Chapter Twenty Nine
Orang Tanpa Keluarga
POV: Natasha
“Bu, saya punya bukti. Soal Pak Reynard. Ada di laci meja saya. Log lift, buku tamu, CCTV...”
“Natasha.”
Reynard memotong Cecil dengan suara pelan, nyaris lembut, seperti orang yang menutup pintu supaya angin tidak masuk.
“Sebelum Cecilia melanjutkan,” katanya, “saya rasa direksi berhak tahu satu hal.”
Ia menoleh ke sebelas kursi direksi, bukan kepadaku.
“Sekretaris CEO menjalin hubungan pribadi dengan OB ini.”
Ruang Crimson diam.
“Ini bukan rahasia,” lanjut Reynard dengan nada menyesal, seolah ia tidak ingin mengatakannya. “Seluruh gedung tahu. Ada di grup WhatsApp karyawan sejak sebulan lalu. Truth or dare di Puncak, di depan dua puluh tiga staf. Honda Jazz merah di parkiran B2 jam sembilan malam.” Dia diam sebentar. “Saya nggak menghakimi. Urusan hati itu urusan pribadi. Tapi dalam konteks investigasi...”
Ia menoleh kepada Cecil.
“Tentu saja dia membela pacarnya.”
Pak Hardiman menurunkan permen jahe yang hampir masuk ke mulutnya. Bu Saraswati menulis sesuatu di bukunya. Dua orang legal saling pandang.
“Dan siapa yang bisa memastikan,” lanjut Reynard, makin pelan dan makin tajam, “bahwa ‘bukti’ yang ada di laci Cecilia bukan dari sumber yang sama dengan kertas-kertas di loker itu? Dari OB yang sama?”
Cecil berdiri di kursi belakang, dengan tablet di karpet dan wajah pucat.
“Itu nggak ada hubungannya,” kata Cecil. Suaranya gemetar. “Log lift itu dari sistem building management. Saya sendiri yang tarik. Buku tamu dari resepsionis lobi. Tiara saksinya. CCTV...”
“Kamu tarik sendiri,” ulang Reynard. “Pakai akun admin yang kamu pegang. Setelah dia minta tolong kamu.”
Cecil membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Aku menatap Cecil.
SMK listrik. Kapasitor AC server. Gue tahu itu dia, Nat. Dari CCTV. Lo nanya ke gue, dan gue bilang gue nggak ngerti kapasitor.
Dua kali. Gue bohong ke lo dua kali. Buat dia.
Cecil sudah dua kali berbohong padaku untuk melindunginya, dan ia sendiri yang mengakuinya, duduk di sofa ruanganku sambil tertawa dan nyaris menangis.
Sekarang ia berdiri di ruang Crimson dengan bukti di laci yang ia kumpulkan setelah dia minta tolong.
“Nat,” kata Cecil. Bukan Bu, melainkan Nat, di depan sebelas direksi. Suaranya pecah. “Please. Dengerin aku. Ada yang harus...”
“Cecilia.”
Suaraku keluar dari tempat yang dalam dan dingin, tempat yang sudah lima belas tahun kubangun supaya tidak ada yang bisa masuk.
“Duduk.”
Cecil menatapku. Matanya basah dan besar, dan di dalamnya ada sesuatu yang memohon. Sesuatu yang mendesak, yang seperti hendak meledak.
“Nat, ini soal...”
“Duduk.”
Cecil duduk. Air matanya jatuh ke rok pensil abu-abunya, satu tetes, lalu dua. Ia tidak menyekanya.
Aku berpaling darinya.
Aku menatapnya, laki-laki yang berdiri di tengah ruang Crimson dengan seragam merah marun yang baru disetrika. Tangan di sisi tubuhnya, tidak di belakang punggung. Wajahnya pucat. Ia menatapku, dan dia tidak bicara.
Bener?
Aku bertanya satu kata, dan ia tidak menjawab.
Ia tidak berkata nggak, tidak berkata saya difitnah, tidak berkata Ibu harus percaya saya. Ia hanya berdiri dan menatapku dengan mata yang tidak bisa kubaca, mata orang di peron stasiun.
Diamnya lebih keras daripada pengakuan apa pun.
Di kepalaku, sesuatu mulai bergerak. Cepat, dingin, logis, seperti mesin yang sudah lima belas tahun kurawat supaya selalu berjalan.
Mesin itu mengambil setiap kepingan yang dua minggu ini kukumpulkan dengan hati-hati, kepingan yang kusimpan di laci, yang kupegang setiap malam di bawah cahaya kunang-kunang kaca kuning. Lalu mesin itu menyusunnya ulang.
Lagu. Aku yang menyanyikannya, di lift, di toilet, di lorong, kapan pun aku stres. Ia mendengarnya, karena ia ada di mana-mana.
Gelap itu cuma lampu yang lagi istirahat. Aku tidak ingat semua yang pernah kuucapkan. Mungkin aku pernah mengatakannya di depan Cecil, dan Cecil menceritakannya kepada pacarnya.
Roti sobek Ci Lan. Dia kos di Depok, dan roti itu terkenal di TikTok.
Bekas luka di alis. Banyak anak laki-laki jatuh dari pohon, dan aku tidak pernah melihatnya dari dekat.
Namanya Pandu. Itu kebetulan, yang pertama.
Dan setelah itu, semua yang lain bukan kebetulan. Semua yang lain adalah hal-hal yang ia pelajari dariku sendiri.
Lab lantai 57, jam satu pagi.
Aku duduk di bangku lab dan bercerita padanya. Aku bercerita tentang lagu, tentang adikku di Australia, tentang namanya yang sama. Aku bercerita bagaimana aku mencari selama lima belas tahun dan tujuh kali salah.
Aku memberinya peta, peta lengkap menuju bagian paling rapuh dari diriku. Dan ia memakainya.
Kunang-kunang kaca dengan kartu semoga lampunya bisa istirahat. Ia mengirimnya seminggu setelah aku bercerita. Pesan ada di profil LinkedIn Ibu, padahal aku tidak punya LinkedIn.
Ia tahu persis tombol mana yang harus dipencet, karena aku sendiri yang memberitahunya.
Dan aku hampir...
Dua minggu lalu, di bawah pohon jambu air di halaman panti, aku hampir. Dua minggu lalu aku duduk di lantai kamar dengan foto di tangan dan memutuskan bahwa setelah Red X rilis, aku akan memanggilnya ke ruanganku dan bertanya.
Kamu pernah tinggal di Panti Asuhan Kasih Bunda?
Aku hampir menyerahkan kunci terakhir.
Harapan kedelapan, dan yang ini paling indah. Yang paling hati-hati dibangun, dan yang paling nyaris kupercaya.
Rasa sakitnya tidak datang seperti pukulan. Rasa sakitnya datang seperti air es yang pelan-pelan naik dari kaki ke dada, mengisi setiap rongga, sampai aku tidak bisa bernapas.
Dan di belakang air es itu, ada sesuatu yang lain. Panas, merah, dan tidak punya nama.
Bukan marah kepada Reynard atau Voltara.
Marah kepadanya, karena ia membuatku berharap.
“Natasha.” Pak Hardiman berbicara pelan. “Keputusannya di Anda. Tapi wartawan menunggu di lobi. Kita butuh pernyataan dalam satu jam.”
“Opsi yang tersedia,” kata salah satu orang legal, hati-hati, “adalah skorsing sementara selama investigasi. Lisensi Lentera dibekukan. Personel dinonaktifkan dari area Red Electronics sampai verifikasi bank selesai.”
Skorsing, pembekuan, penonaktifan. Kata-kata yang rapi dan sementara, yang bisa ditarik kembali.
“Personel ini di bawah kontrak vendor Redcliff Properties,” lanjut orang legal itu. “Pak Hendrik secara khusus...”
“Saya tahu siapa yang melindunginya.”
Aku berdiri.
Sebelas pasang mata naik mengikutiku.
“Lisensi Lentera dibekukan sampai investigasi selesai,” kataku. Suaraku datar, stabil, sempurna. “Tim legal siapkan pernyataan pers dalam tiga puluh menit.”
Aku menoleh kepada laki-laki di tengah ruangan.
“Dan kontrak OB lantai 58 diputus hari ini. Atas permintaan klien. Red Electronics.”
Orang legal itu menelan ludah. “Bu, Pak Hendrik...”
“Kalau Opa keberatan,” kataku, “suruh Opa protes ke saya. Langsung.”
Itu kalimat Opa. Kalimat yang Opa ucapkan kepada Darmawan dua bulan lalu, yang diulangi Darmawan kepadaku dengan suara gemetar. Sekarang aku mengucapkannya balik, seperti melempar bola ke dinding.
Reynard tersenyum, tipis seperti silet.
Aku berjalan ke pintu ruang Crimson.
Lorong lantai 58 penuh.
Berita dari sesi tanya jawab sudah naik ke sini lebih cepat daripada lift. Tim branding berdiri di depan meja-meja mereka, tim legal di depan ruang fotokopi, dua anak magang Binus di dekat jendela besar. Mbak Rani yang sudah mengundurkan diri datang hari ini khusus untuk acara peluncuran, dan berdiri di dekat papan pengumuman dengan tangan menutup mulut.
Bang Mamat di depan pantry, dengan kemeja batik Tanah Abang yang kancing perutnya hampir lepas.
Tiara juga ada. Aku tidak tahu kenapa resepsionis lobi ada di lantai 58. Ia berdiri di depan lift dengan bulu mata palsu dan wajah pucat.
Semua orang menatap pintu ruang Crimson ketika aku keluar.
Ia keluar di belakangku, diapit Pak Sugeng dan satu satpam lain.
Lorong itu jadi sunyi, sunyi seperti upacara bendera saat mengheningkan cipta.
Aku berhenti di tengah lorong, di depan meja Cecil yang kosong. Aku berhenti di titik yang sama tempat ia dulu berlutut mengelap lantai dengan tangan di depan dua puluh tujuh orang.
Aku berbalik dan menatapnya.
Ia berhenti dua langkah di depanku. Seragam merah marunnya, logo menara kecil di dada kiri, sepatu hitam yang solnya sudah diganti, yang Cecil belikan diam-diam.
Wajahnya menatapku. Pucat, tetapi tenang, tenang yang mengerikan, seperti orang yang sudah tahu apa yang akan terjadi dan sudah menyerah melawannya.
Itu ketenangan yang sama dengan setiap pagi ketika ia mengucapkan baik, Bu, setiap kali aku menolak kopinya, setiap kali aku menyuruhnya mengulang.
Dan ketenangan itu yang membuat sesuatu di dalam diriku patah.
“Kamu tahu apa yang paling saya benci?” kataku.
Suaraku tidak keras. Namun lorong itu terlalu sunyi untuk menyembunyikan apa pun.
Ia diam.
“Kamu nggak marah. Kamu nggak membela diri. Kamu nggak bilang apa pun.” Aku melangkah satu langkah lebih dekat. “Kamu cuma berdiri di situ, kayak selama ini, menunduk, nunggu. Kayak orang yang nggak pernah punya apa pun untuk dibela.”
“Bu...”
“Dua bulan,” kataku. “Dua bulan kamu di lantai saya. Di ruangan saya. Bikin kopi saya. Ngantar saya ke lift. Duduk di lab saya jam satu pagi, dengerin saya cerita soal hal yang belum pernah saya ceritakan ke siapa pun.”
Suaraku goyah, sedikit. Aku menelannya kembali.
“Dan semua itu kamu pakai.”
Ia menatapku. Matanya basah, dan bibirnya bergerak sedikit, seperti hendak mengatakan sesuatu.
Ia tidak mengatakannya.
Lalu aku mengatakan kalimat itu.
Kalimat yang keluar dari tempat paling gelap di dalam diriku. Tempat yang dulu, ketika aku berumur enam belas tahun, dihuni suara Reynard di meja makan keluarga Redcliff. Anak panti. Benalu. Orang yang nggak punya keluarga beneran. Tempat yang kukunci, kututup, dan di atasnya kubangun sebuah gedung enam puluh lantai supaya tidak ada yang tahu.
Kalimat itu keluar dari sana, dan kuarahkan kepadanya.
“Orang kayak kamu nggak punya keluarga,” kataku. “Makanya nggak ngerti kesetiaan.”
Lorong itu membeku.
Bang Mamat menjatuhkan sesuatu, nampan atau gelas, aku tidak tahu. Bunyinya jauh, seperti dari dunia lain.
Tiara menutup mulutnya dengan dua tangan.
Ia, laki-laki di depanku, tidak bergerak. Ia tidak berkedip dan tidak bernapas.
Lalu wajahnya berubah.
Bukan menjadi marah atau hancur. Wajahnya berubah menjadi sesuatu yang tidak siap kulihat. Ia tersenyum.
Senyum kecil, miring, setengah. Senyum yang Cecil benci, senyum orang yang sedang menahan sesuatu.
Tetapi matanya tidak tersenyum. Matanya basah, dan air mata itu jatuh. Satu tetes dari mata kiri, meluncur pelan di pipi, melewati sudut bibir yang tersenyum, dan jatuh dari dagu ke lantai marmer lorong lantai 58.
Ke lantai yang dulu ia lap dengan tangan, sambil berlutut.
“Baik, Bu,” katanya.
Dua kata, sama seperti setiap pagi. Nadanya datar, sopan, dan sabar. Sabar orang yang sudah terlalu biasa.
Ia mengangkat tangan ke leher, ke tali lanyard merah marun dengan kartu identitas OB vendor. Fotonya dengan rambut potong sendiri, nama PANDU, tanpa nama belakang, logo PT Red Facility Services. Ia melepaskannya pelan-pelan dari leher.
Lalu ia berjalan melewatiku.
Aku tidak bergerak. Aku mendengar langkahnya di belakangku, sepatu hitam dengan sol baru di atas lantai marmer, tap, tap, tap. Ia berjalan ke pintu kayu besar di ujung lorong, ke ruanganku. Pintunya terbuka, karena aku keluar ke ruang Crimson tanpa menutupnya.
Ia masuk ke ruanganku.
Aku berbalik.
Lewat pintu yang terbuka, aku melihatnya berdiri di depan mejaku. Ia meletakkan kartu identitas itu di atas meja, di sebelah laptopku, di sebelah cangkir putih yang masih berisi setengah kopi pagi tadi. Kopi hitam yang dua es batunya sudah mencair.
Lalu ia merogoh saku seragamnya.
Ia mengeluarkan sesuatu yang kecil dan kuning, dan meletakkannya di atas meja di sebelah kartu identitas itu. Pelan dan hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang suci.
Ia berdiri di depan mejaku sebentar, menatap benda kuning kecil itu. Bahunya naik turun sekali, pelan.
Lalu ia keluar.
Di ambang pintu ruanganku ia berhenti, tanpa menoleh ke arahku. Ia berbicara kepada lorong, kepada udara, atau mungkin kepada seseorang yang tidak ada.
“Kopi Ibu besok,” katanya pelan. “Minta Bang Mamat yang bikin. Dua es batu. Jangan tiga.”
Lalu ia berjalan ke lift.
Pak Sugeng dan satpam lain mengikutinya, setengah langkah di belakang.
Bang Mamat berlari dari depan pantry dengan kemeja batik yang kancing perutnya sudah lepas satu. Ia mengambil tas ransel lusuh dari loker kecil di pantry, tas dengan laptop yang engselnya diikat karet gelang.
“Gua anter lu, Du,” kata Bang Mamat. Suaranya serak dan pecah. “Gua anter lu sampai bawah.”
Pintu lift terbuka. Mereka masuk, dia, Bang Mamat, dan dua satpam.
Sebelum pintu lift tertutup, aku melihat wajahnya untuk terakhir kali.
Ia tidak menatapku. Ia menatap lantai lift.
Dan ia masih tersenyum, senyum setengah yang miring itu. Air matanya masih jatuh, satu-satu, tanpa suara.
Pintu lift tertutup.
Lorong lantai 58 masih sunyi.
Dua puluh tiga orang berdiri menatapku, dan tidak ada yang bicara.
Dari pintu ruang Crimson, Cecil keluar. Wajahnya basah dan maskaranya luntur. Ia berjalan melewatiku tanpa menoleh, langsung ke tangga darurat, dan pintunya menutup keras di belakangnya.
Aku berjalan ke ruanganku dan menutup pintu.
Kartu identitas itu ada di mejaku. Foto dengan rambut potong sendiri, ujung kanan sedikit lebih panjang, dan nama PANDU.
Di sebelahnya, benda kecil berwarna kuning.
Aku duduk di kursiku dan menatap benda itu.
Senter kecil, panjangnya tidak lebih dari telapak tangan. Plastik kuning yang catnya mengelupas di beberapa bagian. Senter murah yang biasa dijual di warung pinggir jalan seharga lima belas ribu.
Aku mengenalnya.
Bukan dari masa lalu, melainkan dari minggu krisis. Rabu malam pukul sembilan lewat dua puluh, ketika kabel charger laptopku lepas, ia berlutut di samping mejaku dan menyalakan senter ini ke kolong.
Serahkan.
Ia ragu, untuk pertama kalinya. Tangannya di dalam saku mengepal, bahunya menegang, dan ia menatap senter ini seperti orang yang diminta menyerahkan sesuatu yang lebih berharga daripada nyawanya.
Lalu ia meletakkannya di telapak tanganku, dan aku melemparnya ke tempat sampah di samping meja ini.
Tuk.
Malam itu kru kebersihan vendor membersihkan tempat sampah ini pukul sebelas lewat sepuluh. Isinya dibawa ke B2, dicampur dengan sampah enam puluh lantai, dan seharusnya diangkut truk ke Bantar Gebang besok paginya.
Senter ini seharusnya ada di Bantar Gebang. Tetapi senter ini ada di mejaku.
Ia mengambilnya kembali. Dari tumpukan sampah enam puluh lantai, malam itu juga, sebelum truk datang.
Kenapa?
Kenapa orang yang membeli lampu kunang-kunang kaca untuk memanipulasiku mau mengais sampah demi senter murah lima belas ribu?
Kenapa seorang penipu menyimpan senter selama...
Aku mengambil senter itu.
Senternya ringan dan dingin. Plastiknya kasar di beberapa bagian, ada goresan, mungkin karena umur, mungkin karena terlalu sering digenggam. Bagian yang selalu kena ibu jari sudah aus, catnya hilang, dan plastiknya mengilap.
Ibu jariku menemukan goresan itu di sisi bawah, sisi yang menghadap ke meja ketika ia meletakkannya.
Goresannya kasar, dalam, tidak rata, seperti dibuat memakai benda tajam. Pakai paku.
Aku tidak membaliknya. Ibu jariku hanya meraba goresan itu, dan sesuatu di tengkukku jadi dingin, dingin yang merayap ke punggung, ke lengan, ke ujung jari.
Pintu ruanganku terbuka keras, membentur dinding.
“TASHA!”
Opa.
Ia di kursi roda, didorong perawat yang terengah-engah. Masih memakai piyama rumah sakit biru muda di bawah jas tua yang disampirkan di bahu. Selang oksigen kecil masih di bawah hidungnya, tabung oksigen kecil di pangkuan. Wajahnya merah. Bukan merah tensi tinggi, tetapi merah marah.
“Opa...”
“Apa yang kamu lakukan?” Suaranya pecah, serak, dan nyaris berteriak. “Darmawan nelpon Opa di mobil. Kamu putus kontraknya? Kamu usir dia? Di depan semua orang?”
“Opa nggak usah belain dia lagi.” Aku berdiri. Senter kuning masih di tanganku. “Opa nggak tahu apa yang dia lakukan. Dia bocorin data. Dia transfer uang ke Voltara. Dia... dia pakai hal-hal yang saya ceritakan ke dia, Opa. Tentang...”
Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku.
Opa berhenti bicara.
Matanya turun dari wajahku ke tanganku, ke senter kuning kecil yang kugenggam.
Wajahnya berubah. Merahnya hilang dalam satu detik, dan wajahnya jadi pucat, pucat yang mengerikan. Seperti darahnya disedot habis lewat selang oksigen di bawah hidungnya.
Mesin pemantau kecil di pergelangan tangannya berbunyi lebih cepat, bip-bip-bip-bip.
“Pak Hendrik,” kata perawat panik. “Pak, tensinya...”
Opa tidak mendengarnya. Ia menatap senter di tanganku dengan mata yang besar dan basah, dengan bibir yang gemetar.
“Tasha,” bisiknya.
“Opa?”
“Balik senternya.”
“Apa?”
“Balik.” Suaranya pecah di tengah. Tangannya yang tua dan keriput, yang masih ada plester bekas infus, terangkat gemetar ke arahku. “Balik senternya, Nak. Lihat sisi bawahnya.”
Aku menatap Opa, lalu senter kuning di tanganku.
Ibu jariku masih di atas goresan kasar itu. Goresan yang dibuat memakai paku, dalam dan tidak rata.
Jantungku berdebar pelan, berat, seperti palu yang dipukulkan ke pintu dari balik dinding.
Pelan-pelan, sangat pelan, aku membalik senter itu.
- 1 Lantai 58
- 2 Nama yang Seharusnya Nggak Ada
- 3 Mas OB
- 4 Catur di Lantai 60
- 5 Kopi Ketujuh
- 6 Lift Jam Sembilan Malam
- 7 Kelas Malam
- 8 Perpustakaan Salemba
- 9 Sandera
- 10 Lagu yang Nggak Boleh Dinyanyikan
- 11 Kerah
- 12 Truth or Dare di Puncak
- 13 Asisten Darurat
- 14 Peri Papan Tulis
- 15 Blackout
- 16 Dia OB Lantai Aku
- 17 Hujan di Rooftop
- 18 OB atau Bukan
- 19 Pacar Rahasia
- 20 Lentera
- 21 Perang Dingin
- 22 Pemilik Paten yang Tetap Ngepel
- 23 Adikku di Australia
- 24 Belum, Cil
- 25 Mesin Penghancur Kertas
- 26 Ulang Tahun Ke-31
- 27 Kupu-Kupu Biru
- 28 Mata-Mata
- 29 Orang Tanpa Keluarga reading
- 30 Senter Kuning
- 31 Kakak Asuh
- 32 Raja yang Menyerah
- 33 Gambir
- 34 Kamu Pacaran Sama Adikku?!
- 35 Rapat Direksi
- 36 Sidang Tesis
- 37 Sepatu Baru
- 38 Surat untuk Kakak di Australia
- 39 Enam Puluh Lantai
- 40 Mas OB
- 41 Epilog: Lampu yang Istirahat