Chapter Twenty One

Perang Dingin

POV: Cecil

“Aku nggak mau kamu bohong ke Bu Natasha lagi.”

Itulah yang ia katakan di lorong lantai 58, pukul sembilan lewat lima puluh dua, Senin pagi. Ia masih mengenakan jas abu-abu arang dengan lipatan lengan yang masih tajam, dan dasinya miring ke kiri. Tanganku di lengan jasnya.

“Kalau kamu tahu sebelum rapat,” katanya pelan, “kamu harus pura-pura kaget di depan dia. Kamu harus bohong lagi. Aku lihat muka kamu tiap kali kamu bohong ke dia, Cil. Aku nggak mau...”

Aku melepaskan lengannya.

Kalimat itu rapi, logis, dan masuk akal. Persis jenis kalimat yang dulu keluar dari mulut ayahku setiap malam ketika ia pulang pukul dua pagi.

Aku berjalan ke tangga darurat dan menutup pintunya di belakangku. Aku duduk di anak tangga antara lantai 58 dan 57, anak tangga yang sama tempat kami makan nasi bungkus, tempat ia meniup lilin cupcake, tempat ia membelah roti menjadi dua.

Aku tidak menangis. Aku hanya duduk dan memandangi dinding beton.


Gosipnya sampai ke lobi pukul sebelas pagi. Kali ini bukan air bocor, melainkan bendungan jebol.

OB LANTAI 58 TERNYATA PEMILIK PATEN RATUSAN MILIAR!!! 🔥🔥🔥🔥🔥

Mas Pandu = LENTERA = penemu chip yang nyelametin Red X!!! Dia pakai JAS tadi pagi!!! Ada yang foto???

Kata anak R&D dia yang nulis rumus di papan tulis lab. PERI PAPAN TULIS ITU DIA!!!

Terus kenapa dia jadi OB????? 🤯🤯🤯

Kayak drakor anjir. CEO nyiksa OB, ternyata OB-nya tajir. Tinggal nunggu episode CEO-nya jatuh cinta

Eh tapi bukannya Mbak Cecil yang naksir dia??? Yang di Puncak itu???

Wkwkwkwk Mbak Cecil hoki banget. Pas naksir OB, ternyata OB-nya sultan

Aku membaca pesan terakhir itu di mejaku, lalu menelungkupkan ponselku.

Pas naksir OB, ternyata OB-nya sultan.

Itulah yang akan dipikirkan semua orang. Sekretaris CEO yang cantik, yang standarnya minimal punya mobil, tiba-tiba dekat dengan OB, lalu tiba-tiba OB itu ternyata memegang paten ratusan miliar.

Kebetulan? Tidak akan ada yang percaya pada kebetulan.

Mereka akan mengira aku tahu sejak awal, mengira aku perempuan matre yang pintar, mengira aku mengincarnya karena uang.

Dan yang paling menyakitkan, aku sendiri tidak bisa membuktikan bahwa mereka salah. Aku tidak punya bukti bahwa Sabtu itu, di bawah pohon trembesi Salemba, ketika aku berkata miskin atau bukan, aku sungguh-sungguh tidak tahu.

Dialah yang punya bukti. Dialah yang tahu bahwa aku tidak tahu.

Ia membiarkanku berkata aku mau kamu, miskin atau bukan sambil menyimpan rahasia bahwa ia tidak miskin.


“Mbak Cecil!”

Tiara muncul di depan mejaku pukul dua belas lewat lima, sendirian, tanpa map. Bulu mata palsunya lebih panjang daripada biasanya; sepertinya ia memasang model khusus hari ini.

“Mbak, Mas Pandu ada? Eh, maksud aku Pak Pandu. Atau Mas Direktur?” Ia tertawa cekikikan. “Aku mau ngajak makan siang. Rendangnya udah aku bawa. Rendang Padang asli, resep nenek.”

“Ajuin permohonan tertulis,” kataku tanpa mengangkat kepala dari laptop. “Rangkap tiga. Empat sampai enam minggu kerja.”

“Ih, Mbak. Itu kan pas dia masih OB. Sekarang kan beda.”

Aku berhenti mengetik.

“Beda gimana?”

“Ya beda, Mbak.” Tiara bersandar di mejaku dengan siku. “Sekarang dia bukan urusan lantai 58 lagi, kan? Dia direktur perusahaan sendiri. Jadi Mbak nggak bisa ngatur jadwal makan siangnya lagi.” Ia tersenyum manis. “Lagian, Mbak bilang standar Mbak minimal punya mobil. Mas Pandu kan nggak punya mobil. Jadi nggak cocok sama Mbak, kan?”

Aku menatap Tiara.

Ada bagian dari diriku yang ingin berdiri dan mengatakan sesuatu yang akan membuat bulu mata palsu Tiara copot dengan sendirinya. Ada bagian lain yang ingin tertawa, karena situasinya terlalu absurd. Kemarin aku dianggap gila karena menaksir OB, hari ini dianggap matre karena OB itu ternyata kaya.

Dan ada bagian ketiga, yang paling lelah, yang hanya ingin berkata, ambil aja, Tiara, aku lagi nggak tahu aku mau apa.

“Dia di pantry,” kataku akhirnya. “Lagi ngepel.”

Tiara mengerjap.

“...Ngepel?”

“Ngepel. Pakai seragam OB. Lantai pantry.”

“Tapi... tapi dia kan direktur...”

“Coba kamu tanya sendiri kenapa direktur ngepel lantai,” kataku, kembali ke laptop. “Aku juga pengen tahu jawabannya.”


Pukul dua siang, Nat memanggilku ke ruangannya. Ia menutup pintu dan menyuruhku duduk di sofa tamu, bukan di kursi depan mejanya. Artinya ini bukan pembicaraan antara atasan dan bawahan.

Nat duduk di sebelahku. Ia tidak mengenakan blazer, hanya kemeja putih dengan lengan digulung. Lingkaran hitam di bawah matanya sudah lebih tipis daripada minggu lalu. Pagi ini ia menghabiskan salad dariku, pertama kalinya dalam seminggu.

Red X selamat. Kursinya selamat. Tetapi wajahnya tidak tampak seperti orang yang selamat.

“Kamu tahu?” tanyanya.

“Nggak.”

“Gue tahu lo nggak tahu.” Ia memandangi tangan di pangkuannya. “Muka lo tadi pagi. Gue kenal muka lo pas bohong, Cil. Itu bukan muka bohong.”

Aku tidak menjawab.

Nat diam lama, lalu menanyakan sesuatu yang membuat perutku dingin.

“Lo sama dia ada apa?”

Pertanyaan langsung, tanpa basa-basi, tanpa jalan keluar.

Ada janji di bawah pohon trembesi Salemba. Aku nggak bakal nyangkal lagi. Ke siapa pun.

Waktu itu kukira siapa pun berarti Tiara, staf branding, dan grup Sobat Red Tower. Aku tidak berpikir bahwa siapa pun termasuk Nat. Aku tidak berpikir aku harus menepati janji itu pada hari aku sedang marah kepada orang yang kujanjikan.

“Ada,” kataku.

Satu kata, tanpa menyangkal.

Nat tidak bergerak. Wajahnya tidak berubah, tetapi tangan di pangkuannya saling meremas, kebiasaan yang hanya muncul kalau ia benar-benar bingung.

“Sejak kapan?”

“Sejak dia benerin hak sepatu gue pakai paku,” kataku. “Di tangga darurat. Hari kedua dia kerja.”

Nat mengerjap.

“Hari kedua?”

“Gue baru sadar belakangan. Tapi kayaknya iya. Hari kedua.”

Nat diam lagi, lama sekali, lebih lama daripada diamnya ketika laporan Red X menunjukkan minus tiga koma dua.

“Dan dia nggak bilang ke lo,” katanya pelan. “Soal Lentera.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Katanya biar gue nggak harus bohong ke lo lagi.” Aku tertawa pendek, tawa yang sama sekali tidak lucu. “Biar gue nggak perlu pura-pura kaget di rapat. Biar persahabatan kita aman. Dia mutusin itu sendiri. Buat gue. Tanpa nanya gue.”

Nat menatapku dengan raut aneh.

“Lagi?” ulangnya pelan. “Bohong ke gue lagi?”

Ah.

Aku memejamkan mata.

“SMK listrik,” kataku. “Sama kapasitor AC server. Gue tahu itu dia, Nat. Dari CCTV. Lo nanya ke gue, dan gue bilang gue nggak ngerti kapasitor.”

Hening.

“Dua kali,” kataku. “Gue bohong ke lo dua kali. Buat dia.”

Aku menunggu Nat marah. Aku menunggu suara datar yang ia pakai untuk memecat orang, mata yang suhunya turun ke delapan belas derajat.

Nat tidak marah.

Nat tertawa.

Tawanya kecil, lelah, dan heran. Ia bersandar ke sandaran sofa dan memandangi langit-langit ruangannya.

“Lo bohong ke gue buat dia,” katanya. “Dia bohong ke lo buat gue.” Ia menggeleng. “Dan gue nyiksa dia buat... gue nggak tahu buat apa.”

Ia diam.

“Kita bertiga bego banget, Cil.”

Aku tidak bisa menahannya. Aku ikut tertawa, tawa yang basah, yang ujungnya nyaris berubah menjadi tangis tetapi kutahan.

Nat menoleh kepadaku, lalu melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama sepuluh tahun. Ia memegang tanganku. Bukan pelukan kikuk di depan pintu seperti yang biasa kuberikan kepadanya, melainkan memegang tangan, pelan, seperti kakak memegang tangan adiknya di jalan yang ramai.

“Cil,” katanya. “Hati-hati.”

“Sama dia?”

“Sama diri lo sendiri.” Ia memandangi tangan kami. “Gue pernah bilang ke lo, jangan mainin dia. Ternyata gue salah orang. Harusnya gue bilang ke dia, jangan mainin lo.”

“Dia nggak mainin gue, Nat.”

“Gue tahu.” Nat menarik napas panjang. “Itu yang bikin gue takut. Orang yang nggak mainin, yang mutusin semuanya sendiri demi orang lain...” Ia diam. “Orang kayak gitu bisa nyakitin lebih dalem dari orang yang mainin. Karena lo nggak bisa marah ke mereka. Mereka selalu punya alasan yang bener.”

Aku menatap Nat.

Ia tidak sedang membicarakan Mas OB. Aku tidak tahu siapa yang sedang ia bicarakan, tetapi jelas bukan hanya Mas OB.


Selasa pagi, pukul tujuh. Kopi.

Ia meletakkan cangkir kaca di mejaku, satu sendok gula, krimer setengah. Ia mengenakan seragam merah marun lagi. Jasnya sudah tidak ada, begitu pula dasinya. Hanya OB lantai 58 dengan sepatu bolong yang diganjal kardus.

Ia berdiri di depan mejaku, menunggu.

Bayarannya. Kopi dan senyum.

Aku tidak mengangkat kepala dari laptop.

“Makasih, Pak Pandu,” kataku. Datar, profesional, nada yang kupakai untuk kurir paket.

Ia diam.

“Pak?”

“Bapak kan direktur sekarang. Nggak sopan saya manggil Mas.”

Ia tidak bergerak sejenak. Lalu ia mengangguk pelan dan kembali ke pantry.

Aku tidak meminum kopinya.

Pukul sembilan, aku ke pantry. Ia sedang di ruang Crimson, menyiapkan rapat. Pantry sepi.

Aku membuat kopi sendiri. Biji kopi dari kaleng di lemari eksekutif, digiling kasar, diseduh dengan air yang terlalu panas. Hitam pekat, tanpa gula, tanpa krimer, pahitnya seperti obat batuk.

Kutuang ke cangkir kaca, cangkir yang sama yang setiap pagi ia pakai untukku. Kutitipkan ke lokernya di B2 lewat Bang Mamat.

“Buat Mas Pandu?” tanya Bang Mamat sambil menerima cangkirnya dengan hati-hati, seperti memegang bom.

“Buat Pak Direktur,” kataku.

Bang Mamat memandangi kopi hitam pekat di cangkir itu, lalu memandangiku. Kumisnya bergerak-gerak.

“Mbak, ini kopi apa racun tikus?”

“Kopi, Bang. Kopi yang jujur.”

Bang Mamat mengembuskan napas panjang, napas orang yang sudah lima belas tahun menonton drama manusia di gedung ini.

“Mbak,” katanya pelan. “Gua nggak tahu apa yang terjadi. Gua cuma tahu Du semalem nggak pulang. Tidur di bangku B2. Gua kira dia ketinggalan KRL, ternyata dia cuma duduk di situ sampai subuh. Nyalain sama matiin senter kuningnya terus.”

Aku diam.

“Dia nggak makan juga dari kemarin, Mbak. Gorengan yang gua beliin masih utuh di lokernya.”

“Bang...”

“Gua cuma bilang.” Bang Mamat mengangkat cangkir kopi pahit itu sedikit, seperti orang mengangkat gelas untuk bersulang. “Gua anterin ya, Mbak. Tapi kalau Du sakit perut, gua salahin Mbak.”


Rabu, Tiara datang lagi ke lantai 58 membawa rendang dalam rantang tiga susun. Ketika Mas Pandu, eh, Pak Pandu, eh, dia, sedang mengelap kaca jendela di ujung lorong, Tiara menghampirinya dengan rantang di depan dada seperti orang membawa sesajen.

Dari mejaku, aku melihat semuanya.

Tiara berbicara panjang, sambil tertawa cekikikan, sambil menyentuh lengannya dua kali. Ia menerima rantang itu dengan senyum setengah yang sopan, senyum yang kubenci, lalu mengatakan sesuatu yang singkat.

Wajah Tiara berubah. Senyumnya hilang perlahan, seperti es krim yang meleleh di trotoar.

Tiara kembali ke lift tanpa rantang. Ketika lewat di depan mejaku, ia berhenti.

“Mbak,” katanya. Suaranya bukan suara manis lagi, melainkan suara biasa. “Mas Pandu nerima rendangnya. Katanya buat dibagi sama OB lain di B2. Terus aku tanya dia mau nggak makan siang bareng aku besok.”

Aku diam.

“Dia bilang,” lanjut Tiara, “‘Maaf, Mbak Tiara. Saya udah punya orang yang saya tunggu.’”

Aku mengerjap.

“Terus aku tanya, nunggu siapa? Dia nggak jawab. Dia cuma ngelirik ke sini.” Tiara menunjuk mejaku dengan dagu. “Ke Mbak.”

Tiara mengembuskan napas panjang dan membetulkan bulu mata palsunya yang miring sebelah.

“Mbak beruntung, tahu nggak,” katanya. “Dia ganteng, dia pinter, dia tajir. Terus dia milih Mbak. Dan Mbak malah ngasih dia kopi racun tikus.”

“Kamu tahu soal kopi?”

“Bang Mamat cerita ke satpam. Satpam cerita ke aku. Satu gedung udah tahu, Mbak.” Tiara berjalan ke lift. “Kalau Mbak nggak mau, kasih ke aku aja. Aku nggak gengsian.”

Lift menutup.

Aku duduk di kursiku. Di ujung lorong, ia masih mengelap kaca jendela, pelan dan telaten, petak demi petak.

Saya udah punya orang yang saya tunggu.

Ia tidak menyangkal, tidak pula diam. Ia mengatakan kepada Tiara, resepsionis paling ember se-Red Tower, bahwa ia menungguku.

Ia menepati janji yang kubuat, padahal aku sendiri sedang tidak menepatinya.


Rabu malam, pukul tujuh. Parkiran B2.

Aku berjalan ke Honda Jazz merahku dengan tas di bahu dan kepala yang berat. Tiga hari ini aku hanya tidur empat jam semalam. Tiga hari aku memanggilnya Pak Pandu dan mengirim kopi pahit ke lokernya. Tiga hari ia tetap meletakkan kopi satu sendok gula, krimer setengah, di mejaku pukul tujuh pagi, lalu berdiri di depan mejaku menunggu bayaran yang tidak pernah kuberikan.

Di kaca depan mobilku, di bawah wiper, ada sesuatu.

Sticky note kuning, ditempel di kaca, agak basah terkena embun AC parkiran.

Kopinya pahit.
Aku pantes.
— P

Dan di pojok kanan bawah, gambar kecil. Lampu minyak, tiga garis, pegangan bulat di atas, nyala api di dalam kaca.

Aku mencabut sticky note itu dari kaca, lalu berdiri di parkiran yang sepi. Lampu kuning pucat, bau oli, deru mesin mobil dari zona lain.

Kubaca tiga baris itu lagi.

Aku pantes.

Bukan maaf. Ia tidak meminta maaf. Ia hanya mengakuinya, seperti orang yang mencatat data.

Lalu aku tertawa.

Tawa yang keluar lewat hidung dulu, lalu dari tenggorokan, lalu dari perut. Tawa yang membuatku harus bersandar ke pintu mobil, yang membuat kacamataku berembun. Di ujungnya, tawa itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Basah, hangat, dan mengalir di pipi.

Aku menangis sambil tertawa di parkiran B2 Red Tower, menggenggam sticky note kuning bergambar lentera kecil.

Aku marah kepadanya karena ia memutuskan sesuatu untukku tanpa bertanya. Aku marah karena alasannya rapi dan logis, seperti alasan ayahku.

Tetapi ayahku tidak pernah berkata aku pantes. Ayahku tidak pernah meminum kopi pahit yang kukirim.

Aku masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan duduk lama di kursi pengemudi.

Di dasbor, boneka kucing kecil mengangguk-angguk terkena getaran mesin. Seolah menyetujui sesuatu yang belum kuputuskan.

Aku mengeluarkan ponsel.

Aku: Kopinya kamu minum?

Balasannya langsung, seperti ia sudah menunggu dengan ponsel di tangan.

Mas OB: Habis.

Aku: Semua?

Mas OB: Semua. Tiga hari. Tiga cangkir.

Aku: Itu pahit banget.

Mas OB: Iya, Cil. Pahit banget.

Mas OB: Tapi itu dari kamu.

Aku meletakkan ponsel di pangkuan dan menutup wajah dengan kedua tangan.

Lama, lalu aku mengetik lagi.

Aku: Besok pagi.

Aku: Ruang arsip. Jam 7 kurang 15. Nggak ada CCTV.

Aku: Aku masih marah. Tapi aku mau denger kamu ngomong.

Aku: Semua. Kali ini jangan diputusin sendiri mana yang boleh aku tahu.

Tiga titik, lama.

Mas OB: Sebanyak yang aku bisa, Cil.

Mas OB: Dan yang aku belum bisa, aku bakal bilang aku belum bisa. Bukan aku sembunyiin.

Aku memandangi pesan itu lama.

Bukan aku sembunyiin.

Diam itu menyimpan, menyangkal itu membuang. Dialah yang mengajariku bedanya.

Aku menyalakan lampu mobil dan keluar dari parkiran B2.

Di jalan, di lampu merah Karet, aku mengeluarkan sticky note kuning dari saku blazer. Gambar lentera kecil di pojoknya sudah agak luntur terkena air mataku.

Kutempelkan di dasbor, di sebelah boneka kucing.

Boneka itu mengangguk.