Chapter Forty

Mas OB

POV: Cecil

Tiga bulan kemudian, Sabtu pagi, di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda, Depok.

Pernikahan kami digelar di bawah pohon jambu air.

Bukan di ballroom hotel bintang lima di Sudirman, yang ditawarkan Opa dengan diskon seratus persen karena hotelnya milik Redcliff Group. Bukan juga di Grand Atrium lantai 3 Red Tower, yang ditawarkan Nat dengan alasan biar semua karyawan bisa dateng.

Di halaman panti, di bawah pohon jambu air yang cabangnya menjulur sampai ke atap. Buahnya yang merah muda bergelantungan, dan semutnya sudah diusir Bang Mamat dengan kapur ajaib sejak subuh.

Pandu yang ingin di sini. Ia bertanya kepadaku lebih dulu, tentu saja.

“Cil, boleh nggak kita nikah di panti? Di bawah pohon jambu? Tempatnya kecil. Tamunya nggak bisa banyak. Nggak ada AC.”

Aku menatapnya ketika itu, di sofa abu-abu di unit 41-D, dengan cincin safir di jari manisku yang bagian dalamnya terukir tanya aku.

“Kenapa di sana?”

“Karena di teras itu Kakak pergi,” katanya pelan. “Dan di teras itu juga aku mau mulai yang baru.”

Aku menjawab ya. Tentu saja aku menjawab ya.


Halaman panti yang kecil itu disulap menjadi sesuatu yang tidak kusangka bisa dibuat dari halaman sekecil itu.

Pagar biru muda dililit melati putih, tiga ratus tangkai lagi. Tiara yang membelinya, dari Rawa Belong, pukul empat pagi. Kali ini ia membawa dua sepupunya untuk membantu menyusun, dan bulu mata palsunya tidak lepas.

Kursi-kursi plastik putih berbaris di halaman. Seratus lima puluh kursi, karena hanya muat sebanyak itu. Tamunya keluarga, teman, anak-anak panti, karyawan lantai 58, tujuh OB vendor yang semuanya datang memakai seragam merah marun yang baru disetrika, dan tiga dosen dari UI.

Di sudut halaman, di depan dinding yang dulu penuh gambar anak-anak, ada photobooth. Photobooth-nya berbentuk lift, dibuat dari kardus bekas kulkas yang dicat abu-abu metalik, dengan panel tombol yang digambar dengan spidol hitam. Di atas pintu kardusnya tertempel angka: 58.

Bang Mamat membuatnya sendiri, tiga malam berturut-turut, di ruang istirahat OB lantai B2.

“Tema Cinta Lantai 58!” teriak Bang Mamat ke mikrofon dari panggung kecil di bawah pohon jambu. Ia memakai beskap hitam sewaan dari Tanah Abang. Kancingnya ketat di bagian perut, dan blangkonnya kebesaran sampai menutupi alis. “Dengan segmen tambahan Reuni Keluarga! Dan segmen bonus Peri Papan Tulis!”

Para tamu tertawa.

Dari kamar belakang panti, kamar yang dulu milik Nat dan Pandu dan kini menjadi ruang ganti pengantin, aku mendengar tawa itu. Aku duduk di ranjang susun besi biru muda, di ranjang bawah yang paling dekat jendela, memakai kebaya putih gading.

Mama berdiri di depanku, membetulkan sanggulku untuk kesepuluh kalinya.

“Udah, Ma.”

“Belum. Ada satu rambut yang lepas.”

“Ma, itu anak rambut. Emang nggak bisa diatur.”

“Semua bisa diatur kalau sabar.” Mama menyelipkan anak rambut itu dengan jepit kecil. “Mama udah bilang ke kamu. Kayak adonan.”

Pintu kamar terbuka.

Nat masuk dengan kebaya hijau sage dan rambut disanggul rendah. Di kerah kebayanya tersemat bros bintang safir milik Oma.

Di sanggulnya tidak ada jepit kupu-kupu biru.

Nat berjalan ke arahku, berhenti di depan ranjang, lalu mengulurkan tangannya. Di telapaknya ada jepit rambut plastik kupu-kupu biru, dengan satu sayap yang retak dan disambung selotip bening yang sudah menguning.

“Sesuatu yang dipinjam,” kata Nat.

Aku menatap jepit itu.

“Nat...”

“Itu tradisi, kan? Sesuatu yang lama, sesuatu yang baru, sesuatu yang dipinjam, sesuatu yang biru.” Nat tersenyum. “Jepit ini lama. Jepit ini biru. Dan jepit ini dipinjam.”

“Ini punya lo.”

“Punya kita.” Nat melirik ranjang susun di belakangku, ranjang yang dulu milik dirinya dan adiknya. “Lima belas tahun dijaga Du di dompetnya. Udah balik ke Kakak. Sekarang Kakak pinjemin ke kamu.”

Ia berjongkok di depanku dan memasang jepit kupu-kupu biru itu di sanggulku, di sisi kiri, di belakang telinga.

Jepit itu terlalu kecil untuk sanggul pengantin, dan sayapnya yang retak miring.

Mama melihat jepit itu dan membuka mulut hendak membetulkannya. Nat mengangkat tangan.

“Biarin, Bu Rosa,” kata Nat pelan. “Biarin miring. Kakak pakai miring di Gambir. Du biarin miring di taksi. Sekarang dia juga pakai miring.”

Mama menatap Nat, lalu aku, lalu jepit kupu-kupu biru yang miring di sanggulku.

Mama menangis.

“Ya Allah,” kata Mama sambil menyeka mata dengan ujung selendang. “Mama nggak nangis. Mata Mama kemasukan bedak.”


Aku berjalan ke pelaminan dari teras panti.

Teras yang sama, kini dengan lantai keramik baru dan atap genteng merah. Di teras itulah, lima belas tahun lalu, seorang anak laki-laki berumur dua belas tahun berdiri dengan sandal jepit yang talinya disambung peniti dan memandangi mobil hitam yang pergi.

Mama menggandeng tangan kiriku. Mama memakai kebaya ungu, warna favoritnya, sewarna dengan daster yang ia pakai ketika berkata nikahin di dapur Bintaro.

Kami turun dari teras, dua anak tangga, ke halaman.

Seratus lima puluh orang berdiri.

Kulihat mereka satu per satu, di bawah sinar matahari pukul sembilan pagi yang menyelinap lewat daun-daun pohon jambu.

Opa di barisan depan, berdiri dengan tongkat. Ia menolak duduk di kursi roda hari ini. Katanya ini pernikahan cucu saya, saya berdiri.

Bu Ratna di sebelah Opa, dengan kerudung krem baru. Di sekelilingnya ada delapan anak panti dengan baju batik seragam. Dimas paling depan, dengan lutut yang kali ini tidak berkoreng.

Tujuh OB berseragam merah marun di barisan kedua. Mas Ujang menggendong anaknya yang sudah bisa duduk dan sekarang sedang mengunyah ujung selendang orang di depannya.

Pak Joko memakai kemeja batik. Yudhis, dengan kacamata baru, berdiri di sebelah Tiara. Wajahnya memerah setiap kali Tiara menoleh kepadanya, dan aku tidak tahu sejak kapan itu terjadi. Mbak Rani dengan bayinya, Pak Hardiman dengan permen jahe, Bonar dengan teriakan “HORAS!” yang langsung dibalas pelototan Prof. Harun.

Prof. Harun berdiri di barisan dosen. Di sebelahnya ada laki-laki tua yang wajahnya sangat mirip dengannya, dengan alis tebal seperti dua ulat bulu, tetapi rambutnya sudah putih semua.

Adiknya, dari Medan.

Dan Nat, di barisan depan sebelah kanan. Kebaya hijau sage, bros bintang safir. Matanya basah, tetapi ia tersenyum.

Di ujung jalan setapak di antara kursi-kursi plastik, di bawah pohon jambu air, di depan panggung kecil yang dihiasi melati putih, seorang laki-laki berbeskap putih gading berdiri menungguku.

Rambutnya rapi, hasil potongan tukang cukur sungguhan. Sepatunya kulit hitam, sepatu pemberianku, ukuran empat puluh dua.

Di saku beskapnya ada tonjolan kecil, senter kuning.

Ia melihatku berjalan ke arahnya, dan wajahnya berubah. Bukan senyum setengah, bukan senyum penuh, melainkan senyum yang belum pernah kulihat. Senyum orang yang sedang memandangi sesuatu yang tidak ia percaya boleh ia miliki.

Aku berjalan perlahan, dengan Mama di sebelahku.

Ketika aku sampai di depannya, Mama melepas tanganku. Mama meletakkan tanganku di tangannya, lalu menepuk punggung tangan kami dua kali.

“Jangan kabur,” kata Mama kepadanya.

“Nggak, Bu.”

“Mama tahu.” Mama tersenyum. “Mama lihat cara kamu ngaduk adonan.”


Upacaranya sederhana. Penghulu dari KUA Depok yang suaranya serak karena sudah menikahkan tiga pasangan sejak subuh. Mama sebagai wali, karena ayahku tidak ada, dan tidak ada yang mencarinya. Opa dan Prof. Harun sebagai saksi.

Ijab kabul diucapkan dalam satu tarikan napas.

Ketika penghulu berkata sah, seratus lima puluh orang di halaman panti menyahut sah bersamaan. Bang Mamat berteriak paling keras, sampai mikrofonnya berdenging ngiiiing panjang. Anak Mas Ujang kaget dan mulai menangis.

Lalu janji kami.

Itu bukan bagian dari upacara resmi. Itu permintaanku. Aku bertanya kepadanya lebih dulu, tentu saja, dan ia menjawab ya.

Ia lebih dulu.

Ia mengeluarkan kertas kecil dari saku beskapnya, kertas bergaris sobekan buku tulis yang dilipat empat. Ia membukanya, menatap kertas itu lama, lalu melipatnya lagi dan memasukkannya kembali ke saku.

“Aku udah nulis,” katanya kepadaku. Suaranya pelan, tetapi mikrofon kecil di kerah beskapnya membuat seratus lima puluh orang mendengarnya. “Tapi aku lupa semuanya.”

Para tamu tertawa pelan.

“Jadi aku bilang yang aku inget aja.”

Ia menggenggam kedua tanganku.

“Aku janji tanya kamu,” katanya. “Setiap hal. Soal kamu, soal kita, soal apa pun yang bakal ngubah hidup kamu. Aku nggak bakal mutusin sendiri lagi. Aku udah terlalu lama mutusin sendiri.”

Di barisan depan, Nat menutup mulut dengan tangan.

“Aku janji bikin kopi kamu setiap pagi,” lanjutnya. “Satu sendok gula, krimer setengah. Sampai kita tua. Sampai tangan aku gemeter kayak Pak Hardiman.”

Pak Hardiman di barisan keempat tertawa sambil terbatuk.

“Dan aku janji...” Ia diam. Matanya basah. “Aku janji nggak bakal kabur. Kalau mobil kita disita, kalau rumah kita bocor, kalau aku jatuh dari pohon jambu dan alisku robek lagi...” Ia tersenyum. “Aku nggak bakal kabur, Cil. Aku bakal tetep di sini, kayak pohon ini.”

Ia melirik ke atas, ke pohon jambu air yang cabangnya menaungi kami dari matahari pukul sembilan pagi.

“Pohon ini udah di sini dari sebelum aku lahir. Aku pernah jatuh dari sini. Kakak pernah gendong aku dari sini ke puskesmas. Dimas jatuh dari sini tiga bulan lalu. Dan pohonnya masih di sini.”

Ia menatapku lagi.

“Aku mau jadi kayak pohon ini buat kamu, Cil.”

Halaman panti hening.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa memandanginya dengan mata yang sudah mengaburkan segala sesuatu di belakangnya, seperti tanpa kacamata, padahal kacamataku masih terpasang.

Lalu giliranku.

Aku tidak menulis apa-apa. Aku sudah tahu apa yang ingin kukatakan sejak di tangga darurat, pada malam ulang tahunnya, ketika ia meniup lilin biru dan berkata udah lama nggak ada yang...

“Kamu tahu,” kataku. Suaraku serak, tetapi aku tidak peduli. “Hari pertama aku lihat kamu, di pantry lantai 58, aku bilang kamu lumayan. Lumayan buat cuci mata pagi-pagi.”

Para tamu tertawa.

“Terus kamu nanya, kopinya mau pakai gula, Bu?” Aku tersenyum. “Itu flirt terburuk yang pernah aku terima seumur hidup.”

Tawa mereka makin keras. Bang Mamat di panggung tertawa sampai blangkonnya miring.

“Terus aku bilang ke cermin, lumayan, cuma lumayan. Tiap hari, selama dua bulan.” Aku diam. “Aku bohong ke cermin. Aku bohong ke Nat. Aku bohong ke diri aku sendiri. Kamu bukan lumayan.”

Aku menarik napas.

“Kamu orang yang naik turun enam puluh lantai tangga darurat bawa brosur karena aku bohong soal lift. Yang nangkep aku waktu hak sepatuku patah, terus benerin pakai paku yang kamu bawa di saku. Yang makan roti dari tempat sampah di tangga darurat dan nyisihin bagian yang lebih gede buat seseorang yang nggak ada. Yang nyelimutin aku pakai hoodie waktu aku ketiduran di meja. Yang berhenti, dua kali, tiga kali, karena kamu nggak mau aku ngasih semuanya ke orang yang masih nyimpen rahasia.”

Suaraku pecah. Kubiarkan saja.

“Kamu orang yang ngajarin aku bedanya diem sama nyangkal,” bisikku. “Diem itu nyimpen. Nyangkal itu ngebuang.”

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Aku nggak bakal nyangkal kamu lagi. Ke siapa pun. Nggak ke Tiara, nggak ke grup Sobat Red Tower, nggak ke cermin.” Aku tersenyum. “Bayaran kamu udah lunas. Kopi, senyum, aku, bukan saya. Semuanya udah lunas. Sekarang aku yang bayar.”

“Bayar apa, Cil?”

“Seumur hidup aku,” kataku. “Itu bayarannya.”

Ia tidak bisa berkata apa-apa. Matanya basah dan berkilau di bawah sinar matahari yang menyelinap lewat daun jambu.

Aku mencondongkan badan sedikit dan menurunkan kacamataku satu senti dari pangkal hidung. Persis seperti di pantry lantai 58 pada hari pertama, persis seperti di lift pukul sembilan malam, di ruang arsip, di setiap kali aku menggodanya.

Kali ini aku tidak menggodanya.

“Aku sayang kamu,” bisikku, “Mas OB.”


Halaman panti meledak.

Seratus lima puluh orang berdiri, bertepuk tangan, berteriak, menangis. Bang Mamat jatuh dari kursi di panggung, benar-benar jatuh, bukan pura-pura. Tiga OB berseragam merah marun berlari untuk mengangkatnya. Blangkonnya hilang ke balik pohon jambu.

Dan ia menciumku.

Di bawah pohon jambu air, di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda, di depan teras tempat mobil hitam itu pergi lima belas tahun lalu.

Ciumannya pelan dan lama, seperti orang yang sedang menyimpan sesuatu supaya tidak lupa. Seperti di rooftop ketika hujan, seperti di Honda Jazz merah dengan boneka kucing yang mengangguk-angguk, seperti di rooftop lagi dengan lentera raksasa di dinding gedung di bawah kaki kami.

Dari barisan depan, di tengah tepuk tangan dan teriakan, kudengar satu suara. Pelan, serak, menangis, ditujukan ke langit.

Suara Nat.

“Pak. Bu. Lihat. Dia udah gede.”


Resepsinya juga di halaman panti, dari siang sampai sore.

Lapis legit dua puluh empat lapis buatan Mama diletakkan di meja panjang di depan photobooth lift kardus. Lapisan kedua puluh empat, yang paling atas, buatan Pandu sendiri, di dapur Mama di Bintaro pukul tiga pagi. Lapisannya rata sempurna.

Mama memotong potongan pertama untuk Opa. Opa memakannya sambil berdiri bertopang tongkat, lalu berkata kepada Mama, “Bu Rosa, ini lebih enak dari kue di hotel saya,” dan Mama menangis lagi karena bedak.

Prof. Harun dan adiknya duduk di kursi plastik di sudut, makan lapis legit sambil membicarakan rumah di Pematang Siantar. Dua laki-laki tua dengan alis seperti ulat bulu, tertawa di bawah pohon jambu.

Bang Mamat, yang blangkonnya sudah ditemukan di balik pohon jambu tetapi kini tersangkut daun jambu di atasnya, naik ke panggung kecil dengan mikrofon dan buku kecil bersampul Doraemon.

“Hadirin!” teriaknya. “Segmen terakhir! Pengumuman resmi!”

Ia membuka buku Doraemon itu dengan tangan gemetar.

“Utang Du. Bakwan empat, tahu isi tiga, pisang goreng dua, plus bakwan tambahan dua biji karena inflasi.” Bang Mamat diam dengan dramatis. “Tiga puluh sembilan ribu rupiah.”

Para tamu tertawa.

Pandu berdiri dari kursinya di sebelahku, merogoh saku beskap, dan mengeluarkan dompet. Dompet baru pemberianku, kulit cokelat. Dompet lama yang kancing magnetnya lemah sudah disimpan di kotak sepatu bersama sepatu bolong dan dua puluh tiga amplop.

Ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu.

“Bang,” katanya. “Hari ini aku bayar.”

Bang Mamat menatap uang itu.

Lalu ia menggeleng pelan, menutup buku Doraemon, dan menyobek satu halaman dari buku itu. Halaman yang bertuliskan Du — 39.000 dengan huruf besar-besar dan miring seperti tulisan anak SD.

Ia turun dari panggung, berjalan ke arah kami, dan menyerahkan halaman itu kepada Pandu.

“Bukan buat dibayar, Du,” katanya serak. “Buat dibingkai. Taruh di dinding lab lu. Biar lu inget, lu pernah utang bakwan sama Mamat waktu lu masih OB.” Ia menyeka mata dengan lengan beskapnya. “Dan biar anak-anak lu nanti nanya, Pak, ini apa? Terus lu cerita.”

Pandu menerima halaman itu dan memegangnya seperti memegang sesuatu yang suci.

Lalu ia memeluk Bang Mamat, lama sekali. Pelukan yang beraroma minyak kayu putih, bawang goreng, dan melati putih.

“Makasih, Bang,” bisiknya. “Udah nemenin aku ngais sampah.”

Bang Mamat menangis seperti motor dua tak, lagi.


Buket melati putih yang kulempar ditangkap Tiara.

Bukan karena ia sengaja. Ia sedang membetulkan bulu mata palsunya dan tidak melihat buket itu datang, sehingga buket itu jatuh tepat di pelukannya.

Ia menatap buket itu, lalu menoleh ke sebelahnya.

Yudhis berdiri di sebelahnya, dengan kacamata baru dan wajah merah dari leher sampai ujung rambut.

Tiara menatap Yudhis. Yudhis menatap Tiara.

“Delapan puluh persen,” gumam Yudhis, entah kenapa. “Tengah-tengah.”

Tiara berkedip-kedip cepat, seperti kipas angin yang korsleting.

Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Tetapi Nat bilang ia melihat mereka berdua duduk bersama di photobooth lift kardus selama satu jam penuh. Yudhis menjelaskan konduktivitas termal grafit kepada Tiara dengan jari di udara, dan Tiara mendengarkan dengan mata berbinar, seperti orang yang mendengarkan puisi.


Sore itu, ketika matahari mulai turun dan cahayanya berubah jingga hangat di sela daun jambu, delapan anak panti naik ke panggung kecil.

Dimas membawa ukulele, yang ia pelajari selama tiga bulan terakhir dari video YouTube khusus untuk hari ini.

Mereka menyanyikan sebuah lagu, yang nadanya naik turun seperti ayunan, dengan lompatan kecil di bar ketiga.

Kunang-kunang, jangan pulang,
lampu kecil di tanganmu,
kalau gelap datang menjelang,
Kakak jadi lampumu.

Nat di barisan depan berhenti bernapas.

Bu Ratna yang mengajarkan lagu itu kepada anak-anak. Nat yang memberikan liriknya kepada Bu Ratna minggu lalu, lengkap dengan bait ketiga yang tertulis di kertas lecek, yang selalu ia simpan di saku kiri bajunya.

Kunang-kunang, sudah pulang,
lampu kecil di tanganku,
gelap pergi, pagi datang,
Adik jadi lampuku.

Pandu berdiri dari kursinya dan menarik tanganku.

“Dansa, Cil.”

“Aku nggak bisa dansa.”

“Aku juga nggak bisa.”

Kami berdansa di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda, di bawah pohon jambu air, diiringi delapan anak panti dan satu ukulele yang nadanya sumbang setengah. Langkah kami seperti jerapah mabuk, karena aku memakai sepatu baru dan ia tidak tahu cara memimpin.

Tiga detik kemudian, Nat menarik tangan Opa. Opa melepas tongkatnya, dan mereka ikut berdansa, pelan, seorang kakek tujuh puluh delapan tahun dan cucunya, dengan Nat memegangi Opa supaya tidak jatuh.

Lalu Mama menarik Bu Ratna. Lalu Prof. Harun menarik adiknya. Lalu Bang Mamat menarik Pak Joko, yang protes tetapi akhirnya ikut. Lalu semua orang.

Seratus lima puluh orang berdansa di halaman panti yang kecil, tidak ada yang bisa berdansa, saling menginjak kaki, tertawa.

Di saku beskap suamiku ada tonjolan kecil, senter kuning.

Matahari terbenam di balik atap genteng merah panti, dan lampu-lampu jalan di gang mulai menyala satu per satu.

Ketika lagu itu selesai, nadanya tidak berhenti di tengah. Nadanya selesai, turun perlahan, sampai ke nada dasar, nada pulang.