Chapter Thirty Three

Gambir

POV: Pandu

Aku duduk di bangku besi peron jalur tiga Stasiun Gambir sejak pukul dua belas malam.

Cecil duduk di sebelahku sampai pukul tiga, lalu turun ke lobi untuk membeli tiket peron bagi kakakku, buat jaga-jaga. Setelah itu ia berdiri di depan gerbang peron di lantai bawah, seperti satpam.

Aku sendirian di peron.

Dua kereta malam lewat, jurusan Bandung dan Yogyakarta. Penumpangnya naik turun membawa koper dan kardus. Ada seorang ibu yang menggendong bayi yang tertidur, ada mahasiswa yang tertidur di bangku sebelah sambil memeluk tas gitar, ada petugas kebersihan yang mengepel lantai peron dengan alat pel yang gagangnya patah setengah.

Aku memperhatikannya mengepel dan tidak bisa berhenti memperhatikan.

Di pangkuanku ada kardus mi instan cokelat pudar, dua puluh tiga amplop, dua puluh tiga kunang-kunang kecil. Kubaca semuanya lagi di bawah lampu peron yang putih, satu per satu, dari yang paling lama sampai yang paling baru.

Kakak belum bisa jemput. Kakak janji. Jangan lupa sama Kakak.

Pukul empat, hujan mulai turun. Deras dan berat, menghantam atap peron seperti kerikil yang dituang ke atap seng kos sebelah.

Pukul lima, langit masih gelap, dan kereta Argo jurusan Surabaya masuk ke jalur tiga. Panjang, perak, bergaris biru. Pintu-pintunya terbuka, dan petugas berseragam biru turun dengan peluit tergantung di leher.

Penumpang mulai naik.

Tiketku ada di saku seragam. Kereta 3, Kursi 12A. Cecil membelikan kursi di sebelahnya, 12B, untuk kakakku, untuk berjaga-jaga. Supaya kalau kakakku datang dan aku sudah telanjur naik, ia bisa ikut naik.

Aku tidak naik.

Aku duduk di bangku dan memandangi pintu kereta 3 yang terbuka. Penumpang naik satu per satu, sampai yang terakhir.

Pukul lima lewat lima puluh delapan.

Kalau Kakak nggak dateng, itu bukan salah dia.

Aku sudah mengatakan itu kepada Cecil di depan pagar biru muda, dan aku memercayainya. Aku harus memercayainya.

Opa di ICU. Gagal jantung. Kakakku tidak boleh meninggalkan Opa malam ini. Kalau ia meninggalkan Opa dan Opa pergi, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri, dan aku tidak akan memaafkan diriku sendiri karena menjadi alasannya meninggalkan Opa.

Jadi tidak apa-apa kalau ia tidak datang. Sungguh tidak apa-apa.

Aku menunduk, memandangi kardus di pangkuanku. Amplop paling atas, amplop kedua puluh tiga.

Kakak nggak pernah berhenti nyari.

Petugas di samping pintu kereta meniup peluit, panjang dan nyaring, dan bunyinya bergema di bawah atap peron.

“Perhatian, perhatian. Kereta api Argo tujuan Surabaya Pasar Turi akan segera diberangkatkan...”

Tidak apa-apa.

Aku mengangkat kepala.


Ia berdiri di ujung peron, di depan eskalator.

Basah kuyup dari kepala sampai kaki. Blazer merah tua dari peluncuran kemarin pagi menempel di tubuhnya, berat dan gelap karena air. Rambutnya lepas dari sanggul dan menempel di wajah, di leher, di bahu. Ia tidak memakai sepatu. Sepatunya ia tenteng di tangan kiri, bersama kantong plastik putih. Kakinya telanjang di atas lantai keramik abu-abu yang basah.

Di lantai, di belakang telapak kaki kirinya, ada noda merah yang terbawa air hujan.

Napasnya naik turun dengan cepat. Mulutnya terbuka, seperti orang yang baru berlari sangat jauh. Matanya...

Matanya mencari sesuatu di sepanjang peron, cepat dan panik.

Lalu matanya menemukanku.

Lima belas tahun.

Teras panti. Mobil hitam dengan lampu terlalu terang. Anak perempuan enam belas tahun yang berlari menembus hujan ke mobil itu dan tidak menoleh.

Sekarang ia menoleh.

Aku berdiri. Perlahan, karena kakiku terasa bukan milikku. Seolah lututku lupa cara menopang tubuh setelah lima belas tahun duduk menunggu.

Kardus di pangkuanku jatuh. Dua puluh tiga amplop berhamburan di lantai peron yang basah, putih, cokelat, kuning. Tinta biru di beberapa amplop mulai luntur terkena air.

Aku tidak memungutnya.

Ia berlari.

Bertelanjang kaki di atas lantai keramik yang licin, melewati tiang-tiang hijau, melewati petugas kebersihan yang mengepel dengan alat pel patah. Petugas itu menepi sambil memegangi alat pelnya seperti tameng.

Ia berhenti satu langkah di depanku.

Hanya satu langkah. Jarak yang cukup bagiku untuk melihat wajahnya dengan jelas. Air hujan mengalir dari dahinya, dari alisnya yang sedikit terangkat di ujung, dari dagunya. Bibirnya pucat dan gemetar karena dingin. Matanya merah dan bengkak, seperti orang yang sudah menangis berjam-jam.

Matanya bukan jendela lantai lima puluh delapan. Matanya teh manis pukul empat sore.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya memandangiku. Memandangi wajahku, seragam merah marunku yang kusut, bekas luka di ujung alis kiriku.

Tangannya terangkat perlahan, gemetar, dan jari telunjuknya menyentuh bekas luka itu. Ujung jarinya dingin dan basah. Ia mengusapnya pelan dari ujung alis ke pelipis, seperti dulu ketika ia menempelkan plester bergambar beruang setiap pagi selama dua minggu.

Bibirnya bergerak. Suaranya keluar serak, pecah, dan nyaris tak terdengar di bawah bunyi hujan di atap peron dan peluit petugas yang panjang.

“Kakak jemput kamu, Du.”


Aku tidak ingat apa yang terjadi setelahnya.

Aku hanya ingat aku tidak bisa bernapas. Aku ingat lututku akhirnya menyerah dan aku jatuh. Bukan jatuh, melainkan berlutut, di lantai peron yang basah, di antara dua puluh tiga amplop yang berhamburan.

Dan ia ikut berlutut di depanku. Sepatu hak kulit Italia jatuh dari tangannya ke lantai, kantong plastik putih jatuh di sebelahnya.

Ia menarikku ke dalam pelukannya.

Tubuhnya kecil. Aku tidak tahu sejak kapan ia menjadi sekecil ini. Dalam ingatanku ia selalu besar, lebih tinggi daripada aku, cukup kuat untuk menggendongku dua kilometer ke puskesmas. Sekarang kepalanya hanya sampai di daguku, dan bahunya kurus di balik blazer yang basah.

Ia memelukku erat sekali, seperti orang yang takut kalau ia melonggarkan pelukan sedikit saja, aku akan hilang lagi. Lima belas tahun lagi, ke Australia yang tidak pernah ada.

Dan aku menangis.

Aku sudah menangis di meja makan panti tadi malam, di kamar belakang di depan ranjang susun besi, di bahu Cecil di tangga darurat.

Tetapi yang ini berbeda.

Ini tangis yang ditahan anak dua belas tahun di teras itu ketika mobil hitam pergi. Tangis yang ia telan supaya kakaknya bisa punya rumah.

Anak dua belas tahun itu akhirnya menangis di pelukan kakaknya, di lantai peron Stasiun Gambir, pukul enam pagi kurang dua menit.

“Kak,” kataku di bahunya. Suaraku keluar seperti suara anak kecil. “Kak...”

“Iya, Du.”

“Kak Tasya...”

“Iya, Du. Kakak di sini. Kakak di sini.”

Ia mengelus rambutku. Tangannya gemetar, tetapi ia mengelus rambutku pelan, berulang-ulang, dari ubun-ubun ke tengkuk, persis seperti di bawah ranjang susun ketika listrik padam. Ketika ia menyalakan senter di depan wajahku dan berkata bahwa gelap itu hanya lampu yang sedang beristirahat.

“Maafin Kakak,” bisiknya. Suaranya pecah. “Maafin Kakak, Du. Roti, kopi, lantai, lagu, senter, Kamis malem, tangga darurat, ulang tahun kamu, lorong...” Napasnya tersendat. “Kakak bilang kamu nggak punya keluarga. Kakak bilang itu ke kamu. Kakak...”

“Kakak nggak perlu minta...”

“Jangan.”

Ia melonggarkan pelukannya, hanya sedikit, cukup untuk melihat wajahku. Kedua tangannya memegang pipiku, dingin dan basah.

“Jangan bilang Kakak nggak perlu,” bisiknya. Matanya merah dan basah. “Kakak perlu. Biarin Kakak perlu. Kalau kamu bilang Kakak nggak perlu, Kakak nggak punya tempat buat naruh semua ini.”

Aku teringat lab lantai 57 pukul satu pagi. Rasa bersalah yang nggak punya tempat itu yang paling berat.

“Iya, Kak,” kataku. “Aku terima.”

Ia mengangguk, lalu menempelkan dahinya ke dahiku. Napas kami berdua berantakan, keluar dalam kepulan kecil di udara pagi yang dingin.

“Dan kamu,” bisiknya, “kamu yang nyuruh Bu Ratna bohong.”

“Iya, Kak.”

“Umur tiga belas.”

“Iya.”

“Biar Kakak bisa punya rumah.”

“Iya, Kak.”

Ia menarik napas panjang dan gemetar.

“Kamu bodoh, Du,” bisiknya. “Kamu bodoh banget.”

“Aku tahu, Kak.”

“Kakak nggak butuh rumah. Kakak butuh kamu.”

Aku tidak bisa menjawab.


Peluit petugas berbunyi lagi. Pintu-pintu kereta mulai menutup satu per satu, wusss, wusss, wusss.

Seorang petugas berseragam biru berjalan ke arah kami. Laki-laki paruh baya berkumis tipis dengan topi biru tua. Ia berhenti dua meter dari kami, memandangi dua orang dewasa basah kuyup yang berlutut di lantai peron di antara dua puluh tiga amplop, berpelukan sambil menangis.

Ia berdeham.

“Mas,” katanya hati-hati. “Mas yang kursi 12A, kan? Nggak jadi naik?”

Aku memandangnya dari balik bahu kakakku.

“Nggak, Pak,” kataku. Suaraku serak dan basah. “Udah dijemput.”

Petugas itu terdiam, memandangi kami lama.

Lalu ia mengangguk pelan, membetulkan topinya, dan berjalan kembali ke kereta. Ketika melewati petugas kebersihan yang masih memegang alat pel patah, ia menepuk bahunya dan mengatakan sesuatu yang tidak kudengar.

Petugas kebersihan itu menyeka matanya dengan lengan baju.

Pintu kereta 3 menutup.

Kereta Argo jurusan Surabaya bergerak, pelan, lalu makin cepat. Gerbong-gerbong perak bergaris biru melintas satu per satu di depan kami, jendela-jendelanya berembun.

Kursi 12A dan 12B di kereta 3 kosong.

Kereta itu menghilang di ujung peron, ke arah selatan, ke dalam hujan, ke pagi yang belum sepenuhnya datang.


Kami memunguti amplop-amplop itu berdua.

Kakakku memegang satu amplop yang tintanya sudah luntur terkena air. Ia memandangi tulisan di depannya, tulisan tangan rapi dan miring dengan huruf N berekor kucing.

Tangannya berhenti.

“Ini...” bisiknya. “Ini surat Kakak.”

“Iya, Kak.”

“Kamu...” Ia memandangi dua puluh tiga amplop di tanganku, lemnya sudah terbuka semua, kertasnya sudah dibaca dan dilipat kembali. “Kamu nggak pernah buka. Bu Ratna bilang kamu suruh bakar.”

“Baru tadi malem, Kak,” kataku. “Semuanya. Tiga kali.”

Ia memandangi amplop di tangannya. Bibirnya gemetar.

“Kakak nulis yang terakhir waktu umur dua puluh,” bisiknya. “Habis itu Kakak nggak nulis lagi. Kakak pikir... Kakak pikir nggak ada yang baca.”

“Ada, Kak,” kataku. “Telat lima belas tahun, tapi ada.”

Ia tertawa. Tawa yang basah, yang keluar lewat hidung dulu, lalu pecah menjadi isakan, lalu kembali menjadi tawa.

Kumasukkan dua puluh tiga amplop itu ke kardus mi instan yang basah. Lalu aku merogoh dompet di saku celana.

Kancing magnetnya sudah lemah, jadi dompet itu terbuka sendiri. Aku mengeluarkan sesuatu dari slot foto yang tertutup plastik bening.

Jepit rambut plastik berbentuk kupu-kupu, berwarna biru, salah satu sayapnya retak dan disambung dengan selotip bening yang sudah menguning.

Kuletakkan jepit itu di telapak tangan kakakku.

“Kakak bilang,” kataku pelan, “pegang ini, nanti Kakak ambil lagi pas jemput kamu.”

Ia menatap jepit itu, lama, lama sekali.

Lalu perlahan ia mengangkat tangan ke rambutnya yang basah dan berantakan, yang menempel di pipi dan leher. Ia menyibakkan rambutnya ke belakang telinga kiri, lalu memasang jepit kupu-kupu biru itu di sana.

Jepit itu terlalu kecil untuk rambut perempuan tiga puluh satu tahun. Sayapnya yang retak miring. Selotip kuningnya terlihat jelas di bawah lampu peron.

Ia tampak seperti anak dua belas tahun di foto lusuh di depan pagar hijau.

“Udah Kakak ambil,” bisiknya.


Kantong plastik putih yang tadi jatuh ke lantai peron masih tergeletak di sebelah sepatu hak kulit Italia.

Kakakku memungut kantong itu, lalu mengeluarkan isinya. Roti sobek dalam plastik bening dengan stiker oranye kecil, Roti Sobek Ci Lan — Depok. Plastiknya agak basah di bagian luar, tetapi rotinya aman.

Ia memandangi roti itu, lalu memandangiku.

“Cecil bilang ini kamu simpen buat kita,” katanya.

“Cecil yang beli, Kak. Dua menit sebelum tokonya tutup.”

Kakakku tersenyum, senyum kecil yang basah.

Ia membuka plastiknya. Aroma roti dan cokelat langsung menguar, manis dan hangat, bercampur aroma hujan dan besi rel kereta.

Ia menyobek roti itu menjadi dua. Tidak rata. Satu bagian jelas lebih besar, cokelatnya lebih banyak dan bocor ke tepi.

Bagian yang besar ia sodorkan kepadaku.

Aku memandangi roti itu, lalu memandanginya.

“Kak,” kataku. “Itu punya Kakak.”

“Kakak udah kenyang.”

Ia mengucapkannya dengan nada yang persis sama seperti lima belas tahun lalu, setiap Minggu pagi, setelah anak-anak panti pulang dari gereja, masjid, dan kelas mengaji.

“Bohong,” kataku.

Ia diam. Matanya basah lagi.

“Iya,” bisiknya. “Bohong. Makan.”

Aku mengambil bagian yang besar. Aku makan pelan-pelan sambil memperhatikannya, seperti dulu, seolah memeriksa apakah ia berbohong.

Ia memakan bagian yang kecil, juga pelan-pelan, sambil memperhatikanku.

Kami duduk di lantai peron jalur tiga Stasiun Gambir, basah kuyup, makan roti sobek Ci Lan, di antara sepatu hak kulit Italia dan kardus mi instan berisi dua puluh tiga amplop.

Petugas kebersihan dengan alat pel patah melewati kami. Ia tidak mengepel bagian lantai tempat kami duduk. Ia mengepel mengitari kami, hati-hati, seperti mengepel di sekitar sesuatu yang tidak boleh diganggu.


“Kak, tunggu di sini.”

Aku berdiri, berlari ke ujung peron, menuruni eskalator ke lobi, lalu ke Indomaret kecil di pojok stasiun yang buka dua puluh empat jam.

Lima menit kemudian aku kembali membawa dua gelas plastik.

Gelas pertama berisi kopi sachet hitam tanpa gula, diseduh dengan air panas dari dispenser, dengan dua es batu kotak dari kotak pendingin di kasir. Aku harus memintanya kepada mbak kasir, dan mbak itu memandangiku dengan aneh karena aku meminta persis dua.

Gelas kedua berisi teh manis. Teh celup, gula tiga sachet, es batu banyak sampai penuh ke bibir gelas.

Aku duduk lagi di sebelahnya di lantai peron, lalu menyodorkan kedua gelas itu.

“Pilih, Kak.”

Ia memandangi kedua gelas itu, kopi hitam dengan dua es batu dan teh manis yang esnya penuh.

“Kakak dulu nggak minum kopi,” kataku. “Kata Kakak kopi pahit, kayak obat batuk. Kakak suka teh manis. Esnya banyak. Terus esnya dikunyah sampai gigi ngilu.”

Ia tidak bergerak. Ia hanya memandangi teh manis di gelas plastik itu.

“Kakak berhenti minum manis,” bisiknya. “Sejak umur enam belas. Karena manis bikin Kakak inget.”

“Sekarang boleh inget, Kak.”

Ia menatapku, lalu perlahan mengambil gelas teh manis.

Ia meminumnya seteguk, lalu terdiam. Matanya terpejam.

Ia minum lagi, lebih banyak.

Lalu ia mengambil satu es batu dari gelas dengan jari dan memasukkannya ke mulut, lalu mengunyahnya. Bunyinya krek, krek, krek, keras, di peron yang sunyi.

Ia tertawa, sambil mengunyah es batu, sambil menangis.

“Gigi Kakak ngilu,” katanya.

“Dari dulu emang gitu, Kak.”

“Iya.” Ia menyeka pipinya. “Dari dulu emang gitu.”

Aku meminum kopi hitam dengan dua es batu. Pahit, seperti obat batuk.

Tetapi itu kopi kakakku, dan aku meminumnya sampai habis.


Langit di luar atap peron mulai berubah warna. Dari hitam menjadi kelabu gelap, lalu kelabu kebiruan, lalu muncul garis tipis jingga di ujung timur, di balik gedung-gedung Jakarta.

Hujan mereda menjadi gerimis tipis.

Kakakku bersandar di bahuku, dengan jepit kupu-kupu biru di rambutnya dan gelas teh manis kosong di tangannya. Matanya setengah terpejam.

“Du.”

“Hm?”

“Waktu di parkiran B2,” katanya pelan. “Habis Kakak bilang makasih. Kakak lihat kamu di spion. Bibir kamu gerak, kamu ngomong sesuatu. Kakak nggak bisa baca.”

Aku diam.

“Dan malam itu Kakak mimpi,” lanjutnya. “Teras panti, malem hujan, mobil hitam. Kamu berdiri di teras, ngelihatin mobil pergi. Bibir kamu gerak, dua kata. Kakak bangun sebelum bisa denger.”

Ia mengangkat kepala dari bahuku dan menatapku.

“Kamu ngomong apa, Du?”

Aku memandanginya lama, kakakku dengan jepit kupu-kupu yang terlalu kecil di rambutnya yang basah.

“Di parkiran,” kataku pelan, “aku bilang, sama-sama, Kak.”

Bibirnya gemetar.

“Kakak udah denger sama-sama, Bu,” bisiknya. “Kamu ngomong itu di depan mobil.”

“Itu buat Bu Natasha,” kataku. “Yang di spion buat Kak Tasya.”

Ia menutup mulut dengan tangan.

“Dan di teras,” lanjutku, lebih pelan. Suaraku mulai gemetar. “Lima belas tahun lalu, waktu mobil itu pergi...”

Aku teringat malam itu. Sandal jepit yang talinya disambung peniti, air hujan dari genteng seng yang bocor jatuh ke pundakku. Lampu mobil hitam yang mengecil di ujung gang. Aku tidak menangis, karena kalau aku menangis, Kakak akan kembali.

Aku hanya mengucapkan dua kata, tanpa suara, kepada lampu mobil yang menghilang di ujung gang.

“Hati-hati, Kak,” kataku.

Kakakku tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menarikku ke dalam pelukannya lagi, erat, dan menangis di bahuku. Tangisnya kali ini pelan, tidak seperti tadi. Tangis yang lelah, lega, dan lepas.


Cecil berdiri di ujung peron, di depan eskalator.

Entah sudah berapa lama ia di sana. Rambutnya berantakan, kacamatanya miring, blus putihnya kusut, kakinya telanjang, sepatu di tangan kanan. Wajahnya penuh bekas maskara luntur sejak kemarin pagi.

Ia menangis, berdiri sendirian di ujung peron, tanpa suara.

Aku mengangkat tangan dan melambai pelan kepadanya.

Kakakku menoleh dan melihat Cecil.

Lalu kakakku juga mengangkat tangan. Ia tidak melambai, melainkan mengulurkan tangan dengan telapak menghadap ke atas. Sini.

Cecil berjalan pelan ke arah kami, bertelanjang kaki di lantai peron yang basah.

Ketika ia tiba, kakakku menarik tangannya, dan Cecil jatuh berlutut di sebelah kami. Kakakku memeluknya juga, satu tangan di punggungku, satu tangan di punggung Cecil.

Kami bertiga berlutut di lantai peron jalur tiga Stasiun Gambir pukul enam lewat dua puluh pagi, basah kuyup, menangis.

Petugas kebersihan dengan alat pel patah berdiri di ujung peron, memandangi kami. Ia tidak mengepel. Ia hanya berdiri dengan alat pel di tangan dan menyeka mata dengan lengan baju lagi.

“Kalian berdua bego,” kata Cecil di bahu kakakku, terisak. “Kalian berdua bego banget. Gue capek jadi satu-satunya orang waras di sini.”

Kakakku tertawa, dan aku juga.

“Cil,” kata kakakku.

“Hm?”

Kakakku sedikit melonggarkan pelukannya, lalu menatap Cecil. Matanya masih merah, tetapi kini ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang kukenal dari lima belas tahun lalu, ketika ia menatap anak-anak tetangga yang mengejekku anak buangan.

“Kamu pacaran sama adik gue,” katanya.

Cecil membeku.

“Kita omongin nanti,” kata kakakku.

Nadanya datar, seperti CEO yang berkata kita bahas di rapat berikutnya.

Cecil memandangku dengan mata membesar. Aku balas memandangnya.

Kakakku berdiri, perlahan, sambil berpegangan pada bahuku karena kakinya masih gemetar. Ia mengambil sepatu hak kulit Italia dari lantai peron. Ia tidak memakainya, hanya menentengnya.

“Opa nunggu,” katanya. “Janji bisnis. Ayo.”


Kami keluar dari Stasiun Gambir pukul enam lewat tiga puluh.

Hujan sudah berhenti. Langit di atas Monas berwarna jingga pucat, dengan awan-awan tipis yang tepinya tersentuh cahaya matahari pagi. Udara beraroma aspal basah, daun, dan sesuatu yang baru.

Lampu-lampu jalan di sepanjang Jalan Medan Merdeka Timur mulai padam satu per satu. Sensornya menangkap cahaya matahari yang datang.

Lampu-lampu itu tidak rusak dan tidak mati, melainkan beristirahat. Karena matahari sudah datang, mereka tidak perlu menyala lagi.

Kakakku berhenti di trotoar dan memandangi lampu-lampu itu padam satu per satu, dari ujung jalan sampai di depan kami.

Tangannya, yang tidak memegang sepatu, mencari tanganku.

Aku menggenggam tangannya, yang dingin, basah, dan sedikit gemetar.

Dari tasnya yang setengah terbuka, ada cahaya kecil, kuning dan redup, masih menyala. Senter kuning. Senter itu menyala sejak kemarin sore dan tidak ada yang mematikannya.

Kakakku merogoh tasnya, mengeluarkan senter itu, lalu memandangi cahayanya yang sudah lemah, baterainya hampir habis.

Ia menekan tombolnya, dan senter itu padam.

“Udah boleh istirahat,” katanya pelan kepada senter itu.

Lalu ia memberikan senter itu kepadaku. Kumasukkan ke saku seragam merah marun, ke tempatnya, ke tempat yang sudah lima belas tahun menjadi rumahnya.

Kami berjalan ke taksi yang menunggu di depan stasiun: aku, kakakku, dan Cecil. Tiga orang bertelanjang kaki di trotoar Jakarta pukul enam pagi, menenteng sepatu, satu kardus mi instan, dan satu gelas plastik teh manis kosong yang esnya sudah habis dikunyah.

Di kursi belakang taksi, kakakku bersandar di bahuku dan tertidur sebelum taksi tiba di Bundaran HI.

Di rambutnya, jepit kupu-kupu biru dengan sayap yang retak sedikit miring.

Aku tidak membetulkannya. Kubiarkan miring.

Sudah lima belas tahun aku menunggu untuk melihat jepit itu di rambutnya lagi.