Chapter Six
Lift Jam Sembilan Malam
POV: Cecil
“Lantai 58 dilap pakai tangan. Hari ini. Sebelum jam sepuluh.”
Selasa pagi pukul tujuh lewat lima, Nat mengucapkan kalimat itu sambil membuka laptop, tanpa menoleh kepadaku sama sekali. Nadanya seperti orang yang menyuruh membeli meterai.
Aku berdiri di depan mejanya dan menunggu kalimat lanjutannya. Mungkin ada ya ampun, bercanda. Mungkin ada maksudnya pakai mesin poles yang kepalanya kayak tangan.
Tidak ada lanjutannya.
“Bu,” kataku hati-hati. “Lantai 58 itu dua ribu tiga ratus meter persegi.”
“Saya tahu luasnya.”
“Dan ada mesin pel. Mesin pel otomatis yang kemarin kita beli dua ratus juta. Yang ada sensor debunya. Yang bisa ngomong ‘permisi’ kalau ketemu kaki orang.”
“Mesinnya ninggalin garis.”
Aku menatap lantai marmer abu-abu di bawah sepatuku. Lantainya bersih sekali, mengilap, sampai aku bisa melihat bayangan rok pensilku sendiri di sana. Tidak ada garis. Satu-satunya garis di lantai ini adalah garis yang ditarik Nat di dalam kepalanya.
“Bu...”
“Cecilia.” Akhirnya ia mengangkat kepala. Wajahnya datar dan rapi, tanpa celah. “Sampaikan ke OB.”
Aku tidak menjawab baik, Bu. Aku hanya keluar.
Aku menyampaikannya kepadanya di pantry pukul tujuh lewat lima belas. Kalimatnya kupilih dengan sangat hati-hati, seperti mendorong kursi roda di jalan menurun.
“Bu Natasha minta lantai lorong sama area depan... dilap. Manual. Pakai kain.” Aku berhenti. “Pakai tangan.”
Ia sedang menuang air panas ke teko. Tangannya berhenti sedetik, lalu melanjutkan menuang sampai tepat di garis teko.
“Sampai jam berapa, Mbak?”
Hanya itu yang ia tanyakan. Ia tidak bertanya kenapa, tidak bertanya serius?, tidak menggerutu sedikit pun.
“Jam sepuluh.”
“Baik, Mbak.”
Aku berdiri di pintu pantry lebih lama daripada yang perlu.
“Kamu nggak protes?”
Ia menoleh. Sedetik kulihat sesuatu yang aneh di matanya, seolah ia sedang menimbang apakah jawabannya akan menyakitiku.
“Protes ke siapa, Mbak?”
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Pukul delapan pagi, ketika karyawan lantai 58 mulai berdatangan, ia sudah berlutut di lorong.
Ember kecil berisi air sabun di sampingnya. Kain lap mikrofiber biru di tangan kanan, kain kering di tangan kiri. Ia mengelap lantai marmer itu petak demi petak dengan gerakan melingkar yang rapi, mengeringkannya, lalu maju sejengkal. Lututnya dialasi kardus yang dilipat dua, kardus yang sama dengan yang ada di dalam sepatunya.
Dua puluh tujuh karyawan lantai 58 melewatinya pagi itu. Analis keuangan, manajer proyek, staf legal, dua anak magang dari Binus yang masih mengenakan lanyard warna-warni.
Ada yang pura-pura tidak melihat. Ada yang langkahnya menjadi pelan dan kikuk, seperti melewati orang yang sedang salat. Ada dua perempuan dari tim branding yang berbisik-bisik sambil cekikikan, lalu salah satunya mengeluarkan ponsel dan memotret.
Aku berdiri di balik mejaku, pura-pura mengetik email.
Pukul sembilan kurang sepuluh, Bang Mamat naik ke lantai 58 membawa galon. Ia melihat OB baru itu berlutut di lorong, dan galonnya nyaris jatuh.
“Astaghfirullahaladzim, Du.” Ia meletakkan galon, lalu berbisik keras. Bisikan Bang Mamat bisa terdengar sampai lantai 57. “Ini lantai 58 apa lantai Masjid Istiqlal? Siapa yang nyuruh?”
“Nggak apa-apa, Bang.”
“Nggak apa-apa gimana? Lutut lu tuh, Du, lutut! Lutut itu aset! Gua tahun 2009 ngepel tangga darurat sampe lantai 30, sekarang kalau mau sujud harus nyicil!”
“Bang Mamat,” kataku dari balik meja. Suaraku keluar lebih tajam daripada yang kumaksud. “Galonnya.”
Bang Mamat menoleh kepadaku, lalu ke ruang Nat, lalu ke OB baru itu. Wajahnya berubah dari marah menjadi mengerti, lalu menjadi sedih. Ia mengangguk pelan, mengangkat galonnya lagi, kemudian berjalan ke pantry sambil menggerutu kepada langit-langit.
“Ya Allah, kasihanilah hamba-Mu yang di bawah ini, dan berilah hidayah kepada hamba-Mu yang di dalam ruangan itu...”
Pukul sembilan lewat lima, rapat direksi bulanan hampir dimulai di ruang Crimson. Sebelas direksi akan melewati lorong ini, termasuk Pak Hardiman, termasuk Reynard yang senang sekali menonton orang yang sedang jatuh.
Ia masih berlutut di tengah lorong, tepat di jalur mereka.
Aku berdiri dari kursi. Aku berjalan ke arahnya perlahan, dengan sepatu nude tujuh senti dan langkah anggun, seperti orang yang hendak mengambil dokumen di printer ujung lorong.
Ketika lewat di sebelahnya, ujung sepatuku menyenggol ember air sabun.
Senggolannya tidak keras, tetapi cukup.
Ember itu miring, lalu terguling. Air sabun tumpah ke lantai marmer, mengalir ke mana-mana seperti sungai kecil yang tersesat, ke bawah meja resepsionis lantai, ke depan pintu lift, ke arah karpet di depan ruang Crimson.
“Aduh,” kataku. Datar. Profesional. “Maaf.”
Ia mengangkat kepala dan menatapku dari bawah. Matanya sedikit lebih lebar daripada biasanya.
“Waduh, licin,” kataku cukup keras untuk seluruh lorong. “Bahaya, nih. Mbak Rani, tolong pasang papan Awas Lantai Licin ya. Rapat direksi pindah ke ruang Ruby di lantai 57 aja. Saya yang info ke Bu Natasha.”
Mbak Rani dari tim administrasi berlari mengambil papan kuning. Dua anak magang Binus langsung menepi. Pengumuman pindah ruangan kukirim lewat grup WhatsApp direksi dalam tiga puluh detik.
Lalu aku menunduk kepadanya, yang masih berlutut di tengah genangan air sabun.
“Kerjaan kamu jadi tambah, ya,” bisikku. “Tapi lorongnya ditutup. Pakai mesin pel aja. Lebih cepet. Kalau Bu Natasha nanya, bilang aku yang suruh. Soalnya darurat.”
Ia terdiam lama. Lalu, untuk kedua kalinya sejak ia bekerja di sini, ujung bibirnya terangkat. Kali ini lebih jelas, sungguh-sungguh senyum kecil yang miring dan malu-malu, senyum orang yang tidak terbiasa dibela.
“Makasih, Mbak,” katanya pelan.
“Aku nggak ngapa-ngapain. Aku nyenggol ember. Ceroboh.”
“Iya, Mbak. Ceroboh.”
Aku kembali ke mejaku dengan wajah paling profesional yang kumiliki. Jantungku berdebar, pasti karena adrenalin setelah berbohong di depan dua puluh tujuh orang.
Pukul sembilan lewat dua puluh, Nat keluar dari ruangannya dan melihat papan kuning Awas Lantai Licin di lorong. Ia menatapku, dan aku membalas tatapannya.
“Ember tumpah, Bu,” kataku. “Saya yang nyenggol.”
Ia menatapku tiga detik penuh. Kemudian ia berjalan ke lift tanpa berkata apa-apa, menuju lantai 57, menuju rapat yang dipindahkan.
Ia tahu. Pasti tahu.
Dan ia tidak berkata apa-apa.
Pukul dua belas lewat sepuluh, aku mencarinya.
Bukan mencari. Aku hanya butuh udara, dan tangga darurat adalah satu-satunya tempat di lantai 58 yang tidak ber-AC. Kadang aku butuh tempat yang tidak dingin.
Aku membuka pintu tangga darurat perlahan, lalu mendengar gemeresik plastik dari bawah. Aku berhenti di bordes lantai 58 dan mengintip lewat celah pegangan tangga.
Ia duduk di anak tangga antara lantai 57 dan 56, sendirian, di bawah lampu neon putih pucat. Di seragam merah marunnya ada bercak air sabun yang sudah mengering. Di pangkuannya ada sebungkus roti.
Roti dalam plastik bening dengan stiker oranye kecil.
Dari sini aku tidak bisa membaca tulisannya. Tetapi aku tahu roti apa itu. Kemarin pagi aku berdiri di balik pintu ruangan Nat yang setengah terbuka, dan aku melihat semuanya: kopi kedelapan, piring kecil, roti, tempat sampah, bunyi tuk.
Ia mengambil roti itu dari tempat sampah.
Ia membuka plastiknya perlahan, seperti orang membuka kado. Rotinya roti sobek, empat bagian. Cokelatnya sedikit bocor ke tepi plastik.
Ia menyobek roti itu menjadi dua.
Bagian yang lebih besar, yang cokelatnya lebih banyak, ia letakkan di atas plastik di anak tangga sebelahnya. Bagian yang lebih kecil ia pegang.
Lalu ia diam, memandangi bagian yang lebih besar itu, seolah menunggu seseorang duduk di sebelahnya dan mengambil roti itu.
Tidak ada yang datang.
Ia mengunyah bagian kecilnya pelan-pelan. Habis.
Bagian besarnya masih di sebelahnya. Ia memandanginya lama. Lama sekali, sampai lampu neon di atasnya berkedip sekali, lalu dua kali.
Akhirnya ia mengambil bagian besar itu juga, lalu memakannya. Pelan dan hati-hati, seakan takut rotinya habis terlalu cepat.
Dan ia tidak menangis. Wajahnya tenang dan kosong. Ia mengunyah sambil menatap dinding beton di depannya.
Aku mundur dari celah pegangan tangga, bersandar ke dinding, dan menutup mulut dengan tangan.
Aku tidak mengerti apa yang baru saja kulihat. Aku hanya tahu dadaku sakit. Sakitnya nyeri dan tumpul, seperti ada yang menekan dengan ibu jari dari dalam.
Itu hanya roti. Roti dari tempat sampah, yang ia beli sendiri dengan uangnya sendiri. Uang seorang OB yang gajinya mungkin hanya sepersepuluh gajiku, OB yang sepatunya diganjal kardus.
Dan ia menyobek roti itu menjadi dua, lalu menyisihkan bagian yang lebih besar untuk seseorang yang tidak ada.
Bukan urusanku, kataku pada diri sendiri, lagi.
Kalimat itu makin hari makin kehilangan tenaga.
Pukul tiga sore, Nat mengirim pesan ke grup roster OB melalui sistem vendor:
OB lantai 58: lembur malam ini sampai pukul 23.00. Poles ulang seluruh lantai lorong dan area depan. — N.R.
Pukul sebelas malam.
Aku membaca pesan itu, lalu membuka sistem roster vendor di laptopku. Aku punya akses admin karena setiap bulan akulah yang menyetujui jadwal OB lantai eksekutif. Pekerjaan kecil yang biasanya hanya kuklik tanpa membaca.
Kuganti 23.00 menjadi 21.00.
Lalu kuubah status pesan aslinya menjadi revisi oleh sekretaris CEO. Kalau Nat memeriksa, dan ia tidak akan memeriksa karena Nat tidak pernah membuka sistem roster OB, ia akan melihatnya sebagai revisi resmi dan mengira mungkin ia sendiri yang meminta revisi saat sedang lelah.
Aku mengeklik simpan.
Jantungku berdebar lagi. Akhir-akhir ini jantungku terlalu sering berdebar untuk hal-hal yang bukan urusanku.
Nat: Kamu pulang jam berapa?
Aku: Jam 9. Ada laporan vendor yang belum beres.
Nat: Laporan vendor apa?
Aku: Yang ada vendornya.
Nat: Cecilia.
Aku: Bu, ini udah jam 8 malam. Di luar jam kantor aku manggil kamu apa?
Nat: ...
Aku: NYONYA. Nyonya pulang aja duluan. Nyonya kemarin tidur jam 1. Mata Nyonya kayak panda kena gusur.
Nat: Kamu ngapain sebenernya?
Aku: Laporan.
Nat: Ember tadi pagi itu bukan nggak sengaja.
Aku: Sepatuku baru. Belum terbiasa. Hak tujuh senti. Kamu tahu sendiri aku jalan kayak jerapah mabok kalau sepatu baru.
Nat: Hm.
Aku: Pulang, Nat. Serius.
Nat: Iya.
Aku: Bohong.
Nat: Kali ini beneran.
Ia benar-benar pulang. Pukul delapan lewat lima belas kulihat lampu ruangannya padam. Nat tidak pernah mematikan lampu ruangannya, jadi pasti sistem gedung yang mematikannya otomatis setelah ia keluar.
Lantai 58 tinggal berisi aku dan dia.
Pukul sembilan tepat, aku keluar dari ruangan kecil di sebelah mejaku. Aku pura-pura baru selesai bekerja, membawa tas dan blazer yang kusampirkan di lengan.
Ia sedang menggulung kabel mesin poles di ujung lorong. Lantainya mengilap seperti cermin, lebih mengilap daripada tadi pagi.
“Udah?” tanyaku.
“Udah, Mbak. Jadwalnya sampai jam sembilan, ternyata.” Ia menatapku. “Direvisi.”
“Oh, ya? Bagus, dong.”
“Mbak yang revisi?”
“Sistemnya kadang error.”
Ia tersenyum kecil dan miring lagi. Yang ketiga kalinya.
Aku berjalan ke lift dan menekan tombol turun. Ketika ia selesai membereskan mesin poles dan berjalan ke lift barang di sebelahnya, aku berbicara tanpa menoleh:
“Bareng aja. Lift barang lambat.”
Ia ragu sebentar, lalu masuk ke lift penumpang di sebelahku.
Pintu menutup. Lift turun dan berhenti di lantai 47. Pintunya terbuka, dan sembilan karyawan Divisi Keuangan masuk bersamaan, lembur akhir kuartal, wajah kusut, dasi longgar, membawa kotak bekas McD.
Lift penuh, dan kami terdorong ke sudut belakang.
Aku di sudut, ia di depanku, tetapi tubuhnya agak miring supaya tidak menghimpitku. Satu tangannya bertumpu di dinding lift di samping kepalaku. Lengannya menjadi pagar antara aku dan bapak-bapak keuangan yang sedang heboh membahas selisih neraca.
Jarak kami mungkin dua jari, mungkin kurang.
Aku bisa mencium aroma sabun batangan itu lagi, ditambah bau lilin poles lantai dan sedikit keringat. Seragamnya tepat di depan wajahku. Kancingnya kancing plastik putih, dan salah satunya benangnya sudah agak longgar.
Aku tidak mundur. Sebenarnya ada ruang setengah senti di belakangku, cukup untuk menempel ke dinding lift dan menciptakan jarak.
Aku tidak memakai ruang itu.
Aku justru bergeser sedikit ke depan. Satu senti, mungkin kurang. Cukup untuk membuat bahuku menyentuh lengannya.
Ia kaku. Aku bisa merasakan otot lengannya menegang di balik kain seragam. Napasnya tertahan sebentar, lalu berlanjut, lebih pelan dan lebih hati-hati.
Aku tidak melihat wajahnya. Aku hanya melihat telinganya dari samping. Telinganya merah, merah sekali, seperti kepiting rebus.
Aku hampir tertawa, tetapi kutahan.
Lantai 30, lantai 22, lantai 15. Satu per satu karyawan keuangan keluar.
Lantai satu. Mereka keluar semua, dan pintu menutup lagi karena kami berdua masih turun ke B2. Aku ke parkiran, ia ke ruang istirahat OB.
Lift tinggal berisi kami berdua.
Ia langsung mundur jauh, sampai ke sudut lain lift. Kedua tangannya di belakang punggung, seperti tentara.
Aku bersandar ke dinding lift dan memandanginya dari balik kacamata.
“Kamu tahu nggak,” kataku santai, “aku takut naik lift kalau malem.”
Ia menoleh, dan wajahnya langsung cemas. Cemas yang tulus, cemas sungguhan.
“Oh. Maaf, Mbak. Saya nggak tahu. Kalau gitu besok-besok saya...”
“Bohong, sih.”
Ia berhenti bicara.
Aku menurunkan kacamata satu senti, lalu menatapnya dari atas bingkai. Pelan, tanpa terburu-buru.
“Aku cuma pengen ditemenin kamu.”
Lift berhenti di B2 dan pintunya terbuka.
Ia tidak bergerak. Wajahnya merah sampai ke leher, mulutnya sedikit terbuka, seperti orang yang lupa cara menutup mulut. Kalau ini kartun, pasti ada asap mengepul dari telinganya.
Aku keluar dari lift lebih dulu, dengan sepatu nude tujuh senti, langkah anggun, tanpa menoleh.
Di belakangku, pintu lift menutup lagi. Ia lupa keluar.
Angka di atas pintu menunjukkan lift naik ke lantai satu, ke lantai dua, ke lantai tiga...
Aku masuk ke mobil, menutup pintu, lalu menyandarkan kepala ke setir.
Kemudian aku tertawa. Tawa yang lepas dan sama sekali tidak elegan, sampai bahuku gemetar dan kacamataku berembun.
“Ya Tuhan,” bisikku kepada setir. “Apa-apaan sih aku ini.”
Aku menyalakan mesin, lalu diam sebentar.
Di kaca, terpantul wajahku sendiri. Wajahku merah, dan aku tersenyum seperti orang bodoh.
“Aku iseng,” kataku kepada pantulan itu. “Iseng doang. Ngetes. Gimana reaksinya OB kalau digodain.”
Pantulanku tidak berkata apa-apa. Tetapi ia juga tidak berhenti tersenyum.
Di ponselku ada notifikasi yang masuk ketika aku masih di lift. Pesan dari nomor yang tidak tersimpan, tetapi empat digit belakangnya kukenali dari daftar kontak OB vendor yang setiap bulan kusetujui.
Mbak, saya ke lantai 12 dulu. Liftnya bawa saya jalan-jalan. Hati-hati di jalan. — P
Kubaca pesan itu tiga kali.
Lalu kusimpan nomornya.
Namanya kutulis Mas OB.
- 1 Lantai 58
- 2 Nama yang Seharusnya Nggak Ada
- 3 Mas OB
- 4 Catur di Lantai 60
- 5 Kopi Ketujuh
- 6 Lift Jam Sembilan Malam reading
- 7 Kelas Malam
- 8 Perpustakaan Salemba
- 9 Sandera
- 10 Lagu yang Nggak Boleh Dinyanyikan
- 11 Kerah
- 12 Truth or Dare di Puncak
- 13 Asisten Darurat
- 14 Peri Papan Tulis
- 15 Blackout
- 16 Dia OB Lantai Aku
- 17 Hujan di Rooftop
- 18 OB atau Bukan
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Lentera
- 21 Perang Dingin
- 22 Pemilik Paten yang Tetap Ngepel
- 23 Adikku di Australia
- 24 Belum, Cil
- 25 Mesin Penghancur Kertas
- 26 Ulang Tahun Ke-31
- 27 Kupu-Kupu Biru
- 28 Mata-Mata
- 29 Orang Tanpa Keluarga
- 30 Senter Kuning
- 31 Kakak Asuh
- 32 Raja yang Menyerah
- 33 Gambir
- 34 Kamu Pacaran Sama Adikku?!
- 35 Rapat Direksi
- 36 Sidang Tesis
- 37 Sepatu Baru
- 38 Surat untuk Kakak di Australia
- 39 Enam Puluh Lantai
- 40 Mas OB
- 41 Epilog: Lampu yang Istirahat