Chapter Forty One
Epilog: Lampu yang Istirahat
POV: Natasha
Satu tahun kemudian.
Rapat direksi bulanan, ruang Crimson, Senin pagi pukul sembilan.
Di layar LED besar di belakangku ada slide peluncuran produk generasi kedua: Red X2. Lebih tipis, lebih ringan, baterainya lebih besar. Di slide ketiga ada foto chip pendingin generasi keempat berpola heksagon halus seperti sarang lebah, yang sekarang ukurannya hanya separuh kuku jari kelingking.
Di bawah foto chip itu ada nama yang dipilih tim branding setelah tiga bulan rapat dan empat puluh dua usulan.
Teknologi Pendingin UDU™
“Kenapa Udu, Bu?” tanya salah satu investor Jepang lewat penerjemah. “Apa artinya dalam bahasa Indonesia?”
Aku diam sebentar.
Di sudut ruangan, dekat pot monstera yang sekarang tingginya hampir menyentuh langit-langit, ada tiga daun baru bulan ini. Di sana berdiri laki-laki berkemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, dengan senter kuning di saku. Ia bukan OB. Ia datang sebagai pendiri Lab Lentera, mitra eksklusif Red Electronics.
Ia tidak duduk di kursi yang kusiapkan di sebelahku. Ia selalu berdiri di sudut itu setiap kali ikut rapat. Katanya kebiasaan.
Telinganya merah.
“Itu nama panggilan,” kataku kepada investor Jepang. “Nama panggilan untuk seseorang yang menjaga sesuatu tetap dingin waktu semuanya terlalu panas.”
Penerjemah menyampaikan jawabanku. Investor itu mengangguk-angguk dengan wajah puas, lalu menulis sesuatu di bukunya.
Di sebelahku, Pak Hardiman batuk, batuk yang terdengar curiga seperti tawa yang ditahan.
Aku menatap Pak Hardiman.
Lalu aku tertawa.
Di ruang Crimson, di depan sebelas direksi dan tiga investor Jepang, CEO Red Electronics tertawa. Tawa yang lepas, yang keluar dari perut.
Sebelas direksi menatapku. Tiga investor Jepang menatapku. Bu Saraswati menurunkan kacamata bacanya.
Lalu Pak Hardiman ikut tertawa, lalu Bu Saraswati, lalu sembilan lainnya. Investor Jepang saling pandang dengan bingung, lalu ikut tersenyum sopan karena semua orang tertawa.
Di sudut ruangan, adikku menutup wajah dengan sebelah tangan.
Setahun ini banyak yang berubah.
Opa masih hidup. Tujuh puluh sembilan tahun, dengan tongkat dan kursi roda untuk jarak jauh. Dokter Gunawan berkata jantungnya kayak mesin Mercy tua: susah nyala, tapi sekali nyala, nggak mau mati. Setiap Jumat sore Opa masih bermain catur di rooftop. Lawannya bukan hanya adikku lagi. Dimas, yang sekarang berumur sembilan tahun dan ikut kelas ekstrakurikuler robotik di Lab Lentera tiap Sabtu, belajar catur dari Opa.
Opa masih curang. Dimas belum sadar.
Lab Lentera sudah berdiri di tanah yang dulu penuh ilalang di belakang gang panti. Bangunannya dua lantai, atapnya ditutup panel surya, dan pohon mangga di pojok dibiarkan tumbuh. Di sana bekerja enam anak panti yang sudah lulus SMA. Empat di antaranya kuliah di UI dan ITS, biayanya dari royalti chip UDU. Di dinding lobi lab, di sebelah sertifikat paten dari tiga negara, ada bingkai kayu sederhana berisi selembar kertas sobekan buku Doraemon.
Du — 39.000.
Setiap anak panti yang baru masuk kerja selalu bertanya itu apa.
Adikku selalu menceritakannya. Ia selalu memulai dengan kalimat yang sama: “Dulu, waktu aku masih OB...”
Bang Mamat sekarang kepala seluruh OB vendor PT Red Facility Services di Red Tower, enam puluh lantai, empat puluh dua OB. Opa yang mengangkatnya. Bang Mamat menolak tiga kali, lalu menerima dengan syarat ia tetap boleh mengurus lantai 58 sendiri.
“Ini lantai bersejarah, Neng,” katanya. “Ada peri di sini.”
Pak Joko sekarang kepala teknisi gedung. Ia tidak main gaple lagi, katanya. Setiap Jumat sore ia ikut Opa dan adikku di rooftop, menonton catur sambil makan kacang kulit.
Tiara dan Yudhis menikah tiga bulan lalu, di Grand Atrium lantai 3 Red Tower. Ada kembang apinya, yang akhirnya dinyalakan juga, tetapi di luar gedung, dan Cecil menonton dari dalam dengan dua tangan menutup telinga. Bulu mata palsu Tiara tidak lepas sepanjang acara, karena katanya ia memakai lem industri.
Prof. Harun sekarang bolak-balik Jakarta–Medan setiap bulan. Adiknya baru membangun rumah kecil di Pematang Siantar, di tanah yang dulu rumah mereka yang roboh kena gempa. Kata Prof. Harun, mereka berdua sendiri yang mengecat temboknya.
Reynard sedang menjalani proses hukum. Aku tidak pernah menanyakannya. Bu Saraswati yang memberiku laporan setiap tiga bulan, dan aku membacanya sekali, lalu menyimpannya di laci. Bukan laci paling bawah meja riasku. Laci itu sudah kosong.
Foto lusuh dua anak di depan pagar hijau sekarang ada di bingkai di meja kerjaku di lantai 58, di sebelah laptop, di tempat semua orang bisa melihatnya.
Pukul dua belas siang, Cecil mengetuk pintu ruanganku.
Ia masuk membawa nampan dengan dua cangkir. Cangkir putih dan cangkir kaca.
Perutnya sudah terlihat di balik blus longgar warna krem. Lima bulan. Ia masih memakai sepatu hak, katanya tiga senti, tidak bisa lebih rendah, karena gengsi. Ia masih memakai kacamata emas pucat, dan masih sekretarisku. Ia menolak cuti sampai bulan kedelapan.
“Kopi, Nyonya,” katanya.
Ia meletakkan cangkir putih di mejaku. Kopi hitam, dua es batu bening tanpa gelembung.
“Du yang bikin?”
“Du lagi di lab dari jam lima pagi. Ada eksperimen yang nggak bisa ditinggal.” Cecil meletakkan cangkir kaca di sebelahnya, cangkirnya sendiri: teh hangat dengan madu, karena kopi dilarang dokter kandungan. “Jadi aku yang bikin. Pakai resep dia. Air sembilan puluh dua derajat, gilingan sedang, es bening tanpa gelembung. Dia nulis di sticky note kuning, ditempel di kulkas.”
Aku menyesap kopi itu.
Sempurna. Persis seperti buatan adikku.
“Adik iparku pinter,” kataku.
“Kakak iparku galak,” balas Cecil. “Tapi kopinya tetep aku bikinin. Seumur hidup, katanya.”
Ia duduk di sofa tamu di ruanganku, sofa tempat dulu ia menangis dan tertawa sambil mengaku telah berbohong kepadaku empat kali. Ia mengelus perutnya pelan-pelan.
“Nat.”
“Hm?”
“Dia nendang.”
Aku berdiri dari kursiku, mengelilingi meja, dan duduk di sebelah Cecil di sofa. Cecil mengambil tanganku dan meletakkannya di perutnya.
Aku menunggu satu detik, dua detik.
Sesuatu bergerak di bawah telapak tanganku. Kecil, pelan, seperti ketukan di pintu dari dalam.
Aku tidak bisa bicara.
“Dia tahu tantenya,” kata Cecil pelan.
Aku menatap tanganku di perut Cecil, sahabatku sepuluh tahun dan adik iparku satu tahun.
“Kalau perempuan,” kataku, “jangan ajarin dia pakai kacamata buat ngegodain cowok.”
“Kalau laki-laki,” balas Cecil, “jangan ajarin dia nolak kopi tujuh kali.”
Kami tertawa.
Bayi di perut Cecil menendang lagi, seolah ikut tertawa.
Sabtu, Lab Lentera.
Aku datang pukul delapan pagi, seperti setiap Sabtu sejak lab ini berdiri, membawa kantong plastik putih berisi empat roti sobek Ci Lan cokelat dan termos teh manis yang esnya banyak.
Adikku ada di lab lantai dua, di depan papan tulis putih raksasa yang penuh rumus. Enam anak panti mengelilinginya, mendengarkannya menjelaskan sesuatu soal konduktivitas termal dengan gambar orang yang sedang lari dan baju yang menyerap keringat.
Di pojok kanan bawah papan tulis ada gambar kecil, lampu minyak dengan pegangan bulat di atas dan nyala api di dalam kaca.
Di sebelahnya, gambar yang lebih kecil lagi, kunang-kunang dengan badan bulat dan dua sayap.
Aku tidak tahu sejak kapan ia mulai menggambar kunang-kunang di sebelah lenteranya. Aku tidak pernah bertanya.
Aku meletakkan kantong roti di meja lab. Enam anak panti langsung menyerbu.
Adikku menoleh ke arahku, tersenyum lebar, senyum yang memperlihatkan gigi kelinci dari Bapak.
“Pagi, Kak.”
“Pagi, Du.”
Aku mengambil satu roti sobek dari kantong, menyobeknya menjadi dua, dan memberikan bagian yang lebih besar kepadanya.
“Kakak udah kenyang,” kataku.
“Bohong.”
“Iya. Makan.”
Ia makan bagian yang besar. Aku makan bagian yang kecil.
Kami melakukan ini setiap Sabtu, dan kami tidak pernah bosan.
Malam itu, pukul sepuluh, apartemen unit 41-C di Kuningan.
Aku berbaring di ranjang dengan piyama sutra abu-abu.
Lampu utama sudah mati, begitu juga lampu tidur kiri, lampu tidur kanan, dan lampu meja rias. Semuanya sudah mati sejak berbulan-bulan lalu, satu per satu, setiap kali aku merasa siap.
Yang tersisa hanya satu, kunang-kunang kaca kuning di nakas di samping ranjang. Lampu yang dikirim adikku di ulang tahunku yang ketiga puluh satu dengan kartu semoga lampunya bisa istirahat. Lampu yang katanya ada di profil LinkedIn Ibu, padahal aku tidak punya LinkedIn.
Cahayanya kuning, redup, hangat.
Aku menatapnya lama.
Di saku kiri piyamaku, di atas jantung, ada kertas lecek yang dilipat empat. Empat baris lagu, satu baris pensil dan tiga baris tinta biru. Aku selalu memindahkannya dari baju ke baju, setiap hari, setahun ini.
Ponselku menyala di nakas, di sebelah kunang-kunang kaca.
Du: Kak. Udah tidur?
Aku: Belum.
Du: Cil udah tidur. Dia ngorok. Bilang ke dia jangan, nanti dia malu.
Aku: Kakak bilang besok pagi. Di depan direksi.
Du: Kak.
Aku: Bercanda.
Du: Kak, lampunya?
Aku menatap pertanyaan itu.
Setahun lalu, di malam ulang tahunnya yang kedua puluh delapan, di tangga darurat antara lantai 58 dan 57, adikku memejamkan mata di depan lilin biru di atas cupcake yang dibelikan Cecil. Ia meminta dua hal.
Cecil yang menceritakan itu kepadaku, tiga bulan lalu, di sofa ruanganku sambil mengelus perutnya. Adikku memberi tahu Cecil permintaan pertamanya setelah mereka menikah, karena Cecil bertanya, dan ia sudah berjanji akan selalu menjawab kalau ditanya.
Permintaan pertamanya: Semoga Kakak bisa tidur dengan lampu mati.
Aku menatap kunang-kunang kaca kuning di nakas.
Lalu aku mengulurkan tangan dan menekan tombolnya.
Klik.
Gelap.
Gelap total. Lampu-lampu Jakarta dari jendela tertutup tirai tebal, dan lampu lorong apartemen tidak masuk dari celah pintu.
Gelap yang dulu membuatku tidak bisa bernapas. Gelap yang membuatku enam belas tahun lagi, sendirian di kamar terlalu besar di rumah keluarga Redcliff, tanpa siapa pun untuk diberi senter.
Napasku melambat, satu-satu.
Jantungku berdebar, lalu tenang.
Di dalam gelap, aku menyentuh kertas lecek di saku kiri piyamaku, di atas jantung.
Lalu aku mengatakannya, pelan, ke langit-langit yang tidak terlihat, ke kamar yang gelap, ke adikku di balik tembok setebal dua puluh senti, ke Bapak dan Ibu di TPU Kalimulya, ke anak laki-laki kurus dengan sandal jepit yang talinya disambung peniti di teras panti lima belas tahun lalu.
“Gelap itu cuma lampu yang lagi istirahat.”
Gelap itu tidak menjawab, tetapi gelap itu juga tidak menakutkan.
Gelap itu hanya gelap. Lampu yang lagi istirahat, karena besok pagi matahari datang.
Dan besok pagi, pukul enam, akan ada yang mengetuk pintu unit 41-C dengan nampan berisi kopi hitam dengan dua es batu dan teh manis yang esnya penuh. Kami akan bertukar dan tidak akan pernah membicarakan kenapa.
Aku mengambil ponsel dalam gelap. Cahaya layarnya kecil, biru, cukup untuk mengetik.
Aku: Istirahat, Du.
Aku: Lampunya istirahat.
Tiga titik muncul di layar, lalu hilang. Muncul lagi.
Du: ❤️
Du: Selamat tidur, Kak.
Du: Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana.
Aku meletakkan ponsel di nakas dengan layar menghadap ke bawah.
Gelap lagi.
Dari balik tembok setebal dua puluh senti, pelan, nyaris tidak terdengar, ada suara laki-laki yang bersenandung. Nadanya naik turun seperti ayunan, dengan lompatan kecil di bar ketiga.
Aku memejamkan mata dan ikut bersenandung, pelan, di dalam gelap.
Lagu kami sampai di bait ketiga, lalu turun perlahan, sampai ke nada dasar, nada pulang.
Selesai.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun, aku tidur dengan semua lampu mati.
Dan aku tidak takut.
TAMAT
- 1 Lantai 58
- 2 Nama yang Seharusnya Nggak Ada
- 3 Mas OB
- 4 Catur di Lantai 60
- 5 Kopi Ketujuh
- 6 Lift Jam Sembilan Malam
- 7 Kelas Malam
- 8 Perpustakaan Salemba
- 9 Sandera
- 10 Lagu yang Nggak Boleh Dinyanyikan
- 11 Kerah
- 12 Truth or Dare di Puncak
- 13 Asisten Darurat
- 14 Peri Papan Tulis
- 15 Blackout
- 16 Dia OB Lantai Aku
- 17 Hujan di Rooftop
- 18 OB atau Bukan
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Lentera
- 21 Perang Dingin
- 22 Pemilik Paten yang Tetap Ngepel
- 23 Adikku di Australia
- 24 Belum, Cil
- 25 Mesin Penghancur Kertas
- 26 Ulang Tahun Ke-31
- 27 Kupu-Kupu Biru
- 28 Mata-Mata
- 29 Orang Tanpa Keluarga
- 30 Senter Kuning
- 31 Kakak Asuh
- 32 Raja yang Menyerah
- 33 Gambir
- 34 Kamu Pacaran Sama Adikku?!
- 35 Rapat Direksi
- 36 Sidang Tesis
- 37 Sepatu Baru
- 38 Surat untuk Kakak di Australia
- 39 Enam Puluh Lantai
- 40 Mas OB
- 41 Epilog: Lampu yang Istirahat reading