Chapter Four

Catur di Lantai 60

POV: Pandu

Ada satu tempat di Red Tower yang tidak pernah dipel siapa pun, karena tidak ada yang boleh ke sana.

Lantai 60, rooftop.

Pintunya besi abu-abu bertuliskan merah AREA TERBATAS — HANYA PERSONEL BERWENANG, dan di bawahnya terpasang kunci elektronik yang hanya bisa dibuka oleh tiga kartu di seluruh gedung. Satu kartu milik kepala keamanan, satu lagi milik kepala teknisi gedung.

Kartu ketiga ada di dompetku, terselip di balik KTP, di sebelah jepit kupu-kupu biru yang plastiknya sudah retak di satu sayap.

Jumat sore pukul lima lewat sepuluh, ketika lantai 58 mulai sepi dan Bang Mamat sudah berganti seragam dengan kaus bola KW, aku menaiki tangga darurat dua lantai, menempelkan kartu ke kunci, menunggu lampunya hijau, lalu mendorong pintu besi itu.

Angin sore Jakarta langsung menampar wajahku. Panas, lengket, beraroma knalpot bercampur bau hujan yang belum turun.

Di tengah rooftop ada taman kecil yang sangat rapi untuk ukuran atap gedung. Ada pohon kamboja dalam pot besar, rumput sintetis, dan bangku kayu jati. Di bawah payung besar berwarna krem berdiri meja batu berpapan catur dengan bidak-bidak kayu yang sudah licin digosok tangan selama puluhan tahun.

Di balik meja itu, duduk di kursi rotan dengan selimut tipis di pangkuan padahal suhu masih tiga puluh dua derajat, ada seorang laki-laki berumur tujuh puluh delapan tahun dengan rambut putih tipis yang disisir ke belakang. Ia melihatku datang, dan wajah keriputnya langsung cerah seperti anak SD yang melihat tukang es krim.

“Telat dua belas menit,” katanya.

“Maaf, Opa. Tadi ngepel ulang pantry. Ada yang tumpahin kopi.”

“Siapa?”

“Pak Hardiman.”

Opa Hendrik Redcliff, pendiri Red Tower, Chairman Redcliff Group, laki-laki yang wajahnya pernah menghiasi sampul majalah Forbes Asia tahun 1998, mendengus seperti kakek-kakek di pos ronda.

“Hardiman itu dari dulu tangannya gemetar. Waktu tahun delapan puluhan dia numpahin kopi ke kontrak sama Toshiba. Kontraknya tetap jalan, tapi Jepangnya sampai sekarang manggil dia Kōhī-san.” Opa menunjuk kursi di depannya. “Duduk. Putih jalan duluan. Kamu putih.”

“Minggu lalu saya putih, Opa.”

“Minggu lalu kamu menang. Jadi minggu ini kamu putih lagi, biar saya bisa balas dendam dengan kondisi yang sama.”

Aku duduk dan memajukan pion ke e4.


Aku mengenal Opa dua tahun lalu.

Malam itu aku baru pulang dari lab kampus. Sudah tiga tahun sejak wisuda, tetapi aku masih sering membantu riset dosen pembimbingku dulu. Ketika sampai di kos di gang belakang Margonda, seorang laki-laki tua berdiri di depan pintu kamarku. Ia mengenakan kemeja batik mahal dan sepatu kulit, dan di ujung gang ada dua laki-laki bertubuh besar berjas hitam yang pura-pura merokok.

Kukira ia rentenir. Aku tidak punya utang, tetapi di gang kos Margonda, laki-laki berjas hitam biasanya membawa kabar buruk.

Ternyata ia membawa kabar yang lebih aneh.

“Kamu Pandu Aksara. Adiknya Natasya.”

Bukan Natasha. Natasya, dengan huruf Y, nama asli kakakku sebelum ia menjadi orang lain.

Ia mengaku telah menyewa detektif selama delapan bulan. Ia mengaku dialah yang dulu menetapkan syarat satu anak saja, putus dari masa lalu. Ia mengaku setiap kali melihat Natasha tidak bisa tidur dan matanya kosong di acara keluarga, ia tahu itu kesalahannya.

Lalu laki-laki yang wajahnya pernah menghiasi sampul Forbes itu menangis di depan pintu kamar kos tiga kali tiga meter, di antara jemuran tetangga dan motor matic yang knalpotnya berisik.

Ia menawarkan segalanya: rumah, nama Redcliff, posisi di perusahaan, dan mempertemukanku dengan Natasha keesokan paginya.

Aku menolak semuanya, kecuali satu.

“Saya cuma mau lihat dia, Pak. Dari dekat. Nggak usah dia tahu.”

Butuh dua tahun sampai Opa berhenti membujukku menjadi direktur, atau setidaknya staf R&D. Akhirnya ia menyetujui satu-satunya posisi yang kuminta, yaitu posisi yang tidak akan dilihat siapa pun.

OB lantai 58, melalui vendor milik Redcliff Properties, bukan Red Electronics. Supaya kakakku tidak memiliki wewenang langsung atasku. Supaya tidak ada yang bisa mengusirku hanya karena aku tidak sengaja terlihat.

Sebagai gantinya, aku harus bermain catur dengan Opa setiap Jumat sore. Katanya untuk memantau keadaanku. Namun menurutku ia hanya kesepian, dan tidak ada orang lain di gedung ini yang berani mengalahkannya.


“Dia nyuruh sekretarisnya bikin aku nggak betah,” kataku sambil memajukan kuda ke f3.

Opa berhenti dengan tangan di atas bidak menterinya.

“Siapa yang bilang?”

“Nggak ada yang bilang. Tapi lift barang tiba-tiba rusak pas aku disuruh angkut brosur, terus tiba-tiba bener lagi setengah jam sebelum rapat. Pas aku lagi ngepel lorong, Mbak Cecil lewat tiga kali bawa kopi tumpah. Tiga kali, Opa. Kopi yang sama. Gelasnya juga sama.” Aku mengangkat bahu. “Mbak Cecil bukan orang ceroboh.”

Opa tertawa sampai terbatuk. Aku menuangkan air dari termos ke gelasnya dan menunggu batuknya reda.

“Cecilia Rosary,” katanya, masih terengah. “Anak itu cerdas. Natasha beruntung punya dia. Satu-satunya orang yang berani bilang ke Natasha kalau lipstiknya kena gigi.” Ia melirikku. “Dia cantik, kan?”

“Opa.”

“Saya cuma tanya.”

“Opa jalan aja.”

Ia melangkah, menterinya ke h4. Langkah agresif yang terlalu terburu-buru.

“Dan Natasha,” lanjutnya, lebih pelan. “Dia kenapa sama kamu?”

Aku terdiam sejenak, menatap papan catur.

“Hari pertama aku koreksi slide-nya di depan direksi. Nggak sengaja.”

“Saya sudah dengar. Hardiman cerita sambil ketawa-ketawa. Katanya OB kita lebih teliti dari R&D.” Opa tersenyum. Senyum bangga, tetapi bangga seperti orang yang merasa tidak berhak bangga. “Tim R&D sudah ulang simulasinya. Minus tiga koma dua persen. Kamu benar.”

“Aku seharusnya diem.”

“Kalau kamu diem, kita produksi tiga ratus ribu unit HP yang bisa kepanasan di saku orang.”

“Tapi dia malu, Opa.”

“Dia CEO. Malu itu bagian dari gaji.”

Aku tidak menjawab. Aku memandang ke luar pagar rooftop, ke arah barat, ke langit Jakarta yang mulai berwarna jingga kotor seperti teh susu yang kebanyakan susu.

“Bukan cuma itu,” kataku akhirnya. “Waktu dia tanya nama saya, mukanya berubah.”

Opa berhenti bergerak. Tangannya yang tadi hendak meraih bidak benteng tertahan di udara.

“Berubah gimana?”

“Kayak orang yang dengar namanya dipanggil dari jauh. Terus dia marah. Bukan ke saya, Opa. Kayak marah ke namanya.”

Opa menarik napas panjang, dan selimut di pangkuannya ikut naik turun.

“Kamu tahu berapa kali Natasha nyari kamu?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak ingin tahu, tetapi sebagian sudah kuketahui. Bu Ratna pernah bercerita tentang surat-surat yang datang ke panti ketika aku SMP. Surat-surat itu tidak pernah kubuka. Kata Bu Ratna, waktu itu aku bilang “Bakar aja, Bu.” Ia tidak tega, jadi surat-surat itu disimpannya dalam kardus bekas mi instan di gudang panti.

“Banyak,” kata Opa. “Lebih banyak dari yang saya bisa hitung. Detektif di Australia, surat ke kedutaan, iklan di koran Perth. Waktu dia umur dua puluh tiga, dia hampir terbang ke sana karena ada orang di Facebook yang wajahnya mirip kamu waktu kecil.”

Dadaku sesak. Aku pura-pura memusatkan perhatian pada papan catur.

“Itu kenapa saya nanya, Nak.” Suaranya lembut sekarang, kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di gedung ini. “Kamu masih nggak mau saya bilang ke dia?”

“Jangan, Opa.”

“Kenapa?”

Aku teringat malam itu, ketika aku berumur tiga belas tahun, setahun setelah Kak Tasya pergi.

Telepon panti terletak di ruang tamu, telepon kabel berwarna krem dengan tombol angka yang sebagian sudah pudar. Pukul sembilan malam telepon itu berdering, dan karena semua orang sudah tidur, akulah yang mengangkatnya.

“Du? Du, ini Kakak...”

Suaranya berbisik, seperti sedang bersembunyi di dalam lemari. Aku begitu senang sampai tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa tertawa sekaligus menangis, seperti orang gila, sambil memegang gagang telepon dengan dua tangan.

Lalu terdengar suara lain di belakangnya. Suara perempuan dewasa yang tinggi, dingin, dan tajam.

“Natasha! Sudah berapa kali Mama bilang? Kamu itu Redcliff sekarang! Kalau Opa tahu kamu masih telepon ke sana...”

“Ma, sebentar aja, Ma, aku cuma mau...”

“Taruh teleponnya. Sekarang.”

Terdengar bunyi gagang telepon direbut, lalu suara kakakku menangis di kejauhan, tangis yang belum pernah kudengar seumur hidupku. Ia selalu menjadi orang yang tidak menangis, karena ia seorang kakak.

Lalu sambungan terputus.

Keesokan paginya aku mengetuk pintu kamar Bu Ratna.

“Bu. Kalau Kak Tasya telepon lagi, bilang aku udah diadopsi. Jauh. Ke luar negeri. Bilang aku udah ganti nama dan nggak bisa dicari.”

“Pandu, Nak, kamu ngomong apa...”

“Biar Kakak bisa tinggal di rumah barunya, Bu. Biar dia nggak dimarahin lagi.”

Bu Ratna menangis. Aku tidak, karena aku sudah belajar dari kakakku.

“Karena dia udah punya hidup, Opa,” kataku sekarang, di rooftop, empat belas tahun kemudian. “Kalau saya muncul sekarang, semuanya bakal berantakan. Nama Redcliff-nya, posisinya, cerita yang dia bangun. Orang bakal nanya kenapa adiknya OB. Wartawan bakal nulis CEO Red Electronics Telantarkan Adik Kandung di Panti. Itu nggak adil buat dia.”

“Kamu pikir dia bahagia?”

Pertanyaan itu tidak kujawab.

Aku teringat lingkaran hitam di bawah mata kakakku yang tertutup bedak, otot rahangnya yang mengencang, dan caranya mengucapkan “Keluar” seperti orang yang sedang mencabut pisau dari dadanya sendiri.

“Skak,” kata Opa tiba-tiba.

Aku menatap papan. Menterinya ada di h4, langsung mengancam rajaku. Padahal tadi, sebelum aku memandang langit, kudaku berada di f3. Sekarang kudaku ada di g1.

“Opa.”

“Apa?”

“Kuda saya pindah sendiri.”

“Kamu salah lihat.”

“Saya nggak salah lihat. Tadi di f3.”

Opa menyesap air putih dari gelasnya dengan wajah paling suci yang pernah dimiliki manusia.

“Umur tujuh puluh delapan, Nak. Tangan saya kadang gerak sendiri. Faktor usia.”

“Tangan Opa geraknya cuma ke kuda saya.”

“Kebetulan statistik.”

Aku memindahkan kudaku kembali ke f3, menutup jalur menterinya, dan Opa mendengus kesal seperti anak kecil yang mainannya direbut.


Telepon Opa berbunyi ketika aku hampir menang.

Opa melihat layarnya, keningnya berkerut, lalu mengangkat telepon dengan mode speaker karena katanya telinganya sudah tidak sanggup mendengar dengan cara biasa.

“Ya, Darmawan.”

“Selamat sore, Pak Hendrik. Mohon maaf mengganggu.” Suara laki-laki paruh baya yang gugup. Darmawan Hutagalung, direktur PT Red Facility Services, vendor tempatku terdaftar. “Ini, Pak... tadi siang kami terima email dari kantor CEO Red Electronics. Dari Bu Natasha langsung, Pak. Beliau minta... minta OB lantai 58, yang namanya Pandu, ditarik dan diganti. Alasannya ‘tidak sesuai standar komunikasi lantai eksekutif’.”

Opa menatapku. Aku menunduk ke papan catur.

“Kami sudah siapkan pengganti, Pak. Tapi karena Bapak waktu itu sempat berpesan khusus soal anak ini, saya mau konfirmasi dulu...”

“Darmawan.”

“Ya, Pak?”

“Dengar baik-baik. Saya cuma ngomong sekali.”

Suara Opa berubah. Bukan lagi suara kakek tua yang curang bermain catur. Ini suara yang dulu membuat Toshiba menandatangani kontrak meskipun ada tumpahan kopi di atasnya.

“Siapa pun yang memecat anak itu, berurusan dengan saya.”

Hening di seberang telepon. Aku bisa membayangkan Pak Darmawan berkeringat di kursinya.

“Ba... baik, Pak. Tapi... Bu Natasha nanti tanya alasannya, Pak...”

“Bilang ke Natasha, OB-nya kontrak dengan Redcliff Properties, bukan Red Electronics. Kalau dia mau protes, suruh dia protes ke saya. Langsung.”

“Baik, Pak. Siap, Pak.”

Opa menutup telepon, meletakkan ponselnya di meja batu, lalu memandang papan catur seolah tidak terjadi apa-apa.

“Giliran kamu,” katanya.

“Opa, dia bakal makin benci saya.”

“Dia nggak benci kamu.”

“Dia nyoba mecat saya di hari keempat.”

“Dia nggak benci kamu.” Opa mengetuk-ngetuk meja batu dengan telunjuknya yang keriput. “Dia benci rasa yang muncul tiap kali dia lihat kamu. Itu beda, Nak. Kamu cukup pinter buat ngalahin saya di catur, masa nggak ngerti bedanya?”

Aku membuka mulut hendak menjawab, lalu menutupnya lagi.

Kupindahkan benteng ke e1. Skak mat.

Opa memandangi papan selama sepuluh detik, lalu mendorong rajanya sampai jatuh.

“Kurang ajar,” gumamnya. “Kamu sama persis kayak kakakmu. Dia juga nggak pernah mau ngalah.”

Aku tertawa, tawa yang sungguhan, untuk pertama kalinya minggu ini.


Kami sedang membereskan bidak ketika pintu besi rooftop terbuka lagi.

“Opa? Kata satpam Opa di atas. Dokter Gunawan nelpon, katanya Opa belum minum obat sore...”

Laki-laki yang masuk berumur pertengahan tiga puluhan. Tinggi, rambutnya disisir undercut dengan rapi, jasnya biru tua berpotongan Italia yang bahkan aku tahu mahal karena jahitan pundaknya menempel sempurna. Wajahnya tampan dengan cara yang terlalu dirawat. Kulitnya mulus seperti habis facial, alisnya dirapikan, dan senyumnya muncul terlalu cepat untuk bisa disebut tulus.

Senyum itu lenyap ketika ia melihatku.

“Ini siapa?”

“Pandu,” kata Opa. “Teman catur saya.”

Laki-laki itu memperhatikan seragam merah marunku, logo menara kecil di dada kiri, celana yang ujungnya dilipat sekali, lalu sepatuku. Matanya berhenti di sepatu kiri.

“OB?” Ia tertawa kecil, tawa yang sama sekali tidak lucu. “Opa main catur sama OB sekarang? Di rooftop? Siapa yang kasih dia akses ke sini?”

“Saya.”

“Opa, ini area terbatas. Kalau ada apa-apa, kalau dia nyuri...”

“Nyuri apa, Reynard? Pot kamboja?” Opa menarik selimutnya lebih tinggi. “Dia lebih jujur main catur dibanding kamu. Kamu dulu umur dua belas nyembunyiin ratu saya di bawah karpet.”

Telinga Reynard sedikit memerah.

Reynard Redcliff. Aku pernah membaca namanya di laporan tahunan Redcliff Group yang kuunduh dari situs bursa. COO Red Electronics, cucu dari adik Opa. Redcliff berdarah asli, dari cabang keluarga yang tidak pernah mendapat kursi paling atas.

“Saya cuma khawatir, Opa,” katanya, dan senyumnya muncul lagi, cepat dan licin. “Opa kan tahu, keamanan data kita lagi sensitif. Red X, Lentera, semuanya. Kita nggak tahu siapa yang...”

Ia berhenti, dan matanya kembali kepadaku.

Tatapannya bukan tatapan orang yang melihat OB, karena OB itu angin dan orang tidak menatap angin. Tatapannya seperti orang yang menyimpan sesuatu di laci, lalu mendapati orang asing berdiri di depan laci itu.

“Ayo, Opa. Obatnya.”

“Iya, iya. Cerewet.” Opa berdiri dengan bantuan tongkat. Ketika melewatiku, ia menepuk bahuku dua kali. “Jumat depan. Kamu hitam.”

“Opa curang lagi?”

“Saya nggak pernah curang. Itu fitnah.”

Mereka pergi. Pintu besi menutup dengan bunyi berat.

Aku berdiri sendirian di rooftop, di bawah payung krem, ditemani papan catur dan angin sore yang mulai dingin. Di barat, matahari tenggelam di balik gedung-gedung Sudirman seperti koin yang dimasukkan ke celengan.

Aku mengeluarkan senter kuning dari saku, menyalakannya, lalu mematikannya lagi. Kebiasaan lama, seperti orang yang memeriksa apakah jantungnya masih berdetak.

Kamu pikir dia bahagia?

Aku tidak tahu, Opa.

Yang kutahu hanya satu: ia tidak bahagia ketika mendengar namaku.


Malamnya, ketika aku membuka loker di ruang istirahat OB untuk berganti baju, ada sesuatu yang menempel di bagian dalam pintu loker.

Kertas sticky note kuning, ditulis dengan pulpen bertinta biru. Tulisannya rapi dan miring, tulisan orang yang terbiasa menulis surat resmi.

Lift barang udah bener. Jangan sok kuat naik tangga lagi.

Tidak ada tanda tangan, tidak ada nama. Hanya ada gambar kecil di pojok bawah: wajah tersenyum yang berkacamata.

Aku berdiri lama di depan loker yang terbuka.

Di belakangku, Bang Mamat sedang berganti kaus bola, dan ia mengintip dari balik bahuku.

“Apaan tuh, Du?”

Aku menutup loker cepat-cepat.

“Bukan apa-apa, Bang.”

Bang Mamat menyipitkan mata. Kumisnya bergerak-gerak seperti antena semut.

“Du.”

“Hm?”

“Hukum ketiga, Du. Hukum ketiga.”

“Saya tahu, Bang.”

“Lu tahu, tapi muka lu merah.”

Aku keluar dari ruang istirahat sebelum Bang Mamat sempat berkata lagi. Di saku seragam, di sebelah senter kuning, ada sticky note kuning yang sudah kulipat dua.

Aku tidak tahu kenapa aku menyimpan kertas itu.

Mungkin sama seperti aku menyimpan jepit kupu-kupu itu selama lima belas tahun. Beberapa hal memang tidak butuh alasan untuk disimpan.