaris CEO bisa menghafal data dalam dua detik.
Aku memilih sepatu kulit hitam. Bukan yang paling mahal, melainkan yang paling kuat. Sol karet tebal, jahitan ganda, garansi dua tahun. Sepatu untuk orang yang berjalan jauh, naik turun tangga, dan berjongkok membetulkan kabel di bawah meja.
Jumat malam, unit 41-D.
Aku meletakkan kotak sepatu di meja kopi, di depannya. Ia sedang duduk di sofa abu-abu, membaca jurnal termal di laptop yang engselnya masih diikat karet gelang. Ia menolak membeli laptop baru. Katanya masih nyala.
Ia memandangi kotak itu, lalu memandangiku.
“Buka,” kataku.
Ia membukanya.
Ia memandangi sepatu kulit hitam itu lama. Lalu ia mengangkat sebelah, memutar-mutarnya, memeriksa jahitan dan solnya. Persis seperti ketika ia memeriksa kapasitor AC server.
“Cil,” katanya pelan. “Ini mahal.”
“Nggak.”
“Ini merek...”
“Nggak mahal. Diskon.” Itu bohong, tidak ada diskon. “Sepatu kamu solnya udah ngelupas lagi. Aku lihat waktu kamu jongkok benerin kabel TV kakak kamu minggu lalu.”
Ia diam. Ia memegangi sepatu baru itu di pangkuannya seperti memegang sesuatu yang rapuh.
“Makasih, Cil.”
“Pakai.”
Ia memakai sepatu itu dan berdiri. Ia berjalan tiga langkah di atas lantai kayu unit 41-D, lalu kembali.
“Pas,” katanya.
“Aku tahu ukuran kamu.”
“Dari mana?”
“Tangga darurat. Malem ulang tahun kamu. Kamu lepas sepatu. Empat puluh dua.”
Ia menatapku. Matanya sedikit basah, berkilau di bawah lampu berdiri yang cahayanya kuning hangat.
“Kamu hafal semua,” katanya.
“Aku sekretaris.”
Ia tersenyum lebar, senyum yang memperlihatkan gigi kelincinya. Lalu ia berjalan ke kamarnya dan kembali membawa sesuatu.
Sepatu yang lama.
Sepatu hitam dengan sol yang sudah menipis lagi dan kulit tumit yang mengelupas. Ia meletakkan sepatu itu di dalam kotak sepatu baru yang sudah kosong, rapi, berdampingan, seperti dua bayi kembar di dalam boks.
Lalu ia berjalan ke rak buku di sudut ruangan. Di rak paling bawah ada kardus mi instan cokelat pudar berisi dua puluh tiga amplop.
Ia meletakkan kotak sepatu lama itu di sebelah kardus mi instan.
“Kenapa nggak dibuang?” tanyaku.
Ia diam sebentar, memandangi kotak sepatu dan kardus mi instan yang berdampingan di rak paling bawah.
“Karena sepatu itu yang naik tangga darurat enam puluh lantai bawa brosur,” katanya pelan. “Yang aku pakai waktu nangkep kamu waktu hak sepatu kamu patah. Yang solnya bolong dan diganjel kardus, yang bikin kamu nangis di tangga darurat.”
“Aku nggak nangis.”
“Kamu nangis, Cil. Kamu bilang ke Mama kamu.”
Aku menatapnya.
“Mama cerita ke kamu?”
“Waktu aku belajar bikin lapis legit hari Minggu kemarin.” Ia tersenyum. “Mama juga cerita kamu nangis tiga hari waktu dokter mata bilang minus kamu naik ke empat.”
Aku melempar bantal sofa ke wajahnya.
Hari Minggu kemarin ia belajar membuat lapis legit di dapur Mama di Bintaro Sektor 3.
Bukan aku yang mengajaknya. Mama yang mengajak, lewat WhatsApp, tanpa memberitahuku. Ternyata Mama sudah punya nomornya sejak aku memberikan toples biru berisi lapis legit di Salemba. Toples itu ia kembalikan seminggu kemudian, sudah dicuci bersih dan diisi kue nastar yang ia beli di toko Ci Lan.
Aku tahu ia ada di rumah Mama karena Mama mengirimiku foto pukul sepuluh pagi. Di foto itu ia memakai celemek Doraemon. Ya, celemek yang sama, yang kupakai ketika menggosongkan chicken cordon bleu. Ia sedang mengaduk adonan di baskom stainless sebesar ban motor, dengan wajah paling serius yang pernah kulihat, seperti sedang menjalani sidang tesis kedua.
Mama: Calon mantu Mama lagi belajar. Lapisan pertama gosong. Lapisan kedua lumayan. Lapisan ketiga sempurna. Dia belajar lebih cepet dari kamu, Cil.
Aku: MA. Dia bukan calon mantu.
Mama: Oh, iya? Terus kenapa dia nanya ukuran jari manis kamu ke Mama?
Aku menatap layar ponsel.
Aku: ...dia nanya apa?
Mama: Mama nggak ngomong apa-apa. Mama lupa. Mama udah tua.
Aku: MAMA.
Mama: Lapisan keempat lagi dioven. Mama sibuk. Dadah.
Malamnya aku menelepon Mama. Mama tidak mengangkat. Mama justru mengirim pesan suara empat puluh detik, isinya hanya bunyi oven dan suara Mama tertawa.
Senin pagi, Mama yang menelepon lebih dulu.
“Cil,” kata Mama. Suaranya pelan, tidak bercanda lagi. “Mama mau bilang sesuatu.”
“Apa, Ma?”
“Mama lihat cara dia ngaduk adonan.”
Aku diam.
“Adonan lapis legit itu nggak boleh diaduk buru-buru,” kata Mama. “Harus pelan, sabar, searah, nggak boleh dibalik-balik. Kalau buru-buru, adonannya pecah. Lapisannya nggak rata.” Mama diam sebentar. “Ayahmu dulu nggak pernah bisa ngaduk adonan. Dia selalu buru-buru. Dia selalu mau hasilnya cepet.”
“Ma...”
“Laki-laki ini sabar, Cil.” Suara Mama serak. “Dia ngaduk adonan kayak orang yang tahu bahwa hal-hal baik itu butuh waktu. Lapisan pertama gosong, dia nggak marah. Dia cuma bilang, ‘Maaf, Bu, saya ulang.’ Terus dia ulang. Pelan. Sampai bener.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Dia nggak bakal kabur,” kata Mama. “Mama tahu dari cara dia ngaduk adonan.”
Hening lama.
“Dan satu lagi,” kata Mama, suaranya kembali ceria. “Dia nanya ke Mama, boleh nggak dia ngelamar kamu. Mama bilang, ‘Kenapa nanya Mama? Tanya Cecil.’ Terus dia bilang, ‘Saya tanya Ibu dulu, Bu. Habis itu baru saya tanya Cecil. Saya udah janji sama Cecil nggak bakal mutusin apa pun soal dia tanpa nanya dia. Tapi saya juga mau Ibu tahu duluan.’”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Mama bilang boleh,” kata Mama. “Mama bilang, ‘Nak, kamu nggak perlu izin Mama. Tapi makasih udah nanya. Ayahnya Cecil nggak pernah nanya Mama apa-apa.’”
“Ma...”
“Jangan nangis. Mama nggak bilang apa-apa. Mama lupa. Mama udah tua.” Mama tertawa. “Pura-pura kaget, ya. Nanti kalau dia ngelamar. Pura-pura kaget yang meyakinkan. Kamu kan jago akting. Waktu kecil kamu menang lomba drama tujuh belasan.”
Ternyata berpura-pura tidak tahu itu sulit sekali kalau semua orang di sekitarmu sangat buruk dalam menyimpan rahasia.
Selasa, Bang Mamat menghampiri mejaku pukul sepuluh pagi. Ia memakai seragam merah marun dan membawa segelas teh manis yang bukan untukku. Wajahnya seperti orang yang hendak merampok bank tetapi tidak tahu caranya.
“Mbak Cecil.”
“Ya, Bang?”
“Jari manis Mbak...” Bang Mamat melirik ke kiri, lalu ke kanan. “Ukurannya berapa?”
Aku menatapnya.
“Kenapa, Bang?”
“Bukan buat apa-apa, Mbak!” Bang Mamat mengibaskan tangan sampai teh manis di gelasnya tumpah sedikit. “Buat... buat penelitian. Penelitian OB. Statistik ukuran jari karyawan lantai 58. Buat... buat sarung tangan karet. Iya. Sarung tangan karet buat ngepel.”
“Sarung tangan karet.”
“Iya, Mbak. Ukuran S, M, L. Kita butuh data.”
“Ukuran cincin aku dua belas, Bang.”
Bang Mamat berkedip.
“Itu... itu ukuran sarung tangan apa, Mbak?”
“Ukuran cincin, Bang. Bukan sarung tangan.”
Bang Mamat diam. Wajahnya merah dari leher sampai ujung kumis. Lalu ia mengeluarkan buku Doraemon dari saku celananya, menulis sesuatu dengan tangan gemetar, dan kabur ke pantry tanpa berkata apa-apa.
Rabu, Tiara menghampiri mejaku. Kali ini ia tidak membawa map, dan tidak membawa alasan juga.
“Mbak Cecil,” katanya. “Mbak suka bunga apa?”
“Kenapa, Tiara?”
“Penelitian.” Tiara membetulkan bulu mata palsunya. “Statistik bunga favorit karyawan.”
“Kamu sama Bang Mamat satu tim penelitian?”
Tiara berkedip-kedip cepat, seperti kipas angin rusak.
“...Melati,” kataku. “Melati putih.”
Tiara mencatat di ponselnya, lalu kabur ke lift.
Kamis, Yudhis turun dari lantai 57 hanya untuk bertanya apakah aku alergi kembang api.
Jumat, Pak Joko bertanya apakah aku takut gelap.
Sabtu, Opa menelepon dari rumahnya.
“Cecilia,” kata Opa. Suaranya serak, tetapi galak seperti biasa. “Kamu takut ketinggian?”
“Opa.”
“Saya tanya, kamu takut ketinggian?”
“Opa, aku kerja di lantai 58 tiga tahun.”
“Itu di dalam gedung. Saya tanya di luar gedung.”
“...Di luar gedung?”
“Rooftop,” kata Opa. Lalu ia diam, seperti orang yang baru sadar ia sudah bicara terlalu banyak. “Saya nggak bilang apa-apa. Saya udah tua. Saya lupa. Gunawan bilang obat tensi saya bikin pikun.”
Telepon ditutup.
Aku duduk di sofa apartemenku di Tebet, memandangi pintu kulkas. Ada lima sticky note kuning di sana, lima lentera kecil, ditambah satu yang baru dari Selasa kemarin: Sepatunya pas. Makasih. Aku pakai ke mana-mana.
Rooftop. Melati putih. Kembang api, takut gelap, cincin ukuran dua belas.
Enam puluh lantai gedung yang lampunya bisa dimatiin dan dinyalain satu-satu.
Itu kalimat Nat. Ia mengucapkannya lewat tembok setebal dua puluh senti, dan aku mendengarnya dari Pandu, yang wajahnya memerah ketika menceritakannya.
Aku bersandar ke sofa dan tertawa sendiri.
Mereka semua buruk sekali dalam menyimpan rahasia. Satu gedung penuh orang yang buruk sekali dalam menyimpan rahasia. Bang Mamat, Tiara, Yudhis, Pak Joko, Opa, Mama.
Dan aku harus berpura-pura tidak tahu.
Minggu pagi, unit 41-D.
Aku menginap, tidur di sofa abu-abu. Ya, di sofa. Nat tidak mengizinkan lebih dari itu sebelum nama yang sama. Ia mengatakannya lewat tembok setebal dua puluh senti, “Kakak denger semua, Cecilia. Tembok ini tipis.”
Pukul enam pagi, aku terbangun karena aroma kopi.
Ia berdiri di dapur dengan kaus abu-abu dan celana training, rambutnya berantakan karena baru bangun. Tangannya sedang menggiling biji kopi dengan gilingan manual.
Ada dua cangkir di meja dapur, cangkir putih dan cangkir kaca.
Cangkir putih untuk kakaknya: kopi hitam, dua es batu bening tanpa gelembung.
Cangkir kaca untukku.
Aku berjalan ke dapur dengan kaus kebesaran dan selimut di bahu. Aku bersandar di kusen pintu dan memperhatikannya menuang air panas ke cangkir kaca, pelan, tepat di garis. Satu sendok gula, krimer setengah.
Ia meletakkan cangkir itu di depanku dan tersenyum lebar, senyum yang memperlihatkan gigi kelincinya.
“Bayaran,” katanya.
Aku menerima cangkir itu dan menyesapnya. Rasanya pas, seperti setiap pagi selama delapan bulan.
“Mas,” kataku.
“Hm?”
“Kalau nanti...” Aku diam. Aku harus berpura-pura tidak tahu. “Kalau nanti, misalnya, suatu hari, hipotesis aja, kita... tinggal bareng. Di mana pun.”
Ia diam. Tangannya, yang sedang meletakkan cangkir putih di nampan, berhenti.
“Kopiku,” kataku pelan, “tetep kamu yang bikin?”
Ia menatapku dari seberang meja dapur, dengan cangkir putih di nampan yang hendak diantar ke unit 41-C di sebelah.
“Seumur hidup, Cil,” katanya.
Aku menunduk ke cangkir kopiku dan menyesap lagi, supaya ia tidak melihat wajahku.
“Itu cuma hipotesis,” gumamku kepada cangkir.
“Iya, Cil,” katanya. Aku bisa mendengar senyumnya. “Hipotesis.”
Ia mengangkat nampan berisi cangkir putih dan berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.
“Cil.”
“Hm?”
“Ukuran dua belas, ya?”
Aku menatapnya.
Ia tersenyum, lalu keluar. Pintu tertutup.
Aku duduk sendirian di dapur unit 41-D dengan cangkir kopi di tangan dan selimut di bahu. Wajahku panas seperti habis berjemur di Ancol pukul dua belas siang.
Dari balik tembok setebal dua puluh senti, kudengar suara Nat yang serak karena baru bangun.
“Du! Kakak denger!”
Lalu suara Pandu:
“Kakak nggak denger apa-apa, Kak! Kakak udah tua! Kakak lupa!”
Aku tertawa sampai kopiku tumpah.
- 1 Lantai 58
- 2 Nama yang Seharusnya Nggak Ada
- 3 Mas OB
- 4 Catur di Lantai 60
- 5 Kopi Ketujuh
- 6 Lift Jam Sembilan Malam
- 7 Kelas Malam
- 8 Perpustakaan Salemba
- 9 Sandera
- 10 Lagu yang Nggak Boleh Dinyanyikan
- 11 Kerah
- 12 Truth or Dare di Puncak
- 13 Asisten Darurat
- 14 Peri Papan Tulis
- 15 Blackout
- 16 Dia OB Lantai Aku
- 17 Hujan di Rooftop
- 18 OB atau Bukan
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Lentera
- 21 Perang Dingin
- 22 Pemilik Paten yang Tetap Ngepel
- 23 Adikku di Australia
- 24 Belum, Cil
- 25 Mesin Penghancur Kertas
- 26 Ulang Tahun Ke-31
- 27 Kupu-Kupu Biru
- 28 Mata-Mata
- 29 Orang Tanpa Keluarga
- 30 Senter Kuning
- 31 Kakak Asuh
- 32 Raja yang Menyerah
- 33 Gambir
- 34 Kamu Pacaran Sama Adikku?!
- 35 Rapat Direksi
- 36 Sidang Tesis
- 37 Sepatu Baru reading
- 38 Surat untuk Kakak di Australia
- 39 Enam Puluh Lantai
- 40 Mas OB
- 41 Epilog: Lampu yang Istirahat