Chapter Thirty Two

Raja yang Menyerah

POV: Natasha

ICU Rumah Sakit Medistra ada di lantai tujuh. Lampunya putih dingin, lantainya vinil hijau pucat, dan baunya alkohol dan sesuatu yang manis busuk yang tidak bisa ditutupi pengharum ruangan. Di sepanjang lorong, mesin-mesin berbunyi dari balik tirai, bip, bip, bip, seperti paduan suara yang tak pernah selesai.

Opa di bilik nomor empat.

Masker oksigen menutupi separuh wajahnya. Kabel-kabel menempel di dada, jari, dan pergelangan tangannya. Monitor di atas kepalanya menampilkan angka-angka hijau dan merah yang naik turun. Garis detak jantungnya bergerak di layar seperti ombak kecil yang tidak beraturan.

Dokter Gunawan berdiri di sampingku di balik kaca. Rambutnya putih dan jas dokternya kusut. Ia sudah merawat Opa selama dua puluh tahun.

“Enam jam ke depan, Natasha,” katanya pelan. “Kalau tekanan darahnya turun dan cairan di paru-parunya berkurang, dia bisa lewat. Kalau nggak...”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Dia sempat sadar?”

“Setengah jam lalu. Dia nanya kamu.” Dokter Gunawan diam sebentar. “Terus dia nanya, ‘Anak itu di mana?’ Saya nggak tahu anak siapa yang dia maksud.”

Aku tahu.

Aku masuk ke bilik nomor empat, duduk di kursi plastik di samping ranjang, dan memegang tangan Opa. Tangannya dingin, kering, dan ringan, seperti daun yang sudah lama jatuh.

Di tasku, senter kuning masih menyala. Aku lupa mematikannya sejak dari kantor. Cahayanya kelihatan samar dari celah tas, kuning, kecil, keras kepala.


Pukul sebelas lewat empat menit, ponselku bergetar.

Aku melepaskan tangan Opa dan mengeluarkan ponsel.

Pandu: Gambir.

Pandu: Aku nunggu, Kak.

Aku membaca dua baris itu, lalu membacanya lagi, dan lagi.

Kak.

Bukan Bu, bukan Bu Natasha. Kak.

Lima belas tahun aku tidak mendengar kata itu ditujukan kepadaku. Lima belas tahun tidak ada yang memanggilku Kak. Di keluarga Redcliff aku Natasha, di kantor Bu, di depan Cecil Nat atau Nyonya.

Kak adalah panggilan yang hanya boleh dipakai satu orang di dunia, dan orang itu baru saja memakainya. Lewat pesan WhatsApp pukul sebelas malam, dua kata, dari Stasiun Gambir.

Aku menutup mulut dengan tangan.

Napasku keluar pendek-pendek di balik telapak tangan. Bahuku gemetar. Monitor Opa berbunyi bip, bip, bip, dan aku tidak bisa menangis karena aku tidak boleh menangis di sini. Di bilik ICU, di samping Opa yang mungkin tidak akan melewati enam jam ke depan.

Ponselku bergetar lagi. Kali ini Cecil.

Cecil: Gue sama dia. Gambir. Dia beli tiket ke Surabaya, kereta jam 06.10. Riset di ITS setahun.

Cecil: Dia bilang dia bakal nunggu sampai keretanya berangkat.

Cecil: Dia bilang kalau lo dateng karena lo MAU, bukan karena kasihan, dia tinggal.

Cecil: Dan dia bilang kalau lo nggak dateng karena harus sama Opa, itu bukan salah lo. Dia nggak mau lo ngerasa bersalah karena itu juga.

Cecil: Nat. Dia nggak mau lo milih antara dia sama Opa.

Cecil: Bego banget kan adik lo.

Cecil: Bego kayak lo.

Aku menatap pesan terakhir itu.

Bego kayak lo.

Aku tertawa. Tawa yang keluar seperti isakan, kecil, basah, dan tidak pantas di dalam ICU pukul sebelas malam. Perawat di meja jaga menoleh ke arahku dengan alis berkerut.

Aku menutup mulut lagi.

Enam jam lagi kereta itu berangkat. Enam jam pula waktu yang disebut Dokter Gunawan untuk Opa.


Opa bangun pukul dua belas lewat tiga puluh lima.

Matanya terbuka pelan-pelan, kabur dan berair. Ia memandang langit-langit dulu, lalu monitor di atasnya, lalu aku.

Tangannya bergerak di atas seprai, mencari tanganku. Aku memegangnya.

Ia menarik masker oksigen dari mulutnya dengan tangan yang lain. Gerakannya lemah tetapi keras kepala.

“Opa, jangan...”

“Dia,” katanya. Suaranya hanya bisikan serak. “Dia di mana?”

Aku menunjukkan layar ponselku.

Gambir. Aku nunggu, Kak.

Opa membaca pesan itu lama. Matanya basah.

“Kak,” bisiknya.

“Iya, Opa.”

“Dia panggil kamu Kak.”

“Iya.”

Opa menutup mata, dan air mata mengalir dari sudut matanya ke bantal rumah sakit.

“Pergi,” katanya.

“Opa, Dokter Gunawan bilang enam jam ke depan...”

“Saya tahu apa kata Gunawan.” Matanya terbuka lagi, kali ini lebih tajam, lebih fokus. Itu mata Opa yang dulu, yang membuat Toshiba menandatangani kontrak. “Tapi sebelum kamu pergi, kamu harus dengar ini dulu. Saya sudah terlalu lama nunggu setelah Red X rilis. Saya nggak mau mati dengan nunggu lagi.”

“Opa nggak mati...”

“Dengar.”

Aku diam.

Opa menarik napas, napas yang berat dan basah, dan ada bunyi air di dalam paru-parunya.

“Syarat itu,” katanya. “Satu anak. Putus dari masa lalu.”

“Mama Clarissa...”

“Bukan Clarissa.” Opa menatapku. “Saya.”

Monitor berbunyi bip, bip, bip.

“Hans sama Clarissa mau kalian berdua,” bisik Opa. “Mereka datang ke panti tiga kali. Mereka lihat kamu, mereka lihat dia. Clarissa bilang ke saya, ‘Pa, kakak-adik itu nggak bisa dipisahin. Yang kecil nempel terus ke kakaknya kayak perangko.’ Mereka mau dua-duanya.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Saya yang bilang nggak.” Suara Opa pecah. “Saya bilang Redcliff butuh satu pewaris. Satu, bersih, tanpa beban, tanpa adik yang nanti nuntut bagian. Saya pikir... saya pikir itu keputusan yang logis. Keputusan bisnis. Kamu lebih tua, lebih pintar, lebih siap.” Dia menelan ludah. “Lebih presentable. Kata itu saya yang pakai, Tasha. Bukan Clarissa.”

Saya yang dipilih, karena saya lebih tua dan lebih presentable.

Aku mengucapkan kalimat itu kepada Pandu di lab lantai 57 pukul satu pagi. Kukira itu kata-kata Mama Clarissa. Selama lima belas tahun aku membenci Mama Clarissa diam-diam karena kata itu.

Itu kata Opa.

“Clarissa yang harus jalanin aturan saya,” lanjut Opa. “Waktu kamu telepon diam-diam dari lemari, dia yang marahin kamu, karena saya bilang kalau kamu masih kontak panti, adopsinya batal. Saya ancam dia. Saya ancam anak saya sendiri.” Air mata mengalir lagi ke bantal. “Dan malam itu, waktu dia rebut telepon dari tangan kamu, adikmu dengar. Dan besoknya adikmu ketuk pintu Ratna dan minta dia bohong.”

Opa menatapku.

“Saya yang pisahin kalian, Tasha. Saya yang bikin adikmu bohong di umur tiga belas. Saya yang bikin kamu nyari ke Australia lima belas tahun. Saya yang bikin kamu tidur dengan lampu nyala.”

Aku tidak bisa bicara.

Lima belas tahun. Aku membenci Mama Clarissa diam-diam, membenci keluarga Redcliff, membenci diriku sendiri karena menerima rumah itu. Tetapi aku tidak pernah membenci Opa. Opa yang galak tetapi tidak pernah memukul. Opa yang mengajariku membaca laporan keuangan di meja makan ketika aku berumur tujuh belas. Opa yang berkata kamu yang pegang kemudi ketika aku menutup pabrik Batam.

Opa yang membuat syarat itu.

“Kenapa...” Suaraku terdengar seperti suara orang lain. “Kenapa Opa cari dia? Dua tahun lalu?”

Opa memejamkan mata.

“Karena saya lihat kamu,” bisiknya. “Setiap tahun di acara keluarga, setiap Natal, setiap ulang tahun Redcliff Group, saya lihat kamu berdiri di sudut ruangan dengan gelas yang nggak pernah kamu minum, mata kosong. Saya lihat kamu pulang jam sebelas malam setiap hari. Saya lihat kamu nggak punya siapa-siapa selain Cecilia.” Dia menarik napas. “Saya bikin pewaris yang sempurna. Bersih, tanpa beban. Dan pewaris itu nggak pernah bahagia satu hari pun.”

Ia membuka mata.

“Saya sewa detektif. Delapan bulan. Saya ketemu dia di depan pintu kos di Margonda. Kos tiga kali tiga meter, Tasha, atapnya bocor. Dia baru pulang dari lab. Dia lihat saya dan dia pikir saya rentenir.” Opa tertawa kecil, tawa yang berubah jadi batuk. Monitor berbunyi lebih cepat. “Saya tawarkan semuanya. Rumah, nama, posisi. Ketemu kamu besok pagi. Dia tolak semuanya. Dia cuma minta satu hal.”

“Lihat saya dari dekat,” bisikku. “Nggak usah saya tahu.”

Opa mengangguk.

“Saya kasih dia lantai 58, di bawah vendor saya, supaya kamu nggak bisa usir dia. Saya bilang ke Darmawan, siapa pun yang memecat anak itu berurusan dengan saya.” Opa menatapku. “Dan hari ini kamu bilang kalimat itu balik ke saya. Kalau Opa keberatan, suruh Opa protes ke saya.”

Aku menunduk.

“Saya pantas dengar itu,” bisik Opa. “Lima belas tahun saya pantas dengar itu.”


Opa merogoh saku piyama rumah sakitnya. Gerakannya lambat, gemetar, dan butuh lama. Kabel-kabel di dadanya bergeser, dan monitor berbunyi protes.

Ia mengeluarkan sesuatu dan meletakkannya di telapak tanganku.

Sebuah bidak catur dari kayu, warna putih gading yang sudah kusam, tingginya tidak lebih dari jari telunjukku. Mahkotanya berbentuk salib kecil di atas. Permukaannya halus dan mengilap di beberapa bagian, seperti sudah disentuh ribuan kali.

Raja putih.

“Dari papan di rooftop,” kata Opa. “Minggu lalu, sebelum saya masuk rumah sakit, dia main putih dan saya hitam. Dia skak mat saya pakai benteng di e1. Saya jatuhin raja saya sendiri. Raja hitam.”

Ia menatap bidak di tanganku.

“Tapi ini raja putih, rajanya. Saya ambil dari papan waktu dia nggak lihat. Saya bawa ke mana-mana. Ke rumah sakit, ke kantor tadi siang, ke sini.” Opa tersenyum, senyum yang sedih dan capek. “Saya pikir kalau saya pegang raja dia, saya bisa jagain dia. Kayak dia jagain kamu.”

Aku menggenggam raja putih itu. Kayunya hangat karena tadi tersimpan di saku piyama Opa.

“Saya kalah, Tasha,” bisik Opa. “Saya kalah sejak lima belas tahun lalu. Sejak saya bilang satu anak saja. Saya cuma terlalu sombong buat jatuhin raja saya.”

Ia menggenggam tanganku yang memegang raja putih itu.

“Jangan ulang kesalahan saya,” katanya. “Jangan pilih satu dan tinggalin yang lain.”

“Tapi Opa...”

“Saya nggak akan ke mana-mana malam ini.” Mata Opa menatapku, tajam, jernih, keras kepala. “Saya janji. Tujuh puluh delapan tahun saya nggak pernah ingkar janji bisnis. Ini janji bisnis terakhir saya. Saya masih di sini waktu kamu pulang. Bawa dia ke sini.”

“Opa nggak bisa janji kayak gitu.”

“Bisa.” Opa tersenyum. “Saya Hendrik Redcliff. Saya bikin Toshiba tanda tangan kontrak di atas tumpahan kopi. Saya bisa bikin jantung saya sendiri nurut enam jam.”

Aku tertawa, tawa yang pecah jadi tangisan.

Opa memasang masker oksigennya lagi dengan tangan gemetar. Di balik masker, matanya masih menatapku.

Lalu ia mengucapkan satu kata, teredam plastik masker, tetapi aku bisa membacanya dari gerak bibirnya.

Pergi.


Pukul tiga pagi, Dokter Gunawan keluar dari bilik nomor empat setelah memeriksa monitor.

“Tensinya turun,” katanya. “Seratus enam puluh. Masih tinggi, tapi turun. Cairan di paru-parunya mulai berkurang.” Dia menatapku. “Saya nggak bisa janji apa-apa, Natasha. Tapi dia keras kepala. Dua puluh tahun saya rawat dia, belum pernah saya lihat dia sekeras kepala ini.”

“Dia janji ke saya,” kataku. “Janji bisnis.”

Dokter Gunawan mengangkat alis.

“Kalau gitu dia pasti nepatin,” katanya. “Hendrik nggak pernah ingkar janji bisnis.”


Pukul empat lewat lima belas, aku keluar dari Rumah Sakit Medistra.

Hujan.

Bukan gerimis, tetapi hujan yang deras dan berat, seperti ada yang menumpahkan ember raksasa dari langit. Hujan yang sama dengan malam lima belas tahun lalu.

Sopirku tidak ada. Aku menyuruhnya pulang pukul sembilan malam karena ia sudah bekerja sejak pukul lima pagi.

Aku memesan taksi online dan mendapatkannya dalam lima menit. Taksinya Avanza abu-abu dengan sopir paruh baya yang menyetel radio dangdut pelan.

“Gambir, Pak. Secepatnya.”

“Siap, Bu.”

Jalan Gatot Subroto kosong pukul empat pagi. Lampu-lampu jalan berbaris kuning di balik tirai hujan, dan genangan air di aspal memantulkan lampu seperti kaca pecah. Taksi melaju di jalur kanan, wiper bergerak cepat dan tidak berhenti.

Aku duduk di kursi belakang dengan tas di pangkuan.

Di dalam tas ada senter kuning yang masih menyala, kartu identitas dengan nama PANDU, kertas HVS dengan sembilan nomor dan satu kalimat di baliknya, dan raja putih dari papan catur rooftop.

Bundaran Semanggi, Jalan Sudirman. Red Tower lewat di sebelah kanan, enam puluh lantai, gelap kecuali lampu merah kecil di puncaknya yang berkedip-kedip untuk pesawat. Bundaran HI. Jalan Thamrin.

Di perempatan Jalan Kebon Sirih, taksi berhenti mendadak.

Di depan kami, terowongan di bawah perlintasan rel kereta penuh air. Air cokelat, deras, dalam. Tiga motor mogok di pinggir. Mobil di depan kami putar balik, dan petugas Dishub berjas hujan oranye melambai-lambaikan senter merah.

“Wah, banjir, Bu,” kata sopir taksi. “Nggak bisa lewat. Harus muter lewat Senen. Dua puluh menit lagi.”

Aku menatap jam di ponsel. Lima lewat tiga puluh delapan.

Kereta berangkat enam lewat sepuluh. Pintu peron ditutup lima menit sebelumnya.

Dua puluh menit lewat Senen, kalau Senen tidak banjir juga.

Aku menatap peta di layar ponsel. Gambir satu koma dua kilometer dari sini.

“Pak, saya turun di sini.”

“Bu? Ini hujan deres, Bu...”

Aku sudah membuka pintu.


Hujan menghantam wajahku seperti tamparan.

Dalam lima detik, aku basah dari kepala sampai kaki. Blazer merah tua yang kupakai sejak peluncuran kemarin pagi menempel di kulit, berat, dingin. Rambutku lepas dari sanggul dan menempel di wajah dan leher.

Sepatu hakku. Tujuh senti, kulit Italia. Aku melepasnya dan menentengnya di tangan kiri.

Lalu aku berlari.

Telanjang kaki di aspal Jalan Kebon Sirih yang basah dan dingin, di atas kerikil, genangan, dan daun-daun yang jatuh. Tas di bahu kanan, sepatu di tangan kiri. Hujan masuk ke mata, ke mulut, ke telinga.

Aku belum pernah berlari seperti ini. Bukan sejak umur enam belas, bukan sejak malam hujan itu. Aku berlari dari teras panti ke mobil hitam dengan lampu terlalu terang, dan tidak menoleh, karena kalau menoleh, aku tidak akan bisa pergi.

Sekarang aku berlari ke arah sebaliknya.

Jalan Kebon Sirih, belok kiri, Jalan Medan Merdeka Timur. Monas berdiri di sebelah kiri, tinggi dan gelap di balik tirai hujan, emas di puncaknya tidak bersinar. Paru-paruku terbakar. Kakiku sakit. Ada sesuatu yang tajam menusuk telapak kaki kiriku, kerikil atau pecahan kaca, tetapi aku tidak berhenti.

Lima lewat lima puluh dua.

Gedung Stasiun Gambir muncul di depan, putih dan hijau, dengan lampu-lampu yang menyala di balik hujan. Pintu masuknya besar, ada eskalator ke peron di lantai dua.

Aku masuk ke lobi, basah kuyup, tanpa alas kaki, napas tersengal, rambut menempel di wajah. Satpam di pintu masuk menatapku seperti melihat hantu.

“Bu... Ibu nggak apa-apa?”

Aku tidak menjawab. Mataku mencari gerbang peron, gerbang dengan mesin pemindai tiket dan petugas berseragam biru.

Di depan gerbang itu berdiri seorang perempuan.

Rambutnya berantakan, kacamatanya miring, blus putihnya kusut, rok pensil abu-abu, dan ia bertelanjang kaki. Sepatunya juga ia tenteng, di tangan kanan.

Cecil.

Ia melihatku. Wajahnya, yang penuh bekas maskara luntur dari kemarin, berubah, dan ia berlari ke arahku.

“Nat!”

“Cil...”

“Cepet!” Dia menarik tanganku ke gerbang peron. “Keretanya udah boarding. Pintu ditutup lima menit lagi!”

“Gue nggak punya tiket...”

Cecil mengangkat sesuatu di tangan kirinya. Kertas tiket yang dicetak, masih hangat dari mesin cetak di lobi, dengan namaku di atasnya. NATASHA REDCLIFF — GMR → SBI — Argo — Kereta 3 Kursi 12B.

“Gue beli tadi malem,” kata Cecil. Napasnya tersengal. “Buat jaga-jaga.”

Buat jaga-jaga.

Aku menatapnya, sahabatku sepuluh tahun. Dialah yang menyontek kuis Akuntansi Dasar dan menumpahkan es teh ke laptopku. Dialah yang menangis di bahuku tadi siang di karpet ruanganku. Dialah yang mencintai adikku sejak hari kedua, ketika adikku memperbaiki hak sepatunya dengan paku.

“Cil...”

“Jangan nangis sekarang!” Cecil mendorong tiket itu ke tanganku. “Nangis nanti! Lari!”

Ia menyodorkan sesuatu yang lain lagi, kantong plastik putih. Dari celahnya kelihatan stiker oranye kecil.

ROTI SOBEK CI LAN — DEPOK.

“Dia nyimpen buat kalian,” kata Cecil. “Bawa.”

Aku mengambil kantong itu, lalu menempelkan tiket di mesin pemindai. Lampunya hijau.

Gerbang peron terbuka.

Aku berlari ke eskalator.

Eskalatornya bergerak naik, tetapi terlalu lambat. Aku berlari di atasnya, melompati dua anak tangga sekaligus, telanjang kaki dan basah kuyup. Di tangan kiriku ada sepatu hak dan kantong roti sobek, di bahu kananku tas berisi senter, raja putih, dan sembilan nomor.

Dari pengeras suara di atas, suara perempuan yang datar dan profesional menggema di seluruh stasiun.

“Perhatian, perhatian. Kereta api Argo tujuan Surabaya Pasar Turi akan segera diberangkatkan dari jalur tiga. Kepada para penumpang dimohon segera naik ke kereta. Pintu kereta akan segera ditutup.”

Eskalator berakhir. Peron lantai dua.

Peron panjang dengan lantai keramik abu-abu yang licin karena tetesan air dari atap. Lampu-lampu putih berderet dan tiang-tiang hijau. Di jalur tiga, kereta panjang berwarna perak dengan garis biru, pintu-pintunya terbuka, dan petugas berseragam biru berdiri di sampingnya dengan peluit di mulut.

Penumpang terakhir naik.

Dan di bangku besi di tengah peron, di antara dua tiang hijau, di bawah lampu putih, ada seseorang yang duduk sendirian.

Ia masih memakai seragam merah marun dari kemarin, yang kusut, dengan logo menara kecil di dada kiri. Tas ransel lusuh di sebelahnya, dan kardus mi instan cokelat pudar di pangkuannya.

Ia tidak naik ke kereta. Ia duduk di bangku, menunduk, menatap kardus di pangkuannya.

Petugas di sebelah kereta meniup peluit, panjang dan nyaring.

Ia mengangkat kepala.

Aku berdiri di ujung peron, basah kuyup, telanjang kaki, dengan sepatu dan roti sobek di tangan, rambut menempel di wajah, napas tersengal, telapak kaki berdarah.

Ia melihatku.

Lima belas tahun.

Teras panti, malam hujan, mobil hitam dengan lampu terlalu terang. Anak laki-laki kurus dengan sandal jepit yang talinya disambung peniti, yang tidak menangis supaya kakaknya bisa pergi.

Sekarang ia berdiri dari bangku besi di peron Stasiun Gambir, pelan-pelan, seperti orang yang tidak yakin kakinya masih bisa menopang.

Kardus mi instan jatuh dari pangkuannya ke lantai peron. Dua puluh tiga amplop berhamburan di keramik abu-abu yang basah.

Ia tidak memungutnya. Ia hanya berdiri dan menatapku dari jarak tiga puluh meter.

Dan aku berlari ke arahnya.