Chapter Thirty Nine
Enam Puluh Lantai
POV: Pandu
Kotak cincinnya ada di saku dalam jas abu-abu arangku, di sebelah senter kuning.
Sudah tujuh kali aku memeriksanya sejak pukul lima sore. Di lift, di tangga darurat, di toilet lantai 58. Setiap kali aku menyentuh saku dalam jas itu, jariku menemukan dua benda: kotak beludru biru tua yang kecil dan keras, dan senter plastik yang catnya mengelupas.
Cincinnya sederhana. Emas putih, dengan satu batu safir kecil di tengah, biru seperti warna jepit kupu-kupu kakakku. Aku membelinya di toko perhiasan kecil di Pasar Baru, di sebelah toko jas tempat aku membeli jas ini delapan bulan lalu. Pemiliknya seorang bapak tua keturunan Tionghoa yang mengukir tulisan di bagian dalam cincin dengan tangan, memakai alat ukir kecil yang ujungnya seperti jarum.
Ia bertanya aku mau menulis apa.
Kujawab dua kata.
Ia memandangiku dengan heran. “Biasanya orang nulis nama, Dek. Atau tanggal. Atau ‘forever’.”
“Dua kata itu aja, Koh.”
Ia mengukir dua kata itu perlahan selama dua puluh menit, sambil menggerutu tentang anak muda zaman sekarang yang aneh-aneh.
Jumat malam, pukul tujuh lewat lima puluh. Rooftop Red Tower.
Rooftop itu sudah tidak seperti rooftop biasa.
Pohon kamboja dalam pot besar dihiasi lampu-lampu kecil berwarna kuning hangat, ratusan jumlahnya, seperti kunang-kunang yang hinggap di cabang. Bangku kayu jati sudah dipindahkan ke pinggir. Payung krem yang dulu menaungi kami ketika hujan masih berdiri di tengah. Di bawahnya ada meja batu dengan papan catur, bidak-bidaknya tersusun di posisi awal, menunggu permainan yang belum dimulai.
Di sekeliling meja batu itu ada rangkaian melati putih. Tiara yang membelinya, tiga ratus tangkai dari pasar bunga Rawa Belong pukul lima pagi. Ia menyusunnya sendiri di rooftop sejak pukul tiga sore sambil menggerutu soal bulu mata palsunya yang lepas tertiup angin.
Tidak ada kembang api. Kakakku sudah melarang Yudhis tiga kali. Yudhis tetap membawa sekotak kembang api kecil, katanya buat jaga-jaga. Kakakku menyita kotak itu dan menyimpannya di laci lantai 58 dengan alasan pasal tujuh tata tertib.
Aku berdiri di tengah rooftop, di bawah payung krem, memakai jas abu-abu arang dan sepatu kulit hitam pemberian Cecil. Dasi biru tua, yang simpulnya lurus karena kakakku membetulkannya tadi di lift.
Dan aku tidak bisa bernapas.
“Du.”
Kakakku berdiri di sebelahku dengan blazer merah tua, bros bintang safir, dan jepit kupu-kupu biru di sanggulnya. Di tangannya ada walkie-talkie hitam yang ia pinjam dari satpam lobi.
“Kamu pucat,” katanya.
“Aku nggak pucat, Kak.”
“Kamu pucat kayak waktu kamu jatuh dari pohon jambu.” Ia merapikan kerah jasku yang tidak miring. “Bernapas. Tarik, buang.”
Aku menarik napas, lalu membuangnya.
“Bagus.” Ia menekan tombol walkie-talkie. “Pak Joko, status?”
“Panel siap, Bu,” suara Pak Joko keluar berkeresek dari walkie-talkie. “Semua enam puluh lantai. Saya sama tiga teknisi di ruang panel B3. Tinggal nunggu aba-aba.”
“Lantai tiga puluh sampai enam puluh?”
“Udah, Bu. Lima puluh dua karyawan sukarela lembur. Mereka di posisi masing-masing, di jendela yang udah ditandai. Pak Yudhis yang koordinasi pakai grup WhatsApp.”
“Yudhis nggak bawa kembang api lagi?”
“Udah saya geledah, Bu. Bersih.”
Kakakku mengangguk, lalu menoleh ke belakang, ke pohon kamboja di sudut rooftop.
“Bang Mamat.”
Dari balik pot kamboja yang dihiasi lampu kuning terdengar batuk kecil. Lalu sebuah kepala berkumis tebal menyembul dari balik daun.
“Siap, Neng Tasha.”
“Jangan bersin.”
“Gua nggak bakal bersin, Neng.”
“Terakhir kali kamu bersin waktu Opa skak mat Pandu, seluruh lantai 59 denger.”
“Itu alergi debu, Neng. Rooftop ini bersih. Tiara udah nyapu dua kali.”
Di sebelah pot kamboja, Opa duduk di kursi roda, memakai jas tua yang dulu ia pakai untuk menandatangani kontrak dengan Toshiba, dengan selimut tipis di pangkuan. Di tangannya ada raja putih dari papan catur. Ia memegangnya seperti memegang jimat.
“Kalau dia nolak,” kata Opa pelan kepadaku, “saya pecat dia.”
“Opa, Cecil sekretaris Kakak, bukan karyawan Opa.”
“Saya pendiri gedung ini. Saya bisa pecat siapa aja yang berdiri di atasnya.”
Kakakku tertawa pelan.
Walkie-talkie di tangannya berkeresek lagi. Kali ini suara perempuan, cempreng, berbisik keras.
“Bu! Bu Natasha! Ini Tiara! Mbak Cecil udah di lift! Udah naik! Lantai empat puluh... empat puluh satu... empat puluh dua...”
Jantungku jatuh ke perut.
“Posisi,” kata kakakku ke walkie-talkie, tenang dan dingin seperti di ruang Crimson. “Semua. Sekarang.”
Bang Mamat menghilang lagi ke balik pot kamboja. Opa mendorong kursi rodanya sendiri ke dalam bayangan di belakang bangku jati. Kakakku mundur ke dekat pintu besi, ke balik tumpukan kursi lipat yang ditutupi kain hitam.
Sebelum menghilang, ia menatapku.
“Du.”
“Kak?”
“Kamu udah tanya dia,” katanya pelan. “Setiap hal soal dia, kamu udah nanya. Sekarang tanya yang terakhir.”
Ia menghilang ke balik kain hitam.
Aku berdiri sendirian di tengah rooftop, di bawah payung krem, di antara tiga ratus tangkai melati putih dan ratusan lampu kuning kecil di pohon kamboja.
Di saku dalam jasku ada kotak cincin dan senter kuning.
Aku menyentuh keduanya. Itu yang kedelapan kali.
Ia datang pukul delapan lewat tiga menit.
Ceritanya, kakakku menyuruhnya membawa dokumen ke rooftop karena Opa mau tanda tangan kontrak di atas sambil main catur. Itu alasan paling tidak masuk akal yang pernah dibuat manusia. Opa sudah tidak menandatangani kontrak apa pun sejak dua tahun lalu, dan Opa tidak pernah bermain catur dengan siapa pun selain aku.
Tetapi ia datang.
Pintu besi rooftop berbunyi dan kunci elektroniknya terbuka. Kakakku sudah memberinya kartu akses minggu lalu dengan alasan darurat. Pintu itu didorong perlahan.
Ia berdiri di ambang pintu.
Rambutnya tergerai panjang di bahu. Ia memakai dress berwarna navy, bukan blus kantor, dan sepatu hak lima senti. Kacamata emas pucat. Di tangannya ada map plastik bening berisi kertas kosong. Kakakku bahkan tidak repot-repot membuat dokumen palsu.
Ia memandangi rooftop itu.
Pohon kamboja dengan ratusan lampu kuning kecil, tiga ratus tangkai melati putih, payung krem, meja batu dengan papan catur.
Dan aku, di tengah semuanya, memakai jas abu-abu arang, dengan tangan di samping badan yang tidak tahu harus kuletakkan di mana.
Map plastik bening jatuh dari tangannya ke rumput sintetis.
Ia tidak bergerak. Ia hanya berdiri di ambang pintu besi dan memandangiku.
Ia sudah tahu. Aku tahu ia sudah tahu. Bang Mamat menanyakan ukuran cincinnya, Tiara menanyakan bunga favoritnya, Opa bertanya apakah ia takut ketinggian. Mama Rosa bilang kepadaku bahwa Cecil sudah diberi tahu dan disuruh berpura-pura kaget.
Tetapi wajahnya bukan wajah orang yang berpura-pura kaget.
Wajahnya benar-benar kaget. Matanya membesar di balik kacamata, mulutnya setengah terbuka. Sebelah tangannya naik perlahan ke dada, seperti orang yang baru terkena sesuatu tepat di jantung.
Seperti di ruang Crimson, ketika aku masuk memakai jas yang sama.
“Pandu,” bisiknya.
“Sini, Cil.”
Ia berjalan perlahan ke arahku, di atas rumput sintetis, melewati melati putih, melewati pohon kamboja yang lampunya menimbulkan bayangan kuning di wajahnya. Sepatu lima sentinya berbunyi tak, tak, tak di atas paving block di bawah payung.
Ia berhenti satu langkah di depanku.
“Kamu bilang ke Mama aku harus pura-pura kaget,” bisiknya.
“Iya.”
“Aku udah latihan muka kaget dari Senin. Di depan cermin. Tiga kali sehari.”
“Terus?”
“Aku lupa.” Matanya basah. “Aku lupa semuanya. Aku nggak perlu pura-pura.”
Aku tersenyum lebar, senyum yang memperlihatkan gigi kelinciku.
“Bagus,” kataku. “Soalnya aku belum selesai.”
Aku merogoh saku dalam jas. Bukan kotak cincin, belum. Aku mengeluarkan senter kuning.
Ia memandangi senter di tanganku, plastik kuning yang catnya mengelupas, dengan goresan N & P di sisi bawahnya.
Aku mengangkat walkie-talkie kecil dari saku jas yang satunya. Kakakku yang memberikannya tadi sore.
“Pak Joko,” kataku pelan. “Sekarang.”
Dunia menjadi gelap.
Bukan hanya rooftop. Lampu-lampu kuning kecil di pohon kamboja padam, lampu panel di pintu besi padam. Dan di bawah kami, di bawah kaki kami, enam puluh lantai Red Tower padam sekaligus, seperti lampu yang dicabut kabelnya.
Gedung enam puluh lantai di tengah Sudirman, gelap total. Hanya lampu merah kecil di puncak antena yang tetap berkedip untuk pesawat, karena itu aturan penerbangan dan Pak Joko tidak berani mematikannya.
Di sekeliling kami, Jakarta tetap menyala. Gedung-gedung lain, lampu jalan, kendaraan di Bundaran HI yang seperti sungai lampu merah dan putih. Tetapi Red Tower gelap, seperti lubang hitam di tengah kota yang terang.
Kudengar Cecil menarik napas, pendek dan kaget.
Ia tidak takut gelap. Ia pernah mengatakannya kepada kakakku, dan kakakku menceritakannya kepadaku. Tetapi gelap yang datang tiba-tiba, di atas enam puluh lantai, di tengah angin malam, membuat siapa pun menahan napas.
Aku menekan tombol senter.
Klik.
Cahaya kuning kecil, redup, hangat.
Kuarahkan ke langit-langit payung krem di atas kami, bukan ke wajahnya. Cahayanya menyebar pelan di kain payung dan memantul turun, cukup untuk memunculkan bentuk-bentuk dari kegelapan. Wajahnya, kacamatanya, rambutnya yang tertiup angin. Tangannya yang masih di dada.
“Cil,” kataku.
Ia menatapku di bawah cahaya senter. Matanya berkilau.
“Ada orang yang bilang ke aku,” kataku pelan, “waktu aku sebelas tahun, waktu aku nangis di bawah ranjang susun karena listrik mati...”
Aku diam sebentar. Kudengar sesuatu dari balik tumpukan kursi lipat di dekat pintu besi, bunyi kecil seperti orang yang menarik napas tajam.
“Gelap itu cuma lampu yang lagi istirahat.”
Cecil tidak bergerak.
“Kalimat itu punya kakakku,” lanjutku. “Dia kasih ke aku. Terus aku pakai buat dia, di lift waktu blackout. Terus dia bilang ke aku, kalimat itu punya kita berdua. Dari dulu.” Aku menelan ludah. “Jadi malem ini aku pinjem kalimat itu, sekali lagi. Buat kamu.”
Aku menatapnya.
“Gelap itu cuma lampu yang lagi istirahat, Cil.” Suaraku keluar serak. “Tapi kamu...”
Tanganku yang memegang senter gemetar.
“Kamu lampu yang nggak pernah mau istirahat dari aku.”
Hening.
Angin malam di rooftop, bunyi klakson dari Sudirman jauh di bawah.
Dari balik pot kamboja, terdengar suara Bang Mamat yang tidak bisa menahan diri, pelan tetapi jelas:
“Ya Allah...”
“Pak Joko,” kataku ke walkie-talkie. Suaraku masih serak. “Nyalain.”
Lantai satu menyala.
Aku tidak melihatnya langsung, tetapi aku melihat cahayanya. Cahaya putih dari bawah, dari kaki gedung, merambat naik ke dinding kaca.
Lantai dua, lantai tiga. Satu per satu, dari bawah ke atas, seperti ada yang menyalakan lilin di setiap anak tangga.
Lantai sepuluh, lantai dua puluh.
Cecil menoleh, lalu berjalan ke tepi rooftop, ke pagar kaca setinggi pinggang, dan menunduk memandang ke bawah. Aku ikut berdiri di sebelahnya.
Dari atas, kami melihat dinding kaca Red Tower menyala lantai demi lantai, cahayanya naik perlahan seperti air yang mengisi gelas.
Lantai dua puluh sembilan.
Lantai tiga puluh berbeda.
Tidak semua jendelanya menyala, hanya sebagian. Jendela-jendela tertentu, yang sudah ditandai Yudhis dengan sticky note kuning, dengan lima puluh dua karyawan sukarela yang berdiri di depannya dan menyalakan lampu meja mereka satu per satu.
Lantai tiga puluh satu, tiga puluh dua. Sebuah pola mulai muncul di dinding kaca, dari jendela-jendela yang menyala dan yang tetap gelap.
Lantai empat puluh, lima puluh.
Cecil menarik napas tajam.
Dari bawah, dari Bundaran HI, dari Sudirman, dari gedung-gedung di sekeliling, siapa pun yang menoleh ke Red Tower malam itu akan melihat sebuah bentuk raksasa di dinding kaca, dari lantai tiga puluh sampai lima puluh sembilan. Bentuk yang tersusun dari jendela-jendela yang menyala di tengah jendela-jendela yang gelap.
Lampu minyak dengan pegangan bulat di atas dan nyala api di dalam kaca.
Sebuah lentera setinggi tiga puluh lantai.
Lantai enam puluh, rooftop, menyala paling akhir. Lampu-lampu kuning kecil di pohon kamboja menyala lagi, lalu lampu panel di pintu besi, lalu lampu-lampu taman di tepi rumput sintetis.
Cecil berdiri di tepi pagar kaca dengan tangan menutup mulut, menatap lentera raksasa di dinding gedung di bawah kakinya.
“Gimana...” bisiknya. “Gimana kamu...”
“Bukan aku,” kataku. “Kakak yang nyalain lampunya. Pak Joko yang ngatur panelnya. Pak Yudhis yang nandain jendelanya. Lima puluh dua orang yang lembur sukarela.” Aku menunjuk ke bawah. “Mbak Rani di lantai empat puluh lima. Dia bawa bayinya. Katanya biar anaknya lihat.”
Cecil menangis.
Aku berbalik menghadapnya, lalu merogoh saku dalam jas.
Kali ini aku mengeluarkan kotak beludru biru tua.
Aku berlutut di rumput sintetis rooftop Red Tower, di bawah payung krem, di antara tiga ratus tangkai melati putih, di atas lentera raksasa yang menyala di dinding gedung di bawah kami.
Ia melihatku berlutut dan menangis lebih keras.
“Cil,” kataku.
Suaraku gemetar. Tanganku yang memegang kotak cincin juga gemetar. Aku tidak berusaha menahannya.
“Di ruang arsip, aku janji sama kamu. Aku nggak bakal mutusin apa pun soal kamu tanpa nanya kamu dulu.”
Ia mengangguk sambil menangis.
“Aku nanya kamu soal Reynard. Aku nanya kamu kapan harus bilang ke Kakak. Aku nanya kamu di depan pagar panti, boleh nggak aku pergi.” Aku menarik napas. “Aku nanya Mama kamu dulu sebelum ini. Biar Mama tahu. Tapi Mama bilang, kenapa nanya Mama? Tanya Cecil.”
Aku membuka kotak beludru biru tua itu.
Cincin emas putih dengan satu batu safir kecil di tengah, biru seperti jepit kupu-kupu.
“Jadi aku nanya kamu, Cil,” kataku. “Yang terakhir.”
Aku menatapnya dari bawah. Dari posisi ini, di bawah lampu kuning pohon kamboja, ia terlihat seperti ketika pertama kali kulihat di pantry lantai 58. Ketika itu ia menurunkan kacamatanya satu senti dan berkata lumayan juga buat cuci mata pagi-pagi.
“Cecilia Rosary,” kataku. “Kamu mau pakai nama yang sama denganku?”
Hening.
Hening yang panjang. Angin malam, klakson di bawah, dan dari balik pot kamboja, bunyi napas Bang Mamat yang ditahan.
Cecil tidak menjawab. Ia menunduk dan memandangi cincin di kotak beludru biru tua. Lalu ia mengulurkan tangan dan mengambil cincin itu dari kotaknya.
Ia tidak langsung memakainya. Ia memutar cincin itu, memperhatikan bagian dalamnya di bawah cahaya lampu kuning pohon kamboja.
Kulihat matanya menemukan ukiran itu, dua kata yang diukir dengan tangan selama dua puluh menit oleh seorang bapak tua yang menggerutu tentang anak muda zaman sekarang.
Tanya aku.
Cecil menatap ukiran itu lama sekali. Bibirnya gemetar.
Lalu ia mengangkat wajah dan menatapku. Matanya merah, maskaranya luntur. Kacamatanya berembun oleh air matanya sendiri.
“Kamu bego,” bisiknya.
“Iya.”
“Kamu bego banget.”
“Iya, Cil.”
“Kamu ngukir tanya aku di cincin lamaran.” Ia tertawa, tawa yang basah dan pecah, bercampur isak. “Bukan nama, bukan tanggal, bukan forever. Tanya aku.”
“Biar aku nggak lupa,” kataku pelan. “Seumur hidup. Setiap kali aku mau mutusin sesuatu soal kamu, aku lihat cincin kamu dan inget. Tanya kamu dulu.”
Cecil menatapku lama, lalu memakai cincin itu sendiri di jari manis kirinya.
Ukuran dua belas, pas.
“Iya,” katanya.
Satu kata.
Lalu ia menambahkan, karena ia Cecilia Rosary, dan ia tidak pernah memberi satu kata kalau bisa memberi lebih.
“Iya. Tapi kopiku tetep kamu yang bikin.”
“Seumur hidup, Cil.”
“Satu sendok gula. Krimer setengah.”
“Iya.”
“Dan senyum. Yang penuh. Tiap pagi.”
“Iya, Cil.”
“Dan kamu nggak boleh panggil aku Bu. Nggak boleh Mbak. Nggak boleh Bu Sekretaris.”
“Terus panggil apa?”
Ia berjongkok di depanku. Rok navy-nya menyentuh rumput sintetis, dan sepatu lima sentinya miring. Wajahnya sejajar dengan wajahku.
“Panggil aku Cil,” bisiknya. “Kayak di rooftop waktu hujan. Kayak waktu kamu bilang belum, Cil. Seumur hidup.”
“Iya, Cil.”
Ia menciumku.
Di rooftop Red Tower, di bawah payung krem, di antara tiga ratus tangkai melati putih dan pohon kamboja yang lampunya seperti kunang-kunang. Di atas lentera raksasa yang menyala di dinding kaca setinggi tiga puluh lantai.
Ciumannya asin karena air mata dan manis karena sesuatu yang lain.
Aku memegang wajahnya dengan kedua tangan, dan senter kuning jatuh ke rumput sintetis di sebelah kami. Senter itu masih menyala, cahayanya mengenai kaki meja batu dan papan catur yang belum dimainkan.
“ALLAHU AKBAR!”
Bang Mamat keluar dari balik pot kamboja sambil berteriak, kedua tangannya terangkat seperti pemain bola yang baru mencetak gol di menit kesembilan puluh.
“DIA BILANG IYA! DIA BILANG IYA, YA ALLAH!”
Bang Mamat menangis seperti motor dua tak. Ia memeluk pot kamboja karena tidak ada orang lain di dekatnya, dan lampu-lampu kuning kecil di cabang pohon bergoyang-goyang.
Opa mendorong kursi rodanya keluar dari bayangan di balik bangku jati, perlahan, di atas rumput sintetis. Ia mengangkat raja putih di tangannya tinggi-tinggi.
“Skak mat,” kata Opa serak. “Akhirnya ada yang menang beneran.”
Tiara keluar dari pintu besi dengan bulu mata palsu yang sudah lepas sebelah, berteriak “MBAK CECIIIIIL!” sambil menangis dan menyeka maskara.
Walkie-talkie di saku jasku berkeresek dengan suara Pak Joko dari ruang panel B3, diiringi tepuk tangan tiga teknisi.
“Bu Natasha? Udah bisa nyalain semua jendela, Bu? Karyawan di lantai empat puluh lima nanya, Bu Rani bayinya udah ngantuk...”
Kakakku keluar dari balik tumpukan kursi lipat yang ditutupi kain hitam.
Ia tidak menangis. Matanya basah, tetapi ia tidak menangis. Ia berjalan perlahan ke arah kami, aku dan Cecil yang masih berjongkok di rumput sintetis, dan berhenti satu langkah di depan kami.
Ia memandangi cincin di jari manis Cecil, lalu memandangiku.
“Udah ditanya?” tanyanya.
“Udah, Kak.”
“Dijawab?”
“Dijawab, Kak.”
Kakakku mengangguk sekali, pelan, seperti CEO yang menyetujui kontrak yang sudah ia baca sepuluh kali.
Lalu ia membungkuk, memungut senter kuning yang masih menyala di rumput sintetis, dan memandangi cahayanya.
Ia tidak mematikannya. Ia meletakkan senter itu di meja batu, di sebelah papan catur, dengan cahayanya menghadap ke atas, ke kain payung krem.
“Biar nyala,” katanya. “Malem ini dia nggak usah istirahat.”
Lalu ia menekan tombol walkie-talkie.
“Pak Joko. Nyalain semua jendela. Semua lantai. Suruh semua orang pulang. Bilang terima kasih dari saya.” Ia diam sebentar. “Dan bilang besok semua yang lembur malam ini dapet voucher sushi di restoran lantai 2. Yang kayak permata.”
“Siap, Bu!” Pak Joko diam sebentar, lalu suaranya terdengar agak ragu. “Saya juga, Bu?”
Kakakku tersenyum.
“Bapak juga, Pak Joko.”
Malam itu, siapa pun yang menoleh ke Red Tower dari Bundaran HI akan melihat gedung enam puluh lantai yang semua jendelanya menyala. Terang benderang, dari kaki sampai puncak, seperti lilin raksasa di tengah Jakarta.
Di rooftop-nya, kalau mereka bisa melihat sejauh itu, ada lima orang dan satu kursi roda.
Laki-laki berkumis tebal yang masih memeluk pot kamboja. Perempuan dengan bulu mata palsu yang lepas sebelah. Kakek tua di kursi roda yang mengangkat bidak catur seperti piala. Perempuan dengan blazer merah tua dan jepit kupu-kupu biru di sanggul, berdiri dengan walkie-talkie di tangan.
Dan dua orang yang berjongkok di rumput sintetis, berpelukan, tertawa, menangis, dengan cincin safir kecil yang berkilau di jari manis kiri salah satunya.
Di meja batu di sebelah mereka, senter kuning kecil menyala menghadap ke atas, ke langit Jakarta.
Malam itu, senter itu tidak beristirahat.
- 1 Lantai 58
- 2 Nama yang Seharusnya Nggak Ada
- 3 Mas OB
- 4 Catur di Lantai 60
- 5 Kopi Ketujuh
- 6 Lift Jam Sembilan Malam
- 7 Kelas Malam
- 8 Perpustakaan Salemba
- 9 Sandera
- 10 Lagu yang Nggak Boleh Dinyanyikan
- 11 Kerah
- 12 Truth or Dare di Puncak
- 13 Asisten Darurat
- 14 Peri Papan Tulis
- 15 Blackout
- 16 Dia OB Lantai Aku
- 17 Hujan di Rooftop
- 18 OB atau Bukan
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Lentera
- 21 Perang Dingin
- 22 Pemilik Paten yang Tetap Ngepel
- 23 Adikku di Australia
- 24 Belum, Cil
- 25 Mesin Penghancur Kertas
- 26 Ulang Tahun Ke-31
- 27 Kupu-Kupu Biru
- 28 Mata-Mata
- 29 Orang Tanpa Keluarga
- 30 Senter Kuning
- 31 Kakak Asuh
- 32 Raja yang Menyerah
- 33 Gambir
- 34 Kamu Pacaran Sama Adikku?!
- 35 Rapat Direksi
- 36 Sidang Tesis
- 37 Sepatu Baru
- 38 Surat untuk Kakak di Australia
- 39 Enam Puluh Lantai reading
- 40 Mas OB
- 41 Epilog: Lampu yang Istirahat